Tampilkan postingan dengan label Lebanon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebanon. Tampilkan semua postingan

Hizbullah: Serang Iran, Akan Picu Perang di Timteng

BEIRUT-(IDB) : Sekretaris Jenderal Hizbullah Lebanon, Sayyid Hassan Nasrullah mengatakan, setiap serangan terhadap Republik Islam Iran akan memicu perang skala penuh di kawasan Timur Tengah.
 
"Rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat ingin melemahkan poros muqawama dengan menempatkan Tehran dan Damaskus pada sasaran serangan," tambahnya.
 
"Para agresor harus mengerti bahwa perang atas Iran dan Suriah tidak akan terbatas di kedua negara, tetapi akan menyebar ke negara-negara lain di kawasan. Kami tidak mengeluarkan ancaman, tapi ini adalah realita," tegas Nasrullah pada hari Jumat (11/11).
 
Seraya menyatakan bahwa Iran tidak takut terhadap Armada Angkatan Laut AS, Nasrullah menandaskan, ancaman dan Armada Angkatan Laut AS tidak dapat melemahkan tekad rakyat Iran.
 
Berpidato pada peringatan ‘Hari Syahid', yang diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 11 November, Nasrullah menjelaskan bahwa AS telah gagal di Irak dan dipaksa untuk menarik pasukannya dari negara itu. Ditegaskannya, "Akibatnya, AS ingin menghukum negara-negara yang menentang pendudukan di kawasan. AS ingin menghukum Iran dan Suriah dan bermaksud untuk menjaga mereka di bawah tekanan."
 
Berbicara tentang perkembangan terakhir di Timur Tengah dan Afrika Utara, tokoh kharismatik ini mengatakan, perubahan rezim di Tunisia, Libya dan Mesir telah menghancurkan kepentingan AS dan Israel dan ini adalah alasan lain mengapa mereka ingin menghukum Suriah dan Iran.
 
"Era kelemahan dan ketundukan kepada AS atau Israel telah berakhir. Kita telah memasuki era kemenangan," tegasnya.
 
Pada 11 November 1982, seorang pejuang muqawama, Ahmad Qassir menyerang sebuah markas militer Israel di kota Tyre, Lebanon Selatan, menewaskan puluhan tentara Zionis dan perwira intelijen.
 
Hizbullah menghormati dan mengenang pejuang yang mengorbankan hidup mereka untuk Lebanon setiap tahun.

Sumber : Irib

Friksi Hizbullah-Israel Meningkat, Prediksi Hasil Perang Pun Bermunculan

BEIRUT-(IDB) : Tajamnya friksi antara Lebanon dan Israel dalam masalah perbatasan, membuat para analis regional memperkirakan hasil dari kemungkinan bentrokan kedua pihak di masa mendatang. 
 
Farsnews melaporkan (27/7), bersamaan dengan meningkatnya kemungkinan perang antara Lebanon dan Israel terkait masalah perbatasan yang kaya gas alam dan minyak, media massa regional mengulas hasil dari kemungkinan perang antara Lebanon dan Israel.
Beberapa waktu lalu, Sekjen Hizbullah, Sayid Hasan Nasrullah, memaparkan rencana kelompok muqawama Lebanon ini dalam menyerang pelabuhan-pelabuhan Israel di kawasan selatan, jika rezim Zionis menyerang Lebanon. 

Peringatan Sayid Nasrullah itu menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan pejabat Tel Aviv. Kekhawatiran tersebut sangat beralasan mengingat jika janji Nasrullah itu terlaksana, maka Israel akan terblokade dari sisi perdagangan dan militer. 

Koran al-Safir terbitan Lebanon dalam hal ini menulis, "Kapal-kapal Israel tidak lagi dapat bergerak dengan leluasa di perairan Lebanon. Ledakan kapal tempur Israel pada 2006, hingga kini masih belum dapat dilupakan oleh orang-orang Zionis. 

Seorang pengamat militer Lebanon, Ilyas Hana dalam hal ini berpendapat, "Untuk merealisasikan ancaman tersebut, berarti Hizbullah harus memiliki sistem canggih." 

Pertama, kekuatan deteksi tinggi termasuk radar maritim canggih dan juga presisi analisa target. Kedua, kekuatan militer. Artinya, untuk melancarkan serangan tersebut Hizbullah harus menyerang dengan menggunakan rudal atau roket jarak menengah atau jauh atau dengan menggunakan perahu cepat. Ketiga, Hizbullah harus dapat melanjutkan serangannya yang tidak cukup hanya dilakukan beberapa kali saja. 

Kekuatan jet-jet tempur Israel mendeteksi peluncur rudal dan roket Hizbullah juga harus diperhatikan. Namun Hizbullah telah memperhitungkan hal itu. 

Pengamat militer Lebanon lainnya, Ali Shahab, mengatakan bahwa pada perang mendatang kekuatan maritim Hizbullah akan ditampilkan. Kekuatan pertahanan Hizbullah menurutnya lebih besar dibanding Israel. Apalagi berdasarkan sejumlah laporan dari lembaga riset Eropa dan Amerika, kini Hizbullah memiliki kapal-kapal selam mini yang akan membuat Israel kewalahan. 

Adapun terkait kekuatan Hizbullah dalam perang elektronik, menurut Ilyas Hana, hal itu sudah terbukti sejak tahun 2000 dan pada puncaknya dalam Perang 33 Hari 2006. Dikatakannya, kemampuan Hizbullah menyadap telpon dan menyusup ke jaringan informasi Israel telah terbukti ketika Hizbullah beraksi mendadak sebelum rezim Zionis merampungkan persiapan serangannya ke Lebanon. 

Sumber: Irib

Lebanon Tidak Akan Bertahan Tanpa Hizbullah

BEIRUT-(IDB) : Politisi senior Lebanon menyatakan bahwa negara ini tidak akan mampu bertahan eksis dalam menghadapi agresi rezim Zionis Israel tanpa gerakan muqawama Hizbullah, dan masa depan Lebanon sangat berkaitan erat dengan gerakan tersebut. 
 
Pemimpin Gerakan Patriotik Bebas (FPM) Michel Aoun, membicarakan berbagai fakta dalam Perang 33 Hari Israel-Hizbullah, dengan radio lokal (24/7) dan menyatakan, "Kita tidak akan mampu bertahan hidup sebagai sebuah negara tanpa kekuatan perlawanan ini atau tanpa dukungan gerakan muqawama." Demikian dilaporkan Daily Star terbitan Lebanon. 

Ditambahkannya, "Dari sinilah formula itu muncul, yaitu gabungan antara militer dan muqawama. Keduanya bersatu dan saling terkait dalam melawan musuh." 

Menyinggung masa depan yang terikat erat dengan berlanjutnya muqawama Hizbullah, Aoun memperingatkan watak agresif Israel dan keserakahan rezim Zonis untuk mengontrol dan ekspansi. 

"Selama Israel tidak menciptakan perdamaian dengan sekitarnya ... maka tahun 2006 menjadi tonggak awal dimulainya keruntuhan rezim Zionis dan tidak ada yang dapat mencegahnya karena sangat sulit untuk mengembalikan semangat kepada orang-orang Israel," tutur Aoun. 

Serangan massif Israel ke Lebanon dan bulan Juli 2006, yang dikenal dengan Perang 33 Hari, telah mengakibatkan gugurnya 1.200 warga Lebanon yang mayoritasnya adalah dari pihak sipil. 

Sejak saat itu, Israel nyaris setiap hari melanggar zona udara Lebanon. 

Pemerintah Lebanon, gerakam muqawama Lebanon, dan Pasukan PBB untuk Lebanon Selatan (UNIFIL), berulangkali mengecam penerbangan tersebut dan menilainya sebagai pelanggaran nyata terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701. Resolusi tersebut, mengakhiri perang pada Juli 2006 antara Hizbullah dan Israel serta mewajibkan Tel Aviv untuk menghormati kedaulatan Beirut.

Sumber: Irib

Hizbullah Peringatkan Israel Tidak Mengusik Wilayah Maritim Lebanon

LEBANON-(IDB) : Ketua Fraksi Hizbullah di parlemen Lebanon, Mohammad Raad, menyatakan bahwa Hizbullah telah memperingatkan Israel untuk tidak mencoba melanggar kedaulatan Lebanon dengan mengeksplorasi zona gas di kawasan laut yang dipersengketakan di Laut Mediterania. 
 
Menurut laporan AFP (17/7), Raad menegaskan, "Israel tidak akan mampu menggali barang semeter pun di perairan tersebut untuk mendapatkan gas atau minyak." 

Raad menambahkan bahwa pemerintah Lebanon, yang saat ini Hizbullah memegang suara mayoritas, akan menjaga kedaulatan dan seluruh wilayah maritim negara ini. 

Kontroversi atas simpanan gas bumi di dasar Laut Mediterania itu meningkat setelah 12 Juli lalu, ketika Tel Aviv mengajukan peta baru perbatasan maritim kepada Lebanon. 

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Lebanon, Adnan Mansour, menyatakan bahwa peta baru perbatasan maritim yang diajukan oleh Israel itu memotong zona ekonomi Lebanon dan mengancam keamanan regional. 

Israel telah lama berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan zona minyak dan gas di perairan Lebanon, dan berharap menjadi salah satu negara pengekspor energi. 

Di lain pihak, Gebran Bassil, Menteri Energi dan Air Lebanon, menegaskan bahwa Beirut tidak akan merelakan hak-hak maritimnya, serta mengkhawatirkan pelanggaran Israel terhadap kawasan maritim, darat, dan udara Lebanon, begitu juga terhadap sumber-sumber minyak negara ini. 

Militer Israel menginvasi Lebanon selatan pada Juli 2006 lalu namun menghadapi perlawanan heroik dari pada pejuang Hizbullah. Serangan yang juga dikenal dengan nama Perang 33 Hari itu, merenggut 1. 200 warga Lebanon, sebagian besarnya warga sipil. 

Namun demikian, para pejuang Hizbullah juga mampu menimbulkan kerugian besar pada militer Israel dan sukses memukul mundur pasukan Zionis dan berhasil menggagalkan militer Israel meraih tujuan-tujuannya dalam perang tersebut. 

Di sisi lain, jet-jet tempur Israel melanggar zona udara Lebanon, nyaris setiap hari dengan alasan untuk pengintaian. 

Pemerintah Lebanon, Hizbullah, dan Pasukan PBB untuk Lebanon Selatan (UNIFIL), berulangkali mengecam pelanggaran oleh rezim Zionis itu dan menilainya sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan Lebanon dan resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 1701. Resolusi tersebut mewajibkan Israel menghormati kedaulatan Lebanon.

Sumber: Irib

Pesawat Tempur Israel Langgar Wilayah Udara Lebanon

LEBANON-(IDB) : Sepuluh pesawat militer Israel kembali melanggar zona udara Lebanon. Untuk kesekian kalinya, Israel melakukan pelanggaran secara terang-terangan terhadap resolusi yang ditetapkan Dewan Keamanan PBB.
 
Israel hampir setiap hari melanggar wilayah udara Lebanon. Sementara Pemerintah Lebanon, Gerakan Hizbullah dan Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) berulang kali mengecam pelanggaran pesawat-pesawat Israel atas zona udara Lebanon. Zionis Israel secara terangan-terangan melanggar Resolusi PBB nomor 1701 dan kedaulatan negara.

Resolusi 1701 yang mengakhiri serangan militer Israel terhadap Lebanon pada tahun 2006, menyatakan bahwa Tel Aviv harus menghormati kedaulatan Beirut dan integritas teritorial Lebanon.

Pada tahun 2009, Lebanon mengajukan protes kepada PBB dengan menyerahkan lebih dari 7.000 dokumen terkait pelanggaran Israel atas wilayah Lebanon.

Sumber: Irib

Israel Mengancam Melancarkan Serangan Massif ke Lebanon Selatan

TEL-AVIV-(IDB) : Rezim Zionis Israel kembali mengancam akan melancarkan serangan besar-besaran ke Lebanon jika muncul instabilitas di wilayah selatan negara itu. 
 
Kantor berita Fars mengutip laporan Radio Israel (27/6) menyebutkan, desa-desa di Lebanon selatan disebut Israel dengan nama "desa-desa Ledakan" dan jika kondisi keamanan di wilayah itu kacau, maka Israel akan melancarkan serangan massif ke Lebanon selatan. 

Suber-sumber Israel mengklaim bahwa gerakan muqawama Islam Lebanon (Hizbullah) telah mengubah desa-desa di wilayah selatan menjadi "desa-desa ledakan." 

Diklaim pula bahwa militer Israel telah mengidentifikasi peralatan perang dan pusat-pusat komando, serta bunker-bunker milik Hizbullah di dalam desa-desa di Lebanon selatan. 

Radio Israel menambahkan, seluruh pihak di Lebanon termasuk Hizbullah dan media massa negara itu, mengamati secara terperinci manuver Israel "Turning Point 5" yang digelar pekan lalu. 

Koran Haaretz terbitan Tel Aviv edisi kemarin (Ahad, 26/6) menyinggung kunjungan rahasia Ketua Dinas Intelejen Militer Israel, Aviv Kochavi, ke Amerika Serikat, tiga pekan sebelum peringatan Hari Nakba, untuk beruding dengan para pejabat Washington, serta duta besar negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB di New York. Kochavi merundingkan kondisi Lebanon dan Suriah. 

Kunjungan Kochavi ke Amerika Serikat memfokuskan pada situasi di Suriah menyusul aksi protes yang mundul di negara itu.

Sumber: Irib

Israel Gagal Infiltrasi Hizbullah!

LEBANON-(IDB) : Sekretaris Jenderal Hizbullah Sayid Hassan Nasrullah mengatakan Israel tidak mampu menginfiltrasi infrastruktur gerakan perlawanan Lebanon itu. 
 
Dalam pidato yang disiarkan di televisi di arena tertutup Lebanon pada hari Jumat (24/6), Nasrullah mengatakan Israel bahkan telah kehilangan kemampuan militer untuk melindungi dirinya sendiri, seraya menambahkan bahwa ketidakmampuan tersebut telah memaksanya meminta bantuan CIA. 

Pemimpin Hizbullah mencatat bahwa Israel meminta CIA untuk membantu memperoleh informasi tentang gerakan perlawanan Lebanon ini. Nasrullah juga menuduh Kedutaan AS di Lebanon melakukan misi spionase untuk Israel. 

Gerakan Perlawanan Islam Lebanon, Hizbullah telah menangkap beberapa orang di dalam jajarannya sendiri atas tuduhan mata-mata untuk dinas intelijen rezim Zionis Israel, Mossad. 

Menurut sumber Lebanon, lebih dari 10 anggota Hizbullah, di antara mereka berpangkat tinggi, ditangkap selama beberapa hari terakhir atas tuduhan berkolaborasi dengan Israel. 

Mohammad Atwi dari distrik Nabatiyeh di selatan Lebanon, yang bertanggung jawab untuk mengatur keamanan internal Hizbullah dan mengkoordinasikan kerjasama dengan Iran dan Suriah, merupakan salah satu pejabat senior Hizbullah yang ditangkap dalam hal ini, surat kabar Kuwait, al-Rai melaporkan.

Hizbullah mengatakan para tahanan sedang diinterogasi dan beberapa dari mereka mengakui menjadi mata-mata Mossad, sementara yang lain menyangkal tuduhan itu. Ditambahkannya, sel mata-mata ditemukan tiga bulan lalu setelah informasi yang sangat penting tentang Hizbullah dikirim ke Israel.

Beberapa tokoh terkemuka Lebanon, termasuk anggota militer, politik dan bisnis, telah ditangkap selama dua tahun terakhir atas tuduhan mata-mata untuk Israel. Tel Aviv meluncurkan perang intelijen melawan Hizbullah menyusul kekalahannya selama perang 33 hari pada tahun 2006.

Presiden Michel Sleiman menyerukan hukuman berat bagi mata-mata Israel dan mengatakan ia akan menandatangani hukuman mati yang dijatuhkan oleh pengadilan.

Sumber: Irib

Mossad Susupi Gerakan Hizbullah

LEBANON-(IDB) : Gerakan Perlawanan Islam Lebanon, Hizbullah telah menangkap beberapa orang di dalam jajarannya sendiri atas tuduhan mata-mata untuk dinas intelijen rezim Zionis Israel, Mossad. 

Menurut sumber Lebanon, lebih dari 10 anggota Hizbullah, di antara mereka berpangkat tinggi, ditangkap selama beberapa hari terakhir atas tuduhan berkolaborasi dengan Israel. Press TV melaporkan pada hari Rabu (22/6).

Mohammad Atwi dari distrik Nabatiyeh di selatan Lebanon, yang bertanggung jawab untuk mengatur keamanan internal Hizbullah dan mengkoordinasikan kerjasama dengan Iran dan Suriah, merupakan salah satu pejabat senior Hizbullah yang ditangkap dalam hal ini, surat kabar Kuwait, al-Rai melaporkan. Seorang ruhaniawan juga dilaporkan di antara mata-mata Israel yang dicurigai. 

"Sekelompok anggota Hizbullah ditahan dalam beberapa hari terakhir karena berkolaborasi dengan Israel," kata sumber Hizbullah yang tidak bersedia disebutkan namanya. Ia juga menolak untuk mengungkapkan jumlah mereka yang ditahan atau posisi mereka dalam organisasi.

Hizbullah mengatakan para tahanan sedang diinterogasi dan beberapa dari mereka mengakui menjadi mata-mata Mossad, sementara yang lain menyangkal tuduhan itu. Ditambahkannya, sel mata-mata ditemukan tiga bulan lalu setelah informasi yang sangat penting tentang Hizbullah dikirim ke Israel.

Beberapa tokoh terkemuka Lebanon, termasuk anggota militer, politik dan bisnis, telah ditangkap selama dua tahun terakhir atas tuduhan mata-mata untuk Israel. Tel Aviv meluncurkan perang intelijen melawan Hizbullah menyusul kekalahannya selama perang 33 hari pada tahun 2006.

Jika terbukti bersalah, mata-mata akan menghadapi hukuman seumur hidup dengan kerja keras. Dan jika ditemukan bersalah memberikan kontribusi yang berakibat tewasnya warga Lebanon, para agen akan menghadapi hukuman mati.

Presiden Michel Sleiman menyerukan hukuman berat bagi mata-mata Israel dan mengatakan ia akan menandatangani hukuman mati yang dijatuhkan oleh pengadilan. 

Sumber: Irib

Jerman Perpanjang Misi di Lebanon

JERMAN-(IDB) : Pemerintah Jerman pada hari Rabu (18/5) menyetujui perpanjangan mandat PBB bagi unit Angkatan Laut Jerman di lepas pantai Lebanon untuk satu tahun lagi, IRNA melaporkan.
 
Namun, parlemen Jerman belum menyetujui perpanjangan misi kontroversial di Lebanon, yang ditujukan untuk menjaga kepentingan rezim Zionis Israel.

Militer Jerman berwenang mengerahkan hingga 300 pasukan sebagai bagian dari misi UNIFIL. Sekarang ada tiga kapal patroli Jerman di pantai Lebanon. Jerman juga terlibat dalam pelatihan polisi Lebanon dan petugas bea cukai.

Pasukan penjaga perdamaian PBB ditempatkan di perbatasan Lebanon-Israel untuk memantau gencatan senjata pasca perang tahun 2006.

Sumber: Irib

Lebanon Adukan Israel ke PBB

NEW YORK-(IDB) : Wakil Lebanon di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengadukan kejahatan Rezim Zionis Israel terhadap rakyat Palestina di wilayah perbatasan Marwan al-Ras yang berada di Lebanon selatan.
 
Rakyat Palestina baik di dalam wilayah pendudukan maupun yang berada di kamp-kamp pengungsi di Lebanon dan Suriah menggelar aksi demo besar-besaran memprotes penjajahan di tanah air mereka oleh Israel. Aksi demo damai yang digelar kemarin (Ahad 15/5) bertepatan dengan peringatan Hari Nakbah mendapat perlakuan keras dari pihak pasukan keamanan Israel, akibatnya tercatat sekitar 400 orang gugur atau cidera. Di Lebanon selatan sendiri tercatat 110 orang mengalami luka-luka akibat serangan tentara Israel. Demikian dilaporkan IRNA.

Di surat pengaduannya, Lebanon menyatakan, kejahatan Israel ini merupakan permusuhan terhadap bangsa Lebanon dan menunjukkan bahwa rezim ini berulangkali melanggar kedaulatan Beirut dan mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB. 

Dalam pengaduannya, Lebanon juga meminta Dewan Keamanan melakukan langkah-langkah praktis untuk mencegah berlanjutnya kejahatan Israel dan menekan Tel Aviv segera menghentikan brutalitasnya. Lebanon juga meminta Dewan Keamanan menjaga keamanan dan perdamaian internasional.

Michael C. Williams, utusan khusus sekjen PBB mengkhawatirkan dan menyesalkan peristiwa pembantaian di Marwan al-Ras oleh Israel. Dikatakannya, peristiwa ini merupakan kejadian terpenting dan serius selama 2006 hingga kini.

Ia juga mengkhawatirkan kejadian serupa yang terjadi di perbatasan Lebanon dan Suriah. "Saya meminta pihak-pihak terkait untuk bersabar dan menghormati resolusi 1701 Dewan Keamanan PBB. Dan saya berterima kasih atas upaya militer Lebanon dan UNIFIL," tambah Williams. 

Sumber: Irib

Ulama Lebanon Puji Pancasila

KAIRO-(IDB) : Ulama Lebanon, Syeikh Ali Zainuddin menyatakan kekagumannya atas peran Pancasila dalam mempersatukan bangsa Indonesia yang beragam suku dan agama.

"Filsafat Pancasila sebagai panduan dan pedoman masyarakat sehingga mampu menciptakan kerukunan hidup umat dari berbagai latar belakang suku agama, budaya dan bahasa di Indonesia," kata Syeikh Zainuddin saat bertemu dengan Duta Besar RI untuk Lebanon, Dimas Samodra Rum di Shouf, ebelah timur Ibu Kota Beirut, Senin.

Ketua Al-Irfan Foundation, salah satu Yayasan Sosial masyarakat Muslim Druz di Lebanon itu mengaku mendapat penjelasan tentang Pancasila dari beberapa ulama Lebanon yang baru-baru ini berkunjung ke Indonesia, demikian siaran pers KBRI Lebabon yang diterima ANTARA Kairo, Senin.

"Saya banyak mendapatkan pelajaran tentang Indonesia dari Syeikh Sami Abil Mona dan Syeikh Sami Abdul Khalik," terang Sheikh Ali Zainuddin.  Kedua ulama adalah utusan komunitas Druz yang berpartisipasi pada Dialog Lintas Agama II di Malang, Indonesia pada Februari 2011.

Sheikh Ali berharap Lebanon -- yang pernah dilanda perang saudara akibat konflik sektarian -- meniru Indonesia dalam menjalankan kehidupan masyarakat dan pemerintahan yang bersatu.

Dia menyebutkan Indonesia mampu mengedepankan citra muslim yang ramah, toleran dan sejalan dengan demokrasi sehingga menjadi modal utama umat Islam dalam mengangkat citra Islam di mata internasional.

Dimas mengatakan, dalam pertemuan tersebut juga disepakati rencana pengembangan kerja sama Indonesia dan masyarakat Druz.

"KBRI dan Sheikh Syeikh Zainuddin sepakat bahwa potensi masing-masing di bidang ekonomi dan perdagangan dapat dieksplorasi untuk pengembangan kerja sama nyata pada masa depan," demikian Dimas Samodra Rum.

Masyarakat Druz bermukim di sepanjang dataran tinggi Shouf yang merupakan tanah pertanian subur. Sebagian besar petani anggur dan pohon zaitun.

Druz -- dalam bahas Arab Durzi -- adalah satu sekte Syiah yang muncul pada abad 11 Masehi di Irak saat Pemerintahan Islam Syiah, Bani Fathimiyah.

Saat ini masyarakat Druz tersebar di beberapa wilayah termasuk Lebanon, Suriah dan Israel.

Druz lebih senang menyebut kelompoknya dengan "Al Muwahhidin", orang-orang yang mengesakan Tuhan

Sumber: Antara

Dinas Rahasia Israel Tidak Mampu Hadapi Hizbullah

TEL AVIV-(IDB) : Petinggi Mossad mengakui ketidakmampuan dinas intelijen Rezim Zionis Israel dalam menghadapi Hizbullah Lebanon. Diakui bahwa dinas intelijen Israel terjebak dalam friksi internal dan kebuntuan saat berhadapan dengan Hizbullah.
 
Laporan ini menambahkan, kelemahan intelijen Zionis dalam menghadapi kelompok perjuangan rakyat Lebanon yang dipimpin Hizbullah telah menimbulkan konflik internal tersendiri di lembaga keamanan dan militer rezim ini, yang memuncak setelah kekalahan memalukan di perang 33 hari, Juli-Agustus 2006.

Dalam beberapa bulan terakhir militer Lebanon dan Hizbullah berhasil membongkar sejumlah jaringan spionase Israel di wilayah selatan Lebanon. Lebih dari seratus orang ditangkap terkait tuduhan mata-mata untuk kepentingan Rezim Zionis Israel. 

Sumber: Irib

Iran-Lebanon Perkuat Barisan Hadapi AS

Presiden Iran dan Lebanon berjabat tangan.
TEHRAN-(IDB) : Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, solidaritas antara Iran dan Lebanon telah menggagalkan skenario kekuatan hegemoni. Ahmadinejad mengeluarkan pernyataan itu dalam percakapan telepon dengan Ketua parlemen Lebanon Nabih Berri, IRNA melaporkan pada hari Ahad (17/4).
 
Seraya memuji hubungan erat antara Tehran dan Beirut, Ahmadinejad mencatat bahwa kedua negara memiliki pandangan yang sama menyangkut isu-isu regional dan internasional.

"Perkembangan di kawasan dan respon Amerika Serikat dan sekutunya terhadap fenomena itu telah membuktikan statemen Iran bahwa Barat hanya mengincar kepentingannya semata," tegasnya.

Ahmadinejad juga menyatakan bahwa kekuatan hegemoni menentang semua negara merdeka di dunia. 

Sementara itu, Nabih Berri menekankan pentingnya kerjasama dan menyerukan peningkatan kerjasama antara Lebanon dan Iran. 

Presiden Ahmadinejad berkunjung ke Lebanon pada pertengahan Oktober 2010 atas undangan sejawatnya Michel Sleiman. Selama kunjungan, ia bertemu dengan para pejabat tinggi Beirut, pemimpin politik, akademisi, dan mahasiswa serta masyarakat luas di Beirut dan Lebanon Selatan.

Sumber: Irib