Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN DARAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANGKATAN DARAT. Tampilkan semua postingan

Tank Leopard Akan Tiba di Indonesia Mulai November

26 September 2012

Tank Leopard 2A4 dan versi yang telah di-upgrade (photo : Militaryphotos)

Jakarta (ANTARA News) - Sebagian tank tempur utama (Main Battle Tank/MBT) Leopard dan tank tempur medium Marder dari Jerman dijadwalkan tiba di Indonesia pada awal November 2012 dengan pengiriman dilakukan melalui angkutan udara dan laut.

"Leopard akan dikirim bersama dengan Marder pada awal November 2012 nanti. Sekarang Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) sedang di sana dan akan pulang tanggal 30 September 2012," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Mayjen TNI Hartind Asrin di Makodiv-1 Kostrad, Cilodong, Depok, Jawa Barat, Selasa.

Pengiriman tahap pertama ini, lanjut dia, akan datang sekitar 15 unit tank berbobot 60 ton itu, sementara untuk tank Marder belum diketahui berapa yang akan datang.

Staf Ahli Menhan bidang keamanan itu mengatakan, dipersiapkan dua unit pesawat yang akan digunakan khusus mengangkut tank-tank tersebut. "Tapi nanti kombinasi pengirimannya, ada yg melalui pesawat, ada juga melalui kapal," kata Hartind.

Pengiriman ini molor dari rencana semula pada Oktober 2012 mendatang karena terkendala administrasi. Pada November mendatang, tank-tank tersebut akan ditunjukkan kepada publik.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menuturkan, pemerintah membeli tank Leopard sebanyak 103 unit, tank Marder sejumlah 50 unit dan membeli 10 tank pendukung.

Finalisasi penandatanganan kontrak diharapkan bisa dilakukan akhir September 2012. "Pihak Rheinmetall (produsen) akan berada di Indonesia untuk finalisasi penandatanganan kontrak yang akan dilaksanakan pada minggu ke empat September 2012," katanya.

Apache for Indonesia : Types AH-64D Block III Longbow and Fully Armed

22 September 2012

AH-64D Block III Longbow (photo : global military review)

WASHINGTON– The Defense Security Cooperation Agency notified Congress September 19 of a possible Foreign Military Sale to the Government of Indonesia of 8 AH-64D APACHE Block III LONGBOW Attack Helicopters and associated equipment, parts, training and logistical support. The estimated cost is $1.42 billion.

The Government of Indonesia has requested a possible sale of 8 AH-64D APACHE Block III LONGBOW Attack Helicopters, 19 T-700-GE-701D Engines (16 installed and 3 spares), 9 Modernized Target Acquisition and Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensors, 4 AN/APG-78 Fire Control Radars (FCR) with Radar Electronics Units (Longbow Component), 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers, 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5th Sensor and Improved Countermeasure Dispenser, 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets, 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets, 24 Integrated Helmet and Display Sight Systems (IHDSS-21), 32 M299A1 HELLFIRE Missile Launchers, and 140 HELLFIRE AGM-114R3 Missiles.

Also included are Identification Friend or Foe transponders, 30mm guns and ammunition, communication equipment, tools and test equipment, training devices, simulators, generators, transportation, wheeled vehicles, organizational equipment, spare and repair parts, support equipment, personnel training and training equipment, U.S. government and contractor engineering, technical, and logistics support services, and other related elements of logistics support. The estimated cost is $1.42 billion.

This proposed sale will contribute to the foreign policy and national security of the United Statesby helping to improve the security of a friendly country which has been, and continues to be, an important force for political stability and economic progress in Southeast Asia.

The proposed sale provides the Government of Indonesia with assets vital to protect and deter both external and other potential threats. Indonesia will use these APACHE helicopters to defend its borders, conduct counterterrorism and counter-piracy operations, and control the free flow of shipping through the Strait of Malacca.

The materiel and services under this program will enable Indonesia to become a more capable defensive force and will also provide key elements required for interoperability with U.S. forces.

The proposed sale of this equipment and support will not alter the basic military balance in the region.

The prime contractors will be The Boeing Company in Mesa, Arizona; Lockheed Martin Corporation in Orlando, Florida; General Electric Company in Cincinnati, Ohio; Lockheed Martin Millimeter Technology in Owego, New York; and Longbow Limited Liability Corporation in Orlando, Florida. Implementation of this proposed sale may require the assignment of five U.S. contractor representatives and three U.S. Government representatives in country full-time for equipment checkout, fielding, and technical
support.

There will be no adverse impact on U.S. defense readiness as a result of this proposed sale.

This notice of a potential sale is required by law and does not mean the sale has been concluded.

(DSCA)

Dua Howitzer Caesar 155 mm Tiba di Jakarta

22 September 2012

Howitzer Caesar 155mm buatan Nexter Prancis (all photos : ARC)

JAKARTA– Dua howitzer tipe truck mounted berkaliber 155mm tiba di bandara Halim Perdana Kusumah,  jakarta diangkut dengan pesawat Rusia tipe Il-76. Howitzer Caesar buatan Nexter Prancis ini digolongkan sebagai Self Propelled Howitzer/howitzer yang dapat bergerak sendiri dengan bentuk yang lebih inovatif dibandingkan howitzer jenis tersebut yang sebelumnya menggunakan roda rantai (tracked).

Sejalan dengan percepatan modernisasi TNI, maka Angkatan Darat direncanakan mendapatkan  dua batalion howitzer Caesar ini. Satu batalion Artileri Medan terdiri dari 3 baterai, dimana 1 baterai terdiri dari 6 meriam, dengan demikian jumlah howitzer Caesar untuk TNI AD akan mencapai jumlah 36 unit.

Saat ini TNI AD memiliki 2 batalion howitzer gerak sendiri, masing-masing adalah Yon Armed 7/105 GS di Cikiwul Bekasi (Kodam Jaya), dan Yon Armed 5/105GS Cimahi Jawa Barat (Kodam Siliwangi). Howitzer yang digunakan adalah AMX Mk-61 eks Belanda berjumlah 50 unit yang diperoleh pada akhir 1970-an hingga tahun 1982. Howitzer beroda rantai dengan berat 13,7 ton ini memiliki meriam kaliber 105mm.

TNI AD juga memiliki howitzer caliber 155mm tipe tarik (towed) yang diperoleh dari Singapura pada tahun 1997. Howitzer FH-88 ini (di Indonesia sering disebut FH-2000) mempunyai bobot 12,9 ton dan digunakan oleh Batalyon Armed 9 Kostrad di Sadang, Purwakarta.


Menilik dari jangkauan tembakan maka pilihan atas howitzer Caesar ini menjadikan korps Artileri Medan memiliki jangkauan tembakan yang meningkat drastis. Bila AMX Mk-61 hanya mempunyai jangkauan tembakan 15km, dan FH-88 mempunyai jangkauan tembakan maksimal 30 km, maka Caesar mampu melakukan tembakan dengan jangkauan hingga 42-50 km. Jauh-dekatnya jangkauan tembakan ditentukan pula oleh pilihan proyektil yang dipakainya.

Howitzer Caesar juga digunakan oleh Thailand, negeri gajah putih tersebut membeli 6 unit pada tahun 2006 dan semua unit telah diterima pada tahun 2010. Pembelian oleh Thailandini merupakan perolehan order ekspor pertama-kali bagi Caesar.

Howitzer Caesar bersifat air-transportable, dapat diangkut dengan pesawat seperti C-130 Hercules ataupun A-400M, ini sangat memudahkan bagi howitzer ini untuk dapat disebar ke daerah konflik dengan cepat.
  
Dua howitzer Caesar yang telah datang di Indonesia ini akan mengikuti parade militer pada hari ulang tahun TNI tanggal 5 Oktober 2012. Setelah parade militer tersebut, Caesar dapat dilihat dari dekat oleh public pada Pameran Alutsista di Lapangan Monas pada tanggal 6-8 Oktober 2012.

(Defense Studies)

Satu Baterai Rudal Starstreak Masuk ke Arhanudse Kodam Jaya

21 September 2012

Rudal Starstreak II versi vehicle mounted (photo : Thierry Lachapelle)

Jam Komandan Yonarhanudse 10/1/F

KODAM JAYA - Komandan Yonarhanudse 10/1/F Letkol Arh I Made Kusuma D.G., memberikan Jam Komandan kepada seluruh personelnya. Acara yang bertepatan dengan Bulan Ramadhan ini dihadiri oleh 453 personel dengan sangat antusias, bertempat di aula Yonarhanudse-10/1/F, Selasa (07/08).

Adabeberapa hal terpenting yang disampaikan oleh Danyon Arhanudse 10/1/F yang berhubungan dengan kegiatan Batalyon ke depan.

Pertama, bahwa untuk menjadi prajurit yang profesional, seluruh prajurit harus terdidik dan terlatih, hal ini sesuai dari pengarahan dari Kasad pada saat Rabiniscab terpusat.

Kedua, mengenai pembelian Alutsista bagi jajaran Arhanud yang telah disahkan oleh Kasad serta berhubungan dengan masuknya Rudal Starstreak ke Batalyon Arhanudse 10/1/F sebanyak 1 (satu) Baterai.

Hal berikutnya adalah penekanan agar seluruh prajurit menjauhi pelanggaran sekecil-kecilnya. Prajurit profesional adalah prajurit yang tidak memiliki pelanggaran.

(TNI)

Defence Ministry Begins Probe Into RIV Acquisition

 21 September 2012


Rapid Intervention Vehicle for Malaysian Special Forces (photo : Green n Black Screen) 

KUALA LUMPUR (Bernama) -- The Defence Ministry has began probing the acquisition of the Rapid Intervention Vehicle (RIV), its minister, Datuk Seri Dr Ahmad Zahid Hamidi said.

He said legal actions would also be taken against those involved in any misappropriation in the purchase of the vehicles.

PGK Detachment A using Ford Explorer Sport Trac as RIV (photo : Rizuan)

"I have been collecting evidence from the preliminary investigation and if the allegation by Sultan Ibrahim of Johor is proven right, legal action will be taken against the supplier.

“The ministry will not compromise with anyone. If misappropriation is involved in the purchase of the RIV, we will take action,” he said in response to the vast difference in prices of the RIV supplied to the Special Forces Regiment as mentoned by Sultan Ibrahim last Saturday.

US Agrees to Sell 8 AH-64D to Indonesia

21 September 2012

Boeing AH-64D Apache (photo : Militaryphotos)

US Agrees to Sell Indonesia 8 Apache Helicopters

(Reuters) - The United Statessaid on Thursday it will sell Indonesiaeight AH-64/D Apache helicopters to strengthen security ties with the largest country in Southeast Asia and the world's most populous Muslim-majority nation.

Secretary of State Hillary Clinton, speaking during a meeting with Indonesian Foreign Minister Marty Natalegawa in Washington, said Congress had been notified of the intent to sell the aircraft.

"This agreement will strengthen our comprehensive partnership and help enhance security across the region," Clinton said.

President Barack Obama's administration has sought to buttress defense ties with Indonesiaas it refocuses its attention toward the Asia-Pacific following long years of war in Iraq and Afghanistan.

The United Stateshas stepped up military cooperation with traditional allies such as the Philippines and Australia, and joined regional efforts to press Chinato accept a multilateral framework for solving flaring territorial disputes in the South China Sea.

Clintondid not reveal an estimated cost for the Apache deal, which Indonesian media have reported has been in the works for months. The attack helicopters, used by militaries around the world, are made by Boeing.

The United Stateslast year announced it was giving Indonesiatwo dozen second-hand F-16 fighter planes, with Jakarta covering the estimated $750 million needed to refurbish the late-model fighters and overhaul their engines.

U.S.officials say the delivery of U.S.hardware will improve cooperation and information-sharing between the U.S. and Indonesian militaries as they face common security threats.

The announcement of the helicopter sale came as Clinton and Natalegawa wound up the third regular U.S.-Indonesia joint commission meeting, with both saying that ties between the two countries had grown stronger.

Clinton, who visited Indonesiathis month as part of an Asia-Pacific tour, said trade topped $26 billion last year and that the United States would invest $600 million over the next five years in Indonesian clean energy development, child health and nutrition programs and government transparency initiatives under its Millennium Challenge aid program.

Indonesiahas been among the nations hit by violent anti-American protests over the past week to protest against a U.S.-made video seen as critical of Islam.

Clinton said that the United Stateshad decided to temporarily close its diplomatic facilities in the country on Friday in case further protests erupt. But she praised Jakarta for its response to the crisis.

"We are very grateful for not only the cooperation and the protection that has been provided to our facilities, but also for the strong statements condemning violence," Clinton said.

TNI AD Diperkuat 163 Tank : Nilai Pembelian Sekitar Rp 2,6 Triliun

14 September 2012


Leopard 2 Revolution MBT (photo : Militaryphotos)

JAKARTA, KOMPAS — Meski tertunda, realisasi pembelian main battle tank Leopard semakin nyata. Indonesia akan membeli 163 tank yang terdiri dari 103 unit MBT, 50 unit tank medium, dan sepuluh unit tank pendukung.

Kepastian pembelian main battle tank (MBT) tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam pertemuan dengan Kuasa Usaha Jerman untuk Indonesia Heeidrun Tempel, Rabu lalu di Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, Sjafrie yang didampingi Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo mengatakan, terkait dengan pembelian tank tersebut, perwakilan dari pabrik Leopard, yaitu Rheinmetall, akan berada di Indonesia untuk penandatangan kontrak akhir September. Pada November, MBT Leopard sudah bisa dipamerkan dalam pameran Industri Pertahanan Indo De¬fence 2012.

Ke-103 MBT tersebut terdiri dari 61 unit MBT Leopard Revolution dan 42 unit MBT Leopard 2A4. Paket ini juga termasuk tank medium produksi Rheinmetall, yaitu Marder 1A3 sebanyak 50 unit, dan 10 unit lain tank pendukung seperti tank jembatan dan penarik.

Leopard 2A4 MBT (photo : KMW)

Beda dengan DPR

Pembelian tank ini bernilai 280 juta dollar AS (sekitar Rp 2,6 triliun) sesuai dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012. Sebelumnya, direncanakan anggaran tersebut untuk membeli 104 MBT Leopard 2A4.

Komisi I DPR secara resmi belum menyatakan persetujuan untuk pembelian ini. Secara internal, Agustus lalu, keputusan Komisi I adalah menyetujui pembelian tank medium.

Komandan Pusat Kesenjataan Kavaleri Kodiklat TNI Angkatan Darat Brigadir Jenderal Purwadi Mukson, Karnis (13/9), menyambut gembira pembelian tersebut.

Ia menjelaskan, MBT Leopard Revolution berbobot 62 ton, sedangkan MBT Leopard 2A4 berbobot 59 ton. Kedua jenis tank ini termasuk tank berat, sedangkan Marder 1A3 tergolong tank medium.

"Marder ini bagus karena juga untuk mengangkut personel. Satu tank bisa untuk mengangkut 10 orang," ujar Purwadi.

Marder 1A3 (photo : Militaryphotos)

Di luar ekspektasi

Purwadi mengatakan, kelas MBT Leopard Revolution berada di atas MBT Leopard 2A4 yang dibeli dalam kondisi standar. Untuk turet, struktur di atas tank yang menjadi tempat dudukan senjata seperti canon dan senapan mesin, MBT Leopard Revolution telah digerakkan secara elektronik. Sementara itu, MBT Leopard 2A4 masih digerakkan secara hidrolik. Masing-masing menggunakan canon 120 milimeter, sedangkan Marder 1A3 dengan canon 20.

"Pembelian ini di atas ekspektasi. Tidak ada penurunan spesifikasi teknis. Malah amunisi semua lengkap," kata Purwadi.

Pengamat militer dari Imparsial, Al Araf, melihat keanehan dengan anggaran yang sama bisa didapat banyak sekali MBT. Ia khawatir, tank yang dibeli tidak dalam kondisi baik sehingga membutuhkan biaya retrofit dan perawatan tinggi.

Al Araf mengatakan, untuk menjawab kecurigaan tersebut, pemerintah harus transparan dalam pengadaan persenjataan termasuk kondisi barang dan perawatan dalam rentang waktu beberapa tahun ke depan. (EDN)

Kontrak Pengadaan Tank dari Jerman Ditanda-tangani Akhir September

13 September 2012

Tank yang akan dibeli dari Jerman adalah 103 MBT Leopard, 50 Marder 1A3 dan 10 unit kendaraan pendukung (photo : Kemhan)

Wamenhan Terima Kunjungan Kuasa Usaha Jerman untuk Indonesia

Jakarta, DMC - Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sjafrie Sjamsoeddin dengan didampingi Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Mayjen TNI R. Ediwan Prabowo, S.Ip dan Kepala Bidang Opini Pusat Komunikasi Publik (Kabid Opini Puskom Publik) Kemhan Kolonel Arh Sugandi Agus, Rabu (12/9) menerima kunjungan Kuasa Usaha Jerman untuk Indonesia Mrs. Heeidrun Tempel, di Kantor Kemhan Jakarta.

Dalam pertemuan tersebut, Wamenhan menyampaikan rencana kunjungan kerja High Level Committee (HLC) ke Jerman untuk bertemu dengan Chief Executive Officer (CEO) baik pabrik Rheinmetall maupun Grob dan tim HLC akan meninjau kesiapan produksi lainnya dari kedua pabrik industri pertahanan Jerman di Frankfurt minggu depan, pihak kedutaan besar Jerman akan membantu menginformasikan rencana kunjungan kerja ini kepada pihak-pihak terkait di Jerman, baik pihak industri pertahanan yaitu pabrik Rheinmetall dan Grob maupun pemerintah Jerman.

Terkait dengan pembelian sejumlah 103 unit Main Battle Tank (MBT) Leopard, Tank jenis Marder 1A3 sebanyak 50 unit dan Tank pendukung 10 unit, Wamenhan menyampaikan bahwa pihak Rheinmetall akan berada di Indonesia untuk finalisasi penandatanganan kontrak yang akan dilaksanakan pada minggu ke empat September 2012.

Wamenhan juga mengungkapkan pihak Rheinmetall telah mempersiapkan pengiriman perdana Main Battle Tank (MBT) Leopard sesuai dengan target Kementerian Pertahanan tetapi terdapat beberapa hal terkait administrasi dan logistik yang perlu diselesaikan oleh pihak Rheinmetall dengan Kementerian Pertahanan. Dengan demikian Main Battle Tank (MBT) Leopard dapat tiba di Indonesia pada awal November 2012 bertepatan dengan pameran Industri pertahanan Indo Defence 2012.

Menanggapi hal tersebut, pihak kuasa usaha Jerman akan membantu pihak Indonesiadalam hubungan Government to Government.

(DMC)

Cabinet Approves 1.499 Budget for Rocket Research

05 September 2012

DT-1 multiple launched rocket systems (photo : Analayo)

BANGKOK - The Council of Ministers with the Prime Minister Ms. Yingluck Shinawatra has approved the funding for a research project to develop a multi lauched rocket missiles systems DT1-1G Phase 1 which the Ministry of Defence presented to the Cabinet meeting. Total budget 1,499,943,634 per year implementation period from 2012 to 2014.

The study was carried by The Defence Technology Institute Ministry of Defence -Thailand and the expertise of the China National Precision Machinery Import & Export Corporation (CPMIEC) of China as a consultant.

After the meeting is finished, no statement regarding this decision in any way.

TNI AD Tambah Batalyon Tank dan Roket

04 September 2012

Angkatan Darat segera dilengkapi dengan artileri 155mm Caesar, sistem roket multi laras Astros II, dan tank tempur utama LeopaRD 2 (all photos : Militaryphotos)

Liputan6.com, Palembang: Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo mengatakan, anggaran latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat pada 2012 mengalami kenaikan 157 persen dibandingkan tahun 2011.


Oleh karena itu, pihaknya pada 5 Oktober 2012 juga akan menambah jumlah peralatan tempur berupa roket, meriam dan tank, kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Senin (3/9).

Kasad yang tengah melihat dari dekat Latihan Tempur Antar-Cabang TNI AD di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklat TNI AD Ogan Komering Ulu ini menyatakan, dengan adanya penambahan peralatan itu, maka pihaknya mulai tahun ini akan menghidupkan kembali dua Bataliyon Tank, dua Batalyon Roket dan dua Batalyon Meriam di seluruh Artileri Medan (Armed).


Sementara, Komandan Brigif 92 Kostrad Letkol Inf Suparlan secara terpisah menjelaskan, latihan tempur tersebut perencanaannya sudah dilakukan sejak dua hari lalu untuk memaksimalkan seluruh persenjataan yang dimiliki TNI AD. Mengenai senjata berat selama latihan tempur itu, Ia mengatakan bahwa telah meluncurkan 140 hingga 200 unit roket, 200 unit meriam, 16 unit tank scorpion, kendaraan tempur anoa dan 3.000 personil untuk memukul mundur musuh.

Sementara di Palembang, Senin malam KSAD mengadakan ramah tamah dengan Gubernur H Alex Noerdin beserta jajaran pejabat di lingkungan Pemprov Sumatera Selatan. (Ant/ARI)

Giraffes CRAM Replace Piranhas

31 Agustus 2012

The Swedish designed Australian owned radar system and transporter is designated as the Giraffe Full Operational Capability (FOC) System. (photo : Aus DoD)

Piranhas are being replaced by Giraffes in Tarin Kot Afghanistan – not as in a variety of fauna but in the form of serious life-saving hardware.

Leased from Sweden, the Piranha 740 is the name given to the distinctive Counter Rocket Artillery and Mortar (CRAM) system radar and vehicle that has been providing a reliable indirect fire warning to Multi National Base – Tarin Kot since December 2010.

The incoming Swedish-designed, Australian-owned radar system and transporter that landed this week, is designated as the Giraffe Full Operational Capability System.

With two Giraffes replacing the old system, Senior CRAM Watch Keeper, Captain David Petersen, said the safety on the base will be further improved.

Leased from Sweden, "Piranha 740" is the name given to the Counter Rocket Artillery & Mortar (CRAM) system radar and vehicle that has been providing a reliable indirect fire warning to Multi National Base – Tarin Kot since December 2010. (photo : Aus DoD)

“The system will provide far greater airspace management, sense, warn and locate capabilities,” Captain Petersen said.

The arrival of the Giraffe radars is the last stage of the LAND 19 phase 7A acquisition project. The Giraffe radars are a Swedish made system that is considered one of the best radars in the world for the detection of rocket artillery and mortars.

Bombardier Jordan Haskins who managed the every day functioning of the old system will now oversee its redeployment.

“It was very reliable considering it was radar designed for the arctic environment now operating in desert conditions – preventative maintenance and TLC was the key to its dependability,” Bombardier Haskins said.

“With two systems in place we will have complimentary coverage – it adds to increased safety for all personnel on the ground.”

Enstrom Completes Thai Helicopter Delivery

25 Agustus 2012


Enstrom Helicopter Corp, has delivered all 16 of the contracted 480B turbine training and utility helicopters to Thailand's army. (all photos : Enstrom)

BANGKOK (UPI) -- Enstrom Helicopter Corp. has delivered all 16 of the contracted 480B turbine training and utility helicopters to Thailand's army.

Deliveries were completed on budget and ahead of contracted requirements, Enstrom said in a written statement.

"From contract-signing to final delivery, we completed this program in just 19 months," Enstrom President and Chief Executive Officer Jerry Mullins said.

"That included engineering, developing, testing, building and delivering 16 of the most advanced turbine training helicopters in the world."

The helicopters have Cobham electronic flight instrumentation systems, dual Wulfsberg RT-5000 transceivers, Honeywell radar altimeters and dual electronic-analog flight instrumentation.

"I think we've shown a small company can do big things," said Mullins.

Under a deal signed in October 2009, the helicopters have power line detection systems designed and manufactured by Safe Flight Instrument in White Plains, N.Y.

Safe Flight's PDS detects the electromagnetic fields of live power lines and alerts pilots with visual and aural warnings. As the aircraft flies closer to the power line, the warning intensifies.

Enstrom makes the 480B as a three-place advanced trainer and patrol aircraft as well as a three- to five-seat executive transport. Special law enforcement variants are made, called the 480B Guardian and the F28F Sentinel.

David Blake, of Enstrom's Asia representative Blake and DeJong, told Flight Global aviation Web site in early 2010 the 16 helicopters are the first 480Bs for the army but Thailand's civil aviation training school has two older Enstrom 480 models.

The Thai army flies medium Bell TH-67s and Schweizer 300s for training. Enstrom won the tender pitching against six other manufacturers.



In July 2011, Flight Global reported the Thai army had grounded its fleet of 54 Bell 212 helicopters after a crash that month that left three dead.

Local media reports said the 212 was lost in benign conditions as it flew to participate in a search-and-rescue mission near the border with Myanmar.

The mission was to retrieve nine bodies from the site of a Thai army Sikorsky UH-60 Black Hawk that had crashed 19 July, Flight Global reported.

The Black Hawk was lost while attempting to retrieve five bodies from the site where a Bell UH-1 helicopter crashed on 16 July.

The Bell 212 was heading toward a mountainous, heavily forested area northwest of Bangkok when it crashed.

Enstrom also announced this year it had signed a contract with its representative in Japan to supply the Japanese military with 28 480-B aircraft by 2014. The deal with Aero Facility in Japan was signed at the Helicopter Aviation Industry convention in Dallas in February.

(UPI)

AS Berikan Sinyal Positif Penjualan Apache

25 Agustus 2012

Helikopter serang AH-64D Apache (photo : Airliners)

Liputan6.com, Jakarta -Pemerintah Amerika Serikat memberikan sinyal positif terkait penjualan helikopter perang jenis Apache kepada RI. Menurut Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, AS telah menawarkan delapan unit Apache. Menhan juga menjelaskan kualitas helikopter dapat meningkatkan pertahanan Indonesia, khususnya di daerah perbatasan.

"AS sudah beri siynal, silakan jika Indonesia mau membeli delapan biji Apache. Helikopter ini dahsyat sekali dan memberikan efek gentar," kata Menhan saat ditemui usai memimpin Sertijab Eselon I Kemenhan di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (24/8).

Pembelian Apache mesti melalui proses pembahasan antara Kementrian Pertahanan, kabinet, dan DPR. Karena, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jika kabinet dan DPR menyetujui untuk membeli helikopter tersebut maka pemerintah Indonesia akan langsung menyambut tawaran AS.

"Kalau rencana beli, maka kita akan membeli delapan unit dan kalau itu juga disetujui oleh DPR," tukasnya.

Niat pemerintah Indonesia membeli Apache sebenarnya sudah ada sejak awal tahun ini. Pengadaan delapan unit pesawat tempur jenis Apache itu bukan karena ditawarkan begitu saja oleh pihak Amerika, melainkan, pemerintah RI yang memang mencari .

'Serangan' di Kota Belud

24 Agustus 2012

Antara peralatan senjata yang digunakan oleh 3 RAMD dalam demonstrasi di Kota Belud, Sabah baru-baru ini. (photo : Utusan)

SUASANA perbukitan di Tapak Tembak 6 di Kota Belud, Sabah pada pagi itu amat indah. Di utara, Laut China Selatan terhampar kebiruan mendamaikan pandangan, sedangkan di selatannya megah berdiri Kinabalu diselaputi awan putih bersih.

Dentuman senjata jenis Carl Gustav membuatkan keheningan pagi itu itu semakin bingit. Bola api deras meluncur ke arah sasaran yang terletak beberapa kilometer nun di atas bukit dan sasaran itu meledak, lalu angin menyebarkan bau bahan api ke udara.

Malahan beberapa jenis senjata bantuan seperti HMG, LMG, AGL, mortar dan beberapa jenis lagi telah dipertontonkan kemampuannya dalam menembak sasaran yang jauh.

Sebelum tembakan daripada senjata-senjata bantuan itu, demonstrasi pada pagi itu dimulai oleh kumpulan penembak tepat 3 Rejimen Askar Melayu Diraja (RAMD).

Di khemah kenamaan yang agak tinggi berhampiran tembakan itu berasal, Yang Dipertua Negeri Sabah, Tun Juhar Mahiruddin bersama isterinya Toh Puan Norlidah RM Jasni beserta rombongan sedang menyaksikan demonstrasi itu.

G-Wagon dilengkapi dengan AGL (photo : Militaryphotos)

Turut berada di lokasi ialah Panglima Briged Kelima Infantri Malaysia, Brigedier Jeneral Datuk Abdul Halim Abdul Jalal bersama dengan pegawai-pegawai tertinggi tentera yang lain.

Sebelum acara di Tapak Tembak 6 berakhir, Tun Juhar dipelawa untuk mencuba sendiri senjata-senjata bantuan itu antaranya senjata AGL (Automatic Gun Launcher) dari G-wagon sambil dibantu oleh Abdul Halim.

Beliau begitu tenang melepaskan tembakan dari atas kenderaan tersebut dan berhasil mengenai sasaran walaupun dilihat agak payah bagi mereka yang kurang latihan dalam bidang ketenteraan.

Program tersebut merupakan Demonstrasi Tembakan Senjata Bantuan dan Persendirian Bersama Juhar yang mempamerkan pelbagai jenis senjata berat dari Batalion 3 RAMD yang berpangkalan di Lok Kawi.

Prajurit membawa senjata Carl Gustav (photo : USNavy)

Menurut Abdul Halim, latihan tersebut membabitkan RAMD dan dibantu oleh pasukan 507 Askar Wataniah itu mempamerkan tembakan seksyen, tembakan platun dan tembakan senjata bantuan.

Katanya, antara tujuan aktiviti tersebut dianjurkan ialah untuk mengeratkan hubungan antara pemimpin, terutamanya Juhar dengan angkatan tentera dan berharap beliau dapat melihat sendiri kehidupan dan latihan di kawasan latihan khususnya di daerah ini.

"Bukan itu sahaja, kita turut memperlihatkan bahawa kita terus menerus berlatih untuk menghadapi sebarang kemungkinan dan bukan duduk di kem sahaja untuk menunggu arahan," tegasnya.

Program tersebut merupakan antara tugas terakhir Abdul Halim sebagai Panglima Briged Kelima Infantri Malaysia yang berpangkalan di Lok Kawi sebelum berpindah Kementerian Pertahanan, Kuala Lumpur, sebagai Pengarah Pengurusan Latihan di Markas Latihan Tentera Darat.

Kopassus Menerima 315 Senapan HK MP5

08 Agustus 2012

HK MP5 dipakai oleh Sat-81 Gultor Kopassus (photo : hkpro)

Kemhan Serahkan 315 Pucuk Senjata Laras Pendek HK MP5 Kepada Kopassus

Jakarta, DMC - Dalam rangka memenuhi kebutuhan alat peralatan militer khususnya senjata yang berstandar internasional serta untuk membangun profesionalitas prajurit TNI Angkatan Darat khususnya Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Kementerian Pertahanan menyerahkan Senjata Laras Pendek HK MP5 sebanyak 315 pucuk kepada Kopassus.

Penyerahan dilaksanakan secara simbolis oleh Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kepada Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) Mayjen TNI Agus Sutomo, Rabu (8/8) di Markas Kopassus, Cijantung, Jakarta Selatan. Hadir pada acara tersebut Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo dan sejumlah pejabat di lingkungan Kemhan, Mabesad dan Makopassus.

Senjata Laras Pendek HK MP5 yang diserahkan tersebut merupakan senjata hasil pengadaan Kemhan pada tahun 2010 yang terdiri dari 220 pucuk HK MP5 A4, 48 pucuk HK MP5 A5, 38 pucuk HK MP5K.PWW dan 9 pucuk HK SD6. Senjata Laras Pendek HK MP5 yang merupakan buatan Heckler & Koch (HK) Jerman, memiliki spesifikasi berat 2,6 kg, panjang 680 mm dan kaliber 9 x 19 mm.

Senapan HK MP5 (photo : Kaskus Militer)

Wamenhan dalam sambutannya mengatakan, penyerahan senjata ini merupakan bagian implemantasi tanggung jawab negara dalam membiayai dan melengkapi Tentara termasuk pasukan khusus yang memiliki kebutuhan sangat spesifik.

Lebih lanjut Wamenhan menjelaskan, bahwa pengadaan untuk kebutuhan Alutsista TNI yang merupakan kebutuhan spesifik dilaksanakan secara langsung dan hal tersebut sudah diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres). Oleh karena itu, pembelian peralatan militer untuk kebutuhan pasukan khusus dilaksanakan secara langsung ke produsen agar terjamin kualitas dan akuntabilitas dari peralatan yang digunakan.

Kemhan sejak beberapa periode, dimulai Kabinet Indonesia Bersatu I sampai dengan sekarang telah memberikan perhatian khusus dalam rangka menambah kualitas dan kuantitas dari keperluan peralatan pasukan khusus yang diantaranya pengadaan Senjata HK MP5 ini. Sebelumnya, Kemhan telah menyerahkan kurang lebih 104 pucuk dan kali ini menyerahkan 315 pucuk, dengan harapan bisa memenuhi kebutuhan operasional Kopassus.

Wemenhan menambahkan, Kemhan akan terus memberikan perhatian terhadap pasukan khusus agar memiliki kualitas internasional, diantaranya adalah dalam berbagai upaya kerjasama pertahanan dengan negara sahabat, Kemhan selalu memberikan suatu ruang bagi pasukan khusus untuk dapat berinterkasi di dalam kerjasama pertahanan antar negara. (BDI/SR)

(DMC)

Boeing Establishes Simulator-Based Training for Kiowa Flight Instructors

06 Agustus 2012

Helicrew helicopter simulator enables instructors to safely and cost-efficiently enhance skills, plan exercises (image : Boeing)

OAKEY, Queensland -- Boeing [NYSE: BA] subsidiary Boeing Defence Australia (BDA) has installed a Helicrew simulator at the Oakey Army Aviation Training Centre in order to enhance the capabilities of BDA flight instructors.

The Helicrew allows BDA Qualified Flying Instructors to further hone and test their training procedures through a variety of simulated situations. Helicrew is designed to replicate the Bell 206B-1 Kiowa, which the Australian Army uses as an initial training helicopter before pilots transition to operational rotorcraft.

Through the Army Aviation Training and Training Support (AATTS) contract awarded in 2007, Boeing supports the Army's Kiowa, Black Hawk and CH-47 Chinook helicopters with pilot, aircrew and technician training, operational fleet maintenance, and support services.

"Our investment in the Helicrew shows our ongoing commitment to supplying industry-leading, in-country instruction to align with the future of rotary wing training," said Mark Brownsey, AATTS project manager for BDA. "As we mature this synthetic capability, we will work with our customer on opportunities to use the Helicrew to provide some pilot instruction in a more cost-effective, lower-risk environment than flying real Kiowas."

"The Helicrew gives us the flexibility to plan training exercises much more quickly than before," said Charlie Stone, chief pilot at AATTS. "It also allows us to better prepare for emergencies in a safe environment, and to assess our performance at any point of the exercise – all of which will ultimately benefit pilots in training."

Tiger Helicopters Return to the Sky

03 Agustus 2012

Tiger ARH (photo : Michael Bridge)

The Australian Army’s fleet of Tiger Armed Reconnaissance Helicopters (ARH) has resumed regular training activities after a temporary suspension was lifted on 2 August 2012.

The suspension, which began on 26 June 2012, was put in place as a safety measure when fumes were detected in the cockpit of an aircraft that performed a precautionary landing at Shoalwater Baytraining area the day before.

Following a detailed investigation and assessment into the source of the fumes, the Army Operational Airworthiness Authority lifted the suspension on the recommendation to resume flying operations from the Technical Airworthiness Authority.

The assessment determined that a faulty capacitor in the power supply module was the cause of the fumes. The Tiger fleet has been examined and the faulty power supply modules will be returned to the manufacturer for modification.

Kemhan: Proses Pembelian Tank Leopard Selesai

27 Juli 2012

Tank tempur utama Leopard 2 (photo : Militaryphotos)

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pertahanan mengklaim bahwa proses pembelian Main Batle Tank (MBT) Leopard dari Jerman sebanyak 100 unit telah diselesaikan, bahkan pada Oktober 2012 nanti 15 unit tank sudah tiba di Indonesia.

"Pada Oktober 2012, bertepatan HUT TNI, Anda sudah akan melihat 15 unit Tank Leopard," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemhan, Brigjen TNI Hartind Asrin menanggapi kekhawatiran DPR akan terganggunya pembelian tank Leopard akibat penolakan sebagian anggota parlemen Jerman, di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, kedatangan tank berbobot 60 ton itu akan terus berdatangan dengan total 100 unit hingga 2014 mendatang. Penolakan sebagian anggota parlemen, terutama dari partai oposisi, tidak menggangu proses pembelian tank tersebut.

"Penolakan itu memang ada, namun hanya dalam diskusi kecil. Tapi, tidak membuat pembelian tank menjadi batal," jelas Hartind.

Sebanyak 15 tank yang akan di tahap pertama rencananya akan ditempatkan di wilayah Jawa. Namun, tak menutup kemungkinan tank yang datang kemudian akan dikirim ke daerah-daerah perbatasan.

"Kita sedang mempersiapkan kapal untuk mengangkutnya jika memang akan ditempatkan di sana," ujarnya.

Beberapa waktu lalu, laman "Spiegel Online" konsisten memberitakan bahwa anggota parlemen senior dari Partai Hijau Katja Keul menyatakan, Jerman tidak bisa menjual tank Leopard pada Indonesiamengingat masih banyaknya pelanggaran HAM yang terjadi.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Tubagus Hasanuddin juga pernah mengatakan penolakan parlemen Jerman itu harus disikapi hati-hati oleh pemerintah Indonesiamaupun Jerman.

"Saat ini DPR dalam posisi menunggu sikap pemerintah kedua negara," katanya.