Tampilkan postingan dengan label Pesawat Angkut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Angkut. Tampilkan semua postingan

System Canggih Pesawat CN-295

SEVILLA-(IDB) : CN295 dilengkapi sistem Fully Integrated Tactical System (FITS) yang berfungsi mengintegrasikan, mengendalikan, dan menampilkan sensor, meningkatkan kewaspadaan dan memfasilitasi pengambilan keputusan.

Didukung FITS, CN295 mampu menunaikan berbagai misi antara lain mengangkut pasukan, kargo, evakuasi, komunikasi dan logistik, pencarian dan pertolongan (SAR), pengintaian dan pengendalian, sampai dropping udara, dengan waktu perubahan konfigurasi sangat cepat, sehingga mengurangi risiko terpapar musuh.

CN295 secara opsional juga dilengkapi sistem perlindungan diri antara lain cockpit berpanser, peringatan radar (RWR), peringatan rudal (MAWS), peringatan laser (LWS), dan pelontar bola api untuk mengecoh rudal, juga kemampuan mengisi bahan bakar di udara.

Pesawat ini dengan panjang body 24,45m, bentang sayap 25,81m, berat kosong 11.000kg, kecepatan jelajah 480km/jam ini juga tersedia dalam versi anti kapal selam dan sistem intelijen, pengintaian dan mata-mata yakni Airborne Early Warning and Control (AEW&C) dengan radar IAI/ELTA 4th Generation Active Electronically Scanned Array (AESA).

"Kemampuan serupa AWACS tersebut bisa mendeteksi musuh dalam radius 400km. Tambahan lainnya adalah persenjataan untuk mendukung pasukan darat, konvoi, fasilitas, dll," ujar Airbus Military Press Officer, Media Relations Communications Javier Lopez kepada detikcom, Rabu (19/9/2012).

Dalam peran militernya, CN295 bisa digunakan untuk pengangkutan taktis pasukan dan catu logistik yang diperlukan seperti air, makanan, amunisi, obat-obatan, dan suku cadang.

Juga penerjunan pasukan para, aktivitas antiterorisme, serta pengawasan perbatasan berkat sistem pengintaian di dalamnya.

Disebutkan bahwa pesawat ini juga ideal untuk misi-misi non militer antara lain pertolongan kemanusiaan dan evakuasi pada bencana alam, pengintaian dan pemantauan imigrasi ilegal, penyelundupan narkoba, pencurian ikan di wilayah laut Indonesia, pengawasan pencemaran laut, sampai penebangan liar (illegal logging).


Kecanggihan Pesawat Cn-295 Versi TNI AU


CN295 adalah pesawat angkut taktis militer generasi baru sangat serbaguna, kuat dan andal, mampu mengangkut muatan sampai 9 ton atau 71 personel, dengan kecepatan jelajah maksimum 480 km per jam.

Hal itu disampaikan Atase Pertahanan RI di Madrid Kolonel CAJ Erry Herman kepada detikcom seusai mendampingi Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, delegasi High Level Committee dan Dubes pada upacara serah terima 2 dari 9 pesawat CN295 di Airbus Military, San Pablo, Sevilla, Spanyol (19/9/2012).

Menurut Athan, sebanyak 9 pesawat CN295 ini dimaksudkan untuk menggantikan Fokker F-27 TNI AU yang memang sudah tua.

Sementara itu Press Officer, Media Relations Communications Airbus Military Javier Lopez dalam keterangannya menjelaskan, CN295 merupakan pesawat dengan jejakan ringan untuk memungkinkan operasi-operasi di landasan pendek kurang dari 670 meter dan landasan perintis lunak atau keras.

Kemampuan short take-off & landing/STOL (tinggal landas dan mendarat di landasan pendek, red) ini memungkinkan CN295 dioperasikan dalam medan paling sulit dengan kondisi terburuk untuk take off dan landing.

Dilengkapi dengan landing gear yang dapat dilipat dan kabin bertekanan, pesawat ini mampu menjelajah dengan ketinggian hingga 25.000 kaki.

Pesawat ini juga dirancang untuk memberikan karakter terbang tingkat rendah yang luarbiasa untuk misi-misi taktis sampai 110 knot.

Didukung dua mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PW127G, CN295 memberi kemampuan manuver yang sangat baik, kinerja panas dan kinerja tinggi yang luarbiasa, juga irit konsumsi bahan bakar, sehingga daya tahannya sangat lama sampai sebelas jam di udara.

Desain sistemnya yang simpel dan tangguh, keandalannya yang teruji, kualitas terbangnya yang sangat baik dan fleksibilitasnya yang besar, serta kemampuan angkutnya yang luar biasa membuat CN295 "pekerja keras" paling efisien dengan biaya operasi dan pemeliharaan terbaik di kelasnya.

Selain itu CN295 juga memiliki kabin terpanjang di kelasnya, yang memungkinkan pesawat ini menunaikan misi harian menjadi optimal. Dengan panjang 12,7 meter, CN295 mampu membawa palet kargo lebih banyak sampai lima 88 x 108 inch standar HCU-6E.

CN295 memiliki keandalan luar biasa untuk setiap jenis operasi angkut militer atau pertolongan sipil dan kemanusiaan dalam medan paling bervariasi, mulai dari medan padang pasir sampai ke pegunungan, dari kawasan panas dan kering sampai lembab atau sangat dingin.

Sertifikasi sipil dan militer menjamin CN295 memenuhi tuntutan peraturan kelaikan penerbangan dan standar keselamatan internasional, termasuk persyaratan ketat FAR 25.



Sumber : Detik

Wamenhan: CN295 Ini Batu Loncatan Industri Pertahanan RI

SEVILLA-(IDB) : Serah terima 2 pesawat angkut taktis menengah CN295 ini merupakan batu loncatan untuk peningkatan industri pertahanan Indonesia dan kerjasama strategisnya dengan Airbus Military.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Pertahanan Letnan Jenderal (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin dalam sambutan upacara serah terima dengan Airbus Military Vice President Head of Programmes Light & Medium and Derivatives Rafael Tentor di Airbus Military, San Pablo, Sevilla, Spanyol, Rabu (19/9/2012)

"Kesembilan pesawat CN295 hasil kerjasama PTDI dan Airbus Military ini dipesan oleh Kementerian Pertahanan untuk memenuhi target modernisasi TNI dan memenuhi makna angkatan bersenjata," ujar Wamenhan.

Atas nama pemerintah Indonesia, Wamenhan juga mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada pemerintah Spanyol atas dukungannya untuk program ini, juga kepada PTDI dan Airbus Military, tidak hanya untuk 9 pesawat tersebut tetapi juga kerjasama strategis jangka panjang.

Sebagaimana disampaikan Atase Pertahanan RI di Madrid Kolonel CAJ Erry Herman kepada detikcom, pesawat angkut taktis menengah militer ini selanjutnya akan memperkuat TNI AU untuk berbagai keperluan militer, logistik, misi evakuasi kemanusiaan dan medis di seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu Vice President Airbus Military Rafael Tentor dalam sambutannya mengatakan, penyerahan 2 pesawat ini adalah bagian dari total penjualan 9 pesawat CN295 kepada Indonesia, dimana penyerahan akhir akan dilakukan pada musim panas 2014.

"Pengiriman pesawat ini merupakan langkah penting dalam kerjasama Airbus Military dengan PTDI dan kami sangat berharap dapat meningkatkan kerjasama di tahun-tahun mendatang," ujar Tentor.

Generasi baru CN295 adalah pesawat ideal untuk misi militer dan sipil antara lain operasi bantuan kemanusiaan, patroli laut, dan misi pengintaian lingkungan. Kedua pesawat ini diharapkan sudah bisa dipresentasikan pada HUT TNI 5 Oktober mendatang.

Berkat ketahanan dan kehandalan, dan sistem yang sederhana, pesawat taktis menengah ini memberi versalitas dan fleksibilitas luas yang diperlukan bagi personel, pasukan dan kargo, evakuasi korban, komunikasi dan tugas-tugas logistik serta air-dropping.

Ikut hadir delegasi High Level Committee (HLC) antara lain Dirjen Renhan Marsda Sunaryo, Ka Baranahan Kemhan Mayjen Ediwan Prabowo, Aslog Kasad Mayjen Joko Sriwidodo, Aslog Kasau Marsda JFP Sitompul, Kabag Fora Set Baranahan Kemhan Kolonel Laut (E) Listyanto, dan Kasubag Duk Mayor Laut (KH) Isam Hadi, Deputi Bidpol Hukum dan Hankam Bappenas RI Rizky Ferianto, dan Kasubditwas Lembaga Pemerintah Bidang Hankam BPKP Bea Rejeki Tirta Dewi.

Kemudian Duta Besar Adiyatwidi Adiwoso Asmadi, Atase Pertahanan RI Kolonel CAJ Erry Herman, Dirut PTDI Budi Santoso, Direktur Aerostruktur Andi Alisjahbana, Sales Marketing Aircraft Integration Ariwibowo, dan Asisten Dirut Hubungan Kepemerintahan Irzal Rinaldi.

Selain itu juga dari Bank BRI selalu pihak finance yang menyediakan bridging loan: Managing Director BRI Asmawi Syam, Senior Vice President Susy Liestiowaty, dan Senior Vice President M. Sodo Harisetyanto.



Sumber : Detik

Indonesia Takes Delivery of First Two Airbus Military C295 Aircraft

19 September 2012

The delivery of the ninth and last aircraft ordered is scheduled for summer 2014. (photo : Airbus Military)

Indonesiahas taken delivery of two Airbus Military C295 transport aircraft ordered in February this year. The aircraft are the first of nine to be delivered to the Indonesian Ministry of Defence under the terms of a contract signed by  Airbus Military and PT Dirgantara Indonesia (PT DI).

The delivery took place in the Airbus Military San Pablo site in Seville, where the C295 final assembly line is located, at a ceremony attended by the Indonesian Vice Minister of Defence, Lt. Gen. (ret) Sjafrie Sjamsoeddin, and Airbus Military Vice President Head of Programmes Light & Medium and Derivatives, Rafael Tentor.

The aircraft will be operated by the Indonesian Air Force and known in service as the CN295. It will perform a wide variety of roles including military, logistical, humanitarian and medical evacuation missions throughout the huge territory of Indonesia, which includes around 17,000 islands. The delivery of the ninth and last aircraft ordered is scheduled for summer 2014.

Rafael Tentor said: “The delivery of these aircraft is an important step in Airbus Military´s collaboration with the Indonesian aerospace  industry and we greatly look forward to increasing our level of co-operation in the years ahead.” To date, Airbus Military has sold 114 C295s. After the entry in service of these aircraft there will be 88 C295s in operation in 15 countries all over the world.The attached photograph shows the delivery ceremony held in Seville.

Largest Transport Aircraft of the Vietnamese Air Force

18 September 2012

Currently, An-26 played a key role aircraft in Vietnam's Air Force transport (photo : ttvnol, airliners, jetphotos)

Transport aircraft An-26 Soviet design from the 1960s, made ​​a major role military cargo. When needed, itcan also be used to transport troops even to deploy troops.


Soviet first transferred An-26 to Vietnam in the early 1980s. Today, the An-26 is mainly asset at the Air Force Division 371 units.


It can be said, An-26 is the largest transport aircraft in the Vietnam People's Air Force. Load of the An-26 is about 5.5 tons (or 40 passengers).


Aircraft equipped with two turbine rotors Progress AI-24VT allows to reach a speed of 440km / h, range 2,500 km (maximum carrying fuel) or 1.100km (maximum carrying load), ceiling 7.500m.

Embraer Brazil Tawarkan Pesawat Militer Angkut Berat Ke Indonesia

MALANG-(IDB) : Setelah pesanan pasti empat dari delapan pesawat tempur kontra penyusup EMB-314 Super Tucano diserahkan kepada TNI AU, Embraer Brazil berniat menawarkan pesawat transport berat.

"Bisa menggantikan C-130 karena daya angkut maksimalnya hingga 20 ton sementara Hercules cuma 12,5 ton saja. Pangsa pasarnya beda karena ini memiliki keunggulan tersendiri," kata CEO Embraer Brazil, Luiz C Aguiar, di Pangkalan Udara Utama TNI AU Abdurrahman Saleh, Malang, Senin siang.

Bersama Duta Besar Brazil untuk Indonesia, Paulo Alberto da Silveira Soares, dia menyerahterimakan empat Super Tucano itu kepada Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, yang kemudian menyerahkan lagi kepada Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Imam Sufaat.

Aguilar sengaja datang dalam upacara serahterima empat Super Tucano yang beberapa waktu lalu menginjakkan ban-ban roda pendaratnya di Tanah Air setelah meninggalkan Brazil dua pekan lalu. Indonesia adalah pengguna pertama Super Tucano di Asia-Pasifik.

Dia tidak mengungkap secara persis jenis dan tipe pesawat angkut militer bermesin jet yang dikatakan itu. Akan tetapi, Embraer memiliki KC-900 yang difungsikan sebagai pesawat angkut berat dan tanker udara. Juga C-390 dengan rancangan futuristik yang fuselage-nya menyerupai paus, ditenagai dua mesin jet.
 
Indonesia telah memilih C-295 buatan Airbus Military sebagai pesawat angkut ringannya, mendampingi CN-235. Bicara soal pesawat transport militer, Embraer berhasil meyakinkan Angkatan Udara India untuk memilih EMB-145 sebagai pesawat peringatan dini dan pengatur pertempuran (AWACS).

Di Indonesia, nama Embraer sebagai produsen pesawat terbang telah lebih dulu ternama di bidang pesawat jet eksekutif dengan konfigurasi mewah, di antaranya Phenom 100 dan Legacy 600. 

Bagi Embraer, kata Aguilar, kenyataan Indonesia memilih Super Tucano adalah sangat penting. "Ini memberi kesempatan bagi kita bersama membangun kerja sama yang baru, yang saling menguntungkan," katanya. 
 
 
 
Sumber : Antara

Sekjen Kemhan Lakukan Pembicaraan Lanjutan Proses Hibah C-130


JAKARTA-(IDB) : Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsdya TNI Eris Herryanto, Rabu (12/9) menerima kunjungan AIRCDRE Ian Scott dari Australia di Kantor Kemhan, Jakarta. 

Kedatangannya kali ini adalah untuk membicarakan kelanjutan rencana proses hibah dan pengadaan Pesawat C-130. Pada pertemuan ini, Sekjen menjelaskan proses penganggarannya yang melibatkan beberapa instansi pemerintah dan DPR. 

Saat menerima tamunya, Sekjen Kemhan didampingi oleh Direktur Kerjasama Internasional Brigjen TNI Jan Pieter Ate M.Bus.


Sumber : DMC

TNI AU : Asumsi Sementara Biaya Upgrade Hercules Hibah Tetap US$15 Juta

JAKARTA-(IDB) : Markas Besar TNI Angkatan Udara mengatakan besaran biaya upgrading empat pesawat Hercules C-130 H tetap sebesar US$ 15 juta per unit. "Sementara ini besarannya tetap segitu," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Azman Yunus ketika dihubungi Tempo, Senin,10 September 2012.

Selain menerima hibah empat pesawat bekas dari Australia itu, rencananya pemerintah juga akan membeli enam Hercules seharga US$ 15 juta per unit. Azman enggan menjelaskan adanya biaya tambahan untuk suku cadang Hercules. "Saya tak bisa jelaskan itu. Bukan bagian saya," ujar Azman.

Kementerian Pertahanan menfaku belum dapat memastikan besaran biaya upgrading empat pesawat Hercules buatan Amerika Serikat ini. "Kami belum melihat secara detail apa saja yang perlu diperbaiki dari empat pesawat itu," ujar Sekertaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Eris Herryanto saat dihubungi oleh Tempo, Kamis pekan lalu.

Sebelumnya Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro pernah mengatakan hibah Hercules asal Australia ini menguntungkan. "Dengan menerima hibah Hercules seharga US$ 15 juta, pesawat itu masih bisa dipakai selama 20 tahun," kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro kepada para pewarta beberapa waktu lalu.

Harga tersebut dinilai jauh lebih murah daripada harga baru pesawat Hercules yang mencapai US$ 60 juta. "Sudah termasuk biaya service empat pesawat hibah dan harga enam pesawat yang dibeli," kata Purnomo kala itu.




Sumber : Tempo

Pesawat C-295 Akan Segera Dikirim ke Indonesia

09 September 2012

Indonesia, Rabu (15/2/2012), menandatangani kontrak senilai Rp 2,9 triliun dengan Airbus Military untuk pembelian sembilan pesawat angkut C-295. (photo : Muniz Zaragueta)

Pesawat C-295 Akan Tiba di Halim

JAKARTA, KOMPAS.com - Empat penerbang TNI Angkatan Udara dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma akan tiba di Jakarta dengan membawa pesawat C-295 tanggal 21 September mendatang. Keempat penerbang itu yakni Letkol Pnb Elistar Silaen Komandan Skadron Udara 2 Lanud Halim, Mayor Pnb Destianto, Mayor Pnb Trinanda dan Kapten Pnb Reza Fahlifie.

Saat ini mereka masih berada di Air Bus Military, Sevilla, Spanyol untuk menjalani Training dengan menggunakan pesawat C-295 Air Bus Military selama kurang lebih tiga Bulan dari Bulan Juli sampai September 2012.

"Saat ini program training kami sudah melaksanakan latihan simulator sebanyak 48 jam, mulaidari tanggal 5 Sepember kami sudah flight training degan pesawat C-295 Air Bus Military , dan rencana training sampai dengan tgl 14 September" ujar Komandan Skadron 2 Letkol Pnb Elistar Silaen. Lebih lanjut Komandan Skadron Elistar, mengatakan bahwa latihan training masing-masing pilot dilaksanakan Enam jam terbang. "Rencana ferry pesawat C- 295 Air Bus Military sementara tanggal 17 September dan tiba di Indonesiatanggal 21 September" ujarnya.

Selain Penerbang TNI Angkatan Udara dua penerbang Test Pilot dari PT Dirgantara Indonesia (DI) Ester Gayatri saleh dan Novirsta Mafriando Rusli serta satu Flight Test Engineer Heru Riadhi Soenardi juga melakukan training dengan menggunakan pesawat C-295 di Air Bus Military, Sevilla, spanyol.

Pesawat C-295 buatan Air Bus Military yang bekerja sama dengan PT DI direncanakan akan memperkuat jajaran TNI Angkatan Udara di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma menggantikan operasional pesawat F-27 yang belum lama dinyatakan tidak boleh terbang.

Pesawat C-295 TNI AU Akan Tiba Di Tanah Air Tanggal 21 September

JAKARTA-(IDB) : Empat penerbang TNI Angkatan Udara dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma akan tiba di Jakarta dengan membawa pesawat C-295 tanggal 21 September mendatang. Keempat penerbang itu yakni Letkol Pnb Elistar Silaen Komandan Skadron Udara 2 Lanud Halim, Mayor Pnb Dertianto, Mayor Pnb Trinanda dan Kapten Pnb Reza Fahlifie.

Saat ini mereka masih berada di Air Bus Military, Sevilla, Spanyol untuk menjalani Training dengan menggunakan pesawat C-295 Air Bus Military selama kurang lebih tiga Bulan dari Bulan Juli sampai September 2012.

"Saat ini program training kami sudah melaksanakan latihan simulator sebanyak 48 jam, mulaidari tanggal 5 Sepember kami sudah flight training degan pesawat C-295 Air Bus Military , dan rencana training sampai dengan tgl 14 September" ujar Komandan Skadron 2 Letkol Pnb Elistar Silaen.

Lebih lanjut Komandan Skadron Elistar, mengatakan bahwa latihan training masing-masing pilot dilaksanakan Enam jam terbang. "Rencana ferry pesawat C- 295 Air Bus Military sementara tanggal 17 September dan tiba di Indonesia tanggal 21 September" ujarnya.

Selain Penerbang TNI Angkatan Udara dua penerbang Test Pilot dari PT Dirgantara Indonesia (DI) Ester Gayatri saleh dan Novirsta Mafriando Rusli serta satu Flight Test Engineer Heru Riadhi Soenardi juga melakukan training dengan menggunakan pesawat C-295 di Air Bus Military, Sevilla, spanyol.

Pesawat C-295 buatan Air Bus Military yang bekerja sama dengan PT DI direncanakan akan memperkuat jajaran TNI Angkatan Udara di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma menggantikan operasional pesawat F-27 yang belum lama dinyatakan tidak boleh terbang.  


Sumber : Kompas

Wamenhan : TNI AU Segera Diperkuat 10 Hercules Eks Australia

JAKARTA-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsuddin mengatakan, jika semua persyaratannya terpenuhi, Indonesia akan beli enam Hercules dari Australia. Sebelumnya, Australia telah menghibahkan empat pesawat, sehingga akan punya 10 Hercules baru.

"Kita akan punya total sekitar 30 Hercules guna meng-cover dua touble spot dalam waktu bersamaan, dan tempat berbeda," kata Sjafrie, di Jakarta, Rabu (5/9).


Menurutnya, TNI AU akan punya dua batalion airborne, sekaligus kalau ada bencana alama bisa digerakkan simultan. "Jadi manfaatnya bisa juga kita gunakan untuk linud, transport udara dan operasi kemanusiaan," jelasnya.


Ketika disinggung soal protes ICW terkait proses pengadaan alutsista, Sjafrie mengatakan Kementerian Pertahanan dalam proses pengadaan tidak dilakukan secara homogen, tapi melalui supervisi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan berkonsultasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).


"Kritikan ICW kita anggap kontrol agar kita terus waspada. Tapi selama ini Kemhan lakukan proses pengadaan dapat supervisi dari BPKP dan juga kita konsultasi dengan BPK. Sekarang kalau beli kita pikir transparansi," jelasnya.


Misalnya pembeliaan Main Battle Tank dari Jerman, lanjutnya, beli MBT itu semua masuk boks akuntabilitas terlebih dahulu. "Jadi saya kira kalau ada pengamat mengatakan itu, itu bagaimana kita tingkatkan ketelitian dan kecermatan dalam proses," terangnya.


Terkait rencana pemekaran Armada Laut, Wamenhan mengatakan tergantung dari strategi pertahanan dan dari postrur. "Kita tidak bisa serta merta kembangkan kekuatan bila tergantung anggaran, nanti gagal. Kita gak boleh kembangkan kekuatan kalau nanti melebihi personel yang kita miliki," katanya.


Pasalnya, lanjut Wamenhan, anggaran pertahanan sebanyak 42 persen belanja pegawai. "Jadi setinggi-tingginya anggaran kalau untuk belanja pegawai, nanti pembangunan kekuatan jadi turun. Jad kita sebagai regulator dan policy maker, tidak bisa serta merta katakan iya sebelum lakukan kajian-kajian yang komprehensif secara strategis," ujarnya.


Menurutnya, meski penguatan armada laut selalu berorientasi pada ancaman, namun untuk menanggulangi ancaman itu tidak harus serta merta dengan pemekaran kekuatan.


"Kita bisa dengan hight mobility, atau dengan kemampuan teknologi persenjataan yang kita miliki. Semakin tinggi teknologi persenjataan, semakin kurang pengawasannya, makin efisien penggunaan anggaran rutin," pungkasnya.



Sumber : PikiranRakyat

Wamenhan : Proses Pembelian 6 Hercules dari Australia Belum Dimulai

JAKARTA-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsuddin, mengatakan, rencana pembelian enam Hercules dari Australia harus melewati proses, baik proses administrasi, proses politik maupun proses pembelian. “Ketiga-tiganya itu belum implementasi,” kata Sjafrie Sjamsuddin di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (5/9).

Untuk mengimplementasikan rencana pembelian itu, menurut Sjafrie, Kemhan akan mengajukan proses administrasi yang bersamaan waktunya dengan mengajukan proses politik dengan DPR. Kemhan juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan soal alokasi anggarannya. “Setelah itu baru semuanya bisa jalan ke proses pembelian,” katanya.

Proses pembelian yang disepakati, kata Sjafrie, adalah Army Military Self Office (AMSO), satu bentuk baru Departemen Pertahanan Australia, sama dengan proses Foreign Miliatry Sales (FMS) di Amerika Serikat. “Jadi itu bentuk linearnya adalah proses government to Government,” katanya.

Menurutnya, seandainya proses administrasi, proses politik dan proses anggaran bisa dilakukan maka pembeliannya melalui AMSO.

Sjafrie juga menjamin, proses pembelian alutsista berjalan secara transparan dan akuntabel. Karena proses pengadaan harus terlebih dahulu mendapatkan supervisi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan dikonsultasikan dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Biasanya pembelian selalu berpikir prevention. Artinya, prosesnya bisa dilakukan atau tidak. Jika tidak, apa yang mesti diperhatikan,” katanya.

Sjafrie mencontohkan, pembelian Main Battle Tank seperti Tank Leopard dari Jerman, semuanya masuk di boks akuntabilitas terlebih dahulu, baru dilakukan pembelian. “Jadi kalau ada pengamat yang mengkritik, itu bagian dari upaya bagaimana meningkatkan ketelitian dalam proses pembelian,” katanya.



Sumber : Jurnas

Proses Pembelian 6 Hercules dari Australia Belum Dimulai

05 September 2012

Kemhan akan mengajukan proses administrasi yang bersamaan waktunya dengan mengajukan proses politik dengan DPR (photo : Aus DoD)

Jurnas.com | WAKIL Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsuddin, mengatakan, rencana pembelian enam Hercules dari Australia harus melewati proses, baik proses administrasi, proses politik maupun proses pembelian. “Ketiga-tiganya itu belum implementasi,” kata Sjafrie Sjamsuddin di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (5/9).

Untuk mengimplementasikan rencana pembelian itu, menurut Sjafrie, Kemhan akan mengajukan proses administrasi yang bersamaan waktunya dengan mengajukan proses politik dengan DPR. Kemhan juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan soal alokasi anggarannya. “Setelah itu baru semuanya bisa jalan ke proses pembelian,” katanya.

Proses pembelian yang disepakati, kata Sjafrie, adalah Army Military Self Office (AMSO), satu bentuk baru Departemen Pertahanan Australia, sama dengan proses Foreign Miliatry Sales (FMS) di Amerika Serikat. “Jadi itu bentuk linearnya adalah proses government to Government,” katanya.

Menurutnya, seandainya proses administrasi, proses politik dan proses anggaran bisa dilakukan maka pembeliannya melalui AMSO.

Sjafrie juga menjamin, proses pembelian alutsista berjalan secara transparan dan akuntabel. Karena proses pengadaan harus terlebih dahulu mendapatkan supervisi dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) dan dikonsultasikan dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). “Biasanya pembelian selalu berpikir prevention. Artinya, prosesnya bisa dilakukan atau tidak. Jika tidak, apa yang mesti diperhatikan,” katanya.

Sjafrie mencontohkan, pembelian Main Battle Tank seperti Tank Leopard dari Jerman, semuanya masuk di boks akuntabilitas terlebih dahulu, baru dilakukan pembelian. “Jadi kalau ada pengamat yang mengkritik, itu bagian dari upaya bagaimana meningkatkan ketelitian dalam proses pembelian,” katanya.

Lima Hercules TNI AU Laksanakan Latihan Pratugas PPRC

SUPADIO-(IDB) : Sebanyak lima pesawat Hercules dari Skadron Udara 31 dan Skadron Udara 32 melaksanakan latihan pratugas PPRC di Lanud Supadio, Senin (3/9). Satu persatu pesawat Hercules ini take off dan menuju sasaran. Adapun rute latihan pratugas yaitu Lanud Supadio menuju Tanjung Datuk lalu ke Pulau Benua dan landing kembali di Lanud Supadio. 

Pada latihan pratugas ini Skadron Udara 31 Lanud Halim Perdanakusuma mendukung 3 pesawat Hercules antara lain : pesawat A-1317 dengan pilot Letkol Pnb Eko dan copilot Kapten Pnb Dion, 1321 dengan pilot Mayor Beni dan copilot Kapten Pnb Yayan, pesawat A-1323 dengan pilot Mayor Pnb Fatta dan copilot Kapten Pnb Irwanda dan Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh mendukung dua pesawat Hercules yaitu pesawat A-1305 dengan pilot Mayor Pnb Reza dan copilot Kapten Pnb Fendi dan pesawat A-1312 dengan pilot Letkol Pnb Arifin dan copilot Kapten Pnb Marton. 

Turut menyaksikan fly pass lima pesawat Hercules antara lain : Panglima Divisi (Pangdiv) I/Kostrad Mayjen TNI Daniel Ambat, Kasdiv Brigjen TNI Anas, Komandan Lanud Supadio Kolonel Pnb Kustono, S.Sos dan para pejabat Lanud Supadio, Skadron Udara 1 dan Batalyon 465 Paskhas serta para pejabat TNI AD.


Sumber : TNI AU

Pesawat C-130 TNI AUDukung Latihan Penerjunan

JAKARTA-(IDB) : Pesawat C- 130 Hercules A-1326 dari Skadron Udara 31 Wing 1 Lanud Halim Perdakusuma dengan Captain Pilot Mayor Pnb Beny A; memberikan dukungan latihan penerjunan Pasukan Pengendalian Pangkalan. Oleh satu peleton Pasukan gabungan Batalyon 461 Paskhas dan Yon 464 Paskhas Malang di Lanud Halim Perdanakusuma, Rabu (29/8).

Menurut Lettu Psk Yoga Gautama selaku Komandan Tim Dalpur, latihan penerjunan ini bertujuan untuk pemantapan tiap-tiap satuan. Terjun statis dari ketinggian 1300 feet. Dropping zone nya di Lapangan Terbang Aeromodelling Club Dirgantara III, Lanud Halim P.

Latihan dengan pesawat Herky ini, dikombinasikan dengan latihan Pengendalian Tempur Dalpur serta latihan untuk Jumping Master. Sehari bisa dua kali penerjunan. Setelah terjun untuk kali pertama, dilanjutkan dengan melipat payung, stand-by kemudian lanjut terjun lagi.


Sumber : TNI AU

Government Urged to Get New Aircrafts for Top Officials

24 Agustus 2012

Beechcraft King Air. Philippines government needs at least six new aircrafts—one regional jet, one jet for local travel, two propeller-driven aircrafts (1 Queen Air and 1 King Air), and two helicopters. (photo : executivejetco)

MANILA (Updated) -- The tragic death of Local Government Secretary Jesse Robredo in a plane crash Saturday prompted calls for government to get new aircrafts to ensure safety of high-ranking state officials during out-of-town trips.

The minority bloc in the House of Representatives said government should spend US$85 million (P3.6 billion) for the purchase of at least six new aircrafts.

Robredo and two pilots died Saturday after a chartered Piper Seneca plane carrying them to Naga City crashed before reaching the airport in Masbate City. The Cabinet official and his party came from Cebu for an official business trip when they met the accident. Robredo's aide, June Paolo Abrazado, survived the crash with only a few injuries.

House Minority Leader Danilo Suarez said the government needs at least six new aircrafts—one regional jet, one jet for local travel, two propeller-driven aircrafts (1 Queen Air and 1 King Air), and two helicopters.

"We should not put a tag price in the security of our leaders," he said in a press conference Wednesday.

Suarez said the Airlift Wing of the Philippine Air Force, which has the mandate of providing safe air transport for the President and members of his official family, has a fleet of aircraft and helicopters but most of which are older than Aquino.

Beechcraft Queen Air (photo : flugzeuginfo)

"We are expressing our concern for the safety of the President and his family because, as we are all aware, our country does not have a dedicated Presidential plane and he takes chartered flights for official travel," the close ally of former President Gloria Macapagal-Arroyo said, adding that the new aircrafts will also benefit political leaders after Aquino's term.

Back in August 2009, then President Arroyo reportedly cancelled an order for a presidential jet after the public reacted negatively to the purchase.

Senate President Juan Ponce-Enrile, who held Cabinet positions during the time of then President Ferdinand Marcos, saw nothing wrong of the proposal.

"During our time, we attempted to provide the executives of the government, especially those who are travelling often out of Manila, a safe transportation system. We are an archipelago. You traverse jungles and large bodies of water. When you travel by helicopter, if the helicopter crashes in the sea, there is zero survivability," he said in a chance interview.

He said it is normal for the government to receive criticism if and when it pushes through with the plan given other pressing problems such as poverty.

"That is the burden of leadership. You expect criticism because you cannot please everybody when you make a decision," Enrile said.

The House minority bloc also asked the government to immediately review all modes of public transportation following Robredo's death.

Hibah Hercules Dari Australia Masih Lebih Menguntungkan Daripada Beli Baru

JAKARTA-(IDB) : Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro mengklaim, rencana pemerintah menerima hibah empat pesawat tempur Hercules bekas asal Australia dinilai masih menguntungkan. "Dengan membeli Hercules seharga US$ 15 juta, pesawat itu masih bisa dipakai selama 20 tahun," kata Menteri Purnomo Yusgiantoro kepada wartawan, Jumat, 24 Agustus 2012.

Harga tersebut dinilai jauh lebih murah ketimbang harga baru Hercules baru yang mencapai US$ 60 juta. "Tentu karena cuma seperempat harga jadinya menguntungkan," kata Purnomo menambahkan.


Menurut Purnomo, penerimaan hibah empat unit Hercules tersebut akan bermanfaat karena 15-20 tahun lagi tentu sudah ada teknologi pesawat angkut terbaru. " Jadi hibah ini dapat menguntungkan kita" ujar dia.


Selain menerima hibah, Indonesia juga berencana untuk membeli enam unit pesawat Hercules lainnya dari Australia. Total pembelian 10 unit Hercules tersebut mencapai US$ 150 juta. "Sudah termasuk biaya serviced empat pesawat hibah dan harga enam pesawat yang dibeli," kata Menhan.


Hercules hibah dari Australia, menurut Kementerian Pertahanan, amat dibutuhkan oleh Indonesia. Dari satu skuadron Hercules C-130H (satu skuadron terdiri atas 16 unit) yang bermarkas di Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, hanya tersisa sekitar 12 unit yang siap terbang.


Sumber : Tempo

Kemhan : Hercules Dipilih Karena Sistem Penunjangnya Sudah Ada

JAKARTA-(IDB) : “Kami juga melihat armada yang sudah ada. Operator di Indonesia sudah terbiasa dengan Hercules dan sudah cocok dengan kondisi di Indonesia, ini juga menjadi pertimbangan kami.”

Kementerian Pertahanan menyatakan ketersediaan sistem dan peralatan pendukung adalah salah satu alasan mengapa Indonesia menyetujui hibah empat pesawat angkut militer Hercules C-130 dari Australia.


Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Marsekal Madya Eris Herryanto, mengatakan walaupun ada pilihan lain pesawat serupa seperti Boeing C-17 dengan spesifikasi yang juga bagus, namun dalam pemilihan pembelian alat utama sistem pertahanan (Alutsista), yang dipertimbangkan tidak semata-mata spesifikasi.


“Kami juga melihat armada yang sudah ada. Operator di Indonesia sudah terbiasa dengan Hercules dan sudah cocok dengan kondisi di Indonesia, ini juga menjadi pertimbangan kami,” ujar Eris dalam jumpa pers di Kemenhan, Rabu (15/8).


Selain itu, yang menjadi pertimbangan adalah karena bila membeli pesawat tipe lain, maka harus juga ikut membeli sistem dan peralatan penunjang yang baru untuk menyesuaikan dengan jenis pesawat baru itu.


Dalam kesempatan yang sama, Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan bila membeli pesawat transportasi militer yang baru, maka biaya yang akan dikeluarkan akan bisa tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan meremajakan pesawat yang lama.


“Selain itu, keuntungannya buat kita adalah pesawat yang diremajakan itu akan masih bisa terbang untuk 20 tahun lagi dengan biaya sepertiga dari biaya yang harus dikeluarkan untuk beli pesawat baru. Memang pesawat baru akan punya masa terbang hingga 40 tahun namun kita juga ada pertimbangan teknologi akan banyak berubah dalam waktu 20 tahun,” ujar Purnomo.


Pemberian hibah empat pesawat Hercules ini ditetapkan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Perdana Menteri Australia Julia Gillard, ketika SBY dan rombongan melakukan lawatan kerja ke Darwin, Australia pada awal Juli lalu.


Dengan penambahan unit pesawat Hercules ini, Purnomo mengatakan bahwa pesawat transport TNI AU untuk kegiatan operasi militer selain perang akan semakin besar armadanya.


“Kita perlu pesawat banyak karena wilayah kita yang luas,” ujar Purnomo.


Dijadwalkan hingga semester pertama 2014, Indonesia akan sudah menerima 45 pengiriman berbagai pesanan Alutsista bergerak sebagai bagian dari pencapaian target untuk memenuhi 30 persen kekuatan esensial minimum pertahanan negara yang sudah ditetapkan hingga 2024. 



Sumber : Beritasatu

Proyek N-250 akan Dihidupkan Kembali oleh Habibie

13 Agustus 2012

Pesawat N-250 buatan PT Dirgantara Indonesia (photo : Yongis-Indoflyer)

Habibie Redesain Pesawat N-250
 
MANTAN Presiden BJ Habibie bertekad mewujudkan kembali mimpinya agar pesawat komersial tipe N-250, yang pernah terbang 17 tahun silam tapi kemudian kandas lantaran krisis ekonomi, bisa mengangkasa lagi.

Saat berbicara di Bandung pada Jumat (10/8), dengan mata berbinar-binar Habibie menceritakan langkahnya mewujudkan impian itu. Dua perusahaan, yakni PT Eagle Cap (bukan Eagle Cabin seperti ditulis Media Indonesia, 11/8) milik mantan Dirut Bursa Efek Jakarta Eri Firmansyah dan PT il Thabie milik dua anak Habibie yakni Ilham dan Thareq, yang menyatu di bawah bendera PT Radio Aviation Industry (RAI), akan mendanai program N-250 itu.

Tetapi, kata Habibie, N-250 akan diredesain sesuai dengan selera pasar. "Saya yang punya gambarnya," kata Habibie.

Menurut dia, desain dan mesin akan diperbarui. Semua ditanganinya. "Mereka (BPPT dan PT DI) tidak akan bisa membuat pesawat kalau tidak punya gambarnya," kata mantan Dirut PT Dirgantara Indonesia (PT DI) itu.

Habibie telah mematenkan seluruh rancangannya. Bapak Teknologi Indonesia itu akan berkontribusi pada sumber daya manusia dan rancang bangun pesawat. "Kalau urusan bisnis, biar anak-anak saya," tambahnya.

Habibie bertambah optimistis karena banyak mantan anak buahnya yang bekerja di industri pesawat terbang asing akan kembali ke Indonesia. "Mereka sudah menelpon eyang (panggilan akrab Habibie) menanyakan kapan bisa pulang dan bekerja," ujar Habibie tersenyum lebar.

Pada kesempatan terpisah Eri Firmansyah mengatakan perjanjian kerja sama PT Eagle Cap dan PT il Thabie sudah ditandatangani sekitar seminggu yang lalu.

Namun, Eri belum bisa memerinci kapan program pengadaan pesawat berbaling-baling itu dimulai. "Ini masih tahap awal. Sesudah (penandatanganan) masih akan dilakukan studi karena spesifikasinya berubah," katanya.

Dengan digulirkannya kembali program pesawat N-250, Eri berharap bisa menggairahkan industri penerbangan baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu memproduksi pesawat sendiri.


Hanya Dua

Sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak kalah jika dibandingkan dengan SDM Amerika, Eropa, serta negara maju lainnya. Habibie membuktikan itu.

Menurut dia, di dunia ini baru dua orang yang mendapatkan medali emas Edward Bruner Award, penghargaan yang diberikan badan penerbangan sipil dunia bentukan PBB. Medali itu hanya diberikan setiap 50 tahun sekali. Habibie adalah orang kedua di dunia yang mendapat penghargaan itu untuk kategori ahli perancang keselamatan dan keamanan penerbangan sipil.

Penghargaan diberikan pada 7 Desember 1994 di Montreal, Kanada, sembilan bulan menjelang peluncuran N-250. "Ini fakta sejarah bahwa kualitas SDM Indonesia sama dengan Eropa, Jepang, Amerika, dan China," tegasnya.

Habibie mengatakan dia tidak akan melupakan jasa 'anak-anaknya' yang dulu bekerja di IPTN dan BPPT mewujudkan N-250 dan N-130 bermesin jet. Sampai sekarang Habibie masih memercayai SDM Indonesia. Dengan cara itu dia berharap ada regenerasi para ahli penerbangan.

"Saya mengharapkan ITB, UI, UGM kembali digiatkan dalam riset-riset yang mendukung inovasi nasional," katanya lagi.(AD/X-4)

Prospek Pesawat N-250 Dinilai Cerah

BANDUNG-(IDB) : Pemerintah diminta mengimbau maskapai penerbangan nasional untuk membeli pesawat N-250.

Pengembangan kembali proyek pesawat komersial tipe N-250 dinilai memiliki prospek cerah. Di samping harga yang tidak mahal, pesawat kecil itu sangat cocok dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.


Pengamat penerbangan Universitas Gadjah Mada Arista Atmadjati menilai pesawat yang pernah menjadi produk primadona Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN)--kini bernama PT Dirgantara Indonesia (PT DI)--tersebut ideal bagi pasar Indonesia.


"Harganya terjangkau oleh maskapai-maskapai nasional mulai dari kelas besar, menengah, hingga kecil. Ukurannya pun cocok untuk menerbangi pulau-pulau kecil di Tanah Air," kata Arista, kemarin.


Arista menuturkan, N-250 yang bermain di kapasitas 50-70 tempat duduk sangat cocok untuk mendukung transportasi komuter pulau-pulau kecil atau antarkabupaten. Sebab kebanyakan bandara di sana berlandasan pacu pendek, sekitar 900 meter hingga 1.400 meter. Apalagi, saat ini rute-rute penerbangan antarkabupaten tengah berkembang. Misalnya, rute Bandung-Pangandaran, Halim Perdanakusuma-Tasikmalaya, Yogyakarta-Bandung, atau di luar Pulau Jawa seperti Kendari-Wakatobi dan Raja Ampat-Nabire.


Pesawat N-250, diyakini Arista, akan mampu bersaing dengan pesawat-pesawat sekelas produk perusahaan ternama dunia seperti Fokker, Bombardier, atau Avions de Transport Regional (ATR).


Persaingan

Namun, agar mampu bersaing, pemerintah dinilai perlu mendukung dengan mengimbau maskapai penerbangan nasional untuk membeli N-250. Selama ini, minimnya produksi pesawat terbang domestik membuat maskapai penerbangan nasional terus menggunakan pesawat buatan asing, khususnya Boeing dan Airbus.

Bahkan, Merpati Airlines lebih memilih pesawat tipe MA-60 buatan Xian Aircraft Industry Ltd, China, menggantikan CN-235 buatan PT DI yang telah memiliki lisensi dari otoritas penerbangan Amerika Serikat, Federal Aviation Administration (FAA). "Tanpa campur tangan pemerintah dan dukungan industri penerbangan domestik, pesawat sebagus N-250 pun tidak akan bisa bertahan," kata Arista.


Senada dengan Arista, pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang meminta pemerintah mempromosikan N-250 melalui imbauan Presiden atau Menteri BUMN Dahlan Iskan agar maskapai penerbangan pelat merah menggunakan N-250 bagi penerbangan skala kecil mereka.


"Harus maskapai kita sendiri yang pertama kali menggunakan N-250 untuk menunjukkan kepada dunia luar betapa baiknya produk yang kita hasilkan," tegasnya.


Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo juga berharap upaya mantan Presiden BJ Habibie itu didukung penuh pemerintah. "Karena mulai 2015, seluruh produk asing akan membanjiri Indonesia termasuk pesawat. Apakah kita akan terus memakai produk asing, sedangkan SDM kedirgantaraan dalam negeri sudah ada dan berpengalaman," tegasnya.


Sebelumnya, seusai peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional di Bandung, Jumat (10/8), Habibie menyatakan tekad mewujudkan kembali mimpinya agar pesawat komersial tipe N-250 yang pernah terbang 17 tahun silam, tetapi kemudian kandas lantaran krisis ekonomi, bisa mengangkasa kembali. 


Sumber : MediaIndonesia

Update : Habibie Redesain Pesawat N-250

BANDUNG-(IDB) : Banyak tenaga ahli pesawat dari Indonesia yang kini bekerja di industri pesawat terbang asing siap kembali merealisasikan N-250.
 
Mantan  Presiden BJ Habibie bertekad mewujudkan kembali mimpinya agar pesawat komersial tipe N-250, yang pernah terbang 17 tahun silam tapi kemudian kandas lantaran krisis ekonomi, bisa mengangkasa lagi.

Saat berbicara di Bandung pada Jumat (10/8), dengan mata berbinar-binar Habibie menceritakan langkahnya mewujudkan impian itu. Dua perusahaan, yakni PT Eagle Cap (bukan Eagle Cabin seperti ditulis
Media Indonesia, 11/8) milik mantan Dirut Bursa Efek Jakarta Eri Firmansyah dan PT il Thabie milik dua anak Habibie yakni Ilham dan Thareq, yang menyatu di bawah bendera PT Radio Aviation Industry (RAI), akan mendanai program N-250 itu.

Tetapi, kata Habibie, N-250 akan diredesain sesuai dengan selera pasar. "Saya yang punya gambarnya," kata Habibie.


Menurut dia, desain dan mesin akan diperbarui. Semua ditanganinya. "Mereka (BPPT dan PT DI) tidak akan bisa membuat pesawat kalau tidak punya gambarnya," kata mantan Dirut PT Dirgantara Indonesia (PT DI) itu.


Habibie telah mematenkan seluruh rancangannya. Bapak Teknologi Indonesia itu akan berkontribusi pada sumber daya manusia dan rancang bangun pesawat. "Kalau urusan bisnis, biar anak-anak saya," tambahnya.


Habibie bertambah optimistis karena banyak mantan anak buahnya yang bekerja di industri pesawat terbang asing akan kembali ke Indonesia. "Mereka sudah menelpon eyang (panggilan akrab Habibie) menanyakan kapan bisa pulang dan bekerja," ujar Habibie tersenyum lebar.


Pada kesempatan terpisah Eri Firmansyah mengatakan perjanjian kerja sama PT Eagle Cap dan PT il Thabie sudah ditandatangani sekitar seminggu yang lalu.


Namun, Eri belum bisa memerinci kapan program pengadaan pesawat berbaling-baling itu dimulai. "Ini masih tahap awal. Sesudah (penandatanganan) masih akan dilakukan studi karena spesifikasinya berubah," katanya.


Dengan digulirkannya kembali program pesawat N-250, Eri berharap bisa menggairahkan industri penerbangan baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia mampu memproduksi pesawat sendiri.


Hanya dua
 
Sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak kalah jika dibandingkan dengan SDM Amerika, Eropa, serta negara maju lainnya. Habibie membuktikan itu.

Menurut dia, di dunia ini baru dua orang yang mendapatkan medali emas Edward Bruner Award, penghargaan yang diberikan badan penerbangan sipil dunia bentukan PBB. Medali itu hanya diberikan setiap 50 tahun sekali. Habibie adalah orang kedua di dunia yang mendapat penghargaan itu untuk kategori ahli perancang keselamatan dan keamanan penerbangan sipil.


Penghargaan diberikan pada 7 Desember 1994 di Montreal, Kanada, sembilan bulan menjelang peluncuran N-250. "Ini fakta sejarah bahwa kualitas SDM Indonesia sama dengan Eropa, Jepang, Amerika, dan China," tegasnya.


Habibie mengatakan dia tidak akan melupakan jasa 'anak-anaknya' yang dulu bekerja di IPTN dan BPPT mewujudkan N-250 dan N-130 bermesin jet. Sampai sekarang Habibie masih memercayai SDM Indonesia. Dengan cara itu dia berharap ada regenerasi para ahli penerbangan.


"Saya mengharapkan ITB, UI, UGM kembali digiatkan dalam riset-riset yang mendukung inovasi nasional," katanya lagi.


Sumber : MediaIndonesia