Tampilkan postingan dengan label Rusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rusia. Tampilkan semua postingan

Rusia Siap Jual Jet Tempur Su-30s Ke Afrika

MOSCOW-(IDB) : “Tahun ini Rusia telah menerima pesanan enam jet tempur jenis Su-30 MK2 multiperan dari Uganda. Saat ini juga sedang dalam pembicaraan untuk diversifikasi kerjasama, “ kata Alexander Mikheyev .

 Rusia siap menjual pesawat tempur berbagai type, utamanya jet tempur Su-30s ke sejumlah negara Afrika. Hal itu disampaikan pengendali ekspor nasional persenjataan Rusia-Rosoboronexport- seperti dikutip Kantor Berita RIA Novosti (22/9).

Menurut Deputi Kepala Rosoboronexport, Alexander Mikheyev, pesanan kontrak dengan negara-negara Afrika Seperti ; Uganda, Angola, Ethiopia, dan lain-lain meliputi juga  program pelatihan personel dan pelayanan (service) purna jual.

 “Tahun ini Rusia telah menerima pesanan enam jet tempur jenis Su-30 MK2 multiperan dari Uganda. Saat ini juga sedang dalam pembicaraan untuk diversifikasi kerjasama, “ kata Alexander Mikheyev . Sementara itu, Rusia juga telah menandatangani kontrak penjualan enam helikopter jenis Mi-17 dengan Ghana, Alexander menambahkan.

Dalam kesempatan terpisah Alexander menjelaskan bahwa  Rusia dan Afrika Selatan sedang membahas kemungkinan kerjasama pengembangan produk-produk pertahanan terkait, yang dikelola oleh eksportir resmi persenjataan Rusia, Rosoboronexport.

"Ada potensi yang besar [untuk proyek-proyek bersama] di bidang peralatan radar dan mesin roket," kata Rosoboronexport dalam sebuah pernyataan.

Sebuah tim pejabat Rosoboronexport saat ini berada di Afrika Selatan sebagai bagian dari delegasi Rusia untuk menghadiri Pameran Kedirgantaraan dan Senjata Pertahanan-Afrika (Africa Aerospace and Defense Arms Show ) yang berlangsung di Pretoria, Afrika Selatan sejak tanggal 19-23 September 2012.



Sumber : PelitaOnline

Kapal Perang Rusia Uji Kemampuan Rudal

MOSCOW-(IDB) : Kapal nuklir penjelajah berpeluru kendali unggulan Armada Utara Rusia, Pyotr Veliky, melakukan latihan pertahanan rudal selama misi patroli-dan-pelatihan saat ini di Kutub Utara, kata surat kabar Izvestia, Kamis.

Pyotr Veliky adalah satu-satunya kapal perang Rusia dengan kemampuan cukup untuk menggagalkan serangan besar-besaran rudal jelajah dan rudal balistik.

"Selama misinya saat ini pada rute Laut Utara dan sepanjang pantai Arktik Rusia, Pyotr Veliky melakukan uji kemampuan pertahanan rudal sebagai bagian dari segmen berbasis laut dari perisai pertahanan rudal nasional, kata Izvestia mengutip sumber kementerian pertahanan.

"Pelatihan pertahanan rudal di Kutub Utara sangat penting karena mereka meliputi lintasan serangan potensial rudal darat balistik AS," kata sumber itu.

Pyotr Veliky dipersenjatai 48 S-300F Fort dan 46 S-300FM Fort-M (SA-N-20 Gargoyle) jarak menengah permukaan-ke-udara rudal (dengan jangkauan efektif hingga 200 kilometer), 128 3K95 Kinzhal (SA-N-9 Gauntlet) jarak pendek SAM, dan senjata enam CADS-N-1 Kashtan /sistem rudal.

Radar-radar itu mampu mendeteksi dan melacak target udara pada ketinggian 30 kilometer dan jangkauan 300 kilometer.



Sumber : Antara

Menhan Terima Dubes Rusia Untuk Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, Kamis (20/9), menerima Dubes Rusia untuk Indonesia, Y.M.  Alexander A. Ivanov, di kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.
Maksud kunjungan Dubes Rusia dalam rangka berpamitan sehubungan dengan berakhirnya penugasannya sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Federasi Rusia untuk  Indonesia.

Pada saat menerima tamunya, Menhan didampingi Kepala Pusat Komunikasi Publik Mayjen TNI Hartind Asrin, Karo TU Brigjen TNI Drs. Herry Noorwanto, M.A.,M.Ed 

Di Tempat Yang Sama Menhan Terima Kasad Thailand, Bicarakan Kerjasama Pertahanan

Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, Kamis (20/9), menerima Kepala Staf Angkatan Darat Thailand, General Prayuth Chan-o-cha beserta rombongan di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.
 
Maksud  kunjungan Kasad Thailand   dalam rangka  meningkatkan hubungan dan kerjasama di bidang pertahanan kedua negara antara lain dengan menggembangkan  latihan bersama Pasukan Khusus kedua negara.

Selain itu, Kasad Thailand menyampaikan terima kasih kepada Indonesia, karena saat ini hubungan antara Thailand dan Kamboja sudah mulai membaik, setelah kedua negara sepakat melaksanakan Package of solution yang ditawarkan Indonesia untuk mengatasi permasalah antara Thailand dan Kamboja.

Pada saat menerima tamunya Menhan didampingi Kasad Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, Asisten Personel (Aspers) Kasad, Mayjen TNI Sunindyo, Asisten Pengamanan (Aspam) Kasad Mayjen TNI Eko Wiratmoko, Kapuskom Publik Kemhan Mayjen TNI Hartind Asrin dan Karo TU Sekjen Kemhan Brigjen TNI Drs. Herry Noorwanto, M.A.,M.Ed.



Sumber : DMC

Rusia Minta Jaminan Hukum Tertulis Atas Perisai Rudal NATO

MOSCOW-(IDB) : Rusia meminta jaminan hukum kepada Pakta Pertahanan Utara (NATO) atas masalah pertahanan peluru kendali (rudal)-nya sebelum pembicaraan serius dilakukan, kata seorang diplomat senior Rusia.

NATO perlu*menjamin bahwa program pertahanan rudalnya tidak melawan Rusia, kata Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Alexander Grushko, kepada stasiun radio Voice of Rusia (VoR).

"Jaminan tersebut harus mencakup kriteria militer dan politik, daripada sekedar lisan," katanya.

Untuk lebih spesifik, ia menyatakan, Rusia harus diberitahu tentang penyebaran perangkat pencegat rudal dan radio-elektronik, kecepatan hulu ledak pencegat dan fakta-fakta lain yang relevan, selain angka-angka terkait proyek tersebut.

Grushko memuji konperensi tingkat tinggi (KTT) NATO di Chicago sebagai "langkah maju ke arah yang benar", karena menyatakan bahwa sistem yang diciptakan NATO tidak akan merusak keseimbangan strategis, dan tidak akan ditujukan untuk mencegat pengiriman-pengiriman Rusia.

Namun, ia menilai, masih perlu lebih banyak upaya untuk memecahkan masalah pelik itu.

Rusia mengusulkan membangun satu sistem pertahanan rudal tunggal, sedangkan NATO lebih suka membangun dua sistem yang berbeda yang bertukar informasi satu sama lain.

Jika NATO memutuskan untuk membangun proyek itu saja, ia mengemukakan, Rusia akan "mengikuti dengan ketat evolusi" itu sekaligus mengambil serangkaian langkah militer maupun teknis yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasionalnya.

Moskow selalu menentang penyebaran fasilitas pertahanan rudal Eropa yang dipimpin Amerika Serikat (AS) di dekat perbatasannya, dan menyerukan jaminan yang mengikat secara hukum dari NATO --yang notabene dipimpin AS-- bahwa perisai rudal itu tidak akan menargetkan Rusia.


Sumber : Antara

Analisis : Perang Dingin AS-Rusia dan Implikasi Bagi RI ( Bag. 2 )

ANALISIS-(IDB) : Tidak lama setelah Megawati Soekarnoputri menjadi Presiden RI pada 2001, Indonesia memutuskan membeli pesawat tempur buatan Rusia (Uni Sovyet). Yang dipilih jet tempur Sukhoi.

Keputusan ini didukung oleh alasan yang sangat kuat. Keputusan ini merupakan bentuk lain dari kekecewaan Indonesia atas embargo militer AS pada Indonesia yang berkepanjangan. Pada saat embargo itu diberlakukan, Indonesia hanya mengandalkan jet tempur F-16 buatan General Dynamics, AS. Tetapi akibat embargo tersebut maka skwadron tempur F-16 yang mengalami kerusakan, tidak bisa diperbaiki. Suku cadang yang hanya bisa dibeli pada produsen AS itu, tidak dibolehkan untuk dijual ke Indonesia.

Akibatnya setiap kali jet tempur F-16 mengalami kerusakan, maka yang dilakukan oleh tehnisi TNI AU ialah memperbaikinya dengan cara kanibal. Suku cadang dari pesawat yang masih bagus dipindahkan ke pesawat yang rusak. Makin lama, kanibalisme makin meluas.

Kekuatan armada tempur F-16 Indonesia pun terus melemah dan mengecil. Negara tetangga mulai meremehkan Indonesia. Pernah terjadi sebuah pesawat F-16 yang mengalami kerusakan di Indonesia oleh otoritas AS diminta untuk diperbaiki di AS. F-16 itu pun diterbangkan ke AS.

Tetapi sesampai disana, pesawat itu disarankan untuk diperbaiki di Korea Selatan. Maka pesawat itupun dibawa ke Korea Selatan. Di negara ginseng itu, pesawat bisa diperbaiki. Sayangnya, biaya perbaikannya melebihi harga sebuah pesawat baru jenis yang sama. Indonesia semakin dirugikan.
Tapi bukan itu yang menjadi masalah. Setelah diperbaiki dengan biaya super mahal, pesawat F-16 itu akhirnya tidak diizinkan oleh AS untuk diterbangkan kembali ke Indonesia. Pemerintah khususnya kalangan militer Indonesia merasa dipermainkan oleh AS. 

Tetapi dengan posisi tawar Indonesia yang sangat lemah menyebabkan Indonesia tidak bisa memprotes apalagi memaksa AS.

Panglima TNI pada saat itu Jenderal Endriartono Sutarto cukup tersinggung dengan perlakuan AS. Sehingga akibat ketersinggungannya, Indonesia memutuskan mencari alternatif lain. Saat itulah diputuskan membeli jet tempur Sukhoi buatan Rusia.

Keputusan ini disadari membuat pihak AS ikut tersinggung. AS merasa Indonesia mulai bermain mata dengan negara yang menjadi lawannya dalam Perang Dingin. Namun ketersinggungan AS ini tidak membuat batalnya kesepakatan antara Rusia dan Indonesia dalam pengadaan jet Sukhoi dalam konteks program Alutsista (alat utama sistem persenjataan).

Sejalan dengan berkembangnya industri penerbangan di era pemerintahan SBY, swasta Indonesia juga mengikuti jejak pemerintah. Sejumlah perusahaan penerbangan dalam negeri tertarik membeli pesawat komersil buatan Shukoi yaitu Super Jet 100. Hanya (swasta) Lion Air yang membeli pesawat Boeing buatan AS.

Sukses dalam kerja sama pengadaan jet tempur dan jet komersil, Indonesia kemudian mengembangkan bisnis lainnya. Peluncuran Satelit Telkom 3, juga dilakukan oleh roket Rusia, Proten-M.

Entah secara kebetulan atau semata-mata disebabkan oleh kesalahan manusiawi, ikatan bisnis Indonesia dan Rusia dalam pembelian pesawat jet dan komersil serta peluncuran Satelit Telkom 3, ketiga-tiganya diwarnai oleh kecelakaan ataupun insiden.

Pada 2011, sejumlah teknisi pesawat jet tempur Sukhoi yang bertugas melakukan asembling semua peralatan yang diperlukan armada jet Shukoi, meninggal secara misterius di Pangkalan Udara TNI AU, Makassar, Sulawesi Selatan.

Penjelasan resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah RI dan Rusia menyebutkan bahwa kematian para tehnisi Shukoi tersebut karena meneguk minuman keras jenis vodka, di atas batas normal. Sekalipun demikian, kecurigaan bahwa mereka meninggal akibat faktor lain - seperti dibunuh oleh lawan bisnis, tetap saja menjadi buah bibir masyarakat.

Pada Mei 2012, sebuah pesawat Shukoi Super Jet 110 yang dikemudikan oleh Alexandr Yablontsev, seorang pilot berpengalaman, menabrak Gunung Salak Bogor. Pesawat SSJ 100 itu melakukan promosi terbang kepada para calon pembeli dari Indonesia.

Seluruh penumpang termasuk penerbang berpengalaman itu tewas dalam kecelakaan tersebut. Tragedi menimbulkan kecurigaan. Presiden Rusia, Vladimir Putin yang dikenal sebagai bekas anggota agen rahasia KGB, dilaporkan sangat marah atas insiden kecelakaan itu.

Yang pasti kecelakaan SSJ 100 itu berikut tewasnya tehnisi Rusia di Makassar, telah menimbulkan dampak negatif bagi Sukhoi. Produsen Rusia itu mulai dinilai sebagai entiti yang tidak kapabel dan akuntabel. Berbisnis dengan Rusia, memiliki risiko tinggi.

Kurang dari seminggu setelah kecelakaan tersebut, sejumlah media di Moskow melaporkan bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh sabotase. Dan pihak yang dituding media Moskow sebagai penyabot adalah personil tentara AS yang bekerja di Pangkalan TNI AU, Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur.

Laporan media Rusia ini cukup mengejutkan. Sebab selama ini tidak pernah terungkap bahwa di salah satu pangkalan militer Indonesia, terdapat personil militer AS yang berperan sebagai pelatih. Disebutkan bahwa personil militer AS di Halim Perdanakusumah itu memiliki alat berbentuk chip. Alat itulah yang ditempelkan di tubuh pesawat (Sukhoi Super Jet 100).

Alat itu kemudian mengganggu semua jaringan kabel yang ada dalam tubuh pesawat yang sedang mengangkasa. Sampai akhirnya pada ketinggian tertentu muncul di layar monitor, data yang membingungkan bagi sang kapten penerbang.

Tapi data yang tidak valid ini tetapi saja menjadi sumber acuan pengambilan keputusan si pilot. Pesawat yang seharusnya menaikan ketinggian oleh monitor justru diperintahkan untuk melakukan penurunan ketinggian. Blaaaaak. Pesawat pun menabrak gunung.

Penyabotan ini ditengarai sebagai bagian dari usaha pihak pesaing industri di AS untuk mencegah Indonesia melakukan pembelian pesawat berteknologi Rusia.

Penyabotan ini mengingatkan sejumlah kecelakaan pesawat buatan Rusia di berbagai tempat, di antaranya dalam Pameran Dirgantara (Air Show) di Paris. Kemudian kandasnya kapal selam bertenaga nuklir di perairan Laut Mati. Media Rusia menuding pihak AS lah yang melakukan penyabotan. Alasannya, persaingan bisnis semata.

Yang teranyar, hilangnya Satelit Telkom 3, milik PT Telkom TBk pada 6 Agustus 2012. Satelit itu diluncurkan oleh roket Rusia dari Kosmodrom Balkonur, Kazakhstan. Tidak lama setelah kejadian itu, Wakil Presiden Rusia, dilaporkan sangat geram dengan insiden itu. Hanya saja tidak disebutkan bahwa pejabat tinggi Rusia itu menunding adanya sabotase pihak ketiga.

Sepuluh hari kemudian Satelit Telkom 3 bisa ditemukan. Kendati begitu sudah terjadi kerugian dan secara psikologis kerja sama bisnis yang baru pertama kalinya dilakukan PT Telkom dengan Rusia, sudah diawali oleh keraguan.

Sejak Telkom meluncurkan satelit telekomunikasi Palapa di 1976, semua peluncuran dilakukan oleh negara dari blok Barat. Yang menjadi langganan tetap adalah NASA (AS) atau Ariane (Prancis). Baru di tahun 2012 satelit Indonesia diluncurkan ke orbit oleh perusahaan Rusia.

Apa yang menjadi penyebab atas hilangnya Satelit Indonesia, tersebut nampaknya bakal tak pernah bisa terungkap secarfa utuh. Misteri penyebab hilangnya Satelit Telkom 3 sama dengan misteri kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet 100 maupun penyebab kematian dari para teknisi Sukhoi di Pangkalan Udara Makassar.

Yang pasti rentetan 'kecelakaan' diatas tidak bisa dianggap sebagai sebuah kecelakaan biasa. Makanya tidak heran bila muncul spekulasi yang mengaitkan kejadian-kejadian itu dengan persaingan AS-Rusia dalam konteks Perang Dingin di bidang ekonomi.

Insiden-insiden itu seakan memberi pesan kepada Indonesia agar jangan pernah coba-coba keluar dari cengkeraman dan pengaruh AS. Kalau mau tanpa resiko, tetaplah dengan "sahabat lama", Paman Sam. [Tamat]


Sumber : Inilah

Analisis : Perang Dingin AS-Rusia dan Implikasi Bagi RI ( Bag. 1 )

ANALISIS-(IDB) : Secara resmi Perang Dingin antara Amerika Serikat (AS) dengan Uni Sovyet - kini Rusia, sudah berakhir dua dekade lalu. Perang dua kekuatan itu sering digambarkan sebagai pertarungan antara Blok Barat yang diwakili AS dan Blok Timur oleh Uni Sovyet. Atau antara Blok Non-Komunis dan Blok Komunis.

Berakhirnya Perang Dingin berdampak positif bagi umat manusia. Setidaknya dunia terhindar dari Perang Nuklir. Perang pemusnah manusia ini didefinisikan sebagai pertarungan antar bangsa. Sebab semua negara, termasuk yang Non-Blok pun diperkirakan akan berkelompok ke salah satu blok.

Atas dasar itu Perang Nuklir sering digambarkan sebagai Perang Dunia Ketiga, yang disetarakan dengan perang terakhir umat manusia atau sama dengan hari kiamat ciptaan manusia. Selama perang tersebut rudal-rudal berkepala nuklir akan diluncurkan oleh Washington ke Moskow, begitu pula sebaliknya.

Washington dan Moskow yang berperang, tetapi warga dunia lainnya bakal ikut terkena dampaknya. Sebab kedua kekuatan juga akan menghancurkan negara lain yang tidak berada dalam blok yang sama dengan mereka. Berakhirnya Perang Dingin telah mengubah peta politik dan ekonomi dunia.

AS yang dianggap sebagai pemenang dalam Perang Dingin - sejak berakhirnya Perang Dingin, tidak lagi melakukan invasi ke sebuah negara yang sedang digiring oleh Uni Sovyet untuk menjadi negara komunis.

Ingat Perang Saudara di Vietnam dan Kamboja. Vietnam Utara dikuasai komunis, Vietnam Selatan oleh non-komunis. Kamboja yang tadinya monarkhi, jatuh ke tangan komunis. Di era 1970-an, AS masuk di kedua negara tersebut dalam rangka mencegah penyebaran pengaruh ideologi komunis ala Uni Sovyet. AS gagal di sana.

Saat ini diyakini, tidak ada lagi pertarungan ideologi antara non-komunis (Blok AS) dan komunis (Blok Uni Sovyet). Terutama setelah komunisme di Eropa Timur yang dipimpin Unin Sovyet ditumbangkan oleh gerakan pro demokrasi. Uni Sovyet sendiri runtuh dan terpecah menjadi lebih dari 20 negara baru. Yang menjadi pengganti atau penerus Uni Sovyet hanyalah Rusia.

$0ARusia sendiri sudah tidak lagi menjadikan komunisme sebagai ideologinya. Semua agama yang di era Uni Sovyet dilarang, kini bebas dipeluk oleh warga Rusia. Pemimpin Rusia dan elit di negara itu mengakui keberadaan Tuhan. Pengampilan sumpah jabatan oleh pemimpin Rusia disaksikan oleh pemuka agama dan menggunakan kitab suci.

Kini ancaman atas kehidupan harmonis umat manusia di permukaan bumi, diperhitungkan tidak lagi dipicu oleh akibat peperangan. Melainkan oleh faktor ekonomi (baca : kemiskinan). Kemiskinan berpotensi memicu terjadinya peperangan baru.

Uniknya pihak yang diperhitungkan sebagai pemicu perang baru itu masih tetap AS dan Rusia. Sebab kedua negara berlomba menjadi negara terkaya sekaligus menjadi pembela negara miskin. Trend yang ada, orang-orang kaya di dunia, tidak lagi didominasi oleh AS. Sudah muncul nama-nama baru dari Rusia atau bekas Uni Sovyet.

Persaingan menjadi negara kaya ini telah menyebabkan munculnya Perang Dingin Baru antara AS dan Rusia. Perbedaannya, persaingan dalam Perang Dingin Baru tidak lagi pada perlombaan pembuatan senjata-senjata nuklir. Melainkan pada persaingan ekonomi dan bisnis.

Itu sebabnya Perang Dingin baru disebut sebagai Perang Dingin Ekonomi. Perang Dingin Ekonomi antara lain ditandai oleh pembentukan blok ekonomi baru oleh lima negara: Brasil, Rusia, India, China dan South Africa (Afrika Selatan).

Blok ekonomi baru ini disebut BRICS, sesuai alfabet terdepan dari kelima negara di atas. BRICS juga ditengarai sebagai pesaing baru terhadap blok G-7 (Group of Seven) yang terdiri atas AS, Kanada, Jepang, Jerman, Prancis, Inggeris dan Italy.

Dari segi penduduk dan pasar komiditi, BRICS memiliki persentase yang lebih besar dibanding dengan G-7. Sebab dalam BRICS terdapat dua negara terbanyak penduduknya di dunia yakni China (1,2 miliar manusia) dan India dengan 1 miliar penduduk.

Pandangan yang menyebut BRICS sebagai pesaing terbaru terhadap G-7 muncul, antara lain karena sikap AS dan Rusia sendiri. Tidak lama setelah Perang Dingin berakhir, AS langsung mengajak Rusia bergabung kedalam blok kelompok negara industri (G-7)..

Sehingga di 1993, ketika Rusia dipimpin oleh Presiden Boris Yeltsin, G-7 sempat diubah menjadi G-8, berhubung Rusia menjadi anggota baru di dalamnya.

Hingga sekarang Rusia masih menjadi bagian dari G-8. Tetapi secara spirit, Rusia tidak terlalu bersemangat. Rusia kelihatannya sangat sadar, keanggotaannya dalam G-8 tidak didukung AS sepenuhnya. Rusia dirangkul supaya lebih mudah mengontrolnya.

Di tahun 2012 ini saja, Rusia menyatakan absen dalam pertemuan G-8 di Washington setelah sebelumnya AS menyatakan absen di pertemuan APEC yang digelar di Vladivostok. Hal mana menunjukan persaingan atau Perang Dingin kedua negara, terus berlangsung.

Rusia lebih antusias membesarkan BRICS. Sementara AS melihat BRICS sebagai sebuah blok tandingan bagi kepentingannya di dunia. Beberapa agenda utama BRICS memang disusun untuk mengurangi dominasi AS di dunia. BRICS bertujuan menggeser dolar AS sebagai mata uang bagi sistem transaksi internasional.

BRICS juga ingin 'melumpuhkan' Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF - International Monetary Fund) sebagai regulator sistem perbankan dan keuangan dunia.

Rusia dan China berpandangan ketidak seimbangan perdagangan dunia saat ini terjadi karena peran dominan Bank Dunia dan IMF. Kedua lembaga yang bermarkas di Washington dan sengaja dikendalikan secara politik oleh AS justru menciptakan negara miskin dan negara gagal. Jumlahnya terus bertambah.

Bagi Indonesia, tidak gampang melepaskan diri dari tarik menarik antara dua kekuatan. Multi krisis yang menerpa Indonesia sejak tahun 1998, semakin memperparah posisi Indonesia. Akan tetapi untuk masuk di dalam pertarungan kedua kekuatan kemudian ikut berperan, juga sama sulitnya.

Untuk sementara, satu-satunya yang bisa dilakukan Indonesia adalah mencermati arah pertarungan kedua kekuatan kemudian mencari posisi yang sesuai dengan kemampuan Indonesia. Tapi lagi-lagi kembali, ini juga tidak mudah dilakukan.

Di sisi lain, sebagai pendiri Gerakan Non-Blok (GNB), Indonesia kelihatannya merasa berhasil atas berakhirnya Perang Dingin. Sehingga beberapa kebijakan luar negeri Indonesia, terkesan dibuat dengan asumsi Perang Dingin telah berakhir secara total.

Elemen Perang Dingin sebagai sesuatu yang belum berakhir atau telah muncul Perang Dingin Baru, tidak masuk dalam kalkulasi Indonesia. Hal ini antara lain tercermin dari keputusan Indonesia yang mencoba lebih dekat atau bersahabat dengan Rusia dan di pihak lain tetap menjaga hubungan yang baik dengan AS.

Caranya, antara lain dengan terus mengadopsi sistem demokrasi ala AS, tapi pada saat yang sama mulai melakukan pembelian sejumlah produk pertahanan dan telekomunikasi buatan Rusia, produk yang sebelumnya lebih banyak disuplai oleh AS.

Bagaimana hasil atau implikasinya ? [Bersambung]


Sumber : Inilah

Rusia Siapkan Open Agreement Pertahanan Dengan Indonesia

MOSCOW-(IDB) : Rusia menyatakan siap melanjutkan kerja sama militer dengan Indonesia. Wakil Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergey G. Tolchenov mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan perjanjian (open agreement) untuk menjadi dasar hukum melanjutkan kerjasama militer.

"Tahun ini atau tahun depan kami merencanakan pertukaran prajurit, termasuk di tingkat Kementerian Pertahanan untuk mempelajari tentang roket dan sistem navigasi," kata Tolchenov saat bertandang ke kantor Tempo, Selasa, 10 Juli 2012.

Ia mengatakan kerja sama militer dengan Indonesia sudah berlangsung sejak tahun lalu. Beberapa kapal tempur Rusia mampir di Makassar dan Surabaya untuk menggelar latihan bersama dan latihan khusus untuk menghadapi teroris. Selain itu mereka juga mengadakan latihan navigasi laut dan transmisi radio. "Kami harap kerja sama ini akan terus berlanjut karena hubungan baik sudah kita bina bahkan sejak tahun 1950," kata Sergey.

Hal tersebut diakui oleh Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin. Menurut Hartind pembicaraan tersebut baru dimulai, namun belum sampai tahap penandatangan perjanjian. "Sudah ada arah pembicaraan ke sana, namun baru di tahap political will," kata Hartind saat dihubungi Rabu, 11 Juli 2012.

Kementerian Pertahanan berharap kerja sama dengan Rusia bisa dilakukan dalam bidang penerbangan, terutama di bidang navigasi dan perawatan. "Karena kita kan menggunakan pesawat Rusia (Sukhoi), jadi kerjasamanya pun harus sesuai dengan kebutuhan alutsista kita," katanya.

Sementara itu latihan bersama angkatan perang negeri di utara benua Eropa itu dipandang belum mendesak. Indonesia lebih mengutamakan latihan bersama angkatan perang negara tetangga karena terkait penjagaan keamanan regional. "Kalau dengan negara yang (jaraknya) jauh hanya untuk menjaga hubungan baik saja," kata Hartind.

Menurut dia, Rusia bukanlah satu-satunya negara yang berminat menjalin kerja sama militer dengan Indonesia. Australia, Amerika, Serikat, China, dan Kanada pun berminat pada Indonesia. "Indonesia ini ibarat gadis cantik yang sedang diperebutkan," katanya.

Pasalnya perekonomian Indonesia yang tetap berkembang di tengah krisis membuat negara asing berminat bekerja sama dengan Indonesia. Pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3 persen pada semester pertama 2012 disinyalir membuat RI semakin menarik. "Ekonomi kita diperkirakan masuk peringkat sepuluh besar dunia pada 2015, jadi banyak yang mendekati," katanya. Kinerja ekonomi, kata Hartind, berdampak langsung pada hubungan militer dengan negara lain. 


Sumber : Tempo

Konvoi Kapal Perang Rusia Kembali Bergerak ke Suriah

MOSCOW-(IDB) : Rusia kembali mengirimkan konvoi kapal perang menuju pelabuhan Tartus di Suriah, Selasa (10/7/2012). Sumber militer Rusia membantah pengerahan kapal-kapal perang itu berkaitan dengan kondisi terakhir konflik berdarah di Suriah.

Kantor berita Interfax yang dikutip Agence France Presse (AFP) mengatakan, Rusia mengirimkan enam kapal perang ke Laut Tengah. Konvoi tersebut meliputi kapal perusak antikapal selam Admiral Chabanenko dan tiga kapal pendarat dari Armada Utara Angkatan Laut (AL) Rusia.

Empat kapal tersebut dilaporkan telah meninggalkan pangkalannya di Severomorsk, dekat Lingkaran Artik, Selasa pagi. Interfax menyebutkan, empat kapal dari Armada Utara itu akan bergabung dengan kapal fregat Yaroslav Mudry dan sebuah kapal pendukung di Laut Tengah.

Sementara itu, Reuters melaporkan, satu kapal perusak antikapal selam Smetlivy juga diberangkatkan dari pangkalan Armada Laut Hitam AL Rusia di Sevastopol, Selasa pagi.

Menurut sumber di AL Rusia yang tak mau disebutkan namanya, kapal tersebut juga akan menuju Suriah. Sumber yang dikutip Interfax mengatakan, pemberangkatan konvoi kapal perang itu bagian dari rencana kesiapan militer armada Rusia saja.

Mereka akan ditempatkan di kawasan Laut Tengah sampai September, dan akan mampir di fasilitas AL Rusia di Tartus, Suriah, untuk mengambil pasokan logistik, seperti bahan bakar, air minum, dan bahan makanan.

Sumber tersebut menegaskan, misi AL Rusia itu tak ada kaitannya dengan situasi konflik berdarah di Suriah dan tekanan dunia internasional yang makin besar.  

Rusia dikecam keras Barat karena tidak memutuskan hubungan militer dengan Suriah kendatipun konflik antara pemerintah itu dan pemberontak menewaskan ribuan orang.


Sumber : Kompas 

Rusia Siap Transfer Teknologi Pesawat Tempur Maupun Sipil Ke Indonesia

MOSCOW-(IDB) : Musibah Sukhoi SuperJet 100 di Gunung Salak Bogor tidak menghalangi kerjasama RI-Rusia dalam bidang kedirgantaraan. Sebuah rencana kerja sama yang mencakup alih teknologinya dari Rusia ke industri penerbangan Indonesia sedang disusun.

Demikian intisari pertemuan Dubes RI untuk Rusia dan Belarusia, Djauhari Oratmangun, dengan President of JSC United Aircraft Corporation Mikhail Pogosyan di Moskow, Jumat (6/7/2012) waktu setempat. JSC United Aircraft Corporation merupakan holding company yang membawahi industri Sukhoi tempur dan komersial. Pertemuan pertama ini d

Pertemuan dalam format makan siang bersama dengan menu khas Rusia ini, intinya adalah saling mengenal sambil menggali hal-hal yang dapat dikerjasamakan di masa depan. Kedua pihak hanya sedikit menyinggung 'tragedi Sukhoi' dalam perspektif di balik kejadian tersebut harus mampu dimunculkan hal-hal yang positif di masa datang.

"Ada masanya kita melihat ke depan," kata Dubes Djauhari.

Di dalam hal ini, Sukhoi berpendapat bahwa kerja sama kedirgantaraan yang mencakup transfer of technology merupakan sesuatu yang sangat dimungkinkan. "Sukhoi dapat berkolaborasi dengan industri penerbangan di Indonesia untuk memproduksi suku cadang, baik Sukhoi tempur maupun komersial," ujar Mikhail Pogosyan.

Sukhoi juga sangat terbuka untuk mendidik anak-anak terbaik Indonesia untuk studi bidang penerbangan. Rusia memiliki dua universitas terbaik di bidang ini, yakni di kota Moskow dan Kazan. Sukhoi dalam hal ini bisa saja memberikan beasiswa.

Selain itu, Mikhail juga menyatakan ingin memberikan kuliah kedirgantaraan di universitas di Indonesia dalam sebuah kunjungannya di Indonesia kelak. Maklum, selain sebagai presiden direktur, Mikhail juga merupakan seorang penerbang dan sangat mengerti tentang industri penerbangan.

Pertemuan yang diselingi canda tersebut juga sempat membahas aneka makanan khas Rusia seperti kaviar dan Vodka. Kedua belah pihak sepakat untuk membangun sebuah komunikasi yang intensif dalam rangka kerjasama yang menguntungkan di masa depan.

Rusia Ingin Indonesia Produksi Suku Cadang Sukhoi Tempur Dan Sipil

Presiden Direktur Perusahaan Penerbangan Rusia Mikhail Pogosyan menyatakan ingin berkolaborasi dengan industri penerbangan di Indonesia untuk memproduksi suku cadang baik pesawat Sukhoi tempur maupun komersial.

"Kerjasama kedirgantaraan yang mencakup transfer of technology merupakan sesuatu yang sangat dimungkinkan," kata Pogosyan seperti diceritakan Dubes RI di Rusia Djauhari Oratmangun di Moskwa, Sabtu.

Pogosyan adalah Presiden Direktur JSC United Aircraft Corporation, sebuah holding company yang antara lain membawahi perusahaan industri sukhoi tempur dan sukhoi komersial. Pertemuan pertama dengan Djauhari ini dilakukan dalam format makan bersama dengan menu khas Rusia.

Pada dasarnya, pertemuan ini adalah acara saling kenal satu dengan lainnya sambil menggali hal-hal yg dapat dikerjasamakan di masa depan.

Kedua belah pihak hanya sedikit saja menyinggung soal "tragedi sukhoi" dalam perspektif tertentu, yakni bahwa dibalik kejadian tersebut harus mampu dimunculkan hal-hal yang positif di masa datang.

"Ada masanya kita melihat ke depan," kata Dubes Djauhari.

Presdir Sukhoi juga mengatakan pihaknya sangat terbuka untuk mendidik anak-anak terbaik Indonesia untuk studi bidang penerbangan di Rusia.

Hal ini penting karena Rusia memiliki dua universitas terbaik di bidang penerbangan, yakni di kota Moskwa dan Kazan. Sukhoi bisa memberikan beasiswa.

Pogosyan juga menyatakan ingin memberikan kuliah kedirgantaraan di universitas di Indonesia dalam sebuah kunjungannya di Indonesia kelak.


Sumber : Detik

Rusia Jual 100 Tank T-72 ke Venezuela


28 Juli 2012, Moskow: Moskow menyetujui tambahan pembelian 100 unit MBT T-72 yang diajukan Caracas. Pembelian ini bagian dari pinjaman senilai 4 milyar dolar untuk pembelian alutsista buatan Rusia.

Perjanjian pinjaman 4 milyar dolar ditandatangani pada Oktober 2011, saat Wakil Perdana Menteri Rusia Igor Sechin berkunjung ke Caracas. “Dua milyar dolar disiapkan tahun depan dan sisanya pada 2013,” ungkap Chavez.

Rusia telah mengirimkan 92 unit MBT T-72B1V, peluncur roket Smerch serta perangkat militer lainnya ke Venezuela berdasarkan perjajian pinjaman pembelian alutsista senilai 2,2 milyar dolar yang ditandatangani pemerintah Hugo Chavez pada 2010.

Caracas telah membelanjakan 4 milyar dolar untuk pembelian jet tempur Sukhoi, helikopter militer, senapan serbu antara 2005 dan 2007.

Rusia dan China menjadi pemasok alutsista utama Venezuela, setelah Amerika Serikat melarang penjualan alutsista yang mengandung komponen buatan pabrikan asal Amerika Serikat.

@Berita HanKam
Sumber: RIA Novosti

Rusia Siapkan Kapal Perang Ke Suriah

MOSCOW-(IDB) : Rusia menyiapkan pengiriman dua kapal perang ke pelabuhan Suriah, Tartus, tempat Moskow mengelola pangkalan strategis angkatan laut, untuk menjamin keamanan warga negaranya, kata kantor berita Interfax pada Senin.

Laporan itu muncul saat Presiden Rusia Vladimir Putin akan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama di antara temu puncak G-20 di loka wisata Los Cabos, Meksiko, pada Senin malam di tengah ketegangan di Suriah, lapor AFP.

"Dua kapal utama amfibi -Nikolai Filchenkov dan Tsezar Kunikov- siap dikirim ke Tartus di luar jadwal mereka," kata kantor berita Rusia itu mengutip keterangan perwira yang enggan namanya disebutkan dari markas besar angkatan laut Rusia.

Kedua kapal itu akan membawa sekelompok besar marinir, tambah Interfax. Tidak ada kepastian resmi atas laporan tersebut dari angkatan laut atau kementerian pertahanan.

Tsezar Kunikov dapat membawa 150 tentara pendarat dan berbagai persenjataan, termasuk tank, sementara Nikolai Filchenkov Nikolai dapat membawa hingga 1.500 ton barang dan peralatan, kata laporan itu.

Interfax menyatakan kapal itu dapat digunakan untuk mengungsikan warga negara Rusia.

"Awak Nikolai Filchenkov dan Tsezar Kunikov serta kapal penyelamat SB-15 bersama marinir di kapal itu mampu menjamin keamanan warga negara Rusia dan mengungsikan sebagian sarana pangkalan pendukung perbekalan tersebut jika perlu," kata Interfax mengutip keterangan sumber.

Kemelut berkepanjangan antara pemerintah dengan lawan di Suriah tidak menunjukkan tanda mereda.

Lawan menuntut pengerahan pasukan bersenjata penjaga perdamaian PBB setelah pengamat menghentikan pekerjaan mereka akibat pertumpahan darah.

Rusia dan China sekutunya sebelumnya di Dewan Keamanan PBB menghentikan upaya mengutuk Damaskus dan melindungi pemerintah Assad dari tekanan lebih lanjut di tengah tuduhan bahwa Moskow mengirimkan senjata ke Damaskus.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton menuduh Rusia memicu kekerasan dengan mengirimkan helikopter tempur ke Suriah, yang disebutnya "dalam perjalanan" dan akan "meningkatkan kemelut dengan cukup tajam".

Rusia dengan marah menukas bahwa negara itu tidak membuat pengiriman baru dan hanya melakukan perbaikan helikopter, yang dikirim ke sana beberapa tahun lalu.

Suriah, salah satu dari sedikit negara pendukung Rusia dalam perang dengan Georgia pada 2008, adalah sekutu dekat Moskow sejak masa Soviet dan pembeli utama persenjataannya.

Pendahulu Putin di Kremlin, Dmitry Medvedev, ke Damaskus pada 2010 dalam lawatan pertama kepala negara Rusia atau Soviet ke negara itu.

Dalam pembicaraan dengan Assad, ia menjanjikan bantuan Rusia kepada Suriah dalam membangun kembali prasarana minyak dan gasnya serta bahkan dalam membangun pembangkit listrik nuklir.

Selama bulan belakangan, Kremlin menjaga jarak dari Assad, tapi membiarkan garis kerasnya, mengesampingkan campur tangan asing dan bersikeras nasib Assad harus diputuskan oleh rakyat Suriah. 


Sumber : Antara

Rusia Akan Buat Pesawat Bom Generasi Kelima

MOSCOW-(IDB) : Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev Sabtu mengatakan negaranya akan mengembangkan pesawat pembom strategis generasi kelima.

Berbicara dalam pertemuan pada penerbangan strategis di kota tengan Rusia, Kazan, MInggu (10/6), Medvedev menegaskan rencana pemerintah mengembangkan generasi kelima pesawat tempur dan pembom strategis baru.


Medvedev mendesak Angkatan Bersenjata Rusia akan dipersenjatai dengan teknologi baru tidak kurang dari 30% dalam tiga tahun ke depan dan sampai 70% dalam lima tahun.


Perdana menteri mengakui Angkatan Udara memiliki banyak masalah, dengan mengatakan pemerintah kini sedang mencoba untuk memecahkan masalah ini.


Angkatan Bersenjata Rusia memperoleh 15 pesawat tempur baru dan jet generasi keempat pada tahun 2011.


Media lokal sebelumnya mengutip sumber Kementerian Pertahanan mengatakan Rusia tidak siap untuk membangun pembom strategis dari generasi baru sampai setidaknya 2025.


Sumber tersebut mengatakan pembom baru akan dibangun menggunakan teknologi siluman, dan karya-karya itu akan dilakukan di biro desain Tupolev (Tu) di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan.


Deputi pertama Menteri Pertahanan Vladimir Popovkin mengatakan sebelumnya bahwa Rusia tidak akan mempercepat pengembangan pembom jarak jauh baru sampai setidaknya 2015.


Sebaliknya, pasukan udara akan memodernisasi armada strategis yang ada Tu-95MC dan Tu-160 hingga tahun 2025 atau 2030. 


Sumber : MediaIndonesia

Rusia Ingin Kembangkan Kerja Sama Militer dengan China

BEIJING-(IDB) : Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan keinginan negaranya untuk meningkatkan hubungan militer dengan China, Rabu (6/6). Penegasan ini dilakukan untuk menjalin aliansi militer mengimbangi Amerika Serikat dan sekutunya. Pernyataan Putin ini dikemukakannuya pada hari kedua kunjungan ke negara tetangganya di Timur jauh itu.

Putin mengatakan kepada Wakil Presiden Xi Jinping bahwa ia dan Presiden China Hu Jintao telah berjanji untuk mengembangkan kerja sama militer dan ia juga mengaktipkan kembali latihan angkatan laut Rusia-China di Laut Kuning.

Kerjasama militer antara Moskow dan Beijing telah dipercepat dibawah organisasi keamanan regional mereka yang melingkupi perlindungan perbatasan secara teratur dan latihan anti terorisme.

China merupakan pelanggan terbesar atas jet tempur Rusia, kapal selam, pencegat rudal, dan senjata berteknologi tinggi lainnya, namun kecurigaan masih melekat sejak persaingan mereka pada Perang Dingin..

Kunjungan Putin kali ini merupakan yang pertama ke China sejak kembali ke kursi kepresidenan Rusia bulan lalu dan menjelang kunjungan pertamanya ke AS. Ini merupakan langkah yang dipandang sebagai sinyal condong ke Timur dalam kebijakan luar negeri Rusia.

Di Beijing, Putin kembali menegaskan target untuk meningkatkan perdagangan bilateral menjadi 100 milyar dollar AS pada 2015 dari tahun lalu senilai 83,5 milyar dollar AS, dan menjadi 200 milyar dollar AS pada 2020.

Membaiknya hubungan China dan Rusia telah kembali menjadi penyeimbang pengaruh AS termasuk saat kedua negara melindungi Suriah dari langkah internasional untuk menghentikan tindak kekerasan yang terjadi selama 15 bulan pemberontakan. 


Sumber : Analisa

Tentara Rusia Berlatih Anti Terror Bersama di AS

MOSCOW-(IDB) : Untuk pertama kali dalam sejarah, pasukan Rusia menggelar latihan militer antiteror bersama dengan pasukan komando AS di daratan AS. Pasukan para Rusia menjalankan latihan bersama itu di pangkalan militer Angkatan Darat AS di Fort Carson, Colorado, AS, termasuk berlatih menembakkan beberapa senjata yang digunakan pasukan AS.

Demikian diungkapkan juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia Kolonel Alexander Kucherenko di Moskwa, Jumat (18/5/2012). "Setelah mengikuti taklimat tentang prosedur keselamatan dari para instruktur dari (pasukan) Green Beret AS, pasukan para Rusia menerima senjatan dan amunisi, dan mulai melakukan latihan penembakan," ujar Kucherenko.

Senjata pertama yang dicoba oleh tentara Rusia adalah pistol otomatis Beretta M9 dan senapan serbu otomatis M4, yang menjadi senjata standar pasukan AS. Mereka berkompetisi menembak dengan pasukan komando AS.

Setelah menjajal senjata api standar, pasukan Rusia kemudian merasakan persenjataan yang lebih berat, yakni senapan mesin M240 dan M249. Selain latihan lapangan, pasukan dari kedua negara juga akan melakukan diskusi mengenai peraturan perang darat. 

Sumber : Kompas

Putin Picu Pecah Perang Dingin Kembali...???

MOSCOW-(IDB) : Vladimir Putin, pekan lalu dilantik kembali sebagai Presiden Rusia untuk masa jabatan enam tahun (2012-2018). Sekalipun kembalinya Putin ke posisi orang nomor satu di Rusia melalui sebuah pemilihan umum yang demokratis (4 Maret 2012), tetapi keterpilihannya itu tetap saja menyisahkan kontroversi dan kekhawatiran.

Kontroversi, sebab dengan mudahnya Putin bertukar posisi dengan Dmitry Medvedev. Ketika Medvedev menjadi Presiden Rusia (2008-2012) Putin diangkatnya selaku Perdana Menteri. Sekarang, setelah Putin terpilih selaku Presiden, Medvedev dipilih Putin menjadi Perdana Menteri. Pertukaran sekaligus duet Putin-Medvedev kali ini adalah yang kedua kalinya.

Selain kontroversi, kembalinya Putin cukup menimbulkan kekhawatiran. Sebab diperkirakan terpilihnya Putin sebagai pemimpin Rusia bakal menimbulkan banyak persinggungan dengan negara adidaya Amerika Serikat. Banyak alasan mengapa Putin menjadi semacam tokoh Eropa (Timur) yang dapat menimbulkan persinggungan dengan Amerika Serikat.

Sebab Putin bukanlah tokoh Rusia yang bisa diajak berbaik-baikan dengan Washington. Bahkan dibandingkan dengan tokoh Uni Soviet di era Perang Dingin, Mikhail Gorbachev ataupun penggantinya, Boris Yeltsin, Vladimir Putin jauh lebih keras.

Ada semacam persepsi, pasca-berakhirnya Perang Dingin, dimana Amerika Serikat keluar sebagai pemenangnya Soviet, setiap tokoh yang berasal dari Moskow akan mudah ditaklukkan Washington. LIhat saja bagaimana Rusia sebagai pecahan Uni Soviet setelah dipimpin Boris Yeltsin, dengan gampangnya diajak Amerika Serikat bergabung dalam Kelompok Delapan atau Group of 8 (G-8).

Tetapi setelah Yeltsin digantikan Putin, suasananya sangat berbeda. Hingga sekarang Rusia masih menjadi bagian dari G-8 yang terdiri atas Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Itali, Perancis, Jerman dan Inggris. Tetapi secara kimiawi, keberadaan Rusia dalam G-8, tidak terlalu rekat. Lem perekatnya tidak kuat.

Putin selalu menempatkan Rusia dalam posisi yang hampir sama dengan sikap Uni Soviet, negara induk Rusia selama kurang lebih enam dekade. Yaitu hampir setiap negara yang menjadi musuh Amerika Serikat justru dirangkul oleh Putin.

Menghadapi Iran misalnya, Rusia merupakan satu-satunya negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB yang menentang kebijakan Amerika Serikat yang ingin mengucilkan Iran. Sama halnya dengan politik Amerika Serikat di Syria, salah satu negara Arab yang berbatasan langsung dengan Israel. Rusia merupakan pendukung rezim Asaad yang memerintah melalui KKN.

Di dekat Syria, Rusia tetap menjadi faktor penentu bagi jadi tidaknya konsep perdamaian Israel - Palestina. Sering terjadi, apa yang dimaui Amerika Serikat dalam perdamaan Israel-Palestina, di sisi lain, tidak diinginkan oleh Rusia.

Di negara-negara Amerika Latin, Rusia di bawah kepemimpinan Putin, juga kurang lebih sama. Semua negara Amerika Latin yang mengambil sikap yang tidak mau didikte oleh Amerika Serikat, dirangkul oleh Rusia.

Dalam hal persaingan spionase, Rusia tetap menempatlan agen-agen KGB terbaiknya di Amerika Serikat seperti di era Perang Dingin. Masih ingat di 2010, Amerika Serikat digegerkan oleh agen rahasia KGB, Anna Chapman. Anna dideportase ke Moskow melalui pertukaran agen mata-mata CIA yang ditahan Rusia. Kini Anna kabarnya menjadi isteri simpanan Putin.

Putin memang bukan seorang tokoh komunis Rusia atau Uni Sovyet seperti Stalin dan Lenin. Dua pemimpin Uni Sovyet yang membawa negara itu terlibat dalam Perang Dingin dengan Amerika Serikat (1948-1991).

Tetapi dalam soal keteguhan, Putin mirip Stalin dan Lenin. Putin mirip seorang pemeluk ideologi tertentu yang keyakinannya pada ideologi itu sangat kuat. Dan ideologi Putin itu - di era sekarang, memiliki pengikut yang cukup massiv di Rusia. Ideologi Putin bukan lagi soal politik dan komunisme melainkan kemakmuran dan martabat sebuah bangsa.

Kebetulan Putin berhasil mengubah sistem ekonomi Rusia, sehingga 130 juta penduduk negara itu saat ini merasakan sebuah kesejahteraan yang tidak pernah dinikmati bangsa itu selama hampir seratus tahun.

Demikian berhasilnya Rusia atau Putin mengubah kesejahteraan bangsanya, sehingga negara itu sekarang memiliki orang kaya terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat. Inilah yang menyebabkan Putin mendapat dukungan luas di Rusia, setelah negara itu pecah 16 negara induknya Uni Soviet.

Sekalipun Putin lahir di Jerman Timur, ketika ayahnya bertugas di sana sebagai perpanjangan tangan dari rezim komunis Uni Sovyet di negara satelitnya itu, tetapi dalam perkembangan jati dirinya, Putin bukan seorang penganut ideologi komunis.

Di bawah pemerintahan Putin semua agama di Rusia : Orthodoks, Kristen, Islam, Budha dan Judaisme, mendapatkan hak yang sama. Bahkan ketika pekan lalu Putin dilantik selaku Presiden, bekas agen rahasia KGB itu bersumpah atau disumpah oleh pendeta Orthodoks.

Tak bisa dibantah secara global Amerika Serikat berhasil memenangkan Perang Dingin. Kemenangan Amerika Serikat itu menyebabkan Uni Soviet pecah menjadi 16 buah negara dan Rusia merupakan satu di antara negara pecahan tersebut.

Tapi kemenangan Amerika Serikat ini tidak membuat Rusia serta merta tunduk kepada Washington. Bahkan di tangan Vladimir Putin semangat Rusia untuk menyaingi Amerika Serikat demikian tinggi.

Terakhir Rusia bergabung dalam kelompok yang disebut BRICS (Brazil, Rusia, India, China, South Afrika - Afrika Selatan).

Penguatan BRICS dari waktu ke waktu terus terjadi. BRICS antara lain ingin menghapus dolar Amerika Serikat sebagai mata uang perdagangan internasional. Kalaupun tidak terhapus, minimal mata uang yang berasal dari China atau Rusia bahkan India bisa menjadi alat pembayaran sah dalam transaksi internasional.
Tentu saja agenda BRICS yang didukung kuat oleh Vladimir Putin, sangat mengganggu Amerika Serikat. Sehingga inilah yang dikhawatirkan, terpilihnya Putin sebagai Presiden Rusia, bisa menyebabkan timbulnya kembali Perang Dingin model baru.

Kekhawatiran ini semakin bertambah sebab Putin yang menjadi tokoh sentral, setelah masa jabatannya berakhir di tahun 2018, berpeluang untuk melanjutkan satu periode selama 6 tahun lagi, atau hingga 2024.

Sumber : Inilah

Rusia Baru Akan Miliki ICBM Generasi Baru Setelah 2022

MOSCOW-(IDB) : Rusia membutuhkan waktu sedikitnya 10 tahun untuk mengembangkan rudal balistik antarbenua (ICBM) generasi baru, yang memanfaatkan bahan bakar cair. Rudal tipe baru ini dirancang khusus, untuk menaklukkan sistem perisai rudal yang sedang digelar AS di Eropa.
Pihak militer Rusia pertama kali menyebutkan kemungkinan pengembangan ICBM baru itu pada 2009, tetapi keputusan resmi program pengembangan rudal tersebut baru diambil akhir tahun lalu.
Rudal jenis baru seberat 100 ton ini dirancang untuk menggantikan rudal Voyevoda R-26M2, yang oleh NATO dijuluki "Setan" (SS-18 Satan), karena mampu membawa 10 hulu ledak nuklir independen yang masing-masing berdaya ledak 550-750 kiloton TNT.
"Secara statistik, (pengembangan rudal) ini butuh waktu 10 tahun. Jika sebuah negara sudah tidak melakukan itu selama 30 tahun, tentu saja berbagai kesulitan akan tak terhindarkan," ujar Andrei Goryaev, Deputi Direktur perusahaan pembuat rudal Rusia, yang ditugaskan mengembangkan rudal baru ini, NPO Mashinostroyeniya, Selasa (8/5/2012).
Desember 2011, Panglima Pasukan Rudal Strategis Rusia (SMF), Letnan Jenderal Sergei Karakayev, mengatakan, rudal-rudal ICBM Rusia saat ini, yang masih menggunakan bahan bakar padat, kemungkinan tak akan bisa menembus sistem perisai rudal AS yang sudah sangat canggih.
Oleh sebab itu dibutuhkan jenis rudal baru yang menggunakan bahan bakar cair, sehingga akan memiliki kemampuan manuver yang lebih baik.
Saat ini, SMF dilaporkan menggelar lebih dari 400 pucuk ICBM, termasuk 171 rudal Topol (SS-25), 70 rudal Topol-M (SS-27), dan tiga rudal RS-24 Yars.

Sumber : Kompas

Rusia Kembali Ancam Rudal NATO

MOSCOW-(IDB) : Rusia kembali bersitegang dengan Amerika Serikat dan NATO. Pemicunya adalah rencana penempatan pertahanan rudal di negara-negara Eropa Tengah oleh AS dan NATO.

Sebenarnya, Rusia, AS, dan NATO telah menggelar pertemuan untuk membicarakan masalah ini sejak Kamis kemarin. Namun, Rusia mengklaim pertemuan itu hampir buntu. Sehingga, negara pewaris Uni Soviet itu memberikan peringatan keras kepada AS dan NATO.

"Keputusan untuk menggunakan kekuatan penghancur akan diambil jika situasi memburuk," ujar Kepala Staf Pertahanan Rusia, Jenderal Nikolai Makarov sebagaimana dikutip BBC.

Rusia menyebut rencana AS dan NATO itu mengancam keamanan negaranya. Makarov menambahkan, jika rudal pertahanan Eropa itu tetap dibangun, maka Rusia siap memperkuat hulu ledak pada rudal-rudal balistiknya.

Namun, AS dan NATO menyatakan rencana penempatan pertahanan rudal di Eropa Tengah ini untuk perlindungan dari kemungkinan serangan Iran dan Korea Utara. NATO juga tetap optimis pembicaraan yang digelar di Moskow itu akan memperoleh kesepakatan.

Bahkan, perwakilan NATO, Jenderal Alexander Vershbow, mengatakan kekhawatiran Rusia itu tidak berdasar. Menurutnya, sistem rudal pertahanan yang akan dibangun AS dan NATO itu tidak bisa menandingi kekuatan nuklir Rusia.

Rusia dan AS telah bersitegang soal rudal pertahanan sejak 2000--sejak ide ini pertama kali dimunculkan pada masa pemerintahan George W Bush. Pada 2008, Barack Obama yang menggantikan Bush membatalkan rencana perluasan pertahanan rudal di Polandia dan Republik Ceko.

Namun pada 2010, AS menandatangani perjanjian dengan Polandia untuk menggunakan pangkalan tua di Redzikow, wilayah dekat Pantai Baltik, sebagai basis pertahanan rudal. Rusia sendiri dimasukkan ke dalam komisi sistem radar di wilayah Baltik.

Rusia Akan Serang Sistem Rudal NATO Jika Perlu

Seorang pejabat tinggi militer Rusia mengatakan, Moskow berhak melakukan serangan pre-emptive terhadap sistem rudal pimpinan Amerika Serikat di Eropa jika Washington menolak dialog konstruktif terkait masalah itu.
 
"Mengingat esensi destabilisasi dari sistem Rudal Anti-Balistik (ABM) AS, maka keputusan tentang serangan pre-emptive bisa diambil ketika situasi semakin sulit," kata Kepala Staf Angkatan Bersenjata Rusia Jenderal Nikolay Makarov, Kamis (3/5).
 
Berbicara pada Konferensi Rudal Anti-Balistik (ABM) Rusia, Makarov menuturkan, Moskow tidak memiliki rencana untuk menggelar fasilitas pertahanan rudalnya di luar wilayah Rusia.
 
"Kami sama sekali tidak punya rencana untuk menempatkan fasilitas pertahanan rudal Rusia di luar wilayah nasional. Pendekatan seperti itu akan menghilangkan pengaruh fasilitas pertahanan rudal Rusia, yang berfungsi sebagai sistem pertahanan setiap negara," tambahnya.
 
Rusia mengancam akan mengerahkan rudal jarak pendek, Iskander di wilayah Kaliningrad menyusul penolakan Washington atas permintaan Moskow untuk mengembangkan sistem rudal Eropa secara kolektif.
 
Rusia berulang kali menyatakan keberatannya dengan penyebaran sistem pertahanan rudal Eropa. Menurutnya, tujuan utama penempatan sistem yang didukung oleh AS itu adalah untuk mengisolasi Rusia.
 
Namun, Wakil Sekjen NATO Jenderal Alexander Wershbow, yang hadir di konferensi itu mengatakan bahwa argumen Moskow sama sekali tidak meyakinkan dia dan sistem tersebut tidak akan pernah menargetkan Rusia.
 
Sebelumnya pada Kamis, Menteri Pertahanan Rusia Anatoly Serdyukov mengatakan bahwa pembicaraan antara Moskow dan Washington menyangkut sistem rudal Eropa telah menemui jalan buntu. 

Sumber : Vivanews 

Rusia Tempatkan Patroli Kapal Perang Permanen di Dekat Suriah

MOSCOW-(IDB) : Rusia memutuskan menempatkan secara permanen kapal-kapal perangnya untuk berpatroli di perairan laut dekat wilayah Suriah. Langkah itu diambil untuk menandingi kehadiran kapal-kapal perang Amerika Serikat dan negara-negara Barat lain yang jumlahnya makin banyak di sekitar Suriah.

Demikian ditegaskan seorang pejabat tinggi Kementerian Pertahanan Rusia kepada kantor berita RIA Novosti, Jumat (13/4/2012). "Sudah diputuskan untuk menempatkan kapal-kapal perang Rusia dekat pesisir Suriah secara permanen," ujar pejabat yang tak disebutkan namanya itu.

AS dan negara-negara Barat lain, seperti Inggris, Jerman, Kanada, dan Perancis, telah menempatkan kapal-kapal perangnya di sekitar Suriah sejak gerakan rakyat menentang Pemerintah Suriah mulai pecah, Februari 2012.

Menteri Pertahanan Kanada Peter MacKay mengatakan pada 20 November 2011 bahwa negara itu mempertahankan satu kapal perang di perairan Laut Tengah untuk "merespons apabila ada hal-hal tertentu terjadi di Suriah atau titik-titik panas lainnya" (Kompas.com, 21/11/2011).

Akhir tahun lalu, Angkatan Laut Rusia memberangkatkan konvoi sembilan kapal perang ke perairan Laut Tengah dan sempat mampir di Pelabuhan Tartus di Suriah. Namun, waktu itu, Rusia mengatakan, konvoi kapal yang dipimpin kapal induk Admiral Kuznetsov itu tak ada hubungannya dengan perkembangan situasi di Suriah dan sekadar menjalankan latihan rutin musim dingin.

Konvoi kapal perang itu sudah kembali ke pangkalan masing-masing, Februari lalu. Namun, awal bulan ini, Rusia kembali memberangkatkan kapal perusak berpeluru kendali Smetlivy ke perairan Suriah. Kapal tersebut direncanakan akan berlabuh di Pelabuhan Tartus, yang disewa Rusia menjadi pangkalan angkatan laut satu-satunya milik Rusia di kawasan Mediterania.

Menurut pejabat tinggi yang dikutip RIA Novosti itu, Smetlivy akan digantikan kapal perang lain dari Armada Laut Hitam Rusia, Mei mendatang. "Yang akan menggantikan mungkin kapal fregat Pytlivy atau salah satu kapal serbu amfibi kami," tutur pejabat itu.

Pytlivy adalah kapal fregat berpeluru kendali kelas Krivak II yang dilengkapi peluru kendali antikapal SS-N-19 Granit/Shipwreck dan rudal antipesawat SA-N-4 Gecko.

Rusia juga tengah menyiapkan beberapa kapal perang lain, termasuk kapal-kapal yang mampu mendaratkan pasukan di Suriah, untuk berangkat melakukan patroli tetap di sekitar Suriah.

Pada era Uni Soviet, sekitar 50 kapal perang dari Skuadron Kelima Armada Laut Hitam dan kesatuan-kesatuan AL Rusia lain dikerahkan secara rutin untuk berpatroli permanen di Laut Tengah. 

Sumber : Kompas

Kapal Perang Rusia Kembali Latihan di Perairan Suriah

MOSCOW-(IDB) : Satu kapal perusak berpeluru kendali milik Angkatan Laut Rusia, telah berangkat menuju perairan Laut Tengah menuju Suriah.

Kapal itu akan mengisi perbekalan di pangkalan Rusia di Pelabuhan Tartus, Suriah, sebelum menggelar latihan di lepas pantai negara yang sedang dilanda krisis berdarah tersebut.

Demikian diungkapkan seorang sumber di kalangan pejabat pemerintah Rusia, Kamis (5/4/2012), kepada kantor berita RIA Novosti. Kapal yang dimaksud adalah Smetlivy, jenis kapal perusak kelas Kashin, yang sudah dioperasikan AL Rusia sejak 1969.

Kapal tersebut dilaporkan telah meninggalkan pangkalannya di Sevastopol di Laut Hitam, 1 April lalu, dan akan langsung menuju Tartus untuk mengisi perbekalan. Selanjutnya, kapal itu akan berada di perairan sekitar Suriah sampai bulan Mei.

Tidak disebutkan misi khusus yang diemban kapal itu. Namun sumber yang dikutip RIA Novosti mengatakan, sejak konflik internal di Suriah pecah Maret tahun lalu, makin banyak kapal perang NATO berada di perairan di sekitar Suriah.

Smetlivy adalah kapal kelas Kashin terakhir yang masih dioperasikan AL Rusia. Kapal ini beroperasi kembali setelah menjalani reparasi pada tahun 2011. Kapal berukuran panjang 144 meter ini dilengkapi berbagai persenjataan, seperti dua meriam 76 mm AK-726 dan sistem rudal antikapal SS-N-25 Switchblade.

Akhir tahun lalu, konvoi sembilan kapal perang Rusia yang dipimpin kapal induk Admiral Kuznetsov juga menggelar latihan di Laut Tengah dan sempat mampir di Tartus. Suriah adalah sekutu lama Rusia sejak era Perang Dingin. 

Sumber : Kompas

Rusia Kerahkan Varyag untuk Latihan dengan China

VLADIVOSTOK-(IDB) : Empat kapal perang Rusia, termasuk kapal penjelajah berpeluru kendali Varyag, akan dikirim untuk mengikuti latihan perang laut dengan China, akhir bulan ini. Rusia juga akan mengirim pesawat tempur, helikopter, kapal suplai, dan pasukan infanteri angkatan lautnya.

Armada Pasifik Rusia, yang berpangkalan di Vladivostok, menyatakan, Selasa (3/4/2012), AL Rusia akan mengirimkan sedikitnya empat kapal perang utama, termasuk Varyag dan tiga kapal besar antikapal selam, dalam latihan yang akan berlangsung di Laut Kuning, 22-29 April mendatang.

Secara keseluruhan, lebih dari 20 kapal perang dan kapal suplai dari Rusia dan China akan mengikuti latihan tersebut. Latihan militer kedua negara sudah berlangsung sejak 2005 di bawah payung Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO).

Sumber : Kompas