Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amerika. Tampilkan semua postingan

Amerika Akan Menempatkan Pasukannya Di New Zealand

XINHUA-(IDB) : Panetta Menteri Pertahanan Amerika Serikat dalam akhir kunjungannya di New Zealand menyatakan, jika dicapai kesepakatan kita akan menempatkan pasukan di negara ini.
 
Farsnews (23/09) mengutip dari Xinhua melaporkan, pemerintah Amerika Serikat mengumumkan jika pihak New Zealand sepakat, mereka akan menempatakan militernya di negara itu.
 
Leon Panetta Menteri Pertahanan AS dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun televisi mengatakan, kami akan membantu New Zealand sepenuhnya, dan kami ingin memiliki hubungan pertahanan yang baik dengan negara ini.
 
Ia menambahkan, dibangunnya pangkalan militer dan penempatan pasukan adalah bagian dari hubungan pertahanan yang dimaksud.

Ditegaskan Panetta, pendekatan saya sebagai seorang menteri pertahanan untuk membantu New Zealand positif, dan bantuan ini akan membantu meningkatkan kemampuan militernya, dan Amerika siap untuk melakukan itu.
 
Jika kapasitas militer New Zealand meningkat, hal ini akan menjadi penting dan berpengaruh bagi keamanan wilayah Asia dan Pasifik.
 
Jumat (21/09) Panetta memasuki New Zealand, dan agenda pertamanya adalah mencabut pelarangan masuk kapal-kapal negara ini ke pelabuhan-pelabuhan AS.
 
Selama kunjungannya, Panetta bertemu dan berdialog dengan Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan negara ini. 



Sumber : Irib

Analisis : AS Bantu Jepang Jika Terjadi Perang dengan China

JAKARTA-(IDB) : Kurt Campbell, Deputi Menlu urusan Asia Timur dan Pasifik AS, mengatakan Washington akan bantu Jepang jika terjadi perang dengan China, terkait dengan sengketa pula dua negara. "Pulau-pulau di Laut China Selatan yang jadi pusat sengketa antara China dan Jepang secara jelas tercakup dalam perjanjian keamanan tahun 1960 yang mewajibkan AS membatu Jepang jika diserang," demikian diplomat AS itu, Jumat (21/9).

"Kami tidak mengambil sikap mengenai kedaulatan pokok atas pulau-pulau ini," kata Kurt Campbell, kepada subkomite Hubungan Luar Negeri Senat AS.

Jepang menguasai pulau-pulau yang berbatu itu sejak tahun 1895 -- kecuali selama pendudukan Okinawa pasca perang AS tahun 1945-1972-- dan menamakannya Senkaku. China dan Taiwan, yang bersikeras mereka telah mengklaim lebih lama dan menamakan pulau itu dengan Diaoyu.

"Kita mengakui secara tegas... bahwa Jepang mempertahankan pemerintah yang efektif... dan ini secara tegas sesuai dengan Pasal 5 Perjanjian Keamanan," kata Campbell dalam dengar pendapat mengenai sengketa-sengketa wilayah Asia.

Ia mengemukakan kepada subkomite Senat bahwa unjuk rasa anti-Jepang yang rusuh di China dan tindakan lainnya yang menimbulkan ketegangan semakin mencemaskan AS.

Sengketa wilayah yang lama meningkat kembali pekan lalu ketika pemerintah Jepang memutuskan menasionalisasi beberapa pulau, membeli beberapa pulau dari seorang pemilik Jepang.

"Kita khawatir oleh demonstrasi baru-baru ini, dan jelas potensi bagi kemitraan antara Jepang dan China akan terganggu," kata Campbell.

"Itu bukan kepentingan strategis kita dan jelas akan mengganggu perdamaian dan stabilitas di Asia-Pasifik secara keseluruhan," tambahnya.

Perjanjian Kerjasama Timbal Balik dan Keamanan antara AS dan Jepang ditandatangani tahun 1960 sebagai pengganti perjanjian keamanan bilateral tahun 1951 dan tiang fondasi yang dianggap sebagai paling penting dari lima aliansi perjanjian AS di Asia.

Pasal 5 mengatakan "setiap pihak mengakui bahwa satu serangan bersenjata terhadap pihak lainnya di wilayah yang berada dibawah pemerintah Jepang akan membahayakan perdamaian dan keamanannya dan mengumumkan bahwa pihaknya akan bertindak untuk menghadapi bahaya bersama sesuai dengan ketentuan dan proses konstitusionalnya."

Pasal itu juga menetapkan sekutu-sekutu akan melaporkan "setiap serangan bersenjata dan segala tindakan sebagai akibat dari itu ke Dewan Keamanan PBB dan menghentikan tindakan itu apabila Dewan Keamanan melakukan tindakan yang mendukung perdamaian dan keamanan.

Ia mengatakan sikap terhadap pulau-pulau itu sama yang ditetapkan oleh para pejabat AS sejak tahun 1997.

Ketua subkomite Senator Jim Webb, seorang dari Partai Demokrat Virginia dan pakar militer Asia, mendesak pemerintah Obama "menanggapi secara seksama dan penuh" terhadap tindakan China di Laut China Timur dan Laut China Selatan, di mana China dan negara-negara lain terlibat sengketa wilayah yang meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini.

"Ancaman itu menimbulkan konsekuensi laagsung pada AS," kata Webb, yang menyatakan satu deklarasi tahun 2004 oleh pemerintah George W.Bush dan pada tahun 2010 oleh Menlu Hillary Clinton bahwa kewajiban perjanian keamanan AS diperluas mencakup pulau-pulau yang disengketakan.

"Membiarkan tindakan China yang memasuki perairan di sekitar wKepulauan Senkaku kita perlu tetap melakukan kewajiban kita secara tegas sesuai dengan perjanjian keamanan ini," katanya.



Sumber : Analisa

AS Bangun Perisai Misil di Jepang untuk Hadapi Korut

TOKYO-(IDB) : Menteri Pertahanan Amerika Serikat (Menhan AS) Leon Panetta mengatakan, negaranya dan Jepang sepakat untuk menempatkan sistem pertahanan misil di Negeri Sakura. meski demikian, tempat di mana instalasi persenjataan itu dibangun masih belum diketahui.

Sejumlah pejabat Jepang mengatakan, misil itu akan ditempatkan di wilayah selatan Jepang, bukan di Pulau Okinawa. Senjata itu juga akan dilengkapi radar, guna mewaspadai serangan misil dari Korea Utara (Korut).

AS menegaskan kembali bahwa, sistem pertahanan misil itu juga tidak akan mengganggu China. Negeri Paman Sam juga sudah menempatkan radar di kapal-kapalnya yang saat ini berada di wilayah Asia Pasifik.

Panetta mengatakan, sistem pertahanan misil baru yang ada di Jepang, akan melindungi wilayah AS dari ancaman Korut. Sejauh ini, AS pun memandang misil-misil balistik milik Korut sebagai ancaman potensial AS dan sejumlah negara di kawasan Asia-Pasifik. Demikian, seperti diberitakan Associated Press, Senin (17/9/2012).

Kekhawatiran baru terhadap roket jarak jauh Korut muncul di usai Korut menggelar uji coba satelit antariksanya yang gagal. Banyak spekulasi menyebutkan bahwa, roket negeri komunis itu sanggup melintasi Jepang dan menghantam AS.



Sumber : Okezone

AS Rencanakan Perbarui Persenjataan Nuklirnya

WASHINGTON-(IDB) : Amerika Serikat (AS) berencana memperbarui persenjataan nuklirnya. Program ini terbilang program termahal. Meski, pada saat yang sama, militer tengah berhadapan dengan rencana pemotongan anggaran belanja. The Washington Post menulis mengenai hal itu, kemarin.

Memang belum ada angka resmi soal biaya pembaruan yang direncanakan bertahap itu. Namun, setidaknya, ada pos pembiayaan untuk pemeliharaan sekitar 5.113 hulu ledak, penggantian sistem pengantaran berikut perbaikan fasilitas nuklir yang sudah uzur.

Sementara itu, sebuah studi dari lembaga Stimson Center menunjukkan ongkos pembaruan itu mencapai angka 352 miliar dollar AS. Perbaikan untuk satu dari tujuh jenis senjata yakni bom B61 menyedot biaya 10 miliar dollar AS selama lima tahun.

Pada bagian lain, pembangunan 12 peranti pengganti kapal selam kelas Ohio menelan ongkos sekitar 110 miliar dollar AS, tulis studi itu.

Pos pembaruan lainnya adalah rudal balistik Minuteman III. Fulus yang mesti tersedia adalah 7 miliar dollar AS.

Pada saat bersamaan, pesawat tempur F-35 berkekuatan nuklir tengah dibangun menggantikan pesawat yang sudah gaek. Ongkosnya, 162 juta dollar AS.

Kemudian, modernisasi gedung dan laboratorium untuk pembaruan persenjataan itu memerlukan dana 88 miliar dollar AS selama 10 tahun.


Sumber : Kompas

Analisis : Ketika AS Terusik China

ANALISIS-(IDB) : Suatu hari, Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, bilang begini:”Kami tak takut kepada China.”

Ucapan ini disampaikan Obama di Darwin, sehari setelah diteken kesepakatan dengan Pemerintah Australia,November tahun lalu. Kesepakatan itu adalah soal penempatan 2.500 marinir AS di Darwin, Australia.

Obama boleh berkelit, tapi fakta di lapangan berbicara lain. Mau tahu, saat ini sejumlah pangkalan militer AS di Jepang, Guam, dan Australia melingkari wilayah China.

Jadi, kalau Obama bilang AS tak khawatir kepada China, itu tentu saja menggelikan. Soalnya, China sekarang, beda dengan China yang dulu. Sekarang, negeri berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu maju sangat pesat, baik di bidang ekonomi, politik, maupun pertahanan.

Nah, tiga pilar kekuatan itulah yang saat ini begitu memengaruhi negara-negara di Asia. Lihat saja misi yang dibawa Menteri Luar Negeri AS, Hillary Rodham Clionton, dalam kunjungan 3-4 September lalu ke Jakarta. Selain meningkatkan hubungan kemitraan bilateral dengan Indonesia, Hillary juga mengangkat isu yang belakangan ini mulai membuat risau Washington, yakni ketegangan di Laut China Selatan.

Dan, yang tak kalah menarik, menurut banyak pihak, Hillary juga membawa agenda ekonomi untuk mengamankan kepentingan AS di Indonesia. Maklum, AS begitu khawatir atas dominasi ekonomi China di kawasan Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Apalagi, saat ini perekonomian AS sedang morat-marit.

Dominasi China

Memang, sejak Perjanjian Perdagangan Bebas Cina-Asean (Asean-Cina Free Trade Agreement/ACFTA) diberlakukan 1 Januari 2010, barang-barang China mulai dari peniti hingga mesin modal membanjiri pasar Indonesia. Maklum, dengan bea masuk 0%, barang-barang China leluasa masuk ke Indonesia. Sebelumnya, barang China sudah membanjiri pasar Indonesia dengan harga yang sangat murah.

ACFTA memang membuat China makin bergairah menyerbu pasar Indonesia. Bahkan, beberapa perusahaan raksasa China terus hadir dalam berbagai pameran teknologi dan produk China. Hingga saat ini lebih 1.000 perusahaan China beroperasi di Indonesia, baik bidang infrastruktur, kelistrikan, energi, komunikasi, agrikultural, manufaktur dan sektor lainnya.

China juga dikabarkan sedang mengincar pertambangan di pegunungan Grasberg dan Ertsberg di Mimika, Timika, Papua, yang belum semuanya dieksploitasi oleh PT Freeport Indonesia. Di pegunungan ini masih terkadung biji tembaga, uranium, dan emas. Inilah salah satu alasan yang dikabarkan kenapa AS mendirikan pangkalan militer di Darwin.

Dalam beberapa tahun terakhir, boleh dibilang China merupakan investor paling agresif di sektor migas Indonesia. Pada awal 2002, CNOOC mengakuisi seluruh operasi migas Repsol-YPF senilai US$ 585 juta sehingga menjadikannya produsen minyak lepas pantai terbesar di Indonesia dengan output 125.000 barel per hari.

Selanjutnya September 2002, CNOOC juga menandatangani kontrak US$ 500 juta untuk membeli 2,6 juta ton per tahun gas alam dari Tangguh, Papua. Pada saat hampir bersamaan dengan akuisisi CNOOC atas Repsol-FPF, PetroCina juga berhasil membeli seluruh aset Devon Energy (AS) di Indonesia seharga US$ 262 juta.

Beberapa saat kemudian, PetroChina sudah mendapatkan kontrak kerja sama migas dengan Pertamina di Sukowati dan Tuban, lapangan migas yang bertetangga dengan Blok Cepu.

Sebelumnya, perusahaan-perusahaan raksasa AS mendominasi proyek migas, emas dan tembaga di Indonesia. Di minyak, ada ExxonMobil yang mengelola ladang-ladang minyak di negeri ini. Salah satu ladang minyak yang sempat mengundang kontroversi adalah blok Cepu, Bojonegoro.

Sebelum mereka malah sudah berdiri PT Freeport Indonesia, perusahaan emas dan tembaga kelas dunia yang beroperasi di komplekstambang pegunungan Grasberg dan Ertsberg di Mimika, Timika, Papua.

Di sektor pertambangan lain juga ada raksasa Newmont. Lewat PT Newmont Nusa Tenggara, perusahaan tambang emas asal AS ini beroperasi di Lapangan Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat.

Di bisnis jasa keuangan, beroperasi Citigroup lewat Citibank yang sudah cukup lama bermain di pasar Indonesia. Tahun lalu, Citibank masuk jajaran 10 bank dengan aset terbesar di Indonesia, serta menjadi bank asing teratas di Indonesia. Citibank juga memiliki jaringan di kota-kota besar di Indonesia.

ACC dan TPP

Perebutan pengaruh dua negara raksasa ini, yang paling kentara adalah ketika berlangsung Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean ke-19 di Nusa Dua Bali, 17-19 November tahun lalu. Yakni, ikutnya AS dan China dalam hajatan besar 11 negara anggota Asean.

China, misalnya. Negeri Tirai Bambu ini merangkul negara-negara anggota Asean untuk meresmikan Asean-China Centre (ACC). Untuk mendirikan ACC, China rela menjadi penyumbang terbesar hingga 90%, sementara sisanya dibagi rata 11 negara anggota Asean. Tujuan utama ACC adalah memperkuat perdagangan dua arah antara negara-negara Asean dan China.

Bila China merangkul Asean lewat jalinan ACC, AS datang dengan konsep Trans Pacifik Partnership (TPP) yang digagasnya. Inti dari konsep tersebut adalah menjadikan pasar Asean sebagai pasar baru bagi tujuan ekspor AS. “Kami berkomitmen total, all in, untuk hadir di Asean dalam bentuk TPP ini,” ujar Hillary saat itu. TPP juga dimaksudkan untuk mengimbangi Asean-Cina Free Trade Agreement (ACFTA) dengan kebijakan penghapusan bea masuk.

Posisi Asean memang sangat penting bagi ekonomi dunia. Dengan jumlah penduduk 558 juta jiwa dan sumber daya alam yang sangat berlimpah, Asean bakal menjadi penentu bagi masa depan Asia Timur dalam menggeser hegemoni ekonomi dunia. Asean juga akan menjadi pendukung ekonomi negara-negara industri Asia, seperti China, India, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Nah, kini tinggal Indonesia harus bermain jeli melihat dua negara raksasa ini bertarung. Bila salah, Indonesia bisa terseret dalam konflik.



Sumber : Inilah

Dubes AS : Marinir AS Di Dekat Jayapura Takkan Ganggu Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Scot Marciel menegaskan, relokasi pasukan Marinir dari Okinawa, Jepang ke Guam yang berada di dekat Jayapura, takkan mengancam Indonesia. Relokasi itu merupakan bagian dari revisi perjanjian AS dan Jepang.

"Perpindahan pasukan ini, sepenuhnya tidak akan menggangu Indonesia. Indonesia adalah sahabat, saya juga tidak tahu mengapa banyak orang yang berpikir bahwa kami akan melakukan tindakan yang mengancam Indonesia," ujar Marciel di kediamannya di Jakarta, Selasa (11/9/2012).

"Saya katakan pada Anda, ketika AS berniat mengerahkan pasukannya dari Okinawa ke Guam, tidak ada pejabat atau militer di AS yang menilai bahwa kebijakan ini akan mengganggu Indonesia," tegasnya.

Rencana pemindahan pasukan AS muncul di saat Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda bertemu dengan Presiden AS Barack Obama. Lewat perjanjian revisi itu, 5 ribu dari 9 ribu pasukan AS di Okinawa akan dipindahkan ke Guam. Sementara itu, 4 ribu lainnya akan dipindah ke Hawaii dan Australia.

Sejauh ini, keberadaan basis militer AS di Okinawa turut menuai kecaman dari banyak pihak di Jepang. Pada 1995 silam, muncul kasus pemerkosaan yang dilakukan pasukan AS terhadap seorang siswi Jepang dan hal itu menuai protes di kalangan warga Okinawa.

Wakil Menteri Luar Negeri AS Kurt Campbell mengatakan, kesepakatan akan pemindahan Marinir AS sudah didiskusikan dengan sejumlah anggota Kongres AS. Campbell menegaskan kembali, relokasi pasukan itu akan menghilangkan kebuntuan yang sudah mengganggu hubungan bilateral Jepang dan AS dan sejumlah negara-negara di kawasan Asia Pasifik.



Sumber : Okezone

SBY - Hillary Bahas Isu Bilateral, Regional, Dan Global.

JAKARTA-(IDB) : Pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton Selasa (4/9) membahas sejumlah isu.

Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa menyampaikan dalam pertemuan selama kurang lebih 45 menit itu sempat menyinggung persoalan Laut Cina Selatan, Suriah, Iran, hingga Semenanjung Korea. 

Amerika Serikat, lanjutnya, kembali menegaskan perannya dalam persoalan Laut Cina Selatan. "Dalam masalah ini, Amerika Serikat mendorong adanya court of conduct dan penekanan agar masalah ini dapat dikelola dengan baik,” katanya saat memberikan keterangan pers di Kantor Presiden, Selasa (4/9). Terlebih lagi, sebentar lagi akan digelar KTT ASEAN dan Asia Timur di Pnom Phen pada November 2012.

Clinton pun sempat menyinggung persoalan di Suriah. Ia beranggapan Indonesia telah menunjukkan sikap yang konsisten mengenai persoalan tersebut. Yakni penekanan perlunya segera diakhiri konflik di Suriah yang menimbulkan korban di kalangan masyarakat sipil.

Amerika Serikat menyampaikan keprihatinannya bahwa di Suriah bisa terus berkembang sedemikian rupa sehingga menciptakan ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah. “Dalam kaitan ini, Bapak Presiden kembali menekankan antara lain betapa pentingnya kesatuan pandangan DK PBB untuk bisa memastikan dicapainya perdamaian atau diakhirinya konflik di Suriah,” katanya.

Persoalan Iran juga sempat mencuat. Terutama berkaitan dengan penggunaan energi nuklir. Disebutkan, energi nuklir untuk maksud-maksud damai adalah sesuatu yang memang harus dihargai dan dihormati.

"Namun, Iran, seperti halnya negara lain juga, perlu mematuhi segala kewajibannya yang menyangkut nonproliferasi senjata nuklir,” kata Marty.

Selain itu, Clinton juga sempat membahas perkembangan di semenjung Korea. “Menlu Clinton menanyakan pandangan Presiden RI tentang perkembangan di Korea. Kedua belah pihak juga bertukar pandangan tentang situasi di Korea Utara sendiri,” katanya. 


Freepor Di Luar Agenda Pembicaraan Hillary - SBY

Pertemuan selama 45 menit antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Clinton tak membahas mengenai renegosiasi PT Freeport Indonesia.

“Masalah itu (renegosiasi kontrak karya) sama sekali tidak dibahas, baik dalam pertemuan Presiden dengan Clinton, maupun pembicaraan Clinton dengan kami (Kemenlu),” kata Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa saat memberikan keterangan pers di Kantor Presiden, Selasa (4/9).

Menurut dia tak dibahasnya renegosiasi PT Freeport Indonesia dapat dipahami. Karena, persoalan tersebut tidak menyangkut pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah Indonesia.

 “Jadi, itu tidak dibahas,” katanya. Ia juga menambahkan, perkembangan kondisi Papua dan Papua Barat tak disinggung dalam pertemuan selama 45 menit itu. Ditegaskan Marty, pertemuan hanya semata membahas hubungan bilateral, regional, dan global.


Sumber : Republika

Hillary : Hibah F-16 Bentuk Dukungan Konkret AS Untuk Keamanan Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Indonesia akan mendapatkan tambahan pesawat tempur F-16 dari Amerika Serikat. Menteri luar negeri AS, Hillary Clinton menilai hibah tersebut sebagai bentuk dukungan konkret AS terhadap keamanan Indonesia.

"Kami mendukung keamanan Indonesia dan kami percaya Indonesia memiliki hak untuk meningkatkan keamanannya," kata Hillary.

Hal tersebut disampaikan Hillary dalam Press Konferensi acara kunjungan kerjasama Amerika-Indonesia di Gedung Pancasila Kementeriaan Luar Negeri, Jalan Pejambon, Jakarta, Senin (3/9/2012).

Hillary menambahkan, Amerika dan Indonesia bekerjasama dalam bidang keamanan. Amerika percaya Indonesia bisa melangkah maju untuk melindungi warganya.

"Kami bekerjasama dari berbagai isu seperti terorisme," ujarnya.

Seperti diketui, Indonesia akan mendapatkan tambahan pesawat tempur F-16 dari Amerika nanti. Dengan begitu jumlah pesawat temput miilik Indonesia akan bertambah tiga kali lipat dari jumlah sekarang.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgianto tidak bisa menjelaskan berapa total F-16 yang akan diterima dari pemerintah Amerika Serikat. "Sesuai kode etik militer, kita tidak boleh menyebut berapa jumlah pesawat tempur kita," kata Purnomo.



Sumber : Detik

Menlu AS Tegaskan Kedaulatan RI atas Papua

JAKARTA-(IDB) : "Kami mendukung integritas wilayah Indonesia termasuk Papua dan Papua Barat."

Amerika Serikat menegaskan dukungannya terhadap kedaulatan wilayah Indonesia termasuk Papua dan Papua Barat.



Hal ini dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, dalam jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, di kantor Kementerian Luar Negeri, Senin (3/9).


"Kami mendukung integritas wilayah Indonesia termasuk Papua dan Papua Barat," kata Hillary.


Ditambahkannya, permasalahan yang terjadi di Papua harus diselesaikan melalui dialog yang inklusif antara Jakarta dan masyarakat Papua.


"Tentu kita menyesalkan kekerasan di Papua dan ketika hal itu terjadi, harus ada investigasi penuh dan transparan dan diambil hikmahnya," kata Hillary.


Menanggapi isu Papua, Marty mengatakan Indonesia dan AS telah membicarakan masalah itu secara terbuka dan apa adanya


Sumber : BeritaSatu

Pertemuan Marty-Hilary Bahas Sengketa Laut China Selatan

JAKARTA-(IDB) : Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Marty Natalegawa menggelar pertemuan dengan Menlu Amerika Serikat (AS), Hilary Clinton malam ini. Masalah sengketa teritori China Selatan akan dibahas oleh kedua menlu. 

"Intinya sama, regional, global, bilateral. Regional seperti masalah Laut China Selatan. Global perkembangan Suriah," kata Menlu Marty kepada pers di Istana Negara, Senin (3/9). Marty membantah bahwa pertemuannya dengan Marty akan membahas soal masalah Freeport dan aksi kekerasan di Papua. 

Menurutnya, isu Freeport bukan menjadi perhatian dalam pertemuannya dengan Hilary. "Nggak, nggak akan dibahas," imbuh Marty. Selasa besok (2/9), Hilary Clinton dijadwalkan melakukan kunjungan kehormatan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional, Teuku Faizasyah mengatakan bahwa Presiden SBY akan menerima kunjungan Hillary sekitar pukul 09.30 WIB. 

Menurut Faizasyah, Presiden SBY mendorong kemitraan komprehensif antara Indonesia dan AS. Kunjungan Hillary ke Indonesia dipastikan untuk mempererat hubungan bilateral kedua negara dan tidak membawa agenda khusus. "Tidak ada agenda khusus tapi mereka memang membawa selain agenda bilateral, ada agenda regional dan global yang jadi perhatian bersama," ujar Faizasyah.



Sumber : Jurnas

Analisis : Perang Dingin AS-Rusia dan Implikasi Bagi RI ( Bag. 2 )

ANALISIS-(IDB) : Tidak lama setelah Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden RI pada 2001, Indonesia memutuskan membeli pesawat tempur buatan Rusia (Uni Sovyet). Yang dipilih jet tempur Sukhoi.

Keputusan ini didukung oleh alasan yang sangat kuat. Keputusan ini merupakan bentuk lain dari kekecewaan Indonesia atas embargo militer AS pada Indonesia yang berkepanjangan. Pada saat embargo itu diberlakukan, Indonesia hanya mengandalkan jet tempur F-16 buatan General Dynamics, AS. Tetapi akibat embargo tersebut maka skwadron tempur F-16 yang mengalami kerusakan, tidak bisa diperbaiki. Suku cadang yang hanya bisa dibeli pada produsen AS itu, tidak dibolehkan untuk dijual ke Indonesia.

Akibatnya setiap kali jet tempur F-16 mengalami kerusakan, maka yang dilakukan oleh tehnisi TNI AU ialah memperbaikinya dengan cara kanibal. Suku cadang dari pesawat yang masih bagus dipindahkan ke pesawat yang rusak. Makin lama, kanibalisme makin meluas.

Kekuatan armada tempur F-16 Indonesia pun terus melemah dan mengecil. Negara tetangga mulai meremehkan Indonesia. Pernah terjadi sebuah pesawat F-16 yang mengalami kerusakan di Indonesia oleh otoritas AS diminta untuk diperbaiki di AS. F-16 itu pun diterbangkan ke AS.

Tetapi sesampai disana, pesawat itu disarankan untuk diperbaiki di Korea Selatan. Maka pesawat itupun dibawa ke Korea Selatan. Di negara ginseng itu, pesawat bisa diperbaiki. Sayangnya, biaya perbaikannya melebihi harga sebuah pesawat baru jenis yang sama. Indonesia semakin dirugikan.
Tapi bukan itu yang menjadi masalah. Setelah diperbaiki dengan biaya super mahal, pesawat F-16 itu akhirnya tidak diizinkan oleh AS untuk diterbangkan kembali ke Indonesia. Pemerintah khususnya kalangan militer Indonesia merasa dipermainkan oleh AS. 

Tetapi dengan posisi tawar Indonesia yang sangat lemah menyebabkan Indonesia tidak bisa memprotes apalagi memaksa AS.

Panglima TNI pada saat itu Jenderal Endriartono Sutarto cukup tersinggung dengan perlakuan AS. Sehingga akibat ketersinggungannya, Indonesia memutuskan mencari alternatif lain. Saat itulah diputuskan membeli jet tempur Sukhoi buatan Rusia.

Keputusan ini disadari membuat pihak AS ikut tersinggung. AS merasa Indonesia mulai bermain mata dengan negara yang menjadi lawannya dalam Perang Dingin. Namun ketersinggungan AS ini tidak membuat batalnya kesepakatan antara Rusia dan Indonesia dalam pengadaan jet Sukhoi dalam konteks program Alutsista (alat utama sistem persenjataan).

Sejalan dengan berkembangnya industri penerbangan di era pemerintahan SBY, swasta Indonesia juga mengikuti jejak pemerintah. Sejumlah perusahaan penerbangan dalam negeri tertarik membeli pesawat komersil buatan Shukoi yaitu Super Jet 100. Hanya (swasta) Lion Air yang membeli pesawat Boeing buatan AS.

Sukses dalam kerja sama pengadaan jet tempur dan jet komersil, Indonesia kemudian mengembangkan bisnis lainnya. Peluncuran Satelit Telkom 3, juga dilakukan oleh roket Rusia, Proten-M.

Entah secara kebetulan atau semata-mata disebabkan oleh kesalahan manusiawi, ikatan bisnis Indonesia dan Rusia dalam pembelian pesawat jet dan komersil serta peluncuran Satelit Telkom 3, ketiga-tiganya diwarnai oleh kecelakaan ataupun insiden.

Pada 2011, sejumlah teknisi pesawat jet tempur Sukhoi yang bertugas melakukan asembling semua peralatan yang diperlukan armada jet Shukoi, meninggal secara misterius di Pangkalan Udara TNI AU, Makassar, Sulawesi Selatan.

Penjelasan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah RI dan Rusia menyebutkan bahwa kematian para tehnisi Shukoi tersebut karena meneguk minuman keras jenis vodka, di atas batas normal. Sekalipun demikian, kecurigaan bahwa mereka meninggal akibat faktor lain - seperti dibunuh oleh lawan bisnis, tetap saja menjadi buah bibir masyarakat.

Pada Mei 2012, sebuah pesawat Shukoi Super Jet 110 yang dikemudikan oleh Alexandr Yablontsev, seorang pilot berpengalaman, menabrak Gunung Salak Bogor. Pesawat SSJ 100 itu melakukan promosi terbang kepada para calon pembeli dari Indonesia.

Seluruh penumpang termasuk penerbang berpengalaman itu tewas dalam kecelakaan tersebut. Tragedi menimbulkan kecurigaan. Presiden Rusia, Vladimir Putin yang dikenal sebagai bekas anggota agen rahasia KGB, dilaporkan sangat marah atas insiden kecelakaan itu.

Yang pasti kecelakaan SSJ 100 itu berikut tewasnya tehnisi Rusia di Makassar, telah menimbulkan dampak negatif bagi Sukhoi. Produsen Rusia itu mulai dinilai sebagai entiti yang tidak kapabel dan akuntabel. Berbisnis dengan Rusia, memiliki risiko tinggi.

Kurang dari seminggu setelah kecelakaan tersebut, sejumlah media di Moskow melaporkan bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh sabotase. Dan pihak yang dituding media Moskow sebagai penyabot adalah personil tentara AS yang bekerja di Pangkalan TNI AU, Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur.

Laporan media Rusia ini cukup mengejutkan. Sebab selama ini tidak pernah terungkap bahwa di salah satu pangkalan militer Indonesia, terdapat personil militer AS yang berperan sebagai pelatih. Disebutkan bahwa personil militer AS di Halim Perdanakusumah itu memiliki alat berbentuk chip. Alat itulah yang ditempelkan di tubuh pesawat (Sukhoi Super Jet 100).

Alat itu kemudian mengganggu semua jaringan kabel yang ada dalam tubuh pesawat yang sedang mengangkasa. Sampai akhirnya pada ketinggian tertentu muncul di layar monitor, data yang membingungkan bagi sang kapten penerbang.

Tapi data yang tidak valid ini tetapi saja menjadi sumber acuan pengambilan keputusan si pilot. Pesawat yang seharusnya menaikan ketinggian oleh monitor justru diperintahkan untuk melakukan penurunan ketinggian. Blaaaaak. Pesawat pun menabrak gunung.

Penyabotan ini ditengarai sebagai bagian dari usaha pihak pesaing industri di AS untuk mencegah Indonesia melakukan pembelian pesawat berteknologi Rusia.

Penyabotan ini mengingatkan sejumlah kecelakaan pesawat buatan Rusia di berbagai tempat, di antaranya dalam Pameran Dirgantara (Air Show) di Paris. Kemudian kandasnya kapal selam bertenaga nuklir di perairan Laut Mati. Media Rusia menuding pihak AS lah yang melakukan penyabotan. Alasannya, persaingan bisnis semata.

Yang teranyar, hilangnya Satelit Telkom 3, milik PT Telkom TBk pada 6 Agustus 2012. Satelit itu diluncurkan oleh roket Rusia dari Kosmodrom Balkonur, Kazakhstan. Tidak lama setelah kejadian itu, Wakil Presiden Rusia, dilaporkan sangat geram dengan insiden itu. Hanya saja tidak disebutkan bahwa pejabat tinggi Rusia itu menunding adanya sabotase pihak ketiga.

Sepuluh hari kemudian Satelit Telkom 3 bisa ditemukan. Kendati begitu sudah terjadi kerugian dan secara psikologis kerja sama bisnis yang baru pertama kalinya dilakukan PT Telkom dengan Rusia, sudah diawali oleh keraguan.

Sejak Telkom meluncurkan satelit telekomunikasi Palapa di 1976, semua peluncuran dilakukan oleh negara dari blok Barat. Yang menjadi langganan tetap adalah NASA (AS) atau Ariane (Prancis). Baru di tahun 2012 satelit Indonesia diluncurkan ke orbit oleh perusahaan Rusia.

Apa yang menjadi penyebab atas hilangnya Satelit Indonesia, tersebut nampaknya bakal tak pernah bisa terungkap secarfa utuh. Misteri penyebab hilangnya Satelit Telkom 3 sama dengan misteri kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 maupun penyebab kematian dari para teknisi Sukhoi di Pangkalan Udara Makassar.

Yang pasti rentetan 'kecelakaan' diatas tidak bisa dianggap sebagai sebuah kecelakaan biasa. Makanya tidak heran bila muncul spekulasi yang mengaitkan kejadian-kejadian itu dengan persaingan AS-Rusia dalam konteks Perang Dingin di bidang ekonomi.

Insiden-insiden itu seakan memberi pesan kepada Indonesia agar jangan pernah coba-coba keluar dari cengkeraman dan pengaruh AS. Kalau mau tanpa resiko, tetaplah dengan "sahabat lama", Paman Sam. [Tamat]


Sumber : Inilah

Analisis : Perang Dingin AS-Rusia dan Implikasi Bagi RI ( Bag. 1 )

ANALISIS-(IDB) : Secara resmi Perang Dingin antara Amerika Serikat (AS) dengan Uni Sovyet - kini Rusia, sudah berakhir dua dekade lalu. Perang dua kekuatan itu sering digambarkan sebagai pertarungan antara Blok Barat yang diwakili AS dan Blok Timur oleh Uni Sovyet. Atau antara Blok Non-Komunis dan Blok Komunis.

Berakhirnya Perang Dingin berdampak positif bagi umat manusia. Setidaknya dunia terhindar dari Perang Nuklir. Perang pemusnah manusia ini didefinisikan sebagai pertarungan antar bangsa. Sebab semua negara, termasuk yang Non-Blok pun diperkirakan akan berkelompok ke salah satu blok.

Atas dasar itu Perang Nuklir sering digambarkan sebagai Perang Dunia Ketiga, yang disetarakan dengan perang terakhir umat manusia atau sama dengan hari kiamat ciptaan manusia. Selama perang tersebut rudal-rudal berkepala nuklir akan diluncurkan oleh Washington ke Moskow, begitu pula sebaliknya.

Washington dan Moskow yang berperang, tetapi warga dunia lainnya bakal ikut terkena dampaknya. Sebab kedua kekuatan juga akan menghancurkan negara lain yang tidak berada dalam blok yang sama dengan mereka. Berakhirnya Perang Dingin telah mengubah peta politik dan ekonomi dunia.

AS yang dianggap sebagai pemenang dalam Perang Dingin - sejak berakhirnya Perang Dingin, tidak lagi melakukan invasi ke sebuah negara yang sedang digiring oleh Uni Sovyet untuk menjadi negara komunis.

Ingat Perang Saudara di Vietnam dan Kamboja. Vietnam Utara dikuasai komunis, Vietnam Selatan oleh non-komunis. Kamboja yang tadinya monarkhi, jatuh ke tangan komunis. Di era 1970-an, AS masuk di kedua negara tersebut dalam rangka mencegah penyebaran pengaruh ideologi komunis ala Uni Sovyet. AS gagal di sana.

Saat ini diyakini, tidak ada lagi pertarungan ideologi antara non-komunis (Blok AS) dan komunis (Blok Uni Sovyet). Terutama setelah komunisme di Eropa Timur yang dipimpin Unin Sovyet ditumbangkan oleh gerakan pro demokrasi. Uni Sovyet sendiri runtuh dan terpecah menjadi lebih dari 20 negara baru. Yang menjadi pengganti atau penerus Uni Sovyet hanyalah Rusia.

$0ARusia sendiri sudah tidak lagi menjadikan komunisme sebagai ideologinya. Semua agama yang di era Uni Sovyet dilarang, kini bebas dipeluk oleh warga Rusia. Pemimpin Rusia dan elit di negara itu mengakui keberadaan Tuhan. Pengampilan sumpah jabatan oleh pemimpin Rusia disaksikan oleh pemuka agama dan menggunakan kitab suci.

Kini ancaman atas kehidupan harmonis umat manusia di permukaan bumi, diperhitungkan tidak lagi dipicu oleh akibat peperangan. Melainkan oleh faktor ekonomi (baca : kemiskinan). Kemiskinan berpotensi memicu terjadinya peperangan baru.

Uniknya pihak yang diperhitungkan sebagai pemicu perang baru itu masih tetap AS dan Rusia. Sebab kedua negara berlomba menjadi negara terkaya sekaligus menjadi pembela negara miskin. Trend yang ada, orang-orang kaya di dunia, tidak lagi didominasi oleh AS. Sudah muncul nama-nama baru dari Rusia atau bekas Uni Sovyet.

Persaingan menjadi negara kaya ini telah menyebabkan munculnya Perang Dingin Baru antara AS dan Rusia. Perbedaannya, persaingan dalam Perang Dingin Baru tidak lagi pada perlombaan pembuatan senjata-senjata nuklir. Melainkan pada persaingan ekonomi dan bisnis.

Itu sebabnya Perang Dingin baru disebut sebagai Perang Dingin Ekonomi. Perang Dingin Ekonomi antara lain ditandai oleh pembentukan blok ekonomi baru oleh lima negara: Brasil, Rusia, India, China dan South Africa (Afrika Selatan).

Blok ekonomi baru ini disebut BRICS, sesuai alfabet terdepan dari kelima negara di atas. BRICS juga ditengarai sebagai pesaing baru terhadap blok G-7 (Group of Seven) yang terdiri atas AS, Kanada, Jepang, Jerman, Prancis, Inggeris dan Italy.

Dari segi penduduk dan pasar komiditi, BRICS memiliki persentase yang lebih besar dibanding dengan G-7. Sebab dalam BRICS terdapat dua negara terbanyak penduduknya di dunia yakni China (1,2 miliar manusia) dan India dengan 1 miliar penduduk.

Pandangan yang menyebut BRICS sebagai pesaing terbaru terhadap G-7 muncul, antara lain karena sikap AS dan Rusia sendiri. Tidak lama setelah Perang Dingin berakhir, AS langsung mengajak Rusia bergabung kedalam blok kelompok negara industri (G-7)..

Sehingga di 1993, ketika Rusia dipimpin oleh Presiden Boris Yeltsin, G-7 sempat diubah menjadi G-8, berhubung Rusia menjadi anggota baru di dalamnya.

Hingga sekarang Rusia masih menjadi bagian dari G-8. Tetapi secara spirit, Rusia tidak terlalu bersemangat. Rusia kelihatannya sangat sadar, keanggotaannya dalam G-8 tidak didukung AS sepenuhnya. Rusia dirangkul supaya lebih mudah mengontrolnya.

Di tahun 2012 ini saja, Rusia menyatakan absen dalam pertemuan G-8 di Washington setelah sebelumnya AS menyatakan absen di pertemuan APEC yang digelar di Vladivostok. Hal mana menunjukan persaingan atau Perang Dingin kedua negara, terus berlangsung.

Rusia lebih antusias membesarkan BRICS. Sementara AS melihat BRICS sebagai sebuah blok tandingan bagi kepentingannya di dunia. Beberapa agenda utama BRICS memang disusun untuk mengurangi dominasi AS di dunia. BRICS bertujuan menggeser dolar AS sebagai mata uang bagi sistem transaksi internasional.

BRICS juga ingin 'melumpuhkan' Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF - International Monetary Fund) sebagai regulator sistem perbankan dan keuangan dunia.

Rusia dan China berpandangan ketidak seimbangan perdagangan dunia saat ini terjadi karena peran dominan Bank Dunia dan IMF. Kedua lembaga yang bermarkas di Washington dan sengaja dikendalikan secara politik oleh AS justru menciptakan negara miskin dan negara gagal. Jumlahnya terus bertambah.

Bagi Indonesia, tidak gampang melepaskan diri dari tarik menarik antara dua kekuatan. Multi krisis yang menerpa Indonesia sejak tahun 1998, semakin memperparah posisi Indonesia. Akan tetapi untuk masuk di dalam pertarungan kedua kekuatan kemudian ikut berperan, juga sama sulitnya.

Untuk sementara, satu-satunya yang bisa dilakukan Indonesia adalah mencermati arah pertarungan kedua kekuatan kemudian mencari posisi yang sesuai dengan kemampuan Indonesia. Tapi lagi-lagi kembali, ini juga tidak mudah dilakukan.

Di sisi lain, sebagai pendiri Gerakan Non-Blok (GNB), Indonesia kelihatannya merasa berhasil atas berakhirnya Perang Dingin. Sehingga beberapa kebijakan luar negeri Indonesia, terkesan dibuat dengan asumsi Perang Dingin telah berakhir secara total.

Elemen Perang Dingin sebagai sesuatu yang belum berakhir atau telah muncul Perang Dingin Baru, tidak masuk dalam kalkulasi Indonesia. Hal ini antara lain tercermin dari keputusan Indonesia yang mencoba lebih dekat atau bersahabat dengan Rusia dan di pihak lain tetap menjaga hubungan yang baik dengan AS.

Caranya, antara lain dengan terus mengadopsi sistem demokrasi ala AS, tapi pada saat yang sama mulai melakukan pembelian sejumlah produk pertahanan dan telekomunikasi buatan Rusia, produk yang sebelumnya lebih banyak disuplai oleh AS.

Bagaimana hasil atau implikasinya ? [Bersambung]


Sumber : Inilah

AS Setuju Kirim Rudal Harpoon ke Mesir

WASHINGTON-(IDB) : Pemerintahan Presiden Barack Obama telah menyetujui pengiriman rudal Harpoon Block-2 ke Mesir.
 
Sumber-sumber terpercaya mengatakan Mesir akan menerima rudal canggih Harpoon selama beberapa bulan ke depan di bawah program penjualan senjata luar negeri. Ditambahkannya, ini secara signifikan akan meningkatkan kemampuan ofensif Angkatan Laut Mesir.
 
Pada 29 Juni lalu, Departemen Pertahanan AS mengizinkan Boeing untuk menandatangani kontrak senilai 145,1 juta dolar untuk membeli sekitar 90 rudal Harpoon, salah satu rudal anti-kapal paling canggih di dunia. Pesanan itu dimaksudkan untuk Angkatan Laut AS serta empat negara asing.
 
"Pengiriman rudal pertama dijadwalkan pada bulan Agustus dan kontrak kerja diperkirakan akan berlangsung sampai Desember 2013," kata Boeing pada 19 Juli.
 
Proyek Harpoon untuk Mesir telah tertunda selama lebih dari lima tahun. Sumber-sumber mengatakan Israel khawatir rudal Harpoon akan mengubah keseimbangan militer dengan Mesir.
 
Menurut sumber tersebut, Mesir akan menerima rudal Harpoon, yang tidak  memiliki kemampuan serangan dari darat. Namun, ini belum dikonfirmasi baik oleh Pentagon atau Boeing.


Sumber : Irib

Amerika Serikat Akan Jual 60 Rudal Patriot Generasi Teranyar Kepada Kuwait

WASHINGTON-(IDB) : Pentagon akan menjual 60 rudal Patriot MIM-104 PAC 3 seharga 4,2 miliar dolar AS, dalam usaha emirat itu meningkatkan pertahanannya menghadapi ancaman Iran. Di sisi Iran, mereka memiliki peluru kendali Shahab-3.

Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan (DSCA), yang ditugaskan menangani penjualan senjata kepada negara-negara asing, memberitahu kepada Kongres AS tentang rencana penjualan itu pada 20 Juli, kata badan itu dalam satu pernyataan di laman internetnya.

Kongres Amerika Serikat memiliki waktu 30 hari untuk mengajukan keberatannya jika itu ada. Jika tidak ada masalah, kontrak itu dianggap sah setelah periode menunggu itu.

Perjanjian itu menyangkut 60 rudal Patriot buatan Raytheon, generasi termutakhir PAC-3, 20 stasiun peluncuran, empat sistem radar dan stasiun pengendali, pelatihanan personil dan perlengkapan pelatihan, dan suku cadang, kata DSCA.

"Kuwait akan menggunakan peluru kendali dan peralatan PAC-3 untuk meningkatkan kemampuan pertahanan rudalnya, memperkuat pertahanan negara, dan menangkal ancaman-ancaman internasional," kata badan itu.

Pada awal tahun ini, dalam satu forum Amerika Serikat dan para anggota Dewan Kerja Sama Teluk (Bahrain, Kuwait, Oman,Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab), Menlu Amerika Serikat, Hillary Clinton, mengusulkan satu perisai rudal untuk melindungi negera-negara Arab Teluk (GCC) dari serangan Teheran.

Keenam negara anggota GCC itu para pembeli penting senjata-senjata AS.

Kuwait telah memiliki rudal-rudal Patriot. Pada 1992, Kuwait membeli 210 Patriot PAC 2 dan 25 peluncur. Kuwait kemudian membeli 140 rudal Patriot lagi 2007, kata Badan Riset Kongres AS.


Sumber : Antara

Misi Kemanusiaan USNS Mercy Pererat Kemitraan Indonesia dan AS

MANADO-(IDB) : Ketua Komisi Pertahanan DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan, kehadiraan Rumah Sakit Terapung Milik Angkatan Laut Amerika Serikat USNS Mercy di perairan Sulawesi Utara baru-baru ini menunjukkan semakin eratnya kemitraan Indonesia dengan AS..

Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan Jum’at (29/6), kemitraan Indonesia dan AS tidak harus selalu terkait penanganan masalah-masalah pertahanan dan terorisme, namun aksi-aksi kemanusiaan juga perlu semakin ditingkatkan.


Menurut Mahfud, konteks kemitraan di kawasan Asia Pasifik selama ini mengalami peningkatan, terutama karena pertimbangan kepentingan jangka panjang yang cukup strategis.


“Sekarang ini memang bentuk-bentuk kerjasama militer , terutama dalam konteks pengamanan laut semakin berkembang. Contoh seperti yang dilakukan AS, secara geografis tidak berbatasan langsung dengan Indonesia, namun secara geopolitic, geostrategic dan geoeconomic  memiliki kepentingan, berdasarkan itu kemitraan sangat mungkin dilakukan,” kata Mahfudz.


Dalam siaran pers Kedutaan AS di Jakarta baru-baru ini menyebutkan Rumah Sakit Terapung USNS Mercy telah merampungkan misi kemanusiaannya di perairan Sulawesi Utara, Indonesia sebagai bagian dari Pacific Partnership 2012 (PP12). Sejak berada di Manado pada 31 Mei, para awak kapal menjalankan berbagai program bekerjasama dengan rekan sejawat dari Indonesia dari berbagai instansi dan lembaga termasuk kantor pemda, militer, kepolisian, dan staf penanggulangan bencana.


PP12 yang merupakan misi kemanusiaan dan sipil terbesar di wilayah Asia Pasifik mencakup pelatihan dan perencanaan penanggulangan bencana alam, perawatan medis gratis di darat dan di atas kapal.


Beberapa pengamat pertahanan mengatakan, peningkatan kerjasama antar negara sekawasan Asia Pasifik cukup menguntungkan Indonesia. “Manfaatnya baik secara kekinian maupun jangka panjang. Memang hubungan antara Indonesia dengan AS dalam posisi yang cukup bagus saat ini, perlu saling membantu banyak hal," demikian kata Wawan Purwanto dari Lembaga Pengembangan Kemandirian Nasional (LPKN)..


"Yang paling utama hubungan (bilateral) ini tidak menyebabkan menimbulkan sentiment-sentimen baru , khususnya di negara-negara yang berseberangan dengan kebijakan politik Amerika Serikat,” lanjut Wawan.


Lebih lanjut disebutkan dalam siaran pers Kedubes AS, Rumah Sakit Terapung USNS Mercy sebelumnya merupakan sebuah kapal tanker. Kapal ini mampu menampung 1000 awak dengan 12 (dua belas) ruang operasi untuk keperluan tindakan medis.


Selain bersandar di Manado, USNS Mercy juga menjalankan misi kemanusiaannya dengan melayari Kepulauan Sangihe dan Talaud. USNS Mercy setelah berada di Indonesia ,  meneruskan pelayaran ke arah utara mengunjungi Filipina, Vietnam, dan Kamboja.


Pacific Partnership 2012 atau Kemitraan di Pasifik 2012, merupakan aksi kemanusiaan terbesar di kawasan Asia-Pasifik, dengan beberapa negara tujuan seperti Indonesia, Filipina, Kamboja dan Vietnam. Aksi kemanusiaan dalam program Pacific Partnership meliputi bidang kesehatan, mencakup perawatan dan tindakan medis, perawatan gigi, kedokteran hewan, teknik sipil serta pertukaran para ahli.


Rumah Sakit Terapung Angkatan Laut Amerika Serikat USNS Mercy mulai menjalankan misi kemanusiaannya pasca tsunami Aceh tahun tahun 2004 silam. Para tim medis USNS Mercy telah mengobati lebih seratus ribu korban tsunami dalam melaksanakan misi kemanusiaannya selama di Aceh.


Kemudian pascagempa Sumatera bulan Maret 2005 silam, USNS Mercy juga  melaksanakan pengobatan di perairan Pulau Simeulue dan Nias. Di Nias, USNS Mercy melakukan pelayanan kesehatan kepada lebih 1400 orang, 79 orang di antaranya dioperasi di atas kapal USNS Mercy. Paramedis dari USNS Mercy juga menggelar pelatihan bagi 180 tenaga medis dan paramedis Rumah sakit Umum Gunungsitoli dan melakukan perbaikan peralatan rumah sakit yang rusak di Nias, provinsi Sumatera Utara. 


Sumber : VOA 

Indonesia Amerika Akan Bangun Museum PD II di Morotai

MOROTAI-(IDB) : Indonesia berencana membangun museum Perang Dunia (PD) II dan Trikora di Morotai Maluku Utara.

Museum tersebut akan dibangun bekerja sama dengan Yayasan MacArthur yang bermarkas di Norfolk, Virginia, Amerika Serikat.


Untuk membahas hal tersebut, Senin (18/6), Menteri Kordinator  Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono didampingi Gubernur  Maluku Utara, Thaib Armaiyn berkunjung ke MacArthur Memorial dan MacArthur Museum di Norfolk Virginia.


"Jenderal Douglas MacArthur sebagai panglima sekutu di Pasifik saat Perang Dunia II dikenal  dengan strategi lompat katak-nya dari pulau ke pulau dan menyerbu pulau  Morotai di Maluku dari Biak, Papua untuk melumpuhkan kekuatan tentara pendudukan Jepang  di sana," kata Konjen Indonesia di Houston, Al Busyra Basnur melalui rilis, Rabu (20/6).


Di Morotai, Pasukan Sekutu kemudian membangun tujuh landasan udara guna mendukung serbuan udara ke Filipina sebagai sasaran berikutnya.

Sementara itu, saat operasi Trikora Perebutan Irian Barat (1962), Morotai juga dipakai sebagai titik kumpul pesawat-pesawat pengebom strategis TU-16 AURI dan Pesawat tempur MIG-17 AURI dalam rangka persiapan penyerbuan pulau Biak di Irian Barat.


Atas rekam jejak sejarah itulah, pulau Morotai dirasa cocok sebagai tempat dibangunnya museum Perang Dunia II tersebut.


Rencana pembangunan museum ini juga bertepatan dengan rangkaian acara Sail  Morotai 2012 yang berisi acara-acara kelautan seperti Ekspedisi Bhakti  Kesra Nusantara, Operasi Bhakti Surya Bhaskara Jaya, Kapal Remaja  Nusantara Bahari, Ekspedisi Kapal Riset Indonesia, Seminar, dan Pameran.


Pada acara puncak Sail Morotail, 15 September 2012, akan hadir para veteran  Perang Dunia II dan Veteran Trikora, akan digelar operasi penerjunan  pasukan lintas udara di Morotai, Pelucuran Roket LAPAN, serta Parade  kapal perang manca negara, serta kapal-kapal layar Indonesia.


Sumber : Beritasatu

Amerika Ambisi Ciptakan Rudal Hipersonik Untuk Pesawat Siluman

WASHINGTON DC-(IDB) : Selama berdekade, militer telah mencoba--meski dengan sukses kecil--untuk membangun rudal yang mampu menjelajah tepat di belakang area musuh, dengan kecepatan hipersonik. Namun, uji coba rudal selalu diwarnai kegagalan.

Kini Angkatan Udara mengambil peran lebih besar dalam upaya membuat rudal hipersonik lain, kali ini untuk jet tempur siluman mereka,

Amerika serikat selalu ingin membuktikan diri terdepan dalam teknologi militer. AU negara itu berhasrat "Senjata Serangan Berkecepatan Tinggi" yang bisa meluncur lima kali lipat kecepatan suara atau bahkan lebih cepat lagi. Teorinya, senjata itu akan diluncurkan dari jet Raptor F-22 siluman atau pesawat tempur masa depan, F-35, Joint Strike Fighter.

Diharapkan rudal itu bergerak begitu cepat dalam jarak panjang hingga tak bisa dicegat oleh sistem-anti-udara. Direktorat Amunisi Laboratorium Riset AU, kini mengumpulkan partner-partner desain yang memungkinkan pada akhir Mei lalu di Florida.

Menurut pernyataan resmi, apa pun prototipe yang dirakit diharuskan memiliki kemampuan menembak target dalam kondisi kritis--ketika targer bergerak cepat misal---, dari jarak taktis yang relevan.

"Jika itu bisa diwujudkan, senjata bakal menjadi representasi  sistem rudal hipersonik bernafas di udara, yang tangguh menghadapi lingkungan sulit dalam dekade ke depan," ujar asisten deputi sains, teknologi dan rekayasa mesin di Angkatan Udara AS, Steven Walker.

Paling tidak itu harapan mereka. Senjata Serangan Kecepatan Tinggi itu nanti tidak akan bernama 'Penyerang Global". Senjata-senjata itu bakal didesain untuk menghantam target di mana pun di Planet Bumi. Rudal Falcon, misal, didesain untuk diluncurkan dengan roket ke luar angkasa, sebelum akhirnya kembali ke Bumi menghancurkan targetnya. Namun senjata hipersonik bakal bisa dibedakan dari rudal nuklir ketika dilihat dengan radar.

Ada tantangan selain masalah pembuatan, yakni metode peluncuran dari jet tempur, alih-alih menggunakan roket suborbital atau bomber B-52. Pasalnya butuh mesin yang bisa bernafas sekaligus mengompresikan udara di sekitar rudal ke campura supersonik oksigen dan bahan bakar tanpa kehadiran turbin.

Tak hanya itu, rudal harus cukup kecil untuk diangkut oleh jet tempur bersamaan dengan peralatan pemandu, kontrol navigasi dan sensor canggih yang diperlukan. Tentu, plus hulu ledak.

Tak boleh dilewatkan, yakni teknologi material komposit yang tepat untuk rudal, bisa titanium atau tungsten, yang bisa menahan panas luar biasa tinggi dihasilkan dari kecepatan Mach 5, Mach 6 atau lebih cepat lagi.

Saat ini Angkatan Udara AS telah mengajukan penambahan anggaran hingga 150 persen untuk program tersebut. Angka semula 6,2 juta dolar menjadi 15,4 juta dolar pada 2013 khusus untuk pengembangan senjata. Sungguh jumlah yang masif mengingat ada risiko kegagalan di depan mata.


Sumber : Republika

US Navy Latihan Dengan Malaysia Seusai CARAT 2012

SITUBONDO-(IDB) : Kepala Satuan Tugas Amerika Serikat untuk CARAT 2012, Captain David A Welch mengungkapkan, setelah melakukan latihan CARAT (Cooperation of Afloat Readiness and Training) di Pantai Banongan, Jawa Timur, Indonesia, yang juga dilakukan simulasi perang, timnya akan segera menuju Pangkalan AL Malaysia di Kuantan. "Setelah ini, kami akan melakukannya di Malaysia, di wilayah Kuantan dan Lumut," kata Welch, di USS Germantown (Kapal Perang AS), Senin (4/6/2012).

Disinggung mengapa latihan di Indonesia pilih Pantai Banongan, Welch mengungkapkan, karena  tahun lalu mereka melakukannya di Jakarta dan mendapatkan rekomendasi dari Pemerintah RI untuk melakukannya di Pantai Banongan.
"Pemerintah Indonesia mengajak kami melakukannya di Pantai Banongan, dan kami sangat senang mendengarnya. Semoga CARAT di sini makin mempererat dan membikin hangat hubungan kami," akunya.

Selain USS Germantown, juga ada dua kapal perang lainnya yang dibawa Amerika ke Indonesia, yakni USS Vandergrift dan USCGS Waesche. Ketiga kapal ini membawa 1.400 personil yang berasal dari satuan US Navy, US Marines dan US Coast Guard. "Intinya kami senang bisa latihan di sini," katanya.

Untuk koreksi dan evaluasi, terangnya, Amerika akan melakukannya setelah semua rentetan latihan selesai dijalani. "Saya rasa, setelah kami nanti melakukan evaluasi, hasilnya akan sangat memuaskan. Dan kami ingin kembali ke Pantai Banongan lagi. Pemandangannya bagus," imbuhnya. 


Sumber : Surya

US Marines Turunkan 13 Tank Amphibi ke Pantai Banongan

SITUBONDO-(IDB) : Kepala Satuan Tugas Amerika Serikat untuk CARAT 2012, Captain David A Welch mengungkapkan, setelah melakukan latihan CARAT (Cooperation of Afloat Readiness and Training) di Pantai Banongan, Jawa Timur, Indonesia, yang juga dilakukan simulasi perang, timnya akan segera menuju Pangkalan AL Malaysia di Kuantan. "Setelah ini, kami akan melakukannya di Malaysia, di wilayah Kuantan dan Lumut," kata Welch, di USS Germantown (Kapal Perang AS), Senin (4/6/2012).

Disinggung mengapa latihan di Indonesia pilih Pantai Banongan, Welch mengungkapkan, karena  tahun lalu mereka melakukannya di Jakarta dan mendapatkan rekomendasi dari Pemerintah RI untuk melakukannya di Pantai Banongan.
"Pemerintah Indonesia mengajak kami melakukannya di Pantai Banongan, dan kami sangat senang mendengarnya. Semoga CARAT di sini makin mempererat dan membikin hangat hubungan kami," akunya.

Selain USS Germantown, juga ada dua kapal perang lainnya yang dibawa Amerika ke Indonesia, yakni USS Vandergrift dan USCGS Waesche. Ketiga kapal ini membawa 1.400 personil yang berasal dari satuan US Navy, US Marines dan US Coast Guard. "Intinya kami senang bisa latihan di sini," katanya.

Untuk koreksi dan evaluasi, terangnya, Amerika akan melakukannya setelah semua rentetan latihan selesai dijalani. "Saya rasa, setelah kami nanti melakukan evaluasi, hasilnya akan sangat memuaskan. Dan kami ingin kembali ke Pantai Banongan lagi. Pemandangannya bagus," imbuhnya. 


Sumber : Surya

Militer AS Minta Akses Pelabuhan di Vietnam

CAM RANH BAY-(IDB) : Menteri Pertahanan Amerika Serikat Leon Panetta menyebut lokasi pelabuhan yang pernah mereka pakai untuk pangkalan militer di masa Perang Vietnam, pelabuhan Teluk Cam Ranh, bisa dipakai kembali untuk mendukung peran militernya di kawasan Asia Pasifik.

Pernyataan itu disampaikan Panetta, Minggu (3/6/2012), saat berkunjung ke Vietnam. Kunjungan itu sekaligus menjadi simbol kuat upaya Washington memperdalam kembali ikatan dengan negara bekas musuhnya itu, terutama untuk menyaingi pengaruh China di kawasan.

"Akses bagi kapal-kapal Angkatan Laut AS di fasilitas pelabuhan ini bisa menjadi komponen kunci. Kami juga melihat pelabuhan itu sebagai sebuah potensi yang teramat besar," kata Panetta di atas geladak kapal kargo AL AS, USNS Richard E Byrd, yang tengah sandar di pelabuhan itu.

Panetta menegaskan, keberadaan pelabuhan di Teluk Cam Ranh itu sangatlah penting dalam pergerakan kapal-kapal perang AS dari pelabuhan mereka di Pantai Barat dan pangkalan-pangkalan mereka di kawasan Pasifik. 



Sumber : Kompas