Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan

AS Setuju Kirim Rudal Harpoon ke Mesir

WASHINGTON-(IDB) : Pemerintahan Presiden Barack Obama telah menyetujui pengiriman rudal Harpoon Block-2 ke Mesir.
 
Sumber-sumber terpercaya mengatakan Mesir akan menerima rudal canggih Harpoon selama beberapa bulan ke depan di bawah program penjualan senjata luar negeri. Ditambahkannya, ini secara signifikan akan meningkatkan kemampuan ofensif Angkatan Laut Mesir.
 
Pada 29 Juni lalu, Departemen Pertahanan AS mengizinkan Boeing untuk menandatangani kontrak senilai 145,1 juta dolar untuk membeli sekitar 90 rudal Harpoon, salah satu rudal anti-kapal paling canggih di dunia. Pesanan itu dimaksudkan untuk Angkatan Laut AS serta empat negara asing.
 
"Pengiriman rudal pertama dijadwalkan pada bulan Agustus dan kontrak kerja diperkirakan akan berlangsung sampai Desember 2013," kata Boeing pada 19 Juli.
 
Proyek Harpoon untuk Mesir telah tertunda selama lebih dari lima tahun. Sumber-sumber mengatakan Israel khawatir rudal Harpoon akan mengubah keseimbangan militer dengan Mesir.
 
Menurut sumber tersebut, Mesir akan menerima rudal Harpoon, yang tidak  memiliki kemampuan serangan dari darat. Namun, ini belum dikonfirmasi baik oleh Pentagon atau Boeing.


Sumber : Irib

“Perang Dengan Israel Tidak Dapat Dihindari”

KAIRO-(IDB) : Seorang pengamat terkemuka Mesir, Mahyuddin Halami al-Ghandur menyatakan bahwa generasi revolusioner Mesir tidak menilai penting kesepakatan Kamp David, dan generasi tersebut meyakini bahwa perang dengan Israel merupakan hal yang tidak dapat dihindari.
 
Al-Ghandur dalam wawancaranya dengan kantor berita Fars hari ini (17/5) menyinggung hubungan Mesir dan rezim Zionis Israel seraya menekankan bahwa kesepakatan perdamaian kedua pihak tidak berarti. 

Pengamat Mesir itu menjelaskan bahwa saat ini Duta Besar Israel telah meninggalkan Mesir dan rakyat revolusioner terus mendesak pemerintah untuk segera mengakhiri kerjasamanya dengan Israel dan menghentikan ekspor gas ke Tel Aviv. 

Ditambahkannya, masalah ini sangat jelas bahwa generasi revolusioner Mesir menentang Israel dan perang dengan rezim Zionis merupakan hal yang tidak dapat dihindari. 

Menurutnya, dalam 30 tahun terakhir Mesir di bawah pemerintahan rezim yang sepenuhnya menjadi antek-antek Israel, namun kini, Mesir telah meraih kembali posisinya sebagai pemimpin dunia Arab. 

Kedalaman Strategis Iran-Mesir

Terkait masalah hubungan Iran dan Mesir, al-Ghandur mengatakan, kedua negara memiliki peran penting dan Amerika Serikat tidak ingin keduanya menjalin kerjasama konstruktif.

Dikatakannya, "Jika Anda mengikuti perkembangan terbaru, maka Anda akan mengetahui bahwa negara-negara Teluk (Persia) sangat mendesak Mesir agar tidak memulihkan hubungannya dengan Iran. Hubungan Iran dengan negara-negara Teluk Persia sangat baik lalu mengapa mereka menginterferensi hubungan Tehran-Kairo? Karena ini semua adalah program Amerika Serikat." 

"Negara-negara Teluk Persia tidak berarti. Mereka sama dengan angka nol. Seberapa banyak penambahan angka nol, tetap hasilnya nol. Namun jika negara-negara tersebut ditambah dengan Iran, maka tidak akan terjadi apa-apa. Iran berangka benar, dan jika ditambah nol, hasilnya adalah angka Iran," ungkap al-Ghandur. 

"Poinnya adalah bahwa Mesir juga merupakan angka benar dan jika ditambah dengan Iran, maka hasilnya akan semakin besar. Dan ini yang tidak diinginkan Amerika Serikat" jelas al-Ghandur. 

Jika hubungan Iran dan Mesir pulih, al-Ghandur menegaskan bahwa seluruh masalah akan berubah. Kedua negara memiliki peran sangat strategis dan Amerika Serikat menyadari fakta tersebut. Berbeda dengan negara-negara Arab lain di Teluk Persia, mereka semua tidak bernilai karena angka mereka tetap nol. 

Sumber: Irib

Iran-Mesir Memainkan Peran Kunci di Dunia Muslim

TEHRAN-(IDB) : Ketua parlemen Iran, Ali Larijani mengatakan pada hari Senin (16/5) bahwa hubungan persaudaraan antara Republik Islam Iran dan Mesir akan berdampak positif terhadap negara-negara Muslim.
 
Larijani membuat pernyataan itu dalam pertemuan dengan dua tokoh sosial-politik Mesir di Tehran.

Sebagaimana dilaporkan IRNA, Larijani menuturkan, pemerintah dan bangsa Iran sejak awal mendukung kebangkitan rakyat Mesir. Ditambahkannya, prospek kerjasama antara kedua negara sangat menjanjikan.

"Kesamaan sejarah, budaya dan agama berfungsi untuk memperluas kerjasama persahabatan antara Tehran dan Kairo," jelasnya. Ia berharap perkembangan saat ini di Mesir akan meningkatkan posisi negara itu di tengah negara-negara Islam.

Menurut Larijani, Amerika Serikat, rezim Zionis Israel dan beberapa monarki Arab, menentang perluasan hubungan antara Iran dan Mesir. Ditambahkannya, AS berusaha untuk membawa kembali gerakan reaksioner ke panggung politik guna mencegah tumbuhnya gerakan-gerakan alami di antara bangsa-bangsa.

"AS dan kediktatoran adalah dua tantangan utama kebangkitan rakyat di kawasan. Namun, sistem demokrasi dapat membantu mengatasi hambatan itu," ujarnya. 

Sumber: Irib

24 Terluka Dalam Bentrok Menuntut Penutupan Kedubes Israel di Mesir

KAIRO-(IDB) : Ratusan demonstran di Mesir bentrok dengan aparat kepolisian dan tentara dalam aksi peringatan hari Naqba yang diselenggarakan aktivis di depan Kedutaan Besar Israel di Kairo, Mesir, Minggu (15/05). 

Demonstrasi tersebut menuntut penutupan dan pengusiran Duta Besar Israel dari negeri tersebut.

Polisi, yang didukung oleh tentara, menembakkan puluhan tabung gas air mata pada demonstran, yang menghancurkan paving block untuk dipakai sebagai alat untuk melempari petugas dan kedubes serta membakar ban.
Sedikitnya 24 orang terluka dalam bentrokan, menurut kementerian kesehatan, dikutip oleh kantor berita resmi MENA.
Bentrokan sporadis terus berlangsung hingga semalam, dengan beberapa pengunjuk rasa mengatakan polisi mencoba bernegosiasi dengan mereka sementara para demonstran bersikeras untuk menduduki halaman kedubes sampai pemerintah mengusir Israel dari tanah Mesir.
Protes adalah salah satu dari serangkaian peringatan yang bertepatan dengan berdirinya negara Israel 63 tahun yang lalu, dalam apa yang sering disebut dalam bahasa Arab sebagai "Nakba" atau "bencana", dimana ratusan ribu penduduk Palestina harus terusir dari tanahnya setelah Israel menyerang dan menduduki kawasan tersebut.
Sumber: Seruu

Iran Serius Tingkatkan Hubungan Bilateral Dengan Mesir

TEHRAN-(IDB) : Anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Mohammad Mahdi Shahriari mengkonfirmasikan keseriusan negaranya untuk menggalang hubungan diplomatik dengan Mesir. "Lobi serius antara kedua negara tengah berjalan untuk mempersiapkan peluang lebih besar bagi hubungan diplomatik Iran-Mesir," ungkap Shahriari Senin (2/5) saat mengomentari peresmian kedutaan Tehran dan Kairo.

Terkait urgensitas jalinan hubungan diplomatik Kairo-Tehran, Shahriari menandaskan, Iran dan Mesir, dua negara penting di kawasan dan jika keduanya saling bekerjasama maka akan mampu memainkan peran signifikan baik di tingkat regional maupun internasional.

Deputi menteri luar negeri Iran urusan Timur Tengah, Mohammad Reza Sheibani baru-baru ini menilai peningkatan hubungan Tehran-Kairo dalam koridor kepentingan kedua pihak. Dikatakannya, hubungan ini akan terus meningkat sesuai dengan kepentingan kedua bangsa serta akan memperhatikan kemaslahatan masing-masing serta kawasan.

Nabil al-Arabi, Menteri Luar Negeri Mesir berulangkali menyatakan bahwa Mesir saat ini tengah berupaya meningkatkan tingkat hubungan diplomatiknya dengan Republik Islam Iran.

Di sisi lain, para petinggi Iran menyambut baik membaiknya hubungan negara ini dengan Mesir serta menilai hal ini menguntungkan kedua belah pihak dan kawasan.

Sumber: Irib

Oposisi Mesir Desak AS Tinggalkan Kawasan

KAIRO-(IDB) : Ikhwanul Muslimin Mesir mengatakan, Amerika Serikat tidak memiliki alasan lagi untuk menetap di Irak dan Afghanistan, setelah pembunuhan pemimpin Al Qaeda Osama bin Laden.
 
"Dengan kematian bin Laden, salah satu alasan untuk mempraktekkan kekerasan di dunia telah hilang," kata Essam El Erian, anggota eksekutif Ikhwanul Muslimin, seperti dilansir Press TV, Senin (2/5).

"Kini saatnya bagi Presiden Barack Obama untuk menarik diri dari Afghanistan dan Irak serta mengakhiri pendudukan AS dan pasukan Barat di seluruh dunia, yang telah merugikan negara-negara Muslim dalam waktu lama," tegasnya.

Seraya mengkhawatirkan aksi balas dendam kelompok Al Qeda atas kematian pemimpinnya, El Erian menandaskan, Afghanistan, Pakistan, Maroko dan Aljazair mungkin akan bereaksi karena pengaruh luas Al Qaeda di sana.

Sementara itu, para analis dan pakar militer yakin bahwa Washington telah menunda pembunuhan bin Laden untuk melanjutkan kehadiran pasukan pimpinan Amerika di Afghanistan.

Meski janji Obama untuk penarikan besar tentara dari Afghanistan pada Juli 2011, namun para pejabat Washington baru-baru ini mengumumkan bahwa tentara AS akan tetap di Afghanistan selama setidaknya empat tahun ke depan.

Sumber: Irib

Mesir Desak Amerika Serikat Akui Palestina

KAIRO-(IDB) : Menteri Luar Negeri Mesir, Nabil al-Arabi, mendesak Amerika Serikat mengakui Palestina sebagai negara independen menyusul kesepakatan rekonsiliasi antarfaksi Palestina.
 
Kantor berita Mesir, MENA (2/5) melaporkan, Nabil al-Arabi menyampaikan hal itu kemarin (1/5) kepada seorang anggota Kongres Amerika Serikat, Steve Chabot, dalam kunjungannya ke Mesir. 

Menurut al-Arabi, pengakuan Palestina sebagai sebuah negara independen oleh Amerika itu sejalan dengan usulan Washington tentang solusi dua-negara di Palestina.

Desakan al-Arabi itu mengemuka menyusul Ketua Biro Politik Hamas, Khaled Meshaal, akan bertemu dengan Pemimpin Otorita Palestina, Mahmoud Abbas, di markas besar Liga Arab di Kairio, Mesir, pada tanggal 4 Mei untuk menandatangani kesepakatan damai kedua pihak.

Dua gerakan muqawama Palestina itu berselisih setelah pada tahun 2006, Hamas memenangi pemilu parlemen yang berlangsung secara demokratis. Kesepakatan damai itu akan mengakhiri friksi berkepanjangan kedua pihak dan membentuk pemerintahan interim yang akan mempersiapkan pelaksanaan pemilu. 

Dalam hal ini, al-Arabi juga menegaskan bahwa Palestina bersatu akan siap untuk melakukan perundingan damai.

Sumber: Irib

Qatar Dukung Iran-Mesir Rujuk, Israel Marah

IRIB-(IDB) : Perdana Menteri Qatar Sheikh Hamad bin Jassim Al Thani telah menyuarakan dukungan negaranya untuk pembentukan kembali hubungan antara Republik Islam Iran dan Mesir, sebagai langkah yang akan menguntungkan seluruh kawasan.
 
"Qatar mendukung hubungan diplomatik antara Mesir dan Iran," kata Sheikh Hamad Al Thani dalam konferensi pers bersama mitranya dari Mesir Essam Sharaf di Doha, Press TV, (Kamis,28/4) mengutip situs al-Bashir melaporkan.

"Semua negara Teluk Persia memiliki kedutaan besar di Tehran. Hubungan Mesir dengan Iran akan menguntungkan negara-negara regional dan ini sama sekali tidak akan merugikan mereka," tambahnya. 

Menyinggung kompetisi baru antara Doha dan Kairo untuk kepemimpinan bergilir Liga Arab, Sheikh Hamad Al Thani menuturkan, proses itu tidak berarti ada ketegangan antara kedua negara.

Sementara itu, Essam Sharaf mengatakan, tidak ada kontradiksi antara hubungan Mesir-Iran dan hubungan dengan negara-negara Arab. Ditambahkannya, keamanan di kawasan Teluk Persia adalah nilai besar bagi rakyat Mesir.

Tehran dan Kairo membangun kembali hubungan mereka pada awal April dengan menandatangani sejumlah perjanjian di bidang pariwisata. Perjanjian pertama sejak jatuhnya Hosni Mubarak ini, akan berlaku setelah pertukaran duta besar antara Mesir dan Iran.

Iran memutuskan hubungan dengan Mesir setelah Kairo menandatangani perjanjian Camp David 1978 dengan rezim Zionis Israel dan memberikan suaka politik kepada Syah despotik, Mohammad Reza Pahlevi.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Mesir Nabil El Arabi menyerukan normalisasi hubungan dengan Iran dan menekankan komitmen Kairo untuk memperbaiki hubungan dengan Tehran.

Langkah itu menuai kritik dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menyatakan takut dan kecewa dengan rencana Mesir untuk melanjutkan hubungan dengan Iran.

Sumber: Irib

Rakyat Mesir Ingin Akhiri Hubungan dengan Israel

KAIRO-(IDB) : Sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Mesir lebih suka negara mereka menghentikan perjanjian perdamaian dengan rezim Zionis Israel.
 
Hasil jajak pendapat Pew Research Center yang berbasis di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa 54 persen rakyat Mesir lebih cengerung agar negara mereka membatalkan perjanjian perdamaian dengan Israel. Jajak pendapat yang dirilis pada hari Senin (25/4) itu mensurvei 1.000 warga Mesir di berbagai kota antara 24 Maret hingga 7 April. Demikian dilaporkan Associated Press. 

Survei baru-baru ini juga menunjukkan bahwa hanya 15 persen responden yang tertarik menjalin hubungan lebih erat dengan AS, sementara 43 persen lainnya menyatakan lebih baik Mesir menjaga jarak dari negara itu.

Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan kekhawatirannya atas sikap anti-Zionis yang ditunjukkan oleh para pemimpin baru Mesir. 

Netanyahu mengatakan beberapa suara yang terdengar dari Kairo menunjukkan permusuhan terhadap Tel Aviv. Ia menyatakan sangat prihatin atas pernyataan terakhir yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Mesir Nabil El Arabi. 

Para diplomat tinggi Kairo bersama sejumlah pejabat senior lainnya, dilaporkan telah menyebut Israel sebagai musuh Mesir.
Sumber: Irib

Pasca Revolusi Mesir, Amerika Serikat Makin Terkucil

Illustration : Obama sedang pusing
IRIB-(IDB) : Perubahan politik di Mesir mengoreksi pendapat rakyat negeri itu terhadap Amerika Serikat.
Menurut hasil jajak pendapat terbaru, hanya 22 persen orang Mesir mengatakan bahwa Amerika Serikat memiliki pengaruh positif terhadap situasi politik di Mesir, menurut survei yang dilakukan oleh Pew Research Center.

Menurut survei tersebut, 39 persen mengatakan Amerika Serikat memiliki pengaruh negatif, dan 35 persen mengatakan bahwa Washington telah berdampak netral. Washington, yang berhubungan erat dengan rezim otoriter yang digulingkan Presiden Hosni Mubarak, mendukung transisi menuju demokrasi di Mesir.

Namun 79 persen dari mereka yang ditanya di dalam survei Pew memiliki pandangan yang tidak menguntungkan Amerika Serikat, dengan hanya terjadi perubahan kecil dari 82 persen dalam jajak pendapat serupa pada tahun 2010. Hanya 20 persen responden memiliki pandangan positif terhadap Amerika Serikat dibanding 17 persen dalam jajak pendapat tahun lalu.

Dalam pidato penting Juni 2009 di Kairo, Presiden Barack Obama menyerukan hubungan lebih baik antara Amerika Serikat dan dunia Muslim. Namun menurut jajak pendapat, 64 persen responden berkeyakinan bahwa presiden Amerika itu hanya meraih sedikit atau tidak sama sekali kepercayaan, yakni naik dari 59 persen pada 2010 - dibanding 35 persen yang memiliki banyak atau beberapa kepercayaan terhadap dirinya, atau naik dari 33 persen tahun lalu.

Lebih luas lagi, 52 persen dari mereka yang disurvei menolak cara penanganan Obama dalam menangani perubahan politik di tempat-tempat seperti Mesir, Tunisia, Bahrain, dan Libya, dibanding 45 persen yang menyetujui. Di antara mereka yang tidak setuju, 42 persen mengatakan bahwa Obama terlalu takut dalam menunjukkan dukungan terhadap mereka yang menuntut perubahan.

Mengenai hubungan bilateral, 40 persen dari mereka yang disurvei ingin Mesir menjaga hubungan tidak berubah dengan Amerika Serikat dan 15 persen berharap terjadi hubungan lebih dekat, dibanding 43 persen yang ingin Kairo agar menjauhkan diri dari Washington. Secara terpisah, 77 persen dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa pengunduran diri Mubarak adalah hal yang terbaik, dan 65 persen puas dengan cara yang akan dilakukan Mesir.

Survei Pew Global Attitudes Project dilakukan 24 Maret-7 April melalui wawancara pribadi dengan sampel yang representatif dari 1.000 orang dewasa di Mesir. Survei memiliki margin empat persen plus atau minus dari kesalahan.
Sumber: Irib

Mesir Sudah Berani Katakan ‘No’ Kepada Israel

MESIR-(IDB) : Pemerintah Mesir menyatakan menolak permintaan rezim Zionis Israel untuk melakukan pertemuan membahas mekanisme mencegah pengiriman senjata ke Jalur Gaza.
 
Situs mingguan al-Manar Palestina melaporkan, sejumlah sumber terpercaya hari Ahad mengungkapkan bahwa Dewan Tinggi Militer Mesir secara resmi menolak permintaan Israel untuk menggelar pertemuan keamanan untuk membicarakan operasi pencegahan di wilayah perbatasan Mesir dan Palestina pendudukan demi menghindari pengiriman senjata ke Gaza lewat terowongan.
Sumber ini menambahkan, Dewan Tinggi Militer Mesir menegaskan bahwa kondisi saat ini tidak sesuai untuk menggelar pertemuan itu. Dikatakan bahwa Dewan Tinggi Militer Mesir tengah mempelajari aturan keamanan baru di perbatasan dan kawasan Sinai. Lembaga dan dinas keamanan sedang melakukan kajian dan tidak perlu untuk membicarakan masalah ini dengan pihak AS maupun Israel. 

Sumber: Irib

Dua Pilar Dunia Islam Akan Segera Bersatu

TEHRAN-(IDB) : Menteri Luar Negeri Republik Islam Iran Ali Akbar Salehi meminta pihak berwenang Mesir untuk mengambil langkah berani guna meningkatkan volume hubungan Tehran-Kairo.
 
Selama konferensi tentang transformasi regional di Tehran pada hari Sabtu (23/4), Salehi menyatakan kesiapan Iran untuk meningkatkan level hubungan antara kedua negara.

"Kami telah mengumumkan kesiapan kami. Dan kami berharap pihak berwenang Mesir, dalam pandangan pertukaran verbal dan korespondensi, mengambil langkah berani secepat mungkin untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara," ujar Salehi seperti dilaporkan IRNA.

Menyinggung tekanan yang dihadapi pemerintah Mesir dalam menjalin hubungan dengan Iran, Salehi mengatakan, pemerintah Kairo tahu bagaimana mengatasi tekanan seperti itu.

"Iran dan Mesir adalah dua pilar dunia Muslim dan saling melengkapi satu sama lain. Interaksi mereka akan membantu perdamaian, stabilitas, dan keamanan di kawasan," tambahnya.

Iran memutuskan hubungan dengan Mesir setelah Kairo menandatangani perjanjian Camp David 1978 dengan rezim Zionis Israel dan memberikan suaka politik kepada Syah despotik, Mohammad Reza Pahlevi.

Pada tanggal 29 Maret, dalam konferensi pers pertamanya sebagai menteri luar negeri Mesir, setelah penggulingan mantan Presiden Hosni Mubarak, Nabil El Arabi mengatakan, Kairo siap untuk membuka lembaran baru dengan Tehran.

Pada tanggal 1 April 2011, Salehi menanggapi pernyataan itu dan mengatakan, meskipun mengalami pasang surut, hubungan bersejarah antara Iran dan Mesir telah berkelanjutan.

Sejak itu, para pejabat Iran dan Mesir telah menekankan pentingnya memperbaiki hubungan Tehran-Kairo. 


Sumber: Irib

Capres Mesir: Blokade Gaza Dicabut dan Ekspor Gas ke Israel Dibatalkan

Ketua Partai al-Karamah Mesir, Hamdin Sabbahi
KAIRO-(IDB) : Ketua Partai al-Karamah Mesir, Hamdin Sabbahi, dan salah satu kandidat pemilu presiden mendatang negara ini menyatakan jika ia terpilih, maka pemerintahannya akan memutuskan ekspor gas ke Israel. 
 
IRNA (18/4) melaporkan, Sabbahi mengatakan keputusannya itu adalah dalam rangka menghormati bangsa Mesir dan juga menjaga kekayaan negara. Tidak hanya itu, Sabbahi juga berjanji tidak akan melanjutkan kebijakan rezim Mubarak terkait blokade Jalur Gaza. 

Sabbahi menekankan bahwa pihaknya tidak akan membiarkan Mesir dijadikan alat untuk merealisasikan tuntutan rezim Zionis Israel dan Gedung Putih. 

Menyinggung kesepakatan Camp David mengatakan, Sabbahi mengatakan, "Jika saya terpilih, maka saya akan mengutamakan tuntutan rakyat, karena mereka adalah yang pihak yang paling berhak atas negara." 

Sabbahi juga menekankan pentingnya penyaluran bantuan kepada warga Jalur Gaza, serta dukungan terhadap cita-cita mulia bangsa Palestina.

Sumber: Irib

Mubarak Lenyap, Mesir Siap Bantu Masuknya Bantuan ke Gaza

Menteri Luar Negeri Mesir, Nabil al-Arabi
KAIRO-(IDB) : Menteri Luar Negeri Mesir, Nabil al-Arabi, menyatakan bahwa negeranya siap membantu masuknya segala bentuk bantuan kemanusiaan internasional ke Jalur Gaza. 
 
IRNA melaporkan, hal itu dikemukakan kemarin (17/4 oleh al-Arabi dalam pertemuannya dengan para delegasi dari berbagai lembaga internasional membicarakan upaya mengakhiri blokade atas Gaza.

Al-Arabi menjanjikan berbagai kemudahan untuk masuknya segala bentuk bantuan internasional dan kebutuhan primer ke Jalur Gaza melalui perbatasan Rafah. 

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Manhah Bakhum, "Dalam pertemuan itu, al-Arabi juga menekankan bahwa Mesir siap ikut berpartisipasi dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza. Ia juga menyampaikan persetujuan politik Kairo terhadap masuknya bantuan internasional melalui jalur penyeberangan Rafah".

Sebelumnya, pada masa kepemimpinan mantan diktator Hosni Mubarak, Mesir selalu menjegal upaya masyarakat internasional untuk menyalurkan bantuan ke Jalur Gaza melalui Rafah. Bahkan rezim Mubarak mengiringi langkah rezim Zionis Israel dalam memblokade Jalur Gaza, dengan membangun dinding baja di sepanjang perbatasannya dengan Gaza. 

Kini masyarakat internasional khususnya lembaga-lembaga kemanusiaan berharap dengan runtuhnya rezim Mubarak, pemerintah Mesir mempermudah proses penyaluran bantuan ke Gaza.

Sumber: Irib

Mesir Baru; Rangkul Iran, Tendang Israel

IRIB-(IDB) : Perdana Menteri rezim Zioni Israel Benjamin Netanyahu mengungkapkan kekhawatirannyaatas sikap anti-Zionis yang ditujukan oleh para pemimpin baru Mesir. Pernyataan ini dilontarkan lebih dari dua bulan setelah revolusi Mesir yang menggulingkan mantan Presiden Hosni Mubarak yang pro-Israel. 
 
Di tengah pertemuan para duta besar Uni Eropa di Yerusalem, timur al-Quds pekan lalu, Netanyahu mengatakan beberapa suara yang terdengar dari Kairo menunjukkan permusuhan terhadap Tel Aviv. Netanyahu menyatakan ia sangat prihatin atas pernyataan terakhir yang dibuat oleh Menteri Luar Negeri Mesir Nabil El Arabi. Para diplomat tinggi Kairo bersama sejumlah pejabat senior lainnya, dilaporkan telah menyebut Israel sebagai musuh Mesir.

Belum lagi, El Arabi menegaskan bahwa Mesir siap untuk mempromosikan hubungan antara Tehran dan Kairo. Dalam konferensi pers pertamanya sebagai menteri luar negeri Mesir, El Arabi menuturkan, Kairo siap untuk membuka lembaran baru dengan Republik Islam Iran. Menurut El Arabi, pemerintah Mesir tidak melihat Iran sebagai negara musuh dan kedua negara juga memiliki hubungan historis yang mengakar.

Kekhawatiran Netanyahu juga disuarakan oleh beberapa pejabat senior Israel lainnya. Statemen itu dikeluarkan menyusul demonstrasi anti-Israel, yang digelar di luar kedutaan Israel di Kairo serta konsulat Zionis di kota Iskandariyah, selama beberapa pekan terakhir. Pada tanggal 8 April, lebih dari satu juta pengunjuk rasa berkumpul di Bundaran Tahrir, mendesak penguasa militer untuk mencabut blokade Jalur Gaza. Para demonstran juga menyerukan pemutusan hubungan diplomatik dan pengusiran duta besar Israel dari Mesir.

Kini, Mesir menganggap Israel sebagai musuhnya dan memperingatkan Tel Aviv soal serangan mereka ke Jalur Gaza. Menyangkut kemungkinan hubungan ekonomi dengan Tel Aviv, Menteri Keuangan Mesir Samir Radwan menekankan bahwa Kairo tidak membutuhkan investasi dari musuh.

Transformasi itu terjadi hanya dalam dua bulan pasca tumbangnya diktator Mesir dan rezim pro-Barat. Mubarak selama masa kepemimpinannya di Mesir, senantiasa menjalin kerjasama dengan Israel, khususnya terkait blokade Jalur Gaza dan serangan ke kawasan itu. Perkembangan terbaru juga menyebutkan bahwa menlu Mesir akan segera melakukan kunjungan ke Jalur Gaza. Media-media regional melaporkan bahwa Nabil El Arabi membuat keputusan itu demi menyatakan solidaritas seluruh rakyat Mesir dan para pemimpin Kairo kepada warga Gaza, setelah empat tahun blokade.

Dalam pertemuannya dengan Ekmeleddin Ihsanoglu, Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI), El Arabi menyatakan bahwa negaranya akan berupaya maksimal untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza. OKI sendiri mendukung keputusan serius pemerintah Kairo untuk membuka pintu Rafah dan menyalurkan bantuan ke kawasan. Menurut sejumlah pengamat Palestina, Israel dari segi politik, strategi, militer dan ekonomi akan menjadi pecundang pertama revolusi di kawasan. 

Sumber: Irib

AU Mesir Borong Tiga C295

C295. (Foto: Airbus Military)

30 Oktober 2010 -- Angkatan Udara Mesir meneken kontrak dengan Airbus Military pembelian tiga pesawat angkut C295.

Pesawat akan diterima AU Mesir mulai 2011 dan akan digunakan meningkatkan kemampuan taktis dan pengangkutan logistik. Pemesanan pesawat dari Airbus Militaru oleh AU Mesir untuk pertama kalinya.

AU Mesir memilih C295 karena mudah perawatannya dan terbukti kemampuan operasionalnya, terutama di daerah gurun. Selain itu, pesawat ini serba guna dan mampu beroperasi dalam berbagai macam kondisi.

Airbus Military telah menjual 85 C295 pada 18 pelanggan, 64 pesawat dioperasikan oleh 11 negara.

Airbus Military/Berita HanKam