Tampilkan postingan dengan label Libya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Libya. Tampilkan semua postingan

Libya Akan Mendapat 68 Mirage 2000 Eks-UEA

LONDON-(IDB) : Uni Emirat Arab (UEA) dikabarkan telah setuju mentransfer armada pesawat tempur Mirage 2000 miliknya kepada Libya. Sebagai pengganti armada Mirage itu, UEA akan membeli puluhan pesawat tempur Dassault Rafale baru buatan Perancis.

Demikian diungkapkan majalah pertahanan Jane's Defence Weekly (JDW) edisi 21 Maret 2012, yang diterima Kompas hari Jumat (30/3/2012) ini. JDW mengutip kabar yang beredar di media Arab, yang mendapat informasi tersebut dari para pejabat tinggi Libya.


Menurut laporan-laporan tersebut, Perancis turut terlibat dalam menjembatani perjanjian antara UEA dan Libya. Perancis berada di garis depan operasi militer udara NATO di Libya tahun lalu, yang menggulingkan rezim Moammar Khadafy.


Dalam kesepakatan itu, Libya disebutkan akan mendapatkan 68 unit pesawat Mirage 2000 eks AU UEA. Tidak disebutkan oleh JDW apakah transfer itu berupa hibah murni atau dalam bentuk perjanjian jual beli pesawat bekas, dan kapan serah terima pesawat akan mulai dilakukan.


Menurut catatan Jane's World Air Forces, UEA membeli sedikitnya 68 pesawat Mirage 2000 dari Perancis sejak 1989. Namun, saat ini hanya sekitar 59 unit yang masih dioperasikan.


Armada Mirage buatan pabrikan Dassault itu telah dimodernisasi, sehingga saat ini Angkatan Udara UEA mengoperasikan 43 unit versi Mirage 2000-9RAD yang berfungsi sebagai pesawat tempur multiperan, dan 16 unit versi Mirage 2000-9DAD yang berfungsi sebagai pesawat latih tempur.


Salah satu surat kabar di Libya mengabarkan, setelah menyerahkan armada Mirage-nya ke Libya, UEA kemudian akan membeli 65 unit pesawat Rafale buatan Dassault mulai 2014 nanti. Surat kabar Perancis La Tribune menambahkan pada Februari lalu, kontrak pembelian Rafale oleh UEA itu akan difinalisasi saat Presiden Perancis Nicolas Sarkozy berkunjung ke UEA bulan depan.


Libya sendiri sudah tak asing dengan pesawat buatan Perancis. Menurut catatan International Institute for Strategic Studies (IISS), angkatan udara negara itu memiliki beberapa skuadron Mirage F-1.

Sumber : Kompas

Hampir 5.000 Rudal Anti Pesawat SAM - 7 Libya Hilang

BENGHAZI-(IDB) : Hampir 5.000 rudal anti-pesawat SAM-7 dari arsenal mantan pemimpin Libya Muamar Gaddafi telah hilang, kata seorang pejabat militer pemerintah baru negara itu seperti dikutip AFP.

"Libya Gaddafi telah membeli sekitar 20.000 rudal SAM-7, buatan Soviet atau Bulgaria," kata Jendral Mohammed Adia, yang memimpin bagian peralatan perang kementerian pertahanan, katanya pada upacara simbolis untuk melumpuhkan sebagian dari cadangan itu.

"Lebih dari 14.000 dari rudal-rudal itu telah digunakan, hancur atau sekarang di luar misi. Sebagian besar cadangan itu di Zintan (Libya baratdaya)," katanya.

"Sekitar 5.000 SAM-7 masih hilang ... Sayang, sebagian dari rudal itu dapat jatuh ke tangan yang salah di luar negeri," kata jendral itu pada wartawan di sebuah bekas gudang senjata pasukan Gaddafi di Benghazi.

Amerika Serikat berjanji untuk bekerja erat dengan para pemimpin sementara baru Libya demi mengamankan semua cadangan senjata.

Pengembangbiakan senjata yang dirampas dari perbekalan besar Gaddafi telah menimbulkan kekhawatiran akan masa depan stabilitas Libya karena senjata itu dapat jatuh ke tangan kelompok radikal seperti Alqaeda.
Sumber: Antara

Global Research: Barat Siap Menduduki Libya

LIBYA-(IDB) : Barat tengah bersiap-siap menginvasi Libya dengan mengirimkan berbagai macam kapal perang dan kapal induk serta berbagai perlengkapan logistik untuk beroperasi di perairan Mediterania. Penyelamatan warga Libya dijadikan dalih untuk menginvasi negara kaya minyak di Afrika Utara tersebut. 

IRNA melaporkan, situs Global Research yang berbasis di Kanada menulis, dalam KTT G8 terbaru, Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy menyatakan bahwa dirinya dan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, akan berkunjung ke Benghazi. 

Ditambahkannya, "Kami memiliki pemikiran yang sama khususnya tentang masalah bahwa Gaddafi tidak dapat diajak berunding." 

Global Research juga menyebutkan, ungkapan yang sama juga dikemukakan oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama, "Kami tidak akan berhenti kecuali jika rakyat Libya aman dan terbebaskan dari bayang-bayang despotisme."

Ungkapan-ungkapan tersebut dengan jelas menggambarkan bahwa Barat berencana menginvasi dan menduduki Libya. 

Di saat G8 menuntut rezm Gaddafi segera menghentikan kekerasan, Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) semakin meningkatkan serangan udaranya terhadap Libya. Kurang dari delapan pekan, NATO telah melancarkan 8.500 serangan udara. Masuknya helikopter Tiger milik Perancis dan kemungkinan helikopter Apache milik Inggris, semakin memperkuat asumsi bahwa NATO tengah menyusun rencana serangan udara massif untuk mempersiapkan pendaratan pasukan di Libya. 

Yang lebih penting, masuknya kapal-kapal tempur penyerang di perairan Mediterania, disusul dengan kapal induk kelas Nimitz ke kawasan tersebut, semakin memperkokoh asumsi tersebut.
Selain itu, dua kapal tempur amphibi telah dikirim dari Taranto, Italia, pada 13 dan 18 Mei ke dekat perairan Libya.

Sumber: Irib

NATO Gagal Menghentikan Serangan Militer Gaddafi

LIBYA-(IDB) : Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dinilai gagal menghentikan serangan militer pro-diktator Libya, Muammar Gaddafi, terhadap empat tangki raksasa penyimpanan minyak di dekat kota Misratah. 
 
Militer pro-Gaddafi bahkan mampu mengerahkan pesawat tempurnya membombardir empat tangki penyimpan minyak dan merusak sejumlah tangki lainnya. Padahal berdasarkan resolusi Dewan Keamanan PBB, misi NATO di Libya adalah memberlakukan zona larangan terbang di negeri yang dilanda krisis itu. 

Sebelum serangan, pasukan revolusioner telah memberikan peringatan kepada NATO atas rencana serangan pesawat militer pro-Gaddafi, namun tidak ada respon dari NATO. 

Militer pro-Gaddafi menggunakan pesawat kecil dalam serangan Sabtu malam (7/5) ke wilayah Qasr Ahmed di dekat pelabuhan Misratah.

Seorang juru bicara pasukan revolusioner di Misratah, Ahmed Hassan mengatakan, "Empat tangki hancur total dan terjadi kebakaran besar yang merusak empat tangki lainnya. Kami tidak mampu memadamkan api itu karena kami tidak memiliki perlengkapan." Demikian dilaporkan Reuters. 

Militer pro-Gaddafi pada pekan ini semakin meningkatkan volume bombardirnya ke kota Misratah dalam rangka mencegah masuknya suplai bantuan melalui pelabuhan.

Bulan lalu, pemipin pasukan revolusioner Libya, Jenderal Abdul Fattah Younis, kepada wartawan di Benghazi menuding NATO tidak serius dan hal ini memberikan peluang kepada pasukan pro-Gaddafi untuk melanjutkan serangan dan pembantaian terhadap warga sipil di Misratah dan di berbagai kota Libya.

Aksi terbaru NATO mengabaikan peringatan dari pasukan revolusioner itu semakin meningkatkan kecurigaan terhadap tujuan utama misi NATO di Libya.

Sumber: Antara

Putra Bungsu, 3 Cucu Gaddafi Tewas Dalam Serangan Udara NATO

TRIPOLI-(IDB) : Pemimpin Libya Muamar Gaddafi selamat dalam serangan udara NATO Sabtu malam, tapi anak laki-laki bungsunya, Saif al-Arab, dan tiga cucunya tewas dalam serangan itu, kata seorang juru bicara pemerintah Libya.

Mussa Ibrahim mengatakan Saif al-Arab adalah warga sipil dan mahasiswa yang belajar di Jerman. Ia berusia 29 tahun.

Pejabat-pejabat Libya membawa para wartawan ke sebuah rumah, yang dihantam oleh sedikitnya tiga rudal. Atap rumah itu runtuh sepenuhnya di beberapa tempat, menyebabkan serangkaian baja beton tergantung di antara potongan-potongan beton.

Sebuah mesin sepakbola-meja berada di luar di taman rumah itu, yang berada di sebuah tempat permukiman kaya di Tripoli, demikian Reuters melaporkan. 

Sumber: Antara

Jet Tempur NATO Pun Tak Beri Ampun Gedung Televisi Libya

IRIB-(IDB) : Jet-jet tempur Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hari Sabtu (30/4) membombardir sekitar gedung televisi nasional Libya di Tripoli saat jaringan televisi nasional menyiarkan pesan Presiden Muammar Gaddafi.  

Menurut laporan IRNA, kontributor Reuters seraya melaporkan berita ini menulis, saat televisi nasional Libya menyiarkan pesan diktator Gaddafi yang memakan waktu cukup panjang terlihat sejumlah kerusakan teknis karena ledakan yang diakibatkan serangan udara NATO di sekitar gedung.

Berbagai laporan menyebutkan, NATO dalam serangannya Sabtu pagi berusaha menarget tempat kediaman Gaddafi. Pekan lalu jet tempur NATO juga menembak sejumlah bangunan di sekitar Istana Kepresidenan di Tripoli. Dalam serangan tersebut dua bangunan dilaporkan rusak berat.

Di sisi lain, NATO membantah berita bahwa pihaknya berusaha menarget Gaddafi. NATO mengklaim tidak berniat melukai Presiden Libya. Sementara itu, dalam pesannya kemarin Gaddafi kembali menegaskan tidak bersedia meninggalkan negaranya dan menyatakan kesiapannya melakukan gencatan senjata bersyarat. Ia menandaskan akan melakukan gencatan senjata jika seluruh pihak melakukan hal serupa. Gaddafi menegaskan dirinya menolak untuk melakukan gencatan senjata sepihak.

Sumber: Irib

NATO Serang Televisi Libya Saat Gaddafi Berpidato

LIBYA-(IDB) : Para pejabat Libya mengkonfirmasikan serangan udara pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) terhadap sebuah stasiun televisi dekat Kantor Media Massa Nasional Libya. Kantor berita Fars melaporkan, pesawat tempur NATO pagi hari ini (30/4) menghancurkan sebuah stasiun televisi nasional Libya di saat diktator Muammar Gaddafi tengah berpidato. 

Para pejabat Libya menyatakan bahwa serangan udara NATO kali ini memperkuat dugaan bahwa pasukan koalisi Barat memang hendak meneror Gaddafi. 

Di sisi lain, diktator Libya, dalam pidatonya yang berlangsung selama satu setengah jam bersumpah tidak akan meletakkan jabatannya. 

Lebih lanjut Gaddafi meminta negara-negara anggota NATO yang berpartisipasi dalam serangan ke Libya, untuk mengakhiri krisis dengan berunding serta menghentikan serangan udaranya. 

Sumber: Irib

Libya akan Bernasib Seperti Irak

LIBYA-(IDB) : Nasib Libya akan sama dengan Irak. Hal itu dikatakan Abaynomi Azikiwe, ketua redaksi Pan African News Wire hari Kamis. Dalam wawancara dengan Press TV Azikiwe mengatakan, serangan militer yang dilakukan AS ke Libya ditujukan untuk menguasai sumber minyak di negara ini yang pada babak selanjutnya akan berakhir dengan pendudukan seperti yang terjadi di Irak.
 
Menurutnya, modus serangan yang dilakukan militer AS sama dengan yang dilakukan di Afghanistan dan Pakistan dengan mengerahkan pesawat tanpa awak. 

Lebih lanjut aktivis perdamaian ini mengimbau rakyat Libya untuk tidak mengharapkan bantuan dari AS dan NATO. 

Sementara itu, pasukan loyalis diktator Libya Muammar Gaddafi dilaporkan terus menggempur kota Misrata dan Al-Zintan dengan roket. Berita terkini menyebutkan pasukan Gaddafi berhasil menguasai al-Wazin, pintu perbatasan dengan Tunisia setelah memaksa para pejuang revolusi mundur. Sejak meletusnya gerakan revolusi Libya, sebanyak 10 ribu warga lebih tewas di tangan rezim Gaddafi. 

Sumber: Irib

Italia Siap Lumpuhkan Pasukan Gaddafi

Gambar Pesawat Jet Tempur Aermacchi M.B.339A (Italia)

ITALIA-(IDB) : Pemerintah Italia mengumumkan akan meningkatkan kekuatan udaranya dalam operasi yang dipimpin NATO untuk melawan kekuatan Pemimpin Libya Muammar Gaddafi.
 
Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (25/4) mengatakan, Roma yang telah memainkan peran terbatas dalam misi pimpinan NATO di Libya, akan memungkinkan Angkatan Udara Italia untuk membom sasaran-sasaran militer tertentu.

Angkatan Udara Italia sejauh ini telah memainkan peran kunci dalam menegakkan zona larangan terbang dan embargo senjata di Libya. Italia, bekas penjajah Libya, tidak menyetujui operasi darat dan mengatakan pihaknya lebih suka mendapati Gaddafi dan keluarganya menyerahkan kekuasaan dengan sukarela untuk melancarkan jalan bagi solusi politik atas konflik itu.

Berlusconi telah memberitahu keputusan pemerintah Italia kepada Presiden AS Barack Obama melalui percakapan telepon, dan juga diharapkan untuk menghubungi para pemimpin Eropa lainnya.

Italia membuat keputusan itu sehari setelah pesawat tempur NATO menggempur Tripoli, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai lebih dari 45 lainnya. Sebelumnya pada hari Senin, tiga ledakan keras dilaporkan terdengar di ibukota Libya.

Bom-bom NATO menghancurkan kantor Gaddafi di kompleks tempat tinggalnya di Tripoli pada Senin, sementara pasukan revolusioner yang terkepung di Misrata mengatakan mereka telah memukul mundur tentara Gaddafi dari kota itu.

Koalisi Barat menggelar serangan udara untuk melawan kekuatan rezim Libya pada tanggal 19 Maret di bawah mandat PBB. Resolusi itu bertujuan melindungi warga sipil. Namun sejak Barat melakukan aksinya, puluhan warga sipil dilaporkan tewas di negara Afrika Utara itu.

Amerika Serikat, Perancis dan Inggris mengatakan mereka tidak akan menghentikan operasi militer di Libya sampai Gaddafi digulingkan dari tampuk kekuasaan.

Kekuatan revolusioner Libya telah sering mengkritik NATO karena gagal untuk mencegah pembunuhan warga sipil oleh pasukan Gaddafi.
Sumber: Irib

NATO Bombardir Kantor Khaddafi

TRIPOLI-(IDB) : Kantor pemimpin Libya Muamar Khaddafi di kompleks kediamannya yang luas di Tripoli hancur dalam satu serangan udara NATO, Senin (25/04) pagi, kata seorang wartawan AFP.Seorang pejabat Libya yang menyertai wartawan ke lokasi kejadian mengatakan 45 orang cedera, 15 luka parah, dalam pemboman tersebut.

Ia menambahkan ia tidak mengetahui apakah ada korban di bawah puing atau tidak . "Itu adalah upaya untuk membunuh Kolonel Khaddafi," katanya.

Satu ruang pertemuan yang menghadap ke kantor Khaddafi rusak parah dalam ledakan tersebut.

Petugas pemadam masih berusaha memadamkan kobaran api di satu bagian bangunan yang ambruk itu, ketika wartawan diajak meninjau lokasi tersebut, beberapa jam setelah tiga ledakan keras mengguncang bagian tengah Tripoli.

Setelah ledakan tersebut, tiga stasiun televisi Libya sempat tak mengudara.
Pejabat yang mendampingi wartawan mengatakan Khaddafi menggunakan bangunan yang hancur itu untuk pertemuan dengan menterinya dan pertemuan lain.

Beberapa pesawat udara NATO, Jumat larut malam (22/4), sudah mengincar Kabupaten Bab Al-Aziziya --tempat kompleks kepresidenan berada.

Sumber: Seruu

AS dan NATO Hanya Incar Minyak Libya

Juru bicara Departemen Luar Negeri Republik Islam Iran Ramin Mehmanparast
TEHRAN-(IDB) : Juru bicara Departemen Luar Negeri Republik Islam Iran Ramin Mehmanparast mengatakan, Amerika Serikat dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) hanya berpikir untuk menguasai sumur-sumur minyak dan kepentingannya di negara-negara lain.
 
Mehmanparast seperti dikutip reporter IRIB Ahad (24/4) mengatakan, negara-negara Barat dan lembaga-lembaga internasional di Barat memanfaatkan isu hak asasi manusia untuk kepentingan sendiri. 

"Untuk bisa terlibat, pertama-tama AS dan NATO mengaku membela rakyat Libya. Tapi sekarang, terbukti bahwa mereka sama sekali tidak memikirkan pembelaan itu," ujarnya.

Juru bicara Deplu Iran menyinggung berlarutnya proses penggulingan diktator Libya, Yaman dan Bahrain seraya menandaskan, "Di sejumlah negara yang bergolak dengan adanya kebangkitan Islam rakyat di sana, perlawanan rezim-rezim penguasa setempat dengan berbagai cara termasuk dengan kekerasan telah menunda kejatuhan mereka."

Ditambahkannya, negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus memandang diri sebagai pihak yang harus bertanggung jawab di hadapan opini umum dunia, baik mereka yang punya pengaruh di tingkat internasional maupun yang banyak berbicara dalam hal masalah ini.

"OKI diharap bisa bergerak serius dan mengambil langkah-langkah yang efisien dalam masalah ini," ungkapnya. 
Sumber: Irib

Pemerintah Libya Kecam Pengiriman Pesawat Tak Berawak AS

Pesawat tanpa awak USA " Predator "
TRIPOLI-(IDB) : Pemerintah Libya mengatakan keputusan Amerika Serikat untuk mengerahkan pesawat tak berawak Predator sebagai bagian dari operasi NATO di Libya akan semakin banyak menimbulkan korban jiwa rakyat sipil. 

Wakil Menteri Luar Negeri Libya, Khaled Kaim mengatakan peningkatan serangan udara akan merusak klaim bahwa Amerika Serikat dan NATO mendukung demokrasi di Libya. Salah satu pendukung campur tangan militer Amerika, mantan calon presiden Senator John McCain, tiba di kota Benghazi yang diduduki pihak oposisi untuk melakukan pembicaraan dengan pemimpin Gerakan Perlawanan. McCain menggambarkan para Gerakan Perlawanan sebagai pahlawan.

Sementara itu Gerakan Perlawanan Libya menyambut keputusan untuk mengerahkan pesawat tak berawak Predator dengan mengatakan pesawat itu akan membantu mengakhiri penyerangan pasukan Moammar Khaddafi di Misrata. "Kami sangat senang," kata juru bicara kelompok Gerakan Perlawanan Mustafa Gheriani kepada kantor berita AFP. "Kami harap langkah itu akan membantu mengurangi beban rakyat di Misrata," kata Mustafa. "Pesawat itu jauh lebih akurat dibandingkan pesawat-pesawat lain yang terbang pada ketinggian 30.000 kaki," tambahnya.

Presiden Barack Obama menyepakati pengerahan pesawat tak berawak Predator yang membawa peluru kendali ke Libya karena "situasi kemanusiaan," kata Menteri Pertahanan Robert Gates.

Digunakan di Afghanistan.

Pesawat pembunuh tanpa awak Amerika selama ini digunakan di Afghanistan dan di Pakistan. Serangkaian pemboman dan penyerangan yang telah mereka lakukan membuat pemerintah Pakistan belakangan melakukan protes dan menuding bahwa Amerika telah mengorbankan warga sipil di negeri itu dan menargetkan sejumlah bangunan yang diyakini milik warga sipil Pakistan.

Pesawat yang diturunkan di Libya adalah pesawat berjenis General Atomics MQ-1 Predator. Predator yang mampu terbang dengan kecepatan 135 mil per jam ini adalah pesawat pengintai tanpa awak yang dilengkapi dengan persenjataan tempur. Predator mampu terbang hingga ketinggian 25,000 kaki dan menempuh jarak 450 mil. Predator dilengkapi dengan dua rudal AGM-114 Hellfire berpemandu laser. Pesawat ini merupakan pesawat terbang tanpa awak pertama yang dapat menghancurkan terget-terget di darat. Predator pertama kali dipergunakan dalam operasi militer Amerika di Afghanistan.

Hari ini Jumat (22/04) ratusan penduduk Multan, Pakistan memprotes aksi penyerangan oleh pesawat tanpa awak AS di Pakistan yang menewaskan 20 orang setelah menembakkan empat rudal ke sebuah rumah.
Sumber: Seruu

Rusia Peringatkan Operasi Darat di Libya

MOSKOW-(IDB) : Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan bahwa operasi darat di Libya sangat berisiko dan bisa memiliki konsekuensi tak terduga.
 
"Kami tidak senang terhadap perkembangan terbaru di Libya, yang menarik masyarakat internasional ke dalam konflik di darat. Ini mungkin memiliki konsekuensi yang tak terduga," ujar Lavrov seperti dilansir Press TV pada hari Jumat (22/4).
Perancis, salah satu negara Barat yang melakukan serangan udara di Libya, telah memutuskan untuk mengirim hingga 10 penasihat militer ke negara Afrika Utara itu. Pemerintah Paris juga berjanji untuk mengintensifkan serangan udara yang dipimpin NATO guna melemahkan gempuran pasukan loyalis Muammar Gaddafi.
Inggris juga mengatakan akan mengirim perwira militer untuk memberi masukan kepada pasukan revolusioner Libya.
"Kita ingat bagaimana instruktur pertama kali dikirim ke beberapa negara lain, dan kemudian tentara dikirim ke sana dan ratusan orang tewas di kedua belah pihak," kata Lavrov dalam konferensi pers.
Sementara itu, Menteri Pertahanan AS Robert Gates mengatakan pada hari Kamis bahwa Presiden Barak Obama telah menyetujui penggunaan pesawat predator bersenjata di Libya untuk menargetkan pasukan Gaddafi.
Ribuan warga sipil tewas sejak pesawat tempur Barat memulai serangan udara terhadap Libya bulan lalu di bawah mandat zona larangan terbang PBB.
Oposisi pemerintah Tripoli, yang terinspirasi oleh revolusi di negara tetangganya, Tunisia dan Mesir, tengah berjuang untuk menggulingkan Gaddafi, yang telah memerintah Libya selama lebih dari 41 tahun.
Sumber: Irib

Amerika Kirimkan Pesawat Pembunuh Tanpa Awak di Libya

Predator pesawat tanpa awak Amerika
WASHINGTON-(IDB) :  Pentagon secara resmi menyatakan bahwa Amerika akan meluncurkan pesawat bersenjata tanpa awak, Predator di Libya dalam rangka menyelesaikan misi PBB di negeri tersebut, Jumat (22/04). 

Sebelumnya pada hari Kamis (21/04), Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan rekannya Menlu Belanda Uri Rosenthal, bertemu di Departemen Luar Negeri untuk membahas cara-cara mengakhiri kekerasan di Libya.

Sementara Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert Gates mengatakan kepada wartawan di Pentagon hari Kamis bahwa Presiden Barack Obama telah resmi menyetujui penggunaan pesawat Predator di Libya. "Dan saya pikir hari ini bahwa mungkin sebenarnya ini yang akan memberi kita kemampuan rusak yang lebih presisi," katanya.

Wakil Ketua Gabungan Kepala Staf Jenderal James Cartwright sempat menjelaskan manfaat pesawat tanpa tanpa awak tersebut. "... Kemampuan mereka untuk terbang rendah, karena itu [pesawat ini] bisa mendapatkan visibilitas yang lebih baik pada target khususnya sekarang, dimana pasukan mereka sudah mulai dalam posisi defensif," kata Jenderal Cartwright. 

"Mereka unik, cocok untuk daerah perkotaan di mana Anda bisa mendapatkan jaminan kerusakan rendah, dan dengan demikian kita berusaha untuk meminimalisir, jelas, tapi itu platform terbaik untuk melakukannya dengan."

Cartwright mengatakan penerbangan pertama diluncurkan pada hari Kamis, tapi cuaca buruk, sehingga pesawat tidak bisa terbang seharian.

Digunakan di Afghanistan.

Pesawat pembunuh tanpa awak Amerika selama ini digunakan di Afghanistan dan di Pakistan. Serangkaian pemboman dan penyerangan yang telah mereka lakukan membuat pemerintah Pakistan belakangan melakukan protes dan menuding bahwa Amerika telah mengorbankan warga sipil di negeri itu dan menargetkan sejumlah bangunan yang diyakini milik warga sipil Pakistan.

Pesawat yang diturunkan di Libya adalah pesawat berjenis General Atomics MQ-1 Predator. Predator yang mampu terbang dengan kecepatan 135 mil per jam ini adalah pesawat pengintai tanpa awak yang dilengkapi dengan persenjataan tempur. Predator mampu terbang hingga ketinggian 25,000 kaki dan menempuh jarak 450 mil. 

Predator dilengkapi dengan dua rudal AGM-114 Hellfire berpemandu laser. Pesawat ini merupakan pesawat terbang tanpa awak pertama yang dapat menghancurkan terget-terget di darat. Predator pertama kali dipergunakan dalam operasi militer Amerika di Afghanistan.
Sumber: Seruu

Perancis Tolak Serangan Darat di Libya

IRIB-(IDB) : Pemerintah Perancis telah menyuarakan oposisinya terhadap pengerahan pasukan darat ke Libya, di tengah intensitas bentrokan antara revolusioner dan pasukan yang setia kepada Muammar Gaddafi.
 
"Saya tetap benar-benar menentang penyebaran pasukan di lapangan," kata Menteri Luar Negeri Perancis Alain Juppe pada hari Selasa (19/4). Ia menuturkan, negara-negara NATO harus mengikuti resolusi 1973 Dewan Keamanan PBB, yang mengamanatkan penegakan zona larangan terbang di Libya.

Meski serangan udara NATO menargetkan peralatan militer Gaddafi dengan tujuan melindungi warga sipil, namun angkah itu terbukti kontra-produktif karena telah menyebabkan jatuhnya korban sipil. 

"Kemungkinan tidak akan ada solusi militer terhadap krisis di Libya," ujar Juppe seperti dilansir Reuters.

Pada hari Ahad, Perdana Menteri Inggris David Cameron juga mengesampingkan kemungkinan menyerang negara Afrika Utara itu melalui darat. 

Perancis dan Inggris telah memulai serangan udara di Libya, tetapi mereka gagal membujuk sesama negara anggota NATO seperti Jerman dan Turki untuk membantu mereka meningkatkan serangan udara. Kedua negara ini tetap gigih menentang gagasan solusi militer atas Libya.

Sumber: Irib

NATO Punya Misi Lain di Libya

IRIB-(IDB) : Serangan udara koalisi Barat di Libya tidak menargetkan pangkalan-pangkalan militer negara itu. Hal ini memungkinkan rezim penguasa Libya Muammar Gaddafi untuk terus membunuh warga sipil.
 
Namun, untuk menunjukkan dukungan kepada revolusioner Libya, koalisi Barat melakukan serangan udara yang tidak efektif dan sesekali di pangkalan militer Libya. Pasukan revolusioner Libya bahkan menuduh pasukan Barat berpihak dengan rezim Gaddafi. Demikian dilaporkan Press TV pada hari Rabu (20/4).

Sementara itu, penduduk di wilayah pegunungan barat Libya mengatakan pasukan Gaddafi telah meningkatkan serangan ke kawasan itu. Puluhan warga sipil dilaporkan tewas dalam serangan selama sepekan terakhir dan sejumlah lainnya terluka.

Koalisi Barat menggelar serangan udara besar-besaran untuk melawan kekuatan rezim Gaddafi pada tanggal 19 Maret di bawah mandat PBB. Serangan itu bertujuan melindungi rakyat Libya. Namun, ratusan warga sipil tewas sejak pasukan pimpinan Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke negara Afrika Utara itu.

Sebelumnya, NATO mengaku membunuh pasukan revolusioner dan warga sipil dalam serangan udara di timur Libya, tapi menolak meminta maaf atas pengeboman yang mematikan.
Pasukan oposisi telah sering mengkritik NATO karena gagal mencegah pembunuhan warga sipil oleh pasukan Gaddafi. Revolusioner pernah mengancam untuk meminta Dewan Keamanan PBB menangguhkan misi NATO di Libya, jika aliansi militer itu gagal menjalankan misinya dengan baik.

Menurut berbagai laporan, perang di Libya sejauh ini telah menewaskan sekitar 10.000 orang dan melukai lebih dari 50, 000 lainnya. Jumlah korban tewas baru diumumkan oleh Menteri Luar Negeri Italia Franco Frattini pada hari Selasa, setelah dia mengadakan pembicaraan di Roma dengan pemimpin revolusi Libya, Mustafa Abdel Jalil. 

Sumber: Irib

Rusia Serukan Gencatan Senjata di Libya

Menlu Rusia Sergei Lavrov
Menteri luar negeri Rusia mendesak Dewan Keamanan PBB segera menerapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan gencatan senjata di Libya. 

Seperti dikutip IRNA, Menlu Rusia Sergei Lavrov kemarin (Selasa, 19/4) dalam keterangan pers usai bertemu dengan mitranya dari Serbia, Vuk Jeremic menekankan kembali tanggung jawab DK PBB untuk segera mewujudkan gencatan senjata di Libya. 
 
Dia mengatakan, "Kami menyerukan kepada seluruh anggota masyarakat internasional yang bertanggung jawab, terutama Dewan Keamanan PBB untuk mewujdukan perundingan di antara kubu-kubu yang berseteru di Libya dan bukan menciptakan perang, kekerasan, dan sengketa".

Pernyataan itu disampaikan Lavrov di sela-sela kunjungannya ke Beograd, ibu kota Serbia, sebagai bagian dari rangkaian safarinya ke negara-negara kawasan Balkan. 


Sumber: Irib

800 Kali AS Serang Pasukan Libya

Sebuah pesawat tempur Super Hornet F/A-18F ditugaskan di Skuadron Tempur (VFA) 211 bersiap meluncur menggunakan pelontar tiga saat pergantian operasi terbang diatas kapal induk USS Enterprise di perairan Laut Merah pada gambar milik AL AS
WASHINGTON-(IDB) : Militer Amerika Serikat telah melancarkan lebih dari 800 serangan kejutan dari udara Libya, kata Departemen Pertahanan AS Selasa.

Kapten Angkatan Laut Darryn James mengatakan bahwa jet-jet tempur AS bulan ini telah meluncurkan delapan kali bom terhadap pertahanan udara Muamar Gaddafi.

"AS telah mengalirkan lebih dari 800 serangan kejutan untuk membantu Operasi Unified Protector sejak 1 April, dan dari jumlah itu, lebih dari 150 merupakan misi SEAD (Suppresi atas Pertahanan Udara Musuh)," kata James, seorang juru bicara Pentagon.

Washington  mengkoordinasikan operasi pada hari-hari pertama intervensi sekutu di Libya setelah Dewan Keamanan PBB menyetujui aksi militer internasional untuk merintangi serangan oleh pasukan Gaddafi terhadap kota-kota yang telah dikuasai oleh pemberontak.

AS mengalihkan komando pada aliansi militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) awal bulan ini. Pada hari Senin, sebuah jet tempur F-16CJ Amerika telah "menjatuhkan bom  di sekitar Tripoli dalam satu misi SEAD", ujar James.

Sumber: Antara

Jet Tempur NATO Kembali Gempur Tripoli

TRIPOLI-(IDB) : Pesawat-pesawat tempur NATO membom beberapa sasaran di dekat ibukota Tripoli Libya Selasa (19/04) pagi.Aliansi mengatakan serangan yang ditargetkan adalah fasilitas komando dan kontrol serta infrastruktur komunikasi.

NATO mengatakan jet tempur mereka juga membom markas Brigade elit Libya ke-32 yang dikatakan telah digunakan untuk memimpin dan mengkoordinasikan serangan terhadap warga sipil.

Media yang dikendalikan negara mengatakan serangan terjadi di Tripoli, Sirte - tempat kelahiran pemimpin Libya Moammar Khaddafi, dan wilayah Al-Hira yang terletak di bagian baratdaya ibukota.

Aliansi NATO telah melakukan serangan udara terhadap pasukan loyalis di Libya untuk menegakkan resolusi PBB tentang zona larangan terbang serta melindungi warga sipil dari serangan pasukan Kolonel Khaddafi.

Pada hari Senin, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pejabat Libya mengatakan mereka telah mencapai kesepakatan untuk mengizinkan pekerja bantuan melakukan perjalanan yang aman ke kota barat yang terkepung Misrata, tetapi tanpa jaminan dari Khaddafi bahwa pasukannya akan menghentikan penembakan di wilayah kantong pemberontak.

Seorang juru bicara PBB mengatakan Khaddafi setuju untuk membiarkan tim penilaian internasional ke Misrata sebagai bagian dari kesepakatan pada akses kemanusiaan ke ibukota, Tripoli, Libya dan kota-kota lainnya. Dia mengatakan pemerintah Libya akan menjamin keamanan tim hanya di wilayah di bawah kontrolnya.

Sumber: Seruu

Memotret Isue Perang Salib dan Kebangkitan Islam di Jalur Sutra

GLOBAL-(IDB) : Menarik mengamati Perang Libya antara pasukan pemberontak di satu sisi (dibantu koalisi berdalih menegakkan resolusi PBB) versus loyalis Moammar Gaddafi di sisi lain. Motif dan latar belakang perang tidak akan dibahas lagi, mengingat telah banyak tulisan serta analisis soal itu. Celoteh ini hanya ingin memotret aspek lain karena seperti ada (fenomena) terlewatkan -- lupa dibahas.

Dalam naluri tempur, seharusnya Gaddafi “menyerah” dalam hitungan hari sebab kalah dalam banyak hal, terutama kuantitas dan kualitas pasukan serta kecanggihan peralatan. Barangkali pendudukan Rusia di Georgia dalam seminggu pada dekade 2010-an lalu, merupakan contoh riil dari sebuah logika perang modern. Namun tampaknya, muncul beberapa fenomena tak lazim di Libya sehingga pertempuran berlarut tak kunjung usai.

Bahkan ketika catatan ini terbit, tampaknya loyalis Gaddafi berada di atas angin dibanding pasukan pemberontak. Aneh memang. Ini terpantau lewat pernyataan tiga tokoh penting, antara lain : (1) Panglima AS menyebut bahwa “oposisi tak akan mampu menggulingkan Gaddafi”; (2) kemudian pihak pemberontak menyatakan “oposisi sudah terpecah serta tak terorganisir dan NATO tidak sungguh-sungguh mendukung oposisi”; (3) dan terakhir statement Panglima Inggris yang mengeluhkan bahwa “Gaddafi menyewa tentara bayaran” dan seterusnya.

Dari ketiga fakta tadi dapat terbaca, situasi macam apa yang sebenarnya terjadi di Libya, dan kemungkinan besar ialah potret buram –kalau tidak dikatakan bubar — bagi Pemerintah Transisi Libya Timur bentukan kelompok oposisi dukungan asing, tetapi tak diekspos oleh media.

Secara geostrategi, selain Iran, Suriah, Uni Afrika dan jajaran negara Amerika Latin pro Libya – Gaddafi juga “didukung” Rusia, Cina, Brazil, India bahkan Jerman  –meski anggota NATO-- ternyata Jerman tak setuju Operasi Odyssey Dawn digelar. Inilah “modal”-nya bertahan di tengah gempuran pasukan koalisi dan oposisi. Artinya selain semangat juang melawan hegemoni Barat yang bermaksud mencabik-cabik kedaulatan negara dengan beragam dalih, kini ia merasa tak lagi sendirian, sebab tidak sedikit negara dan adidaya baru di belakangnya.

Tulisan tak ilmiah ini tak hendak menganalisa siapa menang atau mana kalah, dan tidak pula mengkaji tebaran fenomena yang muncul, tetapi mencoba menyorot satu hal yang mungkin –menurut bacaan penulis-- menjadi salah satu sebab mengapa serangan udara koalisi meredup, meski kecenderungan Odyssey Dawn diubah polanya menjadi “operasi darat” via oposisi, termasuk mencermati mundurnya Amerika Serikat (AS) dari Libya di satu sisi, namun pada sisi lain Robert Gates, Menhan AS justru berkunjung ke Saudi Arabia membahas tentang "bugdet". Lho?

Menyikapi Perang Libya, Perdana Menteri (PM) Vladimir Putin mengambil sikap keras, dimana ia membandingkan resolusi PBB itu dengan "seruan pada abad pertengahan untuk melakukan Perang Salib" (GFI/ANTARA/Reuters). Akibat pernyataan tadi ia ditegur oleh “adik asuh”-nya Dmtri Medvedev, Presiden Rusia, karena kurang pas dan dianggap dini. Akhirnya orang teringat kembali statement Presiden Bush Jr tatkala terjadi peristiwa World Trade Center (WTC) – 11 September (911) dikobarkan CRUSADE (Perang Salib) pada pidato awal Bush pasca kejadian – entah cuma dalih atau bermotif menebar semangat tentaranya -- pada akhirnya, Afghanistan pun menjadi “kambing hitam” bagi invasi militer AS dan sekutu melalui stigma Al Qaeda yang secara sepihak dituduhkan oleh Barat berada di balik serangan WTC/911.

Doeloe terbentuk opini bahwa Bush pantas mengucapkan itu -- karena serangan terhadap WTC di New York benar-benar melecehkan Doktrin Pertahanan AS -- yakni melakukan peperangan di luar wilayah (proxy war).  Ya, America Under Attack!  Dan bila diimplementasi pada Article 5 Piagam NATO – setiap serangan terhadap negara anggota dipandang sebagai serangan terhadap NATO secara keseluruhan. Tetapi entah kenapa sandi operasi dalam rangka invasinya ke Afghanistan berganti nama menjadi War on Terror (WoT). Lalu ucapan Bush tentang Perang Salib pun diralat dan dianggap slip of tounge alias terselip lidah. Sama seperti kasus Putin.

Pertanyaannya : mungkinkah politikus dan negarawan sekaliber Bush dan Putin terselip lidah; bagaimana performance sekaligus profesionalitas think thank menyiapkan materi menjelang pernyataan resmi negara? Retorika ini tidak butuh jawaban agar catatan dapat dilanjutkan.

Crusade memang masa lalu, tetapi mencermati benang merah berbagai Perang Salib (I – IX) sepanjang peradaban dengan varian seperti Perang Salib Jerman, Perang Salib 1101, Perang Salib Rakyat, Perang Salib Utara -- hakikinya ialah pertikaian antara para adidaya (penguasa) saat itu, terutama adidaya Barat dan Timur guna menguasai JALUR SUTRA yang tergelar sepanjang Cina dan perbatasan Rusia hingga ke Maroko (Jalur Selatan) dan via Suriah - Turki menuju Eropa (Jalur Utara). Inilah jalur ekonomi dan militer sejak Abad Ketiga SM pada persilangan (perdagangan) dunia yang melahirkan berbagai dogma militer di banyak negara karena letaknya strategis. 

Salah satu dogma melegenda Alfred Mahan, pakar kelautan Amerika yang menyamarkan urgensi jalur tersebut via doktrin di kalangan Angkatan Laut AS hingga sekarang, bahwa siapa menguasai Lautan Hindia bakal menjadi kunci percaturan dunia!

Motif perang agama yang digembar-gemborkan selama ini, misalnya antara Kristen vs Islam, Kristen vs Protestan, atau Kristen vs Yahudi dan lainnya, sesungguhnya cuma dalih dari sebuah hasrat dan nafsu segelintir orang namun dilembagakan dalam Perang Suci Agama. Itulah asumsi Perang Salib, kendati ia dapat gugur sewaktu-waktu karena validitas data dan lemahnya referensi, tetapi setidaknya bisa dijadikan titik sambung meneruskan celotehan ini. Ya, Perang Salib memang bukan perang agama, melainkan pergolakan politik merebut kekuasaan daerah. Motifnya ekonomi. Hal ini terbukti bahwa antara tentara Salib dan tentara Muslim doeloe saling bertukar ilmu pengetahuan.

Akhirnya, seperti halnya Perang Dunia, atau perang-perang lain, crusade pun hanya sekedar event atau momentum bagi kaum kapitalis mengeksploitasi hasrat kolonial guna menumpuk modal melalui perang sebagai cara dan sarana. Ya, penjajahan memang methode baku kapitalis sedang yang berubah cuma kemasannya!

Merujuk hal di atas, dapat diwacanakan bahwa ucapan Bush dan Putin tentang Perang Salib bukanlah terselip lidah, tetapi merupakan test case politik. Artinya disamping ingin melihat reaksi publik global, mungkin hendak mencermati peta kekuatan bila Perang Salib meletus. Kenapa demikian, karena negeri manapun mempunyai kepentingan terhadap Jalur Sutra – selain para adidaya (baru) terutama Rusia dan Cina yang telah “gatal” ingin menjadi pengatur dunia menggantikan AS, memang ada segelintir kaum yang senantiasa mereguk untung dikala perang terjadi. 

Agaknya pengobaran Perang Salib pada krisis di Libya, sebagaimana dikatakan Medvedev –kurang pas-- secara geopolitik justru merugikan AS dan sekutu, mengingat ketergantungan Barat terhadap minyak sangat besar dari Dunia Islam, terutama supplay kelompok Dewan Kerjasama Teluk (GCC) seperti Saudi Arabia, Oman, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Qatar yang selama ini “patuh” atas hegemoni AS. Maka pantaslah jika isue yang ditebar pada media mainstream dalam gejolak massa di Bahrain cuma soal sektarian, sentimen ras, atau masalah tirani mayoritas (Sunni terhadap Syiah)  -- bukan Perang Salib. 

Oleh karena bila isue crusade yang menyebar di tengah-tengah rakyat maka diyakini bakal menimbulkan gelombang dahsyat perlawanan terhadap Sistem Dunia Barat yang selama ini mencengkram kelompok negara (Islam) di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Boleh disinyalir, bahwa pelemahan peran AS dan redanya serangan udara NATO, selain alasan klasik (biaya perang); juga dalam rangka menurunkan tensi “penolakan” internal dan eksternal di negara agresor atas Operasi Odyssey Dawn; sedang secara mapping berdasarkan The San Remo Agreement, kawasan minyak Timur Tengah telah dibagi-bagi di antara negara Eropa; dan paling utama, menurut hemat penulis ialah mengeliminir isue Perang Salib yang sempat mencuat.

Ya, tanpa antisipasi serempak dan sistematis, niscaya isue itu mampu menjadi “kompor gas” bagi Kebangkitan Islam. Itulah kekawatirkan AS dan sekutu, mengingat benih-benih kebangkitan tersebut tak lagi kuncup -- mulai bermekaran, ibarat kembang sore dan bunga-bunga sedap malam, wanginya telah menyebar seantero Jalur Sutra.

Akan tetapi bukan berarti peperangan bakal berhenti -- inilah liciknya AS dan sekutu, resolusi PBB 1973 tentang zona larangan terbang di Libya, niscaya berubah menjadi “perang darat” dimana AS dan NATO -- entah melalui tentara bayaran, atau pasukan regulernya akan “mendompleng” gerakan oposisi terus berupaya menggulingkan Gaddafi. 

Sedangkan mahalnya biaya militer bayaran (mungkin) diserahkan kepada kelompok Dewan Kerjasama Teluk (GCC) selaku ATM-nya Barat, mengingat para agresor, selain dihantam krisis ekonomi tak berkesudahan -- juga "keletihan"! Oleh sebab saat ini ia masih berperang di dua negara (Iraq dan Afghanistan). Itulah yang kini terjadi.

Sumber: Global