Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inggris. Tampilkan semua postingan

PM Inggris Cameron Tawarkan Peluncur Roket Star Treak Untuk TNI

JAKARTA-(IDB) : Sebagai salah satu negara produsen alat utama sistem senjata, Inggris menawarkan produk unggulannya kepada Indonesia. Di antaranya adalah Star Trek atau peluncur roket penangkis serangan udara.

Demikian diungkapkan Menhan, Poernomo Yoesgiantoro, tentang materi pembicaraan dengan delegasi Inggris. Hal ini disampaikan Poernomo usai pertemuan antara Presiden SBY dengan OM David Cameron di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/4/2012).

"Tadi ada menyinggung soal kerjasama pertahanan, tapi kita mau melihat lebih jauh lagi," kata Poernomo.

Menurut Poernomo, Indonesia saat ini sedang menjajaki peluang untuk membeli sejumlah persenjataan produksi Inggris. Star Trek adalah satu di antaranya yang merupakan penangkis serangan udara dan multi launcher rocket.
 
"Saya lupa berapa jumlahnya, tapi tidak begitu besar kok," imbuh mantan Menteri ESDM ini.

Menurutnya, Presiden SBY menyambut baik tawaran dari Inggris. Namun ditekankan adanya alih teknologi atau kerjasama dalam produksi dalam kesepakatan pembeliannya kelak.

"Ada beberapa lainnya yang disampaikan untuk ke depan. PM Cameron yang mengangkat masalah kerjasama defense industry," ujar Poernomo sambil
memasuki mobilnya.

Sumber : Detik

Presiden Terima PM Inggris Cameron

JAKARTA-(IDB) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima Perdana Menteri Inggris David Cameron di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu siang.

Presiden menerima PM Cameron pada pukul 15.00 WIB dan kemudian kedua pemimpin pemerintahan itu melakukan pembicaraan bilateral.

Sebelumnya Duta Besar Inggris untuk Indonesia Mark Canning menjelaskan, salah satu tujuan kunjungan Perdana Menteri David Cameron ke Indonesia adalah untuk memperkuat hubungan bilateral terutama di bidang ekonomi melalui investasi dan perdagangan.

Presiden SBY Harapkan Hubungan Indonesia Inggris Meningkat

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan kunjungan Perdana Menteri Inggris David Cameron akan semakin meningkatkan hubungan antara Indonesia dengan Inggris.

"Seperti yang mulia (perdana menteri) ketahui, hubungan antara Inggris dan Indonesia berjalan dengan baik dan terus berkembang. Saya berharap dengan kunjungan yang mulia bisa lebih meningkatkan lagi di masa depan," kata Yudhoyono saat menerima Cameron di Istana Merdeka, Rabu.

Menurut Yudhoyono, dengan kunjungan tersebut diharapkan dapat menemukan peluang-peluang baru dalam meningkatkan hubungan kedua negara baik di bidang ekonomi maupun non ekonomi.

Cameron dalam sambutannya mengatakan hubungan Indonesia dengan Inggris sangat kuat, dan ada sejumlah peluang untuk terus memperkuat baik secara diplomatik, politik maupun ekonomi.

Dia juga menyatakan kagum atas kinerja dan transformasi perekonomian Indonesia selama beberapa tahun ini.

"Kita juga sangat terkesan dengan kekuatan dan pertumbuhan demokrasi di Indonesia dan menjadi contoh bagi negara-negara di kawasan regional," katanya.

Sementara itu, Yudhoyono dan Cameron, selain bertemu empat mata juga melanjutkan dengan pertemuan bilateral antar kedua negara.

Kunjungan Cameron ke Indonesia merupakan kunjungan sejak terpilih. Perdana Menteri Inggris itu  dijadwalkan berada di Indonesia pada Rabu dan Kamis.

Dalam kunjungannya kali ini, Cameron juga didampingi Menteri Perdagangan Inggris, Lord Green, Menteri Universitas dan Ilmu Pengetahuan Inggris David Willetts serta sejumlah pengusaha.

Pada Rabu, Perdana Menteri Inggris itu dijadwalkan menyampaikan pidatonya di hadapan akdemisi dan mahasiswa Universitas Al-Azhar, Jakarta.

Sumber : Antara  

Lagi, Inggris Kirim Kapal Destroyer ke Pulau Falkland

LONDON-(IDB) : Kerajaan Inggris kembali mengerahkan kapal perangnya yang terbaik, HMS Dauntless, dari Portsmouth menuju Pulau Falkland untuk berpatroli selama enam bulan.

Meski ketegangan antara Inggris dan Argentina terkait sengketa Pulau Falkland makin meningkat, Kementerian Pertahanan Inggris menjelaskan, pengerahan armada tempur ke Pulau Atlantik Selatan itu adalah misi rutin. Sementara HMS Dauntless dikerahkan, HMS Montrose yang ukurannya lebih kecil akan dipulangkan kembali ke Inggris.

"Kapal HMS Dauntless sudah bekerja dengan baik pada tahun lalu, jadi bersiaplah untuk menjalankan operasi pengerahan unit HMS Dauntless. Kami siap untuk melindungi wilayah itu dan juga kepentingan Inggris," ujar kapten kapal Will Warrender, seperti dikutip Sky News, Rabu (4/4/2012).

Anggota keluarga dari 190 anak buah kapal HMS Dauntless tampak berkumpul di Round Tower, Old Portsmouth dan menyaksikan keberangkatan kapal perang itu. HMS Dauntless akan berlabuh di Afrika bagian barat dan mengunjungi Afrika Selatan. Namun, tugas utamanya adalah menjaga keamanan di Pulau Falkland, di tengah munculnya sengketa wilayah.

Salah satu senjata terbaik dari HMS Dauntless adalah misil Ular Laut. Misil tersebut merupakan misil canggih yang memiliki kecepatan 4.828 kilometer per jam.

Hingga kini, Presiden Argentina Fernandez de Kirchner selalu menuding Inggris memiliterisasi Pulau Falkland. Argentina juga masih menginginkan pulau yang disebut Pulau Malvinas itu masuk ke wilayahnya.

Bersamaan dengan itu, demonstrasi anti-Inggris pecah di Argentina. Para demonstran tampak memenuhi jalanan di depan kantor Kedutaan Besar Inggris serta membakar boneka Pangeran Charles.

Sumber : Okezone

AL Inggris Beli Kapal Tanker Militer Dari Korsel

LONDON-(IDB) : Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) memutuskan membeli empat kapal tanker militer dari perusahaan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) asal negeri ginseng, Korea Selatan. Demikian diumumkan Kementerian Pertahanan Inggris, Rabu (22/2/2012).

Harga empat kapal, yang masing-masing berbobot 37.000 ton, itu 452 juta poundsterling (Rp 6,4 triliun). Tanker yang dinamakan Military Afloat Reach and Sustainibility (MARS) itu diharapkan sudah mulai dioperasikan pada 2016 untuk menggantikan kapal-kapal tanker Royal Navy yang sudah berusia lebih dari 30 tahun.

Kapal-kapal buatan DSME ini memiliki panjang lebih dari 200 meter dan dilengkapi dek pendaratan helikopter. Tanker tersebut mampu melakukan pengisian bahan bakar satu kapal induk dan satu kapal perusak secara simultan sambil mengirim bahan bakar bagi kapal-kapal lain menggunakan helikopter.

Pompa kapal tanker tersebut mampu mengisi penuh dua kolam renang ukuran olimpiade dengan bahan bakar dalam waktu satu jam.
”Kapal-kapal itu juga didesain untuk bisa selalu di-upgrade guna menyesuaikan perkembangan teknologi yang artinya mereka dirancang dengan pikiran jauh ke depan,” ungkap Komodor Bill Walworth, komandan Royal Fleet Auxiliary atau armada kapal-kapal suplai militer Inggris.

Keputusan menghadiahkan kontrak tersebut kepada sebuah perusahaan asing memicu keprihatinan terkait industri pertahanan dalam negeri Inggris, terutama di saat sedang gencar-gencarnya pemangkasan anggaran pertahanan.

”Ini kabar buruk yang lain lagi bagi industri (pertahanan) Inggris. Pertama, kami kalah dengan Perancis dalam (kontrak penjualan) jet tempur dan kini kami kalah dengan Korea Selatan dalam kontrak pembelian dari AL kami sendiri,” tutur Jim Murphy, juru bicara bidang pertahanan untuk Partai Buruh yang menjadi oposisi.  

Sumber : Kompas

Perbandingan Kekuatan Armada Laut Inggris dan Iran

TEHRAN-(IDB) : Menteri Luar Negeri Inggris, William Hague kembali menyinggung "semua opsi" termasuk serangan militer terhadap Iran atas program nuklir sipilnya di tengah spekulasi yang mencuat bahwa kapal perang Inggris tidak mampu bertahan menghadapi peluncur rudal Iran di Teluk Persia.
 
"Ini bukan cara kami berurusan [dengan program nuklir Iran] ... untuk memprioritaskan aksi militer. Meskipun demikian saya kembali menekankan, kami tidak membatalkan [opsi] apapun dari meja, " kata Hague.
 
Hague juga mengklaim Iran "jelas melanjutkan program nuklir militer mereka" dan menambahkan "Jika mereka mencpai senjata nuklir," akan mengakibatkan ancaman "perang dingin baru di Timur Tengah."
 
Pernyataan Hague itu merupakan lanjutan dari berbagai statemen serupa para pejabat Inggris, termasuk Perdana Menteri David Cameron, yang mengancam Iran dengan serangan militer dari selatan Teluk Persia dan Laut Oman.
 
Namun, fakta di lapangan justru berbicara lain dan menunjukkan bahwa Inggris akan menderita konsekuensi yang sangat buruk jika bergabung dengan sekutunya Amerika Serikat dan Israel dalam menyerang Republik Islam Iran.
 
Inggris telah berusaha mengesankan bahwa kekuatan pasukan Iran tidak akan mampu menghadapi pasukan Inggris dan bahwa Iran tidak akan mampu membalas serangan Inggris.
 
Inggris saat ini telah menempatkan sejumlah kapal tempurnya di Teluk Persia termasuk HMS Sheffield dan HMS Coventry –kapal perusak kuno Type-42—yang pernah dikirim ke Argentina dan ditenggelamkan oleh pasukan Angkatan Laut Argentina dengan menggunakan rudal Exocet subsonik pada Perang Falklands 1982.
 
Inggris juga mengirim kapal frigat Type-23, yang menggunakan sistem radar dan perlengkapan logistik era 1989. Kapal tersebut sangat rentan menghadapi rudal balistik supersonik anti-kapal milik Iran.
 
Angkatan Laut Iran telah memamerkan rudal balistik pintar supersonik "Khalije Fars" akhir 2011 lalu.
 
Rudal berbahan bakar padat itu mampu menghancurkan sasaran pada jarak 300 km dan dilengkapi sistem pencarian target yang akan mengunci target pada tahap akhir sebelum mencapai target. Sistem itu membuat kapal musuh tidak punya kesempatan untuk melarikan diri.
 
Spesifikasi rudal Khalij Fars, dan rudal Iran lainnya, jauh lebih unggul dibandingkan rudal Exocets yang menenggelamkan kapal perang Inggris 40 tahun lalu.
 
Beberapa waktu lalu, Iran juga menguji berbagai jenis rudal jarak menengah, dan jauh, termasuk rudal anti-radar Mehrab tipe dari darat ke udara, rudal Nour tipe permukaan-ke-permukaan, dan rudal Qader tipe pantai-ke-laut, dengan kisaran daya tempuh hingga 200 kilometer.
 
Kemampuan rudal Iran semakin memperbesar kemungkinan skenario tragis bagi Angkatan Laut Inggris seperti yang mereka alami pada manuver perang AS di Teluk Persia tahun 2002.
 
Pada tahun 2002, AS menggelar manuver Operation Millennium Challenge di Teluk Persia setelah dua tahun perencanaan dan menghabiskan dana 250 juta dolar.
 
Setelah manuver itu berakhir, Letnan Jenderal Paul Van riper, yang memimpin pasukan musuh atau Red Force dalam manuver tersebut membocorkan fakta kepada Army Times bahwa hasil dari manuver itu adalah banyaknya armada angkatan laut AS yang tenggelam di Teluk Persia dan merupakan bencana terburuk bagi Angkatan Laut Amerika Serikat pasca Pearl Harbor.
 
Van Riper mengatakan jika manuver itu adalah perang nyata, maka 16 kapal perang AS termasuk sebuah kapal induk dan dua kapal induk helikopter tenggelam ke dasar laut Teluk Persia, sementara sisanya berantakan meninggalkan ribuan tentara Amerika tewas, sekarat atau cedera. 

Sumber : Irib

Inggris Perancis Perkuat Kerja Sama Industri Militer

PARIS-(IDB) : Inggris dan Perancis sepakat meningkatkan kerja sama di bidang industri militer untuk mempertahankan kekuatan sekaligus menghemat anggaran masing-masing. Beberapa sektor industri pertahanan yang akan mereka garap bersama, antara lain, pengembangan pesawat tak berawak, kapal induk, dan nuklir.

Kesepakatan tersebut tercapai dalam pembicaraan antara Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Perdana Menteri Inggris David Cameron di Paris, Perancis, Jumat (17/2/2012). Dalam pertemuan tersebut, perusahaan-perusahaan pertahanan dari kedua negara menandatangani kontrak senilai 500 juta poundsterling (Rp 7,1 triliun) untuk membangun reaktor nuklir di Inggris dengan menggunakan teknologi Perancis.

Perusahaan penerbangan Dassault dari Perancis dan BAE Systems dari Inggris juga diminta untuk bekerja sama dalam proyek pesawat tak berawak atau drone MALE (medium altitude long-endurance) dan satu proyek pesawat tempur tak berawak (UCAV). MALE diproyeksikan akan beroperasi pada 2020, sementara program pesawat tempur tak berawak diharapkan rampung pada 2030.

Menteri Pertahanan Perancis Gerard Longuet mengatakan, kedua negara sudah menunda kerja sama dalam pembuatan kapal selam, tetapi tetap melanjutkan proyek bersama membangun kapal induk yang juga akan dioperasikan kedua negara pada 2020. 

Sumber : Kompas

Argentina Tuduh Inggris Kirim Senjata Nuklir ke Malvinas

NEW YORK-(IDB) : Argentina menuduh Inggris mengirim kapal selam bertenaga nuklir yang membawa rudal balistik berhulu ledak nuklir ke perairan Samudera Atlantik Selatan dekat Kepulauan Falkland atau Malvinas, yang disengketakan kedua negara. Argentina mengatakan, langkah Inggris itu melanggar traktat zona bebas nuklir di kawasan Amerika Latin.

Tuduhan tersebut dilontarkan Menteri Luar Negeri Argentina Hector Timerman di sela kunjungannya ke markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, Jumat (10/2/2012) waktu setempat atau Sabtu (11/2/2012) WIB.

"Argentina mendapat informasi bahwa dalam kerangka penempatan pasukan Inggris di Kepulauan Malvinas, mereka mengirim satu kapal selam nuklir untuk membawa senjata nuklir ke Atlantik Selatan," tutur Timerman, sambil menyebutkan kapal selam itu bernama Vanguard.

Angkatan Laut Inggris atau Royal Navy mengoperasikan sedikitnya 11 kapal selam bertenaga nuklir, salah satunya bernama HMS Vanguard, yang dioperasikan sejak 1992. Kapal selam sepanjang 150 meter ini mampu membawa rudal Trident, rudal balistik berhululedak nuklir yang berdaya jelajah hingga 6.400 kilometer.

Sebelumnya, AL Inggris sudah mengumumkan akan mengirim kapal perusak terbarunya, HMS Dauntless untuk "tugas rutin" ke Malvinas. Media Inggris juga memberitakan Inggris mengirim salah satu kapal selam kelas Trafalgar, kapal selam bertenaga nuklir tetapi membawa persenjataan konvensional.

Menurut Timerman, Argentina telah menanyakan secara resmi kepada Inggris melalui jalur diplomatik apakah negara itu sungguh-sungguh mengirim senjata nuklir ke kawasan Malvinas, tetapi pihak Inggris menolak mengiyakan maupun membantah. Jika benar ada senjata nuklir ditempatkan di kawasan Malvinas, kata Timerman, itu akan melanggar Traktat Tlatelolco yang melarang keberadaan senjata nuklir dalam bentuk apa pun di seluruh wilayah Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Duta besar Inggris untuk PBB Mark Lyall Grant langsung menggelar jumpa pers khusus untuk merespons pernyataan Timerman ini. Dia mengatakan, pihaknya tidak pernah berkomentar soal penempatan armada kapal selam maupun senjata nuklirnya. "Fungsi utama kapal selam adalah mereka pergi ke seluruh dunia dan Anda tidak tahu mereka sedang berada di mana. Itu sebabnya mereka punya fungsi penggentar," tandas Lyall Grant.

Soal pelanggaran traktat bebas senjata nuklir, Lyall Grant mengatakan, selama kapal-kapal selam pembawa senjata nuklir itu berada di luar batas wilayah Argentina, tidak ada pelanggaran yang dilakukan. 

Sumber : Kompas

Inggris Baru Putuskan Jumlah Pesanan F-35 pada 2015

LONDON-(IDB) : Inggris baru akan memutuskan pada 2015 soal berapa jumlah pasti pesawat tempur F-35 buatan Amerika Serikat yang akan mereka beli. Keputusan Inggris ini makin menambah ketidakpastian program Joint Strike Fighter (JSF), yang berambisi membuat pesawat tempur masa depan yang akan menggantikan peran semua pesawat tempur negara-negara Barat saat ini.

"Kami tak akan membuat keputusan final tentang jumlah keseluruhan pesawat F-35 yang akan kami pesan sebelum Revisi Strategi Pertahanan yang akan datang (pada 2015)," ungkap juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris, Selasa (7/2/2012).

Pada 2001, Inggris berkomitmen membeli 138 pesawat berkemampuan stealth tersebut. Namun, berbagai kondisi yang terjadi, baik di Inggris maupun dalam program JSF itu sendiri membuat Pemerintah Inggris pada 2010 menyatakan akan memotong jumlah pesanan F-35 tanpa merinci jumlahnya.

Inggris berniat membeli varian F-35C yang dioperasikan dari kapal induk untuk melengkapi armada kapal induknya kelak. Sejak Inggris memutuskan hanya akan mengoperasikan satu kapal induk pada masa depan, spekulasi pengurangan jumlah pesanan F-35 mulai muncul karena satu kapal induk Inggris maksimum hanya bisa mengangkut 36 pesawat ini, dan bahkan dalam operasi rutin hanya akan membawa tak lebih dari 12 pesawat.

Pengurangan jumlah pesanan F-35 dari komitmen semula berisiko menaikkan lagi ongkos produksi dan harga satuan pesawat tersebut. Padahal, program JSF sudah mencetak rekor sebagai program pengembangan persenjataan termahal dalam sejarah Departemen Pertahanan AS.

Berbagai masalah teknis yang baru terungkap setelah pesawat itu menjalani uji terbang, ditambah kondisi perekonomian AS yang memaksa negara adidaya itu memangkas anggaran pertahanannya, juga dikhawatirkan akan membuat AS memotong jumlah pesanannya. Rancangan fiskal AS tahun 2013, yang akan diumumkan pekan depan, diduga akan memasukkan penundaan pemesanan 179 pesawat F-35 sampai setelah tahun 2017.

Beberapa mitra internasional dalam program JSF juga sudah mulai meninjau kembali komitmen pesanan mereka. Menurut FlightGlobal, Australia sudah mengatakan akan memikirkan kembali rencananya membeli 12 unit F-35, sementara Turki telah memutuskan menunda pembelian dua pesawat itu, dan diduga kuat Italia juga akan mengikuti jejak Turki.

Sejauh ini Inggris baru benar-benar memesan tiga pesawat F-35 untuk uji coba dan satu pesawat lagi untuk keperluan evaluasi, dengan nilai kontrak total 632 juta dollar AS (Rp 5,65 triliun). Pernah beredar kabar di Inggris bahwa negara itu hanya akan memesan 50 pesawat. Namun, pihak Kementerian Pertahanan Inggris membantahnya.

Sumber : Kompas

Argentina Geram Inggris Kirim Kapal Selam Ke Malvinas

LONDON-(IDB) : London mengirimkan kapal selam nuklir ke kepulauan Malvinas di saat ketegangan antara Inggris dan Argentina atas wilayah-wilayah yang disengketakan terus meningkat.

Menurut laporan media pada Sabtu (4/2), Perdana Menteri Inggris David Cameron secara pribadi telah menyetujui pengerahan kapal kelasTrafalgar. Namun, juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) mengatakan, "Kami tidak mengomentari pengiriman kapal selam."


Kapal selam bersenjata berat diagendakan di perairan Malvinas pada bulan April guna perayaan 30 tahun perang 1982, di mana kedua negara memperebutkan  Malvinas yang juga dikenal sebagai Falkland.


Angkatan Laut Kerajaan Inggris telah mengungkapkan hal itu dan sedang mengirim HMS Dauntless,  sebuah kapal perusak Tipe 45 ke Falkland.


Pangeran William tiba di Malvinas pada Kamis untuk misi pelatihan enam pekan dengan Royal Air Force (RAF).


Sementara itu, pemerintah Buenos Aires telah mengutuk keras langkah provokatif London dengan mengirim Pangeran William ke Malvinas dan menyamakan hal itu dengan seorang "Penakluk".


"Warga Argentina menyesal bahwa pewaris kerajaan akan datang ke tanah air dengan seragam penakluk dan bukan dengan kebijaksanaan sebagai seorang negarawan yang bekerja untuk pelayanan perdamaian serta dialog antarnegara," penggalan pernyataan Kementerian Luar Negeri Argentina .

Malvinas terletak sekitar 250 mil laut dari Argentina dan telah menjadi jajahan Inggris selama lebih dari 180 tahun.


Argentina mengklaim kedaulatan atas wilayah tersebut dan kedua negara terlibat perang selama 74 hari pada tahun 1982.

Sumber : Irib

Update : PM Inggris akan Desak India Batalkan Rafale

LONDON-(IDB) : Perdana Menteri Inggris David Cameron mengatakan akan mendesak India untuk mempertimbangkan kembali keputusannya memilih pesawat tempur buatan Perancis, Dassault Rafale. Cameron menyatakan kecewa atas keputusan India tersebut.

Hal itu disampaikan Cameron saat berbicara di hadapan parlemen Inggris di London, Rabu (1/2/2012). Sehari sebelumnya, India memutuskan memilih Rafale daripada pesaing utamanya, Eurofighter Typhoon, yang didukung Inggris.

Cameron berjanji kepada parlemen akan mendorong India untuk memikirkan kembali keputusannya, mumpung saat ini kontrak pembelian dengan pihak Perancis belum ditandatangani. "Keputusan itu jelas mengecewakan. Saya akan melakukan segala cara, seperti yang sudah saya lakukan, untuk mendorong India melihat kembali ke Typhoon," tutur Cameron.

Eurofighter Typhoon adalah pesawat buatan konsorsium perusahaan dirgantara dari empat negara, yakni Inggris, Jerman, Spanyol, dan Italia. Pesawat tempur tersebut bersaing dengan Rafale, sesama pesawat buatan Eropa, dalam memperebutkan kontrak pengadaan 126 pesawat tempur masa depan Angkatan Udara India senilai 12 miliar dollar AS.

India memutuskan memilih Rafale karena harga dan biaya perawatan per unit Rafale lebih murah dibanding Typhoon. Keputusan ini belum mengikat, karena sifatnya baru memberi hak eksklusif bagi Dassault untuk melakukan negosiasi lebih lanjut sebelum penandatanganan kontrak final.

Menurut Cameron, Typhoon memiliki berbagai kemampuan yang lebih unggul dibanding Rafale, dan ia akan mendesak pemerintah India melihat hal tersebut. Rafale maupun Typhoon sama-sama terlibat dalam operasi militer di Libya tahun lalu.

Kontrak pembelian dari AU India ini diperjuangkan mati-matian oleh kedua pesaing dari Eropa, karena akan berarti sangat besar di tengah kondisi krisis ekonomi yang melanda mereka saat ini. 

Sumber : Kompas

Sea Ceptor, Rudal Supersonik Terbaru Inggris

Sea Ceptor, Sistem Rudal Terbaru Inggris (mbda-systems.
LONDON-(IDB) : Angkatan Laut Kerajaan Inggris sedang mengembangkan sistem baru pertahanan udara. Sistem pertahanan ini diklaim mampu menghancurkan rudal lawan dengan kecepatan supersonik.

Sea Ceptor, itulah nama rudal pertahanan udara terbaru Inggris. Laman Daily Mail sebagaimana dilansir Foxnews menuliskan rudal jenis baru ini bisa diluncurkan dari atas kapal perang. Rudal pertahanan ini bisa melaju dengan kecepatan lebih dari Mach 3 (3 kali kecepatan suara, kecepatan suara setara 331.6  meter per detik). Rudal ini mampu menjaga area seluas 500 milpersegi.

Untuk mengembangkan sistem ini, Inggris memberikan kontrak senilai US$760 juta atau sekitar Rp6,8 triliun kepada perusahaan pembuat rudal, MBDA.

Sistem baru pertahanan ini diklaim mampu menghancurkan serangan dari luar, baik dalam bentuk rudal dan bentuk serangan lainnya.

"Pengembangan sistem rudal ini merupakan peningkatan besar bagi Inggris untuk menjadi pemimpin dalam industri rudal utama dunia dan sekali lagi menguatkan komitmen kami untuk memberikan teknologi perang tercanggih kepada armada kami," kata Menteri Pertahanan, Peter Luff.

"Sistem senjata baru ini akan melengkapi kapal frigate kami untuk menghadapi ancaman rudal di masa mendatang," kata Laksamana Mark Stanhope.

"Investasi mengembangkan teknologi pertahanan seperti Sea Ceptor ini sangat penting untuk menjamin Angkatan Laut meningkatkan kemampuannya dalam mempertahankan kepentingan Inggris di manapun dibutuhkan," ujar Stanhope.

Sumber : Vivanews 

Kapal Perang Inggris Prancis Bergabung Dengan Armada Amerika di Selat Hormuz

JAKARTA-(IDB) : Kapal-kapal Inggris dan Prancis bergabung dengan kelompok kapal induk AS dalam armada enam kapal perang yang melewati perairan sensitif Selat Hormuz, kata Departemen Pertahanan Inggris Minggu.

Kementerian itu mengatakan, satu kapal Angkatan Laut Kerajaan, HMS Argyll, merupakan bagian dari kelompok kapal induk yang dipimpin

Amerika Serikat berlayar melalui Selat Hormuz, di mana Iran telah mengancam untuk menutup setelah tindakan Barat menjatuhkan sanksi-sanksi baru atas program nuklir Teheran.

Seorang juru bicara mengatakan: "HMS Argyll dan satu kapal Prancis bergabung dengan kelompok kapal induk AS transit melalui Selat Hormuz, untuk menggarisbawahi komitmen internasional tak tergoyahkan mereka dalam mempertahankan hak-hak berdasarkan hukum internasional."

Ia mengatakan Inggris mempertahankan "kehadiran terus -menerus di wilayah itu sebagai bagian dari kontribusi abadi kita untuk keamanan Teluk".

Kapal perang Inggris telah berpatroli di Teluk terus menerus sejak tahun 1980-an.

Selat Hormuz adalah rute transit utama untuk pasokan minyak global.

Para menteri luar negeri Uni Eropa bertemu di Brussels pada Senin yang diperkirakan setuju terhadap pemberian sanksi kepada Bank Sentral Iran dan mengumumkan embargo pembelian minyak Iran.

Amerika Serikat, Prancis, Inggris dan Jerman menuduh Iran berusaha membangun bom nuklir, namun Teheran berkali-kali menegaskan bahwa program nuklirnya untuk kepentingan damai.

Sumber : Antara

Menghadapi Krisis Selat Hormuz, Inggris Andalkan HMS Daring

Inggris meluncurkan HMS Daring Tipe 45 Destroyer pada 1 Februari 2006. Kapal perang ini berteknologi siluman yang mampu meloloskan diri dari radar lawan.
LONDON-(IDB) : Krisis di Selat Hormuz boleh jadi memanas. Soalnya, Inggris menyiagakan kapal perang paling gres dalam jajaran angkatan lautnya. Menteri Pertahanan Inggris Philip Hammond dalam warta AP dan AFP pada Sabtu (7/1/2012) mengatakan, pihaknya siap memberangkatkan HMS Daring Tipe 45 Destroyer ke selat tersebut.

Kapal perang itu nantinya akan menjadi salah satu tulang punggung sekutu andai Iran jadi menutup selat strategis bagi distribusi minyak dari kawasan Teluk ke Barat.

HMS Daring Tipe 45 Destroyer itu adalah pengganti Tipe 42. Kapal tersebut panjangnya 152,4 meter dengan bobot sekitar 8.000 ton.

Kapal perang tipe ini memiliki kelengkapan siluman yang bisa lolos dari deteksi radar lawan. Kapal ini membawa rudal antipesawat udara Sea Viper. HMS Daring mampu mengangkut 60 orang pasukan.

Selain itu, HMS Daring memiliki dek lebar. Dengan kelengkapan ini, HMS Daring bisa mengangkut helikopter seukuran Chinook.

Sumber : Kompas

Inggris Pertanyakan Masa Depan Pesawat F-35

WASHINGTON-(IDB) : Menteri Pertahanan Inggris Philip Hammond menyuarakan kekhawatiran dan mempertanyakan masa depan program Joint Strike Fighter (JSF) dalam pertemuan dengan Menhan AS Leon Panetta di Washington DC, AS, Kamis (5/1/2012) waktu setempat.

Inggris sangat bergantung pada pesawat F-35 Lightning II yang dibuat dalam program JSF ini untuk melengkapi armada kapal induk masa depannya. Akan tetapi, pengembangan dan produksi pesawat generasi kelima tersebut terus tertunda-tunda karena berbagai masalah teknis dan pembengkakan biaya.

Hammond mempertanyakan prospek produksi pesawat tersebut setelah AS mengumumkan akan merampingkan anggaran pertahanannya. "Salah satu hal yang saya harap bisa dipahami dalam pertemuan hari ini adalah apakah dampak pengumuman (perampingan anggaran pertahanan AS) yang disampaikan hari ini terhadap program Joint Strike Fighter," ungkap Hammond dalam pemaparan di lembaga pemikiran Atlantic Council di Washington.

Inggris adalah salah satu negara di luar AS yang turut menyumbangkan dana untuk pengembangan pesawat berkemampuan stealth tersebut, dan Hammond menegaskan, Inggris tetap berkomitmen memesan F-35C, yakni varian F-35 yang bisa lepas landas dan mendarat di kapal induk.

"Tetapi, tentu saja, jika terjadi perubahan rencana dalam program itu, jika AS memutuskan jumlah pesanannya, akan berdampak pada ketersediaan unit pesawat dan harga satuannya," ungkap Hammond.

Jika hal itu membuat produksi F-35 kembali tertunda, Inggris terancam akan mengoperasikan kapal induk baru tanpa pesawat. Saat ini, kapal induk terbaru Inggris, Prince of Wales, sedang dalam proses pembuatan, dan Inggris berencana melengkapi kapal induk itu dengan armada F-35C.

"Seperti yang Anda tahu, kami sedang dalam tekanan opini publik di Inggris terkait fakta bahwa kami sedang membangun dan akan meluncurkan kapal induk beberapa tahun sebelum ada pesawat yang akan diangkut. Itu akan seperti mimpi jadi nyata bagi para karikaturis, punya kapal induk tanpa pesawat untuk dibawa," tandas Hammond mengungkapkan kekhawatiran Inggris.

Program JSF mengembangkan tiga varian F-35, yakni F-35A yang beroperasi dari landasan konvensional di daratan untuk menggantikan armada pesawat F-16; F-35B yang mampu lepas landas dari landasan pendek dan mendarat secara vertikal (STOVL) untuk menggantikan armada pesawat Harrier, dan F-35C yang dioperasikan dari kapal induk untuk menggantikan armada F/A-18.

Sumber : Kompas

Segitiga Setan Siap Keroyok Iran

TEL AVIV-(IDB) : Dalam beberapa hari terakhir, Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Zionis Israel sangat ambisius mengobarkan api Iranphobia dalam apa yang dinilai oleh banyak pengamat sebagai aksi untuk terlibat dalam perang di Timur Tengah.
 
Trio, yang merupakan Segitiga Setan telah mengadakan pertemuan rahasia antara para pejabat tinggi keamanan dan membentuk sebuah front bersatu melawan Iran.
 
Sebuah laporan terbaru harian Inggris, Guardian mengungkapkan bahwa Kepala Staf Pertahanan Inggris Jenderal David Richards secara diam-diam mengunjungi Tel Aviv selama sepekan, menggelar sejumlah pertemuan dengan pejabat tinggi militer dan intelijen Israel serta meyakinkan mereka tentang dukungan tak tergoyahkan Inggris dalam serangan ke situs nuklir Iran.
 
Selanjutnya, para pejabat London mengungkapkan bahwa pemerintah Washington sedang mempertimbangkan rencana untuk mempercepat serangan yang ditargetkan di situs nuklir Iran dan Inggris siap untuk menjadi bagian dari rencana serangan itu.
 
Menariknya, Menteri Peperangan Israel Ehud Barak tiba di London pada Rabu lalu (2/11) untuk mengadakan pembicaraan dengan mitra Inggrisnya dan tentu saja Iran menjadi agenda utama pertemuan itu. Seorang pejabat militer senior AS baru-baru ini juga menangani sebuah forum di Washington dan mengatakan bahwa Iran telah menjadi ancaman terbesar bagi Amerika Serikat.
 
Pada hari Jumat, Presiden Israel Shimon Peres juga menyatakan sesuatu yang hampir memiliki efek yang sama, yaitu opsi militer untuk menghentikan Iran memperoleh senjata nuklir sudah lebih dekat. Ketika ditanya oleh Channel 2 Israel bahwa peristiwa bergerak menuju opsi militer dan bukan satu langkah diplomatik, Peres menjawab, "Saya yakin seperti itu, saya memperkirakan badan intelijen dari ketiga negara memperingatkan para pemimpin mereka bahwa tidak banyak waktu yang tersisa.
 
Sementara itu, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dalam KTT G-20 baru-baru ini, mengatakan, "Adalah perilaku Iran dan keinginan obsesif negara itu untuk mendapatkan nuklir militer dengan melanggar semua aturan internasional. Jika keberadaan Israel terancam, Perancis tidak akan berpangku tangan."
 
Trio Setan (termasuk Perancis) telah meningkatkan retorika mereka terhadap Republik Islam Iran. Ancaman bukanlah kata baru ke Iran dan negara ini siap untuk kemungkinan yang terburuk. Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi mengatakan di sela-sela konferensi pers di kota Benghazi, Libya, "AS telah kehilangan kebijaksanaan dan kehati-hatian dalam berurusan dengan isu-isu internasional. Semua tergantung pada selera. Mereka telah kehilangan rasionalitas, kita siap untuk kemungkinan yang terburuk, tapi kami berharap mereka akan berpikir dua kali sebelum mereka berkonfrontasi dengan Iran."
 
AS telah memperbaharui retorika terhadap Iran, mengulangi tuduhan yang sama dan lagi dan lagi mengatakan, Iran sedang mengejar program senjata nuklir rahasia, Iran mendukung terorisme di kawasan, Iran melanggar hak asasi manusia dan jika Iran memperoleh teknologi untuk memproduksi senjata nuklir, maka itu akan menciptakan Perang Dunia III.
 
Tuduhan terbaru Washington terhadap Tehran menjelang laporan pekan depan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) adalah bahwa Iran telah membangun sebuah kontainer baja besar untuk melaksanakan uji coba dengan bahan peledak tinggi, yang dapat digunakan dalam senjata nuklir.
 
Namun, Tehran tidak akan tinggal diam dan membiarkan musuh mengganggu program nuklir damai Iran.
 
Pada Agustus 2011, Komandan Operasi Pasukan Elite Iran (Pasdaran), Brigadir Jenderal Ali Shadmani mempertimbangkan tiga langkah efektif untuk melawan setiap tindakan agresi musuh.
 
Pertama: Israel sama seperti halaman belakang AS dan Iran akan mengganggu keamanan rezim itu. Kedua: Iran akan mengambil kontrol penuh atas Selat Hormuz, perairan di mana lebih dari 40 persen dari semua perdagangan minyak melewati kawasan itu, sehingga menaikkan harga minyak dunia dan tentu saja menjadi pukulan berat bagi perekonomian global yang sudah memburuk. Dan ketiga: Iran akan terus memantau semua pangkalan militer Amerika di Afghanistan dan Irak. Jika terjadi serangan, Iran akan melumpuhkan tentara AS yang ditempatkan di pangkalan-pangkalan itu dan mematikan perpindahan mereka.
 
Dalam analisis terakhir, agenda terselubung AS dalam menciptakan Iranphobia bertujuan untuk memprovokasi masyarakat dunia atas program nuklir damai Iran dan akhirnya menyerang negara itu untuk mendapatkan berbagai sumber daya Iran yang telah lama mereka impikan.
 
Dalam aliansi Israel, AS dan Inggris, orang tidak dapat mengatakan dengan pasti siapa yang paling bertanggung jawab atas tindakan provokatif anti-Iran, tetapi tampaknya Israel sedang mengompori AS dan Inggris.

Sumber : Irib

Diam-Diam Inggris Tengah Bersiap Serang Fasilitas Nuklir Iran

LONDON-(IDB) : Inggris tengah meningkatkan persiapan untuk serangan militer terhadap Iran, surat kabar The Guardian melaporkan pada hari Rabu. Menurut laporan itu, Inggris semakin khawatir mengenai program nuklir Tehran, dan sedang mempersiapkan untuk menggunakan kapal Angkatan Laut mereka dalam beberapa bulan mendatang untuk membantu serangan Amerika Serikat pada fasilitas kunci di Iran.

Laporan ini mengutip pejabat senior yang mengatakan mereka percaya Iran telah mengembalikan kemampuan teknologinya yang rusak parah akibat serangan cyber tahun lalu. Iran mengatakan komputer yang terinfeksi Stuxnet telah mengacaukan sistem di pabrik Bushehr, namun tidak sistem utama pabrik. The New York Times melaporkan Januari lalu bahwa virus itu diproduksi bersama Israel-AS sebagai upaya untuk melemahkan ambisi nuklir Iran.

Kepala militer Iran memperingatkan Rabu bahwa serangan Israel terhadap situs nuklir Iran akan datangdengan dampak yang berat, demikian kantor berita Iran ISNA melaporkan.

Menanggapi laporan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah berusaha untuk mendapatkan mayoritas dukungan di kabinet untuk menyerang Iran, ketua kepala staf gabungan angkatan bersenjata Iran, Hassan Firouzabadi, memperingatkan Israel dan AS terhadap langkah tersebut.

Sementara itu, Angkatan Udara Israel terus melakukan latihan komprehensif terutama pada serangan jarak jauh.

Hal yang sama terendus pekan lalu di pangkalan NATO di Italia, di mana enam jenis skuadron angkatan udara berpartisipasi. 

Pada Rabu, Israel menembakkan uji coba rudal balistik di pangkalan Angkatan Pertahanan Israel Palmahim di pusat Israel. Tes ini merupakan bagian dari pemeriksaan terhadap rudal baru yang saat ini sedang dikembangkan oleh departemen pertahanan. Rudal itu meninggalkan jejak api yang bisa dilihat dalam radius beberapa kilometer.

Sumber : Yahoo

Inggris Latih ZEE Untuk Negara Di Kawasan Asia Tenggara

JAKARTA-(IDB) : Inggris mengadakan pelatihan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di Jakarta untuk beberapa negara di kawasan Asia Tenggara ditambah Papua Nugini dengan tujuan membantu penyelesaian masalah maritim di wilayah tersebut.

Pelatihan yang akan berlangsung 24-28 Oktober 2011 ini dibuka Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementrian Pertahanan, Mayor Jenderal TNI Suwarno, di Jakarta, Senin.

Konflik perbatasan, pencurian ikan, dan pembajakan kapal merupakan isu utama yang akan dibahas karena kawasan Asia Tenggara beberapa kali mengalami kejadian tersebut.

Dalam masalah batas laut, potensi konflik tersebut bisa dilihat dari klaim bersama antara Vietnam, Brunei, Malaysia, Filipina, dan Taiwan atas Kepulauan Spratly di Laut China Selatan.

Sedangkan pencurian ikan juga sering terjadi di wilayah ini, terakhir sembilan kapal pencuri ikan Indonesia dari Vietnam tertangkap perairan Natuna, 29 September lalu.

Delegasi Indonesia yang menghadiri pelatihan ini berjumlah 32, Malaysia dan Singapura mengirim satu wakil dan sisanya masing-masing dua.

Instruktur pelatihan adalah Mayor Ted Bath yang sudah berpengalaman mengadakan pelatihan sejenis sebanyak 23 kali, delapan kali di Inggris dan 15 di luar Inggris. Di Jakarta sendiri, pelatihan ini sudah dilakukan lima kali.

Unit Pelatihan Internasional dan Persemakmuran (International and Commonwealth Training Unit/ICTU) yang merupakan bagian dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris akan menjadi pelaksana pelatihan tersebut.

"Indonesia dan negara-negara tetangga sering mengalami persoalan berkaitan dengan batas teritorial laut, pelatihan ini diharapkan mampu menyelesaikan beberapa persoalan tersebut," kata Suwarno dalam sambutan sebelum membuka pelatihan.

Persoalan perbatasan laut itu, katanya, disebabkan sulit untuk mengimplementasikan hukum laut internasional dan ZEE yang sudah diratifikasi sejak 1992.

"Kehadiran peserta dari Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, negara Timor Timur, dan Papua Nugini akan membantu penyelesaian masalah perbatasan, pembajakan kapal, dan terorisme di wilayah ini," kata dia.

Sementara Atase Pertahanan Kedutaan Inggris untuk Indonesia, Kolonel Philip Thorpe, melalui rilis media mengatakan, kesulitan itu implementasi hukum laut internasional itu disebabkan keragaman bahasa yang digunakan dalam hukum itu. Alhasil, interpretasinya berbeda-beda.

"Perbedaan interpretasi dapat memperburuk stabilitas regional itu. Pelatihan ZEE yang dihadiri perwakilan dari tujuh negara tetangga akan memungkinkan mereka berbagi pesan yang sama sehingga sikap saling menghormati dan memahami dapat terbangun," kata Thorpe. 

Sumber : Antara

Inggris Tawarkan Typhoon Ke Pemerintah Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Inggris berkomitmen meningkatkan kerja sama dengan Indonesia di berbagai bidang, yang selama ini sudah terjalin baik, mulai dari bidang ekonomi, perdagangan, perubahan iklim, pendidikan, perang terhadap terorisme dan ekstremisme, hingga pertahanan.

Di sektor pertahanan, tidak menutup kemungkinan Inggris akan menawarkan berbagai persenjataan terbarunya untuk dibeli Indonesia.

Demikian diungkapkan Duta Besar Inggris, Mark Canning, di sela-sela acara berbuka puasa bersama wartawan di kediaman resminya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2011).

Canning adalah Dubes Inggris yang baru untuk Indonesia, menggantikan dubes lama, Martin Hatfull.

Menurut Canning, Indonesia dan Inggris memiliki hubungan kerja sama yang baik di bidang pertahanan. "Kami telah menjual beberapa peralatan pertahanan penting ke Indonesia, contohnya pesawat Hawk," ujar diplomat karir, yang pernah bertugas di Kedubes Inggris di Jakarta, tahun 1993-1997, itu.

Saat ditanya, apakah Inggris juga akan berusaha menjual pesawat tempur terbarunya, Eurofighter Typhoon, kepada Indonesia, Canning menjawab antusias, "Saya akan berusaha menjual apa pun yang saya bisa."

Industri pertahanan menjadi salah satu sektor industri yang diandalkan negara-negara Barat untuk membantu pemulihan ekonomi, yang terkena krisis berkepanjangan hingga saat ini. Negara-negara Asia, yang menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia, menjadi pasar menggiurkan dari industri pertahanan ini.

Namun, segencar apa pun promosi yang dilakukan produsen senjata Eropa, mereka hampir selalu kalah dengan produk-produk AS. Pesawat Rafale yang dibuat pabrikan Dassault dari Perancis, misalnya, sudah dipromosikan sejak tahun 2000, tetapi belum pernah sekalipun memenangkan kontrak pembelian.

Di Maroko, Rafale kalah dengan F-16 Block 52 buatan Lockheed Martin, AS. Sementara AU Korsel dan Singapura lebih memilih F-15 Eagle produksi Boeing daripada Rafale.

Demikian juga dengan Typhoon, pesawat tempur yang dikembangkan bersama oleh Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol dalam konsorsium Eurofighter, itu, baru mendapat dua pelanggan di luar negara-negara pembuatnya, yakni Austria dan Arab Saudi.

Maret lalu, sempat muncul berita di harian The Times, Inggris, Kementerian Pertahanan Inggris sedang dalam pembicaraan serius dengan pemerintah Indonesia, yang ingin membeli 24 pesawat Typhoon senilai 5 miliar poundsterling (Rp70,3 triliun). Namun, berita ini langsung dibantah salah satu menteri di Kementerian Pertahanan Inggris, Gerald Howarth, sehari kemudian.

Indonesia memiliki sejarah pahit pembelian senjata dari Inggris. Pesawat Hawk 100/200 yang dipesan TNI AU dari Inggris akhir dekade 1990-an lalu sempat tertunda-tunda pengirimannya, dan bahkan sempat dikirim tanpa perlengkapan radar, komunikasi, dan perangkat navigasi (Kompas, 8/4/2000), setelah Indonesia diembargo karena dituduh menggunakan pesawat itu untuk mengebom pemberontak Timor Timur. 

Sumber: Kompas

Kapal Perang Inggris Merapat Di Jakarta

JAKARTA-(IDB) : Kapal Perang Inggris Jenis Frigate HMS Richmond-F239 tiba di dermaga Pelabuhan JITC (Jakarta International Terminal Container) II Tanjung Priok, Jakarta, kemarin (Minggu, 23/5).

Dari keterangan Kepala Bagian Penerangan Pangkalan Utama TNI AL III, Mayor Laut Agus Susilo Kaeri, Kapal Frigate ini akan berada di Jakarta selama tiga hari dalam rangka kunjungan untuk lebih memperat jalinan persahabatan antara AL Inggris (Royal Navy) dengan TNI AL yang selama ini sudah terjalin dengan baik.

Kapal perang HMS Richmond yang dikomondani Capt. Mike Walliker ini mempunyai panjang 133 Meter dengan lebar 16,1 meter merupakan kapal untuk peperangan anti kapal selam (Anti Submarine warfare). Kapal yang bermarkas di Portmouth ini selain memiliki senjata torpedo untuk melawan kapal selam juga dilengkapi dengan beberapa buah meriam dengan berbagai kaliber serta senjata harpoon.

Kapal ini telah dipergunakan dalam operasi-operasi pemeberantasan obat-obatan terlarang di wilayah Amerika, Atlantik Selatan, Teluk Arab dan Karibia juga untuk operasi bantuan bencana alam di kepulauan Turks, Caicos, Grenada dan Grand Cayman
.
Selama singgah di Indonesia prajurit Royal Navy ini akan melaksanakan kegiatan antara lain kunjungan kehormatan ke pejabat TNI AL, melaksanakan kegiatan diskusi dengan prajurit Koarmabar membahas masalah piracy dan melaksanakan kegiatan sosial ke pesantren Yayasan Nurul Zahro di daerah Koja Jakarta Utara serta olahraga sepak bola bersama dengan para selebritas.

Sumber: Ramol

FPDA Gelar Latihan Bersama Shield 2011 di Malaysia

F-18 Super Hornet AU Australia
CAMBERRA-(IDB) : Lima negara anggota Five Power Defence Arrangement (FPDA) mengelar latihan bersama Bersama Shield 2011 (BS11) di sejumlah lokasi di Semanjung Malaysia dan Laut Cina Selatan, 2-13 Mei.

Tujuan latma BS11 meningkatkan interoperability kekuatan udara, laut dan darat dari negara FPDA guna meningkatkan keamanan regional, termasuk pertahanan Singapura dan Malaysia. FPDA terdiri dari Australia, Inggris, Selandia Baru, Malaysia dan Singapura, telah berusia 40 tahun pada tahun ini.

BS11 melibatkan 9 frigate, satu kapal selam serta 46 jet tempur dari lima negara FPDA.

Australia menyertakan enam jet tempur F/A-18F Super Hornet dari Skuadron 1, dua frigate kelas ANZAC HMS Ballarat dan Parramatta serta satu kapal selam kelas Collin HMAS Dechaineux.

Sumber: ADF