Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan

Tiga Alasan Jerman Dukung Penuh Pembelian Alutsista Oleh Indonesia

BERLIN-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, mengadakan kunjungan kerja ke Jerman, Perancis dan Spanyol  dari Tanggal 17 sampai dengan 24 September 2012. Dalam kunjungan kerja Wamenhan sebagai Ketua High Level Committee (HLC) Kemhan ini didampingi Dirjen Perencanaan Pertahanan Kemhan Marsda TNI Sunaryo, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo, Aslog Kasad Mayjen TNI Joko Sriwidodo, Aslog Kasau Marsda TNI JFP Sitompul. Kunjungan ini dimaksudkan untuk melaksanakan negosiasi dalam proses pembelian atau pengadaan Alutsista TNI sesuai dengan Rencana Strategi 2010 -2014.
 
Mengenai kunjungan Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan tim HLC ke Jerman, Kanselir Jerman Angela Merkel menyatakan memberikan dukungan kepada Indonesia dalam pembelian Alutsista Jerman. Pernyataan tersebut dimuat di  beberapa media Jerman menanggapi kunjungan Wamenhan bersama tim HLC ke Jerman. Kanselir memberikan tiga alasan dukungan terhadap Indonesia dalam pembelian Alutsista Jerman tersebut yaitu ; Indonesia bukan negara yang memiliki banyak hutang, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat, dan Indonesia bukan merupakan negara pelanggar HAM. Kanselir Jerman Angela Merkel juga menegaskan bahwa tidak ada negara lain yang mendikte Jerman dalam penjualan Alutsistanya. 

Dalam   kunjungan Wamenhan di Jerman, Wamenhan dijadwalkan bertemu dengan CEO Rheinmetall, CEO Grob, dan CEO Luersen. Turut serta dalam kunjungan kerja tersebut Deputi Menteri Negara PPN/Ka Bappenas Bid. Polhukhankam Ir. Rizky Ferianto MA, dan Dirut PT. Dirgantara Indonesia Budi Santoso.

Dalam kunjungannya ke Spanyol, Wamenhan direncanakan akan mengunjungi Kementerian Pertahanan Spanyol dan bertemu dengan Menhan Spanyol D. Pedro Morenes Eulate, serta melaksanakan pertemuan dengan State Secretary Bidang Industri Pertahanan Spanyol. 



Sumber : DMC

Berlin : Israel Tak Punya Hak Veto Atas Jerman

BERLIN-(IDB) : Menteri Pertahanan Jerman Thomas de Maiziere menolak kekhawatiran Israel terkait kemungkinan penjualan kapal selam ke Mesir.
 
"Tidak ada negara di dunia yang memiliki hak veto atas keputusan-keputusan yang dibuat oleh pemerintah Jerman," kata de Maiziere seperti dikutip Frankfurter Rundschau pada Sabtu (15/9), ketika diminta untuk mengomentari kemungkinan penjualan dua kapal selam tipe 209 ke Mesir.
 
Dia juga menyatakan keprihatinannya terhadap perkembangan di Mesir di bawah Presiden Muhammad Mursi, yang berasal dari Ikhwanul Muslimin. "Negara itu tidak stabil seperti yang saya harapkan," kata de Maiziere.
 
Namun, ia menekankan ini adalah sudut pandang pribadi dan tidak ada hubungannya dengan transaksi kapal selam.
 
Ketika ditanya secara khusus tentang tekanan Israel untuk tidak menjual peralatan militer ke Mesir, de Maiziere menegaskan, "Tidak ada yang memiliki hak veto."



Sumber : Irib

Jerman Beri Bantuan Teknis Pertahanan ke RI

JAKARTA-(IDB) : Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan, akan memberikan bantuan teknis kepada Indonesia terkait dengan bidang pertahanan dan perlindungan alam. Hal ini disampaikan Merkel dalam kunjungan kenegaraannya ke Indonesia.

Pernyataan Merkel ini muncul sekaligus sebagai tanggapan atas pertanyaan terkait kerjasama kedua negara dalam bidang pertahanan dan perlindungan alam. Ketika disinggung apakah Jerman akan memberikan 100 panser leopard yang dibutuhkan Indonesia untuk melindungi hutan, Merkel tidak memberikan jawaban rinci atas masalah tersebut.

"Menteri Pertahanan kedua negara telah membahas hal tersebut dalam Deklarasi Jakarta. Kita telah membahas lebih luas tentang keanekaragaman, energi dan lingkungan serta fungsi hutan rimba. Terkait dengan hal ini akan dibentuk perundang-undangan yang tepat sama halnya seperti yang dilakukan Norwegia dan Jerman. Kami (Jerman) akan membantu pengimplementasian Undang-Undang itu dari segi teknis," ujar Kanselir Jerman Angela Merkel di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, (10/7/2012).

"Kita tidak boleh lupa Indonesia merupakan negara yang luas dan lebarnya sama seperti Eropa, jadi pengadaan UU itu adalah sebuah langkah besar," tambah Merkel.

Sementara itu, menanggapi pertanyaan yang sama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, kerjasama pertahanan adalah bagian dari comprehensive partnership antara Indonesia dan Jerman.

"Kerjasama ini sebenarnya dapat dilakukan dengan saling mengunjungi, mengadakan pelatihan, penelitian ataupun joint investment. Namun, harus diingat persenjataan yang bisa kita produksi sendiri akan kita produksi sendiri sementara yang belum dapat kita produksi bisa kita beli dari sejumlah negara Eropa seperti Jerman misalnya. Yang penting tujuannya positif," ujar Presiden Yudhoyono.

"Terus terang sudah 20 tahun Indonesia tidak mengalami modernisasi persenjataan padahal negara ini adalah negara dengan ekonomi terbesar di Asia. Namun, Saya akan pastikan semua itu berlangsung transparan dan kami tidak pernah menggunakan tank tempur untuk menembaki rakyat. Tidak bisa dipungkiri sebuah negara memerlukan militer yang kuat," tambah Presiden Indonesia.

Kunjungan Merkel ke Jakarta ini merupakan kunjungan balasan setelah sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkunjung ke Jerman pada 2009 lalu.

Dalam sambutannya, Merkel yang dikenal sebagai perempuan paling berpengaruh di dunia ini mengatakan, dirinya sangat senang dapat kembali ke Indonesia. Merkel juga menyebut, dalam kurun belasan tahun Indonesia mengalami perubahan yang luar biasa.

"Sangat senang bisa hadir di sini. Sebelumnya 17 tahun yang lalu Saya datang ke Indonesia sebagai Menteri Lingkungan dan kini Saya telah melihat perubahan yang luar biasa di Indonesia. Terima kasih atas sambutan yang sangat hangat dan semoga Deklarasi Jakarta dapat menaungi kerjasama strategis yang lebih luas antar kedua negara sehingga Indonesia dan Jerman dapat menjadi mitra yang berkelanjutan," tutur Merkel.


Sumber : Okezone

Pertemua SBY Dengan Merkel Belum Tentu Bahas Pembelian Leopard

JAKARTA-(IDB) : Awal pekan depan Presiden SBY menerima kunjungan kenegaraan Kanselir Jerman, Angela Merkel. Belum dipastikan realhsasi rencana pembelian tank Leopard untuk TNI AD jadi salah satu agendanya.

"Kita tunggu saja laporan tim kita di sana," ujar Menhan Poernomo Yosgiantoro, di Istana Negara, Jakarta, Jumat (6/7/2012).

Tim yang dia maksud adalah tim penilai teknis untuk tank Leopard milik Jerman yang akan Indonesia beli. Berdasar penilaian tim teknis itu akan diketahui apakah perlu ada penyesuaian detil fitur dari tank kelas berat dengan keperluan TNI AD.

Bila diperlukan penyesuaian fitur, maka sekaligus dihitung berapa biaya yang dibutuhkan. Setelahnya nilai total yang dibutuhkan akan disesuaikan dengan batas atas anggaran yang ada, barulah bisa diketahui berapa unit tank yang bisa dibeli.

"Untuk berapa unitnya disesuaikan dengan ceiling anggaran. Berapa anggarannya dan berapa perlunya, baru diketahui berapa unit yang bisa diadakan," papar Poernomo.

Menyinggung tudingan sementara pihak bahwa spesifikasi dari tank Leopard tidak sesuai kondisi di Indonesia, menurut Poernomo hal teknis seperti itu wewenang TNI AD. Kemenhan hanya menangani teknis dari pengadaan alat utama sistem pertahanan yang diusulkan oleh Mabes TNI.

"Sudah kita menanyakan lagi ke Mabes TNI, dan hasilnya tetap Leopard. Mereka lebih tahu soal spefikasi, kemenhan yang beli," jawab Poernomo.

Menurut jadwal, pertemuan akan berlangsung pada 10 Juli 2012. Agenda utama yang akan dibahas Presiden SBY dengan Kanselir Angela Merkel adalah tingkatkan hubungan RI-Jerman ke tahap strategic economic partnership.


Sumber : Detik

Jerman Pensiunkan Seluruh Armada F-4 Tahun Depan

WITTMUND-(IDB) : Angkatan Udara Jerman berencana memensiunkan seluruh armada pesawat tempur F-4 Phantom yang masih tersisa pada pertengahan tahun 2013. Secara bertahap, pesawat tempur tua tersebut terus diganti dengan pesawat Eurofighter Typhoon yang baru.

Demikian diungkapkan majalah pertahanan IHS Jane's Defence Weekly (JDW) edisi 20 Juni 2012.

Wing Tempur (Jagdgeschwader/JG) 71 "Richthofen" AU Jerman, yang berpangkalan di Wittmund, adalah kesatuan terakhir yang masih mengandalkan armada F-4. Hingga Mei lalu, JG-71 masih mengoperasikan 21 unit varian F-4F ICE (Improved Combat Efficiency) Phantom II untuk menjalankan peran reaksi cepat menangkal ancaman di kawasan utara Jerman.

Dalam beberapa bulan sampai akhir tahun ini, jumlah Phantom tersebut akan diturunkan menjadi hanya 14 atau 16 unit dengan 10 awak. Jumlah itu akan terus dipangkas sampai dijadwalkan pada 30 Juni 2013, empat Phantom terakhir akan diterbangkan ke tempat penyimpanan dan pembongkaran di Jever, dekat Wittmund.

Selanjutnya, peran Phantom di JG-71 akan langsung digantikan Typhoon pada 1 Juli 2013.

Phantom mulai dioperasikan AU Jerman sejak 1973 dan di puncak kejayaannya pernah melengkapi empat wing tempur dengan fungsi utama menjalankan misi serangan darat dan pertahanan udara. 


Sumber : Kompas

Indonesia Jerman Sepakat Bentuk Kemitraan

BERLIN-(IDB) : Kedua negara sepakat membentuk kemitraan yang mencakup berbagai bidang kerjasama. Menurut rencana dokumen kemitraan ini akan diluncurkan saat kunjungan Kanselir Angela Merkel ke Indonesia, pertengahan tahun ini.

Hal itu disampaikan Duta Besar RI Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Republik Federal Jerman Dr. Eddy Pratomo kepada detikcom, Selasa (01/5/2012).

"Kemitraan itu termasuk antar-parlemen kedua negara," tegas Dubes.

Lanjut Dubes, dalam konteks hubungan bilateral, kunjungan delegasi Komisi I DPR RI ke Jerman kali ini penting karena tahun ini adalah peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jerman.

Selain melakukan pertemuan dengan Komisi Luar Negeri dan Komisi Pertahanan Bundestag (Parlemen Jerman), delegasi juga bertemu dengan Kementerian Ekonomi dan Teknologi, Kementerian Luar Negeri Jerman dan mengunjungi perusahaan Krauss-Maffei-Wegmann GmbH & Co. KG (KMW), produsen tank Leopard.

„Delegasi memberikan penjelasan mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia dan reformasi TNI kepada parlemen dan kementerian Jerman, yang berwenang mengeluarkan ijin ekspor alutsista,“ imbuh Dubes.

Dijelaskan, selama ini pihak Jerman dinilai menerapkan kebijakan restriktif terhadap ekspor alutsista ke Indonesia. Salah satu isu yang sering menjadi ganjalan adalah isu perlindungan HAM di Indonesia.

"Penting untuk memberi penjelasan mengenai keberhasilan reformasi dan demokratisasi di Indonesia, serta kebutuhan Indonesia untuk menjaga keutuhan wilayahnya. Selama ini telah terbukti bahwa Indonesia tidak berambisi menjadi superpower kawasan dan aktif menjaga stabilitas kawasan baik melalui ASEAN maupun fora regional lainnya,“ papar Dubes.

Di KMW, delegasi berkesempatan mengadakan dialog dengan Presiden dan CEO KMW Frank Haun. Pada kesempatan tersebut, delegasi membicarakan penjajakan pembelian tank Leopard dan perjanjian transfer teknologi sebagai bagian dari kontrak pembelian.

"Langkah ini juga sebagai dukungan Komisi I atas upaya peremajaan alutsista Indonesia melalui pertemuan dengan produsen tank Leopard," terang Dubes.

Sebelumnya, sebagaimana disampaikan Sekretaris I Juviano Ribeiro kepada detikcom, delegasi dalam pertemuan di Bundestag dengan Juru Bicara Luar Negeri Fraksi CDU/CSU (koalisi partai berkuasa Jerman) Philipp Missfelder dan Ketua Komisi Pertahanan Susanne Kastner menjelaskan mengenai perkembangan politik di Indonesia dan bertukar pikiran mengenai reformasi angkatan bersenjata yang saat ini tengah dilakukan oleh kedua negara.

Delegasi juga mengundang Bundestag untuk berkunjung ke Indonesia dan melihat langsung reformasi di Indonesia.

Menurut Ribeiro, Bundestag menyampaikan penghargaan atas upaya DPR RI untuk menjelaskan langsung perkembangan di Indonesia dan menyampaikan kekaguman atas proses reformasi di Indonesia yang dinilai sangat berhasil. Reformasi di Indonesia dianggap dapat menjadi model transformasi yang saat ini terjadi di Timur Tengah.

Dalam pertemuan di Kementerian Perekonomian dan Teknologi, secara khusus delegasi bertemu dengan Parliamentary State Secretary Hans-Joachim Otto untuk meminta penjelasan tentang prosedur pemberian ijin ekspor alutsista, yang menjadi wewenang kementerian tersebut.

Disampaikan bahwa pihak Jerman tidak melihat ada masalah ekspor alutsista ke Indonesia. Jerman bahkan akan meningkatkan kerjasama ekonomi dan industri strategis kedua negara, sebagai salah satu bentuk kemitraan kedua negara.

Di Kementerian Luar Negeri Jerman, delegasi mengadakan pertemuan dengan State Secretary Kemlu Cornelia Pieper. Delegasi menyampaikan penghargaan atas kebijakan Jerman untuk mempermudah aplikasi visa bagi WNI yang akan berkunjung ke Jerman.

"Hal ini memperlihatkan secara konkrit kedekatan hubungan kedua negara. Dalam pertemuan juga dibahas mengenai kemungkinan pembuatan perjanjian bebas visa untuk paspor diplomatik dan dinas antara kedua negara," demikian Ribeiro.

Delegasi Komisi I DPR RI dalam kunjungannya ke Jerman (22-26 April 2012) dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi I Hayono Isman dan beranggota 12 orang dari Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Selama berada di Jerman, delegasi juga mengadakan rapat dengar pendapat dengan KBRI Berlin, KJRI Frankfurt dan KJRI Hamburg, serta mengadakan pertemuan langsung dengan masyarakat Indonesia di Berlin dan sekitarnya.

Namun kunjungan ini mendapat penolakan dari Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman, PPI Berlin dan NU Cabang Istimewa Jerman. Mereka mengabadikan penolakan itu melalui Youtube.

Selengkapnya nama-nama anggota Komisi I DPR RI yang hadir pada saat itu dan dipublikasikan oleh para pihak penolak adalah:

1. H. TRI TAMTOMO, SH; Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
2. DR. NURHAYATI ALI ASEGGAF,M.SI; Fraksi Partai Demokrat.
3. H. HAYONO ISMAN. S.IP, Fraksi Partai Demokrat.
4. VENA MELINDA, SE.; Fraksi Partai Demokrat.
5. AHMED ZAKI ISKANDAR ZULKARNAIN, B.Bus; Fraksi Partai Golongan Karya.
6. Drs. H.A. MUCHAMAD RUSLAN; Fraksi Partai Golongan Karya.
7. IR. NEIL ISKANDAR DAULAY; Fraksi Partai Golongan Karya.
8. TANTOWI YAHYA; Fraksi Partai Golongan Karya.
9. YORRYS RAWEYAI; Fraksi Partai Golongan Karya.
10. LUTHFI HASAN ISHAAQ, MA; Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. 

Sumber : Detik

Indonesia Jerman Tingkatkkan Persahabatan Menjadi Kemitraan

Tank Leopard 2A7
BERLIN-(IDB) : Komisi I DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Jerman dalam rangka melaksanakan fungsi pengawasan DPR RI terhadap eksekutif serta menjajaki ke arah upaya pembentukan kemitraan antar Parlemen Indonesia dan Jerman.

Delegasi Komisi I DPR RI dipimpin Wakil Ketua Komisi I, Hayono Isman dan 12 orang anggota delegasi yang terdiri dari Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, ujar Sekretaris I KBRI Berlin, Juviano Ribeiro kepada ANTARA London, Sabtu.

Selama berada di Jerman, Delegasi Komisi I DPR RI mengunjungi perusahaan Krauss-Maffei-Wegmann GmbH & Co. KG (KMW), mengadakan pertemuan dengan Komisi Luar Negeri dan Komisi Pertahanan, Parlemen Jerman (Bundestag), dan dengan Kementerian Ekonomi dan Teknologi serta Kementerian Luar Negeri Jerman.


Selain melakukan pertemuan dengan mitra Jerman, Delegasi Komisi I DPR RI juga mengadakan Rapat Dengar Pendapat dengan seluruh Perwakilan RI di Jerman (KBRI Berlin, KJRI Frankfurt dan KJRI Hamburg), serta mengadakan pertemuan langsung dengan masyarakat Indonesia di Berlin dan sekitarnya.

Dubes RI di Berlin Dr. Eddy Pratomo mengatakan bahwa kunjungan Delegasi Komisi I DPR RI ke Jerman kali ini penting karena tahun ini adalah peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jerman. Kedua negara sepakat untuk membentuk suatu Kemitraan yang mencakup berbagai bidang kerja sama, termasuk kemitraan antar Parlemen kedua negara.
Menurut rencana dokumen Kemitraan ini akan diluncurkan saat kunjungan Kanselir Angela Merkel ke Indonesia, pertengahan tahun 2012.

Dikatakannya delegasi Komisi I DPR RI mendukung upaya peremajaan alutsista Indonesia melalui pertemuan dengan produsen tank Leopard dan memberikan penjelasan tentang perkembangan demokrasi di Indonesia dan reformasi TNI kepada parlemen dan kementerian Jerman yang berwenang mengeluarkan ijin ekspor alusista.

Selama ini pihak Jerman dinilai menerapkan kebijakan restriktif terhadap ekspor alutsista ke Indonesia. Salah satu isu yang sering menjadi ganjalan adalah isu perlindungan HAM di Indonesia.

"Penting bagi Indonesia untuk memberi penjelasan mengenai keberhasilan reformasi dan demokratisasi di Indonesia, serta kebutuhan Indonesia untuk menjaga keutuhan wilayahnya," ujarnya.

"Di pihak lain, selama ini telah terbukti bahwa Indonesia tidak memiliki ambisi menjadi regional superpower dan aktif dalam menjaga stabilitas kawasan baik melalui forum ASEAN maupun forum-forum regional lainnya," lanjut Dubes Eddy Pratomo. 

Delegasi Komisi I DPR RI berkesempatan mengadakan dialog dengan Frank Haun, Presiden dan CEO KMW. Pada kesempatan tersebut, Komisi I DPR RI membicarakan penjajakan pembelian tank Leopard dan perjanjian transfer of technology sebagai bagian dari kontrak pembelian tersebut.

Di Parlemen Jerman, Komisi I DPR RI mengadakan pertemuan dengan Juru Bicara Luar Negeri Fraksi CDU/CSU (koalisi partai berkuasa Jerman), Philipp Missfelder serta Ketua Komisi Pertahanan, Susanne Kastner.

Selain menjelaskan mengenai perkembangan politik di Indonesia, Komisi I DPR RI juga bertukar pikiran mengenai reformasi angkatan bersenjata yang saat ini tengah dilakukan oleh kedua negara. Delegasi Komisi I DPR RI juga menjajaki pembentukan Kemitraan antara kedua negara, melalui kerja sama yang lebih erat antara kedua Parlemen.

Komisi I DPR RI juga mengundang anggota Parlemen Jerman untuk berkunjung ke Indonesia dan melihat langsung reformasi di Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, Parlemen Jerman menyampaikan penghargaan atas upaya DPR RI untuk menjelaskan langsung perkembangan di Indonesia.


Parlemen Jerman juga menyampaikan kekagumannya atas proses reformasi di Indonesia yang dinilai sangat berhasil. Mereka menganggap bahwa reformasi di Indonesia dapat menjadi model transformasi yang saat ini terjadi di Timur Tengah.

Dalam pertemuan di Kementerian Perekonomian dan Teknologi, secara khusus Delegasi Komisi I DPR RI bertemu dengan Hans-Joachim Otto, Parliamentary State Secretary, untuk meminta penjelasan tentang prosedur pemberian ijin ekspor alutsista, yang menjadi wewenang Kementerian tersebut.

Menanggapi penjelasan Komisi I DPR RI, pihak Jerman menyampaikan Jerman tidak melihat adanya masalah ekspor alutsista ke Indonesia. Jerman bahkan akan meningkatkan kerja sama ekonomi dan industri strategis kedua negara, sebagai salah satu bentuk Kemitraan kedua negara.

Di Kementerian Luar Negeri, Delegasi Komisi I DPR RI mengadakan pertemuan dengan Cornelia Pieper, State Secretary Kemlu dan menyampaikan penghargaan atas kebijakan Jerman untuk mempermudah aplikasi visa bagi WNI yang akan berkunjung ke Jerman.

Hal ini memperlihatkan secara konkrit kedekatan hubungan antara kedua negara. Dalam pertemuan tersebut, juga dibahas mengenai kemungkinan pembuatan perjanjian bebas visa untuk paspor diplomatik dan dinas antara kedua negara. 
 
Sumber : Antara

Indonesia Jerman Tandatangani MoU Kerjasama Pertahanan

BERLIN-(IDB) : Wamenhan RI, Sjafrie Sjamsoeddin dan Sekretaris Negara Bidang Pertahanan Jerman, Rdiger Wolf menandatangani Nota kesepahaman (MOU) kerja sama di bidang pertahanan di Berlin, Jerman, Senin.

Penandatanganan kerja sama ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan Presiden RI dan Presiden Jerman pada tahun 2011 lalu, yang salah satunya adalah kesepakatan untuk meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan, demikian keterangan Counsellor Pensosbud KBRI Berlin, Ayodhia GL Kalake kepada ANTARA London, Selasa.

Wamenhan RI, Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan penandatangan kerjasama itu bertujuan sebagai kerangka untuk memajukan kerja sama bilateral berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menguntungkan dan saling menghormati, kedua pihak.

Selain itu juga disepakat kerja sama dibidang pelatihan, penelitian dan pengembangan, bantuan kemanusian dan penanggulangan bencana, logistik militer dan pelayanan kesehatan serta misi perdamaian.

Wamenhan berharap bahwa kerja sama semacam ini akan dapat meningkatkan mutu SDM Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam membentuk tentara yang profesional dan tangguh, selain juga mendorong modernisasi TNI.

Delegasi Indonesia antara lain Wamenhan, KASAD, Dirjen Strahan, Asops KASAD, Aster KASAD, dan para pejabat dari Kemhan dan Mabes TNI AD dengan didampingi Kuasa Usaha Ad-Interim (KUAI) RI, Diah W.M. Rubianto dan Atase Pertahanan, Kol (Pnb) Fachri Adamy. Sebelumnya telah mengadakan pembicaraan dengan pejabat Kemhan Jerman dalam kerangka peningkatan kerja sama antara kedua pihak.

Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin dan KASAD Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo beserta rombongan berkesempatan pula mengadakan tatap muka dan diskusi dengan para pejabat KBRI Berlin serta masyarakat Indonesia di Berlin dan sekitarnya dengan tema "Kebijakan Pertahanan" dan "Reformasi TNI" dengan moderator KUAI RI, Diah W.M Rubianto.

Diah W.M. Rubianto dalam kesempatan tersebut menyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia dan Jerman membangun kemitraan strategis. Kelebihan Jerman dalam teknologi, misalkan, hendaknya dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk meningkatkan sistem Alutsista TNI selain juga peningkatan SDM personil TNI, ujarnya.

Ia juga mengharapkan penandatanganan MOU kerja sama tersebut akan semakin memperkokoh hubungan kedua negara yang memasuki usia 60 tahun hubungan bilateral Indonesia-Jerman pada tahun 2012.

Menurut Diah W.M. Rubianto, Indonesia dan Jerman telah menetapkan lima bidang kerja sama yang menjadi prioritas kemitraan strategis antara Indonesia dan Jerman, yaitu perdagangan dan investasi, riset dan teknologi, kedokteran, pendidikan dan pertahanan.

Adalah suatu tantangan bagi kedua pihak, untuk dapat merealisasikan prioritas tersebut kedalam bentuk kerja sama yang bermanfaat bagi rakyat kedua negara, ujarnya.

Rencana kunjungan Kanselir Angela Merkel ke Indonesia pada tahun 2012 juga akan melengkapi langkah menuju kemitraan strategis Indonesia-Jerman. KUAI RI optimis bahwa Indonesia dan Jerman akan dapat terus menjalin hubungan kemitraan yang konstruktif dan bermanfaat bagi kedua bangsa.

Sumber : Antara

Jerman Akan Datang Langsung Ke Indonesia Tawarkan Tank Leopard

JAKARTA-(IDB) : Selain Belanda, ternyata Jerman juga menawarkan tank Leopard pada Indonesia. Perwakilan negara pembuat tank tempur (MBT) itu bahkan akan datang ke Indonesia untuk melakukan pembicaraan terkait rencana jual beli ini.

“Tanggal 26 nanti tim Jerman akan datang ke Indonesia. Jadi kami bisa membandingkan apakah lebih baik membeli di Jerman atau Belanda,” kata Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo dalam raker antara Komisi I dengan Kemhan dan Panglima TNI di gedung DPR, Selasa (24/1).

Menurut KSAD, persoalan ketidaksetujuan parlemen Belanda terhadap penjualan Leopard pada Indonesia sudah disampaikan pada pemerintah Belanda. Dalam pertemuan dengan Belanda, 21 Desember 2011 lalu, KSAD telah mempertanyakan keseriusan Belanda dalam menjual Leopard-nya.

“Mereka tanya, kami jadi mau beli atau tidak. Sebelum saya jawab saya tanya, Belanda jadi jual atau tidak,” katanya.

Pengadaan MBT ini, kata Pramono, untuk menyamakan teknologi alutsista dengan negara-negara lain. Di wilayah Asia Tenggara, mayoritas negara telah memilikinya, bahkan di seluruh dunia.

Selain Indonesia, negara yang belum memiliki MBT adalah Timor Leste dan Papua Nugini.

Saat ini ada beberapa varian tank Leopard. Varian yang diklaim terbaik adalah Leopard 2A6. Varian bermesin disel ini pengembangan dari Lopard 2A5. Leopard 2A6 diklaim melebihi Abrams M1A2, Challenger 2 dan Leclerc dalam hal perlindungan, daya tembak dan mobilitas.

Leopard 2A6 dan variannya digunakan militer Jerman, Kanada, Yunani, Belanda, Portugal dan Spanyol. Tank tangguh ini diproduksi Jerman dan Spanyol.

Sumber : Jurnas

Wamenhan: Jika Belanda Tak Mau Jual Leopard, Masih Ada Jerman

BONTANG-(IDB) : Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyatakan tidak khawatir dengan penolakan parlemen Belanda atas penjualan tank Leopard ke Indonesia. Menurutnya, jika memang Belanda tidak mau menjual, sudah ada negara lain yang juga menawarkan pada Indonesia. “Jerman sebagai negara produsen juga menawarkan pada Indonesia,” kata Sjafrie usai meninjau kesiapan produksi perdana PT Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) di Bontang, Kalimantan Timur.

Dikatakan Sjafrie, tawaran Belanda adalah tank bekas yang jika jadi dibeli oleh Indonesia akan diupgrade kemampuannya. Sedangkan Leopard yang ditawarkan Jerman adalah refurnishment, “Jadi bukan bekas, karena sudah ditingkatkan lebih dulu kemampuannya,” jelasnya.

Namun begitu, Sjafrie menegaskan Indonesia akan lebih diuntungkan dengan membeli pada Belanda. Dengan dana US$280 juta, Indonesia akan mendapat 100 unit tank Leopard. “Kalau di tempat lain tidak bisa. Dana itu kami alokasikan untuk 44 tank, tapi bisa mendapat 100 unit,” imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan penolakan yang muncul dari kalangan parlemen Belanda bukanlah sikap resmi parlemen maunpun Pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda sendiri telah mendesak kepastian Indonesia dalam membeli tank mereka.

Purnomo juga mengatakan, kebutuhan Indonesia sebenarnya pada main battle tank (MBT), bukan pada Leopard. Bisa saja MBT yang dibeli Indonesia bukan jenis Leopard. Sementara itu Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo menyatakan, Jerman yang juga menawarkan Leopard-nya akan segera melakukan pertemuan dengan Indonesia.

Sumber : Jurnas

Indonesia Ajukan Joint Production Industri Pertahanan Dengan Jerman

JAKARTA-(IDB) : Pemerintah Indonesia mengajukan permohonan kerja sama industri militer dengan Republik Jerman dalam jangka panjang. Kerja sama yang akan dibangun tersebut meliputi produksi bersama antara perusahaan Indonesia dengan Jerman. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan itu dalam Pernyataan Pers Bersama Presiden Jerman, Christian Wulff di Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (1/12).
 
Presiden berharap agar Pemerintah Jerman bersedia meningkatkan kerja sama militer yang telah berlangsung selama ini tidak hanya penyediaan alat pertahanan, melainkan juga produksi bersama industri pertahanan. “Contohnya PT Dirgantara Indonesia sekarang ada kerja sama dengan Airbus Military. Saya usul kerja sama strategis dan dalam long term (jangka panjang), tidak hanya procurement, tapi juga joint production,” ucapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari Atase Pertahanan Kedutaan Besar Indonesia di Jerman, Indonesia pernah membeli kapal selam dan vessels dari Jerman. Kerja sama latihan bersama yang telah dirintis sejak tahun 1972 sempat terhenti ketika tahun 1998 Indonesia diwarnai isu pelanggaran hak asasi manusia oleh militer. Namun, seiring reformasi militer yang terus berlangsung, Indonesia berharap kerjasama militer dengan Jerman kembali ditingkatkan.

Medio September lalu, Kementerian Pertahanan juga telah melakukan pembicaraan dengan produsen senjata Jerman, yaitu Rheinmetall di Berlin. Rombongan yang saat itu dipimpin oleh Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin itu mengobservasi produk meriam 155 mm serta menjajaki pembelian dan produksi bersama main battle tank TNI Angkatan Darat. Saat itu, Rheinmetall berkomitmen membantu modernisasi peralatan militer dan perlengkapan sumber daya manusia. Pada tahun 2012-2014 mendatang, TNI akan mendapat prioritas kredit dari kedua perusahaan tersebut.

Selain bidang militer, Presiden mengajukan empat bidang lain untuk ditingkatkan kerja samanya. Keempat bidang tersebut, yaitu investasi dan perdagangan, teknologi, pendidikan, riset dan inovasi. Dasar permohonan itu adalah karena Jerman sebagai negara yang sangat kuat di bidang teknologi sementara Indonesia sangat kaya dengan sumber daya alam dan kelas menengah yang sedang tumbuh. “Dari Indonesia mengusulkan beberapa agenda strategis yang bisa dilakukan karena Jerman negara kuat, dengan ekonomi terbesar di Eropa dan teknologi yang tinggi. Sedangkan Indonesia adalah ekonomi terbesar di ASEAN, punya resource yang besar dan peran internasional yang makin mengemuka. Dengan potensi kekuatan ini, kita bisa meningkatkan kerjasama strategis,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Wulff menyambut baik permohonan kerjasama dari Indonesia. Wulff yang datang untuk pertama kalinya ke Indonesia itu sangat mengapresiasi kebangkitan kembali Indonesia di Kawasan Asia. “Maka kami sangat tertarik untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara. Saya ucapkan terima kasih atas kerjasama dengan Indonesia selama 60 tahun menjalin kerjasama tanpa konflik. Kita menghadapi perayaan 60 tahun hubungan diplomatik yang baik dan dalam keluarga PBB, Indonesia terkenal sebagai negara yang berhasil ekonominya dan kaya sumber daya alam,” ujarnya.

Wulff juga mengaku sangat terkesan dengan Indonesia yang memiliki motto Bhineka Tunggal Ika sehingga memungkinkan penduduknya yang mayoritas beragama Islam namun memiliki tingkat toleransi tinggi sehingga orang hidup damai dan bebas memilih agamanya masing-masing. “Indonesia bisa jadi teladan untuk demokrasi di negara yang mayoritas Islam seperti negara di Afrika Utara dan Arab. Mereka harus memandang Indonesia untuk melihat bagaimana negara mayoritas Islam, berdemokrasi dengan pertumbuhan ekonomi, iklim transparansi,” katanya.

Untuk menindaklanjuti kerjasama antara kedua negara, Wulff menugaskan Kanselir Jerman Angela Markel untuk berkunjung ke Indonesia tahun depan. Rencananya, Markel akan didampingi pebisnis dan pengusaha Jerman. Saat ini, volume perdagangan antara Indonesia-Jerman mencapai 6 miliar USD, meningkat 22 persen dari tahun sebelumnya. Sementara, nilai investasi Jerman di Indonesia mencapai 300 juta USD dan akan ditargetkan akan ditingkatkan dua kali lipat pada tahun mendatang menyusul kedatangan Markel tersebut.

Sumber : PikiranRakyat

Presiden SBY Usulkan Lima Prioritas Kerja Sama Indonesia Jerman

JAKARTA-(IDB) : Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengusulkan lima bidang prioritas kerja sama strategis antara Indonesia dan Jerman. Kelima prioritas tersebut meliputi bidang investasi dan perdagangan, kesehatan, pendidikan, riset dan teknologi, energi bersih dan industri pertahanan.

Presiden SBY menyampaikan hal itu dalam jumpa pers bersama Presiden Republik Federal Jerman, Christian Wulff, usai melakukan pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (1/12).

Presiden SBY menjelaskan, volume perdagangan antara Indonesia dan Jerman saat ini mencapai US$6 Miliar atau naik 22 persen dari tahun sebelumnya. Investasi tahun terakhir mencapai US$300 Juta lebih, tetapi hal ini masih sangat bisa ditingkatkan lebih tinggi lagi.

Sedangkan untuk bidang kesehatan, Presiden SBY mengatakan teknologi dan manajemen kesehatan Jerman dianggap sangat maju. “Kami berharap bisa bekerja sama di sini,” SBY menyampaikan.

Pendidikan juga menjadi salah satu hal bidang yang diajukan Presiden SBY. Meskipun saat ini cukup banyak warga negara Indonesia yang menuntut ilmu di Jerman, Presiden SBY berharap kerja sama di bidang ini bisa lebih erat lagi.

“Kami ingin kerja sama ini antara lain menyangkut pada pendidikan di bidang teknologi. Kami membutuhkan ribuan insinyur yang akan membangun infrastruktur, mengembangkan industri dan konektifitas di Indonesia 10, 20, 30 tahun mendatang,” kata SBY.

Presiden SBY juga ingin kerja sama RI dan Jerman dalam bidang energi khususnya energi bersih dari sumber Geotermal.

Menyangkut kerja sama di bidang industri pertahanan, Presiden mengusulkan kerja sama yang strategis dan jangka panjang, misalnya bukan hanya procurement, pengadaan, tetapi juga joint investment dan juga ada joint production.

Sumber : Jurnas

Indonesia Jerman Gelar Forum Kebijakan Pertahanan

JAKARTA-(IDB) : Untuk yang ke dua kalinya Kementerian Pertahanan Republik Indonesia bersama Kementerian Pertahanan Republik Jerman menggelar Forum Pembicaraan Kebijakan di Bidang Pertahanan. Forum tersebut di gelar, Rabu (23/11) di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta.
 
Direktur Kerjasama Internasional Strahan Kemhan RI, Brigjen TNI Abdul Chasib selaku ketua delegasi Indonesia membuka forum pembicaraan dengan beberapa agenda pembahasan. Selaku ketua delegasi Jerman adalah Asisten Deputi Kepala Staf Angkatan Bersenjata untuk Urusan Politik-Militer dan Pengendalian Senjata Kementerian Pertahanan Jerman, Brigjen Hans – Werner Wiermann.

Pada kesempatan forum tersebut delegasi Indonesia menyampaikan agenda pembahasan yang mencakup tentang keamanan regional Asia Tenggara dan hubungan bilateral serta keterlibatan Indonesia untuk Misi Perdamaian PBB. Sedangkan delegasi Jerman menyampaikan agenda pembahasan tentang situasi politik pertahanan dan keamanan Jerman.
Usai mengikuti forum pembicaraan, kedua delegasi tersebut dilanjutkan dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) tentang kerjasama di bidang pertahanan antara Kementerian Pertahanan RI dan Kementerian Pertahanan Jerman.

Sementara itu  kerjasama bidang pertahanan yang ditandatangani itu meliputi kebijakan pertahanan, kebijakan militer dan keamanan, pendidikan, penelitian dan pengembangan, serta bidang lainnya seperti bantuan kemanusiaan, bencana alam, pelayanan kesehatan dan Peacekeeping.

Adapun tujuan dari MoU ini adalah dalam rangka menyediakan kerangka kerja untuk mempromosikan kerjasama bilateral berdasarkan prinsip-prinsip kesetaraan, saling menguntungkan serta menghormati kedaulatan penuh dan integritas teretorial.

Rencananya seluruh dari delegasi Jerman juga akan mengadakan kunjungan kehormatan kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan RI, Marsdya TNI Eris Herryanto, Kamis ( 24/11) di Kantor Kemhan, Jakarta. 

Sumber : DMC

Fuel Cell Submarine “U 35″ For The German Navy Christened

BERLIN-(IDB) : Dr. Sigrid Hubert-Reichling christened one of the most modern non-nuclear submarines in the world today at the shipyard of Howaldtswerke-Deutsche Werft GmbH (HDW), a company of ThyssenKrupp Marine Systems, under the name of “U 35”.

She is the wife of the Lord Mayor of Zweibrücken, the town that has assumed sponsorship of U 35. U 35 is the first boat of the second batch of Class 212A submarines built for the German Navy.

The contract to deliver a second batch of two further Class 212A submarines was signed on 22nd September 2006 in Koblenz with the German Office for Military Technology and Procurement. The submarine building activities are taking place at the shipyards of HDW in Kiel and Emder Werft- und Dockbetrieben in Emden.

The two additional units will be largely identical to their sister ships from the first batch. Of course, they are also equipped with the air-independent fuel cell propulsion system which has already given excellent results in operations with the boats of the first batch.

To meet changes in operational scenarios and to take constant technological advances into account, a number of modifications have been made:
  • Integration of a communication system for Network Centric Warfare
  • Installation of an integrated German Sonar and Command and Weapon Control System
  • Replacement of the flank array sonar by a superficial lateral antenna
  • Replacement of one periscope by an optronics mast
  • Installation of a hoistable mast with towable antenna-bearing buoy to enable communication from the deep submerged submarine
  • Integration of a lockout system for Special Operation Forces
  • Tropicalisation to enable world-wide operations.
Freitag underlined the ability of the boat to carry out operations lasting several weeks continuously deep submerged, thanks to the ultra-modern fuel cell technology on board. With virtually undetectable heat and noise emissions and a hull of non-magnetic steel, the boat will be exceedingly difficult to detect and thus able to operate unnoticed, discreetly gathering important information, monitoring sea areas or supporting covert operations.

The Italian Navy has also decided in favour of a second batch of two Class 212A submarines, which are being built under licence by the local Italian shipyard Fincantieri. That means that the Italian Navy will soon also have four boats of this class available for operations.

U 35 - Technical Specs

General boat data
- Length over all: approx. 56 m
- Height including sail: approx. 11.5 m
- Maximum hull diameter: approx. 7 m
- Displacement: approx. 1,450 t
- Crew: 28
- Pressure hull built of non-magnetic steel

Propulsion system
- Diesel generator
- SIEMENS Permasyn motor
- Fuel cell system
- Low-noise skew-back propeller

Sumber : Defencetalk

Jerman Tolak Bahas Serangan Militer ke Iran

JERMAN-(IDB) : Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle mengatakan, Berlin tidak akan membahas operasi militer terhadap Iran atas program nuklirnya dan menganggap itu kontra-produktif.
 
"Kami tidak mengambil bagian dalam diskusi tentang intervensi militer. Kami percaya diskusi seperti itu kontra-produktif dan kita menolak itu," kata Westerwelle di Brussels, Belgia pada Senin (14/11) seperti dilansir AFP.
 
Kanselir Jerman Angela Merkel pada tanggal 11 November menyerukan kepada masyarakat internasional untuk sepenuhnya memanfaatkan upaya diplomatik guna memecahkan sengketa nuklir Iran.
 
Dia mengatakan kepada harian berbahasa Jerman, Leipziger Volkszeitung bahwa masyarakat internasional harus memanfaatkan seluruh kapasitas untuk manuver diplomatik dan Berlin siap memberikan kontribusi.
 
Amerika Serikat, rezim Zionis Israel, dan beberapa sekutu mereka menuduh Iran mengejar tujuan militer dalam program nuklirnya dan telah menggunakan alasan ini untuk mendorong pengenaan sanksi terhadap Tehran serta menyerukan serangan ke negara Islam itu.
 
Iranberpendapat bahwa sebagai penandatangan Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan anggota IAEA, memiliki hak untuk mengembangkan dan memperoleh teknologi nuklir untuk tujuan damai.
 
Para pejabat Tehran berjanji memberikan respon mematikan atas setiap serangan militer terhadap Iran. Mereka juga memperingatkan bahwa setiap tindakan semacam itu bisa mengakibatkan perang yang akan menyebar di luar Timur Tengah. 

Sumber : Irib

Germany Outlines Helicopter Cuts

JERMAN-(IDB) : The German government has revealed the planned changes to the armed forces, which sees a drastic reduction in helicopter numbers.

Under the reforms plans outlined by defence minister Thomas de Maizière on 26 October, the army will lose its Air Manoeuvre Division while all operational army helicopter forces will be attached to the remnants of the Special Operations Division. The latter will be incorporated into the new headquarters of the Rapid Reaction Division.

Only 80 NH90s will now be acquired, instead of the original target of 122, and these will be concentrated within two light transport helicopter (LTH) regiments of army aviation at Fassberg and Niederstetten.

The changes see the medium transport helicopter (MTH) capability shift to the German air force altogether and it will take over the army regiment at Laupheim, including 64 CH-53GS/GAs (down from 82). The other army MTH regiment at Rheine-Bentlage will disband.

Particularly hard hit is the attack helicopter component. The number of Eurocopter Tiger UHT attack helicopters acquired will be halved from 80 aircraft down to 40, which is just sufficient to outfit a single attack helicopter regiment at Fritzlar. The other regiment at Roth, which was to have been equipped with the Tiger as well, will also disband.

The remaining 145 Bo 105 helicopters currently in service will also be withdrawn in the near future.

In addition, the German army aviation school at Bückeburg will be transformed into an international helicopter training centre.

Plans for a dedicated air force CSAR helicopter (with a requirement for 19 aircraft) will be shelved for the moment. The Luftwaffe will not receive any NH90s due to the decision to consolidate LTH capability within army aviation.

The procurement process for 30 new maritime helicopters will be continued to replace the 21 aging Sea Kings and 22 Lynxes currently in service.

All naval helicopter assets will be concentrated at Nordholz. The closure of Kiel-Holtenau, which is still home to the Sea King fleet, had already been decided upon before the current round of reform announcements.

Source : Shephard

Indonesia Jajaki Kerja Sama Pertahanan Dengan Jerman dan Prancis

PARIS-(IDB) : Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menjajaki kerja sama bidang pertahanan dengan tiga negara Eropa yaitu Jerman, Prancis, dan Spanyol untuk kepentingan produksi dan pemasaran bersama beberapa persenjataan.

"Jumat (16/9), Wamenhan dan rombongan berkunjung ke perusahaan Eurocopter Group, perusahaan manufaktur helikopter yang terbesar di industri turbin helikopter di kota Marseille," ujar Atase Pertahanan KBRI Paris Kolonel Erwin Buana Utama, Sabtu (17/9).

Kantor pusat perusahaan itu terletak di milik Marseille-Provence Bandara Internasional di Marignane, Prancis, dekat Marseille yang memiliki fasilitas utama Eurocopter di kantor pusat grup itu di Marignane dan Eurocopter Deutschland GmbH di Donauworth, Jerman serta Eurocopter Espa'a di Albacete, Spanyol.

Dalam kunjungan kerja di Prancis dari tanggal 16 hingga 18 September, Wamenhan RI dijadwalkan bertemu dengan Menteri Muda Pertahanan Prancis dan mengadakan pertemuan dengan CEO Mistral MBDA dan kunjungan ke Nexter (Meriam 155) di Canjeur.

Sebelumnya, Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin didampingi Wakasad Letjen TNI Budiman dan Dirjen Strategi Pertahanan Mayjen TNI Puguh Santoso mengunjungi test range pabrik senjata Heckler and Koch di Oberndorf, dekat Stuttgart, Jerman.

Sebelum ke Prancis, Wamenhan didampingi Dirut PT Pindad, Adik Avianto S dan Dirut PTDI Budi Santoso dan Dirut Restrukturisasi PT PPA Saiful Haq mengadakan kunjungan ke Airbus Military di Spanyol dan menghadiri jamuan makan malam dengan Presiden Airbus Military. 

Germany Deploys Boxer Armored Vehicles to Afghanistan

BERLIN-(IDB) : Germany has airlifted five of its new Boxer multirole armored vehicles to Afghanistan for what will be the vehicles' first operational deployment. The five Boxers sent to the Afghan theater are of the armored personnel carrier variant and will be used by the Bundeswehr training and protection battalion operating in the area of Mazar-e-Sharif.

The Boxer is a bi-national vehicle project undertaken by Germany and the Netherlands. It is produced by ARTEC, a joint venture between Germany's Krauss-Maffei Wegmann (KMW) and Rheinmetall Defense. Germany aims for the 8x8 Boxer to partially or fully replace the Fuchs 6x6 and M113 series of tracked vehicles currently in service.

The German Boxers have been ordered in three configurations: 135 armored personnel carriers (APCs), 65 command post variants, and 72 heavy-armored ambulances. Some of the vehicles already ordered may also be converted to training variants.

The 33-tonne Boxer is designed to meet the requirements of the German IdZ (infantryman of the future) that is being integrated with the German Army FuInfoSys command and information system.

The five German Boxers have been upgraded to the A1 level, a standard that provides for additional mine protection. Germany had hoped the delivery of the command post and ambulance variants would commence in 2010, but reports indicate that the command post variant will not arrive until the first quarter of 2012, along with further armored personnel carrier types.
Source: Defencetalk

Opposition Condemns Suspected Saudi Tanks Deal

BERLIN-(IDB) : A former German cabinet minister has joined the opposition Greens in criticizing Berlin for a suspected tanks deal with Saudi Arabia. The Greens have initiated legal proceedings to force Berlin to confirm the sale.

Former development minister, Heidemarie Wieczorek-Zeul, spoke out against the German government on Monday for the suspected sale of 200 "Leopard" combat tanks to the Saudi government.

The Berliner Zeitung newspaper reported that Wieczorek-Zeul accused the government of hypocrisy. "The tank deal with Saudi Arabia is a catastrophic decision," she said. In selling the tanks, Germany has "supported an authoritarian, despotic regime."

This policy "is the exact opposite of the government's public stance on the democratic uprisings in the Arab World," Wieczorek-Zeul added.

She called on German Foreign Minister Guido Westerwelle to justify conducting a secret arms deal while publicly supporting the democracy movement in Egypt.

Court complaint

Wieczorek-Zeul's comments came just a day after Germany's opposition Green party announced it had launched a complaint with the country's highest court, over the sale of the tanks.

German news magazine Spiegel reported Sunday that Green party leaders had filed a motion with the Constitutional Court, demanding that information over the deal be made public.

Reports of the sale have been published by several news organizations, but the German government has so far refused to comment on the basis of national security.

The Greens argued this position is untenable as the alleged deal has been in the public sphere for weeks. Deputy party leader, Hans-Christian Ströbele told Spiegel that even if confidentiality was justifiable, information must be relayed to parliament.

Until now, it has been German government policy not to export heavy weapons to the authoritarian regime in Saudi Arabia.

Source: Defencetalk

Update : Penjualan Senjata Bukan Pelanggaran HAM

BERLIN-(IDB) : Menteri Pembangunan Jerman, Dirk Niebel, mereaksi protes-protes terhadap keputusan pemerintah yang menjual 200 Tank ke Arab Saudi. Ia mengatakan, "Ekspor senjata tidak melanggar hak asasi manusia, bahkan hal ini dapat mencegah terjadinya perang."
 
Kantor Berita Fars yang mengutip media-media Jerman, melaporkan, Niebel membela kebijakan pemerintah Jerman yang memperdagangkan senjata. Dikatakannya, "Stabilitas di wilayah berujung pada dukungan atas hak asasi manusia. Hal itu tu bukan hanya terbatas di negara tersebut tetapi juga di negara-negara tetangga."

Tanpa menyinggung keputusan pemerintah Jerman yang menjual tank ke Arab Saudi, Niebel menambahkan: "Di masa perang dingin, sistem pertahanan dan senjata diperlukan sehingga tidak terjadi perang."

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Jerman, Thomas de Maiziere menyinggung kondisi hak asasi manusia yang tak stabil di Arab Saudi, dan mengatakan, "Stabilitas di negara ini sangat penting bagi Jerman."

Arab Saudi dalam kontrak militernya dengan Jerman, berencana membeli 200 tank canggih, Leopard II. Kebijakan Arab Saudi yang berkeinginan membeli tank dari Jerman, tentunya mengkhawatirkan lembaga-lembaga HAM. 

Sebab, rezim Saudi dikhawatirkan akan menggunakan senjata-senjata tersebut untuk memberantas para pendemo damai pro demokrasi di kawasan. Terkait permintaan senjata dari Saudi, para pejabat Jerman berselisih pendapat. Bahkan rencana penjualan senjata itu dapat berpengaruh pada posisi partai milik Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Penjualan satu unit kapal selam canggih kepada Israel adalah salah satu transaksi terbaru Jerman di bidang senjata.

Sumber: Irib

Jerman Akan Gelar Manuver Militer Bersama dengan Israel

TEL AVIV-(IDB) : Militer Jerman dan rezm Zionis Israel untuk pertama kalinya akan menggelar manuver bersama. 
 
IRNA melaporkan, kesepakatan itu diambil dalam kunjungan Menteri Pertahanan Jerman, Thomas de Maizière, ke Palestina pendudukan, kemarin (13/7). 

Dalam kunjungan perdananya ke Palestina pendudukan sejak tiga tahun terakhir, de Maizière terbang ke atas wilayah perbatasan Jalur Gaza dengan menggunakan helikopter. 

Namun de Maizière tidak menyebutkan tanggal pasti pelaksanaan manuver bersama itu dan hanya menyinggung bahwa manuver itu akan digelar segera. 

De Maizière tidak memberikan komentar apapun tentang masalah penjualan kapal selam tipe Dolphin dari Jerman ke Israel dan hanya menyatakan bahwa pihaknya tidak dapat memberikan keterangan tentang hal ini kepada publik. 

Jerman hingga kini telah menjual lima kapal selam tipe Dolphin kepada Israel dan kali ini, Israel mengincar kapal selam keenam. Namun Tel Aviv meminta pemerintah Berlin untuk menanggung sebagian dana pembelian kapal selam tersebut. 

Pada saat yang sama, media massa Zionis menyebutkan, Jerman dan Israel juga sepakat untuk bersama-sama memproduksi sebuah rudal baru tipe dari udara ke darat bernama PILUM yang akan ditangani oleh perusahaan Diehl dari Jerman dan perusahaan Rafael dari Israel.

Basis sistem rudal tersebut berasal dari rudal Spice milik perusahaan Rafael, mampu membidik target dari jarak 100 kilometer. 

Rudal baru itu hanya dapat dipasang di jet tempur Eurofighter. Jet tempur itu saat ini dimiliki oleh Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, Austria, dan Arab Saudi. Namun, hingga kini tidak jelas apakah Israel menyetujui penjualan rudal PILUM kepada Arab Saudi. 

Rudal PILUM dilengkapi dengan sistem GPS yang memungkinkan pilot mengikuti gerakannya dari jarak 100 kilometer. Diehl dan Rafael menyatakan akan menyesuaikan rudal PILUM agar dapat dipasang di pesawat tempur F-15 dan F-16.

Rudal tersebut dapat digunakan untuk berbagai target termasuk, kapal, radar, dan anti-udara. 

Jerman merupakan salah satu penyuplai senjata ke Israel dan pemerintahan Kanselir Angela Merkel, memasukkan keamanan Israel dalam prioritas doktrin keamanan dalam negeri Jerman. 

Dalam beberapa tahun terakhir, Jerman mendapat berbagai kritikan menyusul ekspor massif senjatanya ke Israel. Lembaga-lembaga internasional dan para pakar hukum menilai langkah pemerintah Jerman itu bertentangan dengan klaim Berlin soal upayanya mereduksi tensi di kawasan. 

Hingga kini tidak ada data statistik resmi soal penjualan senjata Jerman ke Israel. Namun berdasarkan berbagai pemberitaan yang ada, antara tahun 1998 hingga 2001, Jerman telah mengekspor senjata ke Israel senilai 900 juta dolar AS.

Sumber: Irib