Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AU. Tampilkan semua postingan

Skuadron Elang Khatulistiwa Dan Black Panther Berlatih Bersama

MADIUN-(IDB) : Fighter dari bumi khatulistiwa Skadron Udara 1 Lanud Supadio Pontianak dan Black Phanter dari Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, tiba di Lanud Iswahjudi dan disambut langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M. Syaugi, S.Sos., di Shelter Skadron Udara 14, Senin (24/9).

Kehadiran para Fighter dari bumi khatulistiwa dan bumi lancang kuning tersebut, tak lain untuk mengasah kemampuan naluri Fighter sebagai penggempur dan penghacur sasaran baik udara maupun darat yang telah ditentukan dengan menggunakan roket maupun bom.

Dengan menggunakan pesawat tempur jenis Hawk 100/200, baik dari Skadron Udara 1 maupun Skadron Udara 12, latihan dimaksudkan untuk menguji kualitas ketepatan menembak bukan menghancurkan sasaran. Sementara latihan direncanakan berlangsung selama 4 hari dengan lokasi latihan di Air Weapon Range (AWR), Pulung Ponorogo.

Black Phanter dari skadron Udara 12, yang tiba lebih dulu di pimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 12 Letkol Pnb M. Yani, menyusul berikutnya, Elang Khatulistiwa dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio, dengan Komandan Skadron Letkol Pnb Radar Suharsono, yang kedatanganya di sambut langsung pula oleh Danlanud Iwj Marsma TNI M. Syaugi, S.Sos., dan segenap pejabat Lanud Iswahjudi.



Sumber : TNI AU

Hawk Latihan Menembak Maverick

Hawk Skadron Udara 12. (Foto: nicowijaya)

24 September 2012, Madiun: Fighter dari bumi khatulistiwa Skadron Udara 1 Lanud Supadio Pontianak dan Black Phanter dari Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, tiba di Lanud Iswahjudi dan disambut langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama TNI M. Syaugi, S.Sos., di Shelter Skadron Udara 14, Senin (24/9).

Kehadiran para Fighter dari bumi khatulistiwa dan bumi lancang kuning tersebut, tak lain untuk mengasah kemampuan naluri Fighter sebagai penggempur dan penghacur sasaran baik udara maupun darat yang telah ditentukan dengan menggunakan roket maupun bom.

Dengan menggunakan pesawat tempur jenis Hawk 100/200, baik dari Skadron Udara 1 maupun Skadron Udara 12, latihan dimaksudkan untuk menguji kualitas ketepatan menembak bukan menghancurkan sasaran. Sementara latihan direncanakan berlangsung selama 4 hari dengan lokasi latihan di Air Weapon Range (AWR), Pulung Ponorogo.

Black Phanter dari skadron Udara 12, yang tiba lebih dulu di pimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 12 Letkol Pnb M. Yani, menyusul berikutnya, Elang Khatulistiwa dari Skadron Udara 1 Lanud Supadio, dengan Komandan Skadron Letkol Pnb Radar Suharsono, yang kedatanganya di sambut langsung pula oleh Danlanud Iwj Marsma TNI M. Syaugi, S.Sos., dan segenap pejabat Lanud Iswahjudi.

Sedikitnya 60 personel Skadron Udara 1 ikut terlibat dalam latihan ini dan dipimpin langsung Komandan Skadron Udara 1 Letkol Pnb Radar Suharsono. Adapun pesawat yang digunakan adalah TT 0225 diawaki Lettu Pnb Andres, TL 0112 diawaki Letkol Pnb Radar Suharsono dan Lettu Pnb Binggi Nobel, TT 0234 diawaki Kapten Pnb Yossi, TT 022 yang diawaki Kapten Pnb Syaifuddin, TT 0223 Lettu Pnb Ari Nugroho Widodo, TT 0221 diawaki Mayor Pnb Agung.

Sedangkan ground crew dan peralatan pendukung latihan diangkut oleh pesawat Hercules A-1314 dari Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdana Kusuma yang dipiloti Letkol Pnb Arifin dan Copilot Mayor Pnb Beny.

Sumber: Dispenau

Kasum TNI Tutup Hanudnas Tutuka XXXVI 2012

JAKARTA-(IDB) : Kepala Staf Umum TNI (Kasum TNI), Marsekal Madya TNI Daryatmo, menutup Latihan Pertahanan Udara Nasional (Hanudnas) “Tutuka” XXXVI Tahun 2012.

Kasum TNI mewakili Panglima TNI pada upacara penutupan latihan yang berlangsung di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (20/9).

Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono dalam amanat tertulisnya, mengatakan keberhasilan Latihan Pertahanan Udara Nasional tahun 2012 tidak terlepas dari keseriusan para prajurit. Para prajurit memiliki semangat, disiplin dan motivasi dalam berlatih untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas, serta profesionalisme sesuai dengan tuntutan tugas.

Lebih lanjut, Panglima TNI mengharapkan melalui kegiatan latihan akan mengasah kemampuan taktik dan strategi, Komando dan Pengendalian serta Manajerial Lintas Angkatan.

Dengan berakhirnya latihan ini, menurut Panglima TNI, akan menghasilkan kesatuan pandang terhadap pelaksanaan operasional antar Matra Terpadu sekaligus sebagai forum untuk mendiskusikan permasalahan yang timbul secara nyata di lapangan dalam rangka meningkatkan profesionalitas keprajuritan.

Di samping itu, hasil latihan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan penyempurnaan doktrin operasi udara serta doktrin pendukung lainnya.

Menurut Agus Suhartono, tugas-tugas Kohanudnas ke depan akan semakin berat dan kompleks. Sebab akan dihadapkan dengan kecenderungan perkembangan lingkungan strategis yang selalu berubah-ubah.

Hal ini ditandai dengan sering munculnya berbagai ancaman terhadap wilayah udara yurisdiksi nasional berupa pelanggaran wilayah udara, peredaran satelit mata-mata serta tantangan kemajuan industri dan teknologi pertahanan udara yang begitu cepat sampai pada kemungkinan terjadinya perang elektronika, baik dalam skala terbatas maupun luas dan terbuka.

Panglima TNI juga memberikan penekanan kepada para prajurit agar terus menggali ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya berkaitan dengan kedirgantaraan yang kemajuannya sudah begitu pesat. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan profesionalitas keprajuritan dalam rangka Trimatra Terpadu, guna menghadapi tantangan tugas ke depan.

Panglima TNI juga meminta prajuritnya agar mengadakan koordinasi secara terus-menerus dengan semua unsur dan institusi TNI. Hal ini bertujuan agar terwujud keterpaduan dan sinkronisasi dalam setiap bentuk penugasan TNI.

Selain itu, prajurit TNI juga diminta untuk menindaklanjuti hasil evaluasi yang diperoleh selama latihan baik yang bersifat positif maupun negatif dari penyelenggara maupun pelaku serta pendukung latihan.

“Jaga soliditas dan solidaritas antar Agkatan agar terwujud sinergitas dalam setiap pelaksanaan tugas dengan berpegang teguh pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit serta 8 Wajib TNI sebagai landasan moral dalam melaksanakan tugas sehari-hari,” kata Panglima TNI seperti dilansir dalam siaran pers Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Cpl. Minulyo Suprapto, yang diterima Jurnal Nasional.


Sumber : Jurnas

TNI AU Simulasi Intercept Pesawat Asing

PALEMBANG-(IDB) : Lantaran melenceng dari jalur penerbangan seharusnya,sebuah pesawat asing kemarin dipaksa mendarat oleh TNI AU di Base Ops Lanud Palembang sekitar pukul 14.00 WIB.

Pesawat yang diketahui jenis Boeing 737 itu sebelumnya terpaksa di-intercept dua pesawat tempur jenis Hawk 100 dan Hawk 200 dari Squadron Pekanbaru untuk segera mendarat di Lanud Palembang setelah terpantau radar Kohanutas melenceng dari jalur penerbangan seharusnya. Setelah melalui negosiasi yang alot, pesawat berbendera negeri antah berantah itu pun akhirnya berhasildigiringturun ke Lanud Palembang untuk diperiksa kelengkapan surat-suratnya.


Sebelum akhirnya berhasil menemukan kesepakatan, pesawat berbendera asing tersebut tak urung mendapat penjagaan ketat puluhan aparat yang telah bersiaga di sekitar lokasi pendaratan. Kedatangan pesawat asing juga dikawal kendaraan pasukan TNI AU, tim Crash Car PKPPK PTAP2 Palembang, hingga tim imigrasi.Sejumlah personel gabungan langsung mengamankan daerah sekitar pesawat mendarat.

“Pesawat tiba-tiba terpantau melenceng masuk wilayah teritorial kita.Makanya TNI AU pusat memerintahkan dua pesawat tempur memaksa turun ke Lanud Palembang. Kita belum tahu mereka ini mau apa,makanya dipaksa turun untuk dicek kelengkapannya,”ungkap Danlanud Palembang Letkol Pnb Adam Soeharto kemarin. Adam mengatakan,sekelumit cerita tadi merupakan skenario latihan Force Down yang telah dirancang untuk memantapkan kesiapan pasukan saat kondisi serupa terjadi di Lanud Palembang.

“Jadi kalau ini benar-benar terjadi, aparat kita langsung sigap.Kalau tidak mau diusir, mereka harus dipaksa mendarat dan diperiksa surat izin terbangnya,”katanya. Sementara itu, May Pnb B Sudewo Kepala Seksi Ops dan Latihan Pangkalan Udara (Lanud) Hasanudin Makassar yang berperan sebagai kapten pilot pesawat X mengatakan,latihan digelar untuk me-refresh pengamanan di pangkalan seluruh Indonesia, termasuk beberapa masalah real yang akan ditemui di lapangan yang membutuhkan penanganannya rumit.

“Intinya kejadian seperti itu bisa saja terjadi di pangkalan mana pun, makanya kita me-refresh agar aparat di pangkalan selalu siap,”ujarnya. Dia mengungkapkan, walaupun terkesan sederhana, proses seperti itu cukup rumit karena umumnya pilot pesawat berbendera asing tidak mau begitu saja dipaksa mendarat, meski terpantau radar telah melenceng dari wilayah penerbangannya.

Untuk itu, dibutuhkan tim negosiasi yang bagus dan solid untuk melakukan tindakan tepat bagi pesawat-pesawat yang melakukan hal serupa.“Jadi kalau tadi ceritanya ada crew saya yang sakit. Saya selaku pilot harus menjaga keamanannya.Makanya saya tidak mau langsung turun saat dipaksa mendarat,” ucapnya.



Sumber : Sindo

Pesawat Asing Dipaksa Mendarat di Lanud Palembang

Hawk TNI AU. (Foto: Dispenau)

20 September 2012, Palembang: Lantaran melenceng dari jalur penerbangan seharusnya,sebuah pesawat asing kemarin dipaksa mendarat oleh TNI AU di Base Ops Lanud Palembang sekitar pukul 14.00 WIB.

Pesawat yang diketahui jenis Boeing 737 itu sebelumnya terpaksa di-intercept dua pesawat tempur jenis Hawk 100 dan Hawk 200 dari Skuadron Pekanbaru untuk segera mendarat di Lanud Palembang setelah terpantau radar Kohanunas melenceng dari jalur penerbangan seharusnya. Setelah melalui negosiasi yang alot, pesawat berbendera negeri antah berantah itu pun akhirnya berhasil digiring turun ke Lanud Palembang untuk diperiksa kelengkapan surat-suratnya.

Sebelum akhirnya berhasil menemukan kesepakatan, pesawat berbendera asing tersebut tak urung mendapat penjagaan ketat puluhan aparat yang telah bersiaga di sekitar lokasi pendaratan. Kedatangan pesawat asing juga dikawal kendaraan pasukan TNI AU, tim Crash Car PKPPK PTAP2 Palembang, hingga tim imigrasi. Sejumlah personel gabungan langsung mengamankan daerah sekitar pesawat mendarat.

“Pesawat tiba-tiba terpantau melenceng masuk wilayah teritorial kita.Makanya TNI AU pusat memerintahkan dua pesawat tempur memaksa turun ke Lanud Palembang. Kita belum tahu mereka ini mau apa,makanya dipaksa turun untuk dicek kelengkapannya,”ungkap Danlanud Palembang Letkol Pnb Adam Soeharto kemarin. Adam mengatakan,sekelumit cerita tadi merupakan skenario latihan Force Down yang telah dirancang untuk memantapkan kesiapan pasukan saat kondisi serupa terjadi di Lanud Palembang.

“Jadi kalau ini benar-benar terjadi, aparat kita langsung sigap. Kalau tidak mau diusir, mereka harus dipaksa mendarat dan diperiksa surat izin terbangnya,”katanya. Sementara itu, May Pnb B Sudewo Kepala Seksi Ops dan Latihan Pangkalan Udara (Lanud) Hasanudin Makassar yang berperan sebagai kapten pilot pesawat X mengatakan,latihan digelar untuk me-refresh pengamanan di pangkalan seluruh Indonesia, termasuk beberapa masalah real yang akan ditemui di lapangan yang membutuhkan penanganannya rumit.

“Intinya kejadian seperti itu bisa saja terjadi di pangkalan mana pun, makanya kita me-refresh agar aparat di pangkalan selalu siap,”ujarnya. Dia mengungkapkan, walaupun terkesan sederhana, proses seperti itu cukup rumit karena umumnya pilot pesawat berbendera asing tidak mau begitu saja dipaksa mendarat, meski terpantau radar telah melenceng dari wilayah penerbangannya.

Untuk itu, dibutuhkan tim negosiasi yang bagus dan solid untuk melakukan tindakan tepat bagi pesawat-pesawat yang melakukan hal serupa.“Jadi kalau tadi ceritanya ada crew saya yang sakit. Saya selaku pilot harus menjaga keamanannya. Makanya saya tidak mau langsung turun saat dipaksa mendarat,” ucapnya.

Sumber: SINDO

Rajawali Ausindo 2012 di Lanud Abd Saleh

Latihan ini merupakan latihan bersama yang melibatkan pesawat TNI AU dan RAAF yang dilaksanakan setiap tahun dan diharapkan dilaksanakan bergantian antara Indonesia dan Australia

MALANG-(IDB) : Komandan Lanud Abdurrahman Saleh, Marsekal Pertama TNI Gutomo, S. IP, memimpin upacara pembukaan Latma “ Rajawali Ausindo 2012” di Lanud Abd Saleh.
 
Latihan ini merupakan latihan bersama yang melibatkan pesawat TNI AU dan RAAF yang dilaksanakan setiap tahun dan diharapkan dilaksanakan bergantian antara Indonesia dan Australia.

Dalam sambutannya Komandan Lanud menyampaikan, bahwa Rajawali Ausindo 2012 adalah sebagai bukti nyata dari salah satu realisasi hubungan dan kerjasama yang baik antara kedua angkatan bersenjata khususnya antara TNI AU dan RAAF.

“Kerja sama bilateral yang telah terjalin baik ini harus semakin ditingkatkan karena kita sadari bersama bahwa Negara Australia adalah Negara tetangga yang berdekatan dengan Negara kita dan perlu pembinaan hubungan kerja sama yang baik,” ujar Komandan Lanud.

Pada latihan yang akan dilaksanakan dari tanggal 18 sampai 21 September 2012 di Lanud Abdurrahman Saleh ini, baliau juga menekankan agar prosedur tetap latihan benar-benar dipahami, sehingga dalam pelaksanaannya tidak akan mengalami hambatan-hambatan yang berarti.

“Mekanisme latihan juga hendaknya benar-benar dilaksanakan dengan baik dan dinamis, jika ada hal-hal yang baru ditemukan dilapangan dapat dikenali untuk pengembangan selanjutnya,” imbuhnya.


Sumber : PelitaOnline

Embraer Tawarkan Alih Teknologi, Jika Borong Super Tucano 32 Unit

Penyambutan Super Tucano tiba di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang. (Foto: Lanud Abdulrahman Saleh)

18 September 2012, Malang: Pemerintah Brasil membuka kesempatan lebih luas untuk kerja sama pengadaan pesawat militer aneka jenis dari Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) pasca penjualan Super Tucano ke Indonesia.

Sayangnya, dalam pengadaan Super Tucano yang sudah berjalan, alih teknologi (ToT) yang didapat Indonesia minim. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Imam Sufaat mengatakan, setiap pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) harus disertai alih teknologi. Namun dalam pengadaan Super Tucano ini, alih teknologi yang didapat tidak sampai dalam tahap teknologi pembuatan. Menurut dia,minimal harus beli 32 unit agar Indonesia bisa mendapat ToT hingga proses produksi bersama.

”Kalau minimal 32 unit, beberapa pesawat bisa diproduksi di Indonesia. Tapi karena baru delapan, ToT untuk PT Dirgantara Indonesia (DI) baru bisa ground support,” terangnya seusai serah terima pesawat dari Pemerintah Brasil kepada Indonesia di Skuadron Udara 21 Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Malang,kemarin. Seperti diketahui, TNI AU membeli delapan pesawat Super Tucano dengan nilai USD141,99 juta. Pihak Embraer Brasil selaku produsen baru mengirimkan empat pesawat.

Direncanakan empat pesawat lagi akan dikirim pada 2013. KSAU menuturkan, memang diharapkan PT DI bisa turut serta dalam pembuatan pesawat yang cocok untuk counter insurgency (antigerilya) sehingga suatu saat Indonesia bisa memproduksi pesawat jenis ini. Namun, dengan jumlah pembelian yang sedikit tersebut, jika dipaksakan dilakukan produksi bersama justru membuat anggaran membengkak. ”Kita sudah lima tahun off, skuadron tidak terbang (pascagrounded OV-10 Bronco pada 2007). Jadi kita harus cepat (pengadaannya),”terangnya.

Adapun untuk persenjataan, lanjut KSAU,hanya sebagian yang tidak dibeli dari luar negeri seperti PDU, bom MK82,dan roket FFAR karena industri dalam negeri sudah bisa memproduksi. Selebihnya harus membeli dari luar negeri seperti peluru kaliber 12,7 mm dengan sistem tembak elektrik.” Super Tucano bisa mengangkut senjata hingga 1,5 ton,” sebut Imam. Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paulo Alberto da Silvera Soares mengatakan,kerja sama pertahanan antara kedua negara tak hanya untuk jangka pendek dan menengah,melainkan jangka panjang.

”Kami juga siap memberikan alih teknologi dan siap memberikan masukan apa pun yang dibutuhkan Indonesia,”tegasnya. Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security Luiz Carlos Aguiar menambahkan,Indonesia bisa melakukan alih teknologi Super Tucano minimal lima hingga tujuh tahun ke depan. Itu pun jika Indonesia membeli minimal dua skuadron.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengatakan, serah terima pesawat Super Tucano tersebut cukup monumental karena Indonesia mendapat pesawat beserta perjanjian kerja sama berkelanjutan. ”Januari 2013 datang lagi pesawat itu (4 unit),” ucapnya. Selanjutnya, pada akhir 2013 atau awal 2014, delapan unit yang dibeli pada tahap kedua dijadwalkan juga tiba.

Sumber: SINDO

Kekuatan Alutsista TNI AU Capai 40% pada 2014

Sejumlah prajurit TNI AU mengenakan pakaian tradisional menarik pesawat Super Tucano saat berlangsungnya serah terima pesawat itu di Skadron 21, Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang, Jatim, Senin (17/9). Pesawat Super Tucano tersebut dipesan TNI AU dari pabriknya di Brazil, dan pesawat selanjutnya akan dikirim secara bertahap untuk melengkapi kebutuhan skadron udara dengan jumlah 16 pesawat. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/Koz/Spt/12)

17 September 2012, Malang: Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro meyakini kekuatan alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI Angkatan Udara (AU) hingga semester I 2014 mendatang dalam rangka kekuatan pokok minimum (Minimum Esensial Force/MEF) akan mencapai 40%.

"Hadirnya pesawat tempur F-16, pesawat angkut dan pesawat tempur lainnya akan mempercepat dan menambah prosentasi kekuatan pertahanan kita, khususnya TNI AU," katanya dalam sambutan di acara Penyerahan Empat Pesawat Super Tucano EMB-314 dari Embraer Brasil kepada Kementerian Pertahanan, di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Senin..

Terlebih, lanjut Menhan, TNI AU telah menerima empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano. Diharapkan pada 2014 nanti 14 jenis alutsista akan menambah kekuatan TNI AU, seperti pesawat tempur, pesawat angkut, helikopter, pesawat latih, pesawat intai dan pesawat tempur lainnya..

"Saat ini TNI AU telah menerima empat unit pesawat Super Tucano. Pada Januari 2013 akan datang kembali empat unit. Diharapkan pada akhir 2013 atau awal 2014 akan tiba delapan unit lagi, sehingga tercapai satu skadron atau 16 unit," katanya..

Pesawat tempur itu akan menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang tidak digunakan lagi sejak 2007. Pesawat ini akan ditempatkan di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang..

Menurut dia, hingga 2014 mendatang pada akhir masa kabinet ini, diperkirakan ada sekitar 45 alutsista bergerak, baik untuk TNI AU, TNI Angkatan Laut maupun TNI Angkatan Darat. "Sebanyak 45 alutsista bergerak ini termasuk pesawat tempur maupun angkut, yang tiba di Indonesia," ujarnya.

Sumber: Investor Daily

Pembelian Super Tucano Dalam Rangka Mewujudkan TNI AU "the First Class Air Force"

Menhan, Purnomo Yusgiantoro berada di depan pesawat Super Tucano seusai menyerahkan pesawat itu di Skadron 21, Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang, Jatimr, Senin (17/9). Pesawat Super Tucano tersebut dipesan TNI AU dari pabriknya di Brazil, dan pesawat selanjutnya akan dikirim secara bertahap untuk melengkapi kebutuhan skadron udara dengan jumlah 16 pesawat. (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto/Koz/Spt/12)

17 September 2012, Malang: Pengadaan pesawat terbang Embraer EMB 314 Super Tucano merupakan bagian dari program pembangunan kekuatan pertahanan untuk mewujudkan kekuatan pokok pertahanan (minimum essensial force) dan dalam rangka membangun kekuatan TNI AU menuju the first class air force.

Untuk tujuan tersebut, pada rencana strategis 2010-2014, pemerintah telah merencanakan pengadaan 16 unit pesawat Super Tucano untuk tercapainya satu Skuadron Super Tucano yang utuh.

Demikian disampaikan oleh Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro pada acara Serah Terima Pesawat Terbang Embraer EMB 314 Super Tucano dan Follow On Support di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Senin (17/9).

Menurut Menhan, pesawat terbang Super Tucano ini akan memperkuat jajaran Wing 2 Lanud Abdurachman Saleh Malang khususnya Skadron-21 Koopsau 2. Penempatan Skuadron-21 Super Tucano di Lanud Abdulrachman Saleh Malang didasarkan pada pertimbangan taktis dan strategis yang cukup mendalam untuk menjaga dan melindungi wilayah kedaulatan NKRI serta melaksanakan tugas-tugas operasi pertahanan udara nasional serta penegakan hukum wilayah udara NKRI.

Menhan berharap keberadaan pesawat terbang Super Tucano dapat menjadi kebanggaan tidak hanya jajaran TNI dan TNI AU tapi bangsa Indonesia secara keseluruhan guna mengemban tugas mulia dalam melindungi dan mengamankan kedaulatan udara NKRI.

Pada kesempatan itu, Menhan menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada pemerintah Brasil serta apresiasi atas kerja sama yang erat dan bersahabat dalam meningkatkan kerja sama kedua negara di bidang pertahanan. "Kepada jajaran TNI khususnya TNI AU, dengan hadirnya pesawat terbang Super Tucano ini saya harapkan dapat memanfaatkannya secara optimal termasuk dalam sistem pemeliharaan dan perawatannya," kata Menhan.

Menhan berharap dengan kehadirannya pesawat Super Tucano ini, TNI AU khususnya jajaran Lanud Abdurachman Saleh, Malang akan lebih semangat dan termotivasi dalam pengabdiannya kepada negara dan bangsa ini," katanya.

Sebelumnya diberitakan, empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 buatan Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) Brasil secara resmi memperkuat memperkuat kekuatan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) di jajaran TNI Angkatan Udara. Peresmian ditandai dengan diserahterimakannya empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 dari Embraer kepada Kementerian Pertahanan RI, Senin (17/9) di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur.

Serah terima dilakukan secara simbolis dari Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security, Luiz Carlos Aguiar kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan RI, Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Usai diterima oleh Kemhan RI, selanjutnya diserahterimakan kepada Mabes TNI diwakili oleh Asisten Logistik (Aslog) Panglima TNI, Mayjen TNI H. Hari Krisnowo dan kemudian diserahkan kepada Mabes TNI AU diwakili oleh Aslog KSAU, Marsekal Muda TNI JFP Sitompul.

Serah terima disaksikan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat, dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan RI, Mabes TNI dan Mabes TNI AU. Hadir pula Dubes Brasil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares.

Sumber: Jurnas

Menhan : Hingga 2014 TNI AU Akan Diperkuat 14 Jenis Alutsista

MALANG-(IDB) : Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, menargetkan hingga 2014 atau hingga berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu jilid II, 14 jenis alutsista akan hadir untuk memperkuat pertahanan udara TNI AU.

Alutsista tersebut, nilainya ialah 30 persen dari total Rp 57 Triliun yang telah dianggarkan pemerintah untuk 45 kegiatan di jajaran TNI AD, TNI AU, dan TNI AL.


Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, dalam sambutannya di serah terima empat pesawat EMB-314 Super Tucano di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, siang ini (17/9/2012) menguraikan bahwa untuk TNI AU, jenis-jenis alutsista yang akan diadakan diantaranya ialah alutsista jenis pesawat angkut, jenis pesawat tempur, jenis Helikopter, dan jenis pesawat latih.


"Setidaknya sampai akhir kabinet, semuanya diharap akan terpenuhi. Itu belum termasuk alutsista tidak bergerak seperti radar misalnya," kata Purnomo.


Sementara itu, untuk Super Tucano sendiri, ditargetkan pada Januari 2013 mendatang, empat Tucano akan kembali tiba di Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh. Sedangkan delapan sisanya, direncanakan akan tiba pada akhir 2013 atau paling lambat pada awal 2014.
 
"Sehingga total akan ada satu skadron penuh Super Tucano yang memperkuat pertahanan kita," imbuhnya.



Sumber : Tribunnews

Super Tucano Resmi Perkuat TNI AU

(Foto: DMC)

17 September 2012, Jakarta: Empat unit pesawat tempur taktis Super Tucano EMB-314 buatan Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer) Brasil secara resmi menjadi bagian dari alat utama sistem senjata di jajaran TNI Angkatan Udara.

Peresmian ditandai dengan diserahterimakannya empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 dari Embraer Brasil kepada Kementerian Pertahanan RI, Senin (17/9) di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur. Serah terima dilakukan secara simbolis dari Chief Executive Officer (CEO) Embraer Defense and Security, Luiz Carlos Aguiar kepada Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan RI, Mayjen TNI Ediwan Prabowo.

Usai diterima oleh Kemhan RI, selanjutnya diserahterimakan kepada Mabes TNI diwakili oleh Asisten Logistik (Aslog) Panglima TNI, Mayjen TNI H Hari Krisnowo dan kemudian diserahkan kepada Mabes TNI AU diwakili oleh Aslog KSAU, Marsekal Muda TNI JFP Sitompul.

Serah terima disaksikan Menteri Pertahanan RI, Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Imam Sufaat, dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan RI, Mabes TNI dan Mabes TNI AU. Hadir pula Dubes Brasil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares.

Super Tucano di shelter Lanud Abdulrahman Saleh, Malang. (Foto: Tempo/Aris Novia Hidayat)

Serah terima empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 ini merupakan bagian dari kontrak pembelian 8 (delapan) unit pesawat sejenis antara Kemhan RI dengan Embraer pada tahun 2010 dengan nilai total US$141,99 juta.

Sedangkan empat unit pesawat Super Tucano lainnya direncanakan akan tiba di Indonesia pada bulan Maret 2013. Delapan pesawat tempur ini ditempatkan di Skuadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur untuk menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang secara resmi tidak lagi dioperasikan oleh TNI AU sejak tahun 2009.

Pesawat Super Tucano merupakan pesawat tempur taktis yang berfungsi counter insurgency, sebagai pesawat remote air control (pesawat kontrol udara) dan juga dapat digunakan sebagai pesawat intai. Keunggulan pesawat jenis Super Tucano ini tidak hanya lebih murah dibandingkan dengan pesawat tempur jenis F-16, akan tetapi juga paling murah biaya operasinya.

Keunggulan lainnya, pesawat Super Tucano mampu membawa amunisi minimal 1.500 kilogram. Selain itu, pesawat Super Tucano juga digunakan oleh banyak negara termasuk Amerika Serikat. Pesawat Super Tucano ini juga lebih unggul karena bisa beroperasi minimal tiga jam. Di Brasil, pesawat Super Tucano ini berhasil mengurangi illegal logging dan trafficking.

Sebelumnya, empat unit pesawat Super Tucano EMB-314/A-29 tiba di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, pada Minggu (2/9). Pesawat-pesawat itu tiba setelah sebelumnya menempuh perjalanan selama dua minggu. Keempat pesawat Super Tucano yang diawaki pilot dan teknisi Embraer itu melintasi wilayah udara seperti Spanyol, Maroko, Italia, Yunani, Mesir, Qatar, Oman, India, Thailand, dan mendarat di Pangkalan Udara Soewondo di Medan, Sumatera Utara.

Kemudian dilanjutkan ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma dan berakhir di Malang. Keempat pesawat Super Tucano tersebut telah diregistrasi dengan nomor ekor masing-masing TT 3101, TT 3102, TT 3103, dan TT 3104.

Tadi pagi, Senin (17/9) Menhan bersama rombongan take-off dari Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta menuju Lanud Abdulrachman Saleh dengan menggunakan pesawat Hercules.

Fasilitas Pendukung Super Tucano Diresmikan

Kehadiran pesawat Super Tucano di Skadron Udara 21 Wing 2 Lanud Abd saleh perlu didukung dengan fasilitas-fasilitas untuk mendukung operasional pesawat Super Tucano diantaranya ruang CBT (Computer Base Trining), ruang Simulator, ruang GSE (Ground Supply Equipment) dan fasilitas pendukung lainnya.

Pada kesempatan ini, semua fasilitas tersebut diresmikan oleh Pangkoopsau II, Marsekal Muda TNI Agus Supriatna, minggu, (16/9), di Skadron Udara 21 Wing 2 Lanud Abd Saleh. Dengan didampingi oleh pejabat dari Koopsau II, Komandan Lanud Iswahyudi Marsma TNI M. Syaugi dan Komandan Lanud Abd Saleh, Marsma TNI Gutomo, S.IP. beserta staf dan pejabat Insub.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti oleh Pangkoopsau II, Marsekal Muda TNI Agus Supriyatna dan pengguntingan pita oleh Ibu Agus Supriyatna disaksikan seluruh pejabat yang hadir di peresmian tersebut.

Sumber: Jurnas/Lanud Abdulrahman Saleh

Pangkalan TNI AU Soewondo Dinilai Sangat Strategis

MEDAN-(IDB) : Panglima Komando Operasi TNI AU (Pangkoopsau I) Marsekal Muda TNI, Bagus Puruhito meminta kepada seluruh jajaran TNI dan Polri agar mencermati perkembangan situasi nasional yang belakangan ini sering terjadi di Indonesia. Hal tersebut dimintanya dalam memberikan amanat pada upacara serah terima jabatan Komandan Pangkalan Angkatan Udara (Lanud) Soewondo Medan, Selasa (11/9).

"Melihat perkembangan situasi nasional yang belakangan ini muncul, sesama anggota TNI dan Polri kita harus meningkatkan solidaritas, terutama dengan masyarakat dan instansi lainnya yang ada pada wilayah ini," ucap Bagus.

Saat ini dikatakan Bagus bahwa Indonesia khususnya TNI sedang dihadapkan pada upaya untuk mengatasi beberapa permasalahan tersebut. Misalnya permasalahan aksi radikalisme dan kekerasan horisontal dikalangan masyarakat saat ini.

Adanya illegal logging, illegal fishing, penyelundupan, lalu lintas narkoba yang terus berkembang, pengamanan wilayah perbatasan dengan negara tetangga serta pengamanan Selat Malaka kedepannya akan menjadi cermatan TNI dan Polri.

"Sebagai pimpinan, saya mengharapkan agar kedepannya pangkalan udara ini dapat menyelenggarakan fungsinya dengan baik, diantaranya menyelenggarakan pembinaan dan penyiapan satuan dalam jajarannya, mengumpulkan dan merekam data guna penyempurnaan taktik atau teknik operasi da latihan," ucapnya.

Apalagi ditambahkan bagus bahwa jika ditinjau dari letak geografis, Pangkalan Udara Soewondo ini sangat strategis. Posisinya yang strategis tersebut membuatnya berhadapan langsung dengan Selat Malaka.

Banyak objek vital nasional, adanya rawan konflik yang membutuhkan kesiapan operasional kekuatan udara yang optimal yang penyelenggaraannya menggunakan Pangakalan Udara Soewondo ini.

"Melihat situasi ini saya terus berharap kepada seluruh anggota Lanud Soewondo agar dalam menjalankan tugasnya tetap menonjolkan aspek moral, etika dan disiplin, serta dapat berpikir jernih dan mau melihat suatu persoalan secara proporsional dengan mempertimbangkan norma hukum dan sosial yang berlaku. Kode aetik kehormatan TNI juga harus dipegang teguh," harapnya.

Ucapan terima kasih



Dalam serah terima jabatan tersebut, pihaknya juga mengucapkan rasa terimakasih kepada Kolonel Pnb Abdul Rasyid Djauhari selama memimpin Lanud Soewondo.

"Atas kerja keras kolonel, TNI AU juga masih mempertahankan Lanud Soewondo sebagai pangkalan aju bagi pelaksanaan tugas operasinya, untuk menghadapi gangguan pertahanan dan keamanan NKRI dari ancaman yang datang dari dalam dan luar negeri," ujarnya.

Rasa ucapan terimakasih juga diberikan bagus kepada Ny, Abdul Rasyid Djauhari yang setia selalu dalam mendampingi kolonel. Sementara kepada Kolonel Pnb Sri Mulyo Handoko, S.IP, MAP yang terpilih diucapkannya selamat menjalankan amanah secara baik.

Sebelumnya pejabat lama, Kolonel Pnb A Rasyid Djauhari yang merupakan lulusan Akabri Udara tahun 1985 akan menempati jabatan baru sebagai Pamen SAHLI KASAU Bidang Air Power. 



Sumber : Analisa

Pembelian 18 Paket Rudal Maverick All-Up-Round Masih Dikaji

JAKARTA-(IDB) : TNI Angkatan Udara masih mengkaji penawaran Amerika Serikat atas rudal Maverick. Peluru kendali tersebut merupakan bagian dari sistem persenjataan pesawat F-16 yang sudah dibeli Indonesia. "Tentu kami membutuhkan (rudal) itu," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Azman Yunus ketika dihubungi oleh Tempo, Senin, 10 September 2012.

Namun TNI Angkatan Udara masih menunggu Kementerian Pertahanan untuk membahas penawaran tersebut. "Nanti kami kabari lagi kelanjutannya seperti apa," kata dia.

Sebelumnya, dalam situs Business Recorder, Presiden Amerika Serikat Barack Obama menyetujui untuk menjual perangkat rudal F-16 ke Indonesia. Berdasarkan nota yang dikirim pada kongres beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut meminta paket 18 rudal jenis AGM-65K2 "Maverick All-Up-Round", 36 rudal untuk latihan para pilot, tiga rudal latihan "perawatan" beserta suku cadangnya, perlengkapan pengujian, serta latihan personal.

Kementerian Pertahanan mengaku akan menyesuaikan rencana pembelian rudal AGM-65K2 "Maverick All-Up-round" dengan kebutuhan TNI AU. "Itu domain TNI AU, biar mereka yang putuskan," ujar Sekertaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Eris Heryanto saat dihubungi oleh Tempo, Kamis, 6 September 2012. 



Sumber : Tempo

TNI AU : Asumsi Sementara Biaya Upgrade Hercules Hibah Tetap US$15 Juta

JAKARTA-(IDB) : Markas Besar TNI Angkatan Udara mengatakan besaran biaya upgrading empat pesawat Hercules C-130 H tetap sebesar US$ 15 juta per unit. "Sementara ini besarannya tetap segitu," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Azman Yunus ketika dihubungi Tempo, Senin,10 September 2012.

Selain menerima hibah empat pesawat bekas dari Australia itu, rencananya pemerintah juga akan membeli enam Hercules seharga US$ 15 juta per unit. Azman enggan menjelaskan adanya biaya tambahan untuk suku cadang Hercules. "Saya tak bisa jelaskan itu. Bukan bagian saya," ujar Azman.

Kementerian Pertahanan menfaku belum dapat memastikan besaran biaya upgrading empat pesawat Hercules buatan Amerika Serikat ini. "Kami belum melihat secara detail apa saja yang perlu diperbaiki dari empat pesawat itu," ujar Sekertaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Eris Herryanto saat dihubungi oleh Tempo, Kamis pekan lalu.

Sebelumnya Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pernah mengatakan hibah Hercules asal Australia ini menguntungkan. "Dengan menerima hibah Hercules seharga US$ 15 juta, pesawat itu masih bisa dipakai selama 20 tahun," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro kepada para pewarta beberapa waktu lalu.

Harga tersebut dinilai jauh lebih murah daripada harga baru pesawat Hercules yang mencapai US$ 60 juta. "Sudah termasuk biaya service empat pesawat hibah dan harga enam pesawat yang dibeli," kata Purnomo kala itu.




Sumber : Tempo

Pesawat C-295 Dijadwalkan Tiba 21 September di Indonesia

C-295 Spanish Air Force. (Photo: Airbus Military)

10 September 2012, Jakarta:Empat penerbang TNI Angkatan Udara dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, yaitu Letkol Pnb Elistar Silaen Komandan Skadron Udara 2 Lanud Halim, Mayor Pnb Destianto, Mayor Pnb Trinanda dan Kapten Pnb Reza Fahlifie saat ini berada di Airbus Military, Sevilla, Spanyol untuk menjalani Training dengan menggunakan pesawat C-295 Airbus Military selama kurang lebih tiga Bulan dari Bulan Juli sampai September 2012.

“Saat ini program training kami sudah melaksanakan latihan simulator sebanyak 48 jam, mulai dari tanggal 5 Sepember kami sudah flight training degan pesawat C-295 Airbus Military, dan rencana training sampai dengan tgl 14 September” ujar Komandan Skadron 2 Letkol Pnb Elistar Silaen yang disampaikannya melalui e-mail yang dikirimkan kepada Penerangan Lanud Halim baru-baru ini.

Lebih lanjut Komandan Skadron 2, mengatakan bahwa “latihan training masing-masing pilot dilaksanakan Enam jam terbang. Rencana ferry pesawat C-295 Airbus Military sementara tanggal 17 September dan tiba di Indonesia tanggal 21 September” ujarnya sambil menharapkan bantuan doa kepada seluruh anggota TNI Angkatan Udara, agar seluruh kegiatan latihan dan rencana kembali ke Indonesia berjalan dengan lancar dan aman.

Selain Penerbang TNI Angkatan Udara dua penerbang Test Pilot dari PT Dirgantara Indonesia (DI) Ester Gayatri saleh dan Novirsta Mafriando Rusli serta satu Flight Test Engineer Heru Riadhi Soenardi juga melakukan training dengan menggunakan pesawat C-295 di Airbus Military, Sevilla, Spanyol.

Pesawat C-295 buatan Airbus Military yang bekerja sama dengan PT DI direncanakan akan memperkuat jajaran TNI Angkatan Udara di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma menggantikan operasional pesawat F-27 yang belum lama dinyatakan tidak boleh terbang lagi oleh Pemerintah.

Sumber: TNI AU

Wamenhan : TNI AU Segera Diperkuat 10 Hercules Eks Australia

JAKARTA-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsuddin mengatakan, jika semua persyaratannya terpenuhi, Indonesia akan beli enam Hercules dari Australia. Sebelumnya, Australia telah menghibahkan empat pesawat, sehingga akan punya 10 Hercules baru.

"Kita akan punya total sekitar 30 Hercules guna meng-cover dua touble spot dalam waktu bersamaan, dan tempat berbeda," kata Sjafrie, di Jakarta, Rabu (5/9).


Menurutnya, TNI AU akan punya dua batalion airborne, sekaligus kalau ada bencana alama bisa digerakkan simultan. "Jadi manfaatnya bisa juga kita gunakan untuk linud, transport udara dan operasi kemanusiaan," jelasnya.


Ketika disinggung soal protes ICW terkait proses pengadaan alutsista, Sjafrie mengatakan Kementerian Pertahanan dalam proses pengadaan tidak dilakukan secara homogen, tapi melalui supervisi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan berkonsultasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).


"Kritikan ICW kita anggap kontrol agar kita terus waspada. Tapi selama ini Kemhan lakukan proses pengadaan dapat supervisi dari BPKP dan juga kita konsultasi dengan BPK. Sekarang kalau beli kita pikir transparansi," jelasnya.


Misalnya pembeliaan Main Battle Tank dari Jerman, lanjutnya, beli MBT itu semua masuk boks akuntabilitas terlebih dahulu. "Jadi saya kira kalau ada pengamat mengatakan itu, itu bagaimana kita tingkatkan ketelitian dan kecermatan dalam proses," terangnya.


Terkait rencana pemekaran Armada Laut, Wamenhan mengatakan tergantung dari strategi pertahanan dan dari postrur. "Kita tidak bisa serta merta kembangkan kekuatan bila tergantung anggaran, nanti gagal. Kita gak boleh kembangkan kekuatan kalau nanti melebihi personel yang kita miliki," katanya.


Pasalnya, lanjut Wamenhan, anggaran pertahanan sebanyak 42 persen belanja pegawai. "Jadi setinggi-tingginya anggaran kalau untuk belanja pegawai, nanti pembangunan kekuatan jadi turun. Jad kita sebagai regulator dan policy maker, tidak bisa serta merta katakan iya sebelum lakukan kajian-kajian yang komprehensif secara strategis," ujarnya.


Menurutnya, meski penguatan armada laut selalu berorientasi pada ancaman, namun untuk menanggulangi ancaman itu tidak harus serta merta dengan pemekaran kekuatan.


"Kita bisa dengan hight mobility, atau dengan kemampuan teknologi persenjataan yang kita miliki. Semakin tinggi teknologi persenjataan, semakin kurang pengawasannya, makin efisien penggunaan anggaran rutin," pungkasnya.



Sumber : PikiranRakyat

TNI AU Tambah Kekuatan Pilot Hawk MK-53

MADIUN-(IDB) : Penerbang tempur dari Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi berhasil terbang solo, Selasa (4/9) yaitu Letda Pnb Barika Harma dan Letda Pnb Stevia Andi Kusuma dengan pesawat Hawk MK-53. Peristiwa penting tersebut ditandai dengan acara tradisi pemecahan telur di kepala yang bersangkutan, oleh Komandan Lanud Iswahjudi, Marsma TNI M. Syaugi, S.Sos.

Dengan berhasilnya Letda Pnb Barika Harma dan Letda Pnb Stevia Andi Kusuma menerbangkan pesawat tempur Hawk MK-53 secara mandiri (terbang solo), maka kekuatan pilot Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, bertambah, sekaligus sebagai bukti bahwa proses regenerasi terus berjalan, meskipun ditengah kondisi jumlah kesiapan dan jam terbang pesawat yang terbatas.

Letda Pnb Barika putra kelahiran Pekanbaru (25 Th) dan Letda Pnb Stevia putra kelahiran Pongkai, Riau, (24 Th), keduanya lulusan AAU (Akademi Angkatan Udara) Th 2009, Sekbang (Sekolah Penerbang) angkatan 82. Sebelum berhasil terbang solo dengan Hawk MK-53 juga pernah menerbangkan pesawat AS-202/Bravo dan T-34/Charlie.

Pada kesempatan tersebut Komandan Lanud Iswahjudi mengatakan terbang solo tidak bisa ditempuh melalui jalan pintas melainkan harus selalu belajar dan berlatih. Dengan keberhasilan ini boleh berbangga dan bersenang hati namun sesaat saja, karena tugas-tugas mendatang masih banyak yang harus dilaksanakan.

”Dengan berhasilnya terbang solo diharapkan para penerbang harus benar-benar menguasai dan mengawaki pesawat yang diterbangkan” lanjut Marsma TNI M. Syaugi.



Sumber : TNI AU

Wapres Boediono Puas ke Iran Memakai Pesawat Boeing TNI AU

JAKARTA-(IDB) : Wakil Presiden Boediono menyatakan puas menggunakan pesawat Boeing 737-400 baru milik TNI AU yang mengantarnya ke Iran. Boediono datang ke Iran untuk menghadiri KTT Gerakan Nonblok XVI.

"Saya bersyukur dan bangga dengan menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara, apalagi waktu dan transit penerbangan berikutnya cepat, lancar dan waktunya tidak bertele-tele," ujar Boediono kepada Kepala Biro Rumah Tangga Wapres Taufik, seperti dikutip dari rilis yang dikirimkan TNI AU kepada detikcom, Senin (3/9/2012). Penerbangan ini merupakan rute terjauh pertama kali untuk penerbangan VVIP dengan pesawat tersebut.


Boediono mengatakan akan menggunakan pesawat Boeing 737-400 A-7304 dari TNI AU baik penerbangan dalam negeri maupun keluar negeri. "Saya yakin dengan kemampuan dan profesionalisme Penerbang TNI Angkatan Udara tidak diragukan lagi," ujarnya kepada para penerbang pada saat melakukan foto bersama sebelum keluar dari pesawat di Bandara Lanud Halim.


Pentauan detikcom yang mengikuti kunjungan Boediono ke Iran menggunakan pesawat tersebut, perjalanan sangat lancar. Boediono beserta rombongan berangkat dari Halim pada Selasa (28/8) sekitar pukul 19.00 WIB.


Perjalanan menuju Iran cukup panjang dan memakan waktu hampir 14 jam dengan dua kali transit di Colombo dan Abu Dhabi. Para pramugari dalam pesawat itu mengenakan celana panjang biru, kemeja biru, dan vest biru tua. Mereka berambut pendek sebahu.


Kursi pesawat itu juga didominasi warna biru. Para wartawan duduk di bagian belakang pesawat sedangkan Boediono, Ny Herawati dan rombongan duduk di bagian depan pesawat.


Komandan Lanud Halim Perdanakusumah Marsekal Pertama TNI A Adang Supriyadi mengatakan sangat bangga dan berterima kasih kepada para penerbang. Hal ini karena pesawat yang digunakan Wapres berada langsung di bawah pengawasan Komandan Lanud.


Para penerbang yang membawa rombongan Wapres dalam penerbangan ke Timur Tengah adalah Letkol Pnb Ronal, Letkol Hilman, Mayor Pnb Ali Gusman dan Lettu Pnb Septi.


"Kami bangga dan merasa terhormat atas kepercayaan pimpinan negara ini, mudahan-mudahan misi selanjutnya kami tetap dipercaya karena kami mampu dan profesional," ujar mereka setelah melaksanakan misi ini dengan baik, aman dan lancar.


Sumber : Detik

Lima Hercules TNI AU Laksanakan Latihan Pratugas PPRC

SUPADIO-(IDB) : Sebanyak lima pesawat Hercules dari Skadron Udara 31 dan Skadron Udara 32 melaksanakan latihan pratugas PPRC di Lanud Supadio, Senin (3/9). Satu persatu pesawat Hercules ini take off dan menuju sasaran. Adapun rute latihan pratugas yaitu Lanud Supadio menuju Tanjung Datuk lalu ke Pulau Benua dan landing kembali di Lanud Supadio. 

Pada latihan pratugas ini Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma mendukung 3 pesawat Hercules antara lain : pesawat A-1317 dengan pilot Letkol Pnb Eko dan copilot Kapten Pnb Dion, 1321 dengan pilot Mayor Beni dan copilot Kapten Pnb Yayan, pesawat A-1323 dengan pilot Mayor Pnb Fatta dan copilot Kapten Pnb Irwanda dan Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh mendukung dua pesawat Hercules yaitu pesawat A-1305 dengan pilot Mayor Pnb Reza dan copilot Kapten Pnb Fendi dan pesawat A-1312 dengan pilot Letkol Pnb Arifin dan copilot Kapten Pnb Marton. 

Turut menyaksikan fly pass lima pesawat Hercules antara lain : Panglima Divisi (Pangdiv) I/Kostrad Mayjen TNI Daniel Ambat, Kasdiv Brigjen TNI Anas, Komandan Lanud Supadio Kolonel Pnb Kustono, S.Sos dan para pejabat Lanud Supadio, Skadron Udara 1 dan Batalyon 465 Paskhas serta para pejabat TNI AD.


Sumber : TNI AU

Super Tucano Mendarat di Malang

Empat pesawat Super Tucano beratraksi dengan membentuk formasi sebelum mendarat di Pangkalan Induk Skadron 21, Lanud Abd Saleh, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/9). Pesawat tempur Super Tucano yang menggantikan pesawat pengintai OV-10 Bronco tersebut mempunyai peralatan navigasi yang lebih canggih serta dilengkapi persenjataan peluru kendali, bom dan roket. (Foto: ANTARA/ARI BOWO SUCIPTO/ss/nz/12)

2 September 2012, Malang, Jawa Timur: Empat EMB-314 Super Tucano tipe kursi ganda tiba di Pangkalan Udara Utama Abdurrahman Saleh, Malang, Jawa Timur, Sabtu. Mereka dipiloti delapan pilot pabrikan Embraer, Brazil, yang mengantar dalam penerbangan selama 12 hari.

Di Malang, keempat Super Tucano dalam kofigurasi standar tanpa senjata itu diterima Panglima Komando Operasi Udara II TNI AU, Marsekal Muda TNI AU Agus Supriatna, dan sejumlah pucuk pimpinan setempat.

Super Tucano, pesawat kontra insurgensi dan intai strategis ditetapkan menggantikan OV-10F Bronco, yang dipensiunkan pada 2007.

"Pesawat ini belum diserahkan secara resmi, pada 17 September nanti baru ada penyerahan resmi ke negara atau TNI AU," kata Supriatna. Super Tucano ditempatkan di Skuadron Udara 21, skuadron udara yang sempat dinonaktifkan pada masa lalu.

Ia mengemukakan, TNI AU memesan 16 Super Tucano yang semuanya tipe kursi ganda. Batch pertama empat unit tiba, disusul batch kedua pada awal 2013 dan batch pamungkas pada akhir 2013. Di ASEAN, baru Indonesia yang menggunakan pesawat tersebut.

Namun negara-negara Amerika Latin sudah cukup lama memakai Super Tucano, di antaranya Venezuela, Brazil, dan Meksiko. Untuk mendaratkan keempat Super Tucano itu ke Indonesia, empat kapten pilot Embraer mengendalikannya, yaitu Almir Sumar De Azevedo, Carlos Moreira Chaster, Airton Manoel Rodrigues, dan William Souza.

Sumber: ANTARA News