Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan

Karena Krisis Ekonomi Militer Eropa Dibonsai

EROPA-(IDB) : Meski negara-negara Barat telah meminta Dewan Keamanan PBB membahas sanksi lebih berat bagi Suriah, intervensi militer langsung seperti terjadi di Libya dipastikan tak akan terjadi. Menteri Luar Negeri Inggris William Hague dan Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Anders Fogh Rasmussen, Senin (1/8), menegaskan tak akan ada dukungan militer bagi kelompok-kelompok antirezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah.

Kedua pejabat tersebut mengatakan, ketiadaan dukungan dan konsensus dunia internasional menjadi penghalang utama aksi militer semacam di Libya. Namun, di luar itu, negara- negara yang sudah berperang di Libya itu pun memang tak ingin berperang lagi.

”Bahkan, kalaupun kami berniat, kemungkinan (memperoleh mandat PBB untuk aksi militer) hampir tidak ada. Sementara, kami memang tak berniat (melancarkan aksi militer),” tandas Hague, seperti dikutip Agence France Presse.

Alasan sebenarnya sudah jelas, Eropa tak lagi punya uang untuk membiayai operasi militer besar-besaran. Krisis ekonomi yang melanda Eropa dan AS membuat para polisi dunia itu tak lagi sempat berpikir untuk mengobarkan perang baru di belahan dunia lain.

Menurut Renaud Bellais, manajer senior studi ekonomi di konsorsium industri pertahanan Eropa, EADS, tanpa dukungan AS, negara-negara Eropa sebenarnya sudah tak mampu menjalankan operasi di Libya saat ini.

”Jumlah rudal AS yang ditembakkan dalam satu minggu (pada operasi di Libya) sama dengan jumlah rudal yang ditembakkan Perancis dalam satu tahun. Eropa memiliki cadangan militer yang sangat lemah,” ujar Bellais, seperti dikutip majalah Jane’s Defence Weekly (JDW) edisi 29 Juni lalu.

Sektor pertahanan menjadi sektor belanja pemerintah yang pertama kali disunat dalam berbagai langkah penghematan di seluruh Eropa.

Masih menurut JDW, sebuah studi yang dilakukan Parlemen Eropa baru-baru ini menyebutkan, berbagai langkah penghematan sektor pertahanan di Eropa saat ini terlalu fokus pada tujuan jangka pendek tanpa pandangan jangka panjang dan koordinasi peningkatan kemampuan pertahanan bersama di Eropa.

Christian Mölling, peneliti dari Institut Keamanan dan Hubungan Internasional Jerman yang mendapat tugas dari Parlemen Eropa untuk menyusun studi ini, mengatakan, negara-negara anggota Uni Eropa saat ini tak mau mengakui bahwa kemampuan militer mereka saat ini sedang berubah menjadi angkatan bersenjata ”bonsai”, kecil, dan hanya sedap dipandang dari luar saja.

Sumber: Kompas

Peringatan Uni Eropa Kepada Israel

EROPA-(IDB) : Uni Eropa dalam sebuah peringatannya mengingatkan Rezim Zionis Israel akan mendapat berbagai reaksi tak sedap.
 
Menurut laporan IRNA, Catherine Ashton, ketua kebijakan luar negeri Uni Eropa mengatakan, sikap Israel soal Dataran Tinggi Golan membuat rezim ini mendapat reaksi keras dari berbagai pihak.

Ashton mengisyaratkan brutalitas Israel terhadap demonstran Suriah dan Palestina di peringatan perang enam hari tahun 1967 di Golan. Ia menekankan Israel akan mendapat banyak reaksi pedas akibat ulahnya tersebut. Ia menekankan, reaksi ini dapat melemahkan stabilitas dan proses gencatan senjata di Golan.

Menutur sumber ini, serdadu Israel hari Ahad lalu menembaki para demosntran Palestina dan Suriah di Golan. Aksi brutal ini menewaskan dan menciderai sejumlah demonstran.

Menurut laporan media massa Suriah, aksi brutal serdadu Israel terhadap demonstran di Golan menewaskan 23 orang dan menciderai 350 lainnya.

Sumber: Irib

Si Camar Robot Terbang Pintar

Robot terbang pintar pabrikan Festo
EROPA-(IDB) : Biasanya orang menggunakan teropong untuk memantau sebuah obyek. Tapi, jika target tersembunyi di balik penghalang, teropong secanggih apa pun jelas tak berguna. 

Sekarang ada SmartBird. Camar pintar ini mampu menjadi "mata" pengganti untuk meneropong obyek di tempat-tempat tak terjangkau. Mereka yang bergerak di bidang militer, polisi, dan dinas rahasia pasti melirik kepiawaian temuan gres ini. 

Festo-sebuah perusahaan pengembang robotika di Eropa-telah merampungkan desain awal robot burung ini dua pekan lalu. Dengan berat hanya setengah kilogram-berkat campuran logam yang begitu ringan-dan lebar sayap 195 sentimeter, inilah robot pertama yang terbang tanpa daya dorong gas. 

Meniru sistem kerja burung camar, Festo mengembangkan sistem hidrolik untuk menjalankan dua rangkaian motor listrik yang ditanam di dalam tubuh robot. Tenaganya berasal dari baterai. Rangkaian motor inilah yang menggerakkan sayap naik-turun. Selain itu, ada mekanisme tuas yang memberi derajat penyimpangan arah yang meningkat dari badan ke ujung sayap, dus memberi tekanan terhadap udara di bawah tubuh robot dan membuatnya terbang. 

Kontrol gerakan robot ini berada pada kepala dan ekor. Gerakan sinkron dua bagian ini menentukan kemiringan, belokan, dan putarannya. Selain itu, bentuknya yang aerodinamis membuat SmartBird dapat bermanuver layaknya camar. Sedangkan kecepatan terbang ditentukan oleh kerapatan kepak sayap. Begitu pula saat akan berhenti, sebuah mesin transmisi elektronik akan memancarkan sinyal radio yang terhubung dengan alat kontrol si empunya burung. 

Bentuk, ukuran, dan warna yang begitu mirip camar memudahkan robot ini menyelusup dalam penyamaran. Kamera pada mata burung akan merekam semua obyek yang tertangkap dan menyimpannya dalam sebuah cip. Praktis dan efektif untuk misi pemantauan rahasia. 


Sumber: Tempo

AU Inggris Grounded Juga Typhoon

Jet tempur Eurofighter Typhoon AU Inggris. (Foto: RAF)

20 September 2010 -- Angkatan Udara Inggris mengikuti langkah AU Jerman mengrounded jet tempur Eurofighter Typhoon, diberitakan harian Inggris the Telegraph, Sabtu (18/9).

Kementrian Pertahanan Inggris memutuskan grounded jet tempur Typhoon, mempertimbangkan keselamatan penerbang. Insiden jatuhnya jet tempur Typhoon Pangkalan Udara Moron, Spanyol, Selasa (25/8), menewaskan letnan kolonel pilot AU Arab Saudi, karena gagal bekerjanya kursi pelontar. Sedangkan instruktur pilot AU Spanyol selamat melakukan eject.

“Keamanan personil kami hal yang terpenting,” ujar juru bicara Kemenhan.

Satuan reaksi cepat Typhoon di Inggris dan Kepulauan Falkland tidak terpengaruh digantikan pesawat yang sudah dimodifikasi. AU Inggris memiliki 60 jet tempur Typhoon.

The Telegraph/Berita HanKam

AU Jerman Grounded Typhoon, Kursi Pelontar Bermasalah

Eurofighter Typhoon AU Jerman. (Foto: Getty Images)

17 September 2010 -- AU Jerman mengrounded jet tempur Eurofighter Typhoon karena masalah teknis pada kursi pelontar, diumumkan juru bicara Kementrian Pertahanan, Kamis (16/9).

Harian Jerman Financial Times Deutschland memberitakan kebijakan ini diambil setelah insiden jatuhnya Eurofighter versi kursi tandem akhir Agustus di Spanyol. Para ahli menduga seekor burung menabrak sensor penting, hingga rusak.

Saat pilot AU Spanyol berhasil melakukan eject, parasut tidak bekerja di kursi ko-pilot, hingga menewaskan pilot AU Arab Saudi.

AU Jerman mengrounded 55 Eurofighter Typhoon hingga pemberitahuan selanjutnya. Jet tempur tua F-4 Phantom akan digunakan kembali untuk menjaga wilayah udara Jerman bagian Utara.

Defense News/Berita HanKam

HMS Ocean on Amphibious Exercise with Brazilian Marines


The Royal Navy’s amphibious helicopter carrier HMS Ocean will arrive in Rio De Janeiro on Thursday (9 September) to take part in an amphibious exercise with the Brazilian Navy and Marines and to conduct high profile diplomatic engagements.

Brazilian Marines from the 3rd Infantry Battalion, Amphibious Division, will join HMS Ocean and the Royal Marines of 539 Assault Squadron for a three-day training exercise. They will be practising amphibious drills and sharing experiences from recent operations. Meanwhile, sailors from the Brazilian warship BNS Rio De Janeiro will also embark on board HMS Ocean to build continue to build understanding and co-operation between the two navies.

HMS Ocean will then return to Rio De Janeiro to host a UK Trade and Industry exhibition, a reception for local dignitaries and a bi-lateral security seminar culminating in the signing of a UK/Brazil Defence Cooperation Agreement and a formal dinner for 150 guests onboard. The seminar will be attended by Gerald Howarth, the British Minister for International Security Strategy, who will sign the agreement on behalf of the British Government and host the dinner. During the week in Rio sailors and Royal Marines from the ship will help community projects.

Captain Keith Blount Royal Navy, HMS Ocean's Commanding Officer, said:

"This visit to Rio is very important for the Royal Navy and we are extremely proud to be working alongside the Brazilian Navy and marines, enhancing our ability to operate together anywhere in the world while also demonstrating the UK’s commitment to the region.

“Our ability to engage and work with other navies and maritime agencies worldwide is an essential part of what navies do and is vital in conflict prevention and building trust. We are looking forward to supporting Britain’s trade and industry and feel privileged to be hosting such an important security seminar and dinner. And of course, our sailors are absolutely thrilled to have the opportunity to visit such a wonderful city."

HMS Ocean’s versatility has been fully exploited since leaving the UK three months ago. The ship has just completed a maritime and security patrol in the Caribbean after a major exercise with the US Navy off North Carolina.

Royal Navy

Spanyol Gelar Ekshibisi Udara di Malaga

Jet tempur F-18 AU Spanyol terbang vertical di pantai La Malagueta di ajang Malaga International Air Festival di Malaga, Sabtu (5/9). (Foto: Reuters)

F-18 AU Spanyol. (Foto: Getty Images)

Jet tempur F-16 AU Belanda tampil di ajang ekshibisi udara di Malaga. (Foto: Getty Images)

Berita HanKam

Royal Navy To Use Merlin’s Magic To Fight Pirates


02 September 2010 -- A Royal Navy Helicopter Squadron is deploying to the Horn of Africa and the Gulf of Aden to carry out specialist anti-piracy operations over the coming months. Personnel from 820 Naval Air Squadron including Aircrew and Engineers and their Merlin helicopter, will be embarked on a Royal Fleet Auxiliary ship (RFA Fort Victoria) and will be equipped to counter the threat of piracy and maritime terrorism.

Piracy in the Gulf region and the Indian Ocean has grown more prevalent in recent years and the Royal Navy is committed to protecting the UK national interests and those of the Commonwealth and its allies overseas. The international anti-piracy efforts are co-ordinated by the Combined Maritime Force (CMF) based in Bahrain.

Using state-of-the-art sensors and communications equipment, the Merlin helicopter will provide surveillance of shipping routes and will detect and deter pirate activity as well as providing the capability to board and search vessels. The aircraft, in conjunction with Royal Naval ships in the region, will also have the ability to use force to neutralise any threat to commercial and leisure vessels in the area.


The primary role of the Merlin helicopter, the Royal Navy’s most modern aircraft, is Anti Submarine warfare, however due to its size, speed and proven technological capability, this versatile aircraft is also used in Maritime Security operations. The helicopter is large enough to carry Royal Marines for sniper operations and boarding via fast roping, both which are vital to counter the threat of pirates, and it is fitted with heavy duty machine guns and thermal imaging equipment.

“Deploying one of the most capable and versatile helicopters in the world to this region will enhance the Royal Navy’s ability to counter the constant threat that piracy poses to vessels of all nations,” said Lieutenant Commander Neil Brian, Deputy Force Commander of the Merlin Helicopter Force. “All Royal Navy Merlin helicopter crews are trained in Maritime Security Operations and having the opportunity to contribute to the ongoing work of the Combined Maritime Force demonstrates the Royal Navy’s ability to protect our interests overseas”.

One of Europe’s largest helicopter bases, RNAS Culdrose delivers highly capable Helicopter Squadrons specialising in Anti-Submarine Warfare, Anti-Surface Warfare and Airborne Surveillance and Control. Its frontline Squadrons are deployed to ships all over the world to support the Royal Navy in its global operations. These include tasking in Afghanistan, around the Horn of Africa and the Gulf regions, and the Indian Ocean. Deployments to the Far East, the Eastern Seaboard of the USA, the north and south Atlantic are also regular destinations for the frontline Squadrons.

Back at the Air Station, trainee Aircrew, Engineers, Air Traffic Controllers, Fire-fighters and Flight Deck crews undergo intensive training prior to joining Naval Air Squadrons for duties at sea. Additionally, the ‘Search and Rescue’ Squadron is on constant standby 365-days a year to react to emergencies throughout the Southwest region. Its red and grey helicopters can be seen braving all types of weather responding to calls for help on land and sea.

Royal Navy

Royal Navy's Most Powerful Submarine Gets Royal Approval


27 August 2010 -- The UK’s most powerful attack submarine, HMS Astute, has been welcomed into the Royal Navy today.

In a Commissioning ceremony overseen by the boat's patron, the Duchess of Cornwall, Astute officially became 'Her Majesty's Ship'.

HMS Astute is quieter than any of her predecessors, meaning she has the ability to operate covertly and remain undetected in almost all circumstances despite being fifty per cent bigger than any attack submarine in the Royal Navy’s current fleet.

The latest nuclear powered technology means she will never need to be refuelled and can circumnavigate the world submerged, creating the crew's oxygen from seawater as she sails.

The submarine has the capacity to carry a mix of up to 38 Spearfish heavyweight torpedoes and Tomahawk Land Attack Cruise missiles – and can target enemy submarines, surface ships and land targets with pinpoint accuracy, while her world-beating sonar system has a range of 3,000 nautical miles.

The First Sea Lord, Admiral Sir Mark Stanhope, said:

“The Astute Class is truly next generation –- a highly versatile platform, she is capable of contributing across a broad spectrum of maritime operations around the globe, and will play an important role in delivering the fighting power of the Royal Navy for decades to come. A highly complex feat of naval engineering, she is at the very cutting edge of technology, with a suite of sensors and weapons required to pack a powerful punch.

“Today is an important milestone along the road to full operational capability which will follow after a further series of demanding seagoing trials testing the full range of the submarine’s capabilities.”


HMS Astute has today also reached an important milestone on the road to operational handover. Following the successful completion of the first rigorous set of sea trials, which began at the end of 2009, she has achieved her In Service Date, signalling that she has proven her ability to dive, surface and operate across the full range of depth and speed independently of other assets, thereby providing an initial level of capability.

Rear Admiral Simon Lister, Director of Submarines, who oversees the build programme of the class for the MOD, said:

“To my mind Astute is a 7,000 tonne Swiss watch. There is an extraordinary amount of expertise that goes into putting one of these submarines together. There are stages when it’s like blacksmithing and there are stages when it’s like brain surgery.

“So to see Astute commissioned is momentous not only for the Royal Navy, who have been eagerly anticipating this quantum leap forward in capability, but for the thousands of people around the country who have been involved in the most challenging of engineering projects.”

Following the Commissioning, HMS Astute will return to sea for further trials of the submarine and her crew before she is declared as operational.

As the base port of all the Navy's submarines from 2016, Faslane will be home to the whole Astute class, which includes Ambush, Artful and Audacious which are already under construction in Barrow-in-Furness by BAE Systems.

Astute was built by BAE in Barrow-in-Furness with hundreds of suppliers around the country contributing component parts, including: Rolls Royce, Derby (Nuclear plant); Thales UK, Bristol (Visual system and Sonar 2076); Babcock, Strachan & Henshaw, Bristol (Weapon handling and discharge system). Astute is affiliated to the Wirral in the North West.


FACTS ABOUT HMS ASTUTE:

· She is 97 metres from bow to stern - longer than a football pitch

· Her 11.2 metre beam is wider than the width of four double-decker buses

· She displaces 7,400 tonnes of sea water - the equivalent of 65 blue whales

· Her cabling and pipe work would stretch from Glasgow to Dundee

She is the first Royal Navy submarine not to have a traditional periscope, instead using electro-optics to capture a 360 image of the surface for subsequent analysis by the Commanding Officer.

Astute is the first submarine to have an individual bunk for each crew member.
She manufactures her own oxygen from sea water as well as drinking water.
She could theoretically remain submerged for her 25 year life if it weren’t for the need to restock the crew’s food supplies.

She is faster under the water than she is on the surface – capable of speeds in excess of 20 knots although her top speed is classified.

Astute’s crew of 98 are fed by five chefs who, on an average patrol, will serve up 18,000 sausages and 4,200 Weetabix for breakfast.

Royal Navy

Estonia Borong 80 Ranpur Dari AB Belanda

Ranpur Sisu XA-188. (Foto: Dutch MoD)

27 Agustus 2010 -- Estonia mengumumkan Rabu (26/8), berencana membeli lebih dari 80 kendaraan tempur pengangkut pasukan dari sesama anggota NATO Belanda.

“Kementrian Pertahanan Estonia akan membeli lebih dari 80 ranpur pengangkut pasukan Sisu XA-188 dari Belanda,” ujar juru bicara Kementrian Pertahanan Peeter Kuimet pada AFP.

Kuimet mengatakan harga ranpur lebih dari 300 juta kroon (24,3 juta dolar), pengiriman mulai tahun ini hingga tahun 2015.

Sejumlah kendaraan akan dikirim ke Afghanistan, Estonia menempatkan 155 prajurit Brigade Infantri ke-1 dibawah komando NATO ISAF (International Security Assistance Force).

“Dibandingkan dengan ranpur pengangkut pasukan yang tersedia, ini (Sisu XA-188) memberikan perlindungan terbaik, dan ranpur pertama sampai di Afghanistan tahun ini untuk digunakan pasukan Estonia yang ditempatkan disana,” ujar Menteri Pertahanan Jaak Aaviksoo.

Estonia negara bekas pecahan Uni Sovyet, bergabung dengan NATO pada 2004.

Estonia telah memiliki 60 SISU XA-180EST yang dibeli dari Filandia pada 2004, senilai 4 juta dolar.

Pada Maret, Estonia menerima rudal permukaan-udara jarak pendek dari MBDA dan Saab senilai 1 milyar kroon.

AFP/Berita HanKam

Mine Countermeasures Flotilla Departs Bahrain for UK - US Exercises

Hunt class mine countermeasures vessel (MCMVs) HMS Middleton (M34) and HMS Chiddingfold (M37) head into the Arabian Gulf for a 10 day mine countermeasures exercise with counterparts from the U.S. Navy.

25 August 2010 -- Four Royal Navy mine countermeasures vessels (MCMVs) departed Bahrain in mid August for ten days of exercises with counterparts from the U.S. Navy in the Arabian Gulf.

The exercises were designed to enable the two navies to further develop mine hunting techniques in the warm, shallow waters of the Middle East, which form a busy and important maritime environment.

For the Royal Navy, it is also an opportunity for the Commander UK Mine Counter Measures Force (COMUKMCMFOR) to direct a bi-lateral, multi ship mine countermeasures task force at sea.

The British contingent consisted of two Hunt class MCMVs, HMS Middleton (M34) and HMS Chiddingfold (M37), and two Sandown class vessels, HMS Grimsby (M108) and HMS Pembroke (M107). The Royal Fleet Auxiliary Landing Ship RFA Lyme Bay (L3007) has also joined the exercise the afloat headquarters COMUKMCMFOR.

They were joined by four ships from the U.S. Navy's Avenger class: USS Ardent, USS Dexterous, USS Gladiator and USS Scout.

Commander David Bence Royal Navy, Commander UK Mine Counter Measures Force, said:

"Sea mines and unexploded ordnance have the potential to cause great disruption to international shipping lanes, restricting freedom of the seas and damaging world economies. The Royal Navy is at the forefront of mine countermeasure capabilities, in experience, expertise and in technology. It is important that we maintain these capabilities across a range of different environments, from the cold Atlantic to the warmer coastal waterways of the Middle East".

"This exercise was an opportunity to demonstrate our ability to deploy an expeditionary mine countermeasures task force and battle staff, in conjunction with international partners."

The four British MCMVs are forward deployed to Bahrain for several years at a time. They are maintained locally and crew members are rotated with counterparts in the United Kingdom on a regular basis.

They are among several Royal Navy warships and auxiliaries operating in the Middle East region, undertaking maritime security operations such as counter-piracy and counter-terrorism alongside partner nations from NATO,
the European Union Naval Force (EU NAVFOR) and the 24 nation Combined Maritime Force (CMF).

HM Ships Chiddingfold (M37), Middleton (M34) and Pembroke (M107) depart Bahrain bound for a ten day mine countermeasures exercise with counterparts from the United States Navy.

Sandown class mine countermeasures vessels (MCMVs) HMS Grimsby (M108) and HMS Pembroke (M107) head into the Arabian Gulf for a 10 day mine countermeasures exercise with counterparts from the U.S. Navy.

HM Ships Chiddingfold (M37), Middleton (M34) and Pembroke (M107) depart Bahrain bound for a ten day mine countermeasures exercise with counterparts from the United States Navy.

HMS Middleton departs the port of Mina Salman in Manama, Bahrain, followed by HM Ships Pembroke and Grimsby and two U.S. Navy minesweepers. A total of five British and four U.S. vessels took part in a ten day mine countermeasures exercise.

Royal Navy

Perancis Potong Anggaran Pertahanan, Mirage 2000 Batal Diupgrade

Jet tempur/pembom Mirage 2000D AU Perancis. (Foto: Hugo Mambour/AviaScribe 2001)

10 Juli 2010 -- Pemerintah Perancis berencana menunda program upgrade jet tempur/pembom Mirage 2000D senilai 888 juta dolar, bagian dari upaya mengendalikan defisit anggaran belanja.

Pemotongan anggaran belanja militer kurang dari empat persen, jika anggaran pension tidak dihitung.

Revisi anggaran pertahanan 2011 menjadi 38,18 milyar dolar, 38,62 milyar dolar 2012, dan 39,2 milyar dolar 2013.

Menteri Pertahanan Perancis Herve Morin mengatakan dihadapan parlemen komite pertahanan minggu ini, pemerintah berencana juga membatalkan pembelian pesawat jenis MRTT (Multi Role Tanker Transport) dan level 4 SCCOA sistem komando dan kontrol udara nasional, diberitakan situs Defense News.

Pemotongan anggaran tidak mempengaruhi program utama pertahanan Perancis, seperti kapal selam serang tenaga nuklir Barracuda, frigate FREMM, jet tempur Rafale dan kendaraan lapis baja VCBI, pesawat angkut A400M.

UPI
/Berita HanKam

Filandia Upgrade Kapal Cepat Kelas Rauma

Kapal cepat kelas Rauma FNS Naantali 73 mulai dioperasikan AL Filandia 23 Juni 1992. (Foto: puolustusvoimat.fi)

26 Juni 2010 -- Kementrian Pertahanan Filandia menyetujui Angkatan Laut Filandia menandatangani kontrak upgrade empat kapal serang cepat kelas Rauma dengan Patria, Rabu (23/6). Kontrak senilai 64,7 juta euro akan ditandatangani 30 Juni 2010.

Patria bertindak sebagai kontraktor utama bertanggung jawab merencanakan upgrade, mengkoordinasikan subkontraktor, diantaranya Saab AB, Western Shipyard Oy dan Kongsberg Maritime.

Pengerjaan upgrade dilakukan pada 2010-2013, kapal siap dioperasikan 2014. Kapal aman dioperasikan hingga 2020.

Kapal cepat kelas Rauma menggantikan kapal cepat kelas Hamina.

Kapal cepat kelas Rauma dibanguan di Hollming dan Finnyard, Rauma, Filandia. AL Filandia memiliki empat kapal kelas Rauma, FNS Rauma 70 (dioperasikan 18 Oktober 1990), FNS Raahe 71 (20 Agustus 1991), FNS Porvoo 72 (27 April 1992), FNS Naantali 73 (23 Juni 1992), seluruh kapal berpangkalan di Pansio.

Patria
/Berita HanKam

Perancis Sertakan Rafale Pada Latma Garuda 2011

Jet tempur Rafale lepas landas dari pangkalan udara Landivisiau, sebelah Barat Perancis. (Foto: Getty Images)

25 Juni 2010 -- Angkatan Udara Perancis akan menyertakan jet tempur Rafale dalam latihan militer bersama India-Perancis Garuda 2011 yang akan dilaksanakan di India.

Kehadiran jet tempur Rafale dirancang bersamaan dengan kompetisi tender pembelian jet tempur oleh AU India dibawah program raksasa MMRCA (medium multi-role combat aircraft), dimana Rafale berhasil masuk tahapan akhir penilaian.

Tender MMRCA diikuti sedikitnya lima negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia, Swedia, Perancis, Uni Eropa (Jerman, Inggris, Italia, Spanyol). Enam jet tempur bertarung memperebutkan kontrak pembelian 126 pesawat senilai 8,95 milyar dolar.

Pada Latma Garuda 2010 bertepatan dengan negosiasi program upgrade jet tempur Mirage-2000 AU India.

Pilot AU Singapura dan Perancis berdiskusi setelah selesai melakukan suatu misi saat Latma Garuda 2010 di Lanud Istres, Perancis. (Foto: Mindef)

Latma Garuda tahun ini diikuti AU Singapura, menyertakan 180 personil, enam jet tempur F-16D serta satu pesawat tanker udara KC-135R. AU Singapura melakukan misi pengisian bahan bakar udara saat latihan, selain misi pertempuran udara dan pertahanan udara.

AU India menurunkan enam jet tempur Sukhoi Su-30MKI, pesawat tanker udara Il-78 serta pesawat angkut militer Il-76. Sedangkan AU Perancis menyertakan jet tempur Mirage-2000 dan Rafale.

The Times of India/Berita HanKam

Swedia Tawarkan Rumania 24 Gripen Harga Bersaing


19 April 2010 -- Pemerintah Swedia menawarkan pada Rumania 24 jet tempur baru Gripen dengan harga sama dengan jet bekas pakai F-16 yang ditawarkan oleh Amerika Serikat.

Tetapi tawaran Swedia tidak berikut amunisi, sedangkan Amerika Serikat dengan amunisi.

Jerry Lindbergh pejabat Swedia urusan ekspor peralatan pertahanan memberikan keterangan detil saat jumpa press di Bukarest, Rumania.

Ia mengatakan Swedia dapat menyiapkan 24 jet tempur baru Gripen C/D mampu secara penuh interoperasi dengan NATO, berikut pelatihan, dukungan, logistik dan 100 persen offset senilai 1,3 milyar euro.

Pembayaran dalam tempo 15 tahun dengan bunga rendah.

Saab terkejut keputusan Rumania memilih jet tempur bekas pakai F-16.

Bukarest selain mempertimbangkan pembelian 24 jet bekas tetapi juga akan membeli 24 jet tempur siluman F-35 menurut Menteri Pertahanan Rumania, ditujukan memperkuat mitra strategis Rumania-Amerika Serikat.

AFP/@beritahankam

AU Perancis Memesan 8 CN-235

CN-235. (Foto: EADS)

2 April 2010 -- DGA (Direction Générale pour l'Armement) Perancis memesan 8 pesawat angkut militer Casa CN-235 senilai 225 juta euro (305 juta dolar) guna menjembatani terlambatnya pengiriman pesawat angkut berat A400M, diumumkan pemerintah Perancis, Kamis (1/4).

Kontrak ditandatangani Kamis (25/3), termasuk dukungan pelayanan dari EADS Casa, pesawat dijadwalkan diterima AU Perancis 2011 dan 2013.

Pesawat tersebut akan bergabung dengan 19 CN-235 yang telah dioperasikan AU Perancis. AU Perancis menggunakan C-160 Transal, C-130 Hercules dan Casa CN-235 untuk armada angkutnya.


CN-235 AU Perancis saat mengunjungi Tahiti. (Foto: flickr/PhillipC)

Pimpinan DGA Laurent Collet-Billion saat rapat kerja dengan parlemen, Rabu (24/3) mengatakan armada angkut saat ini sudah uzur hanya memenuhi 25 persen misi angkut yang direncanakan pada Buku Putih Pertahanan dan Keamanan Nasional. Sejumlah pesawat terbang lebih dari 40 tahun dan sangat mahal untuk merawatnya.

Pertimbangan utama adalah sulit menjaga kemampuan para pilot serta jam terbang dengan armada pesawat saat ini.

Casa CN-235 dikembangkan oleh Casa Spanyol dan PT. DI Indonesia, menggunakan dua mesin propeller digunakan pesawat angkut dan penerjunan kargo maupu prajurit, Pesawat mampu menempuh jarak hingga 3500 km dengan membawa 5 ton kargo atau 40 penumpang.

PT. DI mengembangkan CN-235 versi MPA (Maritime Patrol Aircraft) telah digunakan oleh TNI AU dan segera TNI AL. PT. DI sedang mengembangkan CN-235 versi anti kapal selam.

Defense News/@beritahankam

AL Turki Akan Beli 1 LPD dan 6 Frigate


30 Maret 2010 -- Angkatan Laut Turki berencana membeli kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) pertama yang mampu membawa 8 helikopter guna meningkatkan kemampuan pengerahan kekuatan amphibi ke luar negeri sebagai bagian dari kekuatan NATO dan penjaga perdamaian.

Kontraktor utama proyek senilai 500 juta dolar adalah perusahaan lokal, dengan melibatkan perusahaan asing yang akan melakukan alih teknologi pembuatan LPD.

Pemerintah Turki membuka tender akhir Februari dengan peserta tender tujuh perusahaan lokal dimana diharapkan akan bekerjasama dengan perusahaan asing, termasuk perusahaan dari Italia, Korea Selatan, Spanyol, Belanda, Inggris dan Jerman.

AL Turki mensyaratkan LPD mampu membawa satu batalyon bersenjata lengkap sekitar 1000 prajurit dan personil, 8 helikopter serba guna, tiga pesawat nirawak, 13 tank dan 81 kendaraan lapis baja. Harga kapal diharapkan sekitar 500 juta dolar tidak termasuk helicopter.

Proyek Frigate TF 2000

Korvet kelas Milgem pertama TCG Heybeliada.

Selain akan membeli LPD, AL Turki akan membangun 6 frigate anti peperangan udara guna meningkatkan kemampuan pertahanan. Proyek ini sudah direncanakan 9 tahun lalu tetapi ditunda karena krisis ekonomi.

Program ini diberi nama frigate TF 2000 menelan anggaran sekitar 3 milyar dolar berdasarkan harga saat ini.

Frigate TF 2000 diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu 10 – 12 tahun.

Program ini dibuat pada akhir 1990-an, tetapi dihentikan pada 2001 karena krisis ekonomi, pada 2006 pemerintah Turki mengurangi jumlah frigate yang akan dibangun dari 8 unit menjadi 6 unit.

Frigate akan dipersenjatai sistem pertahanan anti rudal dan pesawat terbang tercanggih, begitu pula senjata lainnya. Frigate direncanakan dapat mengoperasikan helikopter serta pesawat nirawak.

Sejumlah perusahaan pertahanan, termasuk perusahaan Blohm + Voss Jerman, Kongsberg Norwegia, Lockheed Martin Amerika Serikat tertarik dengan program TF 2000 menurut analis pertahanan.

Saat ini AL Turki memiliki 19 frigates, terdiri dari frigate kelas Knoxx buatan AS, kelas Meko buatan Jerman. Beberapa frigate Knoxx yang sudah uzur akan dipensiunkan segera.

Turki saat ini sedang membangun 6 kapal selam buatan Jerman bekerja sama dengan galangan dalam negeri serta membangun 12 korvet kelas Milgem. Korvet pertama TCG Heybeliada telah selesai akhir 2008 dan direncanakan dioperasikan AL Turki 2011.

HURRIYET DAILY NEWS/@beritahankam

AD Perancis Terima UAV Ketiga


25 Maret 2010 -- Angkatan Darat Perancis menerima pesawat taktis nirawak generasi baru (STDI) terakhir dari tiga yang dipesan oleh Directorate General of Armaments dari perusahaan Sagem pada Agustus 2009.

STDI terakhir mempunyai sayap lebih ringan dan sanggup beroperasi pada ketinggian dan temperature tinggi.

Pesawat tidak memerlukan landasan untuk lepas landas dan mendarat. Dilengkapi dengan optik dan kamera infra merah guna mengumpulkan gambar secara langsung dan informasi pada siang maupun malam.

Pesawat berbobot 350 kg ditempatkan pada Resimen Artileri ke-61 sejak 2004 untuk mengumpulkan data intelijen, perlindungan pasukan dan misi penentuan sasaran.

STDI digunakan AD Perancis di Afghanistan sejak Oktober 2008.

Brahmand/@beritahankam

Exocet Upgrade Sukses Diuji Coba AL Perancis

Exocet MM40 Block 3. (Foto: defense-update)

25 Maret 2010 -- Angkatan Laut Perancis sukses uji coba penembakan rudal anti kapal permukaan Exocet MM40 Block 3 pertama, diumumkan AL Perancis.

Rudal ditembakan dari frigate kelas Horizon Chevalier Paul-D651 dari Isle of Levant, Kamis (18/3).

Frigate pertahanan udara kelas Horizon Chevalier Paul-D651 diserahkan ke AL Perancis 21 Desember 2009, digunakan menembakan rudal Exocet hasil upgrade. (Foto: meretmarine)

AL Perancis baru saja menerima Exocet MM40 Block 3 dari Directorate General of Armaments (DGA).

DGA menunjuk MBDA guna mengupgrade Exocet 45 Block II menjadi Excocet MM40 Block 3 pada Desember 2008.

Jarak jelajah Exocet Block 3 meningkat menjadi 180 km serta mampu menghantam kapal permukaan di laut lepas dan baterai pertahanan pantai.

AL Perancis dijadwalkan menerima rudal upgrade antara Desember 2010 dan 2013.

Prinsip operasi rudal Exocet tembak dan lupakan dengan jarak jelajah 70 hingga 180 km, terbang pada kecepatan 315 m/det, membawa hulu ledak seberat 165 kg.

Rudal dapat ditembakan dari kapal permukaan, kapal selam, helikopter dan pesawat sayap tetap.

SIPRI melaporkan pemerintah Indonesia membeli 30 rudal Exocet MM-40 guna mempersenjatai korvet SIGMA.

Brahmand/@beritahankam

Rumania Berencana Beli 24 F-16 Eks AU AS

MiG-21 Lancer AU Rumania. (Foto: defense-update.com)

24 Maret 2010 -- Badan keamanan nasional tertinggi Rumania yang dipimpin oleh Presiden Traian Basescu menyetujui pembelian 24 jet tempur F-16 bekas pakai Angkatan Udara Amerika Serikat guna menggantikan jet tempur uzur buatan Uni Sovyet MiG-21 Lancer, diumumkan laman kantor Kepresidenan, Rabu (24/3).

Pemerintah Rumania akan mengajukan ke parlemen guna meminta persetujuan.

Pembelian pesawat bekas pakai karena Rumania tidak mempunyai sumber pembiayaan membeli pesawat baru.

Usia pakai MiG-21 AU Rumania dikembangkan biro disaian Mikoyan-Gurevich pertenggahan 1950-an akan berakhir 2013. Meskipun pesawat telah diupgrade perusahaan Israel Elbit dan perusahaan Rumania Aerostar S.A. tahun 1990-an.

Menurut suatu sumber, hanya 48 MiG-21 yang masih dioperasikan AU Rumania. Pesawat ini menjadi andalan AU Rumania.

Menurut berita tak resmi, pemerintah AS siap menghibahkan F-16, jika Rumania akan memodernisasi angkatan udaranya termasuk melatih para pilot dan meningkatkan landasan pesawat agar layak didarati jet tempur.

Rumania bekas anggota Pakta Warsawa bergabung dengan NATO pada 2004.

Sejumlah negara melirik F-16 untuk memodernisasi jet tempurnya, termasuk Indonesia.

RIA Novosti/@beritahankam