Tampilkan postingan dengan label Australia dan Oceania. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Australia dan Oceania. Tampilkan semua postingan

HMAS Wollongong-92 Singgah di Denpasar


27 Agustus 2012, Denpasar: Perwira Staf beserta Anggota Pangkalan TNI AL (Lanal) Denpasar melaksanakan penyambutan kapal perang Australia HMAS Wollongong-92 yang bersandar di dermaga pariwisata Pelabuhan Benoa Bali, (24/8).

Kedatangan kapal perang Australia tersebut dalam rangka recreational and logistic port visit yang dikomandani oleh Lieutenant Commander Gavin Baker dengan 02 Officer dan 26 Sailor, selama tiga hari Kapal Perang Australia tersebut rencana berada di Bali dan akan bertolak meninggalkan Bali pada hari Senin tanggal 27 Agustus 2012.

Guna mendukung pengamanan kunjungan kapal perang Australia tersebut Lanal Denpasar mengerahkan satu SST untuk pengamanan area dermaga, KRI Weling dan Patkamla Catamaran untuk patroli perairan disekitar tempat sandar .

Sumber: lantamal5

Australia Ubah 12 Super Hornet Menjadi Growler

Gambar artis EA-18G Growler AU Australia.

23 Agustus 2012, Jakarta: Australia mengumumkan membeli sistem anti-peperangan elektronik Growler untuk jet tempur Super Hornet senilai 1,5 milyar Dolar Australia. Akuisisi sistem Growler akan meningkatkan kemampuan Angkatan Bersenjata Australia melakukan jamming sistem elektronik pesawat tempur dan radar darat serta sistem komunikasi.

Sistem Growler mampu juga melakukan misi intelijen, pengawasan dan pengintaian. Amerika Serikat dan Australia saja yang mengoperasikan sistem Growler pada pesawat tempur Super Hornet.

Australia memiliki 24 F/A-18 Super Hornet, dimana 12 unit akan dikonversi menjadi EA-18 Growler.

Pembelian perangkat ini diberdasarkan sistem United States Foreign Military Sales. Growler dijadwalkan dioperasikan 2018.

Sumber: Australia DoD
@Berita HanKam

Badan Kapal HMAS Canberra Diangkut ke Australia

22 Agustus 2012, Jakarta: Menteri Materiel Pertahanan Australia YM Jason Clare mengumumkan badan kapal pertama kapal perang jenis Landing Helicopter Dock (LHD) 01 diberangkat dari Ferrol, Spanyol, Senin (20/8).

Badan kapal LHD 01 diangkut menggunakan kapal kargo MV Blue Marlin menuju Melbourne, Australia.

Perjalanan dari Ferrol ke Melbourne diperkirakan tujuh minggu tergantung kondisi cuaca.

Kapal akan singgah di Port Phillip Bay, Melbourne dan akan melanjutkan perjalanan ke galangan kapal Williamstown untuk pemasangan anjungan serta sistem tempur, komunikasi dan navigasi. Kemudian dilanjutkan dengan uji coba pelayaran.

HMAS Canberra LHD 01 dijadwalkan diserahkan ke Royal Australian Navy (RAN) awal 2014. LHD Kelas Canberra terdiri dari HMAS Canberra LHD 01 dan HMAS Adelaide LHD 02, merupakan kapal perang terbesar yang dioperasikan RAN saat ini.

Panjang kapal 230 meter, tinggi 27,5 meter dan berat 27,500 ton. Kapal dapat mengangkut grup tempur terdiri dari 1100 personil, 100 kendaraan tempur, 12 helikopter dan dilengkapi rumah sakit dengan 40 tempat tidur.



Sumber: Australia DoD
Berita HanKam

Kapal Selam Australia Tenggelamkan Kapal Perang AS di RIMPAC 2012

25 Juli 2012, Hawaii: USNS Kilauea (AE-26) kapal pengangkut amunisi dipensiunkan sejak September 2008, menjadi sasaran tembak torpedo kapal selam kelas Collins HMAS Farncomb pada Latihan Bersama Multinasional Rim of the Pacific Exercise (RIMPAC) 2012. RIMPAC 2012 diikuti 22 negara, 42 kapal perang dari berbagai jenis, 6 kapal selam, 200 pesawat terbang dan 25,000 prajurit, dimulai 29 Juni hingga 3 Agustus, berlangsung disekitar Kepulauan Hawaii. (Foto: Australia DoD)

Periskope HMAS Farncomb mengintai sasaran USNS Kilauea di Pacific Missile Range Facility (PMRF), Hawaii.(Foto: Australia DoD)

HMAS Farncomb menembakan torpedo Mark 48 ke lambung kapal USNS Kilauea. Kapal terbelah menjadi dua dan tenggelam ke dasar laut sekitar 40 menit kemudian. (Foto: Australia DoD)

Sumber: Australia DoD
@Berita HanKam

Royal Australia Air Force Mampir ke Palembang

Tim akrobatik Roulettes RAAF. (Foto: Australia DoD)

21 Februari 2012, Palembang: Ratusan pelajar TK, SD, SMP dan SMA di kota Palembang, kemarin benar-benar dibuat terpukau oleh aksi aerobatik yang ditunjukkan pesawat angkatan udara Australia atau lebih dikenal Royal Australia Air Force (RAAF). Saking penasarannya, pelajar ini bahkan rela datang berbondong-bondong sejak pagi hari ke Lapangan Base Operasional Landasan Udara (Lanud) Palembang.

Meski harus menunggu hingga dua jam lebih, pelajar yang kebanyakan datang bersama orang tua dan dan rombongan sekolah ini terlihat tetap bersemangat.Teriknya sengatan matahari tak menyurutkan niat pelajar ini menyaksikan aksi langka tersebut. Apalagi sembari menunggu kedatangan Australia Air Force, pelajar ini juga disuguhi dengan hiburan berbagai atraksi menarik dari tim aeromodeling.

Walaupun mendebarkan, aksi ini tetap sukses menyedot perhatian pelajar, khususnya siswa Taman Kanak-Kanak.Tak sedikit dari mereka tampak berteriak histeris dan bertepuk tangan menyaksikan 7 pesawat milik Angkatan Udara Ausralia itu sedikit bermanuver di atas langit Lapangan Base Operasional Landasan Udara (Lanud) Palembang.

Komandan Danlanud Palembang Letkol PNB Adam Suharto,mengatakan kegiatan ini merupakan kali kedua yang bisa disaksikan masyarakat Palembang.Walaupun hanya berlangsung beberapa menit, aksi ini sengaja mereka manfaatkan untuk lebih mengenalkan dunia kedirgantaraan di kalangan pelajar.

Menurut Adam, kedatangan 7 pesawat udara milik Australia dengan jenis Pilatus itu memang bukan semata untuk unjuk kebolehan. Melainkan untuk mengisi bahan bakar (refuel) sebentar, karena kebetulan Lanud Palembang masuk dalam jalur tempat pengisian bahan bakar pesawat-pesawat tersebut.

“Mereka ini mampir sebentar isi bahan bakar di sini. Sebelumnya mereka sudah melakukan pertunjukan di Singapura Airshow.Jadi sekalian mereka isi bahan bakar kita manfaatkan agar para siswa bisa berinteraksi dengan pilotnya,” ujar Adam. Aksi aerobatik dilakukan ke-7 pesawat tersebut beberapa menit sebelum mendarat di Base Ops Lanud Palembang.

Atraksi yang dilakukan tersebut cukup singkat, hanya membentuk staticshow dan sedikit manuver penghormatan di atas dirgantara sekitar pukul 10.30 WIB kemarin. Selain wawancara langsung soal trik mengendalikan pesawat tangguh tersebut, ratusan pelajar ini juga tak menyianyiakan kesempatan untuk mengabadikan momen langka tersebut.

Selain berfoto bersama sang pilot, tak sedikit pelajar ini yang minta diabadikan bersama pesawat-pesawat peserta Singapura Air Show 2012. “Jadi waktu pesawat diisi bahan bakar, siswa bisa tanyatanya langsung dengan pilotnya. Ini bagus untuk menumbuhkan kecintaan mereka pada dunia dirgantara,”jelasnya.

Sementara itu salah seorang pelajar, Ari Rahmat siswa SD Negeri 140 Palembang mengatakan, sudah yang kedua kalinya menyaksikan aksi tersebut. Dia mengaku tak bosan, karena penasaran dengan aksi pilot yang bisa mengemudikan pesawat-pesawat tersebut.

“Kepingin bisa jadi pilot seperti itu.Pasti seru bisa keliling-keliling. Tapi ada takutnya juga, aku kan gemuk jadi takut jatuh kalau sudah terlalu tinggi,” ujarnya dengan mata tak lepas melihat aksi pesawat-pesawat dengan suara-suaranya yang bergemuruh.

Sumber: SINDO

Australia Akan Beli Lagi C-17A Globemaster II

C-17A RAAF mendarat di Myanmar, mengirimkan bantuan bencana alam. (Foto: Australia DoD)

2 Maret 2011, Canberra -- (Berita HanKam): Departemen Pertahanan Australia berencana membeli lagi pesawat angkut militer berat C-17A Globemaster III, diumumkan Menteri Pertahanan Stephen Smith, Selasa (1/3).

Australia telah mengirimkan Letter of Request ke Amerika Serikat terkait pembelian pesawat melalui program Foreign Military Sales (FMS).

Royal Australian Air Force (RAAF) telah mengoperasikan empat C-17A. Pesawat diterima pada periode 2006-2008. Pesawat pertama mulai dioperasikan 2007, menjadikan Angkatan Bersejata Australia berkemampuan angkut udara global.

Bencana alam di Queensland dan Christchurch, Selandia Baru menjadi kemampuan angkut C-17 sangat penting dalam merespon kejadian bencana alam di wilayah Australia dan regional.

RAAF mengoperasikan C-17 untuk mendukung operasi pasukan Australia dan sekutu di Afghanistan dan Timur-Tengah.

C-17A dapat mengangkut kargo dalam jumlah besar dan berat jarak jauh. Satu C-17A daya angkutnya sebanding dengan empat C-130 Hercules.

Program pembelian dua pesawat tambahan C-130J-30 dimungkinkan dibatalkan karena rencana pembelian C-17A.

Sumber: Australia DoD
© Beritahankam.blogspot

Australia Lirik Kapal Perang AL Inggris yang Dipensiunkan Dini

RFA Largs Bay. (Foto: Royal Navy)

23 Januari 2011 -- (Berita HanKam): Australia mempelajari kemungkinan pembelian kapal perang AL Inggris yang dipensiunkan dini karena kebijakan pemotongan anggaran tahun lalu.

Menteri Pertahanan Australia Stephen Smith, mengumumkan minggu ini bahwa Kementerian Pertahanan sedang mempertimbangkan membeli RFA Largs Bay, sebuah kapal besar yang mampu membawa helikopter dan lusinan kendaraan tempur serta ratusan pasukan.

Pejabat Kemhan Australia telah berkunjung ke Inggris untuk menginspeksi dan mempelajari kapal pendarat kelas Bay AL Inggris bulan lalu.

Pemerintah Inggris belum lama ini mempensiunkan sejumlah kapal perang, setelah pemotongan anggaran sebesar 8 persen guna melindungi ekonomi Inggris dari krisis ekonomi global. Pemotongan ini mengurangi kekuatan AL Inggris signifikan. Kapal kelas Largs Bay salah satu kapal yang dipensiunkan, selain kapal induk HMS Ark Royal beserta armada Harrier-nya, empat frigate dan satu landing Platform Dock.

AL Australia mengoperasikan dua kapal pengangkut HMAS Manoora dan HMAS Kanimbla yang telah menua dan rawan masalah. Pemerintah Australia sedang membangun dua kapal pengganti, HMAS Canberra dan HMAS Adelaide, diharapkan selesai pada 2014 dan 2015. Pembelian Largs Buy mengisi kekosongan armada pengangkut di AL Australia.

Buku Putih Pertahanan Australia menyebutkan memerlukan sebuah kapal amphibi berukuran kecil, dengan landasan untuk helikopter dan kemampuan memindahkan muatan tanpa membutuhkan dukungan fasilitas pelabuhan, guna melengkapi HMAS Canberra dan HMAS Adelaine. Buku Putih mematok harga kapal antara 300 juta dolar hingga 500 juta dolar. Sumber Kemhan mengatakan harga Largs Bay sekitar 300 juta dolar.

Kapal Kelas Bay

AL Inggris memiliki empat kapal pendarat amphibi kelas Bay, RFA Cardigan Bay, RFA Largs Bay, RFA Lyme Bay dan RFA Mounts Bay. Kelas Bay menggantikan RFA Sir Galahad dan RFA Sir Tristram.

Kapal kelas Bay berbobot 16.160 ton, panjang keseluruhan 176 meter, lebar 26,4 meter serta kecepatan maksimal 18 knot. Kapal diawaki 60 personil dan 356 pasukan, lusinan kendaraan tempur, dek kapal mampu menampung dua helikopter Merlin atau Chinook, kapal pendarat dua LCPV atau satu LCU Mk10.

Sumber: the Sydney Morning Herald

RAAF Pensiunkan F-111 Setelah 37 Tahun Dioperasikan

(Foto: Australia DoD)

04 November 2010 -- RAAF akhirnya pensiunkan pembom supesonik jarak jauh sayap ayun F-111C dan RF111C, setelah dioperasikan selama 37 tahun, F-111G telah dipensiunkan pada 2007. RAAF satu-satunya angkatan udara di dunia operasikan F-111, setelah USAF pensiunkan pada 27 Juli 1996.

F-111 mempunyai nickname flying pig, whispering death, swinger and switchblade, digantikan dengan 24 F/A-18F Super Hornet. Pembelian Super Hornet guna menjaga kemampuan tempur RAAF sebelum mengoperasikan jet tempur siluman F-35 JSF, masih dalam tahap pengembangan.

Skuadron 6 RAAF operasikan F-111C dan pesawat intai RF-111C serta Skuadron 6 RAAF operasikan F-111C sebagai pesawat latih dan serang udara dan laut F-111G, kedua skuadron berpangkalan di Amberley, dekat Brisbane.

Pemerintah Australia memutuskan membeli 24 F-111C pada 1963 untuk gantikan pembom Canberra, akan diserahkan pada 1968, karena keterlambatan pengembangan serta masalah struktural pesawat. RAAF baru menerima pesawat pada 1973. Australia kembali memborong 15 F-111G bekas pakai USAF pada 1993.

RAAF juga telah pensiunkan pesawat angkut Caribou setelah dioperasikan 40 tahun, mahalnya biaya operasi dan perawatan pesawat usia tua memaksa pemerintah Australia mempensiunkan.




(Foto: Australia DoD)

Penerbangan Terakhir










(Foto: Australia DoD)

Nimemsn/Berita HanKam

Anti-Submarine Warfare Exercise - 2010

A Collins class submarine sails through the water during a weapons firing serial conducted off of the coast of Western Australia.

26 November 2010 -- Anti-Submarine Warfare Exercise (ASWEX) 2010 is an important exercise for the Royal Australian Navy (RAN), providing Submarine and Anti-Submarine (ASW) training and trial opportunities for maritime and air assets. The RAN also takes this opportunity to develop tactics and test weapons and weapons systems in the conduct of ASW.

The annual maritime exercise is being held in the Western Australian Exercise Area off the coast of Perth and adjacent air space from 15-26 November 2010.

The exercise involves Anzac Class frigates HMA ships Warramunga and Arunta as well as involvement with Collins Class Submarines HMA Submarines Dechaineux and Collins.




Sikorsky S70B-2 Seahawk helicopters flying in formation whilst preparing to conduct a weapons firing serial off the coast of Western Australia.

Air support is being provided by Navy's 816 Squadron and Air Force's Maritime Patrol Aircraft from 92 Wing. 816 Squadron is based in Nowra, NSW, whilst 92 Wing are based in RAAF Edinburgh, SA. Aircraft and crews have been forward based at HMAS Stirling and RAAF Pearce for the duration of the exercise to provide support to the ships at sea with Seahawk helicopters and Orion PC3 aircraft.

Australia DoD

The Roulettes Visit Indonesia

Roulettes fly over one of the many volcanoes that populate the countryside on their way to Jakarta.

19 November 2010 -- The Roulettes visit Indonesia to visit the Aerobatic Display Team called the Jupiters. The intent is to show the Indonesian display team the way the Roulettes do business and exchange ideas on technique and safety in regard to the performance of an aerial display.

The Roulettes are the Royal Australian Air Force’s aerobatic display team based at RAAF Base East Sale. They will perform a mixture of ‘high show’ and ‘special venue’ displays in 6 Pilatus PC-9A aircraft, a two-seat single-engine turboprop aircraft that is the advanced training aircraft of the Australian Defence Force. The PC-9A, designed by Pilatus Switzerland and built under license by Hawker de Havilland in Sydney, Victoria, and was introduced to the Air Force in 1987.

Throughout the display each pilot will maintain their aircraft only 3m from each other, using only hand eye coordination and flying at speeds up to 590km/h.

The team comprises seven members, six of whom fly the display and Roulette Seven who provides commentary from the ground at the location and will be available to answer questions on the Roulettes and their display.

Roulettes in a holding pattern on arrival to Jakarta.

Lieutenant Colonel Pamot Sinaga of the Jupiters aerobatic display team gets fitted for a flight with the Roulettes by Corporal Jason Dangerfield.

Corporal Mapleson cleans the canopy of the Roulettes aircraft before flight.

From left: Corporals Mapleson and Kendall clean the canopy of the Roulettes aircraft before the show in Jakarta.

Major Budi Susro or the Jupitors prepared to fly with one of the RAAF Roulettes. Corporal Doug Leckie gives the thumbs up.

The ground crew stand ready to assist with pre-taxi checks as the Roulettes start engines.

The Roulettes and Jupiters pilots together at Jakarta after a flying display. Jupiters from left: Major Budi Susro, Lieutenant Colonel Kamot Sinaga and Major Onesmu.

The Roulettes and Jupiters join hands for a quick photo.

Australia DoD