Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roket. Tampilkan semua postingan

Lapan Kembali Akan Uji Roket RX-550

GARUT-(IDB) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali menyempurnakan kemampuan roket RX-550 yang segera diluncurkan pada 2013 mendatang.

Dalam persiapannya itu, LAPAN kembali melakukan uji statik motor roket RX-550 yang akan dilakukan pada Sabtu( 29/9) di Kecamatan Pangmeungpek, Kabupaten Garut. Sejumlah alat instalasi mulai dipasang pada roket RX-550 tersebut. Kepala Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN Sudihartono menyebutkan,beberapa alat tersebut terdiri dari alat untuk mengukur daya dorong, tekanan, vibrasi, tempratur, dan data visual.


Sejumlah peralatan itu, kata Sudi, akan menentukan apakah motor roket senilai Rp5 miliar ini akan layak menjalani uji terbang atau tidak di 2013 nanti. ”Roket RX-550 sendiri masih dalam tahapan penelitian dan penyempurnaan. Di 2011 lalu,kami sempat melakukan uji statik.Namun,karena tidak sempurnanya struktur material pada bagian nossel motor roket saat itu, RX-550 masih belum bisa dikatakan layak uji terbang. Sekarang, uji statik motor pendorongnya akan kita lakukan kembali,”kata dia.

Sudi mengungkapkan, belum sempurnanya struktur komponen nossel motor roket disebabkan terbatasnya kualitas material logam.Saat itu, logam pada komponen nosselmotor roket hanya memiliki ketebalan 3 mm. ”Idealnya, ketebalan struktur material 6 mm. Sedangkan kondisi saat itu ketebalannya hanya 3 mm.Jadi yang seharusnya material itu bisa menahan panas sebesar 3.000 derajat celcius selama waktu pembakaran propelan sekitar 14 detik, ini malah hanya tahan dalam waktu 7 detik saja.Akibatnya,saat memasukidetikke 8,material nossel robek dan pecah,”ungkapnya.

 Seperti diketahui, nama roket RX-550 diambil dari diameter motor roket yang berdiameter 550 milimeter. Panjang motor roket setidaknya mencapai 6 meter. Sedangkan panjang keseluruhan roket bisa mencapai 9 meter lebih. Fungsi khusus roket RX-550 adalah sebagai pendorong (booster) utama yang akan membawa satelit ke luar angkasa dengan kapasitas bahan bakar jenis HTPB (hydroxyl toluen poly butadiene) sebanyak 1,8 ton.

 Roket ini diprediksi memiliki jarak tempuh sejauh 150 km dengan jangkauan sepanjang 300 km. Roket RX-550 merupakan penyempurnaan beberapa roket produksi Lapan sebelumnya, yaitu RX- 420 di tahun 2009 dan RX-320 di tahun 2008. Karena belum bisa menjangkau target yang ditetapkan, kedua roket itu pada akhirnya disempurnakan kembali melalui proyek pembangunan roket RX-550.

Dana pembangunan roket RX-550 ini sebesar Rp5 miliar. Di bagian lain,Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN Clara Yono Yatini mengatakan, saat ini hanya ada 30 peneliti astronomi, itu pun terpusat di LAPAN. “Sebetulnya banyak, hanya saja kemungkinan penghargaan di dalam negeri terhadap mereka (peneliti antariksa) kurang,”katanya. 



Sumber : Sindo

AS Tolak Kontrak Pembelian Javelin Oleh India

WASHINGTON-(IDB) : Pemerintah Amerika Serikat menolak kontrak pembelian roket anti tank Javelin kepada India. Tak hanya itu Washington juga melarang tim ahli India menguji coba Javelin dan penggapain teknologi ini oleh New Delhi. Dengan demikian kontrak tersebut terkatung-katung selama dua tahun.
 
Seperti dilaporkan IRNA, India tengah berusaha membeli generasi ketiga roket anti tank Javelin demi meremajakan 350 unit infantrinya serta membantu kemampuan mereka merusak barisan musuh.
 
Sumber-sumber New Delhi hari Ahad (23/9) menyatakan, Amerika menolak memberikan teknologi canggih ini kepada India. Tak hanya itu, AS juga enggan menyerahkan Javelin kepada tim ahli India untuk diteliti.
 
Menurut sumber ini, selama isu ini tidak terselesaikan maka pembelian dalam jumlah besar roket Javelin bagi India akan semakin sulit.
 
Sementara itu, perusahaan yang memproduksi Javelin, Raytheon menyatakan, pihaknya tetap komitmen dengan kontrak antara India dan Amerika tersebut, dan siap menjawab permintaan petinggi New Delhi untuk mengujicoba roketnya.
 
Javelin diproduksi oleh perusahaan Raytheon and Lockheed Martin, namun penjualannya harus melalui pemerintah Amerika Serikat.
 
Setelah Menteri Pertahanan India, A K Antony tahun 2010 menyatakan bahwa surat permohonan alih teknologi roket Javelin harus dikirim ke AS, maka proses transaksi ini terkatung-katung selama dua tahun. 




Sumber : Irib

Cabinet Approves 1.499 Budget for Rocket Research

05 September 2012

DT-1 multiple launched rocket systems (photo : Analayo)

BANGKOK - The Council of Ministers with the Prime Minister Ms. Yingluck Shinawatra has approved the funding for a research project to develop a multi lauched rocket missiles systems DT1-1G Phase 1 which the Ministry of Defence presented to the Cabinet meeting. Total budget 1,499,943,634 per year implementation period from 2012 to 2014.

The study was carried by The Defence Technology Institute Ministry of Defence -Thailand and the expertise of the China National Precision Machinery Import & Export Corporation (CPMIEC) of China as a consultant.

After the meeting is finished, no statement regarding this decision in any way.

Tahun Ini, Indonesia Luncurkan Roket Rx 550 Dengan Daya Jelajah 300 KM

JAKARTA-(IDB) : Indonesia siap meluncurkan roket RX-550 (Kaliber 550mm) dengan jangkauan 300 kilometer yang akan membawa peralatan pengukur atmosfer. Rencananya, roket tersebut akan diluncurkan tahun ini.

"Kita sedang mengembangkan roket RX-550 dan siap meluncurkannya tahun ini," kata Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta, dalam jumpa pers tentang peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-17 di Jakarta, Jumat (3/8).


Menurutnya, roket RX-550 yang merupakan roket terbesar yang pernah dikembangkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menjadi bukti atas kemampuan bangsa Indonesia mengembangkan teknologi tinggi.


Sementara itu, Kepala Lapan Bambang Tedjasukmana mengatakan, setelah Idul Fitri atau sekitar akhir Agustus-September pihaknya akan melakukan uji statik roket RX-550 untuk yang kedua kalinya.


"Uji statik roket ini merupakan uji di darat untuk mengetahui kinerjanya misalnya daya dorongnya saat akan tinggal landas, atau kemulusannya saat dinyalakan," katanya.


Setelah uji statik bisa dilalui, RX-550 akan diuji terbang, agar tahun depan roket ini bisa diluncurkan, ujarnya.


Untuk peluncuran tersebut, ujar Bambang, pihaknya akan bekerja sama dengan Pemda Morotai, Maluku Utara, karena RX-550 akan diterbangkan dari Morotai yang lokasinya sangat bagus untuk peluncuran roket.


"Morotai itu langsung menghadap Pasifik, jadinya roket Sonda ini akan langsung dilepas di atas samudra Pasifik untuk keperluan pengukuran atmosfer," katanya.


Mobil Listrik


Menristek dalam kesempatan sama juga menyebutkan bahwa Indonesia menargetkan sudah bisa memproduksi mobil listrik sendiri pada 2018, setelah prototipe produksi dihasilkan.


"Saat ini kita baru di level lima dari sembilan level yang harus dilalui dalam technology readyness level," katanya.


Soal mobil listrik, ujarnya, segala komponennya sudah siap dibuat di dalam negeri, selain itu pemerintah juga sudah siap membangun stasiun-stasiun pengisian energi listrik bagi batere mobil tersebut, namun komponen baterenya yang masih tergantung pada impor akan terus dilakukan riset. 


Sumber : Metrotvnews

MLRS Astros II Sang Kandidat Untuk Armed TNI AD

astros2 Dari Super Tucano ke Astros II
MLRS Astros 2 Brazil
JKGR-(IDB) : Pengkajian tentang Multiple Launch Rocket System (MLRS) yang harus dibeli TNI AD, sudah berlangsung panjang. User di perbatasan Kalimantan juga sudah berteriak-teriak menginginkan MLRS segera datang, untuk mengimbangi kekuatan militer yang digelar Malaysia di perbatasan. 
 
Peninjauan MLRS ke negeri pembuatnya pun telah dilakukan, antara lain ke China dan Brazil. Namun peluncur roket multi laras mana yang dibeli, belum juga ketahuan. 
 
Kementerian Pertahanan dan TNI AD sepaham bahwa MLRS harus mengisi alutsista satuan Armed, untuk mengejar Pembangunan Kekuatan Minimum (Minimum Essential Force) TNI AD 2010-2029. Armed harus berdaya dan mampu meladeni/melenyapkan potensi ancaman ke pasukan infanteri yang sedang bergerak di medan perang. Untuk itu Armed Kostrad ini, memerlukan alutsista yang modern, jarak jangkau yang jauh, berdaya ledak besar dan mobile. 

astros ii foto avibras Dari Super Tucano ke Astros II
Astros 2 Brazil
Kandidat MLRS tersebut adalah: Astros II Brazil, Himars Amerika Serikat, T-122/300 Turki dan WS-2 China. Kandidat terkuat dari semua itu adalah Astros II Brazil. Dari segi harga Astros II lebih mahal dibandingkan T-122 Sakarya Turki, namun MLRS Brazil memiliki keunggulan: daya jangkau, daya hancur, berteknologi modern, anti-serangan zat kimia dan biologi, serta bisa diangkut hercules c-130. Brazil pun siap berbagi teknologi dengan PT Pindad, untuk lapis baja pengangkut MLRS Astros II. 
 
Kandidat lain yang diajukan TNI ke Kementerian Pertahanan adalah T-122/300 Turki. Namun dari segi kualitas MLRS Turki ini, jauh di bawah Astros II, walau harganya lebih murah. MLRS Turki ini juga tidak bisa langsung diangkut oleh Hercules, kecuali sebagian komponennya dilepas terlebih dahulu. Secara Teknologi MLRS T-122/300 Turki hampir sama dengan WS-1 China. T-122 Sakarya Turki mengadopsi MLRS BM-21 Grad yang sudah jadul, produksi tahun 1964. Bahkan Rusia sendiri telah mengeluarkan varian terbaru BM-30 Smerch, yang juga telah ditolak oleh Indonesia. 

t122 sakarya Dari Super Tucano ke Astros II
MLRS T-122 Sakarya, Turki
TNI AD sendiri menginginkan MLRS Astros II untuk mengisis alutsista Armed Kostrad. 
 
Saingan Astros II adalah Himars. namun, Himars tampaknya akan dikesampingkan karena harganya terlalu mahal, sehingga dari sisi kuantitas tidak masuk ke dalam jumlah minimum yang dibutuhkan. 
 
Melihat lancarnya proses pembelian pesawat Super Tucano ke Brazil, peluang lolosnya MLRS Astros II mejadi MLRS Armed, semakin besar. 

 Apalagi tim Kemenhan dan TNI AD telah meninjau MLRS tersebut ke Brazil.

Astros II


ASTROS rockets Dari Super Tucano ke Astros II
Berbagai Munisi Astros 2
Astros II (Artillery Saturation Rocket System) dikembangkan oleh Avibras Aerospacial SA, Sao Paulo, Brazil sejak tahun 1983, dan telah digunakan Angkatan Darat Brazil, Arab Saudi, Qatar dan Malaysia. 
 
Arab Saudi menggunakan MLRS Astros II dalam perang Irak-Koalisi tahun 1991. Pada tahun 2002, Malaysia membeli 18 unit Astros II dan kembali melakukan pembelian 18 Astros II di tahun 2007.
 
Astros II menembakkan lima jenis roket dengan kaliber yang berbeda dari ukuran 127 mm hingga 300 mm. MLRS ini bisa menembakkan 3 baterai sekaligus, untuk target yang ditetapkan command and control lewat radar dan komputer. 

Astros II bisa digunakan sebagai rudal anti-kapal di pertahanan garis pantai dengan cara dikombinasikan dengan AV-CBO, yakni radar mobile penjejak kapal.

astros 2 malaysia Dari Super Tucano ke Astros II
Astros 2, Malaysia
Satu grup MLRS Astros II terdiri dari satu mobil command and control vehicle/fire control beserta dua mobil peluncur roket dan amunisi. 
 
Untuk roket caliber 127mm (SS-30), Astros II menembakkan 32 roket sekaligus dengan jarak jangkau 9- 30 km. Untuk roket kaliber 180mm, memuat 16 roket dengan jarak tembak 15-35km. 
 
Sementara untuk roket kaliber 300mm, memuat 4 roket dengan jarak tembak 20- 80 km. Selain dilengkapi armour protection, MLRS ini bisa dioperasikan malam hari dan bisa menyasar berbagai jenis target.
 
astros 2 missile1 Dari Super Tucano ke Astros II
Misil Astros II, 300 Kilometer
Avibras Aerospacial telah mengembangkan misil yang ditembakkan melalui Astros II dengan jangkauan 300 km dengan memuat berbagai jenis hulu ledak. 

Kendaraan pengangkut roket multi laras ini, lapis baja 6×6 dengan kecepatan maksimum 90km/ jam atau setara dengan mesin diesel Mercedes-Benz 280hp.

Kita tunggu kedatangan MLRS Astros II. Semoga tidak ada kejutan kali ini. 

Maksudnya, jangan sampai Astros II yang ditunggu kedatangannya, namun yang muncul malah yang lain, kecuali diganti Himars. 

Transfer of technology (ToT) memang sangat penting, seperti yang ditawarkan oleh produsen T-122/300 Turki. Namun kualitas alutsista juga tidak kalah penting. 

Jangan sampai demi mengejar transfer of technology, semua alutsista “di-ToT-kan” yang mengakibatkan kualitas alustista meleset dari keinginan user. 


Sumber : JKGR

TNI AD Uji Coba Roket 130mm

30 Juni 2012

Kegiatan uji coba penembakan roket M-51 kaliber 130mm (all photos : Pussenarmed)

Bertempat di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Martapura di Baruraja, Sumatera Selatan TNI AD melakukan kegiatan uji coba penembakan roket 130 mm, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 23 Juni hingga 6 Juli 2012.


TNI AD mempunyai inventaris peluncur roket multilaras 130mm buatan Cekoslowakia jenis    M-51/RM-130 dari pengadaan yang dilakukan pada tahun 1960-an. Sistem yang terpasang di atas kendaraan truk V-3S ini terdiri dari 8x4 tabung peluncur roket yang dapat menembakkan roket dengan hulu ledak HE-Frag hingga jarak 8,2 km.



Batalyon roket TNI AD yang pernah mengoperasikan MLRS ini adalah Yonarmed 9 Kostrad berkedudukan di Cimahi (kemudian pindah ke Purwakarta). Keberhasilan uji coba ini menunjukkan bahwa MLRS dari tipe M-51 masih terawat dengan baik.
Selain roket M-51 TNI AD diketahui juga menggunakan peluncur roket multilaras NDL-40 (roket kaliber 70mm) dengan jangkauan 6-8 km buatan PT Dirgantara Indonesia dan R-Han 122 (roket kaliber 122mm) dengan jangkauan 14 km buatan PT Pindad.


Seiring dengan tuntutan perkembangan strategis, batalyon roket TNI AD rencananya akan dilengkapi alutsista canggih dengan jarak jangkau yang lebih jauh. Termasuk dalam seleksi pengadaan adalah MLRS buatan Amerika, Brazil, China, Polandia, Turki dan Rusia

(Pussenarmed/Defense Studies)

Indonesia Segera Hilangkan Ketergantungan Roket Luar Negeri

JAKARTA-(IDB) : Ketergantungan Indonesia terhadap roket buatan luar negeri untuk pertahanan sangat besar. Saat ini Indonesia akan memproduksi 1.000 roket dengan nama R-Han 122.

Roket ini merupakan roket pertahanan kaliber 122 yang sudah ada hulu ledaknya. Roket yang akan diproduksi tersebut memiliki jangkauan 15-20 kilometer.

"Kita akan produksi 1.000 roket dengan nama R-Han 122. Roket berhulu ledak ini merupakan roket pertahanan kaliber 122," kata staf ahli pertahanan dan keamanan Kemenristek RI, Ir. Hari Purwanto, M.Sc dalam Focus Group Discussion "Pemanfaatan Teknologi Litbangyasa untuk Roket Uji Muatan" di KPTU Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (7/6/2012).

Menurut Hari, roket ini akan dimanfaatkan untuk menggantikan roket yang dibeli dari luar negeri. Produksi roket hasil pengembangan Lembaga Antariksa Nasional (LAPAN) tersebut akan dimanfaatkan untuk pertahanan negara.

Hari mengatakan roket merupakan salah satu teknologi strategis namun memiliki biaya produksi yang sangat mahal. Fungsinya sendiri dua macam yakni di bidang militer dan non militer. Roket menjadi salah satu teknologi penting yang krusial untuk segera dikembangkan secara mandiri oleh Indonesia.

"Hal ini harus kita lakukan sebab selama ini kita tergantung pada negara lain untuk roket," katanya.

Hal senada diungkapkan Kepala LAPAN Drs. Bambang Setiawan Tejakusuma, Dipl.Ing. Program produksi roket merupakan proyek yang ambisus yang dilakukan LAPAN. Beberapa negara yang telah memiliki program pengembangan roket diantaranya Rusia, Amerika, Perancis, China, India, Jepang Korea Utara, Iran dan Pakistan.

Dalam kesempatan itu, Rektor Universitas Gadjah Mada Prof Dr Pratikno bersama Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) membentuk Komunitas Roket Uji Muatan (RUM). Komunitas tersebut untuk mendukung kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam pengembangan teknologi industri roket di tanah air.

Rencananya, komunitas RUM ini akan memanfaatkan kawasan pantai Pandansimo Bantul sebagai area pelatihan peluncuran uji roket muatan.

Pengembangan roket merupakan pilihan kebijakan strategis kepentingan jangka panjang yang seharusnya menjadi perhatian negara. Pengembangan roket membutuhkan investasi yang sangat besar dengan hasil yang penuh risiko dengan manfaat yang abstrak dan jangka panjang.

"UGM siap kerjasama terhadap hal yang penting dan strategis ini. Teknologi roket perlu dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian bangsa. Roket tidak hanya untuk persenjataan pertahanan negara saja tapi bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat," kata Pratikno.


Sumber : Detik

Menuju Kemandirian Dengan R-Han 122

RISTEK-(IDB) : Memiliki wilayah luas dengan belasan ribu pulau yang terpencar, Indonesia mengembangkan sistem pertahanan yang strategis untuk mengamankannya. Salah satu sarananya adalah roket. Kemandirian di bidang peroketan mulai dibangun dengan merintis pembuatan roket pertahanan R-Han 122.

Rancang bangun dan rekayasa roket pertahanan merupakan upaya Indonesia membangun kemandirian dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan. Rintisan dimulai lewat prototipe roket pertahanan sistem balistik berdiameter 122 milimeter disebut R-Han 122.

Roket pertahanan ini merupakan derivasi roket eksperimen rancangan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), D230 tipe Rx 1210.

Roket eksperimen (Rx) dikembangkan untuk misi nonmiliter, seperti pemantauan cuaca, pemantauan pelayaran, pertanian, bencana, dan observasi untuk perencanaan tata ruang. Roket dimuati radio, kamera, dan sensor. Adapun roket untuk pertahanan (R-Han) dipasang bahan peledak, demikian paparan Hari Purwanto, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bidang Hankam.

Sebagai sarana yang dapat digunakan untuk tujuan militer, penguasaan teknologi peroketan tak mudah. Penyebarannya dipagari dengan beberapa aturan, antara lain, missile technology control regime dan center for information on security trade control.

Saat ini teknologi hankam tersebut hanya dimiliki negara tertentu. Di Asia negara yang tergolong maju dalam teknologi ini antara lain China, India, Korea Selatan, dan Korea Utara.

Kemampuan rekayasa dan rancang bangun peroketan sampai batas tertentu dimiliki oleh BPPT, Balitbang Kemhan, dan PT LEN Industri. Dengan kemampuan masing-masing lembaga, kata Gunawan Wibisono, Asisten Deputi Menristek Bidang Produktivitas Riset Iptek Strategis, terbentuk Konsorsium Roket Nasional tahun 2007.

Konsorsium terdiri dari Kementerian Ristek, Kementerian Pertahanan, TNI AL, lembaga riset (BPPT dan Lapan), perguruan tinggi (ITB, ITS, UI, UGM, dan Undip), serta industri strategis PTDI, Krakatau Steel, LEN Industri, Pindad, dan Perum Dahana. Konsorsium inti terdiri atas beberapa plasma yang menangani riset material, mekatronika, dan sistem kontrol atau kendali.

Kementerian Ristek menyediakan dana insentif untuk pembuatan prototipe roket. PTDI melaksanakan pengembangan struktur dan desain roket. PT Krakatau Steel menyediakan material untuk tabung dan struktur roket. Bahan bakar roket, yakni propelan, disediakan PT Dahana.

Bagian PTDI adalah membangun sarana peluncur roket dan sistem penembaknya dengan laras sebanyak 16. Kendaraan yang digunakan sebagai anjungan untuk peluncuran adalah jip GAZ buatan Rusia, Nissan Jepang, dan Perkasa buatan Tata, India.

Muatan teknologi

Meski bentuk roket sederhana, tabung bermoncong lancip, pembuatannya tidak sederhana. Di dalamnya termuat berbagai komponen berteknologi mutakhir, seperti material maju, mekatronika, dan propulsi.

Dibandingkan roket generasi lama, R-Han 122 mengalami beberapa pengembangan desain dan material. Pada roket eksperimen menggunakan baja. Pada R-Han digunakan aluminium dan karbon yang dua kali lebih ringan. Bahan itu lebih tahan panas. Untuk menjaga kestabilan dan daya jangkau yang tinggi, material yang digunakan harus tahan terhadap suhu 3.000 derajat celsius, kata Ketua Program Penggabungan Roket Nasional Sutrisno.

Pengembangan lain pada konstruksi roket, pada versi terdahulu, roket menggunakan sirip tetap. Untuk meluncurkan, roket harus ditumpangkan pada peluncur dilengkapi rel. Pada roket generasi baru dipasang sirip lipat yang dilengkapi pegas yang akan menegakkan sirip secara otomatis setelah keluar dari tabung peluncur.

Pada roket terdahulu, tabung propelan diisi langsung dan terikat permanen di tabung roket. Kini tabung propelan dibuat terpisah dan diberi lapisan isolasi termal. Saat ini bahan propelan masih diimpor. Untuk membangun kemandirian, pabrik propelan akan dibangun PT Dahana.

Untuk wahana peluncur, dilakukan modifikasi kendaraan jip berbobot 2,5 ton dan truk berkapasitas 5 ton. Dirancang pula bangun unit peluncur yang memuat 16 roket dan mampu meluncurkan secara otomatis sejumlah roket tersebut dengan hanya menekan satu tombol.

Uji peluncuran

Adi Indra Hermanu, Kepala Subbidang Analis Teknologi Hankam Kementerian Ristek, menyatakan, uji coba peluncuran roket R-Han 122 dilaksanakan akhir Maret di Baturaja, Sumatera Selatan. Sebanyak 50 roket diluncurkan di hutan lindung itu. ”Roket R-Han 122 yang diluncurkan rata-rata mampu melesat dengan kecepatan 1,8 mach atau 2.205 km per jam,” ujarnya.

Pada tahap peluncuran, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika berperan mengoperasikan sistem radar untuk memantau posisi jatuh roket. ITB memasang sistem kamera nirkabel untuk merekam gambar saat roket meluncur sampai di lokasi sasaran.

Dalam penggunaannya, R-Han 122 pada tahap awal akan menjadi senjata dengan sasaran target di darat yang berjarak tembak 15 km. Roket ini akan digunakan TNI AL untuk pengamanan pantai.

Menurut Sonny S Ibrahim, Asisten Direktur Utama PTDI, tahun ini tahap pengembangan teknis selesai. Persiapan industrialisasi saat ini sudah 80 persen. 


Sumber : Ristek

Russia Pulls Out of Indonesian Rocket System Tender

02 Mei 2012


Smerch multiple launch rocket system (photo : Vitaly V. Kuzmin)


Russia’s arms trading company Rosoboronexport has pulled out of an Indonesian tender for the supply of multiple launch rocket systems, the company told Military Industrial Courier magazine.


The company pulled out because it had offered its Smerch rocket launcher system which “did not meet a range of technical conditions in the tender,” Rosoboronexport official Nikolai Dimidyuk said.


The Indonesian tender was released in February.


“No one wants to waste time, or lead partners into delusion,” he said. “That said, we remain of the opinion that this system fully meets the requirements of the Indonesian forces in the most important criteria, fighting effectiveness,” he said.


Rosoboronexport did not say in which criteria Smerch failed to meet Indonesian requirements.
Russia had offered a 22-ton variant of the Smerch system, but a more widely-sold variant weighs 48 tons.


Indonesia is a traditional Russian and Soviet arms customer and at present has contracts with Russia for delivery of Su-27SKM fighter aircraft, Mi-17 and Mi-35 military helicopters, and BMP-3 and BTR-80 infantry fighting vehicles.


(RIA Novosti)

Thailand-China to Jointly Develop MLRS with a Guidance System


29 April 2012


In an earlier joint deal, Thailandand Chinadeveloped the DTI-1 system, DTI-1G [Guided]" will be more accurate and have a greater range than existing systems (photo : MThaiNews)

Top brass Chinavisit secures joint missile deal

BEIJING : Thailand and China have agreed to jointly develop multiple rocket launchers with a guidance system as part of a move to strengthen military ties.

The two sides reached the agreement during a visit to China by the Thai military top brass in what was described by Defence Minister Sukumpol Suwanatat as a call by "the whole family" to Chinawhich is "our close relative".

It is the first time in 15 years that a defence minister has led all key military leaders ranging from the defence permanent secretary, supreme commander and armed forces chiefs to meet Chinese senior military officers, led by National Defence Minister Gen Liang Guanglie.

Under the new agreement, the Thai Defence Technology Institute will work with China to develop new multiple rocket launchers called "DTI-1G [Guided]" which will be more accurate and have a greater range than existing systems, said ACM Sukumpol after the meeting.

Multiple rocket launchers are known for their devastating capabilities and ability to deliver a large amount of ordinance simultaneously, but are not recognised for precision because they are not usually equipped with a guidance system.

In an earlier joint deal, Thailandand Chinadeveloped the DTI-1 system, which had a range of between 60 and 180km, but it lacked accuracy.

The new DTI-1G project will last three years and will be funded under a 1.5-billion-baht budget, ACM Sukumpol said.

Gen Liang also told the delegation that if Thailand wants to buy weapons from China, it will be willing to sell them at "friendly prices", ACM Sukumpol quoted Gen Liang as saying."The price of Chinese weaponry has increased greatly recently. Arms are not as cheap as before so we will have to consider this carefully," ACM Sukumpol said.

As well as technological cooperation, the Thai and Chinese defence ministries have also agreed to hold a joint military exercise involving their air forces for the first time.

"We will need to discuss more details of this because Thailand and China have different military doctrines in the aviation area," ACM Sukumpol said.

So far the two countries have held joint military drills involving the army's special warfare units and the navy's marine corps.

Lapan Gandeng UNS, UI Dan ITS Buat Roket

JAKARTA-(IDB) : Selama ini, untuk memperkuat bidang pertahanan dan keamanan, Indonesia masih membeli peralatan perang. Salah satunya adalah roket. Untuk itu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menggandeng sejumlah universitas untuk membuat roket.

Keberhasilan riset tersebut akan menandakan kemandirian Indonesia dalam menghasilkan roket sendiri. Selama ini, Lapan memang telah bisa menghasilkan roket namun ukurannya masih kecil sehingga belum mencukupi sebagai bagian dari teknologi pertahanan negara.

Salah satu universitas yang diajak dalam proyek ini adalah tim dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. ''Selama ini kita selalu membeli roket dari negara lain yang kualitasnya pasti lebih rendah daripada roket di negeri asalnya,'' kata salah satu anggota tim ITS, Widyastuti seperti disitat dari ITS online, Kamis (19/4/2012).

Hal ini tentunya sangat miris. Apalagi ketika mengingat bahwa proyek pembuatan roket di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1960-an, bersamaan dengan India dan Pakistan. ITS memang tidak sendirian dalam proyek ini. Lapan turut menggandeng Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Universitas Indonesia (UI), serta beberapa pihak industri. Di dalam kampus, tim ini akan turut melibatkan mahasiswa dari berbagai jenjang untuk kelancaran riset tersebut.

ITS memang belum memiliki program studi khusus bidang teknologi penerbangan dan antariksa. Namun, lebih dari Rp1 miliar telah dikucurkan untuk mendanai proyek yang berlangsung antara Lapan dengan universitas dan pihak industri tersebut.

Selama tiga tahun ke depan, tim dosen-dosen ahli ini akan bekerja sama merakit sebuah roket penuh. Mulai dari nose, body, dan nozzle. Konstruksi tiga bagian tersebut tentunya tidak mudah. Nozzle, atau bagian ujung bawah sekaligus pendorong roket bisa mengalami suhu yang sangat tinggi hingga 3.000 derajat Celsius.

''Diperlukan bahan isolator yang tahan panas tinggi agar nozzle tidak meleleh. Karena itu, riset tim ini akan turut mencakup pengujian bahan-bahan yang sanggup menahan panas ekstrim,'' papar Ketua Tim Riset Roket Suasmoro.

Pengujian-pengujian mengenai berbagai aspek lain juga harus dilaksanakan secara mandiri oleh tim. Hal ini karena teknologi roket sangat jarang disebarluaskan. Masing-masing negara yang memiliki proyek pembuatan roket pasti akan sangat protektif mengenainya.

Sumber : Okezone

Update : Roket Korut Gagal, Hancur Berkeping-keping

SEOUL-(IDB) : Roket Korea Utara hancur menjadi beberapa bagian tak lama setelah diluncurkan pada Jumat (13/4/2012) pagi. Puing-puing roket tersebut jatuh di Laut Kuning di wilayah Korea Selatan, kata para pejabat Korea Selatan seperti dikutip kantor berita Yonhap.

"Puing-puing itu jatuh ke laut sekitar 190 kilometer-200 kilometer di barat Kunsan (sebuah pelabuhan yang terletak di barat daya Korsel)," kata sebuah sumber militer yang dikutip Yonhap.

"Beberapa menit setelah peluncuran, roket itu hancur menjadi beberapa bagian dan kehilangan ketinggiannya," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Kim Min-Seok, kepada wartawan.

Sementara lembaga peyiaran Jepang, NHK, yang mengutip sebuah sumber kementerian pertahanan negara itu mengatakan, roket tersebut meluncur sejauh 120 kilometer sebelum kemudian pecah menjadi empat bagian dan jatuh ke Laut Kuning di barat Semenanjung Korea.

Menurut pihak Korsel, Korea Utara meluncurkan roket jarak jauhnya itu hari Jumat pukul 07.39 waktu setempat (atau pukul 05.39 WIB). 

Sumber : Kompas

PM Inggris Cameron Tawarkan Peluncur Roket Star Treak Untuk TNI

JAKARTA-(IDB) : Sebagai salah satu negara produsen alat utama sistem senjata, Inggris menawarkan produk unggulannya kepada Indonesia. Di antaranya adalah Star Trek atau peluncur roket penangkis serangan udara.

Demikian diungkapkan Menhan, Poernomo Yoesgiantoro, tentang materi pembicaraan dengan delegasi Inggris. Hal ini disampaikan Poernomo usai pertemuan antara Presiden SBY dengan OM David Cameron di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (11/4/2012).

"Tadi ada menyinggung soal kerjasama pertahanan, tapi kita mau melihat lebih jauh lagi," kata Poernomo.

Menurut Poernomo, Indonesia saat ini sedang menjajaki peluang untuk membeli sejumlah persenjataan produksi Inggris. Star Trek adalah satu di antaranya yang merupakan penangkis serangan udara dan multi launcher rocket.
 
"Saya lupa berapa jumlahnya, tapi tidak begitu besar kok," imbuh mantan Menteri ESDM ini.

Menurutnya, Presiden SBY menyambut baik tawaran dari Inggris. Namun ditekankan adanya alih teknologi atau kerjasama dalam produksi dalam kesepakatan pembeliannya kelak.

"Ada beberapa lainnya yang disampaikan untuk ke depan. PM Cameron yang mengangkat masalah kerjasama defense industry," ujar Poernomo sambil
memasuki mobilnya.

Sumber : Detik

2014, Indonesia Siapkan Roket 100 Kilometer

29 Maret 2012

Rencana pengembangan roket R-Han 122 (photo : Defense Studies)

BATURAJA, KOMPAS - Tahun 2014 ditargetkan Indonesia sudah mampu membuat sendiri roket berdaya jelajah di atas 100 kilometer. Roket tersebut merupakan proyek jangka panjang dan kolaborasi teknokrat dan birokrat.

"Ini sebuah perjalanan maraton kebangkitan industri pertahanan kita," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Rabu (28/3), seusai menyaksikan uji coba R-Han 122 milimeter di Pusat Latihan Tempur TNI AD Baturaja, Sumatera Selatan.

Uji coba ini sudah mengalami perkembangan dibandingkan uji-uji sebelurnnya. Sebelumnya, November 2011, peluncuran roket dilakukan dari dudukan berupa karung. Saat ini, PT Pindad sudah membuat peluncur roket yang terdiri atas 16 tabung.

Sjafrie menilai, terjadi kemajuan yang signifikan walaupun harus ada pengembangan kualitas. Rencana berikutnya adalah mengadakan transfer teknologi untuk perbaikan. "Targetnya, jarak tempuhnya tahun 2014 sudah tiga digit dan akan menggunakan seluruh kemampuan multilaunch rocket system," ujarnya.

Saat ini R-Han 122 yang berkaliber 122 millimeter itu memiliki jarak tempuh 14 kilometer. Roket ini diproduksi bersama oleh Kementerian Pertahanan serta Kementerian Riset dan Teknologi.
PT Dahana membuat bahan peledaknya, PT Krakatau Steel membuat baja untuk nozzle dan merakitnya, sementara PT Dirgantara Indonesia memproduksi berbagai komponen seperti selongsong dan sirip.

PT Pindad membuat hulu ledak (warhead) dan memodifikasi mobil untuk peluncur 16 tabung yang bisa berputar 360 derajat.

"Uji coba hari ini penting karena berarti kita sudah membuktikan bahwa konsep kita sudah benar, tinggal memperbaiki saja," kata Direktur Utarna PT Pindad Adik A Soedarsono.

Roket dalam strategi militer sangat penting dalam penangkalan dan penolakan.

Komandan Pusat Kesenjataan Artileri Medan Kodiklat TNI AD Brigjen Aryadi Patmanegara menjelaskan, kalau sudah bisa diproduksi di dalam negeri, akan sangat efisien. Sebab, seperti roket yang dibeli Singapura dan Malaysia, dengan jangkauan 43 kilometer dan 40 kilometer, harga seluruh sistemnya, termasuk 18 kendaraan peluncur, mencapai Rp 3 triliun. (EDN)

(Kompas)

Wamenhan Puas Dengan Pengembangan R-Han 122

BATURAJA-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengaku puas atas pengembangan Roket R-Han 122 yang diproduksi sendiri oleh bangsa Indonesia sebagai wujud kemandirian roket nasional.

Menurut Sjafrie usai uji coba Roket R-Han 122 di Puslatpur TNI AD di Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel, Rabu, pengembangan kemandirian roket Indonesia diharapkan bisa terus ditingkatkan, termasuk kemampuan jangkauannya dari dua digit menjadi tiga digit.

"Berdasarkan hasil ini, maka kemandirian roket pada tahun 2014 harus tercapai," ujar Sjafrie.

Budi Teguh Rahardjo, Deputi Menristek Bidang Produktivitas dan Relevansi Riset Iptek meyakini, 90 persen industri roket di Indonesia dapat berkembang dengan pesat dan masuk dalam ranah industri, serta mampu memasok alat utama sistem pertahanan (alusista) dalam jumlah yang besar.
 
Guna menuju kemandirian dalam pengadaan alutsista, sejak tahun 2007 lalu, Kementerian Riset dan Teknologi dalam konsorsium bersama komunitas iptek serta industri strategis, melakukan pengembangan roket yang kali ini kembali diujicobakan.

Uji coba 50 buah roket ini merupakan hasil pengembangan yang terbaru dan diberi nama Roket R-Han 122.

Konsorsium pengembangan roket ini mendayagunakan para pihak (stakeholders), dengan masing-masing pihak memiliki peranan strategis, di antaranya PT Pindad yang mengembangkan peluncurannya (launching), GAZ menangani `firing system`, sedangkan PT Dahana berperan dalam menyediakan propellant, dan PT KS mengembangkan material tabung maupun struktur roket.

Roket ini dari pengembangan sebelumnya adalah kaliber yang mencapai 122 mm dengan kecepatan maksimum 1,8 mach.

Roket yang berdaya ledak optimal ini, dapat menempuh sasaran jarak tembak hingga 15 km.
 
Pada uji coba yang dilakukan di Pusat Latihan Tempur TNI AD Baturaja Sumsel, sebanyak 50 buah Roket R-Han 122 produksi Indonesia, berhasil ditembakkan ke sasaran di udara.

Selain Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, sejumlah pejabat Pemptov Sumsel dan Pemkab OKU, beberapa petinggi TNI, antara lain Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Nugroho Widyotomo dan Komandan Kodiklat TNI AD Letnan Jenderal TNI Gatot Numantyo ikut pula saat menyaksikan uji coba roket R-Han 122.

Usai peluncuran, Wamenhan juga berkesempatan mengecek mobil peluncur roket, untuk selanjutnya akan terus dikembangkan sebagai bagian program kemandirian penyediaan alutsista nasional.

Menurut Kepala Biro Hukum dan Humas Kemenristek, Anny Sulaswatty, Roket R-Han 122 itu merupakan produksi hasil kerja sama anak bangsa Indonesia, diwujudkan melalui penelitian bersama PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Dahana, didukung penuh Kemenristek bersama konsorsium terkait.

Uji coba dan demo penembakan Roket R-Han 122 itu menandai keberhasilan bangsa Indonesia untuk menuju kemandirian produksi roket nasional di masa depan.


Sumber : Antara

Puluhan Roket Produksi Indonesia Berhasil Diujicobakan

28 Maret 2012

Roket R-Han 122 yang diujicoba telah dipasang di atas platform truk GAZ-63 (eks BM-14) dan truk Perkasa (all photos : Audrey)

Baturaja, Sumsel (ANTARA News) - Sebanyak 50 Roket R-Han 122 produksi Indonesia, berhasil diujicobakan dengan ditembakkan ke sasaran di udara, di Pusat Latihan Tempur TNI AD Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Rabu.

Deputi Menristek Bidang Produktivitas dan Relevansi Riset Iptek, Budi Teguh Raharjo sempat menunjukkan contoh roket R-Han 122 itu, kepada Wakil Menteri Pertahanan, Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, sebelum melakukan uji coba roket tersebut.

Sebanyak 50 buah Roket R-Han 122 diujicobakan sebagai hasil pengembangan konsorsium dari Kementerian Riset dan Teknologi dan komunitas iptek serta industri strategis, guna mendukung kemandirian roket 2014 bagi Kementerian Pertahanan.

Roket R-Han 122 memiliki kecepatan maksimum 1,8 mach dan jarak tembak hingga 15 km.


Selain Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, sejumlah pejabat Pemptov Sumsel dan Pemkab OKU, beberapa petinggi TNI, antara lain Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Nugroho Widyotomo dan Komandan Kodiklat TNI AD Letnan Jenderal TNI Gatot Numantyo ikut pula saat menyaksikan uji coba roket R-Han 122.

Usai peluncuran, Wamenhan juga berkesempatan melakukan pengecekan pada mobil peluncur roket, untuk selanjutnya akan terus dikembangkan sebagai bagian program kemandirian penyediaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) nasional.

Menurut Kepala Biro Hukum dan Humas Kemenristek, Anny Sulaswatty, Roket R-Han 122 itu merupakan produksi hasil kerja sama anak bangsa Indonesia, diwujudkan melalui penelitian bersama PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Dahana, didukung penuh Kemenristek.

Ujicoba dan demo penembakan Roket R-Han 122 itu menandai keberhasilan bangsa Indonesia untuk menuju kemandirian produksi roket nasional di masa depan.

Puluhan R-Han 122 Produksi Indonesia Berhasil Diujicobakan

BATURAJA-(IDB) : Sebanyak 50 Roket R-Han 122 produksi Indonesia, berhasil diujicobakan dengan ditembakkan ke sasaran di udara, di Pusat Latihan Tempur TNI AD Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, Rabu.

Deputi Menristek Bidang Produktivitas dan Relevansi Riset Iptek, Budi Teguh Raharjo sempat menunjukkan contoh roket R-Han 122 itu, kepada Wakil Menteri Pertahanan, Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, sebelum melakukan uji coba roket tersebut.

Sebanyak 50 buah Roket R-Han 122 diujicobakan sebagai hasil pengembangan konsorsium dari Kementerian Riset dan Teknologi dan komunitas iptek serta industri strategis, guna mendukung kemandirian roket 2014 bagi Kementerian Pertahanan.

Roket R-Han 122 memiliki kecepatan maksimum 1,8 mach dan jarak tembak hingga 15 km.

Selain Wakil Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, sejumlah pejabat Pemptov Sumsel dan Pemkab OKU, beberapa petinggi TNI, antara lain Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jenderal TNI Nugroho Widyotomo dan Komandan Kodiklat TNI AD Letnan Jenderal TNI Gatot Numantyo ikut pula saat menyaksikan uji coba roket R-Han 122.
Usai peluncuran, Wamenhan juga berkesempatan melakukan pengecekan pada mobil peluncur roket, untuk selanjutnya akan terus dikembangkan sebagai bagian program kemandirian penyediaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) nasional.

Menurut Kepala Biro Hukum dan Humas Kemenristek, Anny Sulaswatty, Roket R-Han 122 itu merupakan produksi hasil kerja sama anak bangsa Indonesia, diwujudkan melalui penelitian bersama PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT Dahana, didukung penuh Kemenristek.

Ujicoba dan demo penembakan Roket R-Han 122 itu menandai keberhasilan bangsa Indonesia untuk menuju kemandirian produksi roket nasional di masa depan.

Sumber : Antara

Kemhan Kembali Uji Coba Roket Pertahanan (R-Han) 122 MM

BATURAJA-(IDB) : Dalam upaya meningkatkan kemandirian bangsa dalam pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista), Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama Kementerian Riset dan Teknologi melalui Direktorat Teknik Industri Pertahanan Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan (Dittekindhan Ditjen Pothan) Kemhan, kembali melakukan uji coba penembakan Roket Pertahanan (R-Han) 122 MM.
 
Uji coba dilakukan di Pusat Latihan Tempur TNI AD, Baturaja, Sumatera Selatan, Rabu (28/3) dan disaksikan langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin yang didampingi sejumlah pejabat Kemhan, Mabes TNI dan Angkatan. Hadir pula Tim Asistensi Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) dan beberapa pejabat perwakilan dari instansi terkait antara lain Kemenristek, Bappenas, Kemenkeu dan LAPAN.

Dalam uji coba ini, Kemhan melibatkan pihak-pihak terkait antara lain Kemenristek dan LAPAN serta perusahaan industri pertahanan dalam negeri yaitu  PT. Pindad, PT. DI dan PT. Dahana. Selain itu, Kemhan juga mengundang TNI AL sebagai calon pengguna Roket R-Han 122 MM.

Uji tembak kali ini merupakan hasil dari evaluasi uji coba yang dilakukan sebelumnya pada bulan November 2011 di tempat yang sama, dimana dengan uji coba serta evaluasi secara terus menerus, diharapkan Program Roket Nasional dengan nama R-Han 122 tersebut nantinya dapat mencapai hasil yang maksimal dan siap diproduksi sesuai keinginan pengguna dalam hal ini TNI.

Uji coba Roket R-Han 122 MM kali ini meliputi pengujian fungsi subsistem roket, fungsi peluncuran produksi Pindad (2 unit peluncur 16 tabung) dan sistem penembakan, dengan penembakan 50 roket (warhead tajam dan dummy).

Roket R-Han 122 MM merupakan derivasi dari pengembangan roket sebelumnya yang berkaliber 122 MM dengan kecepatan maksimum 1,8 mach. R-Han 122 MM berfungsi sebagai senjata yang berdaya ledak optimal dengan sasaran darat ke darat dan jarak tembak mencapai 15 km.

Roket R-Han 122 MM adalah hasil kerjasama yang sinergi antara Kemhan, Kemenristek, LAPAN, PT. Pindad, PT.DI, PT.Dahana dan pihak-pihak terkait lainnya. Pengembangan roket R-Han 122 dalam rangka mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan industri pertahanan dalam negeri.

Pengembangan Roket R-Han 122 MM melibatkan PT.DI yang berperan dalam pengembangan struktur dan desain roket, PT.Pindad mengembangkan launcher dan firing system menggunakan platform truk GAZ dan truk Nissan, warhead. PT.Dahana berperan dalam menyediakan propellant. Badan Meteorogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mendukung alat pemantau cuaca dan penentu posisi jatuh roket dan ITB turut menyediakan sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar di lokasi target/sasaran

“Penyempurnaan roket R-Han 122 akan dilakukan pada uji coba berikutnya pada tahun 2014 dan hasilnya diharapkan dapat mencapai jarak mencapai angka tiga digit, sehingga sudah dapat digunakan oleh Satuan Armed TNI AD serta Korps Marinir”, kata Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin.

Sumber : DMC

Roket R-Han 122 Produk Dalam Negeri Siap Uji Coba

BANDUNG-(IDB) : Dalam upaya meningkatkan kemandirian bangsa terutama dalam hal pengadaan alat utama sistem pertahanan (alutsista), Kementerian Riset dan Teknologi dan komunitas iptek serta industri strategis yang termasuk dalam konsorsium mendukung Kementerian Pertahanan dalam mengembangkan Roket R-Han 122.

Tujuan lain dari pengembangan roket R-Han 122 dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pengadaan dari luar negeri dengan memberdayakan potensi dan kemampuan riset anak bangsa serta industri pertahanan dalam negeri. 

Roket R-Han 122 adalah roket hasil karya anak bangsa yang merupakan hasil kerjasama ini diwujudkan melalui penelitian yang dilakukan berbagai institusi diantaranya PT.Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT.Dahana yang didukung penuh oleh Kementerian Riset dan Teknologi.

Kementerian Pertahanan berencana kembali melakukan uji coba R-Han 122 dengan pengembangan terbarunya pada 28 Maret 2012 mendatang. Uji coba roket yang akan dilaksanakan di Pusat Latihan Tempur TNI AD, Baturaja, Sumatera Selatan rencananya dihadiri langsung oleh Menteri Riset dan Teknologi, sejumlah anggota DPR RI dan para undangan lainnya. 

Persiapan uji coba yang akan dilaksanakan tersebut agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan maka pada tanggal 15 Maret 2012 bertempat di PT.Pindad diadakan rapat koordinasi dengan agenda pembahasan segala kesiapan peralatan dan personil serta bagaimana teknis mobilisasi keduanya yang akan diberangkatkan ke Baturaja. Sampai saat ini, roket yang rencananya akan diluncurkan sebanyak 50 buah dan peralatan pendukung sebagian telah siap diuji coba.

Masing-masing stakeholder yang terlibat didalam uji coba peluncuran mempunyai peran, seperti, PT. DI berperan dalam penyiapan roket, adapun PT. PINDAD mengembangkan launcher dan firing system menggunakan platform GAZ dan Nissan yang sudah dimodifikasi dengan laras 16. Selain itu, dalam sistem pendukung peluncuran roket ini BMKG akan mendukung dengan menyediakan alat untuk menentukan posisi jatuh roket dan ITB juga akan mendukung dalam uji coba sistem kamera nirkabel untuk menangkap dan mengirim gambar saat roket sampai dilokasi target sasaran. 

Sumber : Ristek

Korsel Kecam Roket Kim Il-Sung

SEOUL-(IDB) : Korea Selatan (Korsel) akhirnya mengecam rencana Korea Utara (Korut) yang bakal meluncurkan roket jarak jauh untuk memperingati 100 tahun kelahiran Kim Il-Sung. "Peluncuran itu adalah bentuk provokasi," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Korsel pada Jumat (16/3/2012).

Kementerian itu juga mengatakan andai peluncuran pada bulan depan tersebut terealisasi, hal itu menjadi ancaman pada keamanan regional. Menurut Korsel pula, peluncuran roket tersebut adalah satu pelanggaran pada resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 2009 yang melarang peluncuran rudal balistik.
    
Selain Korsel, Jepang juga menyuarakan hal sama. Negeri Matahari Terbit itu mengatakan setiap peluncuran oleh Korut baik itu satu satelit atau bukan, yang menggunakan teknologi rudal balistik  melanggar  resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB. "Kami mendesak Korut menahan diri dan tidak melakukan peluncuran itu," kata juru bicara penting pemerintah Kepala Sekretaris Kabinet Osamu Fujimura.
    
Korut, yang baru-baru ini mengatakan pihaknya akan menangguhkan uji coba rudal jarak jauh sebagai bagian dari perundingan dengan AS, berjanji bahwa peluncuran bulan depan tidak akan berdampak pada negara-negara tetangga.
    
Pada April 2009, Korut meluncurkan roket balisitk yang sama. Akibatnya, Korut mendapat sanksi-sanksi keras PBB. Sanksi itu merusakkan perekonomian Korut dan semakin mengucilkan negara itu.
    
Peluncuran rudal itu sejatinya gagal. Pasalnya, roket jatuh ke Laut Jepang tanpa mengorbit satu satelit. Alhasil, Tokyo marah dan mengancam akan menembak jatuh setiap roket yang mengancam wilayahnya. Satu uji coba lainnya juga gagal pada tahun 1998.
    
Washington mengatakan program rudal balistik jarak jauh Korut bergerak maju dengan cepat. Mantan Menteri Pertahanan Robert Gates mengatakan tahun lalu bahwa daratan Amerika dapat terancam dalam lima tahun. "DPRK akan meluncurkan satu satelit,Kwangmyongsong-3, yang diproduksi negara itu sendiri dengan teknologi dalam negeri untuk memperingati 100 tahun lahirnya Presiden Kim Il-Sung," kata kantor berita resmi KCNA mengutip seorang juru bicara Komite Bagi Teknologi Angkasa Korea.
    
Peluncuran itu akan dilakukan antara 12-16 April,kata KCNA. Pada saat sama, Korsel menyelenggarakan sidang parlemen. Jangka waktu itu pun hanya tiga minggu setelah  KTT keamanan nuklir global di Seoul.

Sumber : Kompas