Tampilkan postingan dengan label Korea Selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Korea Selatan. Tampilkan semua postingan

Korea Selatan Izin Amerika Untuk Perkaya Uranium

SEOUL-(IDB) : Korea Selatan (Korsel) mendesak Amerika Serikat (AS) agar mengizinkan negaranya untuk melakukan proses pengayaan uranium. Korsel juga menegaskan, nuklirnya akan digunakan untuk kepentingan damai.

Di bawah perjanjian 1974, AS melarang Korsel untuk memperkaya uranium dan memproses ulang energi nuklir untuk dijadikan bahan bakar. Kedua negara yang bermitra itu juga sudah menggelar lima tahap negosiasi formal yang dilakukan sejak 2010 lalu, guna merevisi kerja sama nuklir. Perjanjian itupun akan segera berakhir pada 2014 mendatang.

"Kebijakan AS yang melarang Korsel memperkaya uranium dalam tujuan damai, sangat bertentangan dengan perjanjian kerja sama bilateral di bawah aliansi AS dan Korsel," ujar salah seorang akademisi Korsel Jun Bong-geun, seperti dikutip Korea Times, Senin (17/9/2012).

"Fakta, Korsel sudah aktif bekerja untuk memperkuat perjanjian non-poliferasi nuklir. AS harus mengubah kebijakannya terkait kerja sama nuklir antara negaranya dan Korsel," tegasnya.

Sejauh ini, Korsel menginginkan teknologi yang dinamakan pyroprocessing. Teknologi itu akan memisahkan plutonium agar tidak tercampur ke dalam beberapa elemen lainnya. Seperti diketahui, plutonium adalah salah satu elemen kimia yang digunakan untuk membangun senjata atom.

Korsel mendesak AS agar memperbolehkannya dalam menggunakan teknologi baru itu. Meski demikian, sejumlah ahli nuklir mengatakan bahwa pyroprocessing tidak berbeda dari teknologi sebelumnya. Senjata nuklir dapat diciptakan lewat teknologi tersebut.

Pihak AS pun akan tetap melarang Korsel menggunakan teknologi pengayaan uranium. Koordinator pengendalian senjata di Gedung Putih juga mengatakan, Korsel tidak perlu melakukan proses pengayaan uranium karena mereka bisa membelinya dari AS, Prancis dan sejumlah negara lainnya yang memiliki teknologi itu.


Sumber : Okezone

Korsel Bangun Kamikaze UAV

Pesawat MQM-107D Streaker milik AS
SEOUL-(IDB) : Korea Selatan (Korsel) membangun pesawat intai tak berawak yang sanggup meledakkan diri. Pesawat itu akan dimafaatkan untuk menyerang artileri dan peluncur roket milik Korea Utara (Korut) yang berada di wilayah pantai.

Industri Kedirgantaraan Korea (KAI) meluncurkan produk terbarunya berupa pesawat tak berawak yang dinamakan "Pembunuh Setan." Pesawat itu dirancang oleh KAI, Universitas Hanyang dan Universitas Konkuk.

Bobot pesawat bunuh diri itu hanya 25 kilogram, pesawat itupun memiliki sayap elastis. Pesawat Pembunuh Setan juga sanggup melaju dengan kecepatan 350-400 kilometer perjam dan menggempur target sejauh 40 kilometer.

"Pesawat ini sanggup mengejar dan menyerang kapal berbantalan udara yang melaju dengan cepat," ujar KAI, seperti dikutip Chosun, Jumat (14/9/2012).

Salah satu fitur canggih dari pesawat tak berawak itu adalah caranya dalam mengidentifikasi target. Seluruh target serangan pesawat itu bisa diidentifikasi dengan menggunakan video kamera dan Global Positioning System (GPS). Meski berbobot ringan, pesawat itu sanggup membawa bahan peledak seberat 3 kilogram yang setara dengan 10 granat.

Selain Korsel, Korut pun dikabarkan membangun persenjataan yang sama dengan musuhnya. Korut dikabarkan membangun pesawat kamikaze tak berawak, menggunakan teknologi MQM-107D Streaker yang dicuri dari AS.



Sumber : Okezone

AS Korsel Gelar Latihan Gabungan Bulan Depan

SEOUL-(IDB) : Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) bulan depan akan menggelar latihan militer gabungan tahunan untuk meningkatkan kesiapan tempur mereka, demikian kata pihak berwenang militer, Senin.

Pelatihan tersebut akan berlangsung di tengah tingginya ketegangan lintas perbatasan.

Negara-negara sekutu akan menggelar Ulchi Freedom Guardian, satu latihan simulasi komputer terbesar, pada 20-31 Agustus, kata Komando Pasukan Gabungan dalam satu pernyataan.

Korea Utara telah diberitahu tentang tanggal dan sifat pelatihan yang non-provokatif itu, katanya.

Pelatihan ini akan melibatkan sebanyak 28.500 tentara Amerika Serikat yang ditempatkan di Korea Selatan serta sekitar 3.000 tentara dari luar negeri, tetapi tidak akan ada pelatihan lapangan, demikian kata juru bicara militer AS.

Sementara itu Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan setiap unit yang terlibat akan menguji kesiapannya untuk kontinjensi berdasarkan skenario perang, dengan pos-pos komando terkait satu sama lain melalui komputer.

Kementerian itu menolak untuk mengkonfirmasi laporan kantor berita Yonhap bahwa 56.000 tentara Korea Selatan akan terlibat dalam pelatihan besar tersebut.

Negara-negara sekutu menggambarkan pelatihan tahunan mereka sebagai defensif dan rutin, tetapi Korea Utara biasa menyebut mereka latihan untuk invasi dan meluncurkan kontra-latihan sendiri.

Selain pelatihan rutin tahunan, Korea Selatan telah mengadakan serangkaian pelatihan sendiri atau dengan pasukan AS sejak menuduh Korea Utara menorpedo salah satu kapal perangnya, Cheonan, yang menyebabkan hilangnya 46 nyawa pada Maret 2010.

Korea Utara membantah tuduhan itu, namun kemudian menyerang satu pulau perbatasan pada November 2010, yang menewaskan empat warga Korea Selatan.

Ketegangan memuncak setelah peluncuran roket Korea Utara gagal pada April, yang dipandang oleh Amerika Serikat dan sekutunya sebagai uji coba peluru kendali balistik.

Pyongyang juga mengancam serangan terhadap pemerintah dan media konservatif Korea Selatan karena dianggap menghina rezim tersebut.


Sumber : Antara

Korsel Berencana Membeli 60 Pesawat Tempur Siluman

Sukhoi T-50 PAK FA
SEOUL-(IDB) : Korea Selatan (Korsel) berencana meningkatkan kemampuan militernya secara signifikan dengan membeli 60 pesawat tempur berteknologi siluman atau stealth, 36 helikopter serbu, dan delapan helikopter angkatan laut. Keputusan pesawat buatan mana yang akan dibeli Korsel akan diumumkan Oktober tahun ini.

Demikian diungkapkan juru bicara Badan Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) Pemerintah Korsel, Jumat (25/5/2012). "Kami berencana mengumumkan nama-nama pemasok senjata ini pada bulan Oktober," tutur juru bicara tersebut.

F-35 Lightning II
Tender pengadaan 60 unit pesawat siluman senilai 8 triliun won (Rp 62,63 triliun) itu diikuti oleh pesawat F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin dari AS, F-15 SE Silent Eagle buatan Boeing dari AS, dan Sukhoi T-50 PAK FA buatan Sukhoi dari Rusia. 

Pesawat Eurofighter Typhoon juga dikabarkan ikut dalam tender ini, meski pesawat ini bukan pesawat stealth dan beda kelas dengan F-15 maupun Sukhoi T-50.


Selain itu, Korsel juga menganggarkan 1,8 triliun won untuk membeli 36 heli serbu. Tender pengadaan heli perang ini diikuti oleh heli Apache buatan Boeing dari AS, Tiger buatan Eurocopter dari Eropa, dan heli T129 buatan Turki.

Rencana pembelian senjata besar-besaran ini sempat menuai kritik dari pihak oposisi di Korsel. Partai Demokrat Bersatu (DUP) mendesak pemerintah untuk tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.

F-15 SE Silent Eagle
"Diperlukan studi dan peninjauan kembali sebelum pemerintah melanjutkan pembelian berbagai senjata ini. Jika perlu, proyek ini biar diteruskan pemerintah berikutnya," ungkap DUP dalam pernyataan resmi kepada kantor berita AFP.

Korsel telah membeli sedikitnya 60 unit F-15 versi non-stealth sejak 2002 dalam dua tahap program modernisasi senjata. Semua ini dilakukan di tengah peningkatan ketegangan dengan Korea Utara (Korut).

Dua negara bertetangga ini secara teknis masih berperang karena Perang Korea 1950-1953 baru diakhiri perjanjian gencatan senjata, bukan traktat perdamaian penuh. 


Sumber : Kompas

Korsel Australia Gelar Pelatihan AL Bersama Pekan Depan

JEJU-(IDB) : Korea Selatan dan Australia akan menggelar latihan angkatan laut bersama pertama mereka pada pekan depan di perairan lepas pantai pulau selatan Korea Selatan, Jeju, kata Angkatan Laut Korea Selatan Kamis.

Pelatihan berlangsung dua hari dimulai Senin depan dan akan mengerahkan sekitar 10 kapal perang permukaan dan kapal selam, termasuk kapal penghancur Aegis Korea Selatan "Sejong the Great" dan kapal fregat peluru kendali Australia "Ballarat."

Latihan angkatan laut berjuluk "Haedori-Wallaby" itu juga akan melibatkan helikopter anti kapal selam Lynx dan pesawat patroli P-3C, kata pihak Angkatan Laut seperti yang dikutip dari Xinhua.

Pelatihan itu adalah manuver angkatan laut bersama pertama antara kedua negara, sejak menteri pertahanan mereka sepakat pada akhir tahun lalu untuk bersama-sama menggelar latihan secara teratur.

Latihan ini akan membantu meningkatkan kemampuan perang anti-kapal selam dan interoperabilitas bersama antar angkatan laut kedua negara, demikian menurut para pejabat Angkatan Laut.


Sumber : Antara

Pesawat Tempur Buatan Indonesia Korea Mulai Diproduksi 2020

JAKARTA-(IDB) : Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan kembali melakukan pertemuan bilateral guna membahas kerja sama dalam bidang industri pertahanan.

Indonesia melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI dan Kemhan Republik Korea yang diwakili oleh delegasi Defense Industry Cooperation Committee (DICC) mengadakan pertemuan di Gedung Kemhan, Jakarta, Kamis 24 Mei 2012.

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) mengenai DICC antara Kemhan RI dengan Kemhan Korea.

Sekretaris Jenderal Kemhan RI, Marsekal Madya TNI Eris Herryanto, mengatakan, kedua negara memang memiliki kegiatan kerja sama dalam bidang industri pertahanan. "Ini pertemuan pertama kali antara Kemhan dengan perwakilan dari Korea," kata Eris.

Pertemuan kedua negara ini dimaksudkan untuk mendorong pemanfaatan peluang terlibat secara aktif dalam kerja sama produksi dan alih teknologi alutsista untuk mendukung pertahanan negara.

Dalam pertemuan itu juga dibahas kebijakan Indonesia dalam melokalisasi industri pertahanan serta finalisasi kerja sama pesawat latih T-50 dan kapal selam 209 class. Tak hanya itu, kedua pihak juga membahas mengenai joint development medium tank dan radio set cooperation project serta hellicopter joint production project.

"Kita membahas juga mengenai cooperation armor vehicle and propellant project serta marine patrol ship project," katanya.

Selain itu, pertemuan ini juga sekaligus melakukan pemasaran produk pertahanan bersama dengan mekanisme Transfer of Technology (ToT). Namun, belum ada pembahasan mengenai pelatihan bersama.

Pembuatan Jet Tempur KFX/IFX
Pada kesempatan yang sama, Eris mengatakan, pembuatan pesawat jet tempur Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) yang dilakukan bersama Korsel terus mengalami perkembangan. Hingga saat ini, tim dari kedua negara tengah mengerjakan Technical Development Test (TDT) dan diharapkan prototype pesawat tersebut telah jadi pada 2013.

"Kerja sama KFX sudah masuk pada fase Technical Development Test, dan akan berakhir tahun ini. Hingga saat ini TDT berjalan baik, dan tak mundur dari waktu yang ditentukan. Kalaupun mundur akan kami kejar," kata Eris.

Selanjutnya, para teknisi yang mengerjakan pembangunan pesawat tersebut akan memasuki Engineering Manufacturing Development (EMD). Sesuai rencana, fase EMD ini akan dikerjakan pada 2013.

"Pada 2013 akan memasuki fase Engineering Manufacturing Development, sehingga di tahun itu telah ada 6 buah prototipe pesawat KFX/IFX," katanya.

Untuk mengerjakan pembangunan pesawat dengan skema joint production ini, Indonesia telah mengirimkan 40 orang teknisinya ke Korea pertengahan tahun lalu. Dana yang dibutuhkan untuk pembangunan pesawat ini mencapai US$8 miliar. Indonesia mendapat porsi anggaran sebanyak US$1,6 miliar.

Pengembangan teknologi ini akan berlangsung selama delapan tahun hingga 2020. Persiapan produksi pesawat jet tempur baru dilakukan setelah 2020.


Sumber : Vivanews

Indonesia Korsel Sepakat Bentuk Komite Kerjasama Industri Pertahanan

JAKARTA-(IDB) : Kementerian Pertahanan Republik Indonesia dan delegasi "Defense Industry Cooperation Committee" (DICC) Kementerian Pertahanan Korea melakukan pertemuan dalam rangka untuk meningkatkan kerja sama industri pertahanan.

Kunjungan delegasi DICC Korea yang dipimpin oleh Mr Noh Dae-Lae itu diterima langsung oleh Menhan Purnomo Yusgiantoro didampingi Sekjen Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto dan Dirjen Potensi Pertahanan Pos M Hutabarat di Kantor Kemhan, Jakarta, Kamis.

Kunjungannya dalam menemui Menhan itu merupakan kegiatan penutupan dalam rangkaian pertemuan DICC Ke-1 setelah sebelumnya mengunjungi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Industri Strategis di Bandung pada Kamis pagi dan pertemuan dengan industri pertahanan, Kemhan dan instansi pemerintah terkait yang telah diadakan pada 21 Mei hingga 22 Mei 2012.

Pertemuan DICC yang berlangsung selama dua hari dan dilanjutkan kunjungan ke beberapa industri pertahanan itu sebagai tindak lanjut dari penandatanganan kerja sama MoU mengenai DICC antara Kemhan RI dan Kemhan Korea pada 9 September 2011 lalu untuk meningkatkan kerja sama bilateral pertahanan kedua negara.

"Dari MoU itu telah disepakati diadakannya pertemuan secara bergantian di Indonesia dan Korea untuk mengkaji ulang dan memfasilitasi pelaksanaan MoU ini. Pertemuan secara bergantian juga untuk menyamakan pembinaan dan Transfer of Technology (ToT) ke depan," kata Sekjen Kemhan Marsekal Madya TNI Eris Herryanto.

Kerja sama industri pertahanan antara Kemhan dan Kemhan Korea, kata dia, dimaksudkan untuk mendorong pemanfaatan peluang terlibat secara aktif dalam kerjasama produksi dan alih teknologi alat utama sistem senjata (alutsista) guna mendukung pertahanan negara.

"Kerja sama industri pertahanan juga diharapkan dapat meningkatkan teknologi industri pertahanan dibarengi dengan nilai ekonominya," kata Eris.

Kegiatan kerja sama industri pertahanan itu, antara lain, pengembangan dan produksi serta proyek bersama pada peralatan pertahanan dan suku cadang, pertukaran dan peralihan informasi, ilmu pengetahuan dan teknologi pertahanan nasional serta pemasaran produk pertahanan sebagai barang dagangan internasional.

Dalam pertemuan DICC pertama itu juga dibahas mengenai "review" MoU DICC dan kebijakan Indonesia dalam melokalisasi industri pertahanan, finalisasi kerja sama pesawat latih T-50 dan Kapal Selam 209 class.

Tak hanya itu, juga dibahas mengenai "joint development medium tank", "radio set cooperation project", "helicopter joint production project", "cooperation armor vehicle and propellant project" serta "marine patrol ship project".


Sumber : Antara

Indonesia Korea Selatan Bahas Kerjasama ToT Industri Pertahanan

JAKARTA-(IDB) : Indonesia melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) bersama dengan Korea Selatan melalui Defense Acquisition Program Administration (DAPA) telah mengadakan pertemuan untuk pertama kalinya guna membahas kerjasama Transfer of Technology ( ToT)  di bidang industri pertahanan.  Kerjasama ToT tersebut dibahas dalam pertemuan Defense Industry Cooperation Committee (DICC) Ke-1 yang berlangsung selama dua hari dari tanggal 21 hingga 22 Mei 2012. 

“Maksud dan tujuan pertemuan DICC adalah membicarakan mengenai masalah- masalah industri pertahanan yang sedang dilakukan saat ini. Dengan pertemuan seperti ini kita menyamakan bagaimana pelaksanaan ToT kedepan”, jelas Sekjen Kemhan Marsdya TNI Eris Herryanto, S.IP, M.A., usai mendampingi Menhan Purnomo Yusgiantoro menerima Commissioner of  DAPA Noh Dae-lae selaku Ketua Delegasi DICC Korea Selatan, Kamis Sore (24/5) di kantor Kemhan, Jakarta.

Lebih lanjut Sekjen menjelaskan bahwa Indonesia dan Korea Selatan mempunyai sistem yang berbeda, contohnya bahwa industri pertahanan di Korea Selatan adalah murni swasta, sedangkan di Indonesia adalah BUMN. Sehingga, dalam kerjasama ini, dengan status dan karakter yang berbeda maka dalam kerjasama ada hal - hal yang perlu didiskusikan.
Kedua negara sepakat bahwa kerjasama ToT bukan berfokus pada hasil, tetapi berdasarkan proses.  Menurut Sekjen Kemhan proses ini penting supaya Indonesia dapat mendapatkan teknologi  dan berinovaasi terhadap teknologi.
Selama ini banyak kegiatan kerjasama pertahanan antara kedua negara khususnya industri pertahanan yang memuat kerjasama ToT antara lain kerjasama pesawat tempur KFX / IFX, pembuatan kapal LPD, dan dalam waktu kedepan ada kerjasama kapal selam. Ada juga kerjasama kendaraan tempur Tarantula yang sudah mulai dikerjakan bersama dan beberapa peralatan - peralatan lainnya seperti komunikasi.
Terkait  dengan kerjasama pesawat tempur KFX / IFX, Sekjen Kemhan mengatakan saat ini sudah pada phase Technical Development (TD) dan ini akan berakhir pada akhir tahun 2012. Tahun 2013 kerjasama akan masuk pada phase Enginering Mannufacturing Development (EMD). Pada phase EMD, kedua negara akan membuat prototype pesawat yang direncanakan akan dibuat 6 buah.
Untuk phase TD saat ini sudah berjalan sesuai dengan rencana. Pada awalnya  teknisi - teknisi dari Indonesia memang belum seimbang dengan teknisi dari Korea Selatan, namun dengan berjalannya phase TD ini sudah mengurangi gap kemampuan dari teknisi Indonesia dengan teknisi dari Korea Selatan.
Sekjen Kemhan lebih lanjut mengatakan, dalam kerjasama ToT dengan Korea Selatan ini,  ada yang harus dipersiapkan oleh Indonesia  antara lain  sarana prasarana, SDM dan Manajemen.   Indonesia tentunya akan berupaya untuk melengkapinya kshususnya di bidang sarana dan prasana agar alih tekonologi ini dapat berjalan baik.
“Tentunya ini tanggung jawab pemerintah dan industri untuk bisa menyiapkan sarana dan prasarana, sedangkan SDM kita mencari yang sudah ada saat untuk kita tingkatkan kemampuannya”, tambah Sekjen Kemhan.
Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Commissioner of  DAPA Noh Dae-lae mengatakan pada pertemuan DICC Ke- 1 ini telah dibahas lebih detail mengenai ToT atau pelaksanaan local production secara lebih dalam.
Menurutnya,  kerjasama kedua negara sudah berjalan cukup baik hingga sekarang dan pihaknya  yakin kedepannya akan mampu berjalan lebih baik lagi. Hal ini diyakininya karena kebijakan revitalisasi industri pertahanan yang di bawah Presiden SBY memiliki arah yang sama dengan kebijakan yang dipegang teguh oleh pemerintah Korea. “Oleh karena itu kedepannya Korea Selatan berharap hubungan kerjasama antara kedua negara dapat maju dengan cepat, ”tambahnya. 


Sumber : DMC

Menhan Terima Commissioner of DAPA Korea Selatan

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro, Kamis (24/5), menerima kunjungan Commissioner of the Defense Acquisition Program Administration (DAPA) dari Korea Selatan oleh Mr Noh Dae-Lae bersama dengan Delegasi Defense Industry Cooperation Committee (DICC) Korea di Kantor Kemhan, Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Menhan Purnomo Yusgiantoro didampingi Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto.
 
Kunjungannya menemui Menhan ini merupakan kegiatan penutup dalam rangkaian pertemuan DICC Ke-1 usai mengunjungi BUMN Industri Strategis di Bandung pada pagi hari ini dan pertemuan dengan Industri Pertahanan, Kementerian Pertahanan, dan Instansi pemerintah terkait yang diadakan dari tanggal 21 dan 22 Mei 2012 lalu.

Pertemuan DICC yang berlangsung selama dua hari dan dilanjutkan kunjungan ke beberapa industri pertahanan ini sebagai tindak lanjut dari penandatanganan kerjasama MoU mengenai DICC antara Kementerian Pertahanan RI dan Kementerian Pertahanan Republik Korea pada tanggal 9 September 2011 lalu yang dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama bilateral pertahanan kedua negara. Dari MoU tersebut disepakati diadakannya pertemuan secara bergantian di Indonesia dan Korea untuk mengkaji ulang dan memfasilitasi pelaksanaan MoU ini.

Kerjasama industri pertahanan antara Kemhan RI dan Kemhan Korea ini dimaksudkan untuk mendorong pemanfaatan peluang terlibat secara aktif dalam kerjasama produksi dan alih teknologi Alutsista untuk mendukung pertahanan negara. Kerjasama industri pertahanan ini juga diharapkan dapat meningkatkan teknologi industri pertahanan dibarengi dengan nilai ekonominya.

Kegiatan kerjasama industri pertahanan tersebut antara lain: pengembangan dan produksi bersama serta proyek bersama pada peralatan pertahanan dan suku cadang, pertukaran dan peralihan informasi dan ilmu pengetahuan dan teknologi pertahanan nasional, dan pemasaran bersama produk pertahanan sebagai barang dagangan internasional. Di MoU juga menyebutkan mengenai kemungkinan diadakannya penelitian dan pengembangan serta identifikasi peluang kerjasama lain di bidang industri pertahanan.

Dalam pertemuan DICC pertama ini dibahas mengenai review MoU DICC dan kebijakan Indonesia dalam melokalisasi industri pertahanan, finalisasi kerjasama pesawat latih T-50 dan Kapal Selam 209 class. Dibahas pula mengenai joint development medium tank dan radio set cooperation project serta hellicopter joint production project. Selain itu, turut dibahas cooperation armor vehicle and propellant project serta Marine Patrol Ship project.


Sumber : DMC

Indonesia Korea Adakan The Defense Industry Cooperation Committee Meeting

JAKARTA-(IDB) : Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Dr Ir Pos M. Hutabarat MA, Ph.D, Senin (21/5), memimpin Defense Industry Cooperation Committee (DICC) Ke-1 antara Kementerian Pertahanan RI dengan Kementerian Pertahanan Republik Korea yang delegasinya dipimpin oleh Mr Noh Dae-Lae di Kantor Kemhan, Jakarta. Pertemuan yang berlangsung selama dua hari dan dilanjutkan kunjungan ke beberapa industri pertahanan  ini sebagai tindak lanjut dari penandatanganan kerjasama MoU mengenai DICC pada tanggal 9 September 2011 lalu yang dimaksudkan untuk meningkatkan kerjasama bilateral kedua negara.
 
Dalam amanat pembukaannya Dirjen Pothan mengatakan bahwa kerjasama dalam bidang industri pertahanan antara kedua negara telah meningkat sangat baik. Seperti diketahui Indonesia telah menggunakan produk-produk pertahanan dari Republik Korea yang sebagian diantaranya sudah dipasarkan juga oleh perusahaan Indonesia. Menurut Dirjen Pothan Kemhan, pihak Kemhan RI berharap kerjasama antara industri pertahanan kedua negara ini dapat memberikan manfaat bagi kedua negara dan terus berkembang di masa mendatang. 

Dirjen Pothan Kemhan melanjutkan, diharapkan industri pertahanan kedua negara dapat bekerjasama dengan erat dan dapat merancang tujuan bersama dalam pengembangan industri pertahanan. Sampai saat ini diantara RI dan Republik Korea telah terbangun kerjasama yang baik di bidang industri pertahanan seperti pembangunan bersama pesawat KFX/IFX, PT.Pindad dengan Dosan dalam pembangunan Wheel Armor Vehicle dengan 90 mm Canon. Dilanjutkan oleh Dirjen Pothan, kerjasama industri pertahanan antara kedua negara juga termasuk diantaranya ToT dalam teknologi kapal selam dengan DSNI 209, begitu juga kerjasama antara industri pertahanan kedua negara dalam bidang pengembangan propelan.

Dengan berbagai bentuk kerjasama dalam bidang industri pertahanan seperti yang telah disebutkan oleh Dirjen Pothan ini, dirinya berharap dalam pertemuan ini dapat dilaksanakan diskusi yang mendalam untuk meraih target yang diharapkan. Hasil pertemuan yang didapatkan sangat bergantung kepada keseriusan delegasi kedua negara dalam membangun saling pengertian dalam kerjasama yang saling menguntungkan.

DICC ini sesuai yang tertuang dalam MoU mencakup beberapa kegiatan antara lain; mendukung pengembangan dan produksi bersama, dan proyek bersama pada peralatan pertahanan dan suku cadang. Pertukaran dan peralihan informasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi pertahanan nasional, pemasaran bersama produk pertahanan sebagai barang dagang internasional dan peningkatan keseimbangan perdagangan produk-produk dan jasa-jasa industri pertahanan.

Sementara itu pimpinan delegasi Korea Mr Noh Dae-Lae mengatakan bahwa pertemuan ini diharapkan dapat meningkatkan hubungan bilateral yang erat antara kedua negara khususnya dalam bidang industri pertahanan.

Sumber : DMC

Korsel Buru 4 Kapal Selam Korut

SEOUL-(IDB) : Korea Selatan (Korsel) dikabarkan melakukan perburuan terhadap empat buah kapal selam milik Korea Utara (Korut). Sebelumnya kapal selam itu diktahui menghilang setelah meninggalkan pangkalannya.

Hingga saat ini, Korsel masih yakin, Korut-lah yang menenggelamkan kapal perang miliknya dua tahun yang lalu. Sementara itu, militer Korsel melaporkan empat kapal selam Korut bersembunyi di dasar laut guna menyelamatkan diri dari lacakan radar Korsel.

Selain itu, muncul pula laporan yang menyebutkan bahwa Korut mulai menggelar latihan perang terhadap armada kapal selamnya karena cuaca di Semenanjung Korea mulai menghangat. Korsel pun akhirnya mempersiapkan diri untuk mewaspadai serangan dari negara tetangganya. Demikian seperti diberitakan ABC, Kamis (5/4/2012).

Perseteruan Korsel dan Korut tampak makin memanas belakangan ini, ditambah lagi dengan rencana Korut yang hendak meluncurkan satelit pada April ini. Tak hanya Korsel yang khawatir akan peluncuran roket itu, negara-negara di kawasan Asia juga menanggapi peluncuran roket itu dengan keras.

Beberapa negara tampak mempersiapkan alutsistanya yang sanggup menghantam satelit negeri komunis tersebut.

Di tengah perselisihan itu, Rusia kembali mengingatkan negara-negara di dunia ini agar tidak menggunakan emosinya dalam menekan Korut. Negeri Beruang Merah itu juga khawatir akan peluncuran satelit Korut yang dinilai melanggar aturan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun Rusia tidak pernah memberikan ancaman-ancaman terhadap Korut dengan menggunakan kekuatan militernya.

Sumber : Okezone

Korsel Akan Tembak Jatuh Roket Korut Jika Masuk Wilayahnya

SEOUL-(IDB) : Korea Selatan sedang melakukan persiapan untuk menembak jatuh roket Korea Utara jika roket yang rencananya diluncurkan bulan depan itu melenceng ke dalam wilayah Korea Selatan, kata kementerian pertahanan Senin.

Militer Korea Selatan dan AS dengan cermat memonitor aktivitas di pangkalan Tongchang, kata juru bicara kemeterian, sehari setelah Seoul memastikan bagian utama roket sudah dipindahkan ke lokasi di baratlaut negara itu, lapor AFP.

Seoul khawatir bahwa bagian pertama roket itu, yang direncanakan akan jatuh di Laut Kuning antara Korea Selatan dan China, kemungkinan jatuh di wilayah Korea Selatan, katanya.

"Kami sedang mempersiapkan langkah-langkah untuk melacak lintasan rudal tersebut dan menembak jatuh jika rudal itu, kebetulan, melenceng dari rute yang direncanakan dan jatuh ke wilayah kami," katanya tanpa menjelaskan.

Jepang sudah menyatakan pihaknya kemungkinan juga melakukan hal yang sama jika roket tersebut melenceng ke atas wilayahnya.

Korea Utara mengumumkan pihaknya akan meluncurkan roket tersebut untuk menempatkan sebuah satelit ke orbit antara 12-16 April untuk memperingati 100 tahun kelahiran bapak bangsa presiden Kim Il-Sung.

Negara yang bersenjatakan nuklir itu menandaskan pihaknya berhak meluncurkan sebuah satelit untuk tujuan damai.

Amerika Serikat dan negara-negara lain mengatakan peluncuran itu sebagai kedok uji coba rudal, dan bahwa peluncuran rudal balistik untuk tujuan apapun dilarang menurut resolusi PBB.

Korea Utara akan menanggung biaya paling sedikit 800 juta dolar untuk peluncuran itu, kata juru bicara itu, menyatakan kembali pandangan Korea Selatan bahwa peluncuran itu dimaksudkan untuk menguji rudal jarak jauh untuk membawa hulu ledak nuklir.

Presiden AS Barack Obama, yang mengunjungi Seoul untuk Konferensi Tingkat Tinggi Keamanan Nuklir, mengatakan Minggu peluncuran tersebut akan membahayakan tawaran AS belum lama ini untuk bantuan makanan dengan imbalan pembekuan nuklir sepihak dan moratorium uji coba rudal.

Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak mendiskusikan masalah tersebut dalam pembicaraan-pembicaraan Senin dengan Presiden China Hu Jintao.

"Kedua pemimpin berbagi keprihatinan mereka menyangkut rencana yang diumumkan Korea Utara untuk meluncurkan sebuah satelit dan setuju untuk melanjutkan diskusi secara erat bagi Korea Utara agar menarik rencana tersebut," kata Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kim Sung-Hwan dalam sebuah keterangan pers.

Hubungan antar Korea mendingin sejak Seoul menuduh Pyongyang menorpedo sebuah kapal perang pada Maret 2010 yang menewaskan 46 orang.

Korea Utara menyangkal keterlibatan dan menembaki sebuah pulau perbatasan Korea Selatan pada November 2010 dan menewaskan empat orang.

Pada upacara kenangan Senin memperingati dua tahun penenggelaman tersebut, sekitar 3.000 pasukan, pejabat pemerintah dan anggota keluarga yang berlinang airmata memberikan penghormatan bagi para mantan awak kapal perang Cheonan.

Perdana Menteri Kim Hwang-Sik, dalam sebuah pidato di makam nasional di Daejeon dimana para pelaut itu dikuburkan, mengatakan perilaku Korea Utara telah menjadi "semakin tak terduga daripada sebelumnya" sejak kematian almarhum Kim Jong-Il tahun lalu.

"Kami mendesak lagi Korea Utara agar menarik rencana peluncurannya sesegera mungkin dan agar menghormati kuajiban internasionalnya," katanya. 
Sumber : Antara

KTT Seoul Diminta Fokus Senjata Nuklir Israel

SEOUL-(IDB) : Mayoritas pakar meyakini bahwa Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Keamanan Nuklir di Seoul, Korea Selatan harus fokus pada negara-negara pemilik senjata pemusnah massal seperti, rezim Zionis Israel.
 
IRNA, Kamis (22/3) melaporkan, KTT Keamanan Nuklir rencananya akan digelar pada 26-27 Maret di ibukota Korsel. Pemimpin dari 53 negara dan organisasi internasional akan menghadiri pertemuan itu.
 
Seorang peneliti Cina, Liu Chao mengatakan, konferensi tersebut harus memberi perhatian kepada negara-negara pemilik senjata nuklir. Ketua Pusat Riset Korea ini menuturkan, ini sangat penting bagi para peserta KTT untuk menyelesaikan masalah nuklir di seluruh dunia.
 
Seraya menyatakan bahwa ancaman-ancaman nuklir harus diminimalisir, Liu menandaskan, negara-negara pemilik senjata nuklir, termasuk Amerika Serikat harus berupaya untuk menyelesaikan masalah tersebut.
 
"Sangat tidak berarti jika Barat, termasuk AS berusaha menarik opini publik terhadap isu nuklir Korea Utara atau Iran," kritiknya. Menurut Liu, "Lebih baik kita memikirkan sebuah sistem untuk mencegah pengembangan senjata nuklir di belahan bumi lain daripada membahas isu nuklir Pyongyang dan Tehran."
 
Tanpa menyinggung Israel, peneliti Cina ini menegaskan, ada banyak rezim yang memiliki senjata atom dan masyarakat internasional harus menggunakan peluang ini untuk mencari cara melenyapkan senjata nuklir atau mengurangi ancaman nuklir ke tingkat terendah.

Israel dengan dukungan langsung AS, telah memproduksi lebih dari 200 bom atom. Tel Aviv tidak akan berpartisipasi dalam KTT Keamanan Nuklir Seoul.
 
Sebelumnya, Presiden Korsel Lee Myung bak mengatakan bahwa KTT itu bertujuan untuk mewujudkan dunia yang bebas dari senjata nuklir.

Sumber : Irib

Korsel Kecam Roket Kim Il-Sung

SEOUL-(IDB) : Korea Selatan (Korsel) akhirnya mengecam rencana Korea Utara (Korut) yang bakal meluncurkan roket jarak jauh untuk memperingati 100 tahun kelahiran Kim Il-Sung. "Peluncuran itu adalah bentuk provokasi," kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Korsel pada Jumat (16/3/2012).

Kementerian itu juga mengatakan andai peluncuran pada bulan depan tersebut terealisasi, hal itu menjadi ancaman pada keamanan regional. Menurut Korsel pula, peluncuran roket tersebut adalah satu pelanggaran pada resolusi Dewan Keamanan PBB tahun 2009 yang melarang peluncuran rudal balistik.
    
Selain Korsel, Jepang juga menyuarakan hal sama. Negeri Matahari Terbit itu mengatakan setiap peluncuran oleh Korut baik itu satu satelit atau bukan, yang menggunakan teknologi rudal balistik  melanggar  resolusi-resolusi Dewan Keamanan PBB. "Kami mendesak Korut menahan diri dan tidak melakukan peluncuran itu," kata juru bicara penting pemerintah Kepala Sekretaris Kabinet Osamu Fujimura.
    
Korut, yang baru-baru ini mengatakan pihaknya akan menangguhkan uji coba rudal jarak jauh sebagai bagian dari perundingan dengan AS, berjanji bahwa peluncuran bulan depan tidak akan berdampak pada negara-negara tetangga.
    
Pada April 2009, Korut meluncurkan roket balisitk yang sama. Akibatnya, Korut mendapat sanksi-sanksi keras PBB. Sanksi itu merusakkan perekonomian Korut dan semakin mengucilkan negara itu.
    
Peluncuran rudal itu sejatinya gagal. Pasalnya, roket jatuh ke Laut Jepang tanpa mengorbit satu satelit. Alhasil, Tokyo marah dan mengancam akan menembak jatuh setiap roket yang mengancam wilayahnya. Satu uji coba lainnya juga gagal pada tahun 1998.
    
Washington mengatakan program rudal balistik jarak jauh Korut bergerak maju dengan cepat. Mantan Menteri Pertahanan Robert Gates mengatakan tahun lalu bahwa daratan Amerika dapat terancam dalam lima tahun. "DPRK akan meluncurkan satu satelit,Kwangmyongsong-3, yang diproduksi negara itu sendiri dengan teknologi dalam negeri untuk memperingati 100 tahun lahirnya Presiden Kim Il-Sung," kata kantor berita resmi KCNA mengutip seorang juru bicara Komite Bagi Teknologi Angkasa Korea.
    
Peluncuran itu akan dilakukan antara 12-16 April,kata KCNA. Pada saat sama, Korsel menyelenggarakan sidang parlemen. Jangka waktu itu pun hanya tiga minggu setelah  KTT keamanan nuklir global di Seoul.

Sumber : Kompas

Korsel-AS Gelar Latihan Anti Kapal Selam Di Laut Kuning

SEOUL-(IDB) : Angkatan Laut Amerika Serikat dan Korea Selatan akan menggelar latihan bersama anti-kapal selam di Laut Kuning pekan depan untuk menjaga serangan potensial oleh Korea Utara, kata Kementerian Pertahanan, di Seoul, Kamis.

Latihan itu akan berlangsung 20-24 Februari akan melibatkan sejumlah kapal selam dan kapal perang dari kedua negara, kata juru bicara kementerian itu kepada AFP tanpa menjelaskan lebih lanjut.

Surat kabar JoongAng Ilbo mengatakan, latihan akan melibatkan sekitar 20 kapal termasuk dua kapal Aegis dari Amerika Serikat dan satu dari Korea Selatan, serta helikopter Lynx dan pesawat pengintai P3-C anti-kapal selam.

Mengutip seorang pejabat militer Seoul, latihan itu katanya akan menjadi latihan anti-kapal selam terbesar bersama dilakukan oleh sekutu.

Kedua negara menggelar latihan anti-kapal selam bersama pada September 2010, sebulan setelah Seoul menuduh Pyongyang mentorpedo kapal perang yang menewaskan 46 pelautnya di Laut Kuning Maret 2010.

Korea Utara menyangkal pihaknya menenggelamkan kapal itu. Tetapi pada November tahun itu Pyongyang menembaki sebuah perbatasan pulau, menewaskan empat warga Korea Selatan.

Latihan bersama mendatang, mendahului dua latihan besar bersama lainnya, dan terjadi pada saat yang sensitif di Korea Utara yang mengalami transisi kekuasaan.

Pyongyang telah mengambil nada memusuhi Seoul sejak Kim Jong-Un, putra bungsu mendiang pemimpin Kim Jong-Il, mengambil alih kekuasaan setelah kematian ayahnya Desember lalu.

Latihan "Pemecahan Penting" antara Korea Selatan dan Amerika Serikat akan dimulai pada 27 Februari dan berlanjut sampai 9 Maret.

Secara terpisah, gelar latihan bersama angkatan udara, darat dan laut yang dikenal sebagai "Foal Eagle" akan dilakukan pada 1 sampai dengan 30 April.

Korea Utara mengecam latihan-latihan itu sebagai gila perang.

Sumber : Antara

Korsel Tempatkan Rudal Chunma di Seluruh Wilayahnya

SEOUL-(IDB) : Rudal darat ke udara Chunma yang dikembangkan oleh teknologi swasembada Korea Selatan telah selesai dialokasikan di seluruh unit militer strategis di wilayah Korea Selatan sampai akhir tahun 2011.
 
Rudal Korea Selatan, Chunma ini menurut KBS, Senin (9/1/2012) dapat diangkut oleh kendaraan lapis baja sampai 8 unit dan digunakan untuk menyergap pesawat musuh yang datang pada ketinggian pesawat di udara dalam jarak sejauh 20 Kilometer lebih dengan kecepatan 2,6 Mach.


Rudal Chunma tersebut juga dapat diluncurkan dari bahu personil militer untuk sasaran berketinggian rendah.

Sumber : TribunNews

Korsel Didesak Waspadai Kebijakan Militer AS

SEOUL-(IDB) : Pergeseran kebijakan luar negeri yang dilakukan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama, menuai spekulasi di Korea Selatan (Korsel).


Kebijakan luar negeri tersebut mengenai strategi militer AS yang difokuskan untuk memenangkan peperangan yang terjadi di kawasan Timur Tengah dan beralih kepada penguatan militer di Asia. Beberapa pengamat di Korsel menilai, kebijakan agresif AS ini patut diwaspadai.


"Pada tahun 2015, militer Korsel akan berada di bawah pengaruh AS. Korsel akan memimpin perang darat sementara AS akan mendukung melalui Angkatan laut dan udaranya," ramal pengamat militer dari Institut Analisis Pertahanan Korea seperti diberitakan The Chosun Ilbo, Jumat, (6/1/2012).


Lebih lanjut para pengamat menyarankan agar Korsel meningkatkan kemampuan Angkatan Udaranya dalam melakukan serangan.


Saat ini terdapat sekira 28.500 pasukan AS yang ditempatkan di Korsel. Presiden Obama dan pejabat Pentagon berulang kali menjanjikan akan menambah jumlah pasukan ini.


Sebelumnya dilaporkan, Presiden Obama menjadwalkan kunjungannya ke Pentagon guna membahas strategi pertahanan AS di tengah adanya kebijakan penghematan. AS pun digadang-gadang akan memfokuskan kebijakan pertahanannya di kawasan Asia.


Pada kesempatan berbeda, Pentagon sempat mengatakan pernyataan perubahan kebijakan pertahanan AS tidak akan memberikan dampak buruk bagi Negeri Ginseng tersebut.

Sumber : Okezone

Korsel Akan Membeli 2 Pesawat Mata-Mata Prancis

SEOUL-(IDB) : Korea Selatan akan membeli dua pesawat mata-mata Prancis yang mampu mencegat pesan radio dari Korea Utara dan mendeteksi peluncuran rudal. Demikian dilaporkan Senin (26/12).

Pesawat-pesawat pengintai Falcon 2000 itu akan dibeli dari perusahaan pertahanan Dassault, mungkin tahun 2017, kata Program Akuisisi Pertahanan Pemerintah dalam satu pernyataan.

Pesawat Prancis itu akan mengganti beberapa pesawat mata-mata tua Korea Selatan termasuk RC-800 yang dibangun oleh perusahaan Amerika Serikat Raytheon, katanya.

Dibandingkan dengan RC-800, Falcon 2000 memiliki jangkauan yang lebih luas dan dapat membawa peralatan yang lebih banyak, kata lembaga itu.

Korea Selatan pada umumnya menyukai peralatan pertahanan dari Amerika Serikat, yang memiliki pasukan yang berbasis di negara itu sejak Perang Korea 1950-1953 untuk mencegah agresi Korea Utara.

Dalam upaya  mengurangi ketergantungan berat pada pesawat-pesawat pengintai yang dioperasikan AS, Korea Selatan juga akan membeli empat pesawat pengintai skala tinggi dari Boeing pada akhir 2012.

Yang pertama adalah modifikasi pesawat Peringatan Dini Boeing 737 Airborne dan Kontrol (AEW & C) dikirim kepada angkatan udara Korea Selatan tahun ini. Pesawat ini dapat melacak target-target udara dan maritim secara bersamaan dan langsung jet-jet tempur serta kapal- kapal  melibatkan mereka.

Korsel Akan Beli Rudal Jelajah

SEOUL-(IDB) : Korea Selatan berencana membeli rudal-rudal jelajah yang diluncurkan dari pesawat yang dapat menghancurkan target-target bernilai tinggi di Korea Utara, kata laporan-laporan dan para pejabat, Rabu.

Rencana itu menunggu persetujuan parlemen, kata juru bicara kementerian pertahanan kepada AFP dan menambahkan angkatan udara akan membeli sekitar 170 rudal itu.

Korsel ingin membeli rudal-rudal siluman udara ke darat sebagai satu penangkal terhadap provokasi Korut, kata surat kabar Korea Times.

"Rudal itu dapat diluncurkan dari Seoul dan dapat menghantam setiap target di Pyongyang," kata satu sumber pemerintah yang dikutip surat kabar itu.

Pemerintah menyisihkan dana 388 miliar won (344 juta dolar AS) untuk rudal-rudal yang dapat diluncurkan dari jet-jet, kata surat kabar itu.

Rudal JASSM ( Joint Air to-Surface Standoff Missile) dari perusahaan pertahanan AS Lockheed Martin akan bersaing dengan Taurus yang diproduksi perusahaan Jerman Taurus Systems GmbH, katanya.

Seoul mengharapkan dapat menilai dua rudal itu menyangkut prestasi mereka, harga dan transfer teknologi dan akan memilih pemenang paling lambat September tahun depan, katanya.

JASSM, yang memiliki jangkauan tembak 370km, lebih murah tetapi Kongres AS belum mengizinkan ekspor senjata-senjata itu ke Seoul, katanya.

Korsel mungkin mendorong pengembangan rudal-rudal jelajah udara ke darat jika tidak dapat membeli mereka dengan harga yang layak dan menjamin alih teknologi penting, katanya.

Korsel membangun beberapa jenis rudal untuk menghadapi ancaman rudal-rudal balistik Korut.

Korut memiliki sekitar 600 rudal Scud yang dapat menghantam target-target di Korsel, dan mungkin juga mencapai wilayah Jepang dalam beberapa kasus, kata data militer Korsel.

Ada 200 rudal Rodong-1 lainnya yang dapat mencapai Tokyo. Selain itu Korut tiga kali melakukan uji coba rudal-rudal antar benua Taepodong.

Sumber : Antara

Vietnam dan Korea SelatanJalin Kesepakatan Pembangunan PLTN

SEOUL-(IDB) : Presiden Vietnam, Truong Tan Sang sepakat menjalin kerja sama dengan Korea Selatan untuk membangun konstruksi pembangkit listrik tenaga nuklir, Selasa 8 November 2011. Kedua negara menyatakan, kerja sama itu dilakukan untuk meningkatkan pasokan listrik ke negara-negara di Asia Tenggara. 
Presiden Vietnam Truong Tan Sang mencapai kesepakatan dengan Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak dalam pertemuan puncak di Seoul. Sang tiba sehari sebelumnya untuk kunjungan kenegaraan selama tiga hari. Selain kesepakatan soal pembangkit listrik tenaga nuklir, pertemuan itu bertujuan untuk membicarakan peningkatan hubungan bilateral dan kerjasama ekonomi kedua negara.

Kedua pemimpin sepakat meningkatkan terus pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir demi pembangunan ekonomi mereka. Kedua negara juga menyatakan, perlunya solusi untuk mengatasi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Mereka juga menjamin, akan mencari cara penggunaan tenaga nuklir yang tepat ramah lingkungan.

"Kedua belah pihak mendapat catatan khusus dari proposal Korea Selatan untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir di Vietnam didasarkan pada teknologi Korea Selatan, yaitu memelihara sumber daya manusia, teknologi mentransfer dan kerjasama dalam bidang terkait lainnya," ujar pernyataan pers bersama keduanya.

Kedua negara juga menyetujui rencana peyusunan bersama konstruksi pembangkit listrik tenaga nuklir, dan sepakat menggunakan rencana tersebut sebagai dasar untuk proyek-proyek kerjasama di masa mendatang.

Kesepakatan koferensi tingkat tinggi ini memperbesar peluang Korea Selatan untuk memenangkan sebuah proyek dalam pembangunan sebuah pembangkit listrik teaga nuklir di Vietnam.

Vietnam mencoba untuk membangun serangkaian reaktor nuklir untuk pembangkit listrik, dengan Rusia. Pembangunan ini diharapkan dapat mencapai kesepakatan dalam pembangunan reaktor No 1-2. Sementara itu, Jepang juga berharap dapat memenangkan kontrak pada reaktor No 3-4. Korea Selatan telah berusaha untuk memenangkan sebuah proyek dalam pembangunan reaktor No 5-6.

Korea Selatan adalah salah satu negara besar dengan energi global yang 40 persen kebutuhan listriknya bergantung pada pembagkit listrik tenaga nuklir. Negara ini juga mencoba untuk mengekspor pembangkit listrik tenaga nuklir sejak perusahaan Korea memenangkan sebuah kontrak besar pada akhir tahun 2009 dalam pembangunan empat pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab.

Pekan lalu, Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan meminta partisipasi Korea Selatan dalam proyek tenaga nuklir di negara Eurasia itu. Kesepakatan soal pembangunan pembangkit tenaga nuklir itu terjadi selama pertemuan puncak dengan Presiden Lee di sela-sela KTT G20 di Prancis tahun ini.

Sumber : Tempo