Tampilkan postingan dengan label Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaysia. Tampilkan semua postingan

RMAF May Lease Gripens an Option

24 September 2012

Swedish Gripen (photo : Militaryphotos)

PETALING JAYA : The Royal Malaysian Air Force (RMAF) is considering an offer from Sweden to lease up to 18 JAS39 Gripen fighter jets for its Multi-Role Combat Aircraft (MRCA) programme.

RMAF chief Tan Sri Rodzali Daud told theSun leasing the Gripens is a cheaper solution considering the huge capital expenditure needed for the procurement of new fighters.

"The Gripens had been leased to European air forces, so there is nothing new about such a deal.

"The aircraft also meets all of our MRCA requirements although I admit it is short on gas and range due to its small size," he said when asked to comment on claims by defence industry sources that Sweden has offered a lease-buy option for the Gripens.

Sources told theSun that offer was made after Gripen and the Sukhoi Su-30MKM were eliminated from the MRCA programme following technical evaluation by RMAF test pilots.

They said the three top contenders, namely Boeing F/A-18 Super Hornet, Dassault Rafale and Eurofighter Typhoon, would compete for the final stage of the programme, where their transfer of technology packages and off-set offers would be evaluated before the winner is selected.

Rodzali denied that Gripen and Sukhoi were no longer considered for the MRCA programme as "we are still evaluating all of the aircraft".

He also denied that RMAF had ranked the aircraft in the technical evaluation.

Instead, he said, the aircraft's strengths and weaknesses were documented for further evaluation.

According to him, one important factor for the final selection would be the lowest support cost. "If the Super Hornet is seen as the favourite, it is because we already have the Hornets (eight units) in service."

Asked how many Gripens will be leased if the offer is accepted, he said "preferably it will be 18 planes as specified in the MRCA".

He said despite budgetary constraints, the MRCA programme will go ahead as the air force has planned to retire the 10 MiG-29N Fulcrum air superiority fighters by 2015. "We may need a special budget, one that covers three Malaysian plans," he added.

Rodzali declined to confirm the budget allocation for the MRCA programme but sources told theSun the air force could only procure 12 jets if it opts for the Super Hornet, Rafale or Typhoon.

Hungary and Czech operate the Gripens under a 10-year lease-and-buy contract, for around RM398 million a year, which covers servicing and training.
Rodzali dismissed any hint of an arm race in the impending buy.

"The reason we are looking for new fighters is because of the capability gap. We need to ensure we are on par with other nations.

"Another reason is technology. Technology is moving rapidly. We cannot afford to be left behind."

ATM Laksanakan Uji Penembakan Rudal dan Roket Terpadu

Suasana latihan Eksesais ANGSA

Angkatan Tentara Malaysia (ATM) telah berhasil meluncurkan penembakan misil dan roket secara terpadu di Perairan Selat Malaka Utara sekitar jam 10 hingga 11 pagi tadi. Penembakan yang diluncurkan dari platform penembak yang berbeda ini berhasil mengenai sasaran permukaan pada jarak dan kecepatan yang diprogram.


Dalam penembakan tadi pagi, Angkatan Laut Diraja Malaysia (TLDM) telah meluncurkan misil jenis Exocet MM40 dari Kapal Diraja (KD) LEKIU dan misil jenis Sea Skua dari helikopter TLDM jenis Super Lynx. Angkatan Udara Diraja Malaysia (TUDM) pula telah meluncurkan misil tipe Maverick dan Harpoon dari pesawat tempur F/A-18D. Sementara itu, tim 51 Resimen Artileri Kerajaan Angkatan Darat Malaysia (TDM) pula telah meluncurkan Sistem Roket Lancar Berganda Astros II dari situs penembakan di Tanjung Antu, Segari, Perak. Semua penembakan ini telah berhasil mengenai tepat dan menghancurkan target.


Penembakan terpadu ATM ini telah diluncurkan selama Eksesais ANGSA 7/2012 yang lelibatkan tiga layanan, Darat, Laut, dan Udara yang dimulai dari 10 hingga 28 Sep 12. Penembakan secara terpadu ini dilaksanakan dalam upaya meningkatkan latihan secara bersama (joint) antara ketiga layanan. Selain itu, penembakan ini digabungkan sebagai langkah penghematan secara kemitraan biaya dalam operasi penembakan.


Penembakan terpadu ini melibatkan aset bantuan ketiga layanan sebagai unsur untuk pembersihan area, tim penyediaan sasaran, rekaman dan analisis. Antara aset dan unsur TLDM lain yang terlibat adalah KD Mahawangsa, KD PAHANG, KD TERENGGANU, KD LAKSAMANA Hang Nadim, KD MAHAMIRU, KTD PENYU, Bot Tempur CB 90, Tim Penyelam, Weapon Trial and Assesment Team (WTAT) dan helikopter Fennec. Sementara aset TUDM lain yang terlibat adalah pesawat Su-30MKM, pesawat CN-235, pesawat B-200T dan C-130. Unit TUDM yang terlibat adalah 51 Resimen Artileri Royal.


Keberhasilan penembakan misil dan roket terpadu ATM ini telah sekali lagi membuktikan bahwa kesiagaan aset ATM selalu di tingkat yang tinggi dalam mempertahankan kedaulatan negara. Ia juga sekaligus menempatkan ATM antara pasukan Angkatan Bersenjata yang wajar disegani di kawasan ini.


Panglima Angkatan Laut Laksamana Tan Sri Abdul Aziz bin Ja’far, Panglima Angkatan Udara, Jenderal Tan Sri Dato Sri Rodzali bin Daud TUDM, Wakil Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Dato’ Hasbullah bin Hj Mohd Nawawi dan Panglima Angkatan Bersama, Laksamana Madya Dato’ Sri Ahmad Kamarulzaman bin Hj Ahmad Badaruddin, Panglima Operasi Udara Dato’ Seri Mohd Ackban bin Hj Abdul Samad TUDM dan Panglima Armada Laksamana Madya Dato’ Abdul Hadi bin A. Rashid hadir menyaksikan penembakan ini dari platform kapal KD Mahawangsa di Perairan Selat Malaka.
 
 
 
Sumber : MalaysiaNavy

ATM Lancar Penembakan Misil dan Roket Secara Bersepadu

21 September 2012


Suasana latihan Eksesais ANGSA 7/2012 (all photos : TLDM)

Angkatan Tentara Malaysia (ATM) telah berhasil meluncurkan penembakan misil dan roket secara terpadu di Perairan Selat Malaka Utara sekitar jam 10 hingga 11 pagi tadi. Penembakan yang diluncurkan dari platform penembak yang berbeda ini berhasil mengenai sasaran permukaan pada jarak dan kecepatan yang diprogram.


Dalam penembakan tadi pagi, Angkatan Laut Diraja Malaysia (TLDM) telah meluncurkan misil jenis Exocet MM40 dari Kapal Diraja (KD) LEKIU dan misil jenis Sea Skua dari helikopter TLDM jenis Super Lynx. Angkatan Udara Diraja Malaysia (TUDM) pula telah meluncurkan misil tipe Maverick dan Harpoon dari pesawat tempur F/A-18D. Sementara itu, tim 51 Resimen Artileri Kerajaan Angkatan Darat Malaysia (TDM) pula telah meluncurkan Sistem Roket Lancar Berganda Astros II dari situs penembakan di Tanjung Antu, Segari, Perak. Semua penembakan ini telah berhasil mengenai tepat dan menghancurkan target.


Penembakan terpadu ATM ini telah diluncurkan selama Eksesais ANGSA 7/2012 yang melibatkan tiga layanan, Darat, Laut, dan Udara yang dimulai dari 10 hingga 28 Sep 12. Penembakan secara terpadu ini dilaksanakan dalam upaya meningkatkan latihan secara bersama (joint) antara ketiga layanan. Selain itu, penembakan ini digabungkan sebagai langkah penghematan secara kemitraan biaya dalam operasi penembakan.


Penembakan terpadu ini melibatkan aset bantuan ketiga layanan sebagai unsur untuk pembersihan area, tim penyediaan sasaran, rekaman dan analisis. Antara aset dan unsur TLDM lain yang terlibat adalah KD Mahawangsa, KD PAHANG, KD TERENGGANU, KD LAKSAMANA Hang Nadim, KD MAHAMIRU, KTD PENYU, Bot Tempur CB 90, Tim Penyelam, Weapon Trial and Assesment Team (WTAT) dan helikopter Fennec. Sementara aset TUDM lain yang terlibat adalah pesawat Su-30MKM, pesawat CN-235, pesawat B-200T dan C-130. Unit TUDM yang terlibat adalah 51 Resimen Artileri Royal.


Keberhasilan penembakan misil dan roket terpadu ATM ini telah sekali lagi membuktikan bahwa kesiagaan aset ATM selalu di tingkat yang tinggi dalam mempertahankan kedaulatan negara. Ia juga sekaligus menempatkan ATM antara pasukan Angkatan Bersenjata yang wajar disegani di kawasan ini.


Panglima Angkatan Laut Laksamana Tan Sri Abdul Aziz bin Ja’far, Panglima Angkatan Udara, Jenderal Tan Sri Dato Sri Rodzali bin Daud TUDM, Wakil Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Dato’ Hasbullah bin Hj Mohd Nawawi dan Panglima Angkatan Bersama, Laksamana Madya Dato’ Sri Ahmad Kamarulzaman bin Hj Ahmad Badaruddin, Panglima Operasi Udara Dato’ Seri Mohd Ackban bin Hj Abdul Samad TUDM dan Panglima Armada Laksamana Madya Dato’ Abdul Hadi bin A. Rashid hadir menyaksikan penembakan ini dari platform kapal KD Mahawangsa di Perairan Selat Malaka.

(TLDM)

Defence Ministry Begins Probe Into RIV Acquisition

 21 September 2012


Rapid Intervention Vehicle for Malaysian Special Forces (photo : Green n Black Screen) 

KUALA LUMPUR (Bernama) -- The Defence Ministry has began probing the acquisition of the Rapid Intervention Vehicle (RIV), its minister, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi said.

He said legal actions would also be taken against those involved in any misappropriation in the purchase of the vehicles.

PGK Detachment A using Ford Explorer Sport Trac as RIV (photo : Rizuan)

"I have been collecting evidence from the preliminary investigation and if the allegation by Sultan Ibrahim of Johor is proven right, legal action will be taken against the supplier.

“The ministry will not compromise with anyone. If misappropriation is involved in the purchase of the RIV, we will take action,” he said in response to the vast difference in prices of the RIV supplied to the Special Forces Regiment as mentoned by Sultan Ibrahim last Saturday.

Local Shipbuilders Capable of Building Large Ships

18 September 2012

NGVTech Malaysia and DSME Korea are joined to build 1.270 ton Training Ship for Royal Malaysian Navy (all photos : Standdupper)

KUALA LANGAT : Former prime minister Tun Dr Mahathir Mohamad has expressed confidence that local shipbuilders are capable of building large vessels, including war ships.


He said they should be given the opportunity to prove their worth as proven by NGV Tech which had so far built over 140 ships of various sizes.


"I am confident that NGV Tech is capable of building large vessels and warships as it is a sophisticated company entrusted with building two Royal Malaysian Navy training ships through a joint venture with a South Korean company," he told reporters after attending a Hari-Raya open house hosted by NGV Tech here today.


Accompanied by NGV Tech executive chairman Datuk Zulkifli Shariff and Chief of Navy Tan Sri Abdul Aziz Jaafar, Dr Mahathir witnessed the construction of the two training ships worth RM148 million each at a shipyard owned by NGV Tech in Kampung Sijangkang.


Built through a technology transfer programme with Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering Co. Ltd., South Korea, NGV Tech expects both ships to be completed by the middle of next year.

No Additional Defence Budget for Mindef in 2013

15 September 2012

ATM will continue training and readiness to face any potential threat (photo : Perajurit)

2013 Budget: Govt to focus on socio-economy

KUALA LUMPUR: There will be no additional allocation for the Ministry of Defence (Mindef) in the 2013 Budget to give more space to the government to focus on improving the people's socio-economy, said Defence Minister Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi.
He said the ministry was satisfied with the discussions held with the Finance Ministry and was not expecting any increase in allocation for it in the coming budget. 

"This is because we feel that socio-economic programmes should be given top priority.

"As for defence activities, we will continue with the existing training and preparing ourselves for readiness to face any potential threat," he said on the 2013 Budget yesterday.

He said although there would be no additional allocation for the ministry in the new budget, safeguarding national security and sovereignty remained a priority and not to be compromised. 

Kerja Naik Taraf Pangkalan TLDM Tawau Siap Pertengahan Tahun Depan

10 September 2012

Pangkalan TLDM Tawau, Sabah (photo : Google Earth)
 
SEMPORNA: Menteri Pertahanan, Datuk Seri Ahmad Zahid Hamidi berkata, kerja menaik taraf pangkalan Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) di Tawau akan siap pada pertengahan tahun depan.

Beliau berkata, kerja menaik taraf pangkalan itu yang menelan belanja kira-kira RM50 juta, berjalan mengikut jadual. "Ia (kerja naik taraf) adalah untuk mempersiapkan pangkalan Tawau ini sebagai satu pangkalan satu unit, kerana kami akan menambah baik atau menaik taraf pangkalan laut di sekitar kawasan pantai Sabah dan Sarawak," katanya.

Ahmad Zahid yang juga Naib Presiden UMNO berkata demikian selepas merasmikan Persidangan Perwakilan UMNO Bahagian Semporna yang turut dihadiri Naib Presiden UMNO, Datuk Seri Mohd Shafie Apdal.

Menurut Ahmad Zahid, usaha menaik taraf pangkalan TLDM di kedua-kedua negeri berkenaan dianggap satu keperluan semasa negara, ditambah dengan permasalahan yang timbul daripada tuntutan bertindih di beberapa kawasan berhampiran.

"Atas nama kedaulatan negara ini, kami merasakan bahawa kedaulatan sempadan air dan negara kita harus dipertahankan tanpa adanya usaha provokasi oleh pihak ketiga atau pihak kita sendiri," katanya.

'Serangan' di Kota Belud

24 Agustus 2012

Antara peralatan senjata yang digunakan oleh 3 RAMD dalam demonstrasi di Kota Belud, Sabah baru-baru ini. (photo : Utusan)

SUASANA perbukitan di Tapak Tembak 6 di Kota Belud, Sabah pada pagi itu amat indah. Di utara, Laut China Selatan terhampar kebiruan mendamaikan pandangan, sedangkan di selatannya megah berdiri Kinabalu diselaputi awan putih bersih.

Dentuman senjata jenis Carl Gustav membuatkan keheningan pagi itu itu semakin bingit. Bola api deras meluncur ke arah sasaran yang terletak beberapa kilometer nun di atas bukit dan sasaran itu meledak, lalu angin menyebarkan bau bahan api ke udara.

Malahan beberapa jenis senjata bantuan seperti HMG, LMG, AGL, mortar dan beberapa jenis lagi telah dipertontonkan kemampuannya dalam menembak sasaran yang jauh.

Sebelum tembakan daripada senjata-senjata bantuan itu, demonstrasi pada pagi itu dimulai oleh kumpulan penembak tepat 3 Rejimen Askar Melayu Diraja (RAMD).

Di khemah kenamaan yang agak tinggi berhampiran tembakan itu berasal, Yang Dipertua Negeri Sabah, Tun Juhar Mahiruddin bersama isterinya Toh Puan Norlidah RM Jasni beserta rombongan sedang menyaksikan demonstrasi itu.

G-Wagon dilengkapi dengan AGL (photo : Militaryphotos)

Turut berada di lokasi ialah Panglima Briged Kelima Infantri Malaysia, Brigedier Jeneral Datuk Abdul Halim Abdul Jalal bersama dengan pegawai-pegawai tertinggi tentera yang lain.

Sebelum acara di Tapak Tembak 6 berakhir, Tun Juhar dipelawa untuk mencuba sendiri senjata-senjata bantuan itu antaranya senjata AGL (Automatic Gun Launcher) dari G-wagon sambil dibantu oleh Abdul Halim.

Beliau begitu tenang melepaskan tembakan dari atas kenderaan tersebut dan berhasil mengenai sasaran walaupun dilihat agak payah bagi mereka yang kurang latihan dalam bidang ketenteraan.

Program tersebut merupakan Demonstrasi Tembakan Senjata Bantuan dan Persendirian Bersama Juhar yang mempamerkan pelbagai jenis senjata berat dari Batalion 3 RAMD yang berpangkalan di Lok Kawi.

Prajurit membawa senjata Carl Gustav (photo : USNavy)

Menurut Abdul Halim, latihan tersebut membabitkan RAMD dan dibantu oleh pasukan 507 Askar Wataniah itu mempamerkan tembakan seksyen, tembakan platun dan tembakan senjata bantuan.

Katanya, antara tujuan aktiviti tersebut dianjurkan ialah untuk mengeratkan hubungan antara pemimpin, terutamanya Juhar dengan angkatan tentera dan berharap beliau dapat melihat sendiri kehidupan dan latihan di kawasan latihan khususnya di daerah ini.

"Bukan itu sahaja, kita turut memperlihatkan bahawa kita terus menerus berlatih untuk menghadapi sebarang kemungkinan dan bukan duduk di kem sahaja untuk menunggu arahan," tegasnya.

Program tersebut merupakan antara tugas terakhir Abdul Halim sebagai Panglima Briged Kelima Infantri Malaysia yang berpangkalan di Lok Kawi sebelum berpindah Kementerian Pertahanan, Kuala Lumpur, sebagai Pengarah Pengurusan Latihan di Markas Latihan Tentera Darat.

Zahid: No Plans to Increase Defence Spending

11 Agustus 2012

In 2012 the defense ministry of Malaysia get the budget allocation of RM 13.714 billion (photo : Peter de Jong)

KUALA LUMPUR: Malaysia has no plans to increase its defence spending in Budget 2013 which is expected to be tabled on Sept 28, said Defence Minister Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi.

“I believe that the figures will be similar to the allocations for our projects under the 10th Malay-sia Plan.

“We hope that our budget will not be cut as many other countries have trimmed their military spending due to the global economic crisis,” he said at a press conference after chairing the Malaysian Industry Council for Defence, Enforcement and Security meeting yesterday.

Zahid was asked whether the Government had any plans to boost its defence spending, especially in relation to research and development projects.

He added that the ministry would instead focus on upgrading and refurbishing existing hardware as well as its military equipment in a bid to cut excessive spending.

MMEA Plans Airbase with Amphibious Aircraft in Sabah

10 Agustus 2012

MMEA CL-415 amphibious aircraft (photo : chws)

TAWAU: Malaysian Maritime Enforcement Agency (MMEA) plans to base its amphibious Bombardier CL415 aircraft in Sabah to beef up efforts to keep the waters in the state safe from intrusions.

Its operation deputy director Datuk Ahmad Puzi Ab Kahar said the proposal would become a reality when the agency, which was established seven years ago, owns its own airbase in Sabah .

“We have plans to base our aircraft in Sabah when the government is able to give an allocation. We plan to build a base in Kota Kinabalu and an airbase in Sandakan ,” he said.

“If we get a land allocation from the Sabah government, we will implement quickly,” he said yesterday when making a working visit here.

Earlier, Ahmad Puzi travelled to Tawau from Kota Kinabalu by an MMEA Bombardier  CL415 aircraft which landed on the waters at Cowie Bay after a surveillance mission to several coastal areas of Sabah .

The Canada-made aircraft is one of two acquired by MMEA, and they are the first such aircraft in operation in Southeast Asia .

TUDM Harapkan Penggantian Pesawat Latih PC-7 dan Helikopter Latih Alouette

25 Juli 2012

Helikopter latih Alouette III (photo : Airliners)

TUDM terima helikopter baru

Butterworth - Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) akan menerima dua helikopter Eurocopter Cougar jenis EC725 pada Disember ini atau selewat-lewatnya Januari tahun depan.

Panglima TUDM, Jeneral Tan Sri Rodzali Daud, berkata penghantaran Cougar EC725 yang dibangunkan khusus bagi misi mencabar seperti tugas taktikal mencari dan menyelamat untuk menggantikan Sikorsky S61-A4 Sea Kings atau Nuri akan dilaksanakan mengikut jadual.


Baki 10 helikopter dijangka diserahkan secara berperingkat dengan pesawat terakhir bakal sampai pada Januari 2014.

“Selain itu, pesawat pengangkut jenis Atlas Airbus A400 yang dibeli kira-kira RM600 juta akan tiba menjelang Januari 2015 seperti yang dijadualkan,” katanya selepas menganugerahkan Sayap dan Sijil Penerbangan di Pangkalan Udara TUDM Butterworth, di sini, semalam.

Pesawat latih Pilatus PC-7 (photo : Militaryphotos)

Beliau berkata, juruterbang TUDM kini berada di Perancis untuk mengikuti latihan sebelum penghantaran pertama dua daripada 12 helikopter itu.

Katanya mereka sudah tiba di kilang Eurocopter di Marseille, dua hari lalu untuk mengikuti kursus latihan mengendali dan mengetahui ciri pesawat itu supaya dapat digunakan secepat mungkin.

Sementara itu, Rodzali berkata, TUDM berharap kerajaan meluluskan peruntukan menggantikan pesawat Pilatus PC-7 yang diminta ketika Rancangan Malaysia Ke-10 (RMK-10) selain menggantikan helikopter latihan Alloute yang memasuki usia 50 tahun perkhidmatannya dengan TUDM tahun depan.

Penggantian Pilatus PC-7 dan armada Alloute itu memastikan juruterbang muda dapat meneroka kemajuan teknologi pesawat moden di seluruh dunia.

RMAF to Receive Two New Helicopters by January Next Year

19 Juli 2012

Two from 12 EC-725 helicopter will be delivered by year end or Januari (photo : Frederic Lert) 

BUTTERWORTH (Bernama) -- The Royal Malaysian Air Force (RMAF) is set to take delivery of two Euro copter EC725 helicopters from the 12 it ordered, to replace the S61-A4 Sikorsky, by year end or January, next year.

RMAF chief General Tan Sri Rodzali Daud said RMAF pilots had also been sent to Franceseveral days ago to undergo training, using the new aircraft, before they are flown back to Malaysia.

"The last aircraft is expected to be delivered in January 2014. Two of the 12 aircraft will be placed at our base in Kuantan while the simulator for the new aircraft will be placed in Subang," he told reporters after handing flight wings to 41 officers who completed their training at the RMAF Base, here, today.

From the total, 25 of them, including two from the Royal Malaysian Navy, underwent advanced flight training for the Pilatus PC-7, and 16 in basic course for helicopter.

Three officers also received excellence awards during training, namely, Lt Muhammad Osman Mohd Sidek who received the Commander''s Cup for Education and Air Training (Best Academic), Lt Ezraini Azrin Khoo Mohamad Erwan Khoo (Air Force Commander''s Cup for Best Fixed Wing Flight) and Lt M Khairul Azwan Ismail received the (Nuri Cup for Best Helicopter Flight).

In addition, Rodzali said RMAF was expected to receive four new A400M aircraft to replace the Charlie aircraft in January 2015.

He said all the new aircraft would be delivered in stages and the last aircraft was currently still being put together in France.

In another development, Rodzali said RMAF was planning to replace its training aircraft with new ones that are equipped with the latest technology.

"Indeed, we have such a plan and are waiting for an allocation. The existing ones are old and need to be replaced," he added.

Menhan Sematkan Bintang Yudha Dharma Utama dan Bintang Kartika Eka Pakci Utama Kepada PAT Malaysia

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Selasa (17/7) menyematkan Bintang Yudha Dharma dan Bintang Kartika Eka Pakci Utama kepada Panglima Angkatan Tentera (PAT) Malaysia Ybhg Jeneral Tan Sri Dato’ Sri Zulkifeli Bin Mohd Zin di Kantor Kemhan, Jakarta. Hadir dalam penyematan Tanda Kehormatan Bintang Yudha Dharma Utama dan Bintang Eka Pakci Utama ini Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Pramono Edhi Wibowo, Kepala Staf AL Laksamana TNI Soeparno, Wakil Kepala Staf TNI AU Marsdya TNI Dede Rusamsi dan Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto serta dihadiri pejabat Eselon I dan II Kemhan dan Mabes TNI. 

Tanda Kehormatan Bintang Yudha Dharma dan Bintang Eka Pakci Utama merupakan tanda kehormatan di lingkungan TNI yang diberikan oleh Presiden RI atas pertimbangan Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan dengan pertimbangan Menteri terkait. Panglima Angkatan Tentera Malaysia dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Yudha Dharma dan Bintang Eka Pakci Utama atas jasanya dalam peningkatan kerjasama antara Indonesia dan Malaysia dalam bidang militer dan pertahanan.

Tanda Kehormatan Bintang Yudha Dharma dan Bintang Kartika Eka Pakci Utama biasa dianugerahkan kepada Panglima Angkatan Bersenjata negara-negara sahabat untuk meningkatkan dan mempererat hubungan militer dan pertahanan Indonesia dengan negara-negara sahabat.

Ybhg Jeneral Tan Sri Dato’ Sri Zulkifeli Bin Mohd Zin sejak 15 Juni 2011 menjabat sebagai Panglima Angkatan Tentera (PAT) Malaysia setelah sebelumnya menjabat sebagai Panglima Tentera Darat Malaysia.Pada tahun 2004-2005 Ybhg Jeneral Tan Sri Dato’ Sri Zulkifeli Bin Mohd Zin pernah menjadi Komandan IMT (International Monitoring Team) di Mindanao Philipina.


Sumber : DMC

Denel Inks R3.5 billion Deal with Malaysia

11 Juli 2012


Denel GI30 30mm canon (photo : cari)

Denel has signed a 340 million euro (R3.5 billion) contract with Malaysiato supply a range of turret and integrated weapon systems to be fitted onto 8 X 8 armoured infantry fightingvehicles. The deal has been several years in the making.

Zwelakhe Ntshepe, the Group Executive Business Development and Corporate Affairs of Denel, says this is the largest export contract in the company’s history and will result in a significant cash injection and job creation in the local industry. The turrets will be exported to Malaysia over a seven year period – with the first consignment ready for delivery this coming January.

Ntshepe says the final negotiations with Malaysia were concluded at the recent Defence Services Asia Exhibition held in Kuala Lumpur, together with their local partners DRB-Hicom (Deftech). 

Denel Land Systems (DLS) CE Stephan Burger says his company will be responsible for a number of strategic components that have been designed and developed at its campus in Lyttelton:
·         69 x two man turrets fitted with the South African GI30 30mm main gun.
·         54 x missile turrets equipped with the GI30 30mm gun and Denel Dynamics Ingwe anti-tank missile system. The order also includes the supply of 216 laser-guided Ingwe missiles.
·         54 x remote control weapons systems.

Burger says the production of the first consignment of turrets is on schedule and will be delivered in January 2013 for trials by the Malaysian Army. The turrets and weapon systems will be integrated on the Malaysian Army’s new 8 X 8 vehicles which are based on the Pars armoured vehicle platforms from the Turkish company, FNSS.

Ingwe ATGM (photo : Army Recognition)

Through the contract Denel is participating in the Malaysian Economic Enhancement programme which entails the production and assembly of the turrets in Malaysia.  The agreement provides a platform to transfer weapon system integration technology to Deftech in order to create a sustainable capability in Malaysia. Burger adds the contract opens the door to future industry cooperation between the two countries including on-going maintenance and future upgrades of the turrets.

Ntshepe reminds the manufacturing of the turret systems grew out of DLS’s development of the Badger infantry combat vehicle on behalf of the South African Army. The Badger, he says, meets the requirements of a modern army involved in both high-intensity warfare and peacekeeping operations and will replace the 30-year old Ratel as the mainstay of the mechanised infantry force.

Denel in a statement adds the Malaysian contract strengthens DLS’s reputation as a strategic hub of innovation and advanced manufacturing capabilities on the African continent. It will enable the company to retain skilled and highly-skilled engineers and artisans and attract a new generations of innovators.

Ingwe specification and detail (image : Denel)

Riaz Saloojee, the Denel Group Chief Executive says “I am excited by this contract as it confirms Denel’s position as a global player in the defence manufacturing industry and will lead to a growing interest from the international community in the quality and range of products and services produced by us.”

Deftech earmarked Denel as its technology partner in April 2010. The New Strait Times in Singaporeat the time reported Deftech would build 257 of the 8x8 vehicles for eight billion Malaysian ringit or 3.436 billion Singapore dollars (about ZAR18.5 billion).

Malaysian Minister of Defence Abdullah Bin Ahmad Badawi on April 20, 2010, handed over a Letter of Intent (LoI) to Deftech for the supply of vehicles at a ceremony at the 12th Defence Services Asia (DSA) Expo in Kuala Lumpur. Denel, in a media statement, at the time, said the letter served to confirm Malaysia’s intention to buy the vehicle over seven year period. Other technology partners selected for the programme include FNSS from Turkey for the PARS vehicle and Sapura Thales Electronics (STE) for the communication equipment on the vehicles.

Denel added Deftech “in turn handed over a LoI to Denel as a technology partner for the joint manufacture of turrets and for the systems integration of the programme.

BAE Systems Tawar Pilihan

05 Juli 2012

BAE Systems memberi peluang bagi Malaysia untuk memilih komponen pesawat Typhoon yang akan dibuat di Malaysia jika Malaysia memilih pesawat ini (photo : Eurofighter)

KUALA LUMPUR  - Malaysia boleh memilih komponen pesawat Typhoon Eurofighter untuk dibina di dalam negara jika Multi-Role Combat Aircraft (MRCA) memenangi kontrak penggantian MiG-29N Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM).

Pengarah Urusan Asia Tenggara BAE Systems, John Brosnan berkata, rakan usaha sama konsortium Eurofighter bersetuju bahawa syarikat Malaysia boleh mengambil bahagian sehingga 90 peratus dalam projek pembinaan pesawat terbabit.

"Kebanyakan komponen pesawat mungkin tidak dibina di Malaysia, namun terpulang kepada Malaysia untuk memutuskan bahagian mana yang mahu dibina di sini. Tidak seperti pesawat lain, kami menyerahkan kepada Malaysia jika negara ini mahukannya," kata Brosnan kepada Bernama.

"Satu perkara mengenai urus niaga pertahanan, ramai pesaing yang mengatakan apa yang mereka kata mungkin dan tak mungkin dilakukan," katanya.

Syarikat yang berpangkalan di UK itu ialah kontraktor utama bagi pihak negara Eurofighter iaitu United Kingdom, Jerman, Itali dan Sepanyol.

BAE Systems dilaporkan sudah mengemukakan cadangan kepada Kerajaan Malaysia untuk membida kontrak penggantian MiG-29N TUDM, yang meliputi senarai 100 muka surat mengenai teknologi yang syarikat berkenaan sedia memindahkan, selain nama syarikat tempatan dan luar negara yang sedia menyertai dalam proses itu.

Eurofighter Typhoon membida kontrak itu bersama-sama empat pesaing lain - Dassault Aviation"s Rafale Perancis; Boeing F/A-18E/F Super Hornet US; JAS-39 Gripen Sweden dan Sukhoi Su-35 Flanker-E Rusia.

Brosnan berkata bersama Typhoon, Malaysia memperoleh generasi kelima utama MRCA di dunia.

Setakat ini, 707 pesawat Typhoon dibangunkan mengikut kontrak dan lebih daripada 300 sudah diterbangkan untuk perkhidmatan enam pasukan tentera udara di seluruh dunia, katanya.

"Sudah terbukti dalam operasi di pelbagai negara. Malaysia mahukan produk terbaik yang mampu kami sediakan. Berdasarkan keupayaan, kami yakin kami berada pada kedudukan yang baik," katanya.

Brosnan berkata, Typhoon dikeluarkan oleh sebuah konsortium "100 bilion dolar yang memiliki rangkaian bekalan industri pertahanan Eropah".

"Ia bukan sekadar kesediaan teknologi, malah rekod baik kami dalam melaksanakan komitmennya untuk menfaat ekonomi," katanya.

Tentera Udara dan Tentera Laut Malaysia merupakan pelanggan BAE Systems, menerusi pembelian pesawat 10 Hawk Mk108 dan 18 Mk208 pada awal 1990-an. –

(Utusan)

PHN Tentukan Sempadan Maritim Negara

01 Juli 2012

KD Perantau (photo : Militaryphotos)

Salah satu tugas anggota PHN adalah mengkaji dan meneliti peta hidrogafi negara.
SEJARAH pengukuran hidrografi di perairan Malaysiabermula sejak kurun ke-18 oleh Tentera Laut Diraja British (TLDB).

Pengunduran British dari Tanah Melayu telah memberi ruang kepada Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) mewujudkan perkhidmatan hidrografinya sendiri tanpa bantuan daripada TLDB.

Pada awal 1965, kumpulan pertama pegawai dan anggota hidrografi TLDM telah dihantar menjalani latihan di Australia.

Penubuhan Cawangan Hidrografi dalam TLDM direalisasikan pada 1969 dan kapal penyapu periuk api yang telah diubah suai merupakan aset pertama digunakan sebagai alat pengukuran hidrografi.

Pada 31 Oktober 1972, TLDM dilantik sebagai agensi yang bertanggungjawab melaksanakan pengukuran hidrografi di Malaysia oleh Kabinet.

Sejak itu, pembangunan dan peranan yang dimainkan oleh Cawangan Hidrografi TLDM terus berkembang selaras dengan penglibatan negara dalam Pertubuhan Hidrografi Antarabangsa (IHO) pada 1975.

Melalui penglibatan tersebut, secara tidak langsung Ketua Pengarah Hidrografi merupakan wakil rasmi kerajaan Malaysiake persidangan IHO yang diadakan setiap limatahun.

Dari segi aset pengukuran, kapal hidrografi pertama iaitu Kapal Diraja (KD) Mutiara telah diperoleh pada 1977 bagi meningkatkan keupayaan pengukuran hidrografi TLDM sekali gus membolehkan penerbitan carta nautika yang pertama dibuat pada 1984.

Ia diikuti perolehan kapal hidrografi kedua iaitu KD Perantau pada 1998 yang dilengkapi sistem pengukuran terkini dan tercanggih di rantau Asia Tenggara ketika itu.

Dalam pada itu, proses penerbitan Carta Pandu Arah Elektronik (ENC) telah mula diterbitkan pada 2000 dan sehingga kini, 103 sel ENC telah diterbitkan untuk pasaran antarabangsa atau kegunaan domestik.

Penubuhan Pusat Hidrografi Nasional (PHN) secara dasarnya telah dicadangkan di bawah program Pembangunan Istimewa Angkatan Tetap (Perista) sejak 1979.

KD Mutiara (photo : Aus DoD)

Bagaimanapun, atas sebab-sebab tertentu pembangunan PHN hanya dapat dilaksanakan pada 2002 dan siap sepenuhnya pada 2005.

Pembangunan PHN dilaksanakan secara berperingkat-peringkat melibatkan kawasan paya bakau yang ditebus guna seluas 50 hektar di Pulau Indah, Pelabuhan Klang, Selangor.

Sehingga kini, pembangunan hanya melibatkan fasa pertama merangkumi pembinaan Bangunan Pentadbiran, Bangunan Cetak, Blok Kediaman Bujang, Bangunan Kartografi dan Oseanografi, Bangunan KD Sri Klang (KDSK), Jeti dan Gedung Senjata yang disiapkan pada 15 Oktober 2005.

Hari Hidrografi Sedunia

Sambutan Hari Hidrografi Sedunia telah ditetapkan pada 21 Jun setiap tahun sejak 2005. Tarikh itu dipilih bagi memperingati hari penubuhan Biro Hidrografi Antarabangsa (IHB) pada 1921 di Perancis. Biro berkenaan ketika itu hanya disertai oleh 19 negara.

Pada 1970, IHO telah ditubuhkan bagi menggantikan IHB. Bagaimanapun, IHB masih dikekalkan sehingga kini sebagai badan yang menguruskan pentadbiran IHO. Bagi mengiktiraf peranan yang telah dimainkan oleh IHB, IHO dan komuniti hidrografi antarabangsa, pengisytiharan tarikh sambutan Hari Hidrografi Sedunia telah dibuat secara rasmi melalui satu resolusi oleh Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) pada 29 Jun 2005.

Tema sambutan hari hidrografi sedunia pada tahun ini adalah Kerjasama Hidrografi Antarabangsa Pemangkin Keselamatan Pelayaran'.

Kepakaran Bidang Hidrografi

Tugas asal perkhidmatan hidrografi TLDM adalah melaksanakan pengukuran hidrografi dan penghasilan produk nautika untuk kegunaan pelayaran di perairan negara.

Produk yang dihasilkan lebih mengutamakan keperluan pertahanan dan keselamatan pelayaran.

Namun, peranan tersebut telah meningkat merangkumi pelbagai cabang bidang hidrografi seperti oseanografi, kartografi dan meteorologi selaras dengan perkembangan industri maritim dan pertahanan negara.

Sumbangan

Sumbangan warga hidrografi TLDM terhadap industri maritim negara begitu sinonim dengan kewujudan PHN sendiri sebagai sebuah agensi yang layak dan bertanggungjawab untuk melaksanakan pengukuran hidrografi di Malaysia.

IHO mendefinisikan hidrografi sebagai satu cabang sains gunaan yang berkaitan dengan pengukuran dan penerangan ciri-ciri fizikal lautan, laut, kawasan persisiran pantai, tasik dan sungai serta ramalan perubahan ke atas elemen tersebut mengikut peredaran masa.

Ia bagi tujuan keselamatan pelayaran dan menyokong aktiviti-aktiviti marin lain termasuk pembangunan ekonomi, keselamatan dan pertahanan, penyelidikan saintifik serta perlindungan alam sekitar.

Definisi tersebut cukup menggambarkan kepentingan dan sumbangan bidang hidrografi kepada sesebuah negara.

Ia tidak terhad kepada anggota hidrografi TLDM, tetapi turut melibatkan individu yang terlibat secara langsung atau tidak langsung dalam bidang itu di negara ini.

Sebahagian besar sumber ekonomi negara datangnya dari laut melalui industri perikanan, perkapalan, cari gali minyak. Laut juga merupakan laluan masuk serta keluar komoditi utama negara.

Bagi membolehkan kesemua aktiviti berkenaan berjalan dengan lancar, carta pandu arah diperlukan sebagai rujukan bagi menentukan kedudukan sesuatu kawasan atau platform (kapal, pelantar minyak dan sebagainya) di laut.

Carta pandu arah ini membolehkan keseluruhan perairan negara diterokai untuk eksplorasi dan eksploitasi sumber asli yang terdapat di dasarnya. Menggunakan carta pandu arah juga, sesebuah kapal dapat belayar dengan selamat.

Secara ringkasnya, sumbangan warga hidrografi TLDM kepada industri maritim negara lebih kepada memastikan keselamatan pelayaran di perairan negara melalui penerbitan produk nautika.

Sumbangan yang diberikan turut melibatkan isu-isu teknikal persempadanan zon maritim negara, kajian saintifik marin, kajian hidraulik, pembangunan pesisir pantai, pelancongan dan sebagainya

Secara umumnya, TLDM mempunyai dua platform yang boleh melaksanakan pengukuran hidrografi di laut iaitu kapal hidrografi KD Mutiara dan KD Perantau.

KD Mutiara mula beroperasi dalam perkhidmatan TLDM pada 1977. Selain dilengkapi sistem pengukuran hidrografi, ia juga dilengkapi empat bot ukur dan dua bot kerja untuk pengukuran di kawasan cetek.

KD Perantau yang mula beroperasi pada 1998 telah direka dan dilengkapi khusus untuk operasi pengukuran hidrografi serta melaksanakan pemerhatian meteorologi dan cerapan oseanografi.

Ia turut dilengkapi sistem pengukuran terkini untuk navigasi dan hidrografi seperti Navigation and Command System (NACOS) dan Digital Survey and Mapping System 'HYDROMAP'.

Peralatan lain termasuk Sistem Perbezaaan Pemposisian Sejagat (DGPS), Pemerum Gema Berbilang Sisi, Hull Mounted Acoustic Current Profiller (ADCP) dan kelengkapan lain untuk operasi oseanografi serta meteorologi. Kapal itu juga dilengkapi dua buah bot ukur iaitu Bot Ukur Utarid dan Pluto. Kedua-dua kapal berkenaan berpangkalan di Pangkalan TLDM Lumut.