Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rudal. Tampilkan semua postingan

TNI Kembali Akan Lakukan Uji Coba Rudal Yakhont

25 September 2012

Ujicoba penembakan rudal Yakhont pada April 2011 (photo : Keprifoto)

TNI AL Laksanakan Uji Coba Rudal dan Torpedo

TNI Angkatan Laut akan menggelar latihan perang laut secara besar-besaran dalam Armada Jaya XXXI/2012 di perairan Indonesia Kawasan Timur pada tanggal 25 September sampai 22 Oktober 2012. Latihan kali ini akan diikuti dengan pelaksanaan uji coba penembakan senjata strategis yang dimiliki TNI Angkatan Laut seperti rudal Yakhont, rudal Exocet MM 40, rudal C-802 serta penembakan Torpedo SUT (Surface and Underwater Target) dari Kapal Selam dan Kapal Atas Air dengan sasaran Kapal Permukaan.

Demikian diungkapkan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Soeparno dalam sambutannya yang dibacakan Wakasal Laksamana Madya TNI Marsetio, M.M. pada Upacara Pembukaan Geladi Posko Latihan Armada Jaya XXXI/12 tahun 2012, Selasa (25/9/2012) di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Cipulir, Jakarta Selatan.

Lebih lanjut Kasal mengatakan, Latihan Armada Jaya merupakan latihan puncak TNI Angkatan Laut pada siklus latihan tahunan, yang bertujuan mengukur kesiapan operasi, dari hasil pembinaan kekuatan dan kemampuan seluruh komponen Sistem Senjata Armada Terpadu yang dilaksanakan Kotama dan Satuan Kerja di Jajaran TNI Angkatan Laut, sekaligus guna mendukung peningkatan kesiagaan operasi TNI, dalam rangka mengantisipasi serta menghadapi kemungkinan timbulnya ancaman yang dapat mengganggu kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Pelaksanaan uji coba penembakan senjata strategis yang dimiliki TNI Angkatan Laut merupakan kesempatan yang sangat baik, disamping untuk menguji kehandalan senjata peluru kendali dan torpedo yang kita miliki, juga merupakan ajang pengukuran penguasaan prosedur dan mekanisme proses penembakan oleh para pengawaknya serta menjadi bukti nyata tingkat profesionalisme prajurit TNI Angkatan Laut,” tegas Kasal.

Latihan akan dilaksanakan mulai dari Laut Jawa hingga puncaknya operasi amfibi berupa pendaratan Pasukan Pendarat Marinir di Sangatta, Kalimantan Timur. Seluruh kesenjataan TNI AL yang tergabung dalam SSAT yaitu kapal perang, pesawat udara, Marinir dan Pangkalan akan digelar pada latihan kali ini. Tidak kurang dari 35 kapal perang TNI AL dari berbagai jenis (Kapal Selam, Perusak Kawal Rudal, Kapal Cepat Rudal, Perusak Kawal, Angkut Tank, Buru Ranjau, Kapal Tanker dan Kapal Bantu Tunda) akan dikerahkan dan 10 di antaranya akan menembakkan peluru kendali. Latihan puncak yang melibatkan kurang lebih 5.500 personel ini juga mengerahkan 6 pesawat udara, 1 Batalyon Tim Pendarat Marinir beserta 93 kendaraan tempur Pasukan Pendarat.

Latihan Armada Jaya XXXI/12 dilaksanakan dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan dilaksanakan kegiatan Geladi Posko tanggal 25 September sampai 2 Oktober 2012 di Seskoal. Sedangkan tahap pelaksanaan dilaksanakan kegiatan Geladi Lapangan atau Manuver Lapangan tanggal 9 sampai 22 Oktober 2012 di Laut Jawa dan Pantai Sangatta.

Sementara pada bagian lain Kasal menyampaikan bahwa pada tahun 2012 ini, sesuai dengan siklus Latihan TNI, akan dilaksakanan Latihan Gabungan TNI, sehingga Latihan Armada Jaya ini dapat dimanfaatkan sebagai latihan parsial guna menyongsong Latgab TNI 2012. “Untuk itu laksanakan latihan ini secara sungguh-sungguh dan serius sesuai dengan pentahapan latihan, ikuti proses perencanaan dan pemecahan masalah serta pengambilan keputusan sesuai dengan skenario latihan yang sudah disiapkan oleh komando latihan, pahami dan ikuti berbagai prosedur sesuai standar operasi yang sudah ditetapkan, cermati kehandalan berbagai piranti lunak pendukung guna memberikan masukan penyempurnaannya, kembangkan kreatifitas dan inovasi untuk mendapatkan ide-ide lebih meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam penggunaan kekuatan dan kemampuan TNI AL pada khususnya, serta TNI pada umumnya,” tegas Kasal.

Latihan Armada Jaya merupakan latihan puncak TNI AL dan dilaksanakan setiap tahun di wilayah yang berbeda, bahkan diusahakan seluruh pantai yang ada di Indonesia pernah dijadikan sebagai daerah latihan. Dengan menggelar latihan di daerah tersebut akan menjadi salah satu referensi bagi TNI AL, jika sewaktu-waktu dibutuhkan operasi sebenarnya. Armada Jaya XXXI/2012 merupakan yang ketiga kalinya dilaksanakan di Sangatta, yang pertama pada tahun 2005. Sedangkan tahun 2007 latihan terbesar TNI AL dilaksanakan di Kaimana, Papua serta tahun 2008 di Pantai Banongan dan tahun 2009 di Pantai Banyuwangi, Situbondo Jawa Timur.

Kesuksesan latihan ini merupakan salah satu indikator bahwa TNI AL siap mempertahankan kedaulatan dan keutuhan NKRI dari setiap ancaman di manapun dan kapanpun.

ATM Lancar Penembakan Misil dan Roket Secara Bersepadu

21 September 2012


Suasana latihan Eksesais ANGSA 7/2012 (all photos : TLDM)

Angkatan Tentara Malaysia (ATM) telah berhasil meluncurkan penembakan misil dan roket secara terpadu di Perairan Selat Malaka Utara sekitar jam 10 hingga 11 pagi tadi. Penembakan yang diluncurkan dari platform penembak yang berbeda ini berhasil mengenai sasaran permukaan pada jarak dan kecepatan yang diprogram.


Dalam penembakan tadi pagi, Angkatan Laut Diraja Malaysia (TLDM) telah meluncurkan misil jenis Exocet MM40 dari Kapal Diraja (KD) LEKIU dan misil jenis Sea Skua dari helikopter TLDM jenis Super Lynx. Angkatan Udara Diraja Malaysia (TUDM) pula telah meluncurkan misil tipe Maverick dan Harpoon dari pesawat tempur F/A-18D. Sementara itu, tim 51 Resimen Artileri Kerajaan Angkatan Darat Malaysia (TDM) pula telah meluncurkan Sistem Roket Lancar Berganda Astros II dari situs penembakan di Tanjung Antu, Segari, Perak. Semua penembakan ini telah berhasil mengenai tepat dan menghancurkan target.


Penembakan terpadu ATM ini telah diluncurkan selama Eksesais ANGSA 7/2012 yang melibatkan tiga layanan, Darat, Laut, dan Udara yang dimulai dari 10 hingga 28 Sep 12. Penembakan secara terpadu ini dilaksanakan dalam upaya meningkatkan latihan secara bersama (joint) antara ketiga layanan. Selain itu, penembakan ini digabungkan sebagai langkah penghematan secara kemitraan biaya dalam operasi penembakan.


Penembakan terpadu ini melibatkan aset bantuan ketiga layanan sebagai unsur untuk pembersihan area, tim penyediaan sasaran, rekaman dan analisis. Antara aset dan unsur TLDM lain yang terlibat adalah KD Mahawangsa, KD PAHANG, KD TERENGGANU, KD LAKSAMANA Hang Nadim, KD MAHAMIRU, KTD PENYU, Bot Tempur CB 90, Tim Penyelam, Weapon Trial and Assesment Team (WTAT) dan helikopter Fennec. Sementara aset TUDM lain yang terlibat adalah pesawat Su-30MKM, pesawat CN-235, pesawat B-200T dan C-130. Unit TUDM yang terlibat adalah 51 Resimen Artileri Royal.


Keberhasilan penembakan misil dan roket terpadu ATM ini telah sekali lagi membuktikan bahwa kesiagaan aset ATM selalu di tingkat yang tinggi dalam mempertahankan kedaulatan negara. Ia juga sekaligus menempatkan ATM antara pasukan Angkatan Bersenjata yang wajar disegani di kawasan ini.


Panglima Angkatan Laut Laksamana Tan Sri Abdul Aziz bin Ja’far, Panglima Angkatan Udara, Jenderal Tan Sri Dato Sri Rodzali bin Daud TUDM, Wakil Panglima Angkatan Darat, Letnan Jenderal Dato’ Hasbullah bin Hj Mohd Nawawi dan Panglima Angkatan Bersama, Laksamana Madya Dato’ Sri Ahmad Kamarulzaman bin Hj Ahmad Badaruddin, Panglima Operasi Udara Dato’ Seri Mohd Ackban bin Hj Abdul Samad TUDM dan Panglima Armada Laksamana Madya Dato’ Abdul Hadi bin A. Rashid hadir menyaksikan penembakan ini dari platform kapal KD Mahawangsa di Perairan Selat Malaka.

(TLDM)

Satu Baterai Rudal Starstreak Masuk ke Arhanudse Kodam Jaya

21 September 2012

Rudal Starstreak II versi vehicle mounted (photo : Thierry Lachapelle)

Jam Komandan Yonarhanudse 10/1/F

KODAM JAYA - Komandan Yonarhanudse 10/1/F Letkol Arh I Made Kusuma D.G., memberikan Jam Komandan kepada seluruh personelnya. Acara yang bertepatan dengan Bulan Ramadhan ini dihadiri oleh 453 personel dengan sangat antusias, bertempat di aula Yonarhanudse-10/1/F, Selasa (07/08).

Adabeberapa hal terpenting yang disampaikan oleh Danyon Arhanudse 10/1/F yang berhubungan dengan kegiatan Batalyon ke depan.

Pertama, bahwa untuk menjadi prajurit yang profesional, seluruh prajurit harus terdidik dan terlatih, hal ini sesuai dari pengarahan dari Kasad pada saat Rabiniscab terpusat.

Kedua, mengenai pembelian Alutsista bagi jajaran Arhanud yang telah disahkan oleh Kasad serta berhubungan dengan masuknya Rudal Starstreak ke Batalyon Arhanudse 10/1/F sebanyak 1 (satu) Baterai.

Hal berikutnya adalah penekanan agar seluruh prajurit menjauhi pelanggaran sekecil-kecilnya. Prajurit profesional adalah prajurit yang tidak memiliki pelanggaran.

(TNI)

Pembelian 18 Paket Rudal Maverick All-Up-Round Masih Dikaji

JAKARTA-(IDB) : TNI Angkatan Udara masih mengkaji penawaran Amerika Serikat atas rudal Maverick. Peluru kendali tersebut merupakan bagian dari sistem persenjataan pesawat F-16 yang sudah dibeli Indonesia. "Tentu kami membutuhkan (rudal) itu," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Azman Yunus ketika dihubungi oleh Tempo, Senin, 10 September 2012.

Namun TNI Angkatan Udara masih menunggu Kementerian Pertahanan untuk membahas penawaran tersebut. "Nanti kami kabari lagi kelanjutannya seperti apa," kata dia.

Sebelumnya, dalam situs Business Recorder, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyetujui untuk menjual perangkat rudal F-16 ke Indonesia. Berdasarkan nota yang dikirim pada kongres beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut meminta paket 18 rudal jenis AGM-65K2 "Maverick All-Up-Round", 36 rudal untuk latihan para pilot, tiga rudal latihan "perawatan" beserta suku cadangnya, perlengkapan pengujian, serta latihan personal.

Kementerian Pertahanan mengaku akan menyesuaikan rencana pembelian rudal AGM-65K2 "Maverick All-Up-round" dengan kebutuhan TNI AU. "Itu domain TNI AU, biar mereka yang putuskan," ujar Sekertaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Eris Heryanto saat dihubungi oleh Tempo, Kamis, 6 September 2012. 



Sumber : Tempo

Boeing Winged JDAM-ER for RAAF Completes First Round of Tests

01 September 2012

Boeing JDAM-ER for RAAF (photo : RAAF) 

ST. LOUIS  -- A winged version of the Boeing [NYSE: BA] Joint Direct Attack Munition (JDAM) that will triple the weapon's glide range to more than 40 miles is a step closer to production after completing wind tunnel tests at a U.S. facility in June.

Developed in partnership with the Commonwealth of Australia, the 500-pound JDAM Extended Range (JDAM-ER) features a modular add-on wing kit that will unfold in flight. The kit can also be coupled with other modular enhancements, such as laser sensors. The wings were first integrated with the Boeing JDAM during the Commonwealth's Capability and Technology Demonstration program, which successfully completed flight tests in 2008.

Boeing will produce and integrate the JDAM-ER wing kits for the Royal Australian Air Force (RAAF) under a contract awarded in 2011. The kits will be built in Australia, with initial deliveries expected to begin in early 2015.

"Boeing and our Australian partners have worked closely together to employ affordable technology and the leanest manufacturing processes to cost-effectively enhance JDAM’s capabilities," said Debbie Rub, Boeing vice president and general manager for Missiles and Unmanned Airborne Systems. "The JDAM-ER effectively meets the needs of the Commonwealth by providing a greater stand-off capability and making it safer for pilots to prosecute their missions on today’s ever-changing battlefields."

"By successfully transitioning this technology from prototype to production, the Australian Defence Force will be able to further reduce the risk to its personnel on operations, allowing RAAF aircrew to engage their targets from beyond the range of enemy air defences," said Jason Clare, Australia’s Minister for Defence Materiel. "These enhancements will increase the ability of the RAAF to strike more targets in fewer sorties."

JDAM is a low-cost guidance kit that converts existing unguided bombs into near- precision weapons. Boeing intentionally designed its JDAM kit to be modular so the product could mature with a variety of technological upgrades such as a laser sensor, improved immunity to GPS jamming, and an all-weather radar sensor.

Boeing has built more than 238,000 JDAM tail kits in its St. Charles, Mo., facility since production started in 1998. JDAM is used by 26 international militaries.

Indonesia : TOT C-705 Terhadap Konflik LCS

ANALISIS-(IDB) :Dalam beberapa waktu terakhir ini, kita disajikan berita di berbagai media massa bahwa Indonesia dan China sepakat untuk melakukan Transfer of Technology rudal C-705. Rudal ini adalah rudal anti kapal permukaan yang sudah dikembangkan oleh China. Saat ini pemerintah Indonesia dan China sedang mempersiapkan tahapan ToT ini agar bisa berjalan dengan secepatnya. Dalam kunjungannya ke Kementerian Pertahanan, tim China yang dipimpin oleh Liu Yunfeng, Deputi Direktur Umum Sains, Teknologi dan Industri Pertahanan China (SASTIND), sepakat melakukan transfer teknologi peluru kendali C-705 secara bertahap. Tahap pertama adalah: Semi Knock Down, Indonesia merakit sedikit/sebagian dari rudal C-705 dan sisanya dikirim langsung dari China. Tahap Kedua: Complete Knock Down. China mengirim semua komponen rudal secara terurai untuk dirakit di Indonesia sepenuhnya. Adapun tahap ketiga adalah riset and development. Ditahapan ini Indonesia, boleh memodifikasi peluru kendali sesuai dengan kebutuhan TNI.

Pihak China menginginkan transfer teknologi rudal C-705 ini bisa secepatnya direalisasikan. Mereka mengharapkan proposal tahapan pertama dari China bisa ditanggapi Indonesia paling lama bulan Agustus 2012. Proposal tahapan kedua, sebulan kemudian. Adapun tahapan ketiga dibicarakan setelah tahap I dan II jelas. Persetujuan kontrak itu diharapkan tercapai paling lama tahun 2013.


Laut Cina selatan yang rawan konflik


Sebagai informasi rudal C-705 ini adalah rudal anti kapal yang dikembangkan China dan sudah juga dimiliki oleh Indonesia yang di install pada kapal cepat rudal (KCR). Rudal anti kapal ini sangat dibutuhkan oleh Indonesia sebagai senjata untuk menjaga kedaulatan perairan Indonesia. Rudal C-705 akan disandingkan dengan Yakhont sebagai senjata utama Angkatan Laut Indonesia.

ToT Rudal C-705 hadir di waktu yang tidak tepat??

Seperti kita ketahui bersama, berita ToT Rudal C-705 ini dilakukan “hampir bersamaan” dengan perkembangan konflik Laut Cina Selatan yang sedang memanas. Beberapa negara ASEAN yang terlibat konflik langsung dengan China dalam masalah Laut Cina Selatan ini tentu akan memandang sedikit aneh kepada Indonesia. Hal ini dikarenakan, Indonesia sebagai sebuah negara besar dan negara paling berpengaruh di ASEAN, “kelihatannya seperti” mendekat kepada China. Negara ASEAN seperti Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Brunai tentu bertanya-tanya, ada apa gerangan Indonesia begitu dekat dengan China. Disaat mereka “menentang” China, Indonesia malah menunjukkan sikap “persahabatan” dengan China.

Apakah ToT Rudal C-705 dari China ini hadir di waktu yang salah? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu sedikit susah, karena perlu analisa yang sangat mendalam dan panjang. Namun, sebagai Informasi, rencana Indonesia dalam membangun Rudal sendiri sudah berlangsung sejak lama, namun masih terkendala dalam membuat pemandu untuk mengarahkan rudal ke sasaran. Bahkan beberapa tahun yang lalu, ketika konflik Laut China Selatan belum panas, Indonesia sudah berencana melalukan ToT Rudal anti kapal C-802 juga dari China. Namun dari berbagai pertimbangan, akhirnya ToT rudal C-802 ini dibatalkan dan digantikan dengan ToT rudal C-705. Jadi terlihat bahwa ToT rudal C-705 ini sudah direncanakan Indonesia jauh hari sebelum memanasnya konflik Laut China Selatan. Hanya saja proses ToT ini baru mendekati kata sepakat bertepatan dengan memanasnya konflik laut cina selatan.

Rudal C-705 sebagai persiapan menghadapi potensial Konflik di masa yang akan datang.

Seperti sudah saya tuliskan sebelumnya bahwa ToT Rudal C-705 ini sudah direncanakan jauh hari sebelum memanasnya konflik LCS. Sehingga bisa dikatakan bahwa Indonesia sama sekali tidak bermaksud untuk membela China dalam konflik ini. Indonesia yang memiliki luat laut dan garis pantai yang sangat panjang, tentu memerlukan persenjataan mumpuni dalam menjaga kedaulatannya. Salah satu yang paling di butuhkan Indonesia adalah senjata anti kapal berupa rudal.

Kita mengetahui sendiri bahwa Indonesia saat ini memiliki beberapa potensial konflik dan dimasa yang akan datang bisa saja meletus kembali. Sebut saja Ambalat yang beberapa tahun lalu sangat panas dan hapir saja membawa Indonesia dan Malaysia kedalam konflik berkepanjangan. Selain itu kehadiran Marinir Amerika Serikat di Darwin, Australia berpotensi menjadi ancaman bagi Indonesia. Ditambah lagi akan hadirnya pangkalan militer AS/Australia di pulau Cocos yang cukup berdekatan dengan wilayah Indonesia. Selain itu, konflik perbatasan dengan Singapura yang masih terus melakukan reklamasi pantainya, juga berpotensi menjadi konflik Indonesia di masa yang akan datang.


Potensial konflik Indonesia di Masa yang akan datang


Selain itu, perkembangan militer China yang sedemikian pesanya membuat mereka ingin menjadi penguasa di Asia Pasifik. Amerika dan Australia yang selama ini sudah menjadi “penguasa tunggal” di Asia Tenggara, mulai kalah pengaruh di bandingkan China. Kedua kubu sedang berebut pengaruh secara ekonomi dan militer untuk menjadi penguasa di Asia Tenggara. Indonesia yang berada di tengah-tengah kedua kekuatan ini, tentunya akan menghadapi permasalahan yang besar jika suatu saat konflik antara kedua kubu terjadi. Untuk itulah Indonesia harus mempersiapkan diri jauh sebelum konflik itu terjadi.

Peningkatan kekuatan militer Indonesia adalah hal yang sangat mutlak untuk dilakukan. Dan ToT Rudal C-705 sebagai bagian dari proses menuju kemandirian Alutsista adalah sebuah langkah maju untuk menjawab tantangan tersebut diatas. Jadi jelas sekali bahwa konsern Indonesia dalam menerima ToT Rudal C-705 ini bukan untuk mendukung China dalam klaim mereka di Laut China Selatan, tetapi lebih kepada mempersiapkan Indonesia dari kemungkinan konflik di masa yang akan datang.

Ambalat, salah satu focus utama Indonesia dalam modernisasi Militer Indonesia.

Tidak bisa di pungkiri bahwa Ambalat adalah konflik paling nyata yang di hadapi Indonesia saat ini. Konflik ini memanas dari tahun 2005 sampai pada tahun 2009 yang lalu. Saat itu militer Indonesia masih sangat lemah karena pengaruh embargo militer yang dilakukan Amerika dan Sekutunya. Kini ketika militer Indonesia mulai bangkit, konflik ini mulai mereda. Bisa karena Malaysia mulai menyadari bahwa kekuatan Indonesia sudah mulai meningkat atau bisa jadi karena mereka focus kepada konflik Laut China Selatan dimana mereka harus berhadapan langsung dengan China. Namun konflik Ambalat ini, masih berpotensi pecah dalam waktu yang dekat, sehingga Indonesia harus benar-benar mempersiapkan diri apabila ini terjadi.

Dulu di tahun 2005 ketika konflik Ambalat ini pecah, Indonesia tidak siap secara militer karena masih dalam embargo militer. Maka kini Indonesia tidak boleh lagi lengah, militer Indonesia harus dikuatkan. Salah satunya adalah dengan ToT Rudal C-705 ini untuk meningkatkan efek gentar militer Indonesia khususnya angkatan laut.

Indonesia berkepentingan Mematahkan “Grand Design” Amerika atas Indonesia.

Seperti yang sudah saya tuliskan dalam artikel tentang konflik Laut China Selatan sebelumnya, selama ini terkesan bahwa Amerika menerapkan sebuah “Grand Design” agar kekuatan militer Indonesia akan selalu berada dibawah kekuatan militer Singapura, Australia dan Malaysia. Ini bisa dilihat dari sikap pemerintah Amerika dan Parlemennya, serta negara sekutu mereka yang sering sekali mempermasalahkan setiap akuisis alutsista yang hendak di beli Indonesia.

Hal ini berakibat militer Indonesia beberapa decade belakangan ini menjadi lebih lemah dari Singapura, Australia dan Malaysia. Namun kondisinya sekarang sudah berubah, Amerika yang mulai kehilangan pamor di Asia Pasifik serta China yang semakin kuat pengaruhnya membuat Amerika tidak lagi bisa memaksakan “Grand Design” tersebut kepada Indonesia. Hal ini ditandai dengan sikap AS yang bersedia memberikan Hibah 24 F-16 Block 25 ke Indonesia, bahkan dalam update terakhir hibah ini kemungkinana akan lebih dari 24 pesawat (mungkin sekitar 3 Skuadron F-16). Namun Indonesia yang sudah menghapal betul tingkah AS, tentunya tidak akan mau tunduk sepenuhnya atas “permainan” AS. Itulah sebabnya Indonesia bermain dengan China melalui program ToT Rudal C-705 ini. Ini sebagai sinyal jelas bagi Amerika bahwa Indonesia bukan lagi “mainan” AS. Indonesia tidak lagi bisa didikte dengan sesuka hati oleh Amerika. ToT Rudal C-705 adalah bukti nyatanya.

Menerima tawaran ToT Rudal dari China adalah salah satu bentuk “perlawanan” Indonesia atas “Grand Design” Amerika terhadap militer Indonesia. Dengan demikian Amerika tidak lagi bisa sembarangan mendikte Indonesia secara militer, karena kalau Amerika melakukan hal yang sama lagi, Indonesia akan berpaling kepada China yang akan membuat pengaruh Amerika di Asia Tenggara menjadi semakin lemah, sebaliknya pengaruh China akan semakin kuat.

Salahkah Indonesia mengedepankan kepentingan Nasionalnya dalam ToT Rudal C-705 ini?

Pertanyaan penting untuk kita renungkan bersama adalah Apakah Indonesia salah mengedepankan kepentingan Nasionalnya dalam ToT Rudal C-705 ini? Pertanyaan ini bukan saja di tujukan kepada warga Indonesia, tetapi juga kepada semua warga negara ASEAN terutama warga negara Malaysia, Vietnam, Filipina dan Brunai yang terlibat langsung dalam konflik Laut China Selatan. Hal ini penting untuk kita renungkan dan dalami sebelum kita menjawab apakah Indonesia sudah salah menerima ToT Rudal C-705 bertepatan dengan konflik Laut China Selatan yang sedang memanas.


Rudal c-705 yang di ToT China ke Indonesia


Mungkin bagi warga negara tetangga terutama yang terlibat langsung dalam Konflik dengan China, sikap Indonesia yang menerima ToT Rudal C-705 ini terasa sikap yang kurang bijak dan kurang menghargai perasaan negara tetangga. Namun Indonesia bukan negara yang tidak menghargai perasaan negara tetangganya. Indonesia tetap berusaha agar konflik ini bisa diselesai kan dengan cara damai dan secara diplomatis.

Berbicara mengenai menjaga perasaan tetangga, Indonesia sudah merasakan betul sakitnya hati sebuah bangsa yang disakiti oleh tetangganya. Ketika militer Indonesia sangat lemah karena embargo militer dari Amerika, para tetangga memanfaatkan kesempatan untuk “menyakiti” Indonesia. Sebut saja Malaysia yang melakukan provokasi militer di Ambalat di tahun 2005. Lalu ada Singapura yang terang-terangan melanggar kedaulatan Indonesia di perairan Natuna dengan melakukan latihan perang angkatan laut mereka dengan angkatan laut beberapa negara di wilayah Indonesia tanpa izin Indonesia. Di tambah lagi Australia yang berada dibalik lepasnya timor-timur dari Indonesia. Indonesia sudah hapal betul sakitnya disakiti tetangga. Untuk itulah Indonesia melakukan modernisasi militernya, untuk memastikan tidak ada lagi tetangga yang berani menyakiti harga diri Bangsa Indonesia.

Jadi salahkan Indonesia menerima ToT Rudal C-705? Saya rasa tidak. Rudal C-705 sangat diperlukan Indonesia untuk menjaga kedaulatan Indonesia, namun disamping itu Indonesia tetap akan menghargai perasaan negara tetangga dengan tetap mengusahakan konflik Laut China Selatan diselesaikan dengan cara damai dan tanpa kekerasan.

Kesimpulan Akhir

Bisa kita tarik kesimpulan bahwa ToT Rudal C-705 ini merupakan sebuah rencana besar Indonesia yang sudah lama sebelum konflik Laut China Selatan berkembang. ToT ini tidak dimaksudkan sebagai tanda bahwa Indonesia memihak China dalam konflik ini, Indonesia tetap berdiri pada posisi netral dan terus mengupayakan cara dan jalan damai dalam penyelesaian konflik ini. ToT Rudal C-705 ini adalah merupakan bagian dari ambisi besar Indonesia dalam mencapai kemandirian alutsista khususnya rudal yang selama ini belum di kuasai Indonesia. Selain itu, Rudal C-705 ini sangat diperlukan Indonesia dalam menghadapi potensial konflik yang sedang dan yang akan di hadapi Indonesia.



Sumber : Analisis

TNI Membutuhkan Rudal Jarak Jauh Untuk Melengkapi Arsenal Tempurnya

JAKARTA-(IDB) : Markas Besar TNI mengklaim rudal AGM-65K2 "Maverick All-Up-Round" sebagai bagian dari kebutuhannya. "Itu salah satu kelengkapan pesawat yang dibutuhkan oleh TNI," kata Kepala Pusat Penerangan Markas Besar TNI Laksamana Muda Iskandar Sitompul kepada wartawan, Senin, 27 Agustus 2012.

Namun Iskandar mengatakan akan menyerahkan rencana pembelian rudal itu pada Kementerian Pertahanan. "Tentu semuanya harus disesuaikan dengan anggaran yang ada, urusan itu biar Kemhan yang memutuskan," kata Iskandar.

Iskandar memastikan TNI memerlukan 18 paket peluru kendali pabrikan Raytheon Co ini. "Kalau punya pesawatnya, tentu harus dilengkapi dengan sistem persenjataan yang memadai," ujar dia.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyatakan persetujuannya untuk menjual perangkat rudal F-16 ke Indonesia. Berdasarkan nota yang dikirim pada Rabu pekan lalu itu, Indonesia disebut-sebut meminta paket 18 rudal jenis AGM-65K2 "Maverick All-Up-Round", 36 rudal untuk latihan para pilot, tiga rudal latihan "perawatan" beserta suku cadangnya, perlengkapan pengujian, serta latihan personal.

Rudal AGM-65 buatan Raytheon Co itu dirancang untuk menyerang target jarak jauh, termasuk kendaraan lapis baja, pertahanan udara, transportasi darat, dan fasilitas penyimpanan. "Penjualan ini akan menjadikan Indonesia mitra regional yang berharga di sebuah wilayah penting di dunia," kata Pentagon, seperti dikutip dari laman Business Recorder, Ahad 26 Agustus 2012. 

Pesawat Jet Tempur Tanpa Rudal Jarak Jauh Tak Ada Gunanya

Indonesia harus bisa memainkan posisi tawar dalam negosiasi pengadaan alutsista

Memperkuat persenjataan pada pesawat jet tempur F-16, adalah hal yang niscaya karena pesawat jet tempur tanpa dipersenjatai rudal terpandu jarak jauh, tidak ada gunanya .


Hal ini dikatakan oleh pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie, menyusul berita yang dilansir kantor berita Reuters dari Washington DC, Amerika Serikat pada Jumat (24/8),*yang melaporkan pemerintah Presiden Barack Obama, telah mengusulkan untuk menjual rudal terpandu jarak jauh dan peralatan terkait senilai 25 juta dollar Amerika, untuk melengkapi armada pesawat jet tempur F-16 yang dimiliki Indonesia.


“Pesawat jet tempur memang harus bisa menembak, tapi harus diperhatikan apakah hal ini memang sesuai dengan kebutuhan TNI Angkatan Udara sebagai penggunanya,” ujar Connie ketika dihubungi, Minggu (26/8).


Indonesia disebutnya harus bisa memainkan posisi tawar, yang lebih baik dalam negosiasii pengadaan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) dengan Amerika Serikat, mengingat Amerika Serikat memandang posisi strategis Indonesia, dan dianggap sebagai kekuatan pengimbang terhadap China di kawasan Asia.


Dalam hal ini dan dengan konteks sengketa di kawasan Laut China Selatan antara China, Taiwan dan empat negara anggota ASEAN, Connie mengatakan Indonesia dapat menggunakan posisi tawarnya, untuk meminta Amerika agar mendukung penguatan kekuatan militer Indonesia di laut dan tidak hanya di udara.


"Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk mendapatkan perjanjian kerjasama yang lebih baik untuk membangun armada laut baru, seperti Armada Pasifik dan Armada Lautan Hindia, sehingga melengkapi Armada Barat dan Armada Timur yang sudah ada,” ujar Connie.


Namun Connie mengatakan bahwa kebijakan politik luar negeri Indonesia bebas aktif, dengan semboyan one thousand friends zero enemy dapat menimbulkan kebingungan, untuk menentukan aliansi yang kuat dengan salah satu kekuatan besar di dunia, walau hal ini juga dapat digunakan untuk menjalin kerjasama yang lebih erat dengan Amerika dan China.


Connie memberikan contoh bahwa Indonesia dapat membagi kerjasama militernya dengan kedua negara tersebut, dalam membangun dan memperkuat armada laut, misalnya membangun Armada Barat dan Samudera Hindia dengan China, sementara Armada Timur dan Pasifik dengan Amerika.


“Ini akan membuat Indonesia sebagai negara dengan kekuatan pengimbang yang sebenarnya. Menurut saya, ini adalah gerakan non blok abad ke-21,” ujar Connie.


Sumber : Tempo

Pengamat: F16 dengan Rudal Jarak Jauh Bukan Upaya Ofensif

JAKARTA-(IDB) : Pengamat militer Salim Said mengatakan bahwa usulan pemerintah Presiden Amerika Serikat Barack Obama, untuk menjual rudal terpandu jarak jauh, untuk melengkapi armada pesawat jet tempur F-16 yang dimiliki Indonesia, bukan suatu upaya ofensif terhadap negara-negara tetangga Indonesia.

Sebelumnya pada Jumat (24/8, kantor berita Reuters melaporkan dari Washington DC, Amerika Serikat, pemerintah Presiden Barack Obama mengusulkan penjualan peralatan pertahanan militer dan peralatan terkait, senilai 25 juta dollar Amerika itu kepada Indonesia.


“Pemerintah Amerika tidak akan mengusulkan penjualan senjata itu dari awal bila senjata itu akan digunakan untuk agresi terhadap negara lain, karena Amerika pun punya kepentingan agar kawasan ini tetap damai,” ujar Salim, ketika dihubungi, Minggu (26/8).


Salim mengatakan tidak ada ancaman bagi Indonesia, dari luar dan Indonesia pun tidak berkonflik dengan negara lain.


Upaya negara yang dirintis oleh pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, untuk belanja alat utama sistem pertahanan (Alutsista), adalah semata-mata untuk peremajaan Alutsista militer Indonesia yang* telah lama tidak diperbarui.


“Hal itu untuk menjaga kedaulatan negara agar wilayah laut kita tidak dilanggar dan tidak ada pencurian ikan di laut kita, atau agar tidak ada intrusi dalam wilayah udara Indonesia,” ujar Salim.


Indonesia mempraktekkan kebijakan politik luar negeri bebas dan aktif dengan semboyan “satu juta teman, tidak ada musuh”, dan memproyeksikan peran sebagai penyambung pihak-pihak bersengketa, dan mediator dalam berbagai konflik regional maupun internasional.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Luar Negeri, Marty Natalegawa, mengatakan Indonesia selalu mengobarkan semangat perdamaian baik di tingkat kawasan Asia Tenggara, Asia maupun global.



Sumber : BeritaSatu

AS Jual Rudal AGM-65K2 Untuk Persenjatai F-16 indonesia Senilai $25 Juta

JAKARTA-(IDB) : Pemerintah Barack Obama mengusulkan menjual rudal udara-ke-permukaan dan peralatan terkait untuk melengkapi armada pertahanan Indonesia yaitu F-16, pesawat tempur buatan AS. Penjualan senilai 25 juta dolar itu akan menjadi langkah terbaru AS untuk memperkuat hubungan keamanan dengan sahabat dan sekutunya, menyusul mencuatnya kekuatan China.

Usulan itu disampaikan pemerintah Obama kepada Kongres dalam surat pemberitahuan bertanggal Rabu 22 Agustus 2012, demikian diberitakan Reuters, Minggu (26/8/2012).

Dijelaskan, Indonesia ingin membeli 18 rudal AGM-65K2 "Maverick All-Up-Round", 36 rudal pelatihan udara, 3 rudal pelatihan untuk pemeliharaan, ditambah suku cadang, peralatan uji dan pelatihan personel.

Rudal AGM-65 Maverick buatan Raytheon Co, dirancang untuk menyerang berbagai sasaran taktis, termasuk kendaraan lapis baja, pertahanan udara, kapal, transportasi darat dan fasilitas penyimpanan bahan bakar.

"Angkatan Udara Indonesia membutuhkan rudal ini untuk melatih para pilot F-16-nya dalam penggunaan senjata udara-ke-permukaan," kata Badan Kerjasama Hankam, Pentagon, dalam suratnya.

"Penjualan senjata ini akan berkontribusi untuk membuat Indonesia sebagai "mitra regional yang lebih berharga di wilayah paling penting di dunia," tulisnya.

Berdasar hukum AS, usulan penjualan senjata wajib diberitahukan kepada Kongres dan tidak berarti penjualan telah dikabulkan.

Tahun lalu, AS menghibahkan 24 F-16 C/D seken kepada Indonesia untuk memperkuat hubungan bilateral dan mendorong apa yang Pentagon sebut kemampuan yang "sangat dibutuhkan" untuk melindungi wilayah udara Indonesia.

Indonesia harus merogoh kocek 750 juta dollar untuk meremajakan (upgrade) pesawat itu dari block 25 menjadi 52 dengan teknologi terbaru. Pesawat itu akan tiba di Indonesia pada 2014. Hibah itu diumumkan oleh Presiden Amerika Barack Obama dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bali tahun silam.

Sementara, bulan Agustus ini AS juga menawari hibah 10 pesawat F-16. Indonesia yang senang dengan tawaran ini akan meminta persetujuan DPR lebih dulu, mengingat ongkos yang besar untuk mendandaninya


Sumber : Detik

Indonesia Requests 18 AGM-65K2 Maverick

23 Agustus 2012

AGM-65 Maverick, air to ground missile (photo : Defencetalk)

WASHINGTON – The Defense Security Cooperation Agency notified Congress August 21 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Indonesia for 18 AGM-65K2 MAVERICK All-Up-Round Missiles and associated equipment, parts, training and logistical support at an estimated cost of $25 million

The Government of Indonesia has requested a possible sale of 18 AGM-65K2 MAVERICK All-Up-Round Missiles, 36 TGM-65K2 Captive Air Training Missiles, 3 TGM-65D Maintenance Training Missiles, spare and repair parts, support equipment, tool and test equipment, personnel training and training equipment, publications and technical data, U.S. Government and contractor technical and logistics personnel services and other related elements of program and logistics support. The estimated cost is $25 million.

This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by helping to improve the security of a friendly country which has been, and continues to be, an important force for political stability and economic progress in Southeast Asia.

The Indonesian Air Force (IAF) needs these missiles to train its F-16 pilots in basic air-to-ground weapons employment. The quantities in the proposed sale will support the IAFs existing fleet of 10 F-16s, as well as the 24 F-16s being provided as Excess Defense Articles. The proposed sale will foster continued cooperation between the U.S. and Indonesia, making Indonesia a more valuable regional partner in an important area of the world.

The proposed sale of this equipment will not alter the basic military balance in the region.
The principal contractors will be Raytheon Missile Systems in Tucson, Arizona. There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.

Implementation of this proposed sale will not require the assignment of additional U.S. Government or contractor representatives to Indonesia.

There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.
This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.

Harpoon Block II Firing a First for Navy Capability

22 Agustus 2012

An upgraded Harpoon Block II missile is launched successfully from HMAS Perth off the United States coast. (all photos : RAN)

Navy’s high end war fighting capability has been given a major boost, with the successful firing of a Harpoon Block II Missile.

The missile was fired at a land target at the United States Missile Range Facility at Point Mugu California from HMAS Perth during the Anzac Class Frigate’s recent deployment to the United States.


Commodore Warfare, CDRE Stuart Mayer says the importance of the test firing shouldn’t be understated.

“These firings significantly increase the versatility and potency of one of the Navy's key weapons systems,’ CDRE Mayer told Navy News.

“We now have the ability to conduct long range attacks against land targets or ships operating in the littoral space. The demonstration of this capability and the successful upgrade of the ship’s systems to accommodate the advanced harpoon missile make a great contribution to Navy’s ability to project power to fight and win at sea and support forces ashore.”


The firings were planned in detail by the recently formed Australian Maritime Warfare Centre (AWMC), which operates from Garden Island, Sydney. The AMWC is the centre of extensive maritime warfare subject matter expertise and corporate knowledge. A specialist weapons test team from the AMWC embarked in Perth to oversee the firings.

Commanding Officer HMAS Perth CAPT Mal Wise says the firing was a major highlight for his crew. “We launched the first harpoon against a land-based target and the second against a moored target very close to the beach. Both missiles hit their marks, “CAPT Wise said.

“We knew we were playing a key role in what was a very significant event. There was a lot at stake. So when we received confirmation that the Missile had hit the target, the team was very excited and more than a little relieved. This success represents a great deal of hard work and focused effort by the Crew of Perth”


The firing is the culmination of two inter-related projects. Project C 1348 Phase A sought to deliver a Harpoon firing capability to Anzac Class Frigates. Joint Project One Phase R aimed to upgrade the Harpoon to a Block Two Standard.

Prior to the firings, HMAS Perth completed the first phase of an upgrade to improve her weapon systems and sensor arrays. The improvements under the Anti-Ship Missile Defence (ASMD) upgrade include a new Australian designed and built digital Active Phased Array Radar and increased performance for the existing combat management system. On 28 November 2011 the Government announced that the ASMD upgrade would be fitted to all Anzac Class frigates over the next five years.

HMAS Aruntais the second ship to undergo the ASMD conversion which began at BEA Henderson in Western Australia in April this year.

(RAN)

Perisai Anti Rudal di Teluk Persia Dan Upaya AS Sudutkan Iran

WASHINGTON-(IDB) : Patrick Ventrell, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat saat mereaksi laporan Koran Washington Post menekankan bahwa Gedung Putih akan tetap melanjutkan upayanya untuk membangun sistem anti rudal di selatan Teluk Persia. Koran Washington Post merilis laporan yang menunjukkan Amerika tengah melakukan perundingan dengan para emir Arab di selatan Teluk Persia. Washington tengah membujuk para pemimpin Arab ini untuk mengijinkan pembangunan perisai anti rudal.
 
Hillary Clinton sejak awal menjabat menlu Amerika telah menggelontorkan ide ini. Clinton di sidang Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) bulan Maret lalu juga berusaha meyakinkan para pemimpin Arab untuk membangun sistem ini. Di lawatan terbarunya ke Arab Saudi, Clinton juga berunding dengan Riyadh terkait pembentukan sistem anti rudal.
 
Sementara itu, Republik Islam Iran langsung memberikan reaksinya atas rencana Amerika ini. Melalui Menteri Pertahanannya, Ahmad Vahidi, Iran mengecam rencana Washington untuk membangun perisai anti rudal di Teluk Persia. Tehran menilai rencana Gedung Putih tersebut dapat mengancam keamanan regional.
 
Tak hanya Iran yang protes atas rencana AS ini, Rusia yang dikenal rival utama Amerika juga melayangkan protesnya. Alexei Pushkov, ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Deplu Rusia mereaksi rencana Washington dan menyebutnya sebagai bentuk pengumuman perang. Sementara itu, Amerika Serikat di agenda kerjanya berusaha menekan Tehran agar mengubah kebijakan luar negerinya dan mengakhiri program nuklirnya.
 
Untuk mensukseskan ambisinya ini, AS tengah membentuk front anti Iran di Teluk Persia. Amerika berusaha membentuk opini jelek terkait Iran bagi negara-negara Arab dan mencitrakan Tehran sebagai ancaman bersama bagi negara Arab. Strategi musuh bayangan akan membantu Washington untuk mengubah friksinya dengan Iran menjadi friksi yang multi.
 
Adapun para pemimpin Arab memprioritaskan kerjasama militer dengan Amerika dengan tujuannya tersendiri. Maraknya gelombang kebangkitan Islam di kawasan selatan Teluk Persia membuat para diktator Arab ketakutan. Saat ini Bahrain, salah satu negara kecil Arab tengah dirundung gelombang protes rakyat yang menuntut reformasi serius. Di sisi lain, posisi Bahrain yang menjadi pangkalan armada kelima AS membuat aksi rakyat tidak mendapat tanggapan dari Barat.
 
Seluruh pemimpin Arab di Teluk Persia berharap dengan menjalin kerjasama militer dengan Amerika, mereka memperoleh dukungan dari Washington. Mereka mengharapkan Washington mendukun pemerintahan mereka atau paling tidak bunkam atas aksi penumpasan gerakan revolusi rakyat. Oleh karena itu, kita menyaksikan sikap antusias negara Arab untuk menjadi tuan rumah armada laut AS atau memperkuat kerjasama militer bilateral dengan Washington.
 
Uni Emirat Arab sendiri memberikan pelayanan kepada kapal induk Amerika Serikat di pelabuhan Jebel Ali. Pangkalan udara Emirat, al-Dhafra juga menjadi pusat sistem pertahanan rudal yang diinginkan Amerika Serikat. Pangkalan militer el-Udeid di Qatar menjadi pusat komando Amerika Serikat bagi pasukan sekutu. Kuwait selain memberika Camp Arifjan sebagai gudang militer AS juga menyerahkan sebagian pangkalan udara Ali al-Salem bagi pesawat tempur Amerika Serikat. 


Sumber : Irib

U.S. Approved the Sale of 9 ESSM to Thailand

09 Agustus 2012

ESSM medium-range surface-to-air missile (photo : Defense Industry Daily)

WASHINGTON – The Defense Security Cooperation Agency notified Congress August 7 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Thailand for nine Evolved SEASPARROW Missiles (ESSM) and associated equipment, parts, training and logistical support for an estimated cost of $18 million.

The Government of Thailand has requested a possible sale of nine Evolved SEASPARROW Missiles (ESSM); three MK25 Quad Pack canisters; and four MK783 shipping containers; spare and repair parts; support and test equipment; publications and technical documentation; personnel training and training equipment; U.S. Government and contractor engineering; technical and logistics support services; and technical assistance and other related elements of logistical and program support. The estimated cost is $18 million.

This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United States by increasing the ability of Thailand to contribute to regional security and improving interoperability with the U.S. Military in operational and exercise scenarios. It is consistent with U.S. national interests to assist Thailand in developing and maintaining a strong and ready ship self-defense capability which will contribute to the military balance in the area.

ESSM provides ship self-defense capability. The proposed sale will add to Thailand’s capability to meet current and future threats from anti-ship weapons.

The proposed FMS case includes support equipment, training and technical assistance required for the RTN to effectively incorporate the ESSM into its fleet. With this support, the RTN will have no difficulty absorbing the ESSM into its frigates and being fully operational.

The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.

Implementation of this proposed sale will not require the assignment of any additional U.S. Government or contractor representatives to Thailand.

The prime contractors will be Raytheon Missile Systems in Tucson, Arizona and BAE Systems in Aberdeen, South Dakota.

There are no known offset agreements proposed in connection with this potential sale.

There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale. This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.

Fateh 110, Mimpi Buruk AS dan Israel

TEHRAN-(IDB) : Iran mampu mencapai teknologi rudal-rudal dengan daya tempuh 2.000 kilometer yang dapat menjangkau wilayah Palestina pendudukan (Israel). Akan tetapi para pejabat Republik Islam menyatakan bahwa untuk sementara ini Tehran tidak memerlukan jenis rudal dengan daya tempuh seperti itu. Rudal-rudal yang ada saat ini sudah dapat menjawab tuntutan Iran.
 
Untuk saat ini, Fateh 110, menjadi rudal balistik andalan Iran. Rudal ini memiliki keakuratan tinggi dengan prediksi tingkat kemelesetan hanya sampai 10 meter. Rudal tersebut juga dapat digunakan menghancurkan sistem perisai rudal dan sistem radar musuh di kawasan. Dengan hulu ledak yang mencapai setengah ton, rudal Fateh 110 menjadi mimpi buruk bagi pangkalan dan pusat-pusat strategis Amerika Serikat di sekitar Iran.
 
Tipe laut rudal ini bernama Khalij-e Fars yang termasuk jenis rudal supersonik Iran dan mampu menarget kapal-kapal besar musuh dan juga pangkalan-pangkalan Amerika di kawasan (terdekat berjarak 70 kilometer dari perbatasan Iran dan yang terjauh 120 kilometer).
 
Fateh 110, masuk dalam barisan rudal balistik strategis jarak pendek dengan daya jelajah mencapai 300 kilometer. Menggunakan motor satu tahap dan bahan bakar padat, Fateh 110 adalah tipe terbaru dari rudal yang telah dikembangkan 10 tahun lalu sejak generasi pertamanya diproduksi.
 
Pada generasi sebelumnya, fitur-fitur konvensional seperti kecepatan pengoperasian dan peluncuran, kekuatan destruksi, dan keakuratan, telah terbukti. Namun sekarang selain fitur-fitur tersebut, Iran menambahkan kemampuan rudal Fateh 110 untuk menghancurkan berbagai tipe target di laut dan darat. Keunggulan lain Fateh 110 adalah memiliki sistem pendeteksi built-in dalam membantu  meningkatkan kontrol dan keakuratannya. Rudal ini telah diuji coba dan terbukti bahwa tingkat kemungkinan kemelesetannya hanya sampai 10 meter.
 
Alasan mengapa Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel dalam beberapa tahun terakhir berupaya memasang dan meningkatkan kemampuan sistem radar dan anti-rudalnya, sejatinya harus ditelusuri dalam perkembangan pesat yang dicapai Republik Islam di bidang ini. Khususnya Israel yang sudah pernah merasakan mimpi buruk penembakan roket dan rudal jarak dekat Hizbullah Lebanon pada Perang 33 Hari, mereka mengetahui dengan baik apa makna dari kemajuan Iran di bidang ini.
 
Dengan ditembakkannya rudal dari Iran menuju target-target Amerika dan Israel, sistem perisai rudal musuh akan melacak dan mengirim informasi terkait rute, daya tempuh dan targetnya akan kepada sistem anti-rudal untuk kemudian diambil langkah-langkah penangkalan. Namun proses tersebut belum diujicoba dengan rudal Iran. Rezim Zionis pernah berusaha mencoba mensimulasikannya dan gagal.
 
Terkait hal ini, para pejabat angkatan bersenjata Iran berulangkali menekankan bahwa sistem-sistem perisai rudal musuh tidak akan mampu berbuat menghadapi penembakan rudal secara massif dari Republik Islam Iran. Militer Iran juga telah menyusun berbagai skenario untuk melumpuhkan sistem perisai anti-rudal musuh dan akan membuktikan ketidakefektifan sistem tersebut ketika perang.  
 
Belum selesai, Brigjen Amir Ali Hajizadeh, Panglima Angkatan Udara Pasdaran (IRGC) beberapa waktu lalu menyatakan bahwa dalam waktu dekat Iran akan memperkenalkan rudal balistik siluman baru yang dapat menjangkau target di radius 300 kilometer.
 
Israel yang bahkan tidak mampu mengalahkan Hizbullah Lebanon dalam Perang 33 Hari, kini berkoar akan menyerang Iran jika sanksi dan tekanan tidak mampu memaksa Republik Islam Iran menghentikan program nuklirnya. Fateh 110 menjawab klaim dan ancaman rezim Zionis.


Sumber : Irib

Jika Tidak Terkendala Indonesia China Teken Pembelian Rudal C-705 Maret 2013

JAKARTA-(IDB) : TNI Angkatan Udara mengaku belum mengetahui rencana Kementerian Pertahanan untuk membeli misil C705 dari Cina. “Belum pernah dengar,” ujar Kepala Dinas Penerangan Umum TNI AU Marsekal Pertama Azman Yunus pada Sabtu, 4 Agustus 2012.

Sebelumnya, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Hartind Asrin menyatakan, pemerintah berencana untuk membeli misil C705 dari Cina. Rudal seberat 300 kilogram dengan daya jelajah sejauh 135 kilometer itu sudah diujicobakan sebanyak dua kali di Selat Sunda. “Sudah pernah diujicoba dan efektif,” kata Hartind.

Sebelum 2014, rudal anti kapal seberat 300 kilogram ini ditargetkan sudah tiba di Indonesia. Selain rudal, pemerintah juga membeli sistem roket, UAV dan misil tanggung berjarak 60 meter KS 1A dari militer Cina. Khusus untuk misil C705, pemerintah meneken kontrak selama delapan tahun, dengan imbalan transfer teknologi. Untuk itu, pemerintah akan membangun pabrik rudal di Indonesia.

Perjanjian sejenis juga diteken Kementerian Pertahanan dengan Korea Selatan dalam pembelian pesawat tempur dan kapal selam. Pada 2013, pesawat tempur KFX/IFX buatan bersama teknisi Indonesia dan Korea Selatan diharapkan sudah tiba di tanah air.

Saat ini, ada puluhan teknisi PT Dirgantara ada di Korea mempelajari desain dan teknik pembuatan jet itu. Dua tahun berikutnya, pada 2015, kapal selam Indonesia buatan Daewo Shipbuilding Marine Engineering juga akan rampung. Untuk proyek ini, Korea melibatkan 30 teknisi dari PT PAL.

Pada 30 Agustus 2012 mendatang, Cina akan memberikan proposal tahap pertama yang berisi spesifikasi teknis rudal ini. Jika tak ada halangan, pemerintah akan meneken kontrak pembelian misil C-705 pada 1 Maret 2013.

Azman mengaku belum mengetahui rencana Kemenhan itu. “Mungkin masih penjajakan awal, tapi ya silahkan saja kalau ternyata memang ada rencana pembelian,” kata dia.  


Sumber : Tempo