Tampilkan postingan dengan label Nato. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nato. Tampilkan semua postingan

NATO Realisasikan Pertahanan Rudal Eropa

CHICAGO-(IDB) : Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO mulai menjalankan sistem pertahanan rudal Eropa. Pengumuman itu disampaikan oleh Sekretaris Jenderal NATO, Anders Rasmussen, dalam pertemuan di Chicago, Amerika Serikat.

"Di Lisbon, kami sepakat untuk membangun sistem pertahanan rudal NATO. Hari ini, di Chicago, kami mendeklarasikan realisasinya," kata Rasmussen seperti dikutip RIA Novosti. "Kami menyebutnya Kemampuan Interim."

Ramussen menyebut ini sebagai langkah pertama untuk memberikan perlindungan dan jaminan penuh bagi populasi, teritori, dan kekuatan Eropa, khususnya anggota NATO. "Sistem kami akan menghubungkan aset pertahanan rudal bersama dari aliansi berbeda --satelit, kapal, radar dan interseptor-- di bawah kontrol dan komando NATO," ujar dia.

"Ini akan memungkinkan bagi kami untuk bertahan dari serangan dari luar area Eropa-Atlantik."

Sistem pertahanan rudal NATO ini bukannya tanpa kritik. Rusia telah mengisyaratkan akan menentang habis-habisan rencana ini. Negara pewaris Uni Soviet ini mengancam akan mengerahkan kekuatan nuklirnya untuk menghancurkan sistem pertahanan rudal NATO di Rumania dan Polandia.

Amerika dan NATO sepakat mengembangkan proyek pertahanan ini saat pertemuan di Lisbon pada November 2010. Kesepakatan itu diambil setelah NATO menolak kerja sama dengan Rusia.

Saat itu, NATO ingin kerja sama pertahanan dalam dua sistem terpisah, hanya saling bertukar informasi. Sedangkan Rusia ingin kerja sama dalam satu sistem. Semua pihak terlibat dalam operasi sepenuhnya.

Sebelumnya, Ketua Dewan Keamanan Nasional Rusia, Nikolai Patrushev menyebut proyek pertahanan rudal Eropa ini ditujukan untuk menangkal rudal-rudal balistik antar benua yang dimiliki negaranya.

Sumber : Vivanews

AS Khawatir Penjualan Persenjataan NATO Ke Rusia

WASHINGTON DC-(IDB) : Laporan Dinas Riset Kongres AS (CRS) yang dirilis Kamis (10/5/2012) memaparkan kekhawatiran AS dan beberapa anggota NATO lainnya atas keputusan Perancis, Jerman, dan Italia menjual berbagai senjata dan peralatan militer lain ke Rusia. Penjualan itu dikhawatirkan bisa mendestabilisasi keamanan di Eropa.

Laporan tersebut dibuat oleh CRS atas permintaan Senator Richard Lugar dari Partai Republik di AS, yang khawatir senjata-senjata itu bisa digunakan melawan negara-negara sekutu AS dan suatu hari nanti bahkan bisa dijual ke China. 

Menurut laporan tersebut, Perancis menjual empat kapal serbu amfibi/kapal induk helikopter kelas Mistral kepada Rusia pada Juni 2011. Kapal kelas itu adalah kapal terbesar kedua di jajaran Angkatan Laut Perancis, dan merupakan kapal proyeksi kekuatan yang mampu membawa 16 helikopter, empat perahu pendarat, 13 tank tempur utama, dan ratusan prajurit. 

Kemudian, pada November 2011, raksasa perusahaan pertahanan Jerman, Rheinmetall, menandatangani kontrak pembangunan pusat latihan militer Rusia di kawasan Volga, Rusia. Rheinmetall menyatakan, pusat latihan senilai 131 juta dollar AS itu dilengkapi dengan sistem tercanggih yang ada di dunia. 

Italia juga menandatangani kontrak penjualan puluhan kendaraan lapis baja serba guna buatan anak perusahaan Fiat kepada Angkatan Bersenjata Rusia. 

Pemerintahan Presiden Barack Obama secara khusus keberatan dengan penjualan empat kapal kdlas Mistral dari Perancis ke Rusia, dengan alasan bahwa penjualan itu bisa mengirimkan pesan yang salah baik kepada Rusia maupun kepada beberapa negara sekutu (AS) di Eropa Timur dan Eropa Tengah. 

Namun, Washington tidak menyatakan keberatannya itu secara terbuka karena prioritasnya untuk memperbaiki hubungan dengan Moskwa. 

Pihak Perancis, Jerman, dan Italia meyakini, penjualan perangkat militer itu tidak akan membuat Rusia menjadi ancaman serius bagi negara-negara NATO. Penjualan itu adalah "langkah yang logis" untuk memajukan kemitraan strategis dengan Rusia.

Sumber : Kompas

Tehran Siap Hadapi Perisai Rudal NATO

TEHRAN-(IDB) : Komandan Senior Angkatan Bersenjata Iran Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh mengatakan rudal balistik Iran siap membela negara dari ancaman sistem radar NATO di Turki. 
 
Dilaporkan, radar sistem peringatan dini NATO akan mulai beroperasi di Turki pada akhir tahun berjalan.

"Penempatan sistem perisai rudal itu sebagai upaya sia-sia Amerika Serikat dan negara Barat untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran," tegas Hajizadeh di sela-sela parade militer besar pada hari Kamis, menandai 31 tahun peringatan perang pertahanan suci menghadapi rezim Saddam selama delapan tahun.

"Jika Iran meluncurkan rudal balistik, sistem rudal NATO tentu tidak akan efektif," kata Hajizadeh.

Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan rencana ini sejalan dengan 'Konsep Strategis Baru' NATO, dan akan meningkatkan aliansi "Kemampuan pertahanan dan memperkuat sistem pertahanan nasional Turki."

Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran, Kamis (22/9) menggelar parade militer besar-besaran untuk memperingati Pekan Pertahanan Suci di kompleks makam Imam Khomeini ra, Tehran.

Militer Iran memamerkan berbagai jenis senjata dan peralatan tempur terbaru, yang kebanyakan diproduksi dalam negeri. Pada kesempatan itu, Korps Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga mempertontonkan berbagai jenis rudal dan sistem pertahanan rudal.

Sumber: Irib

27 Negara Di Dunia Menggunakan Seragam Militer Produksi PT. SRITEX Indonesia

SOLO-(IDB) : Kebutuhan pakaian militer 27 negara dipenuhi oleh PT Sritex, Sukoharjo, Jawa Tengah, sementara 40 negara lainnya menjalin kerja sama perdagangan dengan perusahaan tekstil tersebut baik meliputi pakaian fishion dengan berbagai model, kain, dan benang.

PT Sritex yang bergerak dalam bidang tekstil mempunyai desain kain lebih dari 300 ribu desain, dan enam di antaranya yang merupakan desain pakaian militer yang telah dipatenkan di Dirjen HAKI, kata Direktur Garment PT Sritex di Solo, Sabtu.

Sebanyak enam desain yang dipatenkan itu di antaranya jenis pakain militer Indonesia.

"Masih banyak disain kami yang belum dipatenkan dan ini akan terus dilakukan secara bergiliran sehingga hak cipta itu tidak akan dibajak oleh orang lain," katanya.

Pabrik tekstil PT Sritex di Sukoharjo itu berada di tanah seluas 150 hektare dengan karyawan mencapai total 18.000 orang. Sekitar 70 persen produksinya diekspor dan 30 persen lainnya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menyinggung mengenai ekspor, Iwan mengatakan sebagian besar di lakukan ke Amerika Serikat yang nilainya total mencapai 300 juta dolar per tahun, sementara kedua ke kawasan Eropa yang nilainya mencapai 200 juta dolar Amerika Serikat.

Negara-negara yang kebutuhan tekstil baik benang, kain, maupun pakaian militernya yang dipasok oleh PT Sritex antara lain Jerman, Inggris, Malaysia, Australia, Timor Leste, Uni Emirat Arab, Kuwait, Brunei Darussalam, Singapura, Amerika Serikat, Papua New Guinea, Selandia Baru, Tunisia, Turki, dan anggota NATO.

Sumber: Antara

Rusia Bocorkan Rencana Serangan NATO ke Iran

NATO-(IDB) : Wakil Rusia untuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Dmitry Rogozin menyatakan bahwa NATO tengah merencanakan serangan militer terhadap Republik Islam Iran untuk menggulingkan pemerintahan negara itu. 
 
Hal itu dikemukakan Rogozin dalam wawancaranya dengan koran Izvestia terbitan Rusia Jumat (5/8), bahwa NATO tengah mempersiapkan target jangka panjang untuk menyerang Iran. Pejabat Rusia itu menambahkan bahwa pasukan aliansi itu berniat mengubah pemerintahan di Iran yang pendapatnya tidak sejalan dengan dunia Barat. 

"Tali simpul sekitar Iran terus menguat. Rencana militer anti-Iran itu tengah disusun. Dan kami sangat mengkhawatirkan eskalasi perang dalam skala luas di kawasan besar ini," tutur Rogozin. 

Lebih lanjut diplomat Rusia itu menjelaskan bahwa Suriah dan Yaman akan menjadi tahap terakhir strategi NATO sebelum melancarkan serangan ke Iran. 

Perkembangan terbaru ini mengemuka di saat para pengamat masalah Israel memprediksikan kemungkinan serangan rezim Zionis terhadap instalasi nuklir Iran untuk mengalihkan perhatian masyarakat dunia dalam mendukung deklarasi kemerdekaan Palestina di PBB. 

Bulan lalu, mantan agen Dinas Rahasia Amerika (CIA) Robert Baer mengatakan, bahwa serangan tersebut nyaris pasti dilancarkan Israel pada bulan September menjelang voting di sidang Majelis Umum PBB soal deklarasi kemerdekaan Palestina.

Sumber: Irib

Rusia-NATO Gagal Bicarakan Sistem Pertahanan Anti Rudal

MOSKOW-(IDB) : Sebuah sumber terpercaya menyatakan, perundingan antara Rusia dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terkait sistem anti rudal regional telah keluar dari agenda mereka.
 
Seperti dilaporkan IRNA Jum'at (15/7), sumber yang tidak bersedia disebutkan identitasnya ini menandaskan, NATO melecehkan usulan Rusia soal sistem pertahanan anti rudal di kawasan. Berdasarkan prakarsa Moskow, sistem pertahanan regional harus jelas pihak yang bertanggung jawab dan tanggung jawab ini harus melibatkan juga negara kawasan.

Sebelumnya Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov saat perundingan antara pemimpin NATO dan Rusia di Sochi mengatakan bahwa kedua pihak gagal mencapai kesepakatan bersama soal sistem pertahanan anti rudal di wilayah Eropa.

Sementara itu, negara anggota NATO menjustifikasi penolakannya atas prakarsa Rusia dengan mengisyaratkan pada perjanjian multilateral pakta Washington. Berdasarkan pakta ini, menyerahkan masalah pertahanan kepada negara non anggota NATO tidak mungkin.

Perundingan NATO dan Rusia terkait sistem pertahanan anti rudal di kawasan mencapai jalan buntu di saat kedua pihak di sidang London tahun 2000 sepakat melakukan kerjasama bilateral sistem pertahanan anti rudal di benua Eropa.

Di sebutkan pula bahwa anggota NATO menekankan dibentuknya dua sistem terpisah soal sistem pertahanan anti rudal dengan model pertukaran informasi dan data. Namun Rusia menekankan sistem pertahanan kolektif dengan kerjasama penuh. 

Sumber: Irib

Akhirnya, NATO Lancarkan Serangan Helikopter Pertamanya ke Libya

LIBYA-(IDB) : Helikopter tempur pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) telah melakukan serangan pertama ke Libya dalam rangka meningkatkan serangan terhadap diktator Muammar Gaddafi.
 
AFP melaporkan, NATO dalam statemennya hari ini (Sabtu, 4/6) menyebutkan, "Serangan helikopter di bawah komando NATO dilancarkan untuk pertama kalinya pada tanggal 4 Juni 2011 dalam operasi militer atas Libya yang merupakan bagian dari Operasi Pelindung Terpadu."

Kapten HMS Ocean, sebuah kapal tempur Inggris yang menjadi pangkalan serangan tersebut, mengatakan, "Dua helikopter Apache menghancurkan dua instalasi militer, sebuah situs radar dan sebuah kendaraan lapis baja dekat sebuah pos pemeriksaan dekat kota Brega, Libya."

Pejabat militer Perancis juga mengatakan, helikopter tempur Gazelle dan Tiger  juga ikut ambil bagian dalam operasi tersebut. 

Seorang juru bicara militer Perancis, Thierry Brukhard, mengatakan serangan helikopter tersebut menghancurkan sekitar 20 target.

Empat Apache Inggris dan 12 helikopter Tiger dan Gazelle milik Perancis dikirim ke Libya di bawah komando NATO.

Panglima NATO untuk misi Libya Letnan Jenderal Charles Bouchard mengatakan helikopter tersebut akan digunakan "kapanpun dan dimanapun diperlukan."

NATO menekankan bahwa presisi serangan helikopter tersebut lebih tinggi dibanding jet tempur dalam menyerang sasaran kecil dan menarget loyalis Gaddafi yang berusaha bersembunyi di kawasan padat penduduk.

Namun, helikopter itu beroperasi pada ketinggian rendah dan beresiko menjadi sasaran serangan pasukan Gaddafi. Apalagi berbagai laporan menyebutkan bahwa militer Gaddafi masih memiliki persediaan ribuan rudal tipe darat ke udara.

Sebelumnya, pesawat tempur NATO. Melancarkan berbagai serangan terhadap struktur komando dan kontrol di ibukota Libya, Tripoli.

NATO juga telah memperpanjang misinya di Libya hingga akhir September.

Resolusi PBB nomor 1973 bulan Maret lalu, memberikan mandat kepada NATO sampai akhir Juni untuk memberlakukan zona larangan terbang di Libya guna melindungi warga sipil dari serangan udara militer pro- Gaddafi.

Menurut Jubir Pemerintah Libya Mussa Ibrahim, lebih dari 700 warga sipil tewas dalam serangan udara NATO.

Sumber: Irib

NATO Segera Kerahkan Helikopter ke Wilayah Libia

Apache milik Inggris
BRUSSELS-(IDB) : NATO dalam waktu dekat akan mengerahkan helikopter tempur ke wilayah Libia. Saat ini, helikopter milik Prancis dan Inggris tinggal menunggu perintah untuk masuk dan melakukan penyerangan di wilayah Libia.

Letjen Charles Bouchard dari militer Kanada, Jumat (27/5) mengatakan dirinya tidak tahu kapan dan dimana helikopter milik anggota NATO akan melakukan operasi militernya. Namun, ia menegaskan operasi militer yang akan dilakukan akan efektif, agresif, dan aman bagi warga sipil.

Ia mengatakan, operasi militer ini akan menjadikan kendaraan militer milik kubu Moammar Khaddafi sebagai sasaran. Pasalnya selama ini NATO yang hanya melancarkan serangan dari luar wilayah Libia sangat sulit mengidentifikasi kendaraan milier pasukan Khaddafi. 

Juru bicara NATO Oana Lungescu mengatakan pihaknya sama sekali tidak pernah menerima surat dari Khaddafi soal keinginan melakukan gencatan senjata. "Yang jelas, kata-kata saja tidaklah cukup," ungkap Lungescu.

Produksi Senjata Asean Berstandar NATO

JAKARTA-(IDB) : Produksi senjata dan alat pertahanan yang dihasilkan oleh kolaborasi negara-negara ASEAN akan mengacu pada standar senjata dan alat-alat pertahanan yang digunakan North Atlantic Treaty Organization (NATO). Menteri Pertahanan Malaysia, Dato SeAhmad Zahid bin Hamidi, menyampaikan hal ini dalam pertemuan dengan wartawan di Jakarta, Jum'at 20 Mei 2011.

"Kita tahu bahwa standar dalam produksi produk itu penting. Saya sarankan agar standar ASEAN menyesuaikan standar NATO agar tidak ada masalah dalam spesifikasi produk," katanya. Standar yang dimaksud tidak hanya terkait dengan spesifikasi produk, tetapi juga sistem produksi, pemilihan teknologi dan aset yang dikembangkan.

Pemerintah negara-negara ASEAN sepakat bekerjasama mengembangkan industri pertahanan untuk kawasan. Kesepakatan ini ditandatangani dalam deklarasi bersama menteri-menteri pertahanan di Jakarta kemarin. Konsep kerja sama yang disusun oleh Malaysia direncanakan untuk jangka panjang sampai 2030. Konsep ini sudah diadopsi sebagai resolusi.

SS-2 Pindad V4 sniper berstandar NATO
Kerjasama akan dimulai oleh tiga negara, yaitu Malaysia, Thailand dan Indonesia. Alasannya, ketiga negara ini sudah memiliki dasar kerja sama pertahanan. Indonesia kebagian tugas memproduksi alat berat dan kendaraan tempur karena sudah memiliki perusahaan-perusahaan dengan keahlian ini. Malaysia akan fokus memproduksi peralatan kelas menengah dan Thailand untuk persenjataan dan alat-alat yang lebih kecil.

Dato Seri Ahmad mengatakan kerja sama ini akan menciptakan lapangan pekerjaan baru dan memperkuat ekonomi kawasan. Pada saat yang sama juga akan mengurangi aliran dana ke luar dari wilayah ASEAN ke negara-negara Amerika dan Eropa untuk pembelian senjata. Persoalannya ASEAN belum memiliki acuan standar produk pertahanan yang sama.

"Kami akan mengajukan ini dalam waktu dekat," katanya. Salah satu yang diajukan acuan adalah pengalaman Eopa menyatukan produksi persenjataan mereka. Meski masing-masing negara memproduksi senjata dengan spesifikasi berbeda, tetapi mereka bekerja sama memproduksi komponen untuk negara lain.

Karena kesepakatan kerja sama baru dilakukan di level pemerintah, rencana kerja sama akan ditindaklanjuti dengan merangkul pihak swasta dan menyusun kerjasama bussiness to bussiness. Perusahaan akan diberikan wewenang sepenuhnya untuk mengatur pemasaran sesuai kebutuhan negara-negara di ASEAN.

Dato Seri Ahmad mengatakan kerja sama ini akan menguntungkan negara-negara di kawasan ASEAN karena akan memicu tumbuhnya industri komponen pertahanan di setiap negara. Sebagai pilot projectSpecial Purpose Vehicle direncanakan akan diproduksi kendaraan tempur untuk kebutuhan khusus atau (SPV). Berikutnya akan dikembangkan fasilitas untuk perawatan dan penggantian komponen pesawat tempur.

Jika fasilitas ini bisa diresmikan dan dikembangkan menjadi pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) di kawasan ASEAN, keuntungan yang diperoleh akan sangat besar. Pasalnya, Dato Seri Ahmad mencontohkan perawatan pesawat jenis Hercules harus dilakukan di Amerika. Pengiriman pesawat saja membutuhkan biaya yang besar, belum termasuk perawatan.

Sumber: Tempo

NATO Kalahkan Pasukan Gaddafy

LIBYA-(IDB) : NATO melancarkan sejumlah serangan rudal terhadap sasaran di wilayah Tripoli pada Selasa (10/5). Serqangan tersebut memukul mundur pasukan Libya di bawah pasukan Muammar Gaddafi, kata saksi.

Dalam sebuah pernyataan resminya NATO mengatakan satu misi serangan udaranya berhasil menghantam sejumlah peluncur roket, artileri dan tiga bangunan yang digunakan pemerintah Libia untuk "menyakiti" warga sipil.

Para pejabat Libya mengatakan empat anak-anak terluka, dua di antaranya mengalami luka berat yang diakibatkan pecahan kaca yang disebabkan oleh ledakan dari pasukan NATO di daerah Tripoli.

Pejabat membeberkan pada wartawan asing sebuah rumah sakit di ibukota Libya yang telah hancur.

Sementara pasukan pemberontak di kota Misrata juga mengklaim berhasil memukul mundur pasukan pemerintah Libia dari kota tersebut. Misrata, satu-satunya kota wilayah barat Libya yang dikuasai pemberontak sudah berada di bawah kepungan pasukan pemerintah selama dua bulan.

Pasukan pemberontak mengakui Misrata masih dalam kondisi terkepung, namun mereka mengklaim bisa merangsek maju sejauh 30 km ke arah ibukota Tripoli.

Namun, akibat minimnya informasi sehingga klaim dari kedua belah pihak tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Sumber: Jurnas

NATO Gagal Menghentikan Serangan Militer Gaddafi

LIBYA-(IDB) : Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dinilai gagal menghentikan serangan militer pro-diktator Libya, Muammar Gaddafi, terhadap empat tangki raksasa penyimpanan minyak di dekat kota Misratah. 
 
Militer pro-Gaddafi bahkan mampu mengerahkan pesawat tempurnya membombardir empat tangki penyimpan minyak dan merusak sejumlah tangki lainnya. Padahal berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB, misi NATO di Libya adalah memberlakukan zona larangan terbang di negeri yang dilanda krisis itu. 

Sebelum serangan, pasukan revolusioner telah memberikan peringatan kepada NATO atas rencana serangan pesawat militer pro-Gaddafi, namun tidak ada respon dari NATO. 

Militer pro-Gaddafi menggunakan pesawat kecil dalam serangan Sabtu malam (7/5) ke wilayah Qasr Ahmed di dekat pelabuhan Misratah.

Seorang juru bicara pasukan revolusioner di Misratah, Ahmed Hassan mengatakan, "Empat tangki hancur total dan terjadi kebakaran besar yang merusak empat tangki lainnya. Kami tidak mampu memadamkan api itu karena kami tidak memiliki perlengkapan." Demikian dilaporkan Reuters. 

Militer pro-Gaddafi pada pekan ini semakin meningkatkan volume bombardirnya ke kota Misratah dalam rangka mencegah masuknya suplai bantuan melalui pelabuhan.

Bulan lalu, pemipin pasukan revolusioner Libya, Jenderal Abdul Fattah Younis, kepada wartawan di Benghazi menuding NATO tidak serius dan hal ini memberikan peluang kepada pasukan pro-Gaddafi untuk melanjutkan serangan dan pembantaian terhadap warga sipil di Misratah dan di berbagai kota Libya.

Aksi terbaru NATO mengabaikan peringatan dari pasukan revolusioner itu semakin meningkatkan kecurigaan terhadap tujuan utama misi NATO di Libya.

Sumber: Antara

Putra Bungsu, 3 Cucu Gaddafi Tewas Dalam Serangan Udara NATO

TRIPOLI-(IDB) : Pemimpin Libya Muamar Gaddafi selamat dalam serangan udara NATO Sabtu malam, tapi anak laki-laki bungsunya, Saif al-Arab, dan tiga cucunya tewas dalam serangan itu, kata seorang juru bicara pemerintah Libya.

Mussa Ibrahim mengatakan Saif al-Arab adalah warga sipil dan mahasiswa yang belajar di Jerman. Ia berusia 29 tahun.

Pejabat-pejabat Libya membawa para wartawan ke sebuah rumah, yang dihantam oleh sedikitnya tiga rudal. Atap rumah itu runtuh sepenuhnya di beberapa tempat, menyebabkan serangkaian baja beton tergantung di antara potongan-potongan beton.

Sebuah mesin sepakbola-meja berada di luar di taman rumah itu, yang berada di sebuah tempat permukiman kaya di Tripoli, demikian Reuters melaporkan. 

Sumber: Antara

Jet Tempur NATO Pun Tak Beri Ampun Gedung Televisi Libya

IRIB-(IDB) : Jet-jet tempur Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hari Sabtu (30/4) membombardir sekitar gedung televisi nasional Libya di Tripoli saat jaringan televisi nasional menyiarkan pesan Presiden Muammar Gaddafi.  

Menurut laporan IRNA, kontributor Reuters seraya melaporkan berita ini menulis, saat televisi nasional Libya menyiarkan pesan diktator Gaddafi yang memakan waktu cukup panjang terlihat sejumlah kerusakan teknis karena ledakan yang diakibatkan serangan udara NATO di sekitar gedung.

Berbagai laporan menyebutkan, NATO dalam serangannya Sabtu pagi berusaha menarget tempat kediaman Gaddafi. Pekan lalu jet tempur NATO juga menembak sejumlah bangunan di sekitar Istana Kepresidenan di Tripoli. Dalam serangan tersebut dua bangunan dilaporkan rusak berat.

Di sisi lain, NATO membantah berita bahwa pihaknya berusaha menarget Gaddafi. NATO mengklaim tidak berniat melukai Presiden Libya. Sementara itu, dalam pesannya kemarin Gaddafi kembali menegaskan tidak bersedia meninggalkan negaranya dan menyatakan kesiapannya melakukan gencatan senjata bersyarat. Ia menandaskan akan melakukan gencatan senjata jika seluruh pihak melakukan hal serupa. Gaddafi menegaskan dirinya menolak untuk melakukan gencatan senjata sepihak.

Sumber: Irib

NATO Serang Televisi Libya Saat Gaddafi Berpidato

LIBYA-(IDB) : Para pejabat Libya mengkonfirmasikan serangan udara pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terhadap sebuah stasiun televisi dekat Kantor Media Massa Nasional Libya. Kantor berita Fars melaporkan, pesawat tempur NATO pagi hari ini (30/4) menghancurkan sebuah stasiun televisi nasional Libya di saat diktator Muammar Gaddafi tengah berpidato. 

Para pejabat Libya menyatakan bahwa serangan udara NATO kali ini memperkuat dugaan bahwa pasukan koalisi Barat memang hendak meneror Gaddafi. 

Di sisi lain, diktator Libya, dalam pidatonya yang berlangsung selama satu setengah jam bersumpah tidak akan meletakkan jabatannya. 

Lebih lanjut Gaddafi meminta negara-negara anggota NATO yang berpartisipasi dalam serangan ke Libya, untuk mengakhiri krisis dengan berunding serta menghentikan serangan udaranya. 

Sumber: Irib

Italia Siap Lumpuhkan Pasukan Gaddafi

Gambar Pesawat Jet Tempur Aermacchi M.B.339A (Italia)

ITALIA-(IDB) : Pemerintah Italia mengumumkan akan meningkatkan kekuatan udaranya dalam operasi yang dipimpin NATO untuk melawan kekuatan Pemimpin Libya Muammar Gaddafi.
 
Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (25/4) mengatakan, Roma yang telah memainkan peran terbatas dalam misi pimpinan NATO di Libya, akan memungkinkan Angkatan Udara Italia untuk membom sasaran-sasaran militer tertentu.

Angkatan Udara Italia sejauh ini telah memainkan peran kunci dalam menegakkan zona larangan terbang dan embargo senjata di Libya. Italia, bekas penjajah Libya, tidak menyetujui operasi darat dan mengatakan pihaknya lebih suka mendapati Gaddafi dan keluarganya menyerahkan kekuasaan dengan sukarela untuk melancarkan jalan bagi solusi politik atas konflik itu.

Berlusconi telah memberitahu keputusan pemerintah Italia kepada Presiden AS Barack Obama melalui percakapan telepon, dan juga diharapkan untuk menghubungi para pemimpin Eropa lainnya.

Italia membuat keputusan itu sehari setelah pesawat tempur NATO menggempur Tripoli, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai lebih dari 45 lainnya. Sebelumnya pada hari Senin, tiga ledakan keras dilaporkan terdengar di ibukota Libya.

Bom-bom NATO menghancurkan kantor Gaddafi di kompleks tempat tinggalnya di Tripoli pada Senin, sementara pasukan revolusioner yang terkepung di Misrata mengatakan mereka telah memukul mundur tentara Gaddafi dari kota itu.

Koalisi Barat menggelar serangan udara untuk melawan kekuatan rezim Libya pada tanggal 19 Maret di bawah mandat PBB. Resolusi itu bertujuan melindungi warga sipil. Namun sejak Barat melakukan aksinya, puluhan warga sipil dilaporkan tewas di negara Afrika Utara itu.

Amerika Serikat, Perancis dan Inggris mengatakan mereka tidak akan menghentikan operasi militer di Libya sampai Gaddafi digulingkan dari tampuk kekuasaan.

Kekuatan revolusioner Libya telah sering mengkritik NATO karena gagal untuk mencegah pembunuhan warga sipil oleh pasukan Gaddafi.
Sumber: Irib

NATO Bombardir Kantor Khaddafi

TRIPOLI-(IDB) : Kantor pemimpin Libya Muamar Khaddafi di kompleks kediamannya yang luas di Tripoli hancur dalam satu serangan udara NATO, Senin (25/04) pagi, kata seorang wartawan AFP.Seorang pejabat Libya yang menyertai wartawan ke lokasi kejadian mengatakan 45 orang cedera, 15 luka parah, dalam pemboman tersebut.

Ia menambahkan ia tidak mengetahui apakah ada korban di bawah puing atau tidak . "Itu adalah upaya untuk membunuh Kolonel Khaddafi," katanya.

Satu ruang pertemuan yang menghadap ke kantor Khaddafi rusak parah dalam ledakan tersebut.

Petugas pemadam masih berusaha memadamkan kobaran api di satu bagian bangunan yang ambruk itu, ketika wartawan diajak meninjau lokasi tersebut, beberapa jam setelah tiga ledakan keras mengguncang bagian tengah Tripoli.

Setelah ledakan tersebut, tiga stasiun televisi Libya sempat tak mengudara.
Pejabat yang mendampingi wartawan mengatakan Khaddafi menggunakan bangunan yang hancur itu untuk pertemuan dengan menterinya dan pertemuan lain.

Beberapa pesawat udara NATO, Jumat larut malam (22/4), sudah mengincar Kabupaten Bab Al-Aziziya --tempat kompleks kepresidenan berada.

Sumber: Seruu

AS dan NATO Hanya Incar Minyak Libya

Juru bicara Departemen Luar Negeri Republik Islam Iran Ramin Mehmanparast
TEHRAN-(IDB) : Juru bicara Departemen Luar Negeri Republik Islam Iran Ramin Mehmanparast mengatakan, Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hanya berpikir untuk menguasai sumur-sumur minyak dan kepentingannya di negara-negara lain.
 
Mehmanparast seperti dikutip reporter IRIB Ahad (24/4) mengatakan, negara-negara Barat dan lembaga-lembaga internasional di Barat memanfaatkan isu hak asasi manusia untuk kepentingan sendiri. 

"Untuk bisa terlibat, pertama-tama AS dan NATO mengaku membela rakyat Libya. Tapi sekarang, terbukti bahwa mereka sama sekali tidak memikirkan pembelaan itu," ujarnya.

Juru bicara Deplu Iran menyinggung berlarutnya proses penggulingan diktator Libya, Yaman dan Bahrain seraya menandaskan, "Di sejumlah negara yang bergolak dengan adanya kebangkitan Islam rakyat di sana, perlawanan rezim-rezim penguasa setempat dengan berbagai cara termasuk dengan kekerasan telah menunda kejatuhan mereka."

Ditambahkannya, negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus memandang diri sebagai pihak yang harus bertanggung jawab di hadapan opini umum dunia, baik mereka yang punya pengaruh di tingkat internasional maupun yang banyak berbicara dalam hal masalah ini.

"OKI diharap bisa bergerak serius dan mengambil langkah-langkah yang efisien dalam masalah ini," ungkapnya. 
Sumber: Irib

NATO Punya Misi Lain di Libya

IRIB-(IDB) : Serangan udara koalisi Barat di Libya tidak menargetkan pangkalan-pangkalan militer negara itu. Hal ini memungkinkan rezim penguasa Libya Muammar Gaddafi untuk terus membunuh warga sipil.
 
Namun, untuk menunjukkan dukungan kepada revolusioner Libya, koalisi Barat melakukan serangan udara yang tidak efektif dan sesekali di pangkalan militer Libya. Pasukan revolusioner Libya bahkan menuduh pasukan Barat berpihak dengan rezim Gaddafi. Demikian dilaporkan Press TV pada hari Rabu (20/4).

Sementara itu, penduduk di wilayah pegunungan barat Libya mengatakan pasukan Gaddafi telah meningkatkan serangan ke kawasan itu. Puluhan warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan selama sepekan terakhir dan sejumlah lainnya terluka.

Koalisi Barat menggelar serangan udara besar-besaran untuk melawan kekuatan rezim Gaddafi pada tanggal 19 Maret di bawah mandat PBB. Serangan itu bertujuan melindungi rakyat Libya. Namun, ratusan warga sipil tewas sejak pasukan pimpinan Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke negara Afrika Utara itu.

Sebelumnya, NATO mengaku membunuh pasukan revolusioner dan warga sipil dalam serangan udara di timur Libya, tapi menolak meminta maaf atas pengeboman yang mematikan.
Pasukan oposisi telah sering mengkritik NATO karena gagal mencegah pembunuhan warga sipil oleh pasukan Gaddafi. Revolusioner pernah mengancam untuk meminta Dewan Keamanan PBB menangguhkan misi NATO di Libya, jika aliansi militer itu gagal menjalankan misinya dengan baik.

Menurut berbagai laporan, perang di Libya sejauh ini telah menewaskan sekitar 10.000 orang dan melukai lebih dari 50, 000 lainnya. Jumlah korban tewas baru diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini pada hari Selasa, setelah dia mengadakan pembicaraan di Roma dengan pemimpin revolusi Libya, Mustafa Abdel Jalil. 

Sumber: Irib

Jet Tempur NATO Kembali Gempur Tripoli

TRIPOLI-(IDB) : Pesawat-pesawat tempur NATO membom beberapa sasaran di dekat ibukota Tripoli Libya Selasa (19/04) pagi.Aliansi mengatakan serangan yang ditargetkan adalah fasilitas komando dan kontrol serta infrastruktur komunikasi.

NATO mengatakan jet tempur mereka juga membom markas Brigade elit Libya ke-32 yang dikatakan telah digunakan untuk memimpin dan mengkoordinasikan serangan terhadap warga sipil.

Media yang dikendalikan negara mengatakan serangan terjadi di Tripoli, Sirte - tempat kelahiran pemimpin Libya Moammar Khaddafi, dan wilayah Al-Hira yang terletak di bagian baratdaya ibukota.

Aliansi NATO telah melakukan serangan udara terhadap pasukan loyalis di Libya untuk menegakkan resolusi PBB tentang zona larangan terbang serta melindungi warga sipil dari serangan pasukan Kolonel Khaddafi.

Pada hari Senin, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pejabat Libya mengatakan mereka telah mencapai kesepakatan untuk mengizinkan pekerja bantuan melakukan perjalanan yang aman ke kota barat yang terkepung Misrata, tetapi tanpa jaminan dari Khaddafi bahwa pasukannya akan menghentikan penembakan di wilayah kantong pemberontak.

Seorang juru bicara PBB mengatakan Khaddafi setuju untuk membiarkan tim penilaian internasional ke Misrata sebagai bagian dari kesepakatan pada akses kemanusiaan ke ibukota, Tripoli, Libya dan kota-kota lainnya. Dia mengatakan pemerintah Libya akan menjamin keamanan tim hanya di wilayah di bawah kontrolnya.

Sumber: Seruu

Rusia: NATO Langgar Amanat PBB

Jet tempur Rafale Perancis bersiap mendarat di pangakalan udara Solenzara, Korsika, setelah operasi militer di Libya.
BEOGRAD-(IDB) : Rusia menyebut upaya Barat menumbangkan Muammar Gaddafi melanggar resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Libya yang hanya memberi wewenang penggunaan kekuatan untuk melindungi warga.

"Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak pernah bertujuan menumbangkan penguasa Libya," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dan menambahkan, "Semua, yang sekarang memakai resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa itu untuk tujuan tersebut, melanggar amanat PBB."

Karena kedudukan Barat seperti itu, lawan Libya menolak merundingkan gencatan senjata dengan penguasa di Tripoli, kata Lavrov. "Adalah penting mewujudkan gencatan senjata," katanya saat mengunjungi Beograd.

Inggris dan Prancis mendesak sekutu lain di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menyumbang lebih banyak pesawat tempur yang mampu menghantam pasukan darat Gaddafi sesudah Washington mengurangi perannya di gerakan itu dan menyerahkan kepemimpinan kepada NATO pada 31 Maret.

Lavrov menyatakan lawannya di Yaman agaknya juga mengharapkan bantuan Barat seperti gerakan aliansi pertahanan Atlantik Utara NATO di Libya untuk menggulingkan Presiden Ali Abdullah Saleh.

"Dengan kemungkinan memakai nalar sama, lawan di Yaman menolak kemungkinan duduk di meja perundingan dengan mengharapkan bantuan semacam itu dari luar negeri," kata Lavrov.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dijadwalkan bersidang Selasa malam untuk membahas Yaman, tempat Barat dan sekutu Teluk Arab-nya mengkhawatirkan ketegangan berkepanjangan memicu bentrok di antara satuan tentara bersaing di ibukota Sanaa dan tempat lain.

Ketua Uni Afrika Teodoro Obiang Nguema mengutuk campur tangan tentara asing di Pantai Gading dan Libya dengan mengatakan bahwa Afrika harus dibolehkan mengelola urusannya.

"Afrika tidak memerlukan pengaruh dari luar. Afrika harus mengelola sendiri urusannya," kata Obiang Nguema, yang juga presiden Guinea Khatulistiwa.

Sumber: Antara