Tampilkan postingan dengan label Badan Antariksa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Badan Antariksa. Tampilkan semua postingan

Lapan Kembali Akan Uji Roket RX-550

GARUT-(IDB) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) kembali menyempurnakan kemampuan roket RX-550 yang segera diluncurkan pada 2013 mendatang.

Dalam persiapannya itu, LAPAN kembali melakukan uji statik motor roket RX-550 yang akan dilakukan pada Sabtu( 29/9) di Kecamatan Pangmeungpek, Kabupaten Garut. Sejumlah alat instalasi mulai dipasang pada roket RX-550 tersebut. Kepala Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN Sudihartono menyebutkan,beberapa alat tersebut terdiri dari alat untuk mengukur daya dorong, tekanan, vibrasi, tempratur, dan data visual.


Sejumlah peralatan itu, kata Sudi, akan menentukan apakah motor roket senilai Rp5 miliar ini akan layak menjalani uji terbang atau tidak di 2013 nanti. ”Roket RX-550 sendiri masih dalam tahapan penelitian dan penyempurnaan. Di 2011 lalu,kami sempat melakukan uji statik.Namun,karena tidak sempurnanya struktur material pada bagian nossel motor roket saat itu, RX-550 masih belum bisa dikatakan layak uji terbang. Sekarang, uji statik motor pendorongnya akan kita lakukan kembali,”kata dia.

Sudi mengungkapkan, belum sempurnanya struktur komponen nossel motor roket disebabkan terbatasnya kualitas material logam.Saat itu, logam pada komponen nosselmotor roket hanya memiliki ketebalan 3 mm. ”Idealnya, ketebalan struktur material 6 mm. Sedangkan kondisi saat itu ketebalannya hanya 3 mm.Jadi yang seharusnya material itu bisa menahan panas sebesar 3.000 derajat celcius selama waktu pembakaran propelan sekitar 14 detik, ini malah hanya tahan dalam waktu 7 detik saja.Akibatnya,saat memasukidetikke 8,material nossel robek dan pecah,”ungkapnya.

 Seperti diketahui, nama roket RX-550 diambil dari diameter motor roket yang berdiameter 550 milimeter. Panjang motor roket setidaknya mencapai 6 meter. Sedangkan panjang keseluruhan roket bisa mencapai 9 meter lebih. Fungsi khusus roket RX-550 adalah sebagai pendorong (booster) utama yang akan membawa satelit ke luar angkasa dengan kapasitas bahan bakar jenis HTPB (hydroxyl toluen poly butadiene) sebanyak 1,8 ton.

 Roket ini diprediksi memiliki jarak tempuh sejauh 150 km dengan jangkauan sepanjang 300 km. Roket RX-550 merupakan penyempurnaan beberapa roket produksi Lapan sebelumnya, yaitu RX- 420 di tahun 2009 dan RX-320 di tahun 2008. Karena belum bisa menjangkau target yang ditetapkan, kedua roket itu pada akhirnya disempurnakan kembali melalui proyek pembangunan roket RX-550.

Dana pembangunan roket RX-550 ini sebesar Rp5 miliar. Di bagian lain,Kepala Pusat Sains Antariksa LAPAN Clara Yono Yatini mengatakan, saat ini hanya ada 30 peneliti astronomi, itu pun terpusat di LAPAN. “Sebetulnya banyak, hanya saja kemungkinan penghargaan di dalam negeri terhadap mereka (peneliti antariksa) kurang,”katanya. 



Sumber : Sindo

Lapan Empat Pulau Dikaji Untuk Bandar Antariksa

TERNATE-(IDB) : Empat pulau, yaitu Biak (Papua), Morotai (Maluku Utara), Nias (Sumatera Utara), dan Enggano (Bengkulu), dikaji untuk menjadi lokasi pembangunan bandar antariksa. Bandar antariksa ini diperlukan seiring dengan kian dibutuhkannya satelit untuk penginderaan jauh dan agar Indonesia tidak lagi tergantung pada teknologi dan bandar antariksa negara lain.

Erna Sri Adiningsih dari Pusat Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa mengatakan hal ini saat menjadi pembicara dalam seminar internasional bertajuk percepatan dan pembangunan ekonomi Indonesia menuju industrialisasi kelautan dan perikanan berkelanjutan, di Ternate, Maluku Utara, Rabu (12/9/2012). Seminar diadakan dalam kaitan Sail Morotai 2012.

Dari kajian awal, menurut Erna, keempat pulau tersebut dinilai layak untuk menjadi lokasi bandar antariksa. Di antaranya karena dekat garis khatulistiwa, berada dekat laut bebas, sehingga bisa meminimalkan risiko akibat peluncuran roket dan potensi bencana seperti gempa dan tsunami.

Erna menjelaskan, di Morotai, Maluku Utara, enam lokasi telah dikaji, yaitu di Tanjung Gurango, Pulau Tabailenge, Bido, Mira, Sambiki, dan Sangowo. Dari keenam lokasi itu, yang lebih cocok untuk bandar antariksa berada di Sangowo atau persisnya tiga kilometer dari Sangowo.

"Lima lokasi lainnya kurang cocok karena sudah ada rencana lahan di sana dipakai pemerintah dan karena topografi yang kurang baik," ujarnya.

Erna mengungkapkan, kajian yang telah dilakukan di keempat pulau itu baru kajian awal. Perlu ada penelitian lebih lanjut sebelum memutuskan lokasi yang tepat untuk bandar antariksa. 



Sumber : Kompas

Lapan Tahun Depan Meluncurkan Satellite Lapan A2

BOGOR-(IDB) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) tahun depan siap meluncurkan Lapan A2, satelit kedua buatan Lapan, namun menjadi yang pertama yang dibuat di Indonesia.

"Satelit Lapan A2 telah selesai dibangun dan siap diluncurkan tahun depan," kata Kepala Bagian Humas Lapan Elly Kuntjahyowati di Bogor, Jumat (31/8).


Satelit ini akan diluncurkan dengan menggunakan roket milik India dari Sriharikota, India. Satelit Lapan A2 dirancang untuk tiga misi, yaitu pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir.


Satelit ini memiliki sensor "Automatic Identification System" (AIS) untuk identifikasi kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati satelit tersebut. Dengan demikian, Lapan A2 akan memiliki kemampuan untuk memantau lalu lintas wilayah laut Indonesia.


Satelit dengan berat 78 kilogram ini akan mengorbit pada ketinggian 650 km. Pada orbit tersebut Lapan A2 akan melintasi wilayah Indonesia secara diagonal sebanyak 14 kali sehari dengan lama waktu melintas sekitar 20 menit.


"Pada orbit tersebut AIS Lapan A2 akan mempunyai radius deteksi lebih dari 100 km dan mempunyai kemampuan untuk menerima sinyal dari maksimum 2.000 kapal dalam satu daerah cakupan," ujarnya.


"Lapan A2 akan mengorbit secara ekuatorial. Nantinya Lapan A2 akan menjadi satelit pemantauan bumi pertama di dunia yang memiliki orbit ekuatorial," katanya.


Menurut dia, pembangunan Lapan A2 merupakan keberhasilan bangsa Indonesia dalam mengembangkan teknologi antariksa. Awal keberhasilan ini, ditandai dengan dibangunnya satelit pertama buatan Indonesia sebelumnya, Lapan-Tubsat.


Satelit yang diluncurkan pada 2007 dari India tersebut, lanjut dia, hingga kini masih beroperasi dengan baik, padahal awalnya diperkirakan usianya hanya mencapai dua tahun.


"Lapan-Tubsat murni buatan para peneliti dan perekayasa Lapan meskipun pembangunannya bekerja sama dengan Technische Universitat Berlin di Jerman," katanya.


Keberhasilan pembangunan Lapan-Tubsat ini, menurut dia, kemudian memberikan semangat bagi Lapan untuk mengembangkan satelit berikutnya yaitu Lapan A2.


"Lapan A2 ini sepenuhnya dibangun di Pusat Teknologi Satelit Lapan di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat," tambahnya.


Lapan A2 merupakan satelit yang sama dengan Lapan-Tubsat, namun, memiliki sensor yang lebih ditingkatkan dibandingkan satelit pendahulunya.


Sumber : Metrotvnews

Menunggu Kolaborasi TNI AL dan LAPAN

JAKARTA-(IDB) : Berbagai langkah diayunkan TNI AL untuk memajukan diri menjaga kedaulatan Indonesia. Kini kerja sama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional digalang agar kelak penguasaan teknologi informatika penginderaan jarak jauh, termasuk penggelaran wahana tanpa awak (UAV/Unmanned Aerial Vehicles) dimungkinkan secara mandiri.

Angkatan Laut Amerika Serikat, sebagai contoh, telah lama memakai teknologi itu untuk mengendus keberadaan anasir yang mengancam kepentingan Amerika Serikat; nun jauh sebelum anasir itu bisa diindera mata dan telinga manusia. 

Salah satunya berupa RQ-8A/B Fire Scout, serupa helikopter mini yang bisa lepas landas dari kapal perang. Fire Scout ditempatkan pertama kali di dalam hanggar USS Denver pada Januari 2002 dengan kemampuan paling berbahaya bertajuk pengintaian (reconnaisanse), peraihan sasaran taktis, melacak sasaran, dan pemilihan sasaran secara akurat.

Ada lagi yang jauh lebih sangar, seturut Jane's Defence, namanya Northrop-Grumman RQ-4A Tier II Plus Global Hawk yang mampu dibekali teknolgi Synthetic Aperture Radar, electro-optical, sensor infra merah, dan masih banyak lagi. Maklum, arsenal classsified, jadi cuma sedikit yang bisa diungkap pabrikan.  

Bisakah Indonesia menuju ke sana? Bisa adalah jawabannya namun tidak seketika. Sejalan penandatanganan nota kerja sama antara TNI AL dan LAPAN, di Markas Besar TNI AL di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, kerangka ke arah sana sedang dibangun bersama.

Pihak penandatangan adalah Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Soeparno, dengan koleganya, Kepala LAPAN, Bambang S Tejasukmana, disaksikan para petinggi masing-masing pihak dan belasan jurnalis nasional. Dari sisi waktu pemberlakuan kerja sama itu, ada skema jangka pendek dan jangka panjang. 

Intinya, kedua pihak saling berbagi pengetahuan dan pengalaman serta saling melatih dan meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi-teknologi terkait. TNI AL memiliki Dinas Hidrografi dan Oseanografi yang sangat mumpuni dalam pengamatan perilaku perairan dan kawasan maritim nasional.

Di antara yang paling mudah adalah merekam dan memprakirakan (forecasting) data pasang-surut pantai. Data ini akan sangat berguna untuk banyak kepentingan, baik pelayaran niaga apalagi pertahanan negara.

LAPAN sendiri juga bukan "pemain baru" di dunia kedirgantaraan dan keruangangkasaan. Berbagai kerja sama dan kepercayaan serta capaian telah diraih sejak masa pemerintahan Soekarno, penggagas LAPAN kala itu. Inilah satu-satunya badan di belahan selatan Bumi yang pada masanya telah mampu meluncurkan calon satelit mini asli buatan dalam negeri.

LAPAN juga memiliki organ yang spesialisasinya di bidang penginderaan jarak jauh --contohnya peringatan dini titik-titik panas kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan sehingga bisa cepat diketahui-- yang siap dimanfaatkan bagi kepentingan pertahanan nasional.

Membilang hal ini, teknologi penginderaan jarak jauh berbasis teknologi satelit itu bisa menjelma berupa UAV dengan misi pengintaian dan intelijen maritim. Bukan rahasia lagi bahwa keterbatasan anggaran pertahanan menjadi "tantangan" untuk berinovasi agar tugas pokok bisa dilakukan sebaik mungkin.

Kehadiran UAV ini akan menjadi armada tambahan signifikan bagi banyak kapal perang dan pangkalan TNI AL untuk membuat perairan Indonesia bertambah aman sekaligus mencegah pelanggaran dari pihak-pihak luar negeri. UAV mampu terbang jauh di balik cakrawala, memancarkan data dan temuannya menuju satelit dan memancarkan ulang ke kapal-kapal perang kita.

Sehingga, di ruang kendali operasi (combat situation room) kapal perang, keputusan paling tepat bisa diambil berdasarkan perintah bermodal data paling akurat. Soeparno mengangankan agar hal itu nanti bisa terjadi secara seketika alias real time. UAV ini dioperasikan dari landasannya di kapal perang dan kembali ke kapal asalnya untuk kemudian dioperasikan lagi. 

LAPAN memang tidak mengurusi persenjataan fisik berupa perancangan dan pembuatan peluru kendali. Terlepas dari unsur manusia pengawak, apalah arti peluru kendali t`npa bisa dikendalikan bersandar teknologi state of the art? TNI AL tengah membangun postur kekuatannya yang kuat, ramping, liat, dan modern; salah satunya berupa kapal perang sekelas KAL Clurit ukuran 48 meter yang bisa ngebut di perairan dangkal.

Masih ada kapal kelas Kapal Cepat Rudal 60 yang masih mampu berlayar sempurna sambil tetap memungkinkan sistem giroskop meriam 57 milimeter dan peluru kendali hingga kelas MM-40 Exocet Block II (kelak) diaktifkan dari pijakan luncurnya.

Menurut Sidang Pleno Ke-VI Komite Kebijakan Industri Pertahanan pada 23 Mei 2012 lalu, hal ini masih ditambah dengan kapal kelas Perusak Kawal Rudal dengan kodifikasi PKR 10514 sepanjang 105 meter dengan harga 220 juta dollar AS perunit. "Tampang" kapal yang direncanakan dibuat di galangan PT PAL Surabaya ini mirip dengan kapal fregat kelas SIGMA yang penuh dengan diamond cut-nya.

Perompakan di Selat Malaka, sebagai satu hal, sempat menempatkan nama Indonesia sebagai negara yang kurang baik dalam mengamankan wilayahnya sendiri. Namun berbagai langkah digiatkan sehingga patroli kerkoordinasi digelar di antara negara-negara pihak di perairan yang menguasai sekitar 70 persen omzet perdagangan dunia itu bisa semakin aman.

Kalau sudah begitu nanti, bayangkan capaian yang bisa diraih jika sepertiga saja kapal-kapal perang TNI AL dibekali dengan sistem penginderaan jarak jauh (baca: UAV) yang lebih mumpuni. Tidak akan mudah pihak luar menyodorkan "data pembanding" yang kerap bisa disesuaikan dengan kepentingan mereka.

Apalagi belakangan dan ke depan nanti isu Kepulauan Spratly di Laut China Selatan alias Laut Filipina Barat, di utara Laut Natuna, Provinsi Riau Kepulauan, bisa makin menghangat. Indonesia berada persis di persimpangan konflik antara China, sebagian negara ASEAN, dan (bisa melibatkan) Amerika Serikat.

Indonesia perlu mewaspadai secara khusus tiap perkembangan di perairan itu. Percepatan pembangunan sistem arsenal militer nasional layaklah menjadi prioritas pembangunan demi kemandirian dan kedaulatan bangsa. Di sinilah kontribusi TNI AL dan LAPAN kali ini berawal mula.


Sumber : Antara

TNI AL Manfaatkan Teknologi UAV Lapan

JAKARTA-(IDB) : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut akan memanfaatkan pesawat intai tanpa awak (UAV) milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh itu ditandai dengan penandatanganan Piagam Kesepakatan Bersama yang dilakukan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno dan Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan, di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.

KSAL Laksamana TNI Soeparno, mengatakan, kerja sama yang dilakukannya itu, ada jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendeknya, meningkatkan kapasitas atau kualitas SDM dengan cara pelatihan bersama, saling memberi, saling tukar informasi.

Sementara, jangka panjang memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, seperti penggunaan satelit dan pesawat intai tanpa awak (UAV).

"Kerja sama ini dapat membantu tugas TNI AL dalam menjaga kedaulatan negara, seperti pengawasan kapal-kapal yang melintas di perairan Indonesia. Pulau-pulau terluar juga akan diawasi," kata KSAL.

Menurut dia, kerja sama itu dapat menghemat anggaran yang ada karena bisa memadukan dua instansi yang memiliki keterkaitan.

"Untuk pertama ini, kita akan coba lima tahun. Mungkin nanti ditambah lagi lima tahun. Mungkin setelah 10 tahun sudah tercapai apa yang kita inginkan," katanya seraya berharap melalui kerja sama ini pengamanan laut bisa lebih optimal.

Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, mengatakan, teknis bantuan yang diberikan LAPAN kepada TNI AL, yakni pesawat intai tanpa awak (UAV) dan satelit sebagai penginderaan jauh untuk melakukan pengamatan di daerah laut.

"Kita akan membangun satelit yang bisa dipakai angkatan laut, umumnya TNI. Kami mencoba membangun kemampuan LAPAN ini yang bisa mendukung kegiatan di TNI AL. Satelit yang akan dibangun membawa sensor sistem identifikasi otomatis," katanya Menurut dia, tidak ada target pencapaian karena antariksa itu infrastruktur penting untuk pertahanan.

"Jadi tidak terbatas. Proyeksi ini akan terus diulang lima tahun dan diulang lagi sampai jelas bentuknya. Lima tahun ini kita lebih fokus ke penginderaan jauh, pemantauan pulau kecil, pemanfaatan satelit untuk kegiatan TNI AL," kata Bambang.

Ruang lingkup kerja sama itu, meliputi bidang penelitian, pengkajian, pengembangan, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kedirgantaraan. Iptek kedirgantaraan itu sendiri mencakup, penginderaan jauh, sains dirgantara dan teknologi kedirgantaraan.

Selain itu, kedua instansi juga bekerja sama dalam bidang pertukaran ilmu pengetahuan, data, informasi, dan tenaga ahli serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Dalam acara itu, juga ditandatangani dua perjanjian kerja sama antara LAPAN-Dinas Pengamanan AL (Dispamal) tentang pendidikan, pelatihan, dan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan LAPAN-Dinas Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Dishidros).

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh menjadi fokus utama dalam kerja sama itu karena teknologi ini sangat membantu dalam pemantauan dan pengamatan laut. Penginderaan jauh juga dapat memberikan data yang akurat, komprehensif dan dapat diterima setiap saat, sehingga membantu tugas TNI AL.


Sumber : Jurnas

China Kini Bersaing Dengan AS Dan Rusia di Luar Angkasa

BEIJING-(IDB) : Pesawat luar angkasa China yang membawa tiga astronout, hari Minggu (24/6/2012) ini secara manual berhasil merapat di sebuah modul yang mengorbit bumi.

Peristiwa ini merupakan yang pertama bagi China sekaligus penegasan bahwa China kini bersaing dengan Amerika Serikat dan Rusia dalam mengeksploitasi luar angkasa.

Kendaraan luar angkasa Shenzhou 9 bermanuver mendekati modul Tiangong 1. Peristiwa di luar angkasa ini dilihat langsung oleh seluruh rakyata China melalui televisi. Kejadian ini berlangsung manual. Pekan lalu, manuver dan menempelnya Shenzhou 9 pada Tiangong 1 dipandu dari pusat luar angkasa China di bumi.

Astronout China sudah tinggal dan bekerja di modul selama sepekan, sebagai bagian persiapan membuat sebuah stasiun luar angkasa permanen. Mereka kembali ke kapsul Shenzhou 9 awal hari Minggu dan melepaskan diri sebaga iperseispan untuk bersatu lagi secara manual.

Wu Ping, jurubicara program luar angkasa berawak China, kepada wartawan di Beijing, China, sebagaimana diberitakan kantor berita AP, proses manual dilakukan dalam mengontrol Shenzhou 9 dan posisinya untuk bersandar pada modul yang mengorbit.

Manuver berjalan "presisi dam sempurna, dan ketiga astronaut melakukan semua itu dengan "tenang dan penuh perhitungan".

"Kesuksesan dengan bersandar secara manual merupakan terobosan besar dalam teknologi sandar dan manuver dalam program luar angkasa kami," ujar Wu.

Target berikut China yakni mengirim misi berawak lainnya ke modul pada akhir tahun ini, dan menggantikan Tiangong I yang diluncurkan sejak tahun lalu. Tiangong 1 akan digantikan dengan stasiun luar angkasa permanen sekitar tahun 2020. Posisi ini memungkinkan dilakukan misi-misi luar angkasa lainnya, termasuk kemungkinan mengirim manusia ke bulan.

Stasiun luar angkasa permanen China seberat 60 ton, lebih kecil dari Skylab milik badan luar angkasa AS, NASA yang diluncurkan tahun 1970. Stasiun China ini juga seperenam dari ukuran Stasiun Luar Angkasa Internasional milik 16 negara.

Shenzhou 9 berawak tiga orang termasuk Liu Yang (33), seorang pilot AU China, sekaligus juga astronaut perempuan pertama China ke luar angkasa. Liu bergabung dengan komandan misi yang juga astronaut veteran Jing Haipeng (45) dan rekannya Liu Wang (43).

Misi ini diharapkan berakhir setelah 10 hari di luar angkasa. Ini merupakan misi berawak China yang keempat. Shenzhou 9 diluncurkan 16 Juni lalu dari pusat luar angkasa China Jiuquan di tepian gurun Gobi di China utara.

Menurut Wu, pada astronout akan melewatkan tiga atau empat hari lebih di modul sebelum kembali ke kapsul luar angkasa, dan mempersiapkan pelepasan secara manual dari Tiangong 1. Begitu kembali ke Shenzhou 9, mereka akan kembali ke bumi sehari kemudian.

Wu menegaskan, Chian membelanjakan 20 miliar yuan atau sekitar Rp 30 triliun untuk program luar angkasa antara tahun 1992 sampai tahun 2005. Dengan berhasilnya misi Shenzou berikutnya, Beijing akan membelanjakan 19 miliar yuan lagi untuk misi luar angkasa.


Sumber : Kompas

Lapan Luncurkan Satelit A2 Akhir Tahun Ini

Satelit Mikro Jenis Lapan-Tubsat
BOGOR-(IDB) : Setelah berhasil meluncurkan satelit mikro jenis Lapan-Tubsat pada 2007 lalu, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) berencana meluncurkan satelit jenis Lapan A2 di India akhir tahun ini.

Kepala Lapan Bambang Setiawan Tejakusuma mengungkapkan, keberhasilan mengorbitkan satelit Lapan-Tubsat memberi semangat bagi pengembangan satelit berikutnya di Indonesia. Dalam hal ini Lapan telah mengembangkan dua satelit, yakni Lapan A2 yang berorbit ekuatorial dan Lapan A3 berorbit polar. “Karena orbitnya yang ekuatorial, Lapan A2 akan melewati wilayah Indonesia 14 kali per hari.Peluncuran A2 dilakukan menggunakan roket India,”ujar Bambang di Bogor kemarin.


Bambang mengaku belum dapat menentukan kepastian tanggal peluncuran A2 karena menunggu India. Ini terkait dengan posisi satelit yang hanya sebagai penumpang di roket India yang lebih besar.Perkiraan peluncuran dilakukan pada akhir tahun. “Ditargetkan antara September hingga Desember 2012 meluncur ke orbit,” ujarnya. Satelit A2 merupakan satelit kedua bikinan Lapan yang akan diluncurkan ke orbit setelah satelit Lapan-Tubsat (A1) diluncurkan lima tahun lalu dan saat ini masih mengorbit. Satelit A2 membawa misi utama untuk melakukan observasi bumi dan alat komunikasi penanganan bencana.

Satelit ini dimuati video RGB camera surveilance,sistem deteksi kapal laut automatic identifiction system (AIS), dan alat komunikasi Organisasi Amatir Radio Republik Indonesia (Orari) untuk penanganan bencana. A2 juga bisa dipakai sebagai alat pertahanan negara. Bambang mengungkapkan, satelit Lapan-Tubsat yang diluncurkan pada 10 Januari 2007 dari Sriharikota, India, merupakan keberhasilan bagi bangsa Indonesia. “Indonesia patut berbangga karena satelit pertama buatan anak bangsa ini sudah lima tahun mengorbit. Banyak satelit mikro sejenis Lapan-Tubsat hanya mampu bertahan mengorbit di angkasa selama dua tahun,” paparnya.

Menurut Bambang, satelit eksperimen berukuran kecil dengan bobot 57 kg itu mampu mengorbit di ketinggian 650 km.“Satelit ini berorbit polar atau mengelilingi bumi dengan melewati kutub dan melintasi wilayah Indonesia sebanyak dua kali per hari,”jelasnya. Satelit Lapan-Tubsatini telah menghasilkan berbagai video pemantauan bencana seperti gunung meletus, pemantauan kebakaran hutan, dan pemantauan permukaan bumi. “Keberhasilan ini merupakan bukti keandalan para peneliti dan perekayasa Lapan,” imbuhnya.

Ketua Masyarakat Penginderaan Jauh Indonesia Indradi mengaku bangga dan mengapresiasi program Lapan yang akan kembali meluncurkan satelit andalannya untuk kepentingan bangsa. Sebab, selama ini Indonesia masih bergantung pada negara luar untuk pengambilan video dan foto dari angkasa.

“Kami mendukung sekali upaya Lapan dalam mengembangkan sejumlah satelitnya. Ini merupakan lokomotif untuk menyatukan semua kemampuan yang dibutuhkan bangsa semisal pertanian, kehutanan, penataan ruang, mitigasi bencana,dan banyak lagi manfaatnya,”jelasnya.

Sumber : Sindo

Lapan Dan PT. Dahana Bangun Kerja Sama Peroketan

SUBANG-(IDB) : Jumat (20/01), Lapan dan PT Dahana menandatangani nota kesepahaman tentang penelitian dan pengembangan, pemanfaatan teknologi peroketan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Naskah ditandatangani oleh . Kepala Lapan, Drs. Bambang S. Tejasukmana, Dipl. Ing. dan Direktur Utama PT Dahana, Tanto Dirgantoro. Kegiatan yang berlangsung di Kantor Energetic Material Center (EMC) PT Dahana, Subang, Jawa Barat, ini disaksikan oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta.
Penandatangan ini termasuk dalam rangkaian kegiatan membangun kerja sama untuk pengembangan roket nasional. Menristek menjelaskan bahwa Kementerian Riset dan Teknologi sedang mendorong kegiatan peroketan nasional dengan melibatkan peran serta BUMN, salah satunya PT Dahana sebagai BUMN yang bergerak di bidang energi tinggi. 
Sementara itu, Direktur Utama PT Dahana mengatakan bahwa pihaknya siap mendukung upaya untuk mengembangkan penelitian di bidang peroketan demi kepentingan bangsa. "Dengan kemampuan yang dimiliki, diharapkan kerangka kerja sama dapat dibangun dan diterapkan dengan baik," ujarnya.
Selain dengan PT Dahana, Lapan juga melaksanakan kerja sama di bidang kedirgantaraan dengan berbagai instansi. Beberapa pekan sebelumnya, Lapan dan PT Pindad telah menandatangani nota kesepahaman untuk pengembangan roket.

Sumber : Lapan

Lapan - PT Pindad Jalin Kerja Sama Teknologi Peroketan

BANDUNG-(IDB) : Rabu (28/12), Lapan dan PT Pindad (Persero) menandatangani nota kesepahaman di bidang teknologi Peroketan. Penandatanganan berlangsung di Ruang Auditorium PT Pindad, Bandung, Jawa Barat. 

Naskah ditandatangani oleh Kepala Lapan, Drs. Bambang S. Tejasukmana, Dipl. Ing. Dan Direktur Utama PT Pindad, Ir. Adik A. Soedarsono, M. SIE, Ph. D. acara tersebut disaksikan oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Prof. Gusti Muhammad Hatta.
 
Sejauh ini, Lapan telah melakukan kegiatan bersama dengan BUMN yang bergerak di bidang manufaktur alat. Hal ini untuk mendukung kegiatan-kegiatan litbang Lapan di bidang peroketan. Untuk itulah, Lapan dan PT Pindad bersinergi dalam suatu kerja sama. Ruang lingkup kerja sama kedua lembaga meliputi litbang dan rekayasa teknologi peroketan, berikut pemanfaatan data dan informasi, serta penyediaan fasilitas dan bahan-bahan penelitian. 

Bidang peroketan di Lapan, menurut Kepala Lapan, memerlukan dukungan pemerintah. Dukungan tersebut antara lain melalui kerja sama dengan beberapa instansi strategis, salah satunya PT Pindad, untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi peroketan. Sejalan dengan perkembangan waktu, Kementerian Riset dan Teknologi mengkoordinasikan program roket pertahanan dengan melibatkan berbagai lembaga maupun badan usaha strategis. “Harapannya, untuk mendukung program tersebut, kerjasama ini dapat membangun hasil riset menjadi produk yang bisa dimanfaatkan,” Ujarnya.

Kegiatan penandatanganan ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja Menristek di Bandung. Acara diakhiri dengan kunjungan ke lokasi produksi peralatan yang berada di lingkungan Kantor PT. Pindad.

Dengan terjalinnya ikatan kerjasama ini, Menristek mendorong agar implementasi kegiatan ini berjalan dengan baik.

Sumber : Lapan

Jepang Kembali Luncurkan Satelit Mata-mata

TOKYO-(IDB) : Jepang, Senin (12/12), kembali meluncurkan setelit mata-mata. Ini adalah yang kedua yang dilakukan Jepang pada tahun ini.

Badan Ruang Angkasa Jepang, JAXA, mengatakan, peluncuran pada Senin (12/12) ini berhasil dan redar sudah berfungsi dengan normal. Tetapi para pejabat menolak menjelaskan secara detail tentang kemampuan satelit itu.

Laporan media massa Jepang menyebutkan bahwa satelit itu melengkapi satelit optik Jepang yang sudah diluncurkan untuk merekam data tentang apa saja yang terjadi di bumi pada malam hari atau yang ditutupi kabut.

Jepang meluncurkan pasangan satelit mata-mata pada 2003. Peluncuran satelit ini didorong oleh program senjata nuklir Korea Utara (KOrut).

Saat ini, Jepang memiliki empat satelit informasi optik di orbit. Sebelumnya, Jepang meluncurkan dua radar satelit intelijen, tetapi keduanya tidak berfungsi.

Sumber : SuaraPembaruan

Misi Baru NASA Ke Planet Merah " Mars "

WASHINGTON-(IDB) : Nasa baru saja meluncurkan mesin terbaru untuk mendarat di planet Mars.

Mesin dengan berat mendekati satu ton berbentuk seperti truk pengembara ini, dimasukan ke dalam sebuah kapsul, dan meluncur di Florida dengan roket Atlas 5 sekitar pukul 10:02 waktu setempat.


Mesin yang diberi nama Curiosity ini selanjutnya akan mengembara selama delapan setengah bulan di ruang antariksa sebelum akhirnya mendarat di Mars.


Jika bisa mendarat dengan aman bulan Agustus nanti, robot ini kemudian akan menjelajah tanah dan bebatuan Martian untuk mencari tanda-tanda masa kini atau lingkungan masa lalu planet ini yang bisa mendukung kehidupan mikroba.


Dari pemandangan video yang diambil dari bagian atas roket Atlas yang membawa mesin ini menunjukan bagaimana mereka melayang menjauh.


"Pesawat ruang angkasa kami dalam kondisi yang luar biasa dan dalam perjalanan ke Mars,'' kata manajer proyek Curiosity Peter Theisinger.


Nasa menerima komunikasi pertama dari pesawat ruang angkasa ini sekitar 50 menit setelah melintas stasiun jejak di Canberra, Australia.


Pengendali jarak jauh selanjutnya akan memberi perintah manuver koreksi dalam dua pekan untuk mengoreksi jalur mereka ke Planet Merah.


Mesin yang juga dikenal dengan nama laboratorium Sains Mars (MSL) ini dijadwalkan tiba di Planet Merah pada tanggal 6 Agustus 2012. Dan kemudian bagian tersulitnya dimulai - mendarat dengan aman.


Salah seorang pejabat Nasa pekan ini mengatakan bahwa Mars adalah ''Planet Mati'' karena banyak misi yang gagal mendarat dalam keadaan utuh.


Amerika, meski demikian, memiliki rekor yang bagus dan mereka meyakini sebuah sistem baru dengan tenaga roket yang lebih memadai akan membuat mesin ini mendarat tepat di salah satu lokasi yang menarik di Mars.


Mesin ini ditujukan mendarat di sebuah kawasan ekuator bagian rendah terdalam yang disebut dengan Kawah Gale, yang terdiri dari gunung pusat yang menjulang sekitar 5km dari bawah.


Kawah ini dipilih sebagai tempat mendarat karena dari pantauan gambar satelit diperkirakan bahwa kondisi permukan di sejumlah lokasi mungkin tidak terlalu berbahaya untuk menyokong mikro-organisme.


Ini termasuk gambar dari sedimen di dasar puncak yang jelas terlihat adanya kehadiran air yang melimpah.


MSL dilengkapi dengan 10 alat yang canggih untuk meneliti batuan, tanah dan atmosfir di Kawah Gale.


Misi senilai US$2,5 triliun ini didanai untuk sebuah operasi dua tahun Bumi, tetapi MSL-Curiosity memiliki baterai plutonium yang bisa memberikan tenaga dan terus bergerak selama lebih dari satu dekade.


Doug McCuistion, program direktur eksplorasi Mars, Nasa mengatakan badan ini sangat gembira luar biasa dengan misi ini.


"Kami telah memulai era baru eksplorasi, bukan hanya secara teknologi tetapi secara sains juga.''


"Saya harap kami bisa bekerja lebih dari para ilmuwan yang bisa lakukan. Ketika kami tiba di permukaan, Saya megharapkan mereka akan mengirim data yang belum pernah dilihat sebelumnya. Saya juga mengharapkan publik bisa mendapatkan gambar, pemandangan yang belum pernah dilihat sebelumnya.''


"Dibawah Kawah Gale, gambar-gambarnya pasti akan sangat luar biasa. Mungkin seperti duduk di dasar Grand Canyon, saya kira,'' kata McCuistion. 

Sumber : MediaIndonesia

Misi ke Mars "Dibekali" Plutonium

CAPE CANAVERAL-(IDB) : Kendaraan penjelajah Planet Mars paling canggih, Curiosity, yang merupakan bagian dari Laboratorium Sains Mars akan diluncurkan Sabtu (26/11/2011) mendatang. Kendaraan senilai 2,5 miliar dollar AS yang dilengkapi dengan enam ban, kamera video, bor, penyorot sinar laser, serta peralatan lain yang mendukung untuk penelitian batuan dan tanah itu akan diluncurkan dengan roket Atlas V dari Cape Canaveral Florida, AS.

Ada yang unik dari kendaraan Mars yang diluncurkan Sabtu ini. Tak seperti kendaraan Mars sebelumnya, Spirit dan Opportunity. Curiosity tidak dipersenjatai panel surya untuk memasok daya bagi geraknya, tetapi menggunakan tenaga nuklir. Hal ini, sesuai publikasi Digital Journal, Selasa (22/11/2011), membuat kendaraan ini bisa dioperasikan dalam jangka waktu lebih lama serta mengoperasikan peralatan 10 kali lebih banyak dari kendaraan lainnya.

Tepatnya, daya kendaraan terbaru Mars itu akan diperoleh dari Plutonium (Pu-238). Plutonium akan meluruh, menghasilkan energi yang diperlukan oleh setiap peralatan yang dibawa. Penggunaan Plutonium juga memiliki kelebihan karena kendaraan antariksa ini tidak lagi bergantung pada sinar Matahari. Siang ataupun malam, energi bisa dihasilkan dan perlatan bisa digunakan.

Untuk memastikan keamanan penggunaan Plutonium yang merupakan bahan radioaktif, Laboratorium Nasional Idaho di Amerika Serikat telah mendesain lapisan pelindung bahan bakar itu sesempurna mungkin. Tes keamanan telah dilakukan secara ekstensif dan laboratoroium itu menyatakan bahwa generatorr nuklir bisa digunakan hingga 26 kali misi jika dikehendaki.

Beberapa pihak memang menentang penggunaan Plutonium. Namun, sesuai publikasi Wired, Selasa, perekayasa memperkirakan bahwa kemungkinan kecelakaan hanya 1 banding 400. Dan jika hal itu terjadi, paparan radiasinya pun tidak akan melebihi jumlah radiasi yang diterima manusia dari alam. Bahan bakar akan diisi pada kendaraan pada tahap akhir sebelum peluncuran.

Setelah diluncurkan, kendaraan ini akan mengarungi angkasa selama 8,5 bulan untuk menuju planet merah. Direncanakan, kendaraan tersebut akan mendarat di wilayah berjarak 5 km dari Kawah Gale pada Agustus 2012 mendatang. Peluncuran Sabtu ini memang menegangkan, namun sebenarnya yang lebih menegangkan adalah pendaratannya tahun depan karena Mars tak memiliki atmosfer seperti Bumi yang bisa berfungsi bak parasut. Salah satu tujuan misi ini adalah meneliti jejak kehidupan atau keberadaan mikroba di Mars. 

Sumber : Kompas

LAPAN Segera Pastikan Pembangunan Stasiun Peluncur Satelit

BENGKULU-(IDB) : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional segera memutuskan kepastian rencana pembangun stasiun peluncuran satelit di Pulau Enggano, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.

"Akhir tahun ini mereka akan memutuskan apakah proyek itu layak diteruskan atau tidak, karena mereka sudah melakukan survei awal," kata Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Bengkulu Junaidi Hamsyah di Bengkulu, Selasa.

Ia mengatakan tim survei dari LAPAN dan Pemerintah Provinsi Bengkulu menetapkan tiga calon lokasi pembangunan yang sudah disurvei dan hasilnya segera diputuskan.

Ketiga lokasi tersebut berada di selatan pulau atau masyarakat menyebutnya "sebalik" pulau, karena tidak ada permukiman di kawasan itu. Ini sangat sesuai dengan kriteria LAPAN.

Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu mengkhawatirkan pembangunan stasiun peluncur satelit LAPAN itu akan berdampak buruk terhadap ekosistem Pulau Enggano.

"Kami akan melakukan studi tentang dampak pembangunan proyek tersebut, karena calon lokasinya ada di dalam kawasan konservasi Taman Buru Gunung Nanua, dan Cagar Alam Kioyo," kata Kepala BKSDA Bengkulu Amon Zamora.

Sumber : Antara

Rusia Berjuang Selamatkan Pesawat ke Mars

MOSKOW-(IDB) : Badan Antariksa Federal Rusia hingga Rabu (9/11/2011) malam ini masih terus berjuang mengendalikan kembali wahana antariksa Phobos-Ground, yang sedianya dijadwalkan sudah dalam perjalanan menuju Phobos, satu dari dua satelit alam Planet Mars.

Wahana tersebut sukses diluncurkan dengan roket pendorong Zenit-2 dari tempat peluncuran Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan, Rabu lepas tengah malam waktu Moskwa (pukul 03.16 WIB atau hari Selasa pukul 20.16 GMT).

Pesawat tersebut melepaskan diri dari roket pendorong sebelas menit kemudian, dan seharusnya menyalakan mesin pendorongnya sendiri dua kali untuk melontarkannya ke jalur penerbangan menuju Mars. Namun, hal itu tak terjadi dan pesawat tersebut akhirnya terjebak di orbit Bumi.

Pihak Rusia sempat kesulitan mengendalikan pesawat itu karena terbatasnya jaringan komunikasi dari permukaan Bumi ke posisi pesawat di orbit.

Mereka bahkan sempat meminta bantuan dari negara-negara di Amerika Selatan untuk melacak keberadaan wahana seberat 13,2 ton itu secara visual. Para astronom amatirlah yang kali pertama mengetahui keberadaan wahana itu tersangkut di orbit.

Kepala Badan Antariksa Federal Rusia Vladimir Popovkin mengatakan, para teknisi di Bumi punya waktu tiga hari untuk mengeset ulang program komputer Phobos-Ground dan mencoba meluncurkan kembali ke arah Mars sebelum baterai daruratnya mati.

Popovkin mengatakan, setelah baterai mati, wahana antariksa itu masih mampu mengorbit Bumi hingga dua minggu lagi.

Wahana seharga 170 juta dollar AS itu dijadwalkan tiba di orbit Planet Mars pada September 2012, dan mendarat di permukaan Phobos pada Februari 2013. Pesawat itu kemudian akan mengambil sampel tanah dari permukaan satelit berdiameter 20 kilometer itu dan pulang kembali ke Bumi pada Agustus 2014.

Jika usaha penyelamatan Phobos-Ground gagal, maka pesawat itu dikhawatirkan akan jatuh ke Bumi membawa tujuh ton bahan bakar nitrogen teroksida dan hydrazine yang sangat beracun.

Sumber : Kompas

Lapan Adakan Workshop Program Roket Nasional RX-550

BOGOR-(IDB) : Lapan menyelenggarakan Workshop Program Roket Nasional, 2 dan 3 November 2011, di Hotel Novus Puncak, Cipanas, Bogor, Jawa Barat. Acara dihadiri Kepala Lapan Drs. Bambang Tedjasukmana S., Deputi Relevansi dan Produktivitas Iptek Kementrian Ristek, Dr. Teguh rahardjo, Deputi Teknologi Kedirgantaraan raan, Prof. Dr. Soewarto Hadienata, Sekretris Utama LAPAN Drs. Sri Kaloka P, perwakilan dari UI, ITS, UNS, UGM, ITB, PT. KRAKATAU STEEL, PT. Tri Axis, BPPT, LIPI, BATAN, PT PINDAD, PT DAHANA, perwakilan dari Negara Ukraina, para Kepala Pusat LAPAN, dan Para peneliti LAPAN.
 
Agenda workshop menitikberatkan pada Program Roket RX 550 Nasional Jarak jangkau 200 Km, dengan tema Identifikasi tantangan, harapan, dan strategi pengembangan Roket nasional menuju penguasaan teknologi peroketan yang terarah dan terintegrasi.

Dalam sambutannya, Kepala LAPAN menyampaikan tentang Visi dan Misi Pengembangan Roket LAPAN hingga 2014. Ia mengatakan, "Pengembangan roket secara dasar sudah kami kuasai namun meski demikian, jika kemampuan peroketan secara nasional cukup bagus, maka pengembangan roket pun akan lebih cepat". "Karena itu, kami mengharapkan kepada para Narasumber dari instansi terkait untuk memberikan masukan dalam membangun peroketan, apa-apa saja yang akan dikerjakan dalam beberapa tahun mendatang," pintanya.

Lebih lanjut, Ia mengatakan akan membangun roadmap peroketan nasional berdasarkan kemampuan yang ada, dan akan mulai mengeksplorasi informasi dari narasumber untuk membantu dalam membangun roadmapknowledge, dan know how di dalam suatu analisa sistem. yang tepat. Ia menambahkan, pembangunan peroketan terdiri dari berbagai kegiatan yang cukup rumit, diperlukan berbagai pengetahuan, 

Ia berharap workshop ini dapat menyusun roadmap peroketan yang tepat, untuk itu dibutuhkan suatu perencanaan yang matang sehingga performance peroketan kita ke depan sudah sesuai dengan standar yang dibutuhkan, dan sesuai target yang hendak dicapai. Jadi apa yang dikerjakan oleh Lapan sekarang ini pada dasarnya akan diperkuat oleh pengembangan kemampuan secara nasional.

Kegiatan ini dibagi dalam dua agenda, pertama pemaparan tentang Kebijakan strategi dan Komitmen Pemerintah dalam Pembangunan Iptek Roket, oleh Deputi Relevansi dan Produktivitas Iptek Kementrian Ristek, Dr. Teguh rahardjo. Pemaparan tentang Strategi Pengembangan Roket Nasional oleh Deputi Teknologi Kedirgantaraan Lapan, Prof. Dr. Soewarto Hadienata. Serta pemaparan tentang Tantangan dan Harapan Roket RX550 oleh Ka Pustek Roket Lapan, Ir. Yus Kadarusman Markis. Presentasi berikut oleh perwakilan Ukraina,tentang Benefit and Problem in Roket Technology Transfer with Ukraina.

Sedangkan agenda kedua adalah Focus Group Discussion yang dibagi dalam tiga kelompok bidang, yakni Bidang Struktur dan Material, Bidang Mekatronika dan Kontrol, dan Bidang Sistem Propulsi dan Propelan.

Sumber : Lapan

Update : Rusia Lanjutkan Pembangunan Peluncuran Satelit di Biak

BIAK-(IDB) : Pemerintah Rusia melanjutkan pembangunan fasilitas dan peluncuran satelit udara di kawasan Bandara Frans Kasiepo Biak, Papua. Ketua DPRD Biak Numfor Nehemia Wospakrik mengatakan, Rusia sudah membentuk tim khusus untuk melanjutkan proyek tersebut. Ini setelah dirinya mendapatkan informasi dari Wakil Duta Besar Rusia Bidang Perdagangan.

"Informasi yang kita peroleh bahwa menyangkut rencana peluncuran satelit di Biak ini, sudah pada tahap sangat serius. Ini berarti ada perkembangan yang cukup positif. Untuk itu kita semua berharap proyek ini bisa berjalan. Karena selama ini berada dalam tataran kementerian teknis terkait, tapi kini sudah pada tahap tim khusus yang dibentuk di kepresidenan Rusia. Dan dari informasi yang kita peroleh, kemungkinan akan ada pembiayaannya dari Pemerintah Rusia untuk proyek airlunch di Biak ini."

Ketua DPRD Biak Numfor Nehemia Wospakrik juga mengatakan, pekan ini dilakukan persiapan teknis penandatangan nota kesepahaman atau MoU, antara Indonesia dengan Rusia terkait pembangunan fasilitas satelit di Biak. MoU itu baru diteken November mendatang di Jakarta. Pemeritah Indonesia diwakili Menteri Perekonomian Hatta Radjasa, Bupati dan DPRD Biak, serta Kadin Indonesia.

Sumber : KBR68H

NASA Ingin Bangun Pom Bensin Antariksa

NEW YORK-(IDB) : Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sedang mempertimbangkan untuk membuat stasiun pengisian bahan bakar luar angkasa. Dengan adanya pom bensin antariksa ini, NASA berharap bisa melakukan percepatan rencana mengirim astronotnya ke jarak yang lebih jauh.

Seperti dikutip dari The New York Times, pom bensin antariksa ini akan mampu mengisi bahan bakar pesawat ulang-alik di orbitnya, sebelum melanjutkan perjalanan ke bulan, asteroid, juga Mars.

Saat ini, kebutuhan bahan bakar untuk misi luar angkasa memang masih diangkut dengan menggunakan roket. Karena itu bahan bakarnya sering pula terbatas, sesuai dengan kapasitas kapal ulang-alik tersebut.

Bulan depan, para insinyur akan melakukan pertemuan di markas NASA di Washington. Mereka akan mendiskusikan pom bensin ini, sehingga bisa dimanfaatkan untuk misi antariksa dengan tujuan yang lebih jauh.

Saat ini, NASA memang memiliki ambisi untuk melakukan misi dengan menggunakan roket pengangkut berat yang akan dibangun. Tapi, pertemuan di markas NASA itu malah akan membahas rencana penyelesaian pom bensin antariksa itu dalam enam bulan ke depan, dan diharapkan selesai Juli mendatang.

Dengan pembangunan pom bensin antariksa ini, sepertinya NASA akan melupakan studi untuk menggunakan roket pengangkut berat. NASA kemungkinan akan mengkombinasikan penggunakan roket kecil dengan pom bensin antariksa untuk mempercepat mencapai target tujuan dengan lebih cepat dan lebih murah.

Dengan target itu, setidaknya dilakukan untuk jangka waktu 20 tahun ke depan. Ini termasuk untuk mengejar misi kembali ke bulan, atau mengunjungi suatu asteroid. Sedangkan, misi ke Mars diperkirakan baru bisa dilakukan tahun 2030-an.

"Studi ini menggarisbawahi manfaat stasiun pengisian bahan bakar, dengan fokus tertentu," kata William H. Gerstenmaier dari NASA, dalam pernyataan persnya.

"NASA sedang mempelajari pom bensi itu dan bagaimana agar bisa digunakan dengan sejumlah elemen yang diajukan, agar bisa hemat dana dan rencana eksploarasi berkelanjutan," lanjut Gerstenmeier.

Berdasarkan rencana di dokumen, pom bensin akan diluncurkan terlebih dahulu. Setelah itu, roket-roket lain yang membawa bahan bakar ke stasiun pengisian bahan bakar itu diluncurkan kemudian, sebelum ada pesawat ulang-alik pertama yang datang untuk mengisi bahan bakar.

Tentu saja ini akan menambah jumlah peluncuran misi ulang-alik, dari empat menjadi 11 hingga 17 peluncuran. Untuk mengirim astronot ke asteroid pada 2024 pun, studi itu menyebutkan kebutuhan anggaran pada 2012 hingga 2030 sebesar US$60 miliar hingga US$ 80 miliar.

Sedangkan studi tahun lalu menganggarkan dana US$143 miliar untuk peluncuran roket pengangkut berat. Misi itu sendiri baru bisa dilakukan hingga 2029.
 
Tidak Mulus

Bulan lalu, NASA meluncurkan desain Sistem Peluncuran Ulang-alik, dengan roket pengangkut berat yang baru. Tujuannya adalah mengangkat 70 metrik ton misi ulang alik tanpa awak ke luar angkasa pada 2017, dan terus dikembangkan hingga bisa mengangkut 130 ton.

Namun, rencana NASA membangun pom bensin antariksa tidaklah mulus. Dalam rapat dengar pendapat dengan kongres, anggota kongres dari Partai Republik Dana Rohrabacher, meminta NASA menjelaskan rinci mengenai pembangunan stasiun pengisian bahan bakar antariksa itu. Tapi, Kepala Administrasi NASA Mayjen Charles F. Bolden mengaku belum tahu secara mendetail.

Bolden memang menjanjikan akan menyediakan informasi rencana NASA ini kepada kongres. "Tapi saya terkejut NASA menyimpan laporan sepenting ini, jauh dari pembuat keputusan di legislatif," kata Rohrabacher. 

Sumber : Vivanews

Biak Dinominasikan Tempat Peluncuran Satelit Kerjasama Indonesia-Rusia-Jerman

BIAK-(IDB) : Wilayah geografis Kabupaten Biak Numfor, Papua, masuk nominasi menjadi tempat peluncuran satelit program kerja sama antara pemerintah Rusia, Jerman, dan Indonesia.

Ketua DPRD Biak Nehemia Wospakrik di Biak, Sabtu (22/10), mengatakan, undangan pembicaraan tindak lanjut peluncuran satelit di Biak dengan pemerintah Rusia dan Jerman yang berlangsung di Jakarta akhir Oktober 2011 telah diterima pihak Pemkab dan DPRD.


"DPRD menyambut positif rencana kerja sama peluncuran satelit di Biak karena bisa mendatangkan investasi serta menggairahkan perekonomian daerah," ungkap Ketuia DPRD Nehemia Wospakrik menanggapi rencana peluncuran satelit.


Ia mengatakan, rencana pihak Rusia dan Jerman melakukan peluncuran satelit di Biak akan dibahas bersama dengan Pemkab Biak, masyarakat adat, serta pihak berkepentingan di wilayah ini.


Keinginan Rusia melibatkan pihak adat, menurut Nehemia, sebagai langkah maju dan positif karena dengan berdialog dapat mengetahui yang menjadi tuntutan masyarakat pemilik hak ulayat. 

Sumber : MediaIndonesia

SLS Configuration Finalised

NASA-(IDB) : After months of speculation, NASA has confirmed the final design of the Space Launch System (SLS), a heavy lift launch vehicle meant to launch NASA payloads into deep space by 2017. The first rockets will be capable of lifting 70 metric tonnes to low earth orbit (LEO), and later versions will be scaled up to 130t. 

The first stage of SLS, as many anticipated, will be powered by five Rocketdyne RD-25D/E rockets, also known as space shuttle main engines (SSME), assisted in the first minutes of flight by two five-segment solid rocket boosters also derived from Shuttle systems. The second stage will be powered by the Rocketdyne J-2X, currently under development.

Bringing the launch system to first flight, scheduled for 2017, is expected to cost $18b. Additional details, including development cost of the 130t version, were immediately unavailable.

The announcement was made from the US Senate building in Washington, DC, indicative of SLS's strong congressional support. SLS has been the subject of bitter political battles between NASA and the senate, culminating in a senate subpoena for design documents and a series of angry letters.

"We have been frustrated, I think that's no secret," said Senator Kay Bailey Hutchinson. "It came to a head that there was a leak that issued a hypothetical set of circumstances which would double the cost of this space launch systemand that's when senator Nelson and I came forward saying, 'this is sabotage.'"

SLS is the most recent iteration of a series of large planned launch vehicles that have been cancelled and resurrected in various forms, notably the Ares V launch vehicle, to which SLS bears an uncanny resemblance. 

Source: Flightglobal

Iran Akan Luncurkan Roket ke Ruang Angkasa Lagi

TEHRAN-(IDB) : Badan Antariksa Iran (ISA) mengatakan, roket Kavoshgar 5, produksi dalam negeri akan diluncurkan ke ruang angkasa pada akhir musim panas ini.
 
Roket seberat 300 kilogram, akan membawa kapsul berisi monyet rhesus, kata Hamid Fazeli, direktur ISA kepada kantor berita Mehr kemarin (Senin,22/8).

"Roket akan mengorbit pada ketinggian 120-130 kilometer di atas permukaan bumi," jelas Fazeli.

Dia menambahkan, ISA merencanakan untuk melakukan studi tentang tanda-tanda vital monyet dan hasilnya sangat penting dalam membantu Iran mengirim astronot ke ruang angkasa di masa depan.

"Dua satelit lainnya yaitu Navid dan Fajar juga akan diluncurkan pada Maret 2012," ujar Fazeli.

Navid adalah satelit penelitian, yang dirancang oleh para ilmuwan di Universitas Sains dan Teknologi di Tehran.

Sumber: Irib