Tampilkan postingan dengan label Helikopter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Helikopter. Tampilkan semua postingan

Daftar Permintaan Indonesia Paket Pembelian Apache Dan Pendukungnya

WASHINGTON-(IDB) : Pemerintah Indonesia dengan resmi telah melakukan permintaan untuk kemungkinan pembelian 8 Heli Serang AH-64D Apache Block III Longbow beserta perlengkapan, suku cadang, pelatihan dan dukungan logistik kepada Pemerintah AS.   Permintaan tersebut telah mendapat lampu hijau dari Defense Security Cooperation Agency (DSCA) yang memberitahukan Kongres AS pada tanggal 19 September 2012.  Perkiraan biaya pembelian ke 8 Heli Serang tersebut adalah: $1,4 miliar
Daftar permintaan Pemerintah Indonesia antara lain:
  • 8 AH-64D APACHE Block III LONGBOW Attack Helicopters
  • 19 T-700-GE-701D Engines (16 installed and 3 spares),
  • 9 Modernized Target Acquisition and Designation Sight/Modernized Pilot Night Vision Sensors,
  • 4 AN/APG-78 Fire Control Radars (FCR) with Radar Electronics Units (Longbow Component),
  • 4 AN/APR-48A Radar Frequency Interferometers,
  • 10 AAR-57(V) 3/5 Common Missile Warning Systems (CMWS) with 5th Sensor and Improved Countermeasure Dispenser,
  • 10 AN/AVR-2B Laser Detecting Sets,
  • 10 AN/APR-39A(V)4 Radar Signal Detecting Sets,
  • 24 Integrated Helmet and Display Sight Systems (IHDSS-21),
  • 32 M299A1 HELLFIRE Missile Launchers, and
  • 140 HELLFIRE AGM-114R3 Missiles.
HELLFIRE AGM-114R3 Missiles
Dalam paket pembelian tersebut juga termasuk perangkat IFF (Identification Friend of Foe), Senjata dan Amunisi 30mm, perangkat komunikasi,  tool dan test equipment, perangkat latihan, simulator, generator, transportasi, kendaraan pendukung, suku cadang, pelatihan personal dan perangkat pelatihannya.
Proposal penjualan senjata ini oleh Pemerintah AS dianggap akan memberikan bantuan kepada kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS dengan meningkatkan keamanan dari negara-negara yang telah dan terus akan menjadi sahabat Pemerintah AS,yang menjadi kekuatan penting dalam stabilitas ekonomi dan politik di Asia Tenggara
Dalam proposal tersebut, Pemerintah Indonesia akan mendapatkan aset vital untuk melindungi dan menghalangi ancaman keamanan potensial baik dari dalam maupun luar.  Pemerintah Indonesia akan menggunakan Heli Serang Apache untuk pertahanan perbatasan, operasi anti terorismd dan pembajakan laut dan mengontrol kelancaran alur transportasi laut di Selat Malaka. 

 Peralatan dan Servis yang dilakukan dalam program pembelian ini akan menjadikan Indonesia menjadi sebuah kekuatan pertahanan yang lebih baik dan menjadi bagian penting dalam kerjasama pertahanan dengan pasukan AS.
DSCA menganggap penjualan Heli Serang Apache beserta perangkat dan pendukungnya dianggap tidak akan mengubah keseimbangan militer di regional Asia Tenggara.



Sumber : ARC

TNI AD Kaji Pengadaan Helikopter Serbu Dari Amerika

JAKARTA-(IDB) : Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono menegaskan bahwa TNI Angkatan Darat (AD) masih melakukan kajian terkait rencana pembelian delapan unit helikopter serbu, Apache dari Amerika Serikat.

"Di dalam konteks pembangunan kekuatan pokok minimum (Minimum Esensial Force/MEF) memang ada heli serbu yang mau dibeli oleh Angkatan Darat. Heli serbu itu bermacam-macam, ada Apache, Black Hawk dan lainnya," katanya di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan hal itu setelah membuka Kejuaraan Terjun Payung Militer pertama atau Dewan Olahraga Militer Internasional (Concil International du Sport Militaire/CISM) dan Kejuaraan Terjun Payung TNI Terbuka 2012 yang diselenggarakan sejak 23 September hingga 30 September 2012 di Halim Perdanakusuma, Jakarta..

Menurut dia, TNI AD sendiri masih mengkaji pilihan antara Apache atau Black Hawk.

"Saya serahkan sepenuhnya kepada TNI AD untuk mengkaji dan menentukan pilihannya karena pembinanya Angkatan Darat, penggunanya memang Panglima TNI," katanya.

"Saya hanya melihat konteks dalam penggunaan ketiga matra apakah bisa kita satukan atau tidak. Kalau semuanya memungkinkan, kita akan lakukan bersama-bersama," katanya juga.

Pemerintah belum menyiapkan langkah apapun terkait rencana pengadaan helikopter serbu Apache dari Amerika Serikat itu.

Pemerintah juga belum pernah melakukan pengajuan resmi untuk membeli alat utama sistem senjata (alutsista) tersebut.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Mayor Jenderal TNI Hartind Asrin sebelumnya mengatakan, selama ini memang sudah ada lobi-lobi antara kedua negara terkait kemungkinan pengadaan helikopter serbu Apache itu.

"Sejauh ini Indonesia belum mempersiapkan apa-apa. Kita tunggu surat penawaran resmi dari mereka. Bukan kita yang mengajukan, mereka yang menawarkan. Kita hanya berpesan kalau mau jual Apache, tolong kita diberi tahu," kata Hartind.

Jika surat penawaran tersebut diterima, maka akan ada tim yang dikirim ke Amerika Serikat untuk melakukan pengecekan berbagai hal, seperti spesifikasi teknis helikopter, dan perlengkapan persenjataan.

Tim tersebut berasal dari TNI Angkatan Darat, selaku calon pengguna Apache.

Selanjutnya, tim melakukan pemaparan kepada Mabes TNI untuk kemudian diteruskan ke Kementerian Pertahanan dan dilakukan rapat anggaran.

Sementara itu, pengamat militer Wawan Hari Purwanto menilai, pengadaan delapan unit Helikopter Apache dari Amerika Serikat bakal menambah kekuatan pertahanan Indonesia. Ini karena alutsista TNI yang sudah usang dan tua, sekitar 60-70 tahun.

"Prajurit kita yang terbaik meninggal bukan di pertempuran, tetapi pada saat latihan. Ini disebabkan alutsista kita sudah usang," katanya disela-sela "Exibition Bola Volley Timnas Selection dan Coaching Clinic" Siswa SMA se-Jabodetabek di SMAN 106 Pekayon, Jakarta Timur, Jumat (21/9).

Helikopter Apache merupakan salah satu jenis helikopter jenis serbu yang andal, dan merupakan yang diandalkan militer beberapa negara, termasuk Angkatan Darat Amerika Serikat.



Sumber : Antara

Rencana Pembelian Helikopter Apache Mengejutkan

JAKARTA-(IDB) : Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin, mengungkapkan rencana pemerintah Indonesia untuk membeli pesawat helikopter serang Apache, mengejutkan.
 
Mengejutkan, kata politisi PDI Perjuangan ini,  karena selama ini  Kemenhan maupun TNI tidak pernah merencanakan pembelian helikopter Apache baik dalam APBN 2012 maupun RAPBN 2013 yang akan datan.

"Tahun ini TNI memang akan membeli 8 Unit heli serang seharga 90 juta dollar US dan 16 unit heli serbu seharga 170 juta dollar US.  Kedua jenis pesawat itu akan dibeli dari PT DI dan sudah dilakukan kontrak," Tubagus menjelaskan dalam rilisnya kepada Tribun, Jumat (21/9/2012).

Dikatakan, harga satu unit helikopter Apache tanpa senjata diperkirakan sekitar 40 juta dollar Amerika Serikat.  Dan bila dipersejatai, harganya akan meningkat menjadi 60 juta dollar Amerika Serikat setiap untinya, atau 600 juta dollar Amerika Serikat untuk 10 unit . Tugabus Hasanuddin berharap, pemerintah sebaiknya konsisten saja dengan rencana yang dibuatnya.

Bulan Februari lalu, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin kepada wartawan usai menghadiri Workshop Enhancing defence Cooperation on Public Affairs dengan Kemhan AS di Kemhan, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (9/2/2012) lalu mengungkapkan rencana pemerintah membeli sejumlah helikopter serang Apache dari Amerika Serikat (AS) untuk menambah kekuatan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista).

"Pemerintah berminat membeli Apache sebanyak delapan unit," ujar Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. 
 
Sjafrie menjelaskan, pengadaan delapan unit helikopter serang jenis Apache itu merupakan rencana pembelian yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan Indonesia dan Sjafrie juga menegaskan bahwa heli tersebut tidak ditawarkan pihak AS namun Indonesia yang mencari.
 
"Mereka (AS) tidak menawarkan, kami yang mencari," jelas Sjafrie.

Saat itu, Sjafrie mengutarakan, belum ada deal antara pemerintah Indonesia dengan AS terkait pembelian helikopter tersebut. Sementara yang sudah disepakati adalah pembelian pesawat tempur jenis F16 dari Amerika Serikat.



Sumber : Tribunnews

Rencana Pembelian Apache Disambut Gembira Skuadron Penerbad

JAKARTA-(IDB) : Salah seorang komandan skadron Pusat Penerbangan TNI AD mengaku gembira jika Pemerintah Indonesia benar-benar jadi membeli helikopter serang AH-64/D Apache. Ia mengaku mengikuti terus perkembangan berita ini sejak awal. Kemungkinan pembelian makin menguat setelah Kamis, 20 September kemarin, Menlu AS Hillary Clinton mengumumkan kepastiannya untuk menawarkan delapan heli ini kepada Indonesia, melalui Menlu RI Marty Natalegawa, dalam Joint Commision Meeting di Washington, AS. 
 
Semula terdengar kabar, Kongres AS kurang menyetujui itikad Pemerintah AS untuk menawari helikopter tersebut. Namun, setelah pemerintahan Presiden AS Barack Obama menjelaskan bahwa dukungan persenjataan ini penting bagi hubungan kedua negara dan akan memperkuat keamaman di negara Muslim terbesar di dunia ini, Kongres AS akhirnya menyetujui. Dukungan dan kerjasama pertahanan ini juga digencarkan dalam rangka refocuses perhatian ke wilayah Asia-Pasifik setelah bertahun-tahun terlibat dalam konflik yang melelahkan di Irak dan Afghanistan.


"Kesepakatan ini diharapkan bisa memperkuat persahabatan komprehensif kedua negara dan membantu memperkuat keamanan di wilayah Asia Pasifik," ujar Menlu Hillary Clinton, mengutip Reuters.


Hillary Clinton, yang selama sebulan terakhir ini sibuk berkunjung ke sejumlah negara di wilayah Asia Pasifik, mengakui bahwa Pemerintah AS telah berusaha meningkatkan kerjasama militer dengan sejumlah sekutu tradisionalnya, seperti Filipina dan Australia. Hal ini dilakukan untuk menekan China agar mau menerima kesepakatan bersama untuk memecahkan konflik teritorial di Laut China Selatan.


Di mata pers Indonesia, keinginan AS untuk menjual delapan heli Apache tentunya merupakan perkembangan menarik, mengingat belum lama ini Indonesia telah menerima tawaran 24 pesawat tempur F-16 versi upgrade. Paket F-16 ini akan ditebus dengan biaya 750 juta dollar AS, sementara untuk kedelapan Apache belum jelas benar berapa "angka" yang akan disodorkan pemerintah AS.


Jika tawaran ini disetujui Pemerintah Indonesia, kedelapan heli serang buatan Boeing tersebut hampir bisa dipastikan akan digunakan untuk memperkuat Skadron Serbu, Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Puspenerbad). Sejauh ini Skadron Serbu Penerbad telah diperkuat dengan heli NBO-105 dan Mi-35P yang dipersenjatai.



Sumber : Angkasa

Kemhan : Apache Barang Bagus, Selama Harga Cocok

JAKARTA-(IDB) : Kerjasama keamanan Indonesia dan AS menciptakan terobosan baru. Washington menawarkan Jakarta untuk membeli sejumlah unit helikopter tempur Apache, yang tidak lagi mereka pakai. Langkah AS ini terkait dengan kebijakan Indonesia yang tengah meremajakan alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Menurut kantor berita Reuters, rencana penjualan itu dikemukakan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, kepada Menlu RI Marty Natalegawa di Washington DC pada Kamis siang waktu setempat (Jumat pagi WIB). Kedua menteri bertemu untuk pertemuan kali ketiga Komisi Bersama AS-Indonesia, yang membahas perkembangan kemitraan komprehensif bilateral.

Kepada wartawan, Menlu Clinton mengatakan bahwa Kongres telah diberitahu perihal rencana pemerintahnya menjual helikopter tempur Apache ke Indonesia. "Persetujuan ini akan memperkuat kemitraan komprehensif dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan," kata Clinton.

Menurut dia, dengan ingin menjual helikopter Apache, AS berkepentingan memperkuat pertahanan Indonesia. Pasalnya, menurut Clinton, AS kini memandang Indonesia sebagai "pijakan bagi stabilitas di kawasan Asia Pasifik." 

Tahun lalu, AS pun mengumumkan hibah 24 unit jet tempur F-16 ke Indonesia. Dua lusin jet tempur itu tidak lagi digunakan oleh militer AS, walau harus mengalami pemutakhiran teknologi dan yang biayanya harus ditanggung Indonesia.

Di bawah pemerintahan Barack Obama, AS saat ini tengah mempererat kerjasama pertahanan dengan Indonesia. Ini sejalan dengan perubahan strategi keamanan AS, yang mulai berfokus ke Asia Pasifik setelah terlibat perang di Irak dan Afganistan.

AS juga telah meningkatkan kerjasama militer dengan sekutu-sekutu tradisionalnya di Asia Pasifik, seperti Filipina dan Australia. Manuver-manuver Washington di kawasan ini pun - walau berkali-kali dibantah oleh para pejabat AS, mengundang perhatian serius dari China, karena dianggap sebagai upaya membendung pengaruh dan ancaman Beijing.

Terkait pernyataan Clinton soal penguatan kerjasama kedua negara, Menlu Natalegawa menegaskan bahwa hubungan erat antara Indonesia dan AS kini dampaknya tidak lagi sebatas lingkup bilateral. "Kedua negara kini telah menempuh hubungan yang sangat dekat dalam suasana yang sangat produktif dan saling menguntungkan, yang tidak hanya dirasakan di tingkat bilateral, namun juga meningkat ke lingkup regional," kata Natalegawa, dalam jumpa pers yang transkripnya dimuat di laman Deplu AS.

Keunggulan Longbow
Menurut Menlu Clinton, Apache yang ditawarkan AS adalah seri AH-64D seri Longbow. Dibuat oleh Boeing, AH-64 Apache merupakan helikopter andalan Angkatan Darat AS untuk operasi tempur terbatas. Menggantikan helikopter AH-1 Cobra, Apache mulai digunakan Angkatan Darat AS pada April 1986.

Menurut data dari Boeing.com, Apache seri AH-64D Longbow mulai dipakai Angkatan Darat AS pada Maret 1997. Selain AS, kini militer dari sejumlah negara sudah menggunakannya, yaitu Mesir, Yunani, Israel, Jepang, Kuwait, Belanda, Arab Saudi, Singapura, Uni Emirat Arab, dan Inggris.

Dibanding dari seri pendahulunya, AH-64D Longbow ini memiliki sejumlah kelebihan dalam konektivitas digital, sensor, sistem persenjataan, peralatan pelatihan, dan sistem dukungan pemeliharaan.

Helikopter yang dikendalikan dua awak ini juga dilengkapi teknologi presisi yang lebih baik dari seri awal. Pengembangan mesin dan navigasinya membuat helikopter tempur ini bisa terbang lebih lama dan lebih lincah bermanuver.

Keunggulan utama seri D dari versi sebelumnya adalah kemampuan helikopter itu dalam menggunakan rudal-rudal Longbow Hellfire, yang dipandu radar. Seri AH-64D ini pun dilengkapi dengan radar FCR, yang membuat helikopter itu bisa mendeteksi dan menyerang target di tengah hujan, kabut, atau asap. Kemampuan ini tidak dimiliki model AH-64A.

Apache AH-64D ini dalam beberapa tahun terakhir mengalami pengembangan varian. Menurut army-technology.com, varian Apache Block II mulai digunakan Angkatan Darat AS pada 2003. Varian ini dilengkapi sistem komunikasi digital yang lebih baik.

Selain itu, Angkatan Darat AS sejuak Oktober 2010 memulai pengembangan varian baru, yaitu Block III. Pada tahap ini AH-64 D mengalami pemutakhiran pada sensor televisi bercahaya rendah (LLTV), yang bisa memantau cahaya lampu jalan dan suar. Block III ini mulai dipasok sejak November 2011, demikian ungkap Flight International.

Namun, demi peremajaan helikopter tempur baru, Angkatan Darat AS sudah menargetkan pembelian terakhir Apache Longbow pada 2010. Menurut laporan dari Kantor Anggaran Kongres AS pada November 2007, harga satu unit Apache AH-64D ini sekitar US$18 juta, atau kini kurang lebih Rp171,8 miliar. Harga itu sudah termasuk pemasangan radar FCR.   

Hingga berita ini dimuat, pemerintah AS belum memaparkan kepada publik harga Apache yang ditawarkan ke Indonesia. Selain itu belum ada tanggapan resmi dari delegasi Indonesia atas tawaran itu, termasuk bagaimana pengaturan jual belinya bila memang disetujui.

Tanggapan Pejabat
Namun tawaran Apache dari Amerika ini sudah mengundang pro dan kontra. Ada pejabat yang mendukung, namun ada pula yang mengkritisi.

Seorang pejabat Kementerian Pertahanan menyambut baik rencana Amerika Serikat untuk menjual helikopter tempur Apache AH-64/D kepada Indonesia. "Benar, mereka menawarkan. Tapi itu baru komitmen mereka. Helikopter itu sendiri bagus, kita tertarik," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan, Brigadir Jenderal Hartind Asrin kepada VIVAnews, Jumat 21 September 2012.

Menurut Hartind, saat ini belum ada tindak lanjut dari Indonesia terkait rencana AS tersebut. "Kita masih mempertimbangkan. Karena belum bicara mengenai harga. Baru komitmen mereka," ucapnya.

Tapi yang pasti, kata Hartind, Indonesia tidak akan membeli jika harga delapan unit helikopter Apache itu terlalu mahal. "Kalau harganya pas, jadilah kita beli. Karena itu helikopter yang bagus," lanjut Hartind.

Namun, dia menilai bahwa Apache yang ditawarkan Amerika itu kemungkinan bekas pakai. Jadi, kondisinya masih harus diteliti. "Tentunya, sebelum dibeli, tim kami akan terlebih dulu melihat kondisi helikopternya. Apakah kondisinya masih bagus atau tidak," Hartind menambahkan.

Sebaliknya, anggota DPR dari Komisi I, Mahfudz Siddiq, mengkritisi tawaran Amerika itu. Menurut dia, lebih baik Indonesia membeli helikopter multifungsi yang lebih berguna, yaitu CH-47 Chinook, ketimbang helikopter tempur.

Chinook dikenal sebagai helikopter angkut, baik untuk personel maupun logistik. "Komisi I tahun lalu pernah mengusulkan ke Kementerian Pertahanan untuk membeli Chinook dari Amerika Serikat dengan skema MFS (military foreign sales)," ujar Mahfudz.

Bagi dia, kegunaan heli Chinook sangat multifungsi, terutama untuk membantu operasi penanggulangan bencana. "Apache memang diperlukan sebagai heli serbu, namun lebih prioritas Chinook. Syukur kalau pemerintah Amerika Serikat bisa tawarkan keduanya," kata dia.
  
Namun, bagi Mahfudz, pembelian Apache juga diperlukan untuk mengimbangi negara-negara lain, seperti Singapura. "Namun akan lebih efektif jika diprioritaskan Chinook atau dilakukan secara bersamaan," tegasnya.

Meski rencana pembelian heli tempur sudah ramai diperbincangkan, Mahfudz belum mengetahui lebih detil soal realisasi. Sebab, kata politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, sampai saat ini belum ada anggaran untuk pembelian Apache. "Termasuk juga dalam rencana anggaran 2013," kata dia.



Sumber : Vivanews

DPR Berharap Amerika Juga Tawarkan Helikopter Chinook

JAKARTA-(IDB) : Komisi I DPR menilai pembelian helikopter Chinook dari Amerika Serikat lebih penting daripada heli tempur Apache AH-64/D. Pesawat  Chinok lebih multifungsi.

"Komisi I tahun lalu pernah mengusulkan ke Kementerian Pertahanan untuk membeli pesawat Chinook dari Amerika Serikat dengan skema MFS (military foreign sales)," ujar Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq, Jumat, 21 September 2012.

Menurut Mahfudz, kegunaan heli Chinook sangat multifungsi, terutama untuk membantu operasi penanggulangan bencana.

"Apache memang diperlukan sebagai heli serbu, namun lebih prioritas Chinook. Syukur kalau pemerintah Amerika Serikat bisa tawarkan keduanya," ungkap dia.

Namun pembelian Apache juga diperlukan untuk mengimbangi Singapura. "Namun akan lebih efektif jika diprioritaskan Chinook atau dilakukan secara bersamaan," tegasnya.
 
Meski rencana pembelian heli tempur sudah ramai diperbincangkan, Mahfudz belum mengetahui lebih detil soal realisasi. Sebab, kata politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, sampai saat ini belum ada anggaran untuk pembelian Apache. "Termasuk juga dalam rencana anggaran 2013," kata dia.
Seperti diketahui, Amerika Serikat akan menjual delapan unit helikopter tempur Apache AH-64/D kepada Indonesia.

Ini merupakan perkembangan terkini kerjasama pertahanan antarnegara setelah Washington beberapa waktu lalu memberi hibah 24 unit jet tempur F-16 ke Jakarta. 



Sumber : Vivanews

Indonesia Akan Segera Akuisisi 8 Unit Apache AH-64D

NEW YORK-(IDB) : Indonesia akan membeli delapan helikopter Apache dari Amerika Serikat, yang disebut-sebut menjadi sebuah tanda bagi kedua negara untuk memperkuat hubungan menyangkut peningkatan keamanan kawasan.

Menurut laporan AFP seperti yang dipantau ANTARA, Kamis, pembelian itu diungkapkan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa di Washington, Kamis.

Hillary mengatakan Pemerintah AS telah "menginformasikan kepada Kongres tentang potensi penjualan delapan helikopter AH-64D Apache Longbow kepada pemerintah Indonesia."

"Perjanjian ini akan memperkuat kemitraan menyeluruh kita dan membantu meningkatkan keamanan di kawasan," ujar Hillary.

Ia tidak menyebutkan nilai penjualan kedelapan Apache yang akan dibeli oleh Indonesia itu.

Menlu Marty Natalegawa dan Menlu Hillary Clinton pada Kamis masing-masing memimpin delegasi kedua negara melakukan Pertemuan Komisi Bersama (JCM) RI-AS yang ketiga setelah mereka sebelumnya melakukan pertemuan sdrupa di Washington DC pada tahun 2012 dan di Bali tahun 2011.

Komisi Bersama itu merupakan mekanisme kerangka kemitraan menyeluruh, yang secara resmi diluncurkan tahun 2010 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Barack Obama ketika Obama berkunjung ke Indonesia.

Sementara itu, seperti yang diungkapkan Departemen Luar Negeri AS pada laman mereka, Hillary menyebut Indonesia sebagai "mitra yang alami" bagi AS dan menekankan pentingnya hubungan kedua negara menyangkut stabilitas kawasan.

"Sebagai negara demokrasi terbesar kedua dan ketiga di dunia, kita adalah mitra alami, dan Amerika Serikat melihat Indonesia sebagai landasan bagi stabilitas di kawasan Asia Pasifik," ujarnya.

Menlu Hillary mengatakan hubungan AS dengan Indonesia adalah pondasi kuat bagi pertumbuhan ekonomi.

Ia menyebutkan, sejak tahun 2000, perdagangan bilateral kedua negara telah berlipat ganda hingga mencapai 27 miliar dolar AS (sekira Rp257,9 triliun) tahun lalu.

"Perjanjian senilai 21 miliar dolar (Rp200,6 triliun) antara Lion Air dan Boeing merupakan yang terbesar dalam sejarah Boeing," ujar Hillary.

Boeing mencetak rekor penjualan dalam sejarahnya --baik dalam nilai transaksi maupun jumlah unit yang dipesan, setelah maskapai penerbangan Indonesia, Lion Air, memesan 230 unit pesawat buatan Boeing, yaitu terdiri dari 201 unit jenis 737 MAX dan 29 unit Next Generation 737-900.

Penandatangan perjanjian pembelian itu dilakukan oleh Presiden Direktur Lion Air, Rusdi Kirana, dan Wakil Presiden Boeing, Roy Connor, dengan disaksikan oleh Presiden Barack Obama di sela-sela KTT Asia Timur di Bali pada November 2011.

"Sektor gas alam Amerika telah menarik investasi dari perusahaan-perusahaan energi Indonesia di sini. Sebuah Nota Kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Celanese, yaitu sebuah perusahaan Amerika, kemungkinan mengarah kepada fasilitas baru bernilai miliaran dolar yang akan mengubah batu bara menjadi etanol," tambah Hillary.

Menlu Marty Natalegawa sepakat dengan mitranya itu bahwa Indonesia dan AS memiliki kemitraan yang kuat.

"Kemitraan yang menguntungkan kedua belah pihak dan pada saat yang sama meluas di luar tingkat bilateral, ditambatkan dan dikendalikan oleh keyakinan kuat kedua negara bagi perdamaian, stabilitas dan kemakmuran di kawasan Asia Pasifik," kata Marty. 



Sumber : Antara

Amerika Berika Sinyal Hijau Penjualan 8 Unit Apache Ke Indonesia

JAKARTA-(IDB) : Pemerintah Amerika Serikat memberikan sinyal positif terkait penjualan helikopter perang jenis Apache kepada RI. Menurut Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, AS telah menawarkan delapan unit Apache. Menhan juga menjelaskan kualitas helikopter dapat meningkatkan pertahanan Indonesia, khususnya di daerah perbatasan.

"AS sudah beri siynal, silakan jika Indonesia mau membeli delapan biji Apache. Helikopter ini dahsyat sekali dan memberikan efek gentar," kata Menhan saat ditemui usai memimpin Sertijab Eselon I Kemenhan di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (24/8).


Pembelian Apache mesti melalui proses pembahasan antara Kementrian Pertahanan, kabinet, dan DPR. Karena, membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jika kabinet dan DPR menyetujui untuk membeli helikopter tersebut maka pemerintah Indonesia akan langsung menyambut tawaran AS.
"Kalau rencana beli, maka kita akan membeli delapan unit dan kalau itu juga disetujui oleh DPR," tukasnya.

Niat pemerintah Indonesia membeli Apache sebenarnya sudah ada sejak awal tahun ini. Pengadaan delapan unit pesawat tempur jenis Apache itu bukan karena ditawarkan begitu saja oleh pihak Amerika. Melainkan, pemerintah RI yang memang mencari 


Sumber : SCTV

11 Helikopter Anti Kapal Selam Masuk Daftar Belanja TNI AL

JAKARTA-(IDB) : Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) berencana mendatangkan 11 unit helikopter antikapal selam untuk lebih memperkuat alat utama persenjataan serta mengisi kekosongan alat yang tidak tercover oleh kapal-kapal TNI.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan juga telah melakukan pengadaan tiga unit kapal selam dengan perusahaan galangan kapal asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding Marine Enginerering (DSME) yang dilakukan bersama Kementerian Pertahanan.

"Helikopter antikapal selam kita punya tahun 1960-an dan pensiun tahun 1970 nantinya kita akan beli 11 helikopter antikapal selam, karena ini sangat dibutuhkan oleh kita," ujar Wakil Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Madya TNI Marsetio, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (15/8/2012).

Dijelaskan Marsetio, pihaknya masih akan membahas dengan Kementerian Pertahanan ihwal pembelian 11 helikopter antikapal selam ini, terutama mengenai helikopter yang didatangakan. Apakah jenis Seasprite atau Agusta.

"Tahun 2015 akan hadir helikopter tersebut, karena saat ini kita baru punya dua kapal selam dan akan datang lagi tiga," pungkasnya.  


Sumber : Okezone

PT. DI Serahkan Empat Unit Helikopter Bell 412EP Ke TNI AD

JAKARTA-(IDB) : TNI Angkatan Darat menerima empat helikopter serba guna Bell 412 EP dari PT Dirgantara Indonesia (Persero). Helikopter Bell berkemampuan teknis di atas jenis seri-seri helikopter terdahulu.

Penyerahan helikopter dilakukan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Dr. Budi Santoso kepada Asisten Logistik Kepala Staf TNI Angkatan Darat Mayor Jenderal TNI Sonny Widjaya di pangkalan Pusat Penerbangan Angkatan Darat di Skadron 21/Sena Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (10/8).


Budi Santoso berharap, empat helikopter itu akan membawa pengaruh besar bagi kemampuan TNI, khususnya TNI Angkatan Darat, dalam menghadapi tugas-tugas yang semakin berat. PT Dirgantara Indonesia menyadari kebutuhan alutsista bagi TNI akan terus meningkat.


"Hal ini tentu sejalan dengan tantangan yang semakin beragam, sehingga upaya antisipasi harus terus dioptimalkan. Kami sebagai salah satu penyedia produk alutsista, tentunya harus terus berupaya untuk dapat memenuhi tuntutan yang diminta," kata Budi Santoso.


Budi Santoso mengatakan, TNI Angkatan Darat merupakan pemakai terbesar helikopter-helikopter produksi PT Dirgantara. Di masa mendatang diharapkan TNI Angkatan Darat tetap mempercayakan dan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan helikopternya pada PTDI.


Bell 412 EP merupakan helikopter serbaguna yang ditenagai sepasang engine, Pratt & Whitney PT6T-3D, dengan empat bilah rotor utama dan dua bilah rotor ekor. Helikopter ini termasuk kelas menengah dan diawaki oleh satu pilot dan satu ko-pilot serta mampu mengangkut 13 penumpang.


Helikopter Bell 412 EP merupakan Bell 412 generasi baru yang dapat diandalkan. Helikopter ini sebelumnya telah membuktikan kehandalannya dalam berbagai operasi baik di Indonesia maupun di negara-negara lain.


Sumber : Metrotvnews

Menanti Helikopter CH-47 Chinook Indonesia


chinook 1 Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
JKGR-(IDB) : Modernisasi alutsista terus dilakukan TNI dengan pengadaan: Main Battle Tank Leoprad 2A6, Meriam 155mm Caesar, Peluncur Roket Multi Laras, Helikopter Serbu, 24 pesawat tempur F-16 ex USAF, Penambahan 6 Sukhoi MK 30, Satu Skuadron (16) Pesawat Super Tucano, UAV Heron TP, Light Frigate Sigma 10514, Light Frigate Nakhoda Ragam Class, Kapal Selam Chanbogo, Rudal C 705 dan C 802, Tank BMP 3, Panser Anoa, Helikopter SeaSprite, Pesawat Angkut C-295 dan berbagai alutsista lainnya.

Pasukan TNI juga mulai menyebar satuan satuannya, seperti penempatan: 2 Batalyon Kostrad di Perbatasan Kalimantan, Pasukan Marinir di pulau-pulau terluar, pembangunan Batalyon Marinir di Karimun, Kepulauan Riau dan Lampung. Pembangunan Pangkalan Marinir di Pulau Nipah dan Natuna, serta rencana pembentukan Brigade Marinir di Papua dan Pasmar II di Belawan, Sumatera Utara.

TNI pun membangun tiga bandara di Kalimantan dekat perbatasan Malaysia, agar pasukan bisa digerakkan dengan cepat ke garis depan jika terjadi konflik.

kri3 Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
LPD KRI Makassar
Untuk urusan angkutan laut, telah ada 4 multi-role LPD Makassar Class berbobot 11,400 ton dan 19 Landing Ship. 

Sementara TNI AU telah melakukan perbaikan menyeluruh (overhaul) pesawat angkut C-130 Hercules di AS serta mendapatkan setengah hibah 5 Hercules dari Australia. 

Hibah 5 Hercules ini tampaknya berjalan lancar, apalagi Presiden SBY bertolak ke Australia tanggal 3 Juli 2012. Namun bagaimana dengan deploy pasukan untuk pangkalan militer di pulau pulau terluar yang tidak memiliki landasan pesawat terbang ?. 

China mulai membangun landasan pacu pesawat fix wing di pulau terluar dengan cara reklamasi. Namun Indonesia tentu belum mampu, karena anggaran yang terbatas. Untuk Komisi Perhanan DPR, mulai melirik helikopter CH-47 Chinook Amerika Serikat, untuk melengkapi armada angkut pasukan TNI.

chinook 2 Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
Munculnya ide pembelian helikopter Chinook, diawali saat kunjungan kerja Komisi I DPR ke AS dipimpin ketuanya Mahfudz Siddiq. Rombongan ini bertemu produsen Helikopter Chinook dan Boeing memberikan lampu hijau untuk menjualnya ke Indonesia.

AIR CH 47 Dutch Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia“Kementerian Pertahanan diharapkan mempertimbangkan, bahkan mengkaji pengadaan alat angkut bagi TNI mengingat pesawat yang ada saat ini seperti Hercules sudah tua sehingga perlu peremajaan bahkan bila perlu pembelian baru. Komisi I tertarik dan mengusulkan pesawat angkut jenis Chinook,” ujar anggota Komisi I DPR Muhammad Najib.

CH-47 Chinook memiliki keunggulan kapasitas angkut yang besar, baik untuk personil dan logistik. Heli ini juga mampu mengangkut (sling): pesawat tempur, kapal tempur, kendaraan tempur hingga tank seberat puluhan ton.

Helikopter angkut CH-47 Chinook sangat dibutuhkan negara archipelago seperti Indonesia yang memiliki 13000 pulau. Helikopter itu untuk mobilisasi pasukan ke pangkalan-pangkalan militer di pulau terluar seperti: di Pulau Nipah, Natuna, Kepulauan Riau, Papua, Sebatik dan sebagainya.


AIR CH 47 Dutch Carrying F 16 lg Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
CH47 tank Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
Lebih jauh lagi helikopter Chinook bisa digunakan untuk penanganan pasca-bencana, karena Indonesia termasuk wilayah “Ring of Fire”, titik pertemuan antar lempeng bumi.
Mungkin kita masih ingat betapa powerfullnya helikopter CH-47 Chinook Singapura, saat mendistribusikan logistik pasca Tsunami Aceh. Chinook juga dengan cepat mampu mengevakuasi penduduk dalam jumlah cukup besar. Kinerja helikopter Chinook itu, kontras dengan kemampuan Helikopter Bell 412 RI yang diterjunkan pasca Tsunami Aceh 2004.

Di Asia Tenggara, selain Singapura, Thailand juga telah menggunakan CH-47 Chinook. Sementara di dunia, sangat banyak pengguna Chinok, termasuk: Australia, Belanda, Italia, Canada, Spanyol dan Inggris.

Helikopter buatan Boeing ini diawaki oleh 3 kru (pilot, copilot dan flight engineer). Heli ini mampu mengangkut pasukan hingga 55 personil dan kargo di dalam heli 12 ton. Chinook memiliki panjang 30 meter dengan tinggi 5,7 meter. Chinook terbang dengan kecepatan maksimal 315 km/jam atau kecepatan jelajah 240 km/jam untuk jarak 741 km. Helikopter ini juga bisa dilengkapi 3 senjata mesin M240/FN MAG.

Chinook yang Combat Proven, yang telah malang melintang di perang; Vietnam, Iran-irak, Malvinas, Desert Shield dan Desert Storm di Irak, serta Perang Afghanistan. Bahkan Jepang menggunakan helikopter ini untuk mendinginkan Reaktor Nuklir Fukusima yang rusak akibat gempa 9.0 SR tahun 2011 lalu.


AIR CH 47D USAR Afghanistan lg Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
Chinook di Afghanistan
Inggris yang telah memiliki 46 helikopter CH-47 Chinook, terus melakukan pembelian. Bulan Agustus 2011, Inggris kembali membeli 14 helikopter CH-47 Chinook dari Boeing AS dengan nilai pembelian 1 Miliar Poundsterling atau Rp 14 triliun. 
Dengan demikian Inggris menjadi negara terbesar yang memiliki armada heli Chinook di Eropa, sebanyak 60 unit. 
Heli Chinook pesanan terbaru Inggris akan mulai diterima RAF pada 2013 untuk uji terbang. Paket pembelian dengan Boeing ini meliputi biaya pengembangan, produksi, dan dukungan teknis untuk lima tahun pertama.

lion air obama1 300x211 Menanti Helikopter CH 47 Chinook Indonesia
Obama Saksi Pembelian Boeng Lion Air
Pabrik pembuat CH-47 Chinook, Boeing, menjadi sangat ramah terhadap Indonesia setelah Rusdi Kirana melalui maskapai penerbangan Lion Air membeli 230 pesawat Boeing senilai Rp 195 triliun, yang dikirim bertahap 2017-2025. Saking besarnya transaksi Indonesia dengan Boeing, pembelian 230 pesawat Boeing itu disaksikan langsung Presiden AS Barrack Obama.
Kehadiran helikopter Chinook di Indonesia akan meningkatkan wibawa TNI. Dengan kehadiran Chinook, Insinyur-Insinyur PT DI bisa berkenalan dengan helikopter tandem rotor. Masak, mau mengutak-atik heli satu rotor melulu. Sudah waktunya naik kelas mempelajari tandem rotor heavy-lift helicopter. Good Luck. 


Sumber : JKGR

DPR : Helikopter Chinook Layak Dipertimbangkan Sebagai Alutsista TNI

JAKARTA-(IDB) : Kementerian Pertahanan diharapkan mempertimbangkan bahkan mengkaji pengadaan alat angkut bagi TNI mengingat pesawat yang ada saat ini seperti Hercules sudah tua sehingga perlu peremajaan bahkan bila perlu pembelian baru.

"Komisi I tertarik dan mengusulkan pesawat angkut jenis Chinook," ujar anggota Komisi I DPR Muhammad Najib pada Jurnalparlemen.com di Jakarta, Minggu (17/6).

Menurut dia, helikopter jenis Chinook memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya, punya kapasitas angkut yang besar, baik untuk personil maupun logistik selain sewaktu-waktu bisa digunakan sebagai pesawat penyerang. "Kami melihat kebutuhan utama untuk TNI saat ini memang pesawat angkut. Sebab, yang dimiliki TNI sekarang ini jumlahnya terbatas dan sudah tua," ujarnya.

Mengingat Indonesia rawan bencana alam, terutama gempa bumi, lanjut M Najib, helikopter canggih semacam yang mampu mengangkut peralatan berat ke daerah terisolir sangat dibutuhkan.

Sebelumnya, dalam kunjungan kerja ke AS, rombongan Komisi I dipimpin ketuanya Mahfudz Siddiq sempat bertemu produsen Helikopter Chinook. "Mereka memberi lampu hijau bagi Indonesia. Tapi, dalam pengadaan peralatan militer dari AS memang tidak mudah," tutur M Najib


Sumber : Jurnamen

Puspenerbal Diperkuat Tiga Helikopter Bell 412 EP

SURABAYA-(IDB) : Tiga Helikopter Bell 412 akan memperkuat jajaran TNI AL. Helikopter ditempatkan di Skuadron 400 Puspenerbal Juanda. "Tiga unit Helikopter ini akan datang besok siang di Shelter Suadron 400," jelas Kasi Renbang Puspenerbal Mayor Martin Daw, Senin (11/6/2012).

Menurutnya,* helikopter itu merupakan helikopter pengangkut untuk pendaratan pasukan. Helikopter ini memiliki kemampuan angkut 10-15 personel serta mampu mengangkut beban sekitar tiga ton.

Meski berfungsi sebagai helikopter angkut militer, alutsista ini dapat dipersenjatai dengan senapan mesin untuk mendukung kegiatan operasi militer.

Helikopter ini juga merupakan helikopter generasi terakhir yang masuk jajaran Skuadron 400 Puspenerbal. Masuknya capung besi Bell 412 ini melengkapi jajaran pesawat udara di Puspenerbal menjadi 62 unit. 


Sumber : Surya

Helikopter AS 550 Fennec untuk Penerbad

as550fennec 1 Helikopter AS 550 Fennec untuk Penerbad
AS 550 Fennec


JKGR-(IDB) : Selain memesan 8 unit AH 64 Apache, TNI AD terus memperkuat skuadron helikopter dengan berencana mendatangkan AS 550 Fennec multi-role helicopter, untuk mendampingi MI-35, MI-17.
Mesti berbadan kecil dan single engine, namun varian terbaru AS 550 Fennec sangat mematikan. Helokopter AS 550 C2 dilengkapi HeliTOW sighting system dan TOW anti-tank missiles.
HeliTOW sight ini, dipasang di atap helikopter untuk menyuplai: direct view optics+ day and night vision serta laser rangefinder.
Untuk persenjataan serang darat, AS 550 C2 Fennec mengusung 7 misil x 2 roket launcher Forges de Zeebrugge atau 12 x 2 roket launcher Thales Brandt 68mm. 
Fennec juga bisa membawa empat rudal anti-tank seperti BGM-71 TOW atau anti-pesawat (air to air missile). Bahkan varian AS 555 SN, mengusung torpedo sebagai anti-submarine warfare.
 
fennec 381 Helikopter AS 550 Fennec untuk Penerbad
AS 550 Fennec

Persenjataan lainnya adalah: Senjata mesin Giat 20mm tipe M621, FN Hershal twin 7.62mm dan 12.7mm machine gun pod. Sistem surveillance dan observation-nya menggunakan Forward-looking infrared (FLIR), optical cameras dan Spectrolab SX 16 searchlights.
Heli ini juga bisa menggunakan Radar warning receiver Thales Detexis EWR-99 dan countermeasures Alkan ELIPS.
Fennec PT DI
Helikopter AS 550 Fennec untuk Angkatan Darat, akan diproduksi PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Saat ini, PT DI sedang mengembangkan dua helikopter baru untuk menggantikan NBO 105 yang produksinya bakal berakhir. 
“Kedua jenis helikopter yang akan diproduksi adalah Fennec dan Ecureuil. “Kami sudah menandatangani kerjasama lanjutan dengan Eurocopter”, ujar Juru bicara PT DI, Rakhendi Triyatna. 
“Produksi helikopter terbaru Fennec (militer) dan Ecureuil (sipil) bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pasar di dalam negeri terutama untuk TNI”, ujar Rakhendi Triyatna. 
Fennec0 Helikopter AS 550 Fennec untuk PenerbadSelain untuk kebutuhan dalam negeri helikopter Fennec dan Ecuirrel akan dipasarkan ke berbagai negara. 

Pengguna helikopter Eurocopter AS 550 Fennec antara lain: Militer Malaysia, Singapura, Thailand, Royal Australian Army, Angkatan Darat dan Udara Brasil, Angkatan Darat Denmark, Perancis, Uni Emirat dan Pakistan.
 


Helikopter AS 550 diproduksi oleh Perancis serta lisensi untuk Brasil, China dan Indonesia.
Hingga saat ini 3150 helikopter Fennec telah dipesan pembeli dari 70 negara dan 2500 diantaranya telah dikirim.
Helikopter ini mampu 6 penumpang berikut persenjataannya. Fennec memiliki automatic direction finder (ADF) dan distance measuring equipment (DME). Dalam operasinya pilot akan dipandu oleh dual layar LCD yang menampilkan sistem senjata dan engine parameter.
fennec di frigate Helikopter AS 550 Fennec untuk PenerbadAS 550 dilengkapi single Turbomeca Arril 2B engine, yang mampu menyediakan 632 kW untuk take-off power. Kecepatan maksimum 287km/jam, jelajah 258km/jam dan mampu terbang 4 jam lebih.

Pada tahun 2005, Pasukan Denmark menggunakan helikopter Fennec untuk mendukung pasukan mereka di Irak.

Selain helicopter Fennec, PT DI juga bekerjasama dengan Eurocopter, Perancis untuk memproduksi helikopter EC 725 dan EC 225. Namun untuk dua jenis helikopter ini, PT DI hanya membuat badan dan ekor helikopter. Sedangkan perakitannya dilakukan oleh Eurocopter di Perancis.


Sumber : JakartaGreater

Iran Mampu Produksi Helikopter Tempur

TEHRAN-(IDB) : Wakil Komandan Angkatan Darat (AD) Iran Kioumars Heidari mengatakan, Iran akan melakukan uji coba atas helikopter pertama buatan Negeri Persia itu. Menurut Heidari, uji coba akan dilakukan selama latihan pasukan Angkatan Udara (AU) Iran dalam waktu dekat.

"Ini merupakan helikopter militer pertama yang diproduksi oleh Iran. Model helikoptdr Iran ini mirip dengan helikopter jenis American Bell 209 Sea Cobra yang dilengkap dengan berbagai rudal milik Amerika Serikat (AS)," ujar Heidari, seperti diberitakan Fars yang dikutip Trend, Kamis,(24/5/2012).

Lebih lanjut Heidari menjelaskan, desain dan pembuatan helikopter dilakukan sendiri oleh para ahli Iran. Bahkan, Heidari mengklaim dalam beberapa hal helikopter pertama milik Iran ini unggung dibanding helikopter Apache milik AS.
Namun, Heidari tidak menjelaskan lebih rinci dimana letak keunggulan helikopter milik Iran itu.

"Dalam latihan AU nanti juga akan dilakukan uji coba terhadap rudal dan roket anti-tank. Saat ini Iran tidak akan menggantungkan kebutuhan akan pembuatan helikopter kepada negara manapun," tutur Heidari.

Iran saat ini dikabarkan terus mengurangi ketergantungannya akan berbagai peralatan militer ke negara lain. Sebelum mengumumkan akan melakukan uji coba helikopter pertamanya, pada April lalu Panglima Angkatan Darat Iran Brigadir Jenderal Ahmadreza Pourdastan diketahui sempat mengatakan, pihaknya akan memodifikasi kendaraan lapis bajanya, Zulfigar.

Bahkan Jenderal Iran itu menjanjikan, pihaknya akan menjadikan Zulfigar sebagai kendaraan lapis baja terbaik di dunia.


Sumber : Okezone

Mi-28NE Havoc Helicopter To Be Displayed At Moscow Expo

MOSCOW-(IDB) : The Mil Mi-28NE Havoc (Night Hunter) attack helicopter and 49 other military exhibits will be displayed by 14 Russian organizations at the 5th International Helicopter Industry Exhibition (HeliRussia 2012) in Moscow, the Federal Service for Military and Technical Cooperation reported.

The exhibition will be held on May 17-19 at the Crocus Expo exhibition center in the Russian capital’s northwest. Russia’s Industry and Trade Ministry is its organizer.


Russia’s state arms exporter Rosoboronexport, the Rostvertol and Kamov helicopter manufacturers and the Mil Moscow Helicopter Plant and other organizations will display products at the exposition.


Deputy Prime Minister Dmitry Rogozin will attend the exhibition’s opening.

The event will also be attended by over 100 representatives from 56 countries, including Afghanistan, Brazil, India, Saudi Arabia, the United States, Turkmenistan, France and others.



Overall, 147 Russian organizations and 53 foreign companies from 17 countries will participate in the exhibition

Source :  Defencetalk

TNI Kirim 3 Tim Helikopter Penjaga Perdamaian ke Kongo

BOGOR-(IDB) : TNI akan memberangkatkan tiga tim helikopter yang mengangkut sekitar 100 personil pasukan, untuk menjaga perdamaian di Kongo. Pengiriman pasukan penjaga perdamaian ini dilakukan atas permintaan Sekjen PBB Ban Ki Moon, saat berkunjung ke Indonesia beberapa waktu lalu.

"Itu request dari UN dari sekjend PBB, jadi waktu beliau berkunjung ke sini beliau langsung meminta. Setelah ada masukan dari Panglima TNI dan Kepala Staf ternyata kita memiliki kemampuan dan akhirnya kita mensupport," Kata Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI, Brigjend TNI Imam Edi Mulyono, dalam Konfrensi persnya di kawasan Indonesia Peace and Security Center (IPSC) Sentul, Bogor, Jawa Barat, Jumat (4/5).


Imam menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan satu sesi keberangkatan dengan tiga tim Helikopter jenis MI 17. "Kami menyiapkan satu sesi, dengan menyiapkan 3 tim helikopter dari Puspenerbat, yang dalam waktu dekat akan segera diberangkatkan. Dan ini terdiri dari 3 unit MI 17 dan rencana penugasannya ke kongo," terangnya.


"Tiga helikopter itu total semuanya ada 100-an personil. Karena ada support unit, dan ada juga kesatuan pengamanan helikopternya itu," imbuhnya.


TNI dalam waktu dua tahun ke depan, memiliki target untuk menambah jumlah pasukan dalam misi penjaga perdamaian dunia menjadi 4.000 personel, dari sekarang yang hanya berjumlah sekitar 1.800 personel.


Hal itu sesuai instruksi Presiden SBY yang mengharapkan agar Indonesia lebih berperan di dunia Internasional dalam membantu menjaga perdamainan dunia, serta menjadi fasilitator di negara-negara konflik. 

Sumber : SCTV

Penerbal Menjajaki Pembelian Helikopter AKS

JAKARTA-(IDB) : Komandan Pusat Penerbang TNI Angkatan Laut (Penerbal) Laksamana Pertama TNI Sugianto menyatakan masih terus menjajaki jenis helikopter anti kapal selam (Seasprite) yang akan memperkuat jajaran TNI dalam melakukan pengawasan perairan Indonesia.

"Masih terus melakukan penjajakan jenis helikopter anti kapal selam itu. Tahun ini diintensifkan, selain penjajakan juga mencoba sendiri keunggulannya," kata Sugianto disela uji coba Heli NBell-412EP di PT Dirgantara Indonesia Bandung, Selasa.

Menurut Sugianto, saat ini dibutuhkan satu skadron heli anti kapal selam. Minimal dalam waktu dekat ini ada setengahnya atau enam unit sudah mencukupi kebutuhan dalam rangka meningkatkan kemampuan pengawasan perairan di Indonesia.

Namun tidak disebutkan dari negara mana helikopter mutakhir yang bisa mendeteksi kehadiran kapal selam dan bahkan menghancurkan di tengah lautan.

"Kita cek dulu, coba dulu keunggulannya, jangan sampai spesifikasinya tidak cocok dengan yang kita butuhkan," katanya.

Menurut Sugianto, pesawat-pesawat itu akan ditempatkan di KRI-KRI yang memiliki halipad. Kehadiran helikopter di KRI adalah merupakan kepanjangan mata dan telinga dari kapal TNI AL. Laut Indonesia yang luas tidak memungkinkan untuk dijangkau oleh KRI mengingat kekuatannya yang terbatas.

Helikopter anti kapal selam memiliki spesifikasi untuk manuver yang handal di lautan. Selain memiliki kemampuan terbang dengan kecepatan tinggi, juga harus mampu bermanuver saat menurunkan perangkat sonar pendeteksi kapal selam.

"Heli itu dilengkapi dengan alat pendeteksi kapal selam yang diturunkan ke laut, selanjutnya hasilnya dideteksi di pesawat untuk selanjutnya memastikan kehadiran kapal selam. Kemampuan manuvernya saat menurunkan alat pendeteksi sangat diprioritaskan," katanya.

Sementara itu dalam waktu dekat ini, TNI AL akan mendapat tambahan tiga pesawat heli NBell 412EP produksi PT Dirgantara Indonesia. Satu diantaranya sudah rampung, sedangkan dua lainnya dalam tahap penyelesaian.

"Ditargetkan pada HUT TNI AL pertengahan 2012 ini, NBell terbaru kami dipamerkan di sana," kata Sugianto.

Pesawat NBell 412EP memiliki keunggulan dibandingkan NBell pendahulunya, karena dilengkapi dengan Auto Pilot yang memungkinkan pesawat dikendalikan secara otomatis dan mengurangi beban pilot dalam mengoperasikannya. 

Sumber : Antara

Danpuspenerbal Terbangkan Sendiri Helikopter Pesanan Dari PT.DI

BANDUNG-(IDB) : Komandan Pusat Penerbangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Sugianto, menerbangkan sendiri helikopter tipe Bell 412EP dari tempat perakitannya di PT Dirgantara Indonesia. Hal itu menjadi bagian dari uji coba helikopter pesanan TNI AL kepada PT DI.

Uji coba penerbangan dilakukan di kompleks PT DI, Selasa (17/4/2012). Sekitar pukul 10.00, Sugianto menerbangkan sendiri helikopter didampingi instruktur dari Bell serta pejabat PT DI yakni Vice President Bisnis dan Pemerintahan, Irzal Rinaldi, dan Direktur Aircraft Integration, Budiman Saleh.

Dimulai dengan terbang rendah berjarak kurang dari sepuluh meter dari permukaan tanah, helikopter melaju sejauh 200 meter hingga tiba ke landasan pacu Bandara Husein Sastranegara. Tidak lama kemudian helikopter naik ke atas dan menuju Bandara Halim Perdanakusuma.

Sesampai di sana, helikopter dijadwalkan untuk berputar kembali ke arah Bandung dan mendarat di tempat semula.

Humas PT DI, Rakhendi Priatna, menjelaskan bahwa pihaknya tengah merampungkan tiga unit pesanan helikopter dari TNI AL. Satu unit sudah dikirimkan.

"Dua unit sisanya bakal dirampungkan dalam waktu dekat ini," kata Rakhendi.Hingga berita diturunkan, helikopter tersebut belum kembali ke PT DI.   

Sumber : Kompas

Apache Block III Helicopter Performs Well In Tests

WASHINGTON-(IDB) : The U.S. Army's AH-64 Apache Block III next-generation attack helicopter is finishing up its Initial Operational Test and Evaluation at Fort Irwin, Calif., and should be ready to deploy with Soldiers sometime next year, officials said April 2 at the Army Aviation Association of America's 2012 Professional Forum and Exposition.

The nitial Operational Test and Evaluation, known as IOT&E, is a series of combat-like assessments and evaluations placing the aircraft in operationally relevant scenarios as a way to prepare the platform for full-rate production, said Col. Shane Openshaw, project manager, Apache Attack Helicopters.

Although formal results of the Block III Apache's IOT&E are still in the process of being determined, preliminary observations and early indications suggest the high-tech aircraft is performing extremely well, Openshaw said. The force-on-force portion of the IOT&E has been completed and some live-fire exercises remain in coming days, he added.

So far, the Army has already taken delivery of 10 of the Boeing-built AH 64 Apache Block III aircraft, a helicopter engineered to bring the Apache fleet improved, next-generation range, performance, maneuverability and electronics. Total planned procurement for the Apache Block III is 690 aircraft.

The Block III Apache is being engineered such that an advanced, high-tech aircraft at the weight of the D model can have the power, performance and landing abilities of an original A model Apache. The current D-model Longbow Apache is heavier than the original A-model; the heavier Apache carries significantly improved targeting and sensing capabilities but lacks the transmission-to-power ratio and hard-landing ability of the initial A model.

"I had the opportunity to fly a Block III Apache a week ago and I will tell you the performance of the aircraft is tremendous," Openshaw said. "It's fast, strong and capable. We have also made improvements to the target acquisition platform. The backbone of the aircraft is an open-system architecture with improved mission command and interoperability."

Apache Block III Helicopter Performs Well In Tests
Engineering the aircraft with an open-system architecture refers to efforts to design the electronics such that they have a "plug-and-play" capability and can easily integrate with current state-of-the-art and emerging next generation technologies, officials said.
 
The idea is to maximize interoperability by developing electronics and computing technologies according to a set of established technical standards through a "system-of-systems" type of approach so that new systems, sensors, applications, electronics, avionics and other technologies such as software-programmable radio can successfully inter-operate and work effectively with one another, they explained.

Built in this fashion, the Apache Block IIIs' avionics and mission equipment will be able to perform sophisticated "networking" and on-board computing functions and more easily accommodate valuable emerging capabilities, they said.

The Block III Apache is also engineered with what's called Level 4 Manned-Unmanned Teaming, or MUM capability, a technology wherein Apache pilots can not only view video feeds from nearby UAS systems scanning surrounding terrain, but can also control the UAS' sensor payload and flight path as well, Openshaw said.

In fact, the Gray Eagle UAS participated in the Manned Unmanned Teaming exercises during the Apache Block III IOT&E at Fort Irwin.

Called the UTA, or UAS Tactical Common Data Link Assembly, the new technology enhances pilots' ability to view and control nearby UAV assets with a mind to intelligence, targeting information and overall situational awareness. Army engineers have developed the software that equips the aircraft with this next-generation capability.

The advent of this technology is leading the Army to establish new tactics, techniques and procedures designed to maximize the value of the emerging technological capability, said Col. John Lynch, U.S. Army Training and Doctrine Command capability manager.

"For example, with the Block III Apache you might have a UAS that's overhead looking down into urban canyons; with Manned-Unmanned Teaming you have the ability to designate targets and you can see what is in the area where you are going to operate," Lynch said.

The Block III Apache will also bring improved endurance and payload capabilities to the attack helicopter platform; the Block III aircraft will be able to transport a larger amount of ammunition and fuel in what is described as "high-hot" conditions at altitudes of 6,000 feet and temperatures at or above 95 degrees Fahrenheit.

"With Block III you will be able to fly longer with more ammunition and a full tank of gas on missions because the aircraft has an improved drive train, composite rotor blades and increased performance capabilities," Lynch added.

Some of the Block III aircraft will be re-manufactured Block II D-model Apaches and, when full-rate production starts, some of the aircraft will be constructed with entirely new airframes, Openshaw explained.

Throughout its decades-long existence, the Apache platform has consistently upgraded and sustained its capability in order to incrementally incorporate new technologies as they emerge and bring the latest in capability to Soldiers. In fact, all but 51 of the 721 Apache aircraft in the Army inventory began as the initial or first variant, called A-model Apaches; many of these original aircraft were then subsequently remanufactured to become improved D-model Longbow Apaches engineered with Fire Control Radar and improved electronics.

Today, only eight A-model Apaches remain in the fleet, Openshaw said.

Also, Apache attack helicopters will soon be flying with a prototype enemy fire detection system called Ground Fire Acquisition System, or GFAS, a suite of sensors and cameras able to locate the source, location and distance of incoming hostile fire, Army officials said.

Prototypes of the GFAS systems, which will soon undergo a "user evaluation" in theater, are built on to Apache aircraft; they contain camera sensors on each wingtip engineered to detect the signature and muzzle flash of nearby enemy small arms fire. The system is engineered with the ability to distinguish small arms fire from larger guns and rocket-propelled grenades.

The cameras and infrared sensors on the aircraft detect the muzzle flash from ground fire and move the information through an Aircraft Gateway Processor into the cockpit so pilots will see an icon on their display screen; GFAS is integrated with Blue Force Tracking technology, digital map
display screens which show the locations of nearby forces and surrounding terrain.

Apache program officials praised the performance of the attack helicopter platform in theater, calling it the world's most lethal, capable attack helicopter.

"Most of the air assaults we conducted relied upon the Apache platform. Two things you can't talk about enough are the pilots that fly them and the guys inside the cockpit that get the mission done. They are dedicated to supporting the guys on the ground," said Lt. Col. Christopher Downey, Task Force Six Shooters, who spent time with Apache attack helicopter units assigned to RC East, Afghanistan in 2007 and 2008.

Source : Defencetalk