Tampilkan postingan dengan label Pesawat Pengintai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Pengintai. Tampilkan semua postingan

Iran Pamerkan UAV Baru produksi Dalam Negeri

TEHRAN-(IDB) : Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (Pasdaran) memamerkan pesawat tanpa awak produksi dalam negeri terbarunya yang mampu terbang nonstop selama 24 jam.
 
Pesawat tanpa awak itu bernama Shahed 129, dan dapat melaksanakan operasi tempur dan pengintaian dalam misi penerbangan selama 24 jam.
 
Pesawat tanpa awak produksi dalam negeri ini juga dapat menembak target dari jarak 1,700 hingga 2,000 kilometer.
 
Selain itu, Shahed 129 dapat dilengkapi dengan berbagai sistem elektronik dan komunikasi termasuk kamera yang dapat merekam dan mengirim gambar-gambar secara langsung.
 
Para pejabat militer Iran menyatakan bahwa Shahed 129 dapat meningkatkan kemampuan pengawasan Iran di kawasan perbatasan Teluk Persia dan Laut Oman.
 
Pada hari yang sama, pasukan Pasdaran juga berhasil mengujicoba sistem rudal anti-udara produksi dalam negeri.
 
Sistem anti-udara Raad itu dilengkapi dengan rudal jarak menegah Taer 2 yang dapat mencegat target di radius 50 kilometer pada ketinggian hingga 75,000 kaki.
 
Menurut para pejabat Pasdaran, sistem anti-udara ini didesain khusus untuk menghadapi jet-jet modern Amerika Serikat.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran meraih berbagai terobosan baru di sektor militer bahkan telah mencapai tingkat swasembada dalam produksi perangkat lunak dan keras militer. Sanksi dan boikot yang dipimpin Amerika Serikat ikut mendorong Iran mencapai keberhasilannya dalam memperkuat kemampuan pertahannya. 



Sumber : Irib

China Kerahkan UAV Ke Wilayah Sengketa

BEIJING-(IDB) : China siap mengerahkan pesawat intai tak berawak untuk mengintensifkan pengawasan di pulau yang di persengketakan dengan Jepang. Pulau itu berada di wilayah Laut China Timur.

Juru bicara Dinas Kelautan China Li Mousheng mengatakan bahwa, keputusan pengerahan pesawat tak berawak itu dilakukan pada Minggu kemarin. China pun akan selalu hadir dan mengawasi wilayah yang diklaim oleh Jepang dan juga Taiwan.

Li menambahkan, pada 2015 mendatang, wilayah itu akan dimonitor secara keseluruhan oleh pesawat intai China. Namun Li tidak mengatakan, di mana saja pesawat itu akan melakukan patroli. Demikian, seperti diberitakan CBS, Senin (24/9/2012).

Kedua negara Asia itu memperebutkan pulau yang disebut oleh Jepang dengan nama Senkaku. China semakin marah ketika Jepang berniat membeli pulau itu dari salah seorang pengusaha.

Demonstrasi anti-Jepang juga makin menjadi di Negeri Panda. Warga China kerap melakukan serangan ke kantor Kedutaan Besar Jepang dan pabrik-pabrik Jepang yang beroperasi di China, seperti halnya Toyota, Mazda dan Panasonic.

Selama ini, Jepang mengklaim sudah mengelola pulau yang disebut China dengan nama Diaoyu itu empat dekade yang lalu. Klaim itu muncul di saat Jepang mengetahui akan adanya kekayaan alam di pulau tersebut.

Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat (AS) muncul dan memperingatkan China dan Jepang agar menahan diri dan tidak saling melontarkan provokasi. Komentar itu disuarakan oleh Menteri Pertahanan AS Leon Panetta yang berkunjung ke Jepang pada pekan lalu.



Sumber : Okezone

Korsel Bangun Kamikaze UAV

Pesawat MQM-107D Streaker milik AS
SEOUL-(IDB) : Korea Selatan (Korsel) membangun pesawat intai tak berawak yang sanggup meledakkan diri. Pesawat itu akan dimafaatkan untuk menyerang artileri dan peluncur roket milik Korea Utara (Korut) yang berada di wilayah pantai.

Industri Kedirgantaraan Korea (KAI) meluncurkan produk terbarunya berupa pesawat tak berawak yang dinamakan "Pembunuh Setan." Pesawat itu dirancang oleh KAI, Universitas Hanyang dan Universitas Konkuk.

Bobot pesawat bunuh diri itu hanya 25 kilogram, pesawat itupun memiliki sayap elastis. Pesawat Pembunuh Setan juga sanggup melaju dengan kecepatan 350-400 kilometer perjam dan menggempur target sejauh 40 kilometer.

"Pesawat ini sanggup mengejar dan menyerang kapal berbantalan udara yang melaju dengan cepat," ujar KAI, seperti dikutip Chosun, Jumat (14/9/2012).

Salah satu fitur canggih dari pesawat tak berawak itu adalah caranya dalam mengidentifikasi target. Seluruh target serangan pesawat itu bisa diidentifikasi dengan menggunakan video kamera dan Global Positioning System (GPS). Meski berbobot ringan, pesawat itu sanggup membawa bahan peledak seberat 3 kilogram yang setara dengan 10 granat.

Selain Korsel, Korut pun dikabarkan membangun persenjataan yang sama dengan musuhnya. Korut dikabarkan membangun pesawat kamikaze tak berawak, menggunakan teknologi MQM-107D Streaker yang dicuri dari AS.



Sumber : Okezone

Terungkap, AS Terbangkan Drone Mata-mata dari Australia

ADELAIDE-(IDB) : Sekelompok sejarawan penerbangan paruh waktu telah membantu mengungkap bagaimana Amerika Serikat (AS) menerbangkan drone mata-mata raksasa rahasia dari pangkalan Angkatan Udara Australia (RAAF) di Adelaide. Operasi itu terdeteksi oleh sekelompok sejarawan penerbangan di Adelaide yang seorang angggotanya memonitor frekuensi radio pesawat 20 jam sehari.

Dengan sayap lebih panjang dari sebuah pesawat penumpang 737 dan bernilai 200 juta dolar, RQ-4 Global Hawk adalah kendaraan tak berawak yang paling besar, paling mahal yang pernah mengudara. Drone mata-mata tersebut merupakan yang tercanggih dalam jaringan pengumpulan informasi eletronik global Amerika.

Operasi Global Hawk diliputi kerahasiaan, dan Angkatan Udara Amerika Serikat menginginkannya tetap rahasia. Tapi mungkin Pentagon tidak memperhitungkan kejelian kelompok sejarawan Adelaide, West Beach Aviation Group (WBAG).

Anggota-anggota WBAG mengatakan dalam program Foreign Correspondent di televisi ABC bahwa mereka memonitor penerbangan itu sampai pejabat-pejabat keamanan pertahanan Australia menemui mereka dan meminta mereka untuk tidak menerbitkan materi yang mengungkapkan kehadiran Global Hawk.

"Global Hawk biasanya datang dan pergi pada malam hari, tapi ada beberapa perkecualian - dan kemudian difoto oleh kelompok kami," kata jurubicara WBAG Paul Daw.

"Tapi terdapat kepekaan. Seorang fotografer dari kelompok kami tiba-tiba dikunjungi oleh pihak keamanan militer Australia dan ditanyai karena menerbitkannya di sebuah website internasional. Mereka menyatakan, posting tersebut mengungkap kerawanan di pangkalan udara itu," tuturnya.

Anggota-anggota WBAG mengatakan, mereka menganggap serius keamanan nasional, tapi berpendapat, tidak ada pembatasan untuk memotret atau memonitor pesawat Amerika di udara Australia.

Meskipun ada upaya untuk mencegah publikasi, namun detail tentang kegiatan Global Hawk diterbitkan di newsletter untuk kalangan terbatas dari kelompok itu. Namun demikian, pemerintah Amerika Serikat bertekad untuk tetap menutup-nutupi misi drone mata-mata mereka.



Sumber : Republika

TNI AL Manfaatkan Teknologi UAV Lapan

JAKARTA-(IDB) : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut akan memanfaatkan pesawat intai tanpa awak (UAV) milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh itu ditandai dengan penandatanganan Piagam Kesepakatan Bersama yang dilakukan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Soeparno dan Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan, di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.

KSAL Laksamana TNI Soeparno, mengatakan, kerja sama yang dilakukannya itu, ada jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendeknya, meningkatkan kapasitas atau kualitas SDM dengan cara pelatihan bersama, saling memberi, saling tukar informasi.

Sementara, jangka panjang memanfaatkan teknologi penginderaan jauh, seperti penggunaan satelit dan pesawat intai tanpa awak (UAV).

"Kerja sama ini dapat membantu tugas TNI AL dalam menjaga kedaulatan negara, seperti pengawasan kapal-kapal yang melintas di perairan Indonesia. Pulau-pulau terluar juga akan diawasi," kata KSAL.

Menurut dia, kerja sama itu dapat menghemat anggaran yang ada karena bisa memadukan dua instansi yang memiliki keterkaitan.

"Untuk pertama ini, kita akan coba lima tahun. Mungkin nanti ditambah lagi lima tahun. Mungkin setelah 10 tahun sudah tercapai apa yang kita inginkan," katanya seraya berharap melalui kerja sama ini pengamanan laut bisa lebih optimal.

Kepala LAPAN Bambang S Tejasukmana, mengatakan, teknis bantuan yang diberikan LAPAN kepada TNI AL, yakni pesawat intai tanpa awak (UAV) dan satelit sebagai penginderaan jauh untuk melakukan pengamatan di daerah laut.

"Kita akan membangun satelit yang bisa dipakai angkatan laut, umumnya TNI. Kami mencoba membangun kemampuan LAPAN ini yang bisa mendukung kegiatan di TNI AL. Satelit yang akan dibangun membawa sensor sistem identifikasi otomatis," katanya Menurut dia, tidak ada target pencapaian karena antariksa itu infrastruktur penting untuk pertahanan.

"Jadi tidak terbatas. Proyeksi ini akan terus diulang lima tahun dan diulang lagi sampai jelas bentuknya. Lima tahun ini kita lebih fokus ke penginderaan jauh, pemantauan pulau kecil, pemanfaatan satelit untuk kegiatan TNI AL," kata Bambang.

Ruang lingkup kerja sama itu, meliputi bidang penelitian, pengkajian, pengembangan, pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) kedirgantaraan. Iptek kedirgantaraan itu sendiri mencakup, penginderaan jauh, sains dirgantara dan teknologi kedirgantaraan.

Selain itu, kedua instansi juga bekerja sama dalam bidang pertukaran ilmu pengetahuan, data, informasi, dan tenaga ahli serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Dalam acara itu, juga ditandatangani dua perjanjian kerja sama antara LAPAN-Dinas Pengamanan AL (Dispamal) tentang pendidikan, pelatihan, dan pemanfaatan teknologi penginderaan jauh dan LAPAN-Dinas Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Dishidros).

Pemanfaatan teknologi penginderaan jauh menjadi fokus utama dalam kerja sama itu karena teknologi ini sangat membantu dalam pemantauan dan pengamatan laut. Penginderaan jauh juga dapat memberikan data yang akurat, komprehensif dan dapat diterima setiap saat, sehingga membantu tugas TNI AL.


Sumber : Jurnas

Ilmuwan Indonesia Berhasil Kembangkan UAV Terbesar di Asia

JAKARTA-(IDB) : Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, ilmuwan Indonesia yang kini berkarya di Jepang, mengembangkan pesawat tanpa awak (unmanned aerial vehicle/UAV) berbadan besar bernama Josaphat Laboratory Large Scale Experimental Unmanned Aerial Vehicle (JX-1).

"JX-1 sementara ini terbesar di Jepang, dan mungkin di Asia," ungkap Josaphat dalam wawancara lewat e-mail dengan Kompas.com, Sabtu (16/6/2012).

JX-1 dibuat untuk melakukan pengujian perangkat gelombang mikro dan kamera untuk penginderaan jarak jauh yang selama ini juga dikembangkan di laboratorium miliknya, Josaphat Microwave Remote Sensing Laboratory (JMRSL), di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University, Jepang.

JX-1 dikembangkan sejak lima tahun lalu. Salah satu pertimbangannya adalah efektivitas biaya. Jika meminjam UAV untuk pengujian, prosedurnya cukup rumit dan memakan biaya besar.

"Misalnya pernah saya akan instal radar dan ditawari biaya senilai sama untuk membuat UAV berbadan besar lebih dari lima unit. Kalau punya UAV sendiri, bisa setiap saat menerbangkan sendiri dan tidak perlu khawatir untuk mengoperasikannya di daerah-daerah berbahaya," urai Josaphat.

Lebih besar, lebih mumpuni

JX-1 memiliki beberapa kelebihan dibanding pesawat tanpa awak lain di Jepang saat ini, utamanya dalam hal ukurannya.

"Angkatan bersenjata Jepang pun hanya mempunyai UAV originalnya dengan rentang sayap terbesar adalah 3 m, sedangkan JX-1 adalah 6 m dan dapat ber-payload sensor-sensor sekitar lebih dari 30 kg," tambah Josaphat.

Pesawat tanpa awak berbadan besar diperlukan untuk mengakomodasi perangkat dengan beragam frekuensi serta mendukung proyek Josaphat selanjutnya.

Josaphat menjelaskan, teknologi Synthetic Aperture Radar (SAR) di Jepang saat ini bekerja pada frekuensi L band dengan polarisasi linear. Sementara Josaphat sendiri mengembangkan SAR yang berbasis polarisasi sirkuler sebagai sensor SAR baru di dunia.

Supaya dapat dibandingkan dengan sensor sebelumnya, Josaphat tetap mengembangkan pada frekuensi yang sama. Sementara L band memiliki panjang gelombang yang cukup panjang sehingga dibutuhkan antena berukuran lebih besar.

"Agar dapat mengakomodasi perangkat pada frekuensi rendah ini hingga tinggi (sekitar 50 GHz), maka UAV ini dirancang mempunyai ruang besar sejak awal," papar Josaphat.

JX-1 juga dipersiapkan untuk mendukung penelitian berikutnya. Saat ini sedang dipersiapkan radar yang akan bekerja pada frekuensi P, S, C, X, dan Ku band. Ruang yang besar dibutuhkan untuk mengakomodasi payload misi secara bersamaan.

"Memang saat ini ada UAV kecil-kecil, tapi mempunyai keterbatasan fungsi dalam misi, termasuk flight endurance," kata Josaphat.

Selain soal ukuran, JX-1 memiliki kelebihan sebab dirancang tembus gelombang mikro dengan dielectric constant sekitar 1,5 atau material badan pesawat berkarakteristik mendekati udara. Dengan demikian, radar bisa disimpan di dalam badan pesawat sehingga lebih terlindungi dan pancaran gelombang dapat menembusnya.

Tulang punggung riset penginderaan jauh

JX-1 berhasil diterbangkan perdana pada 7 Juni 2012 lalu di Fujikawa Airfield. Setelah penerbangan perdana ini, JX-1 bakal siap mendukung beragam misi pengujian serta misi lanjutan berikutnya.

Saat ini, laboratorium Josaphat tengah mengembangkan Circularly Polarized Synthetic Aperture Radar (CP-SAR) sebagai SAR aktif sensor, GPS-SAR sebagai SAR pasif sensor, GPS-Radio Occultation (RO), dan Linear Polarized Synthetic Aperture Radar (LP-SAR).

JX-1 nantinya akan dimanfaatkan untuk menguji coba sensor tersebut. Setelah uji coba, sensor akan diaplikasikan pada mikrosatelit yang juga dikembangkan oleh Josaphat dan tim, bernama GAIA-I dan GAIA-II.

,span style="font-size: small;">Josaphat menjelaskan, kedua mikrosatelit yang dikembangkan bertujuan untuk mengamati pergerakan kerak bumi sehingga membantu memprediksi gempa dan tsunami 3-5 hari sebelum kejadian. GAIA-I akan mengamati dalam resolusi lebih besar, sementara GAIA-II dalam citra yang lebih detail.

Di Jepang, teknologi yang dikembangkan Josaphat dhgadang mampu menjadi tulang punggung dalam riset penginderaan jauh. Nantinya, penginderaan jauh tak hanya mengandalkan radar dan satelit, tetapi juga didukung pesawat tanpa awak.

Saat ini, kata Josaphat, Malaysia dan Jepang sudah bekerja sama lewat program transfer teknologi untuk mengamati Semenanjung Malaysia. Josaphat berharap, Indonesia pun ke depan juga berminat mengaplikasikan teknologi yang dikembangkannya.


Sumber : Kompas

Coming Soon: C-295 AEW & C Indonesia


Langkah Indonesia untuk memesan dan bekerjasama merakit pesawat C-295 dari EADS CASA, Airbus Military, Spanyol, menjadi batu loncatan dalam menyusun defence system Indonesia yang modern.

Dalam kerjasama itu, Indonesia memesan 9 pesawat C-295, 3 diantaranya akan dirakit di PT DI, Bandung Jawa Barat. 

EADS CASA juga menjadikan PT DI sebagai manufaktur: Stabilisator bagian ekor (tail empennage), Badan pesawat bagian belakang serta panel-panel badan pesawat C-295.

“Kita sepakat membuat paket kerja untuk pengembangan sistem pelatihan berbasis komputer, pusat servis dan pengiriman serta lini akhir perakitan (FAL) di Indonesia“, ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro.

Pengiriman peswat pertama C-295 untuk Indonesia diperkirakan tahun ini. Sembilan pesawat C-295, ditargetkan diterima Indonesia tahun 2014.

C-295 AEW&C
C-295 AEW&C
 
Pada awal tahun 2011, EADS CASA Airbus Military menandatangani kesepahaman dengan Israel Aerospace Industries (IAI), untuk mengembangan pesawat pendeteksi dini CN 295 AEW&C. IAI merupakan pabrik pembuat UAV Heron TP yang dipesan Indonesia. 
 
Bulan Februari 2012, EADS CASA dan IAI telah melakukan uji terbang terhadap C 295 AEW&C (Airborne Early Warning & Control system) dan diklaim sukses.

“We have completed the flight trials and matured the aerodynamic configuration of the radome,” ujar Fernando Ciria, dari EADS CASA Airbus Military.

Dalam uji terbang itu, C-295 AEW atau AEW&C mampu terbang 8 jam lebih dengan maksimum altitude antara 20,000ft (6,100m) hingga 24,000feet.

C 295 ini diinstal perangkat “integrated tactical system mission” milik IAI/ Elta sebagai penyuplai “active electronically scanned array radar”, serta piranti pendukung lainnya. C-295 juga dilengkapi dilengkapi modul anti-surface/anti-submarine warfare.

Pesawat AEW&C atau AWACS berfungsi sebagai:BVR Missile Guidance, Electronic Warfare (EW) dan Reconnaissance. Ia menjadi mata dan backbone informasi bagi armada tempur sebuah negara.

Airborne early warning - control, 360 degree radar dome
C 295 AEW&C Indonesia
 
Benda berharga C-295 AEW&C, benar benar sudah didepan mata Indonesia. Beberapa pesawat C 295 dirakit di PT DI. Bahkan sekitar 65 persen komponen C 295 diproduksi oleh PT DI.
 
Selain itu, Indonesia juga telah bekerjasama dengan IAI/Elta Israel dalam pengadaan Skuadron UAV Heron Indonesia. Untuk itu, tidak ada kendala bagi Indonesia untuk mendapatkan piranti AEW&C Israel.

Pemerintah berencana mengadakan pesawat peringatan dini, C 295 AEW&C dengan budgetnya yang diambil dari anggaran belanja militer tahun 2014. 

Tampaknya pengadaan C 295 AEW&C ini tidak akan banyak kendala karena pesawatnya memang sedang dirakit di PT DI Bandung, Jawa Barat.

C-295 AEW&C
Kehadiran C-295 AEW&C akan memberikan airborne systems: membimbing pesawat tempur untuk mencari titik lemah formasi pesawat musuh, memberikan kordinat pesawat musuh, melakukan electronic counter. Singkatnya C-295 AEW&C akan menjadi “theatre of battle management”. Jika terjadi peperangan, tentu jet tempur musuh, pertama kali akan memburu pesawat AEW&C, untuk melemahkan pertahanan udara lawan. Namun karena AEW&C memiliki electronic counter, dia hanya bisa dilumpuhkan dengan rudal anti-radiasi, antara lain Kh-31P/ AS 17 Crypton, yang juga dimiliki Indonesia. 

Sumber : JakartaGreater

Uji Terbang UAV Dan Airborne Produksi Lapan

Tim UAV Pustekbang
PANGANDARAN-(IDB) : Bulan Maret 2012 merupakan bulan bersejarah bagi Pustekbang dan khususnya Tim UAV, karena pada bulan itu untuk pertama kalinya  dilakukan uji terbang UAV hasil manufaktur para engineer Pusat Teknologi Penerbangan bekerja sama dengan Industri Kecil Menengah (IKM). 
 
Bertempat di Bandara Nusawiru, Pangandaran, pada tanggal 8 s/d 10, uji terbang dilakukan pada dua unit UAV hasil didesain sendiri yang di manufaktur oleh IKM (FADEX),  dan hasil didesain IKM yang dimanufaktur oleh para engineer dan teknisi Pustekbang (Zen 1). 
 
Serta dilakukan pula uji terbang Airborne RS dan Skywalker pada sesi uji terakhir. Selain uji terbang hasil desain dan manufaktur, diuji juga sistem avionic seperti: sistem navigasi dan control (way point test), sistem telemetri dan tracking (TTC) long range dengan Mobile TTC, data handling dan sistem payload camera lengkap dengan sistem gymbalnya.

Uji terbang sistem kendali navigasi arah (way point system) dilakukan pada R Botix system yang bersifat autonomous arah terbang dengan menggunakan pesawat Zen 1 yang memang didedikasikan untuk test bed sistem avionic. 

Pesawat ini berukuran sedang dengan kemampuan terbang sampai ketinggian 800 m, air speed hingga 90 km/jam dan endurance hingga 2.5 jam. 

Pesawat ini seterusnya akan digunakan untuk aplikasi nyata seperti untuk pertanian, mitigasi bencana, pemantauan iklim dan lain-lain, bergantung bagaimana sistem payload dan avionic yang akan dimuatkan  ke pesawat tersebut. 

Para engineer Pustekbang telah berhasil melakukan manufaktur Zen 1 setelah pada tahun lalu mengambil kursus untuk membuat ulang pesawat yang belum di beri nama tersebut di Bandung. Ini merupakan langkah awal yang sangat penting dalam dunia UAV di Pustekbang.

Zen1
Zen1
FADEX (First Aircraft Design Experiment) merupakan pesawat dengan enginee turboshaft yang diharapkan menjadi embrio untuk pengembangan High Speed Surveillance System (HSSS) yang mempunyai misi untuk melakukan pengintaian, pemotretan secara cepat dan tepat dan kembali dengan cepat pula. 

Dalam uji pertama FADEX dilakukan uji taksi-taksi untuk menguji kekuatan landing gear, kecepatan awal, maneuver sederhana secara ground test, dan tentunya menguji enginee secara terintegrasi.  

Dalam hitungan desain, pesawat ini diharapkan terbang dengan kecepatan minimal 160 km/jam, dengan kemampuan membawa payload hingga 12 kg. Dengan kondisi tersebut lama terbang (endurance) awal yang bisa dilakukan adalah sekitar 1 – 1.5 jam.

FADEX
FADEX
Fadex
Uji terbang Airborne RS dilakukan dengan memberi beban antara 10 hingga 15 kg. Pesawat Airborne RS ditujukan untuk mampu menerbangkan muatan Centralized Polarization-Syntetic Aperture Radar ( CP-SAR ) dengan berat sekitar 20 kg yang merupakan muatan experiment dari Chiba University. 

Pesawat dengan bentang hampir 3.5 meter ini berhasil take off dengan mulus, dan menjalani uji kesetimbangan terbang baik pada posisi crusing maupun loiter beberapa kali sampai akhirnya landing dengan mulus juga, pada uji terbang berikutnya akan ditempatkan autonomous system di dalam system elektroniknya.

Airborne RS
Airborne RS
Airborne RS
Pada sesi pengujian terakhir dilakukan uji terbang pesawat skywalker untuk persiapan aplikasi pemotretan kubah Gunung Merapi bulan depan. Pengujiannya meliputi pemotretan dengan sistem payload camera lengkap dengan sistem gymbalnya dan terbang selama hampir 1 jam full autonomous dengan mengikuti jalur yang telah ditentukan.

Skywalker
Skywalker
Banyak pengalaman yang didapat dari Uji Terbang pertama ini, dari masalah sistem navigasi arah, sistem uji coba, pemotretan sampai manajemen uji coba untuk autonomous system. Langkah awal ini cukup membuat kita yakin bahwa para engineer mampu menguasai teknologi UAV tersebut.

Mobile TTC System Pustekbang
Mobile TTC System Pustekbang

Sumber : Lapan

Iran Berhasil Pecahkan Kode Pesawat Pengintai AS

TEHRAN-(IDB) : Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Kepala Divisi kedirgantaraan Pengawal Revolusi Iran mengatakan kepada kantor-kantor berita Iran bahwa para ahli juga memperoleh data dari pesawat tak berawak RQ-170 Sentinel itu, hari Minggu (22/4).
 
Pesawat itu dikuasai oleh Iran bulan Desember lalu di Iran timur. Para pejabat Amerika telah mengakui kehilangan pesawat pengintai itu.
Mereka mengatakan Iran akan kesulitan memanfaatkan data dan teknologi dalam pesawat itu karena Amerika telah mengambil langkah-langkah untuk membatasi nilai intelijen dalam pesawat-pesawat tak berawak yang beroperasi di atas wilayah musuh.
Hajizadeh mengatakan pesawat mata-mata itu sekarang tidak memiliki rahasia lagi, karena semua kode rahasia dalam pesawat tersebut telah terpecahkan.
Termasuk diantaranya informasi mengenai sejarah ‘perjalanan’ pesawat tak berawak itu.

Menurut Hajizadeh, informasi dalam pesawat tersebut mengindikasikan pesawat itu telah terbang di atas tempat persembunyian pemimpin al-Qaeda Osama bin Laden dua minggu sebelum dia dibunuh.

Sumber : Poskota

Segera Indonesia Bakal Miliki Pesawat Pengintai Tanpa Awak

JAKARTA-(IDB) : Indonesia bakal memiliki empat pesawat pengintai tanpa awak yang memanfaatkan teknologi buatan Israel.Rencana pemerintah melalui Kementerian Pertahanan untuk mendatangkan empat pesawata tanpa awak tampaknya akan diamini Komisi I DPR RI.

Meski belum mendapat tanggapan secara resmi dari DPR, namun Anggota Komisi I Salim Mengga mengatakan bahwa rencana pembelian ini bakal disetujui."Pesawat tanpa awak ini adalah hasil teknologi Israel. Rencana itu tampaknya akan disetujui," sebut Salim, akhir pekan kemarin di Jakarta.

Rencana kontrak untuk pembelian empat pesawat tanpa awak tersebut, senilai US$16 juta. pesawat akan datang 18 bulan setelah kontrak diteken.Dijelaskan bahwa pesawat itu mampu terbang sampai 200 kilometer. Dengan sedikit modifikasi maka daya jelajahnya diprediksi dapat mencapai 400 kilometer.

Selain itu, pesawat yang diproduksi oleh Kital Philippine Corporation (KPC) ini bisa dioperasikan secara manual dengan daya jelajah terbang selama 20 jam.Melengkapi persenjataan nasional, lanjut anggota DPR Dapil Sulbar itu, Komisi I juga akan melakukan kunjungan kerja ke beberapa negara di eropa.

Tujuan kunjungan, salah satunya terkait dengan permintaan persetujuan Menteri Pertahanan dalam membeli tank Leopard yang diajukan ke komisi I.Sejumlah anggota komisi akan melihat langsung pabrik persenjataan di Jerman. "Sebelum reses, saya diutus ke Jerman melihat pabrik persenjataan secara langsung, juga pabrik leopard," terangnya.

Sumber : Fajar

Menhan : Pengoperasian UAV Di Perbatasan Akan Lebih Diefektifkan

JAKARTA-(IDB)  : Wahana udara tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle/UAV) akan semakin diefektifkan pemakaiannya, terutama di kawasan perbatasan negara. Penetapan pada wahana ini menjadi salah satu strategi pertahanan negara oleh pemerintah.

"Salah satunya dengan semakin mengefektifkan UAV itu. Akan juga dipergunakan di perbatasan," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, di Jakarta, Selasa. Dia menjadi salah satu pembicara kunci seminar Air Power Club of Indonesia sebagai rangkaian HUT ke-66 TNI-AU.

UAV merupakan wahana udara yang bisa dijadikan arsenal di garis depan untuk mengumpulkan data intelijen primer. Pemakaian UAV ini bisa dikombinasikan dengan sistem transmisi data seketika dan sistem komando persenjataan yang terintegrasi dengan arsenal lain.

Banyak negara telah memakai UAV ini, mulai dari Amerika Serikat sampai negara-negara di Afrika. Salah satu negara produsen UAV ternama dunia adalah Israel yang membuat wahana dan sistem pengendali UAV Heron.

Menurut Kepala Staf TNI-AU, Marsekal TNI Imam Sufaat, UAV yang akan diakusisi dalam arsenal matra udara TNI itu adalah yang terbaik di kelas harganya. "Mengoperasikannya jelas tidak seperti menerbangkan pesawat radio kontrol," katanya.

Saat disinggung mengombinasikannya dengan kesenjataan konvensional ataupun inkonvensional, dia mengakui bahwa, "Kita belum mampu. Namun nanti pasti dikembangkan."

Dalam daftar kesenjataan yang akan dimiliki TNI-AU, UAV telah masuk di dalamnya. Direncanakan, UAV itu akan tiba di Tanah Air dalam waktu tidak lama lagi, dan akan ditempatkan di Pangkalan Udara TNI-AU Supadio, Pontianak.

Salah satu area yang bisa dianggap pas untuk dijadikan pangkalan UAV TNI-AU itu adalah Lapangan Terbang Haliwen, di Atambua, NTT. Lapangan udara perintis namun bisa didarati C-130 Hercules atau Fokker F-50 itu hanya berjarak 30 menit penerbangan dari Dili, ibukota negara Timor Timur. 

Sumber : Antara

Rusia Bersiap Produksi Drone Tempur

MOSCOW-(IDB) : Kementerian Pertahanan Rusia telah mengeluarkan spesifikasi teknis untuk pengembangan sebuah pesawat tempur tak berawak. Pembuatan drone tempur itu akan diserahkan kepada dua kontraktor utama. Demikian dilaporkan harian Izvestia, Senin (2/4/2012). 

Mengutip seorang pejabat tinggi Kemhan Rusia, koran itu mengabarkan, sistem kontrol, navigasi, dan elektronik drone tersebut akan dibangun oleh perusahaan Tranzas, sementara kerangka dan struktur pesawatnya akan dikembangkan oleh biro desain Sokol yang bermarkas di kota Kazan.

Drone Rusia ini akan memiliki struktur modular, berbobot sekitar lima ton, dan mampu membawa berbagai jenis peralatan dan persenjataan. Kontrak awal senilai 3 miliar rubel (Rp 930,4 miliar) dengan Tranzas dan Sokol sudah ditandatangani pada Oktober 2011 untuk riset awal pembuatan drone tempur dan pengintai.

Akhir Maret lalu, Panglima AU Rusia Kolonel Jenderal Alexander Zelin mengatakan kepada tabloid Moscovsky Komsomolets bahwa Rusia akan mulai mengoperasikan drone tempur sebelum 2020. Dia tak menyebutkan berapa drone yang akan dioperasikan Rusia.

Saat ini baru AS yang telah menggelar dan mengandalkan kekuatan pesawat tempur tak berawak, termasuk pesawat Predator, untuk melakukan serangan rudal terhadap posisi kelompok-kelompok militan di perbatasan Afganistan dan Pakistan. 

Vietnam Pesan Drone ke Rusia

Produsen pesawat terbang Rusia, Irkut, dikabarkan telah menandatangani kontrak pembuatan pesawat tak berawak alias Drone dengan pihak Asosiasi Dirgantara Vietnam (VASA).

Vietnam berniat menggunakan Drone untuk tujuan sipil, tetapi pihak Irkut mengatakan, pesawat tak berawak itu bisa dikembangkan untuk fungsi pertahanan.

Menurut kabar yang dilansir harian Izvestia, Kamis (15/3/2012), kontrak bernilai 10 juta dollar AS tersebut ditandatangani Rabu (14/3/2012).

Menurut Kepala Irkut Engineering Yury Malov, Vietnam memesan satu Drone mini berbobot 100 kilogram lengkap dengan sistem pengendali jarak jauhnya.

Irkut juga akan mengajari para ahli Vietnam cara merawat dan menggunakan pesawat tak berawak itu sampai VASA memiliki pengalaman cukup untuk membuat sendiri Drone semacam itu. Malov menambahkan, Drone itu dirancang untuk keperluan sipil, tetapi di masa depan bisa digunakan untuk keperluan pertahanan.

Irkut siap memproduksi massal pesawat tersebut apabila Vietnam menyukainya. Pihak VASA dikabarkan menolak membenarkan informasi tersebut.

Sumber : Kompas

Komisi I : Tak Perlu Khawatirkan UAV Amerika Di Australia

JAKARTA-(IDB) : Rencana Amerika Serikat untuk menggunakan Pulau Cocos, Australia, sebagai pangkalan pesawat-pesawat intai ditanggapi santai oleh TB Hasanuddin. Menutut Wakil Ketua Komisi I DPR, itu, langkah AS merupakan sesuatu yang tidak luar biasa.

"Biasa saja tidak apa-apa, ndak usah dipikirin," katanya saat dihubungi Jurnal Nasional, Jumat (30/03). Bagi dia selama itu masih di wilayah Australia dan bukan di wilayah Indonesia tidak akan menjadi masalah. "Ini aturan permainannya yah," katanya.

Bila suatu saat nanti ada yang masuk ke wilayah Indonesia, baru disebut melanggar integritas Indonesia. "Itu kan masih rencana untuk pangkalan pesawat pengintai berawak atau tidak pakai awak. Bila itu nanti terbang masuk wilayah kita itu baru pelanggaran, tapi kalau di luar wilayah kita tidak bisa," katanya menjelaskan.

TB Hasnuddin meluruskan pemberitaan selama ini yang mengatakan Indonesia telah melakukan protes terhadap wacana tersebut. "Saya sudah telpon (juru bicara Kemhan). Dia bilang diralat salah, itu pemberitaan di luar itu tidak benar menurut dia," katanya menjelaskan sikap Brigjen Hartind Asrin, Juru Bicara Kementrian Pertahanan RI yang dikutip oleh beberapa media asing.

"Kebetulan saya mempunyai pengalaman yang beginian, selama dia tidak masuk ke wilayah teritori kita selama itu juga kita akan tetap membiarkannya," katanya. Menurut dia, Indonesia tidak dalam posisi memprotes hal tersebut. Tidak pada tempatnya melakukan protes. Itu juga berlaku jika pesawat pengintai Indonesia lewat di pinggiran perbatasan.

"Negara lain juga tidak boleh mengganggu. Tapi kalau masuk ke wilayah, itu baru pelanggaran," katanya. Anggota DPR dari PDIP ini juga mengungkapkan bahwa bila rencana tersebut diwujudkan kelak, itu tidak menjadi ancaman bagi keamanan Indonesia.

"Wong kita juga melakukan (pengintaian) itu di pinggir-pinggir itu. Ibaratnya begini, anda lewat saya melihat saja. Selama anda tidak masuk pekarangan saya yah, ndak akan saya tegor kan begitu. Bahwa anda dari jarak jauh melihat gerak-gerik saya, yah sah-sah saja. Itu hukumnya begitu yah," katanya.

Sumber : Jurnas

Kemhan : Drone AS Bukan Ancaman

JAKARTA-(IDB) : Pemerintah Indonesia tidak mempermasalahkan rencana penempatan pesawat pengintai jarak jauh (drone) Amerika Serikat di Australia. Penambahan kekuatan militer itu dinilai bukan ancaman bagi kedaulatan Indonesia.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Hartind Asrin menegaskan, penempatan drone AS di Kepulauan Cocos, Australia, tidak berpengaruh pada Indonesia. Meski secara jarak berdekatan, hal tersebut bukan berarti kedaulatan bangsa terancam. ”Itu merupakan keputusan diplomatik antara Australia dan AS. Karena berada di luar wilayah RI, tentu bukan hak kita untuk campur tangan.

Tidak ada pengaruhnya itu,” kata Asrin di Jakarta kemarin Rencana penambahan kekuatan militer AS di Australia bukan sekali terjadi.Sebelumnya negara adidaya itu berencana menempatkan personel marinir di Darwin.Ketika itu, Indonesia juga merespons dengan menyatakan rencana tersebut bukan sebuah ancaman bagi kedaulatan RI. Kendati demikian,Asrin sepakat perlu ada peningkatan kekuatan intelijen untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

”Itu memang demikian. Intelijen harus selalu waspada,”sebut dia. Australia merespons positif rencana AS menggunakan Kepulauan Cocos sebagai pangkalan militer.Menurut Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith,Kepulauan Cocos merupakan opsi jangka panjang dalam kedekatan Washington dan Canberra. “Tapi,Cocos bukan tempat ideal saat ini. Kita akan melakukan beberapa hal seperti peningkatan fasilitas dan infrastruktur, khususnya lapangan terbang,”ujarnya kepada ABC.

Menurut dia, biaya pembangunan fasilitas itu menelan anggaran sekitar 75 juta—100 juta dolar Australia (Rp689,43—919,24 miliar). Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin mengingatkan intelijen untuk lebih waspada dan mengantisipasi kemungkinan adanya ancaman dari luar. Sebab, dengan Australia mengizinkan AS menggunakan wilayahnya untuk pengoperasian drone, posisi Indonesia semakin terawasi oleh negara Paman Sam itu. ”Pengintaiannya memang menggunakan sistem penginderaan jarak jauh, jadi kita sulit memprotesnya.

Tapi,jauh sebelum inipun AS sudah melakukan pengintaian melalui satelit angkasa,” kata Hasanuddin di Gedung DPR. Menurut dia, selama peralatan tersebut terpasang di luar wilayah teritorial Indonesia, tak ada aturan yang dilanggar. ”Dan ini bukan masalah. Hanya kita menjadi terbuka diawasi mereka,”ujarnya. Australia mengklaim, penambahan kekuatan militer AS adalah bagian misi perdamaian.

Namun oleh banyak kalangan langkah itu dianggap sebagai upaya nyata meningkatkan kehadiran AS di Asia Pasifik. Dipastikan, upaya itu membuat khawatir China. Peneliti dari Akademi Ilmu Sosial di China Fan Jishe mengungkapkan, cukup sulit memprediksi rencana AS untuk memantau Laut China Selatan dengan pesawat tanpa awak. Padahal,pangkalan AS di Guam telah melaksanakan peran pemantauan itu.

“Apalagi, China juga tidak ingin terlibat dalam konfrontasi militer di wilayah ini.Posisi Australia sangat sulit karena sebagai sekutu utama AS dan mitra dagang terbesar China,” kata Jishe dikutip People Daily,kemarin. Dalam pandangan Fu Mengzi,peneliti hubungan ASChina di Institut Kajian Hubungan Internasional Kontemporer, peningkatan jumlah militer AS tidak menguntungkan bagi perdamaian. Untuk saat itu, kata dia, tidak ada ketegangan di antara kekuatan besar di Asia Pasifik. 

Sumber : Sindo

Australia Basis Drone AS

CANBERRA-(IDB) : Australia pada Rabu menyatakan mungkin mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayahnya untuk menggerakkan pesawat mata-mata tak berawak jarak jauh, sebagai bagian dari peningkatan kehadiran adidaya itu di Asia-Pasifik, yang melukai perasaan China.

Washington dan Canberra juga dilaporkan menempatkan kapal induk dan kapal selam tempur bertenaga nuklir Amerika Serikat di kota Australia Barat, Perth, sebagai bagian dari perluasan besar hubungan ketentaraan.

Dalam perluasan itu, marinir Amerika Serikat pertama dari pengerahan 2.500 tentara ke Darwin di Australia utara -diresmikan pada November 2011 oleh Presiden Barack Obama- tiba pada April.

Rencana Marinir itu membuat marah Beijing, tapi meyakinkan beberapa negara Asia, yang melihatnya sebagai pernyataan bahwa Washington bermaksud membela sekutu dan kepentingannya di kawasan itu di tengah kekhawatiran akan peningkatan ketegasan Cina.

Media Australia pada Rabu dengan mengutip berita "Washington Post" melaporkan bahwa Amerika Serikat mempertimbangkan menggunakan kepulauan Cocos,  atau di samudera Hindia di lepas pantai Australia baratlaut, untuk meluncurkan pesawat pengintai tak berawak.

Berita itu menyatakan Cocos, yang berpenduduk sekitar 600 orang, akan menggantikan Diego Garcia, pangkalan Amerika Serikat di samudera Hindia, yang adidaya itu sewa dari Inggris dan dijadwalkan dikembalikan pada 2016.

"The Washington Post" juga menyatakan pemerintah Australia mempertimbangkan perbaikan pangkalan laut Stirling di Perth "untuk pengerahan dan gerakan di Asia Tenggara dan samudera Hindia oleh Angkatan Laut Amerika Serikat".

Perbaikan itu dilaporkan akan membantu Stirling melayani kapal perang permukaan besar, termasuk kapal induk pesawat dan kapal selam tempur Amerika Serikat.

Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith menyatakan pengutamaan kunci dalam kerjasama lebih dekat Amerika Serikat adalah perputaran Marinir melalui Darwin, jalur udara lebih besar dan penggunaan lebih banyak pangkalan HMAS Stirling di Perth.

Kurt Campbell, wakil menteri luar negeri Amerika Serikat urusan Asia Timur dan Pasifik, berada di Australia pada pekan lalu untuk membahas pengerahan pertama 250 Marinir pada April dan masalah lain pertahanan, katanya.

Smith menyatakan penggunaan kepulauan Cocos adalah pilihan jangka panjang untuk keterlibatan lebih dekat Australia-Amerika Serikat dan landasan pesawatnya perlu diperbaiki lebih dulu.

"Cocos adalah kemungkinan. Itu peluang jangka panjang dan harus diperlakukan demikian," kata Smith kepada radio ABC.

"Itu bukan untuk saat ini, karena salah hal pertama harus kami lakukan adalah perbaikan besar prasarana, terutama lapangan terbang," katanya.

Tetangga Australia tidak perlu takut, kata menteri pertahanan itu, "Kami terbuka tentang itu," katanya.

Ketika ditanya tentang tanggapan Smith, juru bicara kementerian luar negeri Cina Hong Lei tidak secara langsung menjawab kemungkinan pesawat tak berawak Amerika Serikat menggunakan wiayah Australia.

Tapi, ia kepada wartawan di Beijing menyatakan semua negara di kawasan Asia-Pasifik harus menjunjung tinggi tata baru keamanan dalam kesetaraan, pembangunan bersama, penggalangan dan saling menguntungkan, serta mencoba menegakkan keamanan untuk semua.

Cocos dipandang sebagai tempat memadai untuk pangkalan pesawat tak berawak terus meronda mengawasi jalur pelayaran tersibuk di dunia dan laut Cina Selatan, tempat pengakuan wilayah dianggap sebagai titik api.

Cina, Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia dan Kamboja mendaku wilayah di daerah tersebut.

Hugh White, pengulas pertahanan di universitas Nasional Australian, menyatakan Australia dilihat sebagai "harta strategis" oleh Amerika Serikat saat memantau kebangkitan Cina.

"Saya pikir, yang kita lihat di sini adalah pergeseran mendasar sangat berarti dalam siasat Amerika Serikat," katanya.

Amerika Serikat saat ini hanya memiliki penyebaran terbatas di sekutu lama Australia, termasuk stasiun terpencil satelit mata-mata Pine Gap di dekat Alice Springs, demikian AFP dan Reuters melaporkan.

Sumber : Antara

Terkait Rahasia Negara, DPR Minta Kemhan Kaji Ulang Pembelian UAV Teknologi Israel

JAKARTA-(IDB) : Komisi I DPR RI meminta Kementerian Pertahanan (Kemhan) memperhatikan dengan serius dampak penggunaan pesawat intai tanpa awak. Pernyataan ini dikemukakan Ketua Komisi I DPR RI, Mahfudz Siddiq menyusul rencana Kemhan membeli pesawat tanpa awak berteknologi Israel.

"Dampak penggunaan pesawat intai tanpa awak harus diperhatikan utamanya terhadap kerahasiaan pertahanan dan keamanan RI," ujar Mahfudz dalam kesimpulan Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin di Gedung DPR RI, Jakarta Senin (26/3).

Menurut Mahfudz, permintaan tersebut merupakan bagian dari masukan terhadap dukungan yang diberikan Komisi I DPR RI kepada Kemhan terkait daftar pengadaan Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) TNI Tahun Anggaran 2010- 2014.

"Di mana sumber pembiayaanya dialokasikan dari Alokasi Pinjaman Pemerintah (APP) Kemhan/TNI Tahun Anggaran 2010-2014 sebesar US$ 5,7 miliar," katanya.

Seperti diketahui, Kemhan memutuskan membeli pesawat intai tanpa awak asal Filipina dengan teknologi Israel.

Menurut Wakil Menteri Pertahanan, Sjafri Sjamsoeddin, pesawat tanpa awak akan tiba setelah kontrak dengan perusahaan Filipina disepakati.

Sumber : Jurnas

Update : DPR Tolak Pembelian Pesawat Intai Buatan Filipina

JAKARTA-(IDB) : Komisi I DPR menentang rencana Kementerian Pertahanan (Kemhan) membeli pesawat intai atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dari Filipina. Anggota Komisi I DPR Muzani saat rapat kerja komisi yang membidangi pertahanan dengan Kemhan, Senin (26/3), memertanyakan alasan pembelian itu.

Menurutnya, berdasarkan data yang dipaparkan Kemhan, bahwa antara pesawat tanpa awak buatan Indonesia dan buatan Philipina sama saja. Dia memertanyakan apa hal spesifik yang membuat Kemhan ingin membeli pesawat UAV itu.


"Kalau dikatakan membeli teknologi, teknologi apa yang kita beli sehingga harus dari Philipina," kata Muzani saat raker.


Soalnya, lanjut dia, data yang ada sama. Bahkan kata Muzani, daya angkutnya pesawat Indonesia bisa sampai 115 sedangkan Philipina hanya 110. Pun demikian dengan daya jelajahnya yang tidak berbeda jauh, Philipina 20 jam dan pesawat Indonesia 15 jam.


"Makanya kami tanyakan tadi kalau mungkin dibatalkan saja, kita beli di Indonesia," kata Sekjen Partai Gerindra, itu usai raker.


Dia berani memastikan kalau membeli di Indonesia sudah pasti harganya jauh lebih murah ketimbang beli dari Philipina."Itu sudah dipastikan," katanya.


Tapi, lanjut dia, tampaknya pemerintah ingin tetap mengambil itu dengan alasan teknologi. Padahal, tegasnya, kalau dilihat teknologinya tidak jauh beda. "Kalau menurut Pak Wamenhan tadi jelas casing Philipina punya, teknologinya Israel punya," katanya.


Saat rapat Wakil Ketua Komisi I DPR Hayono Isman, mengatakan, bahwa sudah disepakati tidak boleh membeli barang dari Israel."Itu yang kami mau sebaiknya dibatalkan mumpung belum jadi problem politik. Kalau sudah jadi probelm politik (urusannya) lain, apalagi (pesawat) itu digunakan untuk kepentingan intelijen," timpal Muzani.


Dia menegaskan, kalau semua foto, gambar yang  timbul dari pesawat intai itu kemudian dipantau oleh pihak lain, itu yang berbahaya. "Itu mungkin saja dalam operasi militer," katanya.


Sekarang, kata Muzani, pesawat itu memang belum dibeli. "Makanya kita minta kalau bisa dibatalkan," tegas anak buah Prabowo Subianto, itu.


Wakil Menhan Sjafrie Syamsudin dikonfirmasi usai rapat, mengatakan bahwa masih ada hal yang sangat prinsip yang tidak terpenuhi dari pesawat  intai Indonesia. "Ada yang sangat  prinsip tidak terpenuhi, salah satunya spech (jenis) kamera siang," kata Safrie.


Terkait casing Philipina tapi  teknologi Israel, Safrie menegaskan, "Saya terus terang katakan teknologi itu ada dimana-mana." Sejauh ini, kata dia, memang UAV itu belum dibeli oleh Kemhan.

Sumber : JPNN

Wamenhan Jelaskan Rencana Pembelian Pesawat Tanpa Awak Ke DPR

JAKARTA-(IDB) : Kementerian Pertahanan berencana membeli empat pesawat tanpa awak dari Filipina.

Menurut Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Syamsuddin dalam rapat kerja dengan Komisi I DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin, pesawat tanpa awak yang akan dibeli dari Filipina itu menggunakan teknologi dari Israel.

Sejauh ini, rencana pembelian pesawat tanpa awak itu masih menunggu persetujuan DPR.

"Yang paling spesifik dalam masalah pembelian 4 pesawat tanpa awak ini sebesar 16 juta dolar Amerika Serikat, apabila disetujui oleh DPR sehingga kontraknya efektif, maka pesawat itu akan diterima dalam waktu 18 bulan setelah kontrak," kata Sjafrie.

 Ia menjelaskan, pesawat tanpa awak ini mampu terbang dengan radiusnya 200-400 kilometer. Pesawat tanpa awak ini juga, kata dia, dapat dioperasikan manual dengan daya jelajah terbang selama 20 jam.

Ia menambahkan, produk Filiphina ini dibuat oleh Kital Philippine Corporation (KPC). Mereka mengkombinasikan mesin dari Italia, infrastruktur dari Filipina dan teknologi dari Israel.

"Kami membeli teknologi. Ini yang perlu bapak-bapak ketahui bahwa kita tidak membeli ke Israel tetapi membeli teknologi sebagai bagian yang terintegrasi ke dalam sistem yang ada di pesawat tersebut. Kami berhubungan ke perusahaan asal Filipina, Kital Philippine Corporation (KPC) itu. Dan kami tidak berhubungan dengan Israel," jelasnya.

Sementara itu, anggota Komisi I DPR dari Partai Gerindra Ahmad Muzani meminta rencana pembelian pesawat tanpa awak tersebut dibatalkan sebab Indonesia sudah bisa mempunyai produk serupa bahkan dibeli negara tetangga seperti Malaysia.

Ketika menjawab Muzani, Sjafrie menerangkan produk Indonesia belum memenuhi standar yang sudah ditetapkan. Misalnya soal radius terbang yang 200 kilometer, tidak bisa digunakan secara otomatis serta soal kamera. Ia meminta agar Indonesia tetap membeli empat pesawat tanpa awak teknologi Israel itu. 

Sumber : Antara

Lanud Supadio Tunggu Kedatangan Pesawat Tanpa Awak

PONTIANAK-(IDB) : Pangkalan Udara TNI AU Supadio Pontianak masih menunggu kedatangan pesawat tanpa awak yang rencananya memperkuat pertahanan keamanan wilayah udara di kawasan perbatasan Indonesia.

"Sekarang hanya tinggal menunggu kabar pengiriman dari Kementerian Pertahanan dan Keamanan," kata Komandan Pangkalan Udara TNI AU Supadio Kol (Pnb) Kustono di Pontianak, Rabu.

Menurut dia, Lanud Supadio sifatnya hanya sebagai daerah penempatan dari pemerintah pusat atas pesawat itu.

"Sekarang, untuk kantor dan hanggar pesawat tanpa awak itu sudah siap," kata dia.

Personel yang menangani pesawat tanpa awak tersebut, katanya, saat ini juga telah dipersiapkan di Mabes TNI AU.

"Saat ini pun kami juga sedang mempersiapkan diri untuk itu," katanya.

Pesawat tanpa awak mempunyai fungsi yang sangat strategis untuk mempertahankan kedaulatan NKRI karena dapat dikendalikan dari jarak jauh.

Selain itu, pesawat tersebut juga dapat dipersenjatai dan dilengkapi dengan pendeteksi untuk kondisi malam dan siang hari.

Ia menjelaskan, keberadaan pesawat tanpa awak selain untuk memperkuat pertahanan NKRI di matra udara juga bisa berfungsi sebagai pendeteksi berbagai kegiatan ilegal dalam patroli perbatasan, baik laut maupun udara.

Selain itu, katanya, juga bisa berfungsi untuk mendeteksi dan mencegah terjadinya kebakaran hutan yang marak di wilayah Kalimantan dan pulau lainnya.

Rencana TNI AU menambah satu skadron berupa pesawat tanpa awak di Pangkalan Udara Supadio Pontianak untuk memperkuat kemampuan pemantauan termasuk daerah perbatasan di Kalbar sudah dilakukan sejak 2010.

Status Lanud Supadio Pontianak akan ditingkatkan menjadi Kelas A atau Bintang 1. Salah satu syarat minimalnya mempunyai dua skadron. Saat ini Lanud Supadio menjadi pangkalan Skadron Udara I Elang Khatulistiwa. Pesawat yang digunakan jenis Hawk. 

Sumber : Antara