Tampilkan postingan dengan label Kostrad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kostrad. Tampilkan semua postingan

Yonif 413 Temukan Sejumlah Patok Perbatasan Bergeser Karena Faktor Alam

(Foto: KOSTRAD)

7 Agustus 2012, Jakarta: Wilayah perbatasan Kalimantan Timur membentang sepanjang 1.038 Km yang meliputi tiga kabupaten diantaranya Kabupaten Nunukan, Kabupaten Malinau dan Kabupaten Kutai Barat, dengan patok perbatasan berjumlah 13.544 buah. Untuk menjamin wilayahperbatasan tetap terjaga dengan baik, maka dilakukan patroli perbatasan secara rutin dan terjadwal oleh personel Satgas Pamtas Yonif 413 Kostrad maupun patroli gabungan dengan TDM Malaysia.

Menurut keterangan Dansatgas Pamtas Yonif 413 Kostrad, Mayor Inf Joko Maryanto,kondisi medan perbatasan yang terjal serta menyusuri sungai-sungai untuk mencapai patok perbatasan merupakan tantangan tersendiri bagi prajurit Yonif 413 Kostrad, karena hanya sebagian kecil patok perbatasan yang berada dipinggir jalan dan sebagian besar berada ditengah hutan dan pedalaman Kalimantan Timur yang berjarak sekitar 30 km hingga 50 km dari Pos Pamtas, sehingga untuk melaksanakan patroli ke patok perbatasan membutuhkan waktu 8 hingga 10 hari.

Dansatgas menambahkan, dari hasil patroli yang telah dilaksanakan terdapat beberapa patok perbatasan yang mengalami kerusakan seperti patah, tertimpa pohon, miring, tertimbun tanah, berlumut, tulisan tidak terbaca, dsb.

Disamping itu juga ditemukan sejumlah patok yang tidak berada pada posisinya/ bergeser. Pergeseran tersebut ada yang menjorok ke wilayah Malaysia dan ke wilayah Indonesia antara 40 meter hingga 50 meter dari koordinat yang ada. Hal ini disebabkan karena tanah longsor maupun terseret jalur logging, namun sebagian besar tetap berada pada posisinya dan terjaga dengan baik.

Terhadap sejumlah patok perbatasan yang mengalami kerusakan akan dicatat,didokumentasikan dan dilaporkan ke komando atas guna dijadikan data oleh tim IRM (Investigasi, Refiksasi, dan Maintenance) antara RI–Malaysia ndalam melaksanakan perbaikan patok – patok perbatasan yang rusak maupun hilang.

Sumber: KOSTRAD

Kostrad Siap Gunakan Alutsista Canggih

Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) yang baru Mayjen TNI M Munir (kanan) bersama pejabat lama Letjen TNI A.Y. Nasution (kanan) memberikan sambutan saat serah terima jabatan (sertijab) di Makostrad, Gambir, Jakarta, Selasa (13/3). Mayjen TNI M Munir sebelumnya menjabat Pangdam III/Siliwangi dan Letjen TNI A.Y. Nasution selanjutnya menjadi Perwira Tinggi di Mabes TNI. (Foto: ANTARA/Teguh/pd/12)

14 Maret 2012, Jakarta: Komando Cadangan Strategis Angkatan Darad (Kostrad) berupaya untuk meningkatkan profesionalitas dan kemampuan dalam mengawaki alat utama sistem senjata (alutsista) yang semakin canggih.

Pemerintah telah memprogramkan modernisasi alutsista bagi Kostrad ke depan. Panglima Kostrad yang baru dilantik Mayjen TNI Muhamad Munir mengungkapkan, alutsista Kostrad ke depan harus semakin modern. Dukungan pemerintah dan DPR untuk modernisasi ini sudah besar.”Tapi,itu masih kurang,” ungkap Munir seusai mengikuti apel lepas sambut Panglima Kostrad di Makostrad, Jakarta, kemarin. Kekurangan itu, ujarnya, pada alutsista Batalion Kavaleri yang mayoritas belum dimodernisasi.

Meski demikian, Munir tetap bersyukur karena sudah ada yang dimodernisasi. Mantan Pangdam III/Siliwangi itu percaya, pemerintah dan DPR akan melengkapi Kostrad dengan alutsista canggih. ”Kita sebagai prajurit yang penting siap untuk menyongsong modernisasi alutsista untuk setara dengan negara lain sehingga kita bisa menjaga negara ini lebih aman lagi,” tandasnya.

Sedangkan mantan Pangkostrad Letjen TNI AY Nasution mengatakan,dia memasuki masa pensiun seusai purnatugas sebagai Pangkostrad. ”Terima kasih atas dukungan kalian (prajurit Kostrad) sehingga saya bisa menyelesaikan tugas tanpa cacat,” ujarnya. Nasution pun berpesan agar prajurit Kostrad tetap menjaga soliditas dan semangat. Nasution mengaku akan kembali ke kampung halaman di Sumatera Utara setelah pensiun nanti.

Sumber: SINDO

Kasad Lantik M Munir Sebagai Pangkostrad

Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) yang baru Mayjen TNI M Munir (kiri) melakukan salam komando dengan pejabat lama Letjen TNI A.Y. Nasution (kanan) usai serah terima jabatan (sertijab) di Makostrad, Gambir, Jakarta, Selasa (13/3). Mayjen TNI M Munir sebelumnya menjabat Pangdam III/Siliwangi dan Letjen TNI A.Y. Nasution selanjutnya menjadi Perwira Tinggi di Mabes TNI. (Foto: ANTARA/Teguh/pd/12)

13 Maret 2012, Jakarta: Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo melantik Mayjen TNI Muhamad Munir sebagai Panglima Komando Strategis dan Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) menggantikan Letjen Azmin Yusri Nasution di Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta, Selasa.

Pada kesempatan yang sama, Kasad melantik Mayjen TNI Sonny Widjaya sebagai Panglima Kodam III/Siliwangi menggantikan Mayjen TNI Muhamad Munir, dan melantik Mayjen TNI Subekti, sebagai Panglima Kodam VI/Mulawarman menggantikan Mayjen TNI Tan Aspan.

Kasad juga melantik Brigjen TNI Joko Sriwidodo sebagai Aslog Kasad menggantikan Mayjen TNI Soni Wijya, dan melantik Brigjen TNI Dicky Wainal Usman sebagai Asrena Kasad menggantikan Mayjen TNI Subekti.

Kasad mengatakan, Kostrad sebagai Kotama Pembinaan TNI Angkatan Darat sekaligus sebagai Kotama Operasional TNI, memiliki tugas pokok membina kesiapan operasional segenap jajaran komandonya, serta melaksanakan operasi tingkat strategis sesuai dengan kebijaksanaan Panglima TNI.

Jajaran Kostrad, kata Pramono, dituntut memiliki mobilitas tinggi serta mampu bereaksi cepat sebagai satuan penangkal, penindak dan pemukul yang handal untuk digerakkan ke seluruh wilayah NKRI.

"Demikian juga dengan Kodam III/Siliwangi dan Kodam VI Mulawarman sebagai Kotama Kewilayahan, bertugas menyelenggarakan pembinaan kemampuan, kekuatan dan gelar kekuatan, serta melaksanakan pembinaan teritorial untuk menyiapkan wilayah pertahanan di darat dan menjaga keamanan negara di wilayahnya masing-masing," kata Kasad.

Keterpaduan lintas sektoral yang solid dan komprehensif dengan pemerintah daerah, instansi dan pihak terkait, serta elemen masyarakat, harus selalu diperhatikan dan dikedepankan guna menyelesaikan beragam persoalan aktual yang berkembang di masyarakat.

"Serta dalam rangka menciptakan kondisi sosial yang aman dan kondusif," ujar Pramono.

Sementara itu, Kasad juga meminta kepada Staf Perencanaan dan Anggaran, serta Staf Logistik sebagai penyelenggara fungsi Staf Umum di tingkat Mabesad, agar perencanaan dan pengelolaan anggaran serta logistik harus senantiasa mempertimbangkan skala prioritas dan azas manfaat dalam kerangka manajemen modern, sehingga dapat memberikan hasil yang signifikan dan maksimal.

"Pedomani sasaran program yang ditetapkan dan pagu anggaran yang dialokasikan, dengan mengedepankan transparansi, proporsionalitas dan akuntabilitas untuk mencegah terjadinya penyimpangan dan penyalahgunaan sekecil apa pun," tegas Kasad.

Sumber: ANTARA News

Pelatihan Terjun Payung Kostrad Hanya 20 Menit

Sejumlah anggota pasukan Paskhas TNI-AU melompat dari dalam pesawat Hercules milik TNI-AU saat melakukan terjun payung di wilayah Pandan Kab Tapanuli Tengah, di Lanud Polonia Medan, Sumut, Senin (16/1). Sebanyak 36 penerjun dari Paskhas TNI AU menampilkan keahlian terjun payung "Free Fall" yang disaksikan oleh Pangkohanudnas Marsda TNI J.F.P Sitompul dalam rangka memeriahkan HUT Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) ke-50. (Foto: ANTARA/Septianda Perdana/Koz/pd/12)

27 Februari 2012, Medan: Pelatihan terjun payung oleh prajurit Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) terkendala lokasi yang juga dipakai untuk jalur penerbangan komersil pesawat udara di Lapangan Cadika Pramuka,Kecamatan Medan Johor. Akibatnya, latihan terjun payung itu hanya berlangsung sekitar 20 menit.

“Pelatihan hari ini (kemarin) sedikit terganggu karena daerah ini merupakan lintasan penerbangan umum.Jadi,kami hanya diberi waktu 20 menit, tidak sampai setengah jam,” kata Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letjen TNI Azmyn Yusri (AY) Nasution di sela-sela acara pelatihan terjun payung prajurit Kostrad di Lapangan Cadika Pramuka,Kecamatan Medan Johor,kemarin.

Menurut dia, karena singkatnya waktu, akhirnya pasukan yang dilibatkan hanya menurunkan 36 penerjun yang dibagi dalam dua tim. Tim pertama payung skuad turun sebanyak 18 orang penerjun. Tak berapa lama, tim kedua militer berjumlah sama turun sambil membawa enam bendera dipimpin oleh Serka Saifullah dari Brigif 17 Kostrad.

Seluruh tim berangkat dari Bandara Polonia Medan dengan menggunakan Hercules CH130 yang turun menuju titik terjun berupa garis silang di tengah lapangan. Meski singkat waktu,pihaknya tetap memilih lokasi Lapangan Cadika Pramuka. Sebab jika dilihat dari koordinatnya minim resiko dibandingkan dengan rencana pelatihan terjun payung jika dilakukan di Lapangan Teladan Medan.

“Dengan ketinggian mencapai 6.000 – 8.000 feet.Resikonya lebih sedikit dibandingkan dengan Lapangan Teladan yang resikonya sangat tinggi jadi di Lapangan Cadika sangat rendah,”ujarnya. Wali Kota Medan Rahudman Harahap yang melihat latihan terjun payung itu berterima kasih atas kehadiran Pangkostrad,Letjen TNI AY Nasution dan anak buahnya yang memilih Kota Medan sebagai wilayah latihan terjun payung di Sumut selama enam hari.

“Terima kasih kepada pasukan Kostrad yang sudah memilih Kota Medan sebagai tempat pelatihan terjun payung,” ucap Rahudman. Sementara dengan pengawalan personil TNI AD, ratusan masyarakat Kota Medan sangat antusias melihat pelatihan terjun payung tersebut secara dekat di Lapangan Cadika Pramuka.

Sementara seorang penerjun, Serka Pepen Suryana yang membawa Bendera Merah Putih mengakui tingkat kesulitan di kawasan Kota Medan sama seperti dengan daerah lainnya yang sudah dilaksanakan di Sumatera Utara. Pria yang sudah terjun sebanyak 960 kali ini mengatakan, perbedaan tim terjun payung skuad dengan militer hanya ada pada beban yang dibawa saat akan terjun.

“Lebih berat menjadi tim terjun militer karena membawa beban berat dibandingkan dengan payung skuad yang tidak membawa beban. Jadi kalau untuk tingkat kesulitannya sama saja,” jelas Pepen yang sudah ikut pelatihan terjun sejak berpangkat prajurit satu. Selain terjun payung, Kostrad juga menggelar atraksi pembebasan tawanan yang disekap di dalam rumah oleh 10 teroris bersenjata jenis R5.

Tim penanggulangan teror (gultor) yang berjumlah 20 orang bersenjata lengkap menaiki mobil jenis PJD danBTR langsung menyergap kawanan teroris. Suara tembakan yang dikeluarkan berkali-kali oleh Tim Gultor mampu membebaskan satu tawanan dan melumpuhkan 10 teroris.

Setelah itu, prajurit Kostrad berencana akan menggelar atraksi pembebasan tawanan dengan menaiki Helikopter Bell 142.Namun,dikarenakan crowded atraksi batal dilaksanakan.

Sumber: SINDO

Pramono Edhie Pantas Jadi Panglima

Letnan Jenderal Burhanudin Amin (kiri), KSAD Jenderal George Toisutta (tengah), dan Mayor Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo melakukan salam komando. (Foto: detikFoto/Didit Tri Kertapati)

6 November 2010, Jakarta -- Mayor Jenderal Pramono Edhie Wibowo dinilai oleh pimpinan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat pantas menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD. Penunjukannya sebagai Panglima Kostrad tidak ada kaitannya dengan berbagai hubungan lain.

”Enggak ada yang aneh bin ajaib,” kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal George Toisutta, Jumat (5/11) di Jakarta, seusai acara serah terima jabatan Panglima Kostrad dari Letnan Jenderal Burhanudin Amin kepada Pramono Edhie Wibowo. Pramono Edhie sebelumnya menjabat Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) III Siliwangi di Bandung.

Pramono Edhie pernah menjadi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD. Ia seperti menggantikan ayahnya, Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo. Pada 1964-1967, Sarwo Edhie memimpin Kopassus, yang kala itu bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

Tanpa ditanya wartawan, George pun menjelaskan lompatan Pramono Edhie yang adalah alumnus Akademi Militer tahun 1980 yang menggantikan Burhanudin, alumnus Akademi Militer tahun 1976. Lompatan empat angkatan itu bukan suatu keanehan.

”Edhie itu malahan termasuk tua, bukan muda. Seharusnya malah yang menjadi Panglima Kostrad itu angkatan 1981 atau 1982,” kata KSAD lagi.

Regenerasi itu keharusan

George menegaskan, TNI AD tidak memandang suku, agama, ras, dan golongan untuk penempatan perwiranya menduduki jabatan tertentu. Perhatiannya adalah profesionalitas.

Ia mengakui, regenerasi dalam tubuh TNI AD adalah sebuah keharusan. Saat ini tinggal satu orang lulusan Akademi Militer tahun 1978 yang menjadi panglima kodam, yaitu Panglima Kodam Jaya Mayjen Marciano Norman. Kodam lainnya diisi oleh lulusan di atas tahun 1980. ”Kodam Siliwangi angkatan 1981, Kodam IV Diponegoro (Semarang) angkatan 1980, dan Kodam V Brawijaya (Surabaya) adalah angkatan 1982,” kata George.

Saat ini Kostrad melakukan reorganisasi. Pasukan pemukul terbesar di TNI ini memiliki tiga divisi. Divisi tambahan itu adalah Lintas Udara. Ini adalah tambahan dari dua divisi infanteri yang ada sebelumnya.

George mengatakan, di setiap divisi itu juga disertakan raiders dan brigade mekanis. ”Ini untuk pembinaan sehingga Kostrad siap setiap saat. Harus ada sepertiga kekuatan Kostrad yang setiap hari siap,” ujarnya. Kostrad juga terlibat dalam penanganan bencana.

KOMPAS

Prajurit Berlatih Tempur, Siswa PAUD Outbond


08 April 2010, Madiun -- Suasana di sebuah ruangan tampak mencekam. Tima personel TNI-AD Yonif Linud 501 Bajra Yudha bersiap di depan pintu ruangan itu. Dalam hitungan detik, lima anggota pasukan itu mendobrak pintu dan masuk sambil menodongkan senjata laras panjang. Itu, adalah gambaran latihan pertempuran jarak dekat oleh pasukan Yonif Linud 501 Bajra Yudha, kemarin (7/4).

Latihan dilakukan di lapangan markas personel. Menggambarkan ruangan, di lapangan dipasang tali. Suasana latihan tempur batalyon pemukul itu memang berbeda. Sekitar dua pleton pasukan berseragam lengkap. Mereka menggunakan perlengkapan tempur seperti helm, gogle atau kaca mata hitam serta rompi antri peluru. Setiap anggota pasukan juga dilengkapi senjata laras panjang jenis SS-1. ''Kegiatan ini bagian dari latihan rutin. Para prajurit berlatih pertempuran dalam ruangan atau pertempuran kota,'' terang Kapten Inf Dwi Admodjo, perwira seksi operasi (Pasi Ops) Yonif Linud 501 Bajra Yudha.

Materi latihan pertempuran jarak dekat, kata Dwi, bukan hal baru. Sebab materi ini sudah diberikan sejak awal menjadi prajurit TNI-AD. Pihaknya hanya memberikan penyegaran ilmu bagi pasukan. ''Ini ilmu lama, dan latihan diberikan lagi untuk mempertajam skill prajurit,'' katanya.

Dwi menuturkan, ada sejumlah teknik dan taktik yang wajib dipelajari para prajurit saat latihan pertempuran jarak dekat. Yakni taktik dasar berupa berjalan taktis, begerak ke sasaran sambil menunduk dan dalam posisi menembak. Selain itu juga terdapat teknik kemampuan menembak cepat, serbuan ruangan hingga pedadakan untuk mengagetkan musuh. ''Prajurit harus mampu menyerang musuh dalam hitungan detik. Sehingga serangan itu tidak disadari musuh,'' jelasnya.

Latihan pertempuran ini juga menuntut prajurit mampu mengatur sektor tembakan. Yakni, tembakan harus tepat sasaran. Selain itu, setiap anggota tim harus saling menjaga dan berhati-hati dalam setiap kemungkinan serangan balik. ''Latihan hari ini (kemarin, Red) diikuti sekitar 70 prajurit dari kompi Delta 501,'' terangnya.

Sementara itu, di saat bersamaan, ratusan siswa PAUD se-Kota Madiun mengelar outbond bareng di lapangan Yonif Linud 501 Bajra Yudha. Para siswa tampak antusias bermain flying fox, jembatan goyang, ayunan tarzan, perahu karet dan lorong gelap. ''Total ada tujuh permainan yang bisa dicoba 310 siswa. Ketujuh permainan ini diharapkan bisa menumbuhkan tiga B pada siswa. Yakni berani, bisa dan berhasil,'' terang Panji Andan Sari, ketua panitia outbond.

Radar Madiun

Keberadaan Divisi 3 Kostrad Terbentur Dana

Mantan KSAD Ryamizard Ryacudu (tengah) berbincang dengan KSAD Jenderal TNI George Toisuta (kanan) dan Pangkostrad Letjen TNI Burhanudin Amin (kiri) pada serah terima jabatan Pangkostrad di Cilodong, Bogor, Jabar, Rabu ( 17/2). Burhanudin menjadi Pangkostrad menggantikan Toisuta yang saat ini menjabat KSAD. (Foto: ANTARA/Saptono/Koz/Spt/10)

18 Februari 2010, Jakarta -- Pimpinan Kostrad mempertimbangkan untuk mendirikan Divisi 3 Infanteri Kostrad menjawab tantangan kewilayahan yang harus dijaga. Usulan belum bisa terwujud karena masalah dana.

Hal tersebut disampaikan oleh KSAD Jenderal George Toisutta di Cilodong, Jawa Barat, Rabu (17/2). "Uangnya tidak ada," jawab dia.

Keberadaan divisi tersebut, ujar dia, masih dikaji. Jika kebutuhan meningkat, TNI akan berusaha menambah, sementara jika kelebihan, akan dikurangi. Semua kebijakan tersebut akan disampaikan kepada DPR, setelah dilaporkan terlebih dahulu kepada Menhan dan Panglima TNI.

"Ada satu ungkapan dari Panglima Kodam Pattimura saat sertijab Pangdam Pattimura, di Maluku dan Maluku Utara, jika pulau dibandingkan prajurit, satu pulau diamankan enam prajurit, jadi kira-kira begitulah," ungkapnya memberi gambaran kebutuhan penambahan divisi.

Ia menekankan kinerja TNI AD dengan angkatan lainnya bersandar pada hal berbeda. Jika TNI AL dan TNI AU membutuhkan alutsista yang canggih agar dapat bekerja optimal, TNI AD membutuhkan formasi prajurit yang mampu mengkover wilayah di darat.

"AD beda dengan AL dan AU. Kalau AL dan AU kan alutsista, sedangkan kami SDM dengan penyebaran yang harus merata. Kembali lagi karena fasilitas terbatas," pungkasnya.

MEDIA INDONESIA

TNI AD Kaji Divisi Infanteri 3 Kostrad


18 Februari 2010, Jakarta -- Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat atau Kostrad masih mengkaji kebutuhan akan adanya Divisi Infanteri 3 Kostrad di kawasan timur Indonesia, dari dua divisi yang telah dimiliki. Walaupun belum ada alokasi anggaran untuk 2010, hal ini dianggap perlu, mengingat kondisi lapangan yang luas.

Hal itu disampaikan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal George Toisutta seusai serah terima jabatan Panglima Kostrad dari Jenderal George Toisutta kepada Letjen Burhanudin Amin, Rabu (17/2) di Lapangan Markas Divisi Infanteri 1 Kostrad di Cilodong, Jawa Barat. Divisi Infanteri 2 Kostrad berlokasi di Singosari, Malang, Jawa Timur.

Menurut George, bagi TNI Angkatan Darat, yang terpenting adalah penyebaran personel yang merata. Ia menceritakan ucapan mantan Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) Pattimura Mayjen M Noer Muis yang mengatakan, jumlah pulau dan tentara di Maluku dan Maluku Utara masih jauh dari ideal.

”Satu pulau hanya bisa dijaga enam prajurit,” kata George.

Berdasarkan keadaan itu, keberadaan Divisi 3 Kostrad masih dikaji. Ia menekankan, tidak ada penambahan atau perubahan kekuatan di TNI AD yang tidak lewat kajian. Kebijakan itu akan dikoordinasikan TNI dengan Kementerian Pertahanan dan Dewan Perwakilan Rakyat. Saat ditanya apakah hal itu akan direalisasikan pada 2010, George menyatakan, belum ada alokasi anggaran.

Pengamat militer dari FISIP Universitas Indonesia, Andi Widjajanto, mengatakan, rencana pembentukan satu divisi Kostrad di bagian timur Indonesia konsisten dengan strategi pertahanan berlapis. Ancaman dilihat datang dari utara di poros barat, yaitu Natuna dan Malaka, tengah yaitu Laut Sulawesi, dan utara yaitu Laut Arafura.

”Pasukan memang harus dibagi,” kata Andi. Menurut dia, selama ini Divisi Infanteri 2 Kostrad di Malang yang mengatasi masalah di timur Indonesia. Andi mengatakan, rencana penambahan divisi ini merupakan karakter pertahanan yang berbeda dengan rencana penambahan kodam di Papua.

”Kostrad itu adalah satuan pemukul tempur, sementara kodam untuk pembinaan teritorial dan logistik,” kata Andi.

KOMPAS

Letjen Burhanuddin Resmi Pangkostrad

KSAD Jenderal TNI George Toisuta (kiri) menyerahkan pataka Kostrad kepada Pangkostrad Letjen TNI Burhanudin Amin (kiri) pada serah terima jabatan Pangkostrad di Cilodong, Bogor, Jabar, Rabu ( 17/2). Burhanudin menjadi Pangkostrad menggantikan Toisuta yang saat ini menjabat KSAD. (Foto: ANTARA/Saptono/Koz/Spt/10)

17 Februari 2010, Jakarta -- Jabatan Panglima Kostrad yang selama ini disandang rangkap oleh Jenderal George Toisutta akhirnya diserahterimakan. Letjen Burhanuddin Amin menyandang jabatan pimpinan tersebut selanjutnya.

Upacara serah terima dilaksanakan di Lapangan Madivif I Kostrad, Cilodong, Kabupaten Bogor, Rabu (17/2). Penekanan pada pembinaan satuan Kostrad menjadi perintah dari KSAD Jenderal George Toisutta yang saat itu menjadi inspektur upacara.

"Saya perintahkan kepada Pangkostrad pembinaan satuan dan latihan dilakukan secara teratur, sistematis dan terarah, juga memberikan perhatian penuh pada pembinaan kadar keimanan dan ketakwaan," kata KSAD.

Hal itu, sambung dia, menjadi dasar pelaksanaan tugas yang mengedepankan kualitas moral dan etika. KSAD memperkirakan tugas untuk Kostrad ke depan akan semakin komplek sehingga juga tuntutan mobilitas yang tinggi dan pergerakan yang cepat kesemua wilayah juga meningkat.

"Saya perkirakan tugas Kostrad akan semakin kompleks sehingga dituntut untuk memiliki mobilitas tinggi dan mampu bergerak cepat tanggap atas ancaman yang muncul diseluruh wilayah yang dapat mengancam integritas dan eksistensi NKRI," sambung dia.

Prajurit Kostrad, ujar dia, dituntut peningkatan kadar kedisiplinan agar mampu melaksanakan tugas dengan kepatuhan secara sukarela. Rantai komando harus ditegakkan sehingga mendukung soliditas pasukan. Terakhir, KSAD memerintahkan agar prajurit menjalin komunikasi yang intens dengan masyarakat sebagai bagian dari tupoksi prajurit.

"Pangkostrad saya perintahkan untuk menjabarkan perintah tersebut dalam pelaksanaan operasional," tegas KSAD.

MEDIA INDONESIA

Pangdivif 1 Kostrad Adakan kunjungan Kerja Ke Satgas Pamtas RI - PNG Yonif 321


27 Agustus 2009, Papua -- Kepentingan strategis pertahanan negara pada dasarnya untuk mewujudkan pertahanan negara yang mampu untuk menjaga kedaulatan dan melindungi keutuhan wilayah NKRI serta keselamatan bangsa Indonesia dari setiap ancaman, baik dari dalam maupun dari luar negeri sebagaimana diamanatkan dalam UU TNI Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI. Di dalam Pasal 7 UU TNI Nomor 34 Tahun 2004, diatur Tugas Pokok TNI diantaranya mengamankan wilayah perbatasan maupun mengatasi gerakan separatis bersenjata.

Wilayah Perbatasan RI-PNG yang membelah Pulau Papua merupakan wilayah yang harus dijaga dari kemungkinan ancaman yang mungkin timbul, baik yang berasal dari negara luar maupun ancaman yang datang dari dalam. Terhitung mulai Bulan Nopember 2008 Satgas Yonif 321/13/1 Kostrad melaksanakan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-PNG khususnya di sepanjang Sektor A Kolakops Rem 174/ATW dan dalam waktu dekat Tugas Pamtas di wilayah sektor ini akan diserah terimakan kepada Satgas Yonif Linud 433/3/1 kostrad.

Sebagai Panglima Divisi yang merupakan Satuan Induk Pembinaan Kekuatan
Yonif 321/13/1 maupun Yonif Linud 433/3/1 Kostrad, Pangdivif 1 Kostrad didampingi Danbrigif 13/1 Kostrad, Asintel Kasdivif 1 Kostrad dan Asops Kasdam XVII/Cen, sejak tanggal 10 sampai dengan 13 Agustus 2009 melaksanakan peninjauan langsung ke daerah penugasan operasi Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 321/13/1 Kostrad dalam rangka mengevaluasi pelaksanaan tugas Yonif 321 dan penyiapan tugas Yonif Linud 433/3/1 Kostrad.

Adapun tugas yang diemban Satgas Pamtas Yonif 321/13/1 Kostrad yaitu melaksanakan operasi pengamanan wilayah darat perbatasan RI – PNG; mengamankan dan menciptakan stabilitas keamanan di sepanjang Wilayah Perbatasan RI – PNG mulai Wilayah Koramil 1711-01/ Waropko sampai dengan Wilayah Koramil 1707-05/Muting; mencegah keluar masuk GSP/B di sepanjang perbatasan RI – PNG; mencegah pemindahan Patok Batas dengan melakukan Patroli dari pos menuju Patok Batas yang menjadi tanggung jawabnya; mencegah pelanggar pelintas batas wilayah kedua Negara melalui kegiatan patroli, pengendapan dan penempatan Pos pada titik kritis serta daerah rawan; mencegah terjadinya penyelundupan dan pencurian kekayaan alam di wilayah perbatasan; memberdayakan masyarakat sekitar perbatasan untuk menumbuhkan semangat bela Negara dan mematuhi hukum yang berlaku; mengamankan masyarakat dan lingkungannya dari pengaruh GSP; mengaktifkan Bintertas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai skala prioritas; melaksanakan pergeseran Pos Perbatasan yang belum mencapai + 5 Km dari garis pebatasan RI – PNG sesuai kemampuan, mulai 1 Januari sampai dengan Desember 2009 selama 365 hari di sepanjang perbatasan RI – PNG dalam wilayah sektor Kabupaten Boven Digoel dalam rangka mendukung Ops Kolak Ops Rem 174/ATW.

Satgas menggelar 23 Pos Perbatasan dam selama penugasan dari bulan Nopember 2008 sampai dengan Juli 2009 sudah menemukan 8 patok perbatasan dari 11 patok perbatasan yang menjadi tanggung jawab Satgas Yonif 321/13/1 Kostrad. Hasil selama pelaksanaan operasi sampai dengan saat ini diperoleh 8 pucuk Senjata Rakitan jenis Engkel Loop dan 8 Butir Munisi Pacar Wutah (hasil penggalangan Pos Jajaran).

Pada kesempatan kunjungan, Pangdivif 1/Kostrad Mayjen TNI Hatta Syafrudin menyampaikan beberapa arahan agar unsur Pimpinan senantiasa memperhatikan tentang aspek pemeliharaan moril dan disiplin Anggota dalam penugasan serta aspek militasi keprajuritan. Selain itu, agar seluruh jajaran Satgas memanfaatkan keberadaan aparat maupun instansi terkait di daerah operasi dalam rangka pencapaian Tupok melalui koordinasi dan kerja sama yang baik; mengoptimalkan Sistem komunikasi yang ada untuk selalu berhubungan antar Kotis dan Pos maupun antar Pos dengan Pos ataupun dengan instansi terkait di daerah operasi serta menggunakan persandian dan tatacara komunikasi Militer; tetap waspada dan tetap mengutamakan faktor keamanan serta pengamanan, jangan terlena oleh situasi dan kondisi yang mungkin biasa-biasa/aman-aman saja; agar seluruh anggota memiliki kebanggaan untuk melaksanakan tugas dengan baik di daerah operasi.

PENKOSTRAD

Sertijab Dandenintel Kostrad


14 Agustus 2009, Jakarta -- "Detasemen Intelijen Kostrad sebagai satuan penyelenggara fungsi intelijen yang meliputi penyelidikan, pengamanan dan penggalangan, memiliki peran strategis dalam penugasan. Sebagai mata rantai terdepan untuk memberikan laporan kepada pasukan yang melaksanakan operasi tempur, prajurit Detasemen Intelijen Kostrad dituntut memiliki kemampuan dalam menyajikan data intelijen yang cepat, tepat dan akurat”.

Demikian penegasan Pangkostrad Letjen TNI George Toisutta pada Acara Laporan Korps Serah Terima Jabatan Komandan Detasemen Intelijen Kostrad, dari Letnan Kolonel Inf Achmad Daniel Chardin kepada Letnan Kolonel Inf Benny Bintoro, Rabu (12/8) di Ruang Mandala Makostrad Jakarta.

Lebih lanjut Pangkostrad menegaskan bahwa pembinaan prajurit diarahkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap potensi ancaman, baik di bidang keamanan nasional yang menyangkut pertahanan dan keamanan, maupun bidang-bidang lainnya seperti politik, ekonomi dan sosial budaya serta hukum bahkan bidang ideologi yang dapat menjadi ancaman terhadap kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. Selain itu aparat intelijen harus menguasai dan melaksanakan taktik dan teknik intelijen secara tepat dan aman sehingga mampu melakukan tindakan cegah dan deteksi dini serta mampu memperlancar arus intelijen dengan mekanisme yang cepat, tepat dan benar.

Kepada pejabat baru, Pangkostrad memerintahkan untuk menumbuh-kembangkan naluri intelijen prajurit, memantapkan pemahaman terhadap potensi ancaman, mengembangkan metoda, teknik dan taktik intelijen yang efektif dan efisien serta meningkatkan kesadaran wajib lapor berdasarkan mekanisme dan prosedur yang benar. Peningkatan kualitas penanganan permasalahan yang berkaitan dengan intelijen dan pengamanan, harus mampu berpacu dengan perkembangan lingkungan yang bergerak dengan sangat cepat dan dinamis dengan memanfatkan teknologi komunikasi dan informasi yang serba cepat dan transparan.

Hadir pada acara serah terima jabatan Kepala Staf Kostrad, Pangdivif 1/ Kostrad, Ketua dan Pengurus Persit Kartika Chandra Kirana Gabungan Kostrad, Ir, Para Asisten, Kabalak dan Komandan Satuan Kostrad.

PENKOSTRAD

Brigif Linud 18 Latihan Operasi Lintas Udara

Dua penerjun dari Brigade Infantri Lintas Udara 18 Divisi Infantri 2 Kostrad saat melakukan latihan terjun payung free fall di lapangan Petriokimia Gresik, Jawa Timur, Kamis (20/08). Latihan penerjunan yang melibatkan 41 penerjun tersebut dilakukan sebagai bentuk antisipasi pengamanan wilayah RI dan Kota Gresik. (Foto: ANTARA/Syaiful Arif/ss/nz/09)

20 Agustus 2009, Gresik -- Brigade Infanteri (Brigif) Lintas Udara (Linud) 18 Divisi Infanteri 2 Kostrad menggelar pelatihan operasi lintas udara.

Latihan itu melibatkan 41 penerjun payung yang melakukan terjun bebas dari ketinggan 8.000 feet dari atas permukaan laut.

Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 18, Eka Wiharsa, Kamis, mengatakan, tujuan operasi lintas udara ini sebagai bentuk antisipasi pengamanan baik darat maupun udara, terutama di wilayah perbatasan.

"Ini juga sebagai bentuk persiapan pasukan gerak cepat para penerjun kelompok depan operasi linud (KDOL) untuk proyeksi ketahanan dan kemanan NKRI 2010 nanti, bekerja sama dengan TNI AU," katanya.

Para penerjun diberangkatkan dari Bandara Lanud Abdul Rahman Saleh, Malang dan diterjunkan di lapangan sepak bola dalam perumahan PT Petrokimia Gresik.

Ia menyebutkan dalam sekali penerbangan pesawat terbang mengangkut 20 penerjun, sehingga pada setiap hari latihan penerjunan akan dilakukan dua kali penerjunan.

Seorang penerjun dari Brigade Infantri Lintas Udara 18 Divisi Infantri 2 Kostrad dengan membawa bendera merah putih, sedang meliuk diudara. (Foto: ANTARA/Syaiful Arif/ss/nz/09)

Dalam penerjunan di hari pertama sedikitnya ada 26 penerjun yang diterjunkan dengan dibagi dua kelompok, kelompok pertama 13 penerjun dan kelompok kedua 13 penerjun.

Pada penerjunan kelompok pertama sempat mengalami kendala dimana dari 13 penerjun, hanya enam orang yang mendarat tepat sasaran, sedangkan tujuh penerjun lainnya mendarat di luar sasaran.

Pada penerjunan kelompok kedua, hampir semuanya bisa mendarat tepat sasaran.

Menurut Eka Wiharsa, kendala yang dialami penerjun yang mendarat tidak tepat sasaran karena pengaruh tingkat kecepatan angin.

"Kecepatan angin selalu berubah-ubah dan untuk kategori aman pelaksanaan latihan terjun payung antara tujuh sampai 10 knot, sedangkan di atas 10 hingga 15 knot berbahaya bagi penerjun," katanya.

Pelatihan penerjunan penyegaran ini sudah keempat kalinya digelar, diawali Yonif Linud 502 di Jabung, Malang dengan 576 peserta.

Kemudian, Yonif Linud 501 di Madiun dengan 556 penerjun, dan Yonif Linud 503 di Mojosari, Mojokerto, dengan 525 penerjun.

Terakhir, Brigif Linud 18 Divisi Infanteri 2 Kostrad dengan 41 penerjun.

Yonif Linud 502/UY Gelar Latihan Jungar


Latihan merupakan suatu kebutuhan yang mendasar bagi setiap prajurit, agar kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya selalu terpelihara dan dapat ditingkatkan, sehingga harapan untuk memiliki prajurit yang profesional dapat terwujud.

Kaitannya dengan hal tersebut, seperti apa yang telah dilaksanakan oleh Yonif Linud 502/UY dalam memelihara dan meningkatkan kemampuan prajuritnya, sebanyak 552 prajurit Yonif Linud 502 tengah melaksanakan Latihan Rutin Terjun Penyegaran yang langsung dipimpin oleh Danyonif Linud 502/UY Letkol Inf. I.A.B Sinaga Kegiatan Jungar ini rencananya akan dilaksanakan selama dua hari, mulai tanggal 10 s/d 11 Agustus 2009 yang terbagi dalam 12 Sorti bertempat di Pandanwangi Lumajang.

Dengan harapan latihan ini tentunya dapat meningkatkan kesiapsiagaan satuan Lintas Udara demi mengantisipasi setiap ancaman yang mungkin timbul. Bilamana sewaktu-waktu negara membutuhkan pengerahan pasukan ini, maka satuan Lintas Udara, khususnya Yonif Linud 502/UY siap untuk diterjunkan. Pada kesempatan pelaksanaan latihan tersebut, Panglima Divif 2 Kostrad beserta rombongan menyempatkan diri untuk meninjau pelaksanaan Jungar tersebut.

ANTARA JATIM/KOSTRAD

Kostrad Rekrut 14 Ribu Personel

23 Februari 2009, Samarinda -- Komando Strategis dan Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) akan merekrut 14.000 personel untuk ditempatkan di Divisi III/Kostrad, di Sorong, Papua. Pembangunan Divisi III akan terealisasi tahun 2025.

“Untuk satu divisi terdapat 14.000 personel dan minimal tiga brigade. Oleh karena itu, kami akan merekrut sebagian personel yang baru untuk di tempatkan di Divisi III,” kata Panglima Kostrad Letjen George Toisutta di Samarinda, Minggu (22/2) kemarin.

Pembangunan Kostrad Divisi III tersebut berfungsi sebagai pengamanan di daerah wilayah timur. Ada dua brigade yang akan mengisi Divisi III, tetapi sementara dikendalikan langsung Markas Kostrad, yakni Makassar dan Gorontalo. "Jika, Divisi III sudah direalisasikan Makassar dan Gorontalo akan di bawah komando Divisi III itu,” katanya. (jurnalnasional)